Keutamaan Mengunjungi Saudara karena Allah: Terjemah Ihya Ulumuddin tentang Cinta karena Allah dan Kesempurnaan Iman (02/05/08)

Keutamaan Mengunjungi Saudara karena Allah: Terjemah Ihya Ulumuddin tentang Cinta karena Allah dan Kesempurnaan Iman

Pendahuluan

Dalam Islam, persahabatan yang paling mulia adalah persahabatan yang dibangun di atas keimanan. Hubungan seperti ini tidak bergantung pada keuntungan dunia, tetapi lahir dari kecintaan kepada Allah dan keinginan untuk saling membantu dalam ketaatan. Karena itulah, mengunjungi saudara seiman semata-mata karena Allah termasuk amal yang sangat dicintai-Nya.

Pada bagian ini, Imam Al-Ghazali menyebutkan hadis-hadis yang menunjukkan bahwa cinta karena Allah merupakan salah satu ikatan iman yang paling kuat. Bahkan, seseorang yang mengunjungi saudaranya tanpa kepentingan apa pun selain mengharap ridha Allah memperoleh kabar gembira berupa cinta Allah dan jaminan surga.

Sumber

Kitab : Ihya' 'Ulumuddin (إحياء علوم الدين) Juz : 2

Pengarang : Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali (450–505 H), yang dikenal dengan gelar Hujjatul Islam, seorang ulama besar dalam bidang akhlak, tasawuf, fikih, dan pendidikan Islam.

Tema : Keutamaan mengunjungi saudara karena Allah, cinta dan benci karena Allah, serta kuatnya ikatan iman dalam Islam.

Teks Arab

" وقال صلى الله عليه وسلم : إن رجلا زار أخا له في الله فأرصد الله له ملكا فقال : أين تريد قال ؟ : أريد أن أزور أخي فلانا ، فقال : لحاجة لك عنده قال ؟ : لا ، قال : لقرابة بينك وبينه ؟ قال : لا ، قال: فبنعمة له عندك ؟ قال : لا ، قال فبم : ؟ قال : أحبه في الله ، قال .

فإن : الله أرسلني إليك يخبرك بأنه يحبك لحبك إياه ، وقد أوجب لك الجنة .

وقال صلى الله عليه وسلم : أوثق عرى الإيمان  الحب في الله ، والبغض في الله .

فلهذا يجب أن يكون للرجل أعداء يبغضهم في الله كما يكون له أصدقاء وإخوان يحبهم في الله .

Terjemahan Lengkap

Rasulullah bersabda:

"Sesungguhnya ada seorang laki-laki yang mengunjungi saudaranya karena Allah. Lalu Allah mengutus seorang malaikat untuk menunggunya di jalan. Malaikat itu bertanya, 'Ke mana engkau hendak pergi?'

Orang itu menjawab,

'Aku hendak mengunjungi saudaraku si fulan.'

Malaikat bertanya,

'Apakah engkau mempunyai suatu keperluan kepadanya?'

Ia menjawab,

'Tidak.'

Malaikat bertanya lagi,

'Apakah karena ada hubungan kekerabatan di antara kalian?'

Ia menjawab,

'Tidak.'

Malaikat kembali bertanya,

'Apakah karena ia pernah memberikan suatu nikmat kepadamu sehingga engkau ingin membalasnya?'

Ia menjawab,

'Tidak.'

Malaikat bertanya,

'Lalu karena apa?'

Ia menjawab,

'Aku mencintainya karena Allah.'

Malaikat pun berkata,

'Sesungguhnya Allah mengutusku kepadamu untuk menyampaikan bahwa Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu karena-Nya. Dan Allah telah mewajibkan surga bagimu.'"

Rasulullah juga bersabda:

"Ikatan iman yang paling kuat adalah mencintai karena Allah dan membenci karena Allah."

Karena itulah, seorang muslim hendaknya memiliki orang-orang yang ia cintai karena Allah, sebagaimana ia juga membenci kekufuran, kemaksiatan, dan siapa pun yang memusuhi agama Allah semata-mata karena Allah, bukan karena hawa nafsu atau kepentingan pribadi.

Penjelasan

Hadis ini menggambarkan betapa tinggi nilai sebuah niat yang ikhlas. Lelaki tersebut tidak memiliki tujuan duniawi ketika mengunjungi saudaranya. Ia tidak sedang mencari bantuan, tidak ingin memperoleh keuntungan, tidak pula hendak membalas suatu jasa. Satu-satunya alasan adalah karena ia mencintai saudaranya demi Allah.

Keikhlasan inilah yang membuat Allah mengutus malaikat secara khusus untuk menyampaikan kabar gembira bahwa Allah mencintainya dan menyiapkan surga baginya.

Artikel Pengembangan

Cinta karena Allah adalah Ikatan Iman yang Terkuat

Rasulullah menyebutkan bahwa cinta karena Allah dan benci karena Allah merupakan ikatan iman yang paling kokoh. Maksudnya, ukuran kecintaan dan kebencian seorang mukmin tidak didasarkan pada hawa nafsu, tetapi pada nilai-nilai yang dicintai dan dibenci oleh Allah.

Seseorang mencintai orang saleh karena keimanannya, bukan karena kekayaannya. Sebaliknya, ia membenci kekafiran, kemaksiatan, dan kezaliman karena semua itu dibenci oleh Allah. Kebencian ini bukan berarti berlaku zalim kepada manusia, tetapi menolak perbuatan yang menyelisihi syariat dan tetap bersikap adil kepada setiap orang.

Mengapa Allah Mencintai Orang yang Mencintai karena-Nya?

Ketika seseorang mencintai saudaranya karena Allah, ia telah membersihkan niatnya dari kepentingan dunia. Hubungan seperti ini melahirkan banyak kebaikan, seperti:

  • saling mendoakan,
  • saling menasihati,
  • saling membantu dalam ketaatan,
  • menjaga kehormatan saudaranya,
  • serta tetap setia dalam keadaan senang maupun susah.

Hubungan yang dibangun di atas keikhlasan seperti ini menjadi sebab turunnya rahmat dan cinta Allah.

Makna Benci karena Allah

Ungkapan "membenci karena Allah" sering disalahpahami. Maksudnya bukan membenci seseorang karena urusan pribadi atau melampiaskan kebencian dengan sikap zalim. Yang dimaksud adalah membenci kekafiran, kemaksiatan, dan perbuatan yang dimurkai Allah, sambil tetap menjaga keadilan, akhlak yang baik, dan berharap pelakunya mendapat hidayah.

Penjelasan

Imam Al-Ghazali ingin menegaskan bahwa ukhuwah Islamiyah tidak cukup hanya dengan ucapan. Persaudaraan harus lahir dari hati yang ikhlas dan diwujudkan melalui tindakan nyata. Sebaliknya, sikap terhadap kemaksiatan juga harus dilandasi kecintaan kepada Allah, bukan karena emosi atau kepentingan pribadi. Dengan demikian, seluruh hubungan sosial seorang muslim menjadi bagian dari ibadah.

Contoh

Seorang muslim mengetahui bahwa sahabatnya baru pulang dari perjalanan jauh. Ia datang berkunjung untuk menyambung silaturahmi, berbincang, dan mendoakannya. Ia tidak membawa kepentingan apa pun selain ingin mempererat ukhuwah karena Allah.

Contoh lain, seorang guru tetap menghormati murid yang pernah berbuat salah, tetapi ia tidak membenarkan kesalahan tersebut. Ia menasihatinya dengan lembut dan berharap murid itu bertaubat. Sikap ini merupakan bentuk membenci kemaksiatan karena Allah, tanpa kehilangan kasih sayang kepada sesama manusia.

Kesimpulan

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa cinta karena Allah merupakan salah satu tanda kesempurnaan iman. Mengunjungi saudara seiman dengan niat ikhlas dapat menjadi sebab turunnya cinta Allah dan jaminan surga. Di sisi lain, seorang muslim juga harus memiliki sikap tegas terhadap segala bentuk kemaksiatan karena kecintaannya kepada Allah, bukan karena dorongan hawa nafsu.

Hikmah

  • Keikhlasan dalam persaudaraan mendatangkan cinta Allah.
  • Mengunjungi saudara karena Allah merupakan amal yang sangat mulia.
  • Cinta karena Allah adalah ikatan iman yang paling kuat.
  • Persahabatan yang dibangun tanpa kepentingan dunia lebih bernilai di sisi Allah.
  • Seorang muslim mencintai orang saleh karena keimanannya.
  • Membenci karena Allah berarti membenci kemaksiatan dan kekufuran, bukan berbuat zalim kepada manusia.
  • Hubungan sosial yang dilandasi iman menjadi jalan menuju surga.

Penutup

Persaudaraan yang sejati tidak diukur dari lamanya perkenalan atau banyaknya manfaat yang diperoleh, tetapi dari ketulusan niat untuk saling mencintai karena Allah. Sebagaimana dijelaskan Imam Al-Ghazali melalui hadis-hadis Rasulullah , cinta yang ikhlas akan menghadirkan cinta Allah, memperkuat iman, dan menjadi sebab seseorang memperoleh surga. Oleh karena itu, marilah kita membangun hubungan yang didasari ketakwaan, saling mengunjungi, saling mendoakan, dan saling menolong agar ukhuwah yang terjalin menjadi bekal kebahagiaan di dunia serta akhirat.

Baca Juga :

Makna Cinta dan Benci karena Allah Menurut Imam Al-Ghazali: Terjemah Ihya Ulumuddin

Keutamaan Mencintaidan Mengunjungi Saudara karena Allah: Terjemah Ihya Ulumuddin Imam Al-Ghazali

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

Memohon ‘Athf (Kasih Sayang Allah), Luṭf (Kelembutan-Nya), Dan Disambungkan Dengan Orang-Orang Dekat Kepada-Nya – Gramatika Qalbu - نحو القلوب

فصل Pasal حروف العطف تتبع الآخر الأول Huruf-huruf ‘athaf menjadikan kata yang terakhir mengikuti yang pertama. Dalam nahwu: kata ...