Pendahuluan
Di antara cabang-cabang Syiah
Imamiyah yang paling berpengaruh dalam sejarah Islam adalah Ismailiyah.
Kelompok ini memiliki pandangan khusus mengenai penerus Ja'far ash-Shadiq dalam
kepemimpinan (imamah). Berbeda dengan kelompok lain, mereka meyakini bahwa
imamah berpindah kepada putra Ja'far yang bernama Ismail, atau kepada
keturunannya.
Dalam kitab Al-Farq Bain al-Firaq,
Imam al-Isfarayini menjelaskan pandangan kelompok ini menurut
perspektif Ahlus Sunnah. Beliau juga menghubungkan sebagian pengikut Ismailiyah
dengan kelompok Batiniah yang berkembang pada masa-masa berikutnya.
Sumber
Kitab: At-Tabṣīr fī ad-Dīn wa Tamyīz al-Firqah an-Nājiyah 'an
al-Firaq al-Hālikīn (التبصير في الدين وتمييز
الفرقة الناجية عن الفرق الهالكين)
Penulis: Imam Abu al-Muzaffar Thahir bin Muhammad al-Isfarayini (w.
471 H)
Tema
Keyakinan Kelompok Ismailiyah
tentang Imamah Ismail bin Ja'far dan Muhammad bin Ismail
Terjemahan Lengkap
8. Ismailiyah
Mereka beranggapan bahwa
kepemimpinan (imamah) berpindah dari Ja'far kepada putranya, Ismail.
Seluruh ahli sejarah mendustakan
pendapat tersebut karena menurut riwayat yang sahih di sisi mereka, Ismail
telah wafat sebelum ayahnya, Ja'far.
Sebagian kelompok ini kemudian
berpendapat bahwa imam sesudah itu adalah Muhammad bin Ismail. Inilah
mazhab Ismailiyah dari kalangan Batiniah.
Artikel Pengembangan
Siapakah
Ismail bin Ja'far?
Ismail bin Ja'far merupakan salah
satu putra Ja'far ash-Shadiq. Dalam sejarah Syiah, kedudukannya menjadi titik
awal lahirnya salah satu cabang terbesar, yaitu Ismailiyah.
Menurut kelompok ini, Ismail telah
ditunjuk sebagai penerus ayahnya sehingga hak imamah tetap berada pada dirinya
atau diteruskan kepada keturunannya.
Perbedaan
dengan Kelompok Imamiyah Lain
Sebagian besar kelompok Imamiyah
meyakini bahwa setelah wafatnya Ja'far ash-Shadiq, imamah berpindah kepada Musa
al-Kazhim.
Sementara itu, Ismailiyah
berpendapat bahwa hak tersebut tetap berada pada jalur Ismail, meskipun menurut
riwayat sejarah yang dipegang oleh banyak sejarawan Muslim, Ismail meninggal
dunia sebelum ayahnya.
Perbedaan inilah yang menjadi salah
satu penyebab utama munculnya perpecahan dalam Syiah Imamiyah.
Mengapa
Disebut Ismailiyah?
Nama Ismailiyah berasal dari
Ismail bin Ja'far yang mereka yakini sebagai imam yang sah.
Dalam perkembangannya, sebagian
pengikut Ismailiyah berpendapat bahwa imamah diteruskan kepada putranya, yaitu Muhammad
bin Ismail. Dari sinilah berkembang berbagai cabang Ismailiyah yang
kemudian memiliki pengaruh besar di beberapa wilayah dunia Islam.
Hubungan
dengan Batiniah
Imam al-Baghdadi menyebut bahwa
kelompok yang meyakini imamah Muhammad bin Ismail merupakan bagian dari Batiniah.
Istilah Batiniah dalam
literatur klasik biasanya digunakan untuk kelompok-kelompok yang menekankan
penafsiran batin (esoteris) terhadap ajaran agama, sehingga banyak ketentuan
syariat dipahami melalui makna-makna tersembunyi menurut metode mereka.
Dalam sejarah Islam, istilah ini
memiliki penggunaan yang beragam dan sering kali dipakai oleh para ulama Ahlus
Sunnah untuk menyebut kelompok-kelompok tertentu yang dianggap menyimpang dalam
masalah akidah dan penafsiran agama.
Pentingnya
Membaca Sejarah Secara Objektif
Kajian mengenai Ismailiyah perlu
dibaca dalam konteks sejarah dan perbandingan mazhab. Kitab Al-Farq Bain
al-Firaq ditulis dari sudut pandang teologi Ahlus Sunnah sehingga
penilaiannya mencerminkan perspektif tersebut.
Bagi pembaca masa kini, mempelajari
berbagai sumber dari tradisi yang berbeda dapat membantu memahami bagaimana
perbedaan pandangan tentang kepemimpinan setelah Ja'far ash-Shadiq berkembang
menjadi berbagai cabang pemikiran dalam sejarah Islam.
Hikmah
Beberapa pelajaran yang dapat
dipetik dari pembahasan ini antara lain:
- Perbedaan mengenai kepemimpinan dapat berkembang
menjadi perbedaan akidah yang luas.
- Sejarah Islam menunjukkan pentingnya memverifikasi
riwayat sebelum menjadikannya dasar keyakinan.
- Membaca kitab-kitab klasik perlu disertai pemahaman
terhadap konteks sejarah dan sudut pandang penulisnya.
- Kajian sejarah firqah hendaknya menjadi sarana
memperluas wawasan ilmiah, bukan untuk menumbuhkan permusuhan.
- Seorang Muslim dianjurkan untuk membangun keyakinan
berdasarkan dalil yang kuat, ilmu yang benar, dan bimbingan para ulama
yang terpercaya.
Penutup
Menurut Imam Abdul Qahir
al-Baghdadi, kelompok Ismailiyah meyakini bahwa imamah berpindah kepada Ismail
bin Ja'far, kemudian sebagian pengikutnya menetapkan Muhammad bin Ismail
sebagai imam berikutnya. Beliau mencatat bahwa pendapat tersebut ditolak oleh
para ahli sejarah yang menyatakan Ismail wafat sebelum ayahnya. Pembahasan ini
memperlihatkan bagaimana perbedaan mengenai suksesi kepemimpinan melahirkan
salah satu cabang paling berpengaruh dalam sejarah pemikiran Islam, yang
kemudian berkembang menjadi berbagai aliran dengan karakteristik masing-masing.
Teks Arab :
1- الإسماعيلية
وهم يَزْعمُونَ أَن الْإِمَامَة صَارَت من جَعْفَر إِلَى
ابْنه إِسْمَاعِيل وكذبهم فِي هَذِه الْمقَالة جَمِيع أهل التواريخ لما صَحَّ
عِنْدهم من موت إِسْمَاعِيل قبل أَبِيه جَعْفَر وَقوم من هَذِه الطَّائِفَة
يَقُولُونَ بإمامة مُحَمَّد بن إِسْمَاعِيل وَهَذَا مَذْهَب الإسماعيلية من
الباطنية
Wallahu A’lam...
Artikel Terkait:
Aliran Ammariyah (Aftahiyah): Keyakinan tentang Imamah
Abdullah al-Afthah Setelah Ja'far ash-Shadiq
Kelompok Syamithiyah: Keyakinan tentang Imamah Muhammad bin Ja'far dalam Kitab Al-Farq Bainal Firaq

0 Komentar