Kelompok Hisyamiyah dan Musawiyah dalam Syiah Imamiyah: Penjelasan Kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn

Pembahasan kelompok Hisyamiyah dan Musawiyah dalam Syiah Imamiyah menurut Kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn beserta terjemahan dan penjelasannya

Pendahuluan

Kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn membahas berbagai cabang dalam Syiah Imamiyah beserta pokok-pokok keyakinan yang dinisbatkan kepada masing-masing kelompok. Salah satu kelompok yang dibahas adalah Hisyamiyah, yang menurut penulis kitab terbagi menjadi dua golongan dengan pandangan teologis tertentu mengenai sifat-sifat Allah. Selain itu, penulis juga menyinggung kelompok Musawiyah, yakni mereka yang berhenti pada kepemimpinan Imam Musa al-Kazhim dan tidak mengakui imam sesudahnya.

Uraian berikut merupakan terjemahan dan penjelasan isi kitab sebagaimana ditulis oleh pengarangnya dari perspektif teologi Ahlus Sunnah pada masanya.

Sumber :

Kitab: التبصير في الدين وتمييز الفرقة الناجية عن الفرق الهالكين (At-Tabṣīr fī ad-Dīn wa Tamyīz al-Firqah an-Nājiyah 'an al-Firaq al-Hālikīn)

Penulis

Thahir bin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad Al-Isfarayini (طاهر بن محمد بن أحمد بن محمد الإسفراييني)

Tema

Pandangan Kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn tentang Kelompok Hisyamiyah dan Musawiyah dalam Syiah Imamiyah

Terjemahan Lengkap

Hisyamiyah

Kelompok Hisyamiyah terdiri atas dua golongan, yaitu para pengikut Hisyam bin al-Hakam yang beraliran Rafidhah dan para pengikut Hisyam bin Salim al-Jawaliqi.

Menurut penulis kitab, kedua kelompok tersebut sama-sama menganut paham tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk), tajsim (menisbatkan bentuk jasmani kepada Allah), serta menetapkan adanya batas dan ukuran bagi Allah.

Adapun kelompok Musawiyah, mereka mengatakan bahwa Musa bin Ja'far tidak wafat, melainkan akan muncul kembali. Mereka sendiri masih meragukan kematiannya.

Penulis kitab menyatakan bahwa keyakinan seperti itu, menurut mereka sendiri, semestinya juga membuat mereka ragu terhadap status keimamannya sebagaimana mereka meragukan kehidupannya.

Selanjutnya penulis menyebutkan bahwa pendapat tersebut merupakan anggapan yang tidak benar, karena makam Musa bin Ja'far telah dikenal luas berada di Baghdad, di bagian barat kota. Makam tersebut diziarahi dan dijadikan tempat mengambil berkah.

Kelompok Musawiyah juga memiliki julukan lain, yaitu Al-Mamthurah (الممطورة). Julukan itu muncul ketika Zurarah bin A'yan pernah berkata kepada mereka:

"Kalian lebih hina dalam pandanganku daripada anjing-anjing yang basah karena hujan."

Yang dimaksud ialah anjing-anjing yang terkena hujan sehingga orang-orang menjauhi dan menghindarinya.

Artikel Pengembangan

Pembahasan mengenai Hisyamiyah memperlihatkan bagaimana kitab ini mengelompokkan berbagai cabang Imamiyah berdasarkan tokoh-tokoh yang menjadi rujukan mereka. Penulis menganggap bahwa sebagian kelompok telah mengembangkan konsep ketuhanan yang menurut perspektif Ahlus Sunnah menyimpang karena mengandung unsur tasybih dan tajsim.

Dalam literatur ilmu kalam klasik, tuduhan tasybih dan tajsim merupakan salah satu bentuk kritik teologis yang sering muncul dalam perdebatan antarmazhab. Karena itu, pembaca perlu memahami bahwa istilah-istilah tersebut digunakan dalam konteks polemik ilmiah pada masa penyusunan kitab ini.

Bagian kedua membahas Musawiyah, yaitu kelompok yang berhenti pada kepemimpinan Musa al-Kazhim dan meyakini bahwa beliau tidak wafat atau masih akan kembali. Penulis membantah keyakinan tersebut dengan mengemukakan keberadaan makam Musa bin Ja'far yang telah dikenal masyarakat pada zamannya.

Selain menjelaskan keyakinan mereka, penulis juga menerangkan asal-usul julukan Al-Mamthurah, yang menurut riwayat berasal dari ungkapan celaan Zurarah bin A'yan. Penyebutan julukan semacam ini merupakan bagian dari tradisi penulisan karya-karya al-milal wa an-niḥal, yang sering merekam istilah-istilah yang berkembang dalam perdebatan mazhab.

Perlu dicatat bahwa uraian ini merupakan paparan sejarah menurut Thahir al-Isfarayini, sehingga pembaca yang ingin memperoleh gambaran menyeluruh sebaiknya juga membaca sumber-sumber primer dari mazhab yang dibahas agar memahami bagaimana mereka menjelaskan keyakinannya sendiri.

Hikmah

  • Perbedaan teologi dalam sejarah Islam melahirkan banyak cabang pemikiran yang terdokumentasi dalam kitab-kitab klasik.
  • Membaca literatur sejarah mazhab memerlukan pemahaman terhadap latar belakang penulis dan konteks zamannya.
  • Sikap ilmiah menuntut pembaca untuk membedakan antara laporan sejarah, kritik teologis, dan keyakinan resmi suatu mazhab.
  • Kajian lintas sumber dapat membantu memperoleh pemahaman yang lebih utuh dan objektif mengenai sejarah pemikiran Islam.
  • Perbedaan pandangan hendaknya menjadi sarana memperluas wawasan, bukan menumbuhkan permusuhan.

Penutup

Pembahasan mengenai Hisyamiyah dan Musawiyah dalam At-Tabṣīr fī ad-Dīn memperlihatkan bagaimana Thahir al-Isfarayini mengklasifikasikan cabang-cabang Syiah Imamiyah beserta keyakinan yang dinisbatkan kepada masing-masing kelompok. Sebagai karya teologi klasik Ahlus Sunnah, kitab ini merupakan sumber penting untuk memahami sejarah polemik antarmazhab pada masanya. Membacanya secara kritis dan disertai perbandingan dengan sumber lain akan memberikan pemahaman sejarah yang lebih komprehensif.

Teks Arab :

الهشامية

الهشامية مِنْهُم وهم فريقان أَصْحَاب ابْن الحكم الرافضي وَأَصْحَاب هِشَام بن سَالم الجواليقي وَالْفَرِيقَانِ جَمِيعًا يدينون بالتشبيه والتجسيم وَإِثْبَات الْحَد وَالنِّهَايَة

يخرج وَنحن نشك فِي مَوته وَهَذَا القَوْل مِنْهُم يُوجب عَلَيْهِم أَن يشكوا فِي إِمَامَته كَمَا شكوا فِي حَيَاته على أَن هَذَا القَوْل هوس مِنْهُم لِأَن مشْهد مُوسَى بن جَعْفَر مَشْهُور بِبَغْدَاد فِي الْجَانِب الغربي يزار ويتبرك بِهِ ولهؤلاء الموسوية لقب آخر وَهُوَ أَنهم يدعونَ الممطورة لِأَن زُرَارَة بن أعين قَالَ لَهُم يَوْمًا أَنْتُم أَهْون فِي عَيْني من الْكلاب الممطورة أَرَادَ الْكلاب الَّتِي ابتلت بالمطر وَالنَّاس يطردونهم ويتحرزون مِنْهُم

Wallahu A’lam...

Artikel Terkait:

Al-Qath'iyyah dan Syiah Itsna 'Asyariyah: Asal-Usul Keyakinan Dua Belas Imam Menurut Kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn

Aliran Mubarakiyah: Sejarah, Keyakinan tentang ImamahMuhammad bin Ismail, dan Kedudukannya dalam Literatur Klasik Islam

Aliran Mubarakiyah: Keyakinan tentang Imamah Muhammad bin Ismail dalam Kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn

Posting Komentar

0 Komentar