Pendahuluan
Persahabatan merupakan salah satu
nikmat terbesar apabila dibangun di atas iman, akhlak, dan saling memberi
manfaat. Sebaliknya, persahabatan yang buruk dapat menjadi sumber kerugian yang
mengganggu kehidupan dunia sekaligus mengancam keselamatan akhirat. Oleh karena
itu, Imam Al-Ghazali menutup pembahasan tentang adab memilih sahabat dengan
perumpamaan yang sangat indah mengenai pepohonan dan hewan, lalu diakhiri
dengan nasihat para salaf tentang keutamaan menyendiri apabila tidak menemukan
teman yang saleh.
Melalui penjelasan ini, Imam
Al-Ghazali mengajarkan bahwa kualitas persahabatan jauh lebih penting daripada
jumlah teman. Persahabatan yang baik akan memperkuat keimanan, sedangkan
persahabatan yang buruk dapat menghabiskan waktu, merusak akhlak, dan
menjauhkan seseorang dari Allah.
Sumber
Kitab : Ihya' 'Ulumuddin (إحياء
علوم الدين) Juz : 2
Pengarang : Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali (450–505 H)
Tema : Tingkatan manfaat sahabat dan keutamaan menyendiri daripada
berteman dengan orang yang buruk.
Teks Arab
ومنها ما له ثمر وليس له ظل ، وهو
مثل الذي يصلح للآخرة دون الدنيا ومنها ، ما له ثمر وظل جميعا ومنها ما ليس له
واحد منهما كأم غيلان تمزق الثياب ولا طعم فيهما ولا شراب ومثله من الحيوانات
الفأرة والعقرب كما قال تعالى : يدعو لمن ضره أقرب من نفعه لبئس المولى ولبئس
العشير وقال الشاعر .
الناس شتى إذا ما أنت
ذقتهم لا يستوون كما لا يستوي الشجر
هذا له ثمر حلو مذاقته
وذاك ليس له طعم ولا ثمر
فإذا لم يجد رفيقا يؤاخيه ويستفيد
به أحد هذه المقاصد فالوحدة أولى به .
قال أبو ذر رضي الله عنه الوحدة
خير من الجليس السوء ، والجليس الصالح خير
من الوحدة ويروى مرفوعا .
Terjemahan Lengkap
Di antara pepohonan ada yang
memiliki buah tetapi tidak memiliki naungan.
Itulah perumpamaan orang yang
bermanfaat bagi urusan akhirat, tetapi tidak banyak memberi manfaat dalam
urusan dunia.
Ada pula pohon yang memiliki buah
sekaligus naungan.
Itulah perumpamaan orang yang
memberikan manfaat bagi dunia dan akhirat sekaligus.
Ada juga pohon yang tidak memiliki
buah maupun naungan, seperti pohon Ummu Ghailan, yang hanya merobek
pakaian karena durinya, tidak memiliki buah untuk dimakan dan tidak pula
memberi minuman.
Demikian pula di antara binatang ada
yang seperti tikus dan kalajengking.
Allah Ta'ala berfirman:
"Sungguh, yang mudaratnya lebih
dekat daripada manfaatnya. Itulah seburuk-buruk pelindung dan seburuk-buruk
teman."
Seorang penyair berkata:
"Manusia itu bermacam-macam
apabila engkau telah mengenal mereka. Mereka tidak sama sebagaimana pepohonan
tidak sama. Ada pohon yang buahnya manis rasanya, dan ada pula yang tidak
memiliki rasa maupun buah."
Apabila seseorang tidak menemukan sahabat
yang dapat dijadikan saudara dan darinya ia memperoleh salah satu tujuan
persahabatan yang telah disebutkan, maka menyendiri lebih baik baginya.
Abu Dzar radhiyallahu 'anhu berkata:
"Menyendiri lebih baik daripada
teman yang buruk, sedangkan teman yang saleh lebih baik daripada
menyendiri."
Hadis ini juga diriwayatkan secara
marfu'.
Penjelasan
Imam Al-Ghazali mengakhiri
pembahasannya dengan memberikan ukuran yang sangat jelas dalam memilih teman.
Bukan semua orang harus dijadikan
sahabat.
Bukan pula setiap hubungan harus
dipertahankan apabila justru membawa mudarat.
Yang menjadi ukuran adalah manfaat
yang diberikan terhadap agama, akhlak, dan kehidupan.
Apabila manfaat itu tidak ada,
bahkan yang muncul justru kerusakan, maka menjaga jarak merupakan pilihan yang
lebih bijaksana.
Artikel Pengembangan
1.
Pohon yang Berbuah tetapi Tidak Memberi Naungan
Perumpamaan ini menggambarkan orang
yang memberikan manfaat besar dalam urusan agama.
Ia memiliki ilmu.
Memberikan nasihat.
Mengajarkan kebaikan.
Namun mungkin tidak memiliki
kemampuan membantu dalam urusan dunia.
Persahabatan seperti ini tetap
sangat berharga karena manfaat akhirat merupakan tujuan utama seorang muslim.
2.
Pohon yang Memiliki Buah dan Naungan
Inilah gambaran sahabat yang paling
ideal.
Ia memberi manfaat dalam dua sisi
sekaligus.
Dalam urusan dunia ia:
- amanah,
- suka membantu,
- dapat dipercaya,
- memiliki akhlak yang baik.
Dalam urusan akhirat ia:
- mengingatkan kepada Allah,
- mencintai ilmu,
- mengajak kepada amal saleh,
- menjadi teladan dalam ibadah.
Sahabat seperti ini merupakan nikmat
yang patut disyukuri dan dijaga.
3.
Pohon yang Tidak Memberikan Manfaat
Imam Al-Ghazali memberikan contoh
pohon berduri yang tidak memiliki buah maupun naungan.
Bahkan keberadaannya hanya
menyusahkan orang lain.
Perumpamaan ini ditujukan kepada
orang yang:
- tidak membawa manfaat,
- tidak memperbaiki agama,
- tidak membantu urusan dunia,
- bahkan sering menyakiti dan merugikan orang lain.
Hubungan dengan orang seperti ini
hanya menghabiskan tenaga dan waktu tanpa menghasilkan kebaikan.
4.
Tikus dan Kalajengking sebagai Perumpamaan
Beliau juga mengibaratkan sebagian
manusia seperti tikus dan kalajengking.
Bukan karena bentuk fisiknya, tetapi
karena dampaknya.
Tikus merusak.
Kalajengking menyakiti.
Begitu pula ada orang yang
kehadirannya justru membawa:
- fitnah,
- permusuhan,
- pengkhianatan,
- kerusakan,
- keresahan.
Perumpamaan ini mengingatkan agar
seseorang tidak meremehkan pengaruh buruk lingkungan.
5.
Lebih Baik Sendiri daripada Berteman Buruk
Nasihat Abu Dzar merupakan salah
satu kaidah penting dalam Islam.
"Menyendiri lebih baik daripada
teman yang buruk."
Maksudnya bukan mengajak seseorang
memutus hubungan sosial.
Yang dimaksud ialah apabila pilihan
yang ada hanyalah lingkungan yang membawa kepada maksiat, keburukan akhlak,
atau kerusakan agama, maka menjaga diri dengan mengurangi kedekatan lebih baik
daripada ikut terpengaruh.
Namun Abu Dzar segera melengkapinya:
"Teman yang saleh lebih baik
daripada menyendiri."
Artinya, keadaan yang paling utama
tetaplah memiliki sahabat yang bertakwa dan saling menolong dalam kebaikan.
6.
Menjadi Pohon yang Bermanfaat
Perumpamaan pohon tidak hanya
mengajarkan cara memilih sahabat.
Lebih dari itu, ia menjadi ajakan
untuk memperbaiki diri.
Seorang muslim hendaknya berusaha
menjadi pribadi yang:
- memberi manfaat,
- menghadirkan keteduhan,
- menghasilkan kebaikan,
- menyenangkan orang lain dengan akhlaknya,
- meninggalkan jejak amal yang terus dirasakan
manfaatnya.
Rasulullah ﷺ
mengajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi
manusia lainnya. Semangat inilah yang sejalan dengan pesan Imam Al-Ghazali
dalam pembahasan ini.
Penjelasan
Keseluruhan pembahasan Imam
Al-Ghazali menunjukkan bahwa persahabatan dalam Islam dibangun di atas manfaat
yang diridai Allah. Hubungan yang memperkuat iman dan akhlak harus dipelihara.
Hubungan yang netral disikapi secara proporsional. Adapun hubungan yang jelas
membawa kerusakan patut dibatasi demi menjaga agama dan diri.
Dengan demikian, sikap menyendiri
pada kondisi tertentu bukanlah tujuan hidup, melainkan langkah menjaga diri
hingga Allah mempertemukan seseorang dengan lingkungan yang lebih baik.
Contoh
Seorang pemuda baru pindah ke kota
lain untuk bekerja. Di lingkungan barunya, sebagian rekan sering mengajak
berjudi dan menghabiskan malam dalam kegiatan yang melalaikan. Ia memilih tetap
bersikap sopan kepada mereka, tetapi tidak ikut dalam kebiasaan tersebut. Untuk
sementara, ia lebih banyak mengisi waktu dengan membaca, mengikuti kajian di
masjid, dan bergabung dengan komunitas yang aktif dalam kegiatan sosial.
Beberapa bulan kemudian, ia bertemu
teman-teman yang rajin beribadah, gemar menuntut ilmu, dan saling membantu
dalam pekerjaan. Kehadiran mereka membuat kehidupannya lebih tenang dan
semangat beribadah semakin meningkat. Pengalaman ini menunjukkan bahwa
terkadang menjaga diri dari lingkungan yang buruk merupakan langkah awal menuju
persahabatan yang lebih baik.
Kesimpulan
Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa
manusia memiliki tingkat manfaat yang berbeda-beda, sebagaimana pepohonan
memiliki buah dan naungan yang tidak sama. Sahabat terbaik adalah orang yang
memberi manfaat bagi dunia dan akhirat. Apabila belum menemukan sahabat seperti
itu, menjaga diri dari pergaulan yang buruk lebih baik daripada mempertahankan
hubungan yang merusak agama dan akhlak.
Hikmah
- Pilihlah sahabat yang membawa manfaat bagi dunia dan
akhirat.
- Persahabatan terbaik adalah yang memperkuat iman,
akhlak, dan kehidupan.
- Hindari hubungan yang hanya membawa mudarat dan
kerusakan.
- Menyendiri dalam keadaan tertentu lebih baik daripada
mengikuti lingkungan yang buruk.
- Tetaplah bersikap baik kepada semua orang tanpa harus
menjadikan semuanya sahabat dekat.
- Jadilah pribadi yang memberi manfaat seperti pohon yang
berbuah dan menaungi.
- Persahabatan yang saleh merupakan salah satu nikmat
terbesar dalam kehidupan.
Penutup
Dengan perumpamaan pohon, hewan, dan
nasihat para salaf, Imam Al-Ghazali menutup pembahasan tentang memilih sahabat
dengan pesan yang sangat mendalam. Seorang muslim hendaknya tidak mengejar
banyaknya teman, tetapi mencari persahabatan yang menghadirkan manfaat,
ketenangan, dan jalan menuju keridaan Allah. Jika belum menemukannya, menjaga
diri dari pengaruh yang buruk merupakan pilihan yang lebih selamat. Namun
ketika Allah menganugerahkan sahabat yang saleh, amanah, dan berakhlak mulia,
itulah salah satu karunia terbesar yang patut dijaga, disyukuri, dan dipelihara
hingga akhir hayat.
Wallahu A’lam...
Artikel Terkait :

0 Komentar