Perbedaan Suap dan Hadiah dalam Islam: Bahaya Memakan Harta karena Citra Kesalehan dan Kepentingan Dunia

مسألة:

سئل عن الفرق بين الرشوة و الهدية مع أن كل واحد منهما يصدر عن الرضا ولا يخلو عن غرض وقد حرمت إحداهما دون الأخرى

 فقلت باذل المال لا يبذله قط إلا لغرض ولكن الغرض إما آجل كالثواب وإما عاجل و العاجل إما مال وإما فعل وإعانة على مقصود معين وإما تقرب إلى قلب المهدى إليه بطلب محبته إما للمحبة في عينها وإما للتوصل بالمحبة إلى غرض وراءها فالأقسام الحاصلة من هذه خمسة

الأول ما غرضه الثواب في الآخرة وذلك إما أن يكون لكون المصروف إليه محتاجا أو عالما أو منتسبا بنسب ديني أو صالحا في نفسه متدينا

فما علم الآخذ أنه يعطاه لحاجته لا يحل له أخذه إن لم يكن محتاجا وما علم انه يعطاه لشرف نسبه لا يحل له أن علم انه كاذب في دعوى النسب وما يعطي لعلمه فلا يحل له أن يأخذه إلا أن يكون في العلم كما يعتقده المعطى فإن كان خيل إليه كمالا في العلم حتى بعثه بذلك على التقرب ولم يكن كاملا لم يحل له وما يعطي لدينه وصلاحه لا يحل له أن يأخذه أن كان فاسقا في الباطن فسقا لو علمه المعطى ما أعطاه

وقلما يكون الصالح بحيث لو انكشف باطنه لبقيت القلوب مائلة إليه وإنما ستر الله الجميل هو الذي يحبب الخلق إلى الخلق

وكان المتورعون يوكلون في الشراء من لا يعرف أنه وكيلهم حتى لا يتسامحوا في المبيع خيفة من أن يكون ذلك أكلا بالدين فإن ذلك مخطر و التقي خفي لا كالعلم و النسب و الفقر فينبغي أن يجتنب الأخذ بالدين ما أمكن

القسم الثاني ما يقصد به في العاجل غرض معين كالفقير يهدي إلى الغني طعما في خلعته فهذه هبة بشرط الثواب لا يخفي حكمها وإنما تحل عند الوفاء بالثواب المطموع فيه وعند وجود شروط العقود

Masalah:

Ditanyakan tentang perbedaan antara suap (risywah) dan hadiah, padahal keduanya sama-sama diberikan dengan kerelaan dan tidak lepas dari suatu tujuan. Mengapa salah satunya diharamkan sedangkan yang lain tidak?

Aku menjawab: Orang yang memberikan harta tidak pernah memberikannya kecuali karena suatu tujuan. Tujuan itu adakalanya:

  • tujuan akhirat seperti pahala,
  • atau tujuan duniawi yang segera.

Tujuan duniawi itu terbagi:

  • untuk mendapatkan harta,
  • memperoleh bantuan dan tindakan tertentu,
  • atau mendekatkan hati penerima hadiah agar mencintainya, baik cinta itu diinginkan pada dirinya sendiri ataupun sebagai jalan menuju tujuan lain.

Maka bagian-bagian yang ada menjadi lima macam.

Bagian pertama

Yaitu pemberian yang tujuannya memperoleh pahala akhirat.

Hal itu bisa karena penerima:

  • seorang fakir,
  • seorang alim,
  • memiliki nasab mulia dalam agama,
  • atau seorang yang saleh.

Maka:

  • orang yang tahu bahwa ia diberi karena kefakirannya, tidak halal mengambilnya bila ia sebenarnya tidak fakir;
  • orang yang tahu ia diberi karena kemuliaan nasab, tidak halal mengambilnya bila ia berdusta tentang nasabnya;
  • orang yang diberi karena ilmunya, tidak halal mengambilnya kecuali bila ilmunya memang seperti yang diyakini pemberi. Jika pemberi mengira ilmunya sangat sempurna sehingga terdorong memberi karena anggapan itu, padahal sebenarnya tidak demikian, maka tidak halal baginya mengambilnya;
  • dan orang yang diberi karena agama dan kesalehannya, tidak halal mengambilnya bila ia sebenarnya fasik secara tersembunyi, yang seandainya pemberi mengetahui keadaan itu niscaya ia tidak akan memberi.

Jarang sekali seseorang yang dianggap saleh itu apabila dibuka seluruh rahasia batinnya masih tetap dicintai hati manusia. Sesungguhnya Allah menutupi keburukan manusia itulah yang membuat manusia saling mencintai.

Karena itu orang-orang wara’ dahulu ketika membeli sesuatu mereka menyuruh orang lain yang tidak dikenal sebagai wakil mereka, supaya penjual tidak memberi keringanan harga karena agama dan kesalehan mereka. Sebab hal itu dikhawatirkan termasuk memakan harta dengan sebab agama, dan itu berbahaya.

Ketakwaan adalah sesuatu yang tersembunyi, tidak seperti ilmu, nasab, atau kefakiran. Maka semestinya seseorang menghindari mengambil harta karena alasan kesalehan agamanya selama memungkinkan.

Bagian kedua

Yaitu pemberian yang bertujuan memperoleh kepentingan duniawi tertentu secara langsung.

Contohnya orang fakir memberi hadiah kepada orang kaya karena berharap mendapat pakaian kehormatan atau bantuan tertentu darinya.

Ini hakikatnya adalah hibah dengan syarat imbalan, dan hukumnya jelas. Hal itu hanya halal bila imbalan yang diharapkan benar-benar diberikan dan syarat-syarat akad terpenuhi.

Penjelasan

Pembahasan ini sangat dalam.

Penulis menjelaskan:
tidak semua hadiah itu sama.

Walaupun:

  • sama-sama diberikan dengan rela,
  • sama-sama ada tujuan,
    tetapi hukum berubah sesuai:
  • niat,
  • tujuan,
  • dan dampaknya.

Perbedaan pokok hadiah dan suap

Hadiah

Biasanya:

  • bentuk kasih sayang,
  • penghormatan,
  • silaturahmi,
  • atau sedekah.

Tidak untuk membatalkan hak atau membeli keputusan batil.

Suap

Adalah pemberian untuk:

  • memperoleh keuntungan yang tidak benar,
  • mempengaruhi keputusan,
  • mendapatkan perlakuan khusus,
  • atau membeli kekuasaan.

Karena itu suap diharamkan.

Penulis membagi tujuan pemberian menjadi beberapa jenis

1. Pemberian demi pahala akhirat

Misalnya memberi karena:

  • penerima fakir,
  • alim,
  • keturunan mulia,
  • atau saleh.

Tetapi penerima wajib jujur.

Tidak halal menerima bila:

  • pura-pura miskin,
  • mengaku keturunan palsu,
  • berpura-pura alim,
  • atau menampilkan kesalehan palsu.

Bahaya “makan dengan agama”

Ini pembahasan penting.

Kadang seseorang:

  • dihormati karena dianggap saleh,
  • lalu mendapat diskon,
  • hadiah,
  • atau perlakuan istimewa.

Padahal:

  • mungkin ia tidak sebaik yang disangka,
  • atau memanfaatkan citra agama untuk keuntungan dunia.

Karena itu ulama wara’ sangat takut:
mengambil keuntungan materi karena popularitas agama.

Ketakwaan itu tersembunyi

Berbeda dengan:

  • kemiskinan,
  • ilmu,
  • nasab,
    yang bisa terlihat.

Kesalehan batin tidak diketahui manusia.

Karena itu semakin hati-hati seseorang terhadap hadiah karena “kesalehan”, semakin baik.

2. Hadiah demi tujuan duniawi tertentu

Contohnya:

  • memberi hadiah kepada pejabat agar dibantu,
  • memberi sesuatu kepada orang kaya agar mendapat proyek,
  • memberi hadiah agar urusan dipermudah.

Ini bukan hadiah murni lagi.

Hakikatnya:
“imbalan terselubung.”

Karena itu hukumnya mengikuti akad dan tujuan sebenarnya.

Contoh

Contoh 1 — Halal

Seseorang memberi makanan kepada fakir semata-mata karena ingin pahala.

Ini sedekah yang baik.

Contoh 2 — Haram karena penipuan

Seseorang berpura-pura miskin agar diberi sedekah.

Ini haram karena menerima dengan sebab dusta.

Contoh 3 — Memanfaatkan citra agama

Seorang tokoh agama sengaja menampilkan kesalehan agar:

  • diberi hadiah,
  • dilayani,
  • mendapat keuntungan bisnis.

Ini sangat berbahaya dan termasuk “makan dengan agama.”

Contoh 4 — Hadiah terselubung

Seorang kontraktor memberi hadiah mahal kepada pejabat agar proyeknya dipilih.

Ini mendekati atau termasuk suap.

Contoh 5 — Hibah dengan harapan balasan

Orang miskin memberi bingkisan kepada orang kaya karena berharap dibantu modal usaha.

Ini seperti hibah yang mengharapkan balasan.

Kesimpulan

  1. Semua pemberian biasanya memiliki tujuan, tetapi hukumnya berbeda sesuai niat dan dampaknya.
  2. Hadiah halal bila:

·         tidak untuk membeli kebatilan,

·         tidak mempengaruhi keputusan haram,

·         dan tidak dibangun atas penipuan.

  1. Tidak halal menerima pemberian karena:

·         pura-pura miskin,

·         berpura-pura alim,

·         nasab palsu,

·         atau kesalehan palsu.

  1. Memanfaatkan citra agama untuk keuntungan dunia adalah perkara yang sangat berbahaya.
  2. Suap berbeda dari hadiah karena bertujuan memperoleh keuntungan yang tidak semestinya atau mempengaruhi hak orang lain.
  3. Sikap wara’ dalam masalah hadiah dan penghormatan sangat dianjurkan agar agama tidak dijadikan alat mencari dunia.

Wallahu A’lam...

Sumber:

Ihya’Ulumiddin al-Ghazaly

Maktabah Syamilah

Baca juga:

Ke ManaHarta Haram Harus Disalurkan? Kepada Pemilik, Disedekahkan, atau Untuk KemaslahatanUmum?

Bolehkah Harta Haram Disedekahkan? Dalil Imam Al-Ghazali dari Hadits, Atsar, dan Qiyas

Hukum Wakaf untuk Ribāṭ Kaum Sufi: BatasPemanfaatan, Hak Tamu, dan Kedudukan Ulama di Lingkungan Tasawuf
📚
Perbedaan Suap dan Hadiah dalam Islam: Bahaya Memakan Harta karena Citra Kesalehan dan Kepentingan Dunia
Download PDF Kitab Makna Pesantren melalui tombol di bawah.
📥 DOWNLOAD PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

Perbedaan Suap dan Hadiah dalam Islam: Bahaya Memakan Harta karena Citra Kesalehan dan Kepentingan Dunia

مسألة: سئل عن الفرق بين الرشوة و الهدية مع أن كل واحد منهما يصدر عن الرضا ولا يخلو عن غرض وقد حرمت إحداهما دون الأخرى  فقلت باذل المال...