Akhlak Baik dan Menjauhi Orang Fasik: Syarat Memilih Sahabat Menurut Imam Al-Ghazali (02/05/52)

Imam Al-Ghazali menjelaskan pentingnya akhlak mulia dan menjauhi sahabat yang fasik demi menjaga iman, akhlak, dan istiqamah

Pendahuluan

Setelah menjelaskan bahwa akal merupakan syarat pertama dalam memilih sahabat, Imam Al-Ghazali melanjutkan pembahasan dengan dua syarat berikutnya, yaitu akhlak yang baik dan tidak fasik. Menurut beliau, kecerdasan saja tidak cukup untuk menjadikan seseorang layak dijadikan teman dekat. Seseorang boleh jadi sangat cerdas, tetapi apabila dikuasai oleh amarah, syahwat, sifat kikir, atau rasa pengecut, maka ia akan mengikuti hawa nafsunya dan mengabaikan kebenaran yang telah diketahuinya.

Begitu pula dengan orang yang terus-menerus melakukan kefasikan tanpa bertobat. Persahabatan dengannya tidak memberikan manfaat bagi agama, bahkan berpotensi menyeret seseorang kepada kebiasaan buruk. Oleh sebab itu, Imam Al-Ghazali mengingatkan agar seorang muslim memilih lingkungan yang dapat memperkuat ketakwaan dan menjauhkan diri dari pengaruh hawa nafsu.

Sumber

Kitab : Ihya' 'Ulumuddin (إحياء علوم الدين) Juz : 2

Pengarang : Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali (450–505 H)

Tema : Pentingnya akhlak yang baik dan menjauhi sahabat yang fasik dalam memilih teman.

Teks Arab

وأما حسن الخلق  فلا بد منه إذ رب عاقل يدرك الأشياء على ما هي عليه ولكن إذا غلبه غضب أو شهوة أو بخل أو جبن أطاع هواه وخالف ما هو المعلوم عنده لعجزه عن قهر صفاته وتقويم أخلاقه فلا خير في صحبته .

وأما الفاسق المصر على الفسق فلا فائدة في صحبته  لأن من يخاف الله لا يصر على كبيرة ومن لا يخاف الله لا تؤمن غائلته ولا يوثق بصداقته بل يتغير بتغير الأغراض .

وقال تعالى : ولا تطع من أغفلنا قلبه عن ذكرنا واتبع هواه وقال تعالى: فلا يصدنك عنها من لا يؤمن بها واتبع هواه وقال تعالى : فأعرض عن من تولى عن ذكرنا ولم يرد إلا الحياة الدنيا وقال : واتبع سبيل من أناب إلي وفي مفهوم ذلك زجر عن الفاسق .

Terjemahan Lengkap

Adapun akhlak yang baik, maka sifat ini harus dimiliki.

Sebab, boleh jadi seseorang memiliki akal sehingga mampu memahami segala sesuatu sebagaimana hakikatnya. Akan tetapi, ketika ia dikuasai oleh amarah, syahwat, sifat kikir, atau rasa pengecut, ia justru mengikuti hawa nafsunya dan meninggalkan kebenaran yang telah diketahuinya, karena ia tidak mampu mengendalikan sifat-sifat tersebut serta memperbaiki akhlaknya.

Maka tidak ada kebaikan dalam bersahabat dengannya.

Adapun orang fasik yang terus-menerus melakukan kefasikan, maka tidak ada manfaat dalam bersahabat dengannya.

Sebab, orang yang takut kepada Allah tidak akan terus-menerus melakukan dosa besar.

Sedangkan orang yang tidak takut kepada Allah, seseorang tidak akan merasa aman dari gangguannya dan tidak dapat sepenuhnya mempercayai persahabatannya. Ia berubah-ubah sesuai dengan perubahan kepentingan dan keinginannya.

Allah Ta'ala berfirman:

"Dan janganlah engkau mengikuti orang yang telah Kami lalaikan hatinya dari mengingat Kami, yang mengikuti hawa nafsunya."

Allah juga berfirman:

"Maka janganlah engkau dipalingkan darinya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan mengikuti hawa nafsunya."

Allah juga berfirman:

"Maka berpalinglah dari orang yang berpaling dari peringatan Kami dan tidak menginginkan selain kehidupan dunia."

Dan Allah berfirman:

"Ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku."

Dalam kandungan makna ayat terakhir terdapat peringatan agar tidak mengikuti jalan orang-orang fasik.

Penjelasan

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa kecerdasan tanpa akhlak belum cukup.

Akal mengetahui kebenaran.

Namun akhlaklah yang membuat seseorang mampu melaksanakan kebenaran tersebut.

Banyak orang mengetahui bahwa marah berlebihan itu buruk.

Mereka tahu bahwa dusta adalah dosa.

Mereka paham bahwa mengkhianati amanah dilarang.

Namun ketika hawa nafsu menguasai diri, ilmu yang dimiliki tidak lagi diikuti oleh amal.

Karena itu akhlak menjadi penyempurna akal.

Artikel Pengembangan

1. Mengapa Akhlak Didahulukan Setelah Akal?

Imam Al-Ghazali menyusun urutan ini dengan sangat cermat.

Akal mengajarkan seseorang mengetahui mana yang benar.

Akhlak membuatnya mampu menjalankan kebenaran tersebut.

Seseorang yang cerdas tetapi mudah marah dapat menghancurkan persahabatan hanya karena persoalan kecil.

Orang yang pintar tetapi dikuasai keserakahan dapat mengkhianati sahabatnya.

Demikian pula orang yang tunduk kepada hawa nafsu akan lebih memilih kepentingan dirinya daripada menjaga amanah persahabatan.

Dengan demikian, akhlak adalah benteng yang menjaga ilmu agar berubah menjadi amal.

2. Empat Sifat yang Merusak Persahabatan

Imam Al-Ghazali menyebut empat sifat yang dapat mengalahkan akal seseorang.

a. Amarah

Marah yang tidak terkendali membuat seseorang berkata kasar, memutus hubungan, bahkan menyakiti orang yang dicintainya.

Dalam keadaan marah, seseorang sering melupakan nilai-nilai yang selama ini diyakininya.

b. Syahwat

Syahwat yang tidak dikendalikan mendorong seseorang mengejar kesenangan tanpa mempertimbangkan halal dan haram.

Persahabatan yang baik dapat rusak apabila salah satu pihak lebih mengikuti hawa nafsunya daripada tuntunan agama.

c. Kikir

Orang yang sangat kikir sulit berkorban demi sahabatnya.

Segala sesuatu selalu diukur dengan keuntungan pribadi.

Padahal persahabatan membutuhkan keikhlasan dan kemurahan hati.

d. Pengecut

Sifat pengecut membuat seseorang enggan membela kebenaran ketika sahabatnya dizalimi.

Ia lebih memilih keselamatan dirinya sendiri daripada menegakkan keadilan.

3. Mengapa Orang Fasik Tidak Layak Dijadikan Sahabat Dekat?

Imam Al-Ghazali tidak mengatakan bahwa orang fasik harus dibenci atau diputus silaturahmi.

Beliau berbicara tentang persahabatan yang sangat dekat, yaitu hubungan yang saling memengaruhi dalam agama dan akhlak.

Orang yang terus-menerus melakukan dosa besar tanpa penyesalan menunjukkan bahwa rasa takutnya kepada Allah telah melemah.

Akibatnya:

  • ia mudah meremehkan dosa,
  • sulit dipercaya menjaga amanah,
  • berubah sesuai kepentingan,
  • tidak memiliki prinsip yang kokoh.

Persahabatan seperti ini berisiko menyeret seseorang kepada kelalaian.

4. Hawa Nafsu sebagai Musuh Persahabatan

Seluruh ayat yang dikutip Imam Al-Ghazali memiliki benang merah yang sama, yaitu larangan mengikuti orang yang dikuasai hawa nafsu.

Hawa nafsu menjadikan seseorang:

  • mengabaikan nasihat,
  • mencintai dunia secara berlebihan,
  • melupakan akhirat,
  • mengutamakan kepentingan pribadi.

Sebaliknya, Al-Qur'an memerintahkan agar kita mengikuti jalan orang-orang yang kembali kepada Allah dengan tobat dan ketakwaan.

Lingkungan seperti inilah yang akan memperkuat keimanan.

5. Persahabatan Harus Dibangun di Atas Ketakwaan

Islam mengajarkan agar seorang muslim tetap berbuat baik kepada semua orang.

Namun sahabat yang paling dekat hendaknya dipilih dari orang-orang yang membantu kita menaati Allah.

Mereka akan:

  • mengingatkan ketika lalai,
  • menegur ketika salah,
  • mengajak menghadiri majelis ilmu,
  • menguatkan ketika iman melemah,
  • menjadi teladan dalam akhlak.

Inilah persahabatan yang membawa keberkahan.

Penjelasan

Pesan utama Imam Al-Ghazali adalah bahwa ilmu yang tidak disertai akhlak tidak cukup untuk membangun persahabatan yang sehat.

Begitu pula, persahabatan dengan orang yang terus-menerus hidup dalam kefasikan tanpa keinginan untuk bertobat akan lebih banyak mendatangkan mudarat daripada manfaat.

Karena itu, seorang muslim hendaknya memilih sahabat yang memiliki kemampuan mengendalikan hawa nafsu, menjaga akhlak, serta selalu berusaha memperbaiki dirinya di hadapan Allah.

Contoh

Seorang pegawai bekerja bersama dua rekan yang sama-sama cerdas. Rekan pertama dikenal jujur, sabar, mudah menerima nasihat, dan selalu mengingatkan waktu salat. Ketika terjadi masalah di kantor, ia mengajak bermusyawarah dan mencari solusi yang adil.

Rekan kedua memiliki kemampuan yang tidak kalah tinggi, tetapi mudah marah, sering berbohong demi keuntungan pribadi, dan menganggap remeh pelanggaran. Dalam waktu singkat, beberapa teman mulai terbawa kebiasaannya hingga muncul konflik dan hilangnya kepercayaan.

Pengalaman ini menunjukkan bahwa kecerdasan tanpa akhlak tidak cukup untuk membangun persahabatan yang membawa kebaikan.

Kesimpulan

Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa sahabat yang baik bukan hanya orang yang cerdas, tetapi juga memiliki akhlak yang mulia dan menjaga dirinya dari kefasikan. Akhlak menjadi pengendali akal, sedangkan ketakwaan menjaga seseorang agar tetap istiqamah di jalan yang benar. Oleh sebab itu, seorang muslim hendaknya memilih sahabat yang mampu menguatkan iman, memperbaiki akhlak, dan menjauhkan dirinya dari pengaruh hawa nafsu.

Hikmah

  • Akhlak yang baik merupakan syarat utama dalam persahabatan.
  • Ilmu tanpa kemampuan mengendalikan hawa nafsu dapat kehilangan manfaatnya.
  • Amarah, syahwat, kikir, dan pengecut termasuk sifat yang merusak hubungan persahabatan.
  • Orang yang terus-menerus melakukan kefasikan berisiko memengaruhi lingkungan sekitarnya.
  • Al-Qur'an memerintahkan mengikuti jalan orang-orang yang kembali kepada Allah.
  • Persahabatan terbaik adalah yang dibangun di atas ketakwaan dan akhlak mulia.
  • Menjaga lingkungan yang saleh merupakan salah satu cara menjaga keimanan.

Penutup

Nasihat Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa kualitas persahabatan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi terutama oleh akhlak dan ketakwaan. Sahabat yang mampu mengendalikan hawa nafsunya akan menjadi penolong dalam menjaga iman dan memperbaiki diri. Sebaliknya, lingkungan yang dipenuhi kefasikan dapat mengikis kepekaan hati sedikit demi sedikit. Oleh karena itu, marilah kita memilih sahabat yang mencintai kebenaran, menghiasi diri dengan akhlak mulia, serta saling menguatkan dalam ketaatan kepada Allah sehingga persahabatan yang terjalin menjadi sebab kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat.

Artikel Terkait :

Pentingnya MemilihSahabat yang Berakal Menurut Imam Al-Ghazali: Bahaya Berteman dengan OrangBodoh (02/05/51)

5 Syarat MemilihSahabat Menurut Imam Al-Ghazali: Ciri Teman yang Baik dalam Islam (02/05/50)

Bahaya Berteman dengan Ahli Bid'ah dan Orang Fajir Menurut Imam Al-Ghazali (02/05/53)

📚
Akhlak Baik dan Menjauhi Orang Fasik: Syarat Memilih Sahabat Menurut Imam Al-Ghazali (02/05/52)
Download PDF Kitab Makna Pesantren melalui tombol di bawah.
📥 DOWNLOAD PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

Kelompok Muhammadiyah dalam Imamiyah: Keyakinan tentang Muhammad bin Abdullah An-Nafs az-Zakiyyah Menurut Imam Al-Isfarayini

Pendahuluan Dalam pembahasan mengenai sekte-sekte Imamiyah, Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini melanjutkan dengan menguraikan kelompok M...