Pendahuluan
Setelah menjelaskan bahwa akal
merupakan syarat pertama dalam memilih sahabat, Imam Al-Ghazali melanjutkan
pembahasan dengan dua syarat berikutnya, yaitu akhlak yang baik dan tidak
fasik. Menurut beliau, kecerdasan saja tidak cukup untuk menjadikan
seseorang layak dijadikan teman dekat. Seseorang boleh jadi sangat cerdas,
tetapi apabila dikuasai oleh amarah, syahwat, sifat kikir, atau rasa pengecut,
maka ia akan mengikuti hawa nafsunya dan mengabaikan kebenaran yang telah
diketahuinya.
Begitu pula dengan orang yang
terus-menerus melakukan kefasikan tanpa bertobat. Persahabatan dengannya tidak
memberikan manfaat bagi agama, bahkan berpotensi menyeret seseorang kepada
kebiasaan buruk. Oleh sebab itu, Imam Al-Ghazali mengingatkan agar seorang
muslim memilih lingkungan yang dapat memperkuat ketakwaan dan menjauhkan diri
dari pengaruh hawa nafsu.
Sumber
Kitab : Ihya' 'Ulumuddin (إحياء
علوم الدين) Juz : 2
Pengarang : Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali (450–505 H)
Tema : Pentingnya akhlak yang baik dan menjauhi sahabat yang fasik
dalam memilih teman.
Teks Arab
وأما حسن الخلق فلا بد منه إذ رب عاقل يدرك الأشياء على ما هي
عليه ولكن إذا غلبه غضب أو شهوة أو بخل أو جبن أطاع هواه وخالف ما هو المعلوم عنده
لعجزه عن قهر صفاته وتقويم أخلاقه فلا خير في صحبته .
وأما الفاسق المصر على الفسق فلا
فائدة في صحبته لأن من يخاف الله لا يصر
على كبيرة ومن لا يخاف الله لا تؤمن غائلته ولا يوثق بصداقته بل يتغير بتغير
الأغراض .
وقال تعالى : ولا تطع من أغفلنا
قلبه عن ذكرنا واتبع هواه وقال تعالى: فلا يصدنك عنها من لا يؤمن بها واتبع هواه
وقال تعالى : فأعرض عن من تولى عن ذكرنا ولم يرد إلا الحياة الدنيا وقال : واتبع
سبيل من أناب إلي وفي مفهوم ذلك زجر عن الفاسق .
Terjemahan Lengkap
Adapun akhlak yang baik, maka sifat
ini harus dimiliki.
Sebab, boleh jadi seseorang memiliki
akal sehingga mampu memahami segala sesuatu sebagaimana hakikatnya. Akan
tetapi, ketika ia dikuasai oleh amarah, syahwat, sifat kikir, atau rasa
pengecut, ia justru mengikuti hawa nafsunya dan meninggalkan kebenaran yang
telah diketahuinya, karena ia tidak mampu mengendalikan sifat-sifat tersebut
serta memperbaiki akhlaknya.
Maka tidak ada kebaikan dalam
bersahabat dengannya.
Adapun orang fasik yang
terus-menerus melakukan kefasikan, maka tidak ada manfaat dalam bersahabat
dengannya.
Sebab, orang yang takut kepada Allah
tidak akan terus-menerus melakukan dosa besar.
Sedangkan orang yang tidak takut
kepada Allah, seseorang tidak akan merasa aman dari gangguannya dan tidak dapat
sepenuhnya mempercayai persahabatannya. Ia berubah-ubah sesuai dengan perubahan
kepentingan dan keinginannya.
Allah Ta'ala berfirman:
"Dan janganlah engkau mengikuti
orang yang telah Kami lalaikan hatinya dari mengingat Kami, yang mengikuti hawa
nafsunya."
Allah juga berfirman:
"Maka janganlah engkau
dipalingkan darinya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan mengikuti hawa
nafsunya."
Allah juga berfirman:
"Maka berpalinglah dari orang
yang berpaling dari peringatan Kami dan tidak menginginkan selain kehidupan
dunia."
Dan Allah berfirman:
"Ikutilah jalan orang yang
kembali kepada-Ku."
Dalam kandungan makna ayat terakhir
terdapat peringatan agar tidak mengikuti jalan orang-orang fasik.
Penjelasan
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa
kecerdasan tanpa akhlak belum cukup.
Akal mengetahui kebenaran.
Namun akhlaklah yang membuat
seseorang mampu melaksanakan kebenaran tersebut.
Banyak orang mengetahui bahwa marah
berlebihan itu buruk.
Mereka tahu bahwa dusta adalah dosa.
Mereka paham bahwa mengkhianati
amanah dilarang.
Namun ketika hawa nafsu menguasai
diri, ilmu yang dimiliki tidak lagi diikuti oleh amal.
Karena itu akhlak menjadi
penyempurna akal.
Artikel Pengembangan
1.
Mengapa Akhlak Didahulukan Setelah Akal?
Imam Al-Ghazali menyusun urutan ini
dengan sangat cermat.
Akal mengajarkan seseorang
mengetahui mana yang benar.
Akhlak membuatnya mampu menjalankan
kebenaran tersebut.
Seseorang yang cerdas tetapi mudah
marah dapat menghancurkan persahabatan hanya karena persoalan kecil.
Orang yang pintar tetapi dikuasai
keserakahan dapat mengkhianati sahabatnya.
Demikian pula orang yang tunduk
kepada hawa nafsu akan lebih memilih kepentingan dirinya daripada menjaga
amanah persahabatan.
Dengan demikian, akhlak adalah
benteng yang menjaga ilmu agar berubah menjadi amal.
2.
Empat Sifat yang Merusak Persahabatan
Imam Al-Ghazali menyebut empat sifat
yang dapat mengalahkan akal seseorang.
a.
Amarah
Marah yang tidak terkendali membuat
seseorang berkata kasar, memutus hubungan, bahkan menyakiti orang yang
dicintainya.
Dalam keadaan marah, seseorang
sering melupakan nilai-nilai yang selama ini diyakininya.
b.
Syahwat
Syahwat yang tidak dikendalikan
mendorong seseorang mengejar kesenangan tanpa mempertimbangkan halal dan haram.
Persahabatan yang baik dapat rusak
apabila salah satu pihak lebih mengikuti hawa nafsunya daripada tuntunan agama.
c.
Kikir
Orang yang sangat kikir sulit
berkorban demi sahabatnya.
Segala sesuatu selalu diukur dengan
keuntungan pribadi.
Padahal persahabatan membutuhkan keikhlasan
dan kemurahan hati.
d.
Pengecut
Sifat pengecut membuat seseorang
enggan membela kebenaran ketika sahabatnya dizalimi.
Ia lebih memilih keselamatan dirinya
sendiri daripada menegakkan keadilan.
3.
Mengapa Orang Fasik Tidak Layak Dijadikan Sahabat Dekat?
Imam Al-Ghazali tidak mengatakan
bahwa orang fasik harus dibenci atau diputus silaturahmi.
Beliau berbicara tentang persahabatan
yang sangat dekat, yaitu hubungan yang saling memengaruhi dalam agama dan
akhlak.
Orang yang terus-menerus melakukan
dosa besar tanpa penyesalan menunjukkan bahwa rasa takutnya kepada Allah telah
melemah.
Akibatnya:
- ia mudah meremehkan dosa,
- sulit dipercaya menjaga amanah,
- berubah sesuai kepentingan,
- tidak memiliki prinsip yang kokoh.
Persahabatan seperti ini berisiko menyeret
seseorang kepada kelalaian.
4.
Hawa Nafsu sebagai Musuh Persahabatan
Seluruh ayat yang dikutip Imam
Al-Ghazali memiliki benang merah yang sama, yaitu larangan mengikuti orang yang
dikuasai hawa nafsu.
Hawa nafsu menjadikan seseorang:
- mengabaikan nasihat,
- mencintai dunia secara berlebihan,
- melupakan akhirat,
- mengutamakan kepentingan pribadi.
Sebaliknya, Al-Qur'an memerintahkan
agar kita mengikuti jalan orang-orang yang kembali kepada Allah dengan tobat
dan ketakwaan.
Lingkungan seperti inilah yang akan
memperkuat keimanan.
5.
Persahabatan Harus Dibangun di Atas Ketakwaan
Islam mengajarkan agar seorang
muslim tetap berbuat baik kepada semua orang.
Namun sahabat yang paling dekat
hendaknya dipilih dari orang-orang yang membantu kita menaati Allah.
Mereka akan:
- mengingatkan ketika lalai,
- menegur ketika salah,
- mengajak menghadiri majelis ilmu,
- menguatkan ketika iman melemah,
- menjadi teladan dalam akhlak.
Inilah persahabatan yang membawa
keberkahan.
Penjelasan
Pesan utama Imam Al-Ghazali adalah
bahwa ilmu yang tidak disertai akhlak tidak cukup untuk membangun persahabatan
yang sehat.
Begitu pula, persahabatan dengan
orang yang terus-menerus hidup dalam kefasikan tanpa keinginan untuk bertobat
akan lebih banyak mendatangkan mudarat daripada manfaat.
Karena itu, seorang muslim hendaknya
memilih sahabat yang memiliki kemampuan mengendalikan hawa nafsu, menjaga
akhlak, serta selalu berusaha memperbaiki dirinya di hadapan Allah.
Contoh
Seorang pegawai bekerja bersama dua
rekan yang sama-sama cerdas. Rekan pertama dikenal jujur, sabar, mudah menerima
nasihat, dan selalu mengingatkan waktu salat. Ketika terjadi masalah di kantor,
ia mengajak bermusyawarah dan mencari solusi yang adil.
Rekan kedua memiliki kemampuan yang
tidak kalah tinggi, tetapi mudah marah, sering berbohong demi keuntungan
pribadi, dan menganggap remeh pelanggaran. Dalam waktu singkat, beberapa teman
mulai terbawa kebiasaannya hingga muncul konflik dan hilangnya kepercayaan.
Pengalaman ini menunjukkan bahwa
kecerdasan tanpa akhlak tidak cukup untuk membangun persahabatan yang membawa
kebaikan.
Kesimpulan
Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa
sahabat yang baik bukan hanya orang yang cerdas, tetapi juga memiliki akhlak
yang mulia dan menjaga dirinya dari kefasikan. Akhlak menjadi pengendali akal,
sedangkan ketakwaan menjaga seseorang agar tetap istiqamah di jalan yang benar.
Oleh sebab itu, seorang muslim hendaknya memilih sahabat yang mampu menguatkan
iman, memperbaiki akhlak, dan menjauhkan dirinya dari pengaruh hawa nafsu.
Hikmah
- Akhlak yang baik merupakan syarat utama dalam
persahabatan.
- Ilmu tanpa kemampuan mengendalikan hawa nafsu dapat
kehilangan manfaatnya.
- Amarah, syahwat, kikir, dan pengecut termasuk sifat
yang merusak hubungan persahabatan.
- Orang yang terus-menerus melakukan kefasikan berisiko
memengaruhi lingkungan sekitarnya.
- Al-Qur'an memerintahkan mengikuti jalan orang-orang
yang kembali kepada Allah.
- Persahabatan terbaik adalah yang dibangun di atas
ketakwaan dan akhlak mulia.
- Menjaga lingkungan yang saleh merupakan salah satu cara
menjaga keimanan.
Penutup
Nasihat Imam Al-Ghazali mengingatkan
bahwa kualitas persahabatan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi
terutama oleh akhlak dan ketakwaan. Sahabat yang mampu mengendalikan hawa
nafsunya akan menjadi penolong dalam menjaga iman dan memperbaiki diri.
Sebaliknya, lingkungan yang dipenuhi kefasikan dapat mengikis kepekaan hati
sedikit demi sedikit. Oleh karena itu, marilah kita memilih sahabat yang
mencintai kebenaran, menghiasi diri dengan akhlak mulia, serta saling menguatkan
dalam ketaatan kepada Allah sehingga persahabatan yang terjalin menjadi sebab
kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat.
Artikel Terkait :
5 Syarat MemilihSahabat Menurut Imam Al-Ghazali: Ciri Teman yang Baik dalam Islam (02/05/50)
Bahaya Berteman
dengan Ahli Bid'ah dan Orang Fajir Menurut Imam Al-Ghazali (02/05/53)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar