Pendahuluan
Di era media sosial dan budaya
pencitraan, keinginan untuk dikenal dan dipuji manusia menjadi salah satu
penyakit hati yang paling sulit disadari. Banyak orang melakukan kebaikan,
berdakwah, bersedekah, bahkan beribadah dengan harapan mendapatkan pujian,
pengakuan, dan popularitas.
Padahal, amal yang tampak baik di
hadapan manusia belum tentu bernilai di sisi Allah jika kehilangan keikhlasan.
Inilah yang diingatkan oleh Imam Ibnu Hazm Al-Andalusi dalam kitab Al-Akhlaq
wa As-Siyar. Beliau menjelaskan bahwa cinta kepada ketenaran (hubb
adz-dzikr) bukan sekadar cacat akhlak, tetapi dapat menjadi sebab rusaknya
amal dan hilangnya keutamaan.
Nasihat ini sangat relevan bagi
setiap muslim yang ingin menjaga keikhlasan dan membersihkan niat dalam
beramal.
Sumber Nasihat
Kitab: Al-Akhlaq wa As-Siyar fi Mudawat an-Nufus
Penulis: Ibnu Hazm Al-Andalusi
Tema: Keikhlasan, bahaya cinta popularitas, kritik diri, dan kesadaran
akan kelemahan manusia.
Terjemahan dan Makna
Bahaya
Cinta Popularitas
Di antara cacat cinta kepada
ketenaran adalah bahwa ia dapat menggugurkan amal-amal perbuatan apabila
pelakunya suka disebut-sebut karenanya.
Hampir saja hal itu menjadi syirik,
karena ia beramal bukan untuk Allah Ta'ala.
Dan cinta ketenaran juga menghapus
keutamaan-keutamaan, sebab pemiliknya hampir tidak melakukan kebaikan karena
mencintai kebaikan itu sendiri, melainkan agar dirinya disebut dan dikenang
karenanya.
Pujian
Palsu dan Celaan Palsu
Orang yang memujimu dengan sesuatu
yang tidak ada pada dirimu, sesungguhnya lebih berat dalam mencelamu daripada
orang yang mencelamu.
Karena ia telah mengingatkan orang
lain tentang kekuranganmu.
Sebaliknya, orang yang mencelamu
dengan sesuatu yang tidak ada pada dirimu, justru lebih besar pujiannya
kepadamu daripada celaannya.
Karena ia telah menunjukkan
keutamaan yang ada pada dirimu.
Musuh
yang Membelamu Tanpa Sadar
Sesungguhnya orang yang menuduhmu
dengan keburukan yang tidak ada padamu, sebenarnya telah membelamu terhadap
dirinya sendiri.
Karena ia telah menempatkan dirinya
pada posisi yang layak mendapatkan pengingkaran dan celaan manusia.
Mengenal
Kekurangan Diri
Seandainya orang yang memiliki
kekurangan mengetahui kekurangannya, niscaya ia akan menjadi sempurna.
Tidak
Ada Manusia yang Sempurna
Tidak ada satu makhluk pun yang
bebas dari kekurangan.
Maka orang yang berbahagia adalah
orang yang sedikit kekurangannya dan halus cacat-cacatnya.
Hakikat
Kehati-hatian
Kebanyakan kejadian yang terjadi
justru berasal dari sesuatu yang tidak disangka-sangka.
Sedangkan kehati-hatian yang
sesungguhnya adalah mempersiapkan diri terhadap hal-hal yang diperkirakan akan
terjadi.
Manusia
dan Kebutuhannya kepada Allah
Maha Suci Allah yang telah mengatur
semua itu agar manusia menyadari kelemahannya dan kebutuhannya kepada
Penciptanya Yang Maha Mulia dan Maha Agung.
Bahaya Cinta Popularitas dalam Islam
Salah satu penyakit hati yang paling
tersembunyi adalah keinginan untuk dikenal manusia.
Seseorang mungkin:
- Bersedekah agar dipuji.
- Menulis agar terkenal.
- Berdakwah agar banyak pengikut.
- Beribadah agar disebut saleh.
- Menolong orang agar dihormati.
Secara lahiriah semua itu tampak
sebagai amal kebaikan.
Namun ketika motivasinya berubah
dari mencari ridha Allah menjadi mencari perhatian manusia, amal tersebut
kehilangan nilai keikhlasannya.
Karena itu Ibnu Hazm mengatakan
bahwa penyakit ini hampir menyerupai syirik, sebab orientasi amal berpindah
dari Allah kepada makhluk.
Mengapa Cinta Ketenaran Menghapus
Keutamaan?
Menurut Ibnu Hazm, orang yang
terjangkit cinta popularitas tidak lagi mencintai kebaikan karena kebaikan itu
sendiri.
Ia mencintai hasil yang mengikuti
kebaikan tersebut, yaitu:
- Pujian manusia.
- Nama baik.
- Popularitas.
- Kedudukan sosial.
- Pengaruh di tengah masyarakat.
Akibatnya, ketika tidak ada pujian,
semangat beramal pun menurun.
Inilah tanda bahwa amal tersebut
tidak sepenuhnya dilakukan karena Allah.
Pelajaran Besar tentang Kritik dan
Pujian
Nasihat Ibnu Hazm tentang pujian dan
celaan sangat dalam.
Ketika
Dipuji Secara Berlebihan
Jika seseorang memuji kita dengan
sifat yang tidak kita miliki, maka pujian itu sebenarnya berbahaya.
Mengapa?
Karena:
- Membuat kita lalai terhadap kekurangan diri.
- Menumbuhkan kesombongan.
- Menutupi kebutuhan untuk memperbaiki diri.
Karena itu pujian palsu lebih dekat
kepada celaan daripada penghormatan.
Ketika
Dicela Secara Tidak Benar
Sebaliknya, jika seseorang menuduh
kita dengan sesuatu yang tidak ada pada diri kita, maka:
- Kebenaran tetap bersama kita.
- Kebohongan kembali kepada dirinya.
- Orang yang bijak akan mengetahui siapa yang salah.
Karena itu Ibnu Hazm memandang bahwa
celaan semacam ini justru dapat menjadi bentuk pujian tidak langsung.
Mengenal Kekurangan Diri adalah Awal
Kesempurnaan
Kalimat Ibnu Hazm:
"Seandainya orang yang memiliki
kekurangan mengetahui kekurangannya, niscaya ia menjadi sempurna."
mengandung hikmah yang sangat besar.
Sebagian besar manusia tidak rusak
karena kekurangannya.
Mereka rusak karena tidak menyadari
kekurangan tersebut.
Orang yang menyadari kelemahannya
akan:
- Lebih mudah menerima nasihat.
- Tidak sombong.
- Bersedia belajar.
- Cepat memperbaiki diri.
Sedangkan orang yang merasa dirinya
sempurna akan sulit berkembang.
Tidak Ada Manusia yang Bebas dari
Aib
Ibnu Hazm menegaskan bahwa seluruh
manusia memiliki kekurangan.
Perbedaannya hanyalah:
Orang
Celaka
- Banyak aib.
- Tidak menyadarinya.
- Tidak berusaha memperbaikinya.
Orang
Bahagia
- Sedikit aib.
- Menyadari kelemahannya.
- Selalu berusaha memperbaiki diri.
Karena itu ukuran kemuliaan bukanlah
bebas dari kesalahan, tetapi kesungguhan dalam memperbaiki kesalahan.
Hikmah Kehati-hatian dalam Kehidupan
Ibnu Hazm juga mengajarkan
pentingnya sikap waspada.
Beliau menjelaskan bahwa banyak
musibah muncul dari hal yang tidak diperkirakan.
Karena itu orang bijak selalu:
- Membuat persiapan.
- Menghitung risiko.
- Tidak gegabah.
- Tidak terlalu percaya diri.
Kehati-hatian bukan tanda ketakutan,
melainkan tanda kebijaksanaan.
Mengapa Allah Menjadikan Manusia
Lemah?
Pada akhir nasihatnya, Ibnu Hazm
mengingatkan bahwa seluruh keadaan hidup ini merupakan pengingat bagi manusia.
Allah menjadikan manusia:
- Mudah lupa.
- Banyak kekurangan.
- Tidak mengetahui masa depan.
- Membutuhkan bantuan orang lain.
Semua itu agar manusia memahami satu
hakikat:
Ia membutuhkan Allah dalam setiap
keadaan.
Semakin seseorang mengenal
kelemahannya, semakin dekat ia kepada Rabbnya.
Pelajaran Penting dari Nasihat Ini
- Cinta popularitas dapat merusak keikhlasan amal.
- Amal yang dilakukan demi pujian manusia kehilangan
nilainya di sisi Allah.
- Pujian palsu lebih berbahaya daripada celaan yang
jujur.
- Orang yang mencela tanpa alasan sebenarnya merugikan
dirinya sendiri.
- Mengenal kekurangan diri adalah langkah pertama menuju
perbaikan.
- Tidak ada manusia yang bebas dari aib.
- Kehati-hatian merupakan bagian dari kebijaksanaan.
- Kelemahan manusia mengingatkannya untuk selalu
bergantung kepada Allah.
Penutup
Nasihat Imam Ibnu Hazm ini merupakan
pelajaran berharga bagi setiap muslim yang ingin menjaga keikhlasan amal.
Bahaya cinta popularitas tidak hanya mengurangi pahala, tetapi juga dapat
mengubah tujuan ibadah dari mencari ridha Allah menjadi mencari perhatian
manusia.
Karena itu, seorang mukmin hendaknya
selalu memeriksa niatnya, mengenali kekurangan dirinya, dan tidak terlalu sibuk
mengejar pujian manusia. Sebab kemuliaan yang sejati bukanlah dikenal oleh
banyak orang, melainkan diterima amalnya oleh Allah Ta'ala.
Pada akhirnya, semakin seseorang
memahami kelemahan dirinya, semakin ia menyadari bahwa hanya Allah tempat
bergantung, memohon pertolongan, dan mencari ridha.
Teks Arab :
من عيب حب
الذّكر أَنه يحبط الْأَعْمَال إِذا أحب عاملها أَن يذكر بهَا فكاد يكون شركا
لِأَنَّهُ يعْمل لغير الله تَعَالَى وَهُوَ يطمس الْفَضَائِل لِأَن صَاحبه لَا
يكَاد يفعل الْخَيْر حبا للخير لَكِن ليذكر بِهِ أبلغ فِي ذمك من مدحك بِمَا
لَيْسَ فِيك لِأَنَّهُ نبه على نقصك وأبلغ فِي مدحك من ذمك بِمَا لَيْسَ فِيك
لِأَنَّهُ نبه على فضلك وَلَقَد انتصر لَك من نَفسه بذلك وباستهدافه إِلَى
الْإِنْكَار واللائمة لَو علم النَّاقِص نَقصه لَكَانَ كَامِلا لَا يَخْلُو
مَخْلُوق من عيب فالسعيد من قلت عيوبه ودقت أَكثر مَا يكون مَا لم يظنّ فالحزم
هُوَ التأهب لما يظنّ فسبحان من رتب ذَلِك ليري الْإِنْسَان عَجزه وافتقاره إِلَى
خالقه عز وجل
Semoga Bermanfaat.
Baca juga:
Nasihat Imam Ibn Hazm: Sikapterhadap Kedengkian, Kritik, dan Kebebasan dalam Kebenaran
Persahabatan, Teguran, dan Rahasia: Nasihat Mendalam Ibnu
Hazm tentang Sahabat Sejati

0 Komentar