Pendahuluan
Di antara tanda kesempurnaan akhlak
seorang muslim adalah kemampuannya mengendalikan emosi, menjaga kehormatan
saudaranya dengan cara yang benar, serta mendahulukan agama dan kemuliaan diri
di atas kepentingan dunia.
Banyak orang mengira bahwa membela
teman harus dengan kemarahan, perdebatan, atau balasan yang keras. Sebagian
lagi menganggap menjaga harta adalah tujuan utama kehidupan sehingga enggan
mengorbankannya meski demi agama dan kehormatan.
Imam Ibnu Hazm Al-Andalusi
memberikan pelajaran yang sangat mendalam mengenai persoalan ini. Beliau
menjelaskan bagaimana cara membela sahabat dengan hikmah, bagaimana memandang
harta secara benar, serta bagaimana keadilan menjadi fondasi seluruh akhlak
mulia.
Sumber Nasihat
Kitab: Al-Akhlaq wa As-Siyar fi Mudawat an-Nufus
Penulis: Ibnu Hazm Al-Andalusi
Tema: Akhlak, persahabatan, keadilan, pengelolaan harta, dan penyucian
jiwa.
Terjemahan Teks
Membela
Sahabat dengan Cara yang Bijak
Adapun mengenai saudara-saudaraku
(sahabat-sahabatku), maka aku tidak menahan diri untuk merasa tidak senang
ketika mereka dicela.
Namun ketidaksenangan itu hanyalah
dalam kadar yang lembut.
Aku tidak lebih dari membuat orang
yang mencela mereka merasa menyesal di hadapanku, sehingga ia merasa bersalah,
meminta maaf, malu, dan berusaha membersihkan dirinya dari kesalahan tersebut.
Aku melakukan itu dengan menjelaskan
buruknya perbuatan mencela orang lain.
Aku juga mengingatkan bahwa
seseorang seharusnya lebih sibuk memperbaiki dirinya sendiri daripada
mencari-cari kesalahan orang lain.
Aku menyebutkan keutamaan sahabatku
sehingga orang yang mencelanya merasa malu karena hanya menyebut aibnya dan
melupakan kebaikannya.
Aku katakan kepadanya:
"Jika engkau tidak suka
diperlakukan seperti itu, maka sahabatku lebih pantas mendapatkan kemuliaan
daripada dirimu. Janganlah engkau meridhai untuk dirimu apa yang tidak engkau
ridhai bagi orang lain."
Jangan
Membela Teman dengan Cara yang Memperburuk Keadaan
Adapun jika aku membalas pencela itu
dengan kemarahan, memancing emosinya, dan membangkitkan amarahnya, lalu
akibatnya ia semakin banyak mencela sahabatku, maka akulah yang menjadi
penyebab keburukan tersebut.
Aku justru menjadi orang yang
menjerumuskan sahabatku kepada cercaan yang lebih besar dan berulang-ulang.
Bahkan mungkin aku juga menzalimi
diriku sendiri dengan membuat diriku mendengar kata-kata kasar yang tidak
pantas.
Karena itu aku tidak menghendaki
sahabatku membelaku lebih dari batas yang telah aku jelaskan.
Jika ia melampaui batas hingga
saling mencaci, maka biasanya celaan akan semakin bertambah.
Bahkan terkadang berkembang menjadi
penghinaan terhadap orang tua kedua belah pihak.
Dan bisa juga berujung kepada
perkelahian fisik.
Jika hal itu terjadi, maka aku
justru menyalahkan sahabatku dan tidak berterima kasih atas pembelaan seperti
itu.
Hikmah Membela Sahabat Menurut Ibnu
Hazm
Banyak orang mengira membela teman
berarti:
- Membalas hinaan
- Membuat keributan
- Membalas dengan kata-kata yang lebih kasar
- Menyerang balik lawan
Padahal menurut Ibnu Hazm, pembelaan
yang benar adalah:
- Menenangkan keadaan
- Menegur pencela dengan hikmah
- Menyebutkan kebaikan orang yang dicela
- Menghentikan fitnah sebelum meluas
Inilah akhlak para ulama dan
orang-orang bijak.
Tentang Harta: Kapan Kehilangan
Harta Tidak Disebut Kerugian?
Ibnu Hazm melanjutkan:
Sebagian orang mencelaku karena
mereka menganggap aku menyia-nyiakan hartaku.
Padahal kenyataannya tidak demikian.
Aku hanya rela kehilangan harta jika
mempertahankannya akan merusak agamaku, merusak kehormatanku, atau menyusahkan
diriku secara berlebihan.
Menurutku, menjaga tiga perkara ini
lebih berharga daripada seluruh harta dunia.
Walaupun harta itu sebanyak apa pun
yang disinari matahari.
Tiga Hal yang Lebih Berharga daripada Harta
1.
Menjaga Agama
Agama adalah modal utama manusia.
Jika harta menyebabkan seseorang
terjerumus dalam dosa, maka meninggalkannya lebih baik.
2.
Menjaga Kehormatan
Nama baik dan kehormatan lebih mahal
daripada kekayaan.
Karena kehormatan yang hilang sulit
untuk kembali.
3.
Menjaga Kesehatan Jiwa dan Raga
Kadang seseorang mempertahankan
hartanya tetapi kehilangan ketenangan hidup.
Ibnu Hazm menegaskan bahwa
ketenangan jiwa lebih berharga daripada kekayaan.
Keadilan adalah Nikmat Terbesar dari
Allah
Ibnu Hazm berkata:
Aku menemukan bahwa nikmat Allah
yang paling besar kepada seorang hamba adalah ketika Allah menciptakannya
mencintai keadilan, mencintai kebenaran, dan mengutamakannya.
Ini adalah kalimat yang sangat
mendalam.
Karena seluruh akhlak mulia berawal
dari keadilan.
Orang yang mencintai keadilan akan:
- Jujur
- Amanah
- Tidak zalim
- Menghormati hak orang lain
- Menerima kebenaran meskipun pahit
Mengapa Banyak Orang Sulit Berubah?
Menurut Ibnu Hazm, orang yang
terbiasa dengan kezaliman akan sangat sulit memperbaiki dirinya.
Beliau mengatakan:
Adapun orang yang diciptakan dengan
kecenderungan kepada kezaliman dan menganggapnya ringan, maka hendaknya ia
berputus asa untuk memperbaiki dirinya sampai ia mengubah akar sifat tersebut.
Sebab kezaliman adalah akar banyak
dosa.
Bahaya Jiwa yang Mencintai Kezaliman
Jika seseorang merasa nyaman dengan
kezaliman maka ia akan:
- Merampas hak orang lain
- Mengkhianati amanah
- Menolak kebenaran
- Membenarkan kesalahan dirinya
Akibatnya ia tidak akan berhasil
dalam agama maupun dalam akhlak.
Akhlak yang Tidak Dikenal oleh Ibnu
Hazm
Pada akhir nasihat ini, Ibnu Hazm
menyebutkan beberapa sifat buruk yang menurut beliau tidak pernah menjadi
tabiat aslinya.
Beliau berkata:
Adapun kesombongan, hasad, dusta,
dan khianat, maka aku tidak pernah mengenalnya dalam tabiatku.
Beliau bahkan mengatakan bahwa
dirinya tidak merasa pantas dipuji karena meninggalkan sifat-sifat tersebut.
Sebab jiwanya memang sejak awal
membenci sifat-sifat itu.
Lalu beliau menutup dengan ucapan:
Segala puji bagi Allah Rabb semesta
alam.
Pelajaran Penting dari Nasihat Ini
Tentang
Persahabatan
- Membela sahabat harus dengan hikmah.
- Jangan memperbesar pertengkaran.
- Sebutkan kebaikan orang yang dicela.
- Hindari balas-membalas cacian.
Tentang
Harta
- Harta bukan tujuan utama hidup.
- Agama lebih mahal daripada kekayaan.
- Kehormatan lebih berharga daripada harta.
- Ketenangan jiwa lebih utama daripada keuntungan dunia.
Tentang
Akhlak
- Keadilan adalah nikmat besar dari Allah.
- Mencintai kebenaran adalah tanda kemuliaan jiwa.
- Kezaliman adalah sumber kerusakan akhlak.
- Hasad, dusta, khianat, dan kesombongan termasuk
penyakit hati yang paling berbahaya.
Penutup
Nasihat Imam Ibnu Hazm dalam kitab Al-Akhlaq
wa As-Siyar ini mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari
kemampuannya membalas hinaan, melainkan dari kemampuannya mengendalikan diri
dan menyelesaikan masalah dengan kebijaksanaan.
Beliau juga mengingatkan bahwa harta
bukanlah ukuran keberhasilan. Agama, kehormatan, dan ketenangan jiwa jauh lebih
berharga daripada seluruh kekayaan dunia.
Pada akhirnya, orang yang mencintai
keadilan dan kebenaran akan lebih mudah mencapai akhlak mulia, sedangkan orang
yang terbiasa dengan kezaliman akan sulit memperoleh kebahagiaan dalam agama
maupun kehidupan. Wallahu A’lam.
Teks Arab :
وَأما أَمر
إخْوَانِي فَإِنِّي لست أمسك عَن الامتعاض لَهُم لكني امتعض امتعاضا رَقِيقا لَا
أَزِيد فِيهِ أَن أندم الْقَائِل مِنْهُم بحضرتي وأجعله يتذمم وَيعْتَذر ويخجل
ويتنصل وَذَلِكَ بِأَن أسلك بِهِ طَرِيق ذمّ من نَالَ من النَّاس وَأَن نظر
الْمَرْء فِي أَمر نَفسه والتهمم بإصلاحها أولى بِهِ من تتبع عثرات النَّاس
وَبِأَن أذكر فضل صديقي فأبكته على اقْتِصَاره على ذكر الْعَيْب دون ذكر
الْفَضِيلَة وَأَن أَقُول لَهُ إِنَّه لَا يرضى بذلك فِيك فَهُوَ أولى بِالْكَرمِ
مِنْك فَلَا ترض لنَفسك بِهَذَا أَو نَحْو هَذَا من القَوْل وَأما أَن أهارش
الْقَائِل فأحميه وأهيج طباعه وأستثير غَضَبه فينبعث مِنْهُ فِي صديقي أَضْعَاف
مَا أكره فَأَنا الْجَانِي حِينَئِذٍ على صديقي والمعرض لَهُ بقبيح السب وتكراره
فِيهِ وإسماعه من لم يسمعهُ والإغرار بِهِ وَرُبمَا كنت أَيْضا فِي ذَلِك جانيا على
نَفسِي مَا لَا يَنْبَغِي لصديقي أَن يرضاه لي من إسماعي الْجفَاء وَالْمَكْرُوه
وَأَنا لَا أُرِيد من صديقي أَن يذب عني بِأَكْثَرَ من الْوَجْه الَّذِي حددت
فَإِن تعدى ذَلِك إِلَى أَن يساب النائل مني حَتَّى يُولد بذلك أَن يتضاعف النّيل
وَأَن يتَعَدَّى أَيْضا إِلَيْهِ بقبيح المواجهة وَرُبمَا إِلَى أَبَوي وأبويه على
قدر سفه النائل ومنزلته من البذاءة وَرُبمَا كَانَت مُنَازعَة بِالْأَيْدِي فَأَنا
مستنقص لفعله فِي ذَلِك زار عَلَيْهِ متظلم مِنْهُ غير شَاكر لَهُ لكني ألومه على
ذَلِك أَشد اللوم وَبِاللَّهِ تَعَالَى التَّوْفِيق وذمني أَيْضا بعض من تعسف
الْأُمُور دون تَحْقِيق بِأَنِّي أضيع مَالِي وَهَذِه جملَة بَيَانهَا أَنِّي لَا
أضيع مِنْهُ إِلَّا مَا كَانَ فِي حفظه نقص ديني أَو إخلاق عرضي أَو إتعاب نَفسِي
فَإِنِّي أرى الَّذِي أحفظ من هَذِه الثَّلَاثَة وَإِن قل أجل فِي الْعِوَض مِمَّا
يضيع من مَالِي وَلَو أَنه كل مَا ذرت عَلَيْهِ الشَّمْس وَوجدت أفضل نعم الله
تَعَالَى على الْمَرْء أَن يطبعه على الْعدْل وحبه وعَلى الْحق وإيثاره فَمَا
استعنت على قمع هَذِه الطوالع الْفَاسِدَة وعَلى كل خير فِي الدّين وَالدُّنْيَا
إِلَّا بِمَا فِي قوتي من ذَلِك وَلَا حول وَلَا قُوَّة إِلَّا بِاللَّه تَعَالَى
وَأما من طبع على الْجور واستسهاله وعَلى الظُّلم واستخفافه فلييأس من يصلح أَن
نَفسه أَو يقوم طباعه أبدا وليعلم أَنه لَا يفلح فِي دين وَلَا فِي خلق مَحْمُود
وَأما الزهو والحسد وَالْكذب والخيانة فَلم أعرفهَا بطبعي قطّ وكأنني لَا حمد لي
فِي تَركهَا لمنافرة جبلتي إِيَّاهَا وَالْحَمْد لله رب الْعَالمين
Baca juga:
Nasihat Imam Ibn Hazm: Sikapterhadap Kedengkian, Kritik, dan Kebebasan dalam Kebenaran
Perjalanan Mengendalikan Amarah,Kesombongan, dan Akhlak Jiwa: Nasihat Ulama tentang Perbaikan Diri
Bahaya Cinta Popularitas MenurutIbnu Hazm: Ketika Amal Rusak karena Ingin Dikenal Manusia

0 Komentar