Lebih Baik Sendiri daripada Berteman Buruk: Nasihat Imam Al-Ghazali tentang Memilih Sahabat (02/05/60)

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa sahabat terbaik membawa manfaat dunia dan akhirat. Jika tidak menemukannya, menyendiri lebih baik daripada berteman buruk

Pendahuluan

Persahabatan merupakan salah satu nikmat terbesar apabila dibangun di atas iman, akhlak, dan saling memberi manfaat. Sebaliknya, persahabatan yang buruk dapat menjadi sumber kerugian yang mengganggu kehidupan dunia sekaligus mengancam keselamatan akhirat. Oleh karena itu, Imam Al-Ghazali menutup pembahasan tentang adab memilih sahabat dengan perumpamaan yang sangat indah mengenai pepohonan dan hewan, lalu diakhiri dengan nasihat para salaf tentang keutamaan menyendiri apabila tidak menemukan teman yang saleh.

Melalui penjelasan ini, Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa kualitas persahabatan jauh lebih penting daripada jumlah teman. Persahabatan yang baik akan memperkuat keimanan, sedangkan persahabatan yang buruk dapat menghabiskan waktu, merusak akhlak, dan menjauhkan seseorang dari Allah.

Sumber

Kitab : Ihya' 'Ulumuddin (إحياء علوم الدين) Juz : 2

Pengarang : Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali (450–505 H)

Tema : Tingkatan manfaat sahabat dan keutamaan menyendiri daripada berteman dengan orang yang buruk.

Teks Arab

ومنها ما له ثمر وليس له ظل ، وهو مثل الذي يصلح للآخرة دون الدنيا ومنها ، ما له ثمر وظل جميعا ومنها ما ليس له واحد منهما كأم غيلان تمزق الثياب ولا طعم فيهما ولا شراب ومثله من الحيوانات الفأرة والعقرب كما قال تعالى : يدعو لمن ضره أقرب من نفعه لبئس المولى ولبئس العشير وقال الشاعر .

الناس شتى إذا ما أنت ذقتهم لا يستوون كما لا يستوي الشجر     هذا له ثمر حلو مذاقته

وذاك ليس له طعم ولا ثمر

فإذا لم يجد رفيقا يؤاخيه ويستفيد به أحد هذه المقاصد فالوحدة أولى به .

قال أبو ذر رضي الله عنه الوحدة خير من الجليس السوء ،  والجليس الصالح خير من الوحدة  ويروى مرفوعا .

Terjemahan Lengkap

Di antara pepohonan ada yang memiliki buah tetapi tidak memiliki naungan.

Itulah perumpamaan orang yang bermanfaat bagi urusan akhirat, tetapi tidak banyak memberi manfaat dalam urusan dunia.

Ada pula pohon yang memiliki buah sekaligus naungan.

Itulah perumpamaan orang yang memberikan manfaat bagi dunia dan akhirat sekaligus.

Ada juga pohon yang tidak memiliki buah maupun naungan, seperti pohon Ummu Ghailan, yang hanya merobek pakaian karena durinya, tidak memiliki buah untuk dimakan dan tidak pula memberi minuman.

Demikian pula di antara binatang ada yang seperti tikus dan kalajengking.

Allah Ta'ala berfirman:

"Sungguh, yang mudaratnya lebih dekat daripada manfaatnya. Itulah seburuk-buruk pelindung dan seburuk-buruk teman."

Seorang penyair berkata:

"Manusia itu bermacam-macam apabila engkau telah mengenal mereka. Mereka tidak sama sebagaimana pepohonan tidak sama. Ada pohon yang buahnya manis rasanya, dan ada pula yang tidak memiliki rasa maupun buah."

Apabila seseorang tidak menemukan sahabat yang dapat dijadikan saudara dan darinya ia memperoleh salah satu tujuan persahabatan yang telah disebutkan, maka menyendiri lebih baik baginya.

Abu Dzar radhiyallahu 'anhu berkata:

"Menyendiri lebih baik daripada teman yang buruk, sedangkan teman yang saleh lebih baik daripada menyendiri."

Hadis ini juga diriwayatkan secara marfu'.

Penjelasan

Imam Al-Ghazali mengakhiri pembahasannya dengan memberikan ukuran yang sangat jelas dalam memilih teman.

Bukan semua orang harus dijadikan sahabat.

Bukan pula setiap hubungan harus dipertahankan apabila justru membawa mudarat.

Yang menjadi ukuran adalah manfaat yang diberikan terhadap agama, akhlak, dan kehidupan.

Apabila manfaat itu tidak ada, bahkan yang muncul justru kerusakan, maka menjaga jarak merupakan pilihan yang lebih bijaksana.

Artikel Pengembangan

1. Pohon yang Berbuah tetapi Tidak Memberi Naungan

Perumpamaan ini menggambarkan orang yang memberikan manfaat besar dalam urusan agama.

Ia memiliki ilmu.

Memberikan nasihat.

Mengajarkan kebaikan.

Namun mungkin tidak memiliki kemampuan membantu dalam urusan dunia.

Persahabatan seperti ini tetap sangat berharga karena manfaat akhirat merupakan tujuan utama seorang muslim.

2. Pohon yang Memiliki Buah dan Naungan

Inilah gambaran sahabat yang paling ideal.

Ia memberi manfaat dalam dua sisi sekaligus.

Dalam urusan dunia ia:

  • amanah,
  • suka membantu,
  • dapat dipercaya,
  • memiliki akhlak yang baik.

Dalam urusan akhirat ia:

  • mengingatkan kepada Allah,
  • mencintai ilmu,
  • mengajak kepada amal saleh,
  • menjadi teladan dalam ibadah.

Sahabat seperti ini merupakan nikmat yang patut disyukuri dan dijaga.

3. Pohon yang Tidak Memberikan Manfaat

Imam Al-Ghazali memberikan contoh pohon berduri yang tidak memiliki buah maupun naungan.

Bahkan keberadaannya hanya menyusahkan orang lain.

Perumpamaan ini ditujukan kepada orang yang:

  • tidak membawa manfaat,
  • tidak memperbaiki agama,
  • tidak membantu urusan dunia,
  • bahkan sering menyakiti dan merugikan orang lain.

Hubungan dengan orang seperti ini hanya menghabiskan tenaga dan waktu tanpa menghasilkan kebaikan.

4. Tikus dan Kalajengking sebagai Perumpamaan

Beliau juga mengibaratkan sebagian manusia seperti tikus dan kalajengking.

Bukan karena bentuk fisiknya, tetapi karena dampaknya.

Tikus merusak.

Kalajengking menyakiti.

Begitu pula ada orang yang kehadirannya justru membawa:

  • fitnah,
  • permusuhan,
  • pengkhianatan,
  • kerusakan,
  • keresahan.

Perumpamaan ini mengingatkan agar seseorang tidak meremehkan pengaruh buruk lingkungan.

5. Lebih Baik Sendiri daripada Berteman Buruk

Nasihat Abu Dzar merupakan salah satu kaidah penting dalam Islam.

"Menyendiri lebih baik daripada teman yang buruk."

Maksudnya bukan mengajak seseorang memutus hubungan sosial.

Yang dimaksud ialah apabila pilihan yang ada hanyalah lingkungan yang membawa kepada maksiat, keburukan akhlak, atau kerusakan agama, maka menjaga diri dengan mengurangi kedekatan lebih baik daripada ikut terpengaruh.

Namun Abu Dzar segera melengkapinya:

"Teman yang saleh lebih baik daripada menyendiri."

Artinya, keadaan yang paling utama tetaplah memiliki sahabat yang bertakwa dan saling menolong dalam kebaikan.

6. Menjadi Pohon yang Bermanfaat

Perumpamaan pohon tidak hanya mengajarkan cara memilih sahabat.

Lebih dari itu, ia menjadi ajakan untuk memperbaiki diri.

Seorang muslim hendaknya berusaha menjadi pribadi yang:

  • memberi manfaat,
  • menghadirkan keteduhan,
  • menghasilkan kebaikan,
  • menyenangkan orang lain dengan akhlaknya,
  • meninggalkan jejak amal yang terus dirasakan manfaatnya.

Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Semangat inilah yang sejalan dengan pesan Imam Al-Ghazali dalam pembahasan ini.

Penjelasan

Keseluruhan pembahasan Imam Al-Ghazali menunjukkan bahwa persahabatan dalam Islam dibangun di atas manfaat yang diridai Allah. Hubungan yang memperkuat iman dan akhlak harus dipelihara. Hubungan yang netral disikapi secara proporsional. Adapun hubungan yang jelas membawa kerusakan patut dibatasi demi menjaga agama dan diri.

Dengan demikian, sikap menyendiri pada kondisi tertentu bukanlah tujuan hidup, melainkan langkah menjaga diri hingga Allah mempertemukan seseorang dengan lingkungan yang lebih baik.

Contoh

Seorang pemuda baru pindah ke kota lain untuk bekerja. Di lingkungan barunya, sebagian rekan sering mengajak berjudi dan menghabiskan malam dalam kegiatan yang melalaikan. Ia memilih tetap bersikap sopan kepada mereka, tetapi tidak ikut dalam kebiasaan tersebut. Untuk sementara, ia lebih banyak mengisi waktu dengan membaca, mengikuti kajian di masjid, dan bergabung dengan komunitas yang aktif dalam kegiatan sosial.

Beberapa bulan kemudian, ia bertemu teman-teman yang rajin beribadah, gemar menuntut ilmu, dan saling membantu dalam pekerjaan. Kehadiran mereka membuat kehidupannya lebih tenang dan semangat beribadah semakin meningkat. Pengalaman ini menunjukkan bahwa terkadang menjaga diri dari lingkungan yang buruk merupakan langkah awal menuju persahabatan yang lebih baik.

Kesimpulan

Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa manusia memiliki tingkat manfaat yang berbeda-beda, sebagaimana pepohonan memiliki buah dan naungan yang tidak sama. Sahabat terbaik adalah orang yang memberi manfaat bagi dunia dan akhirat. Apabila belum menemukan sahabat seperti itu, menjaga diri dari pergaulan yang buruk lebih baik daripada mempertahankan hubungan yang merusak agama dan akhlak.

Hikmah

  • Pilihlah sahabat yang membawa manfaat bagi dunia dan akhirat.
  • Persahabatan terbaik adalah yang memperkuat iman, akhlak, dan kehidupan.
  • Hindari hubungan yang hanya membawa mudarat dan kerusakan.
  • Menyendiri dalam keadaan tertentu lebih baik daripada mengikuti lingkungan yang buruk.
  • Tetaplah bersikap baik kepada semua orang tanpa harus menjadikan semuanya sahabat dekat.
  • Jadilah pribadi yang memberi manfaat seperti pohon yang berbuah dan menaungi.
  • Persahabatan yang saleh merupakan salah satu nikmat terbesar dalam kehidupan.

Penutup

Dengan perumpamaan pohon, hewan, dan nasihat para salaf, Imam Al-Ghazali menutup pembahasan tentang memilih sahabat dengan pesan yang sangat mendalam. Seorang muslim hendaknya tidak mengejar banyaknya teman, tetapi mencari persahabatan yang menghadirkan manfaat, ketenangan, dan jalan menuju keridaan Allah. Jika belum menemukannya, menjaga diri dari pengaruh yang buruk merupakan pilihan yang lebih selamat. Namun ketika Allah menganugerahkan sahabat yang saleh, amanah, dan berakhlak mulia, itulah salah satu karunia terbesar yang patut dijaga, disyukuri, dan dipelihara hingga akhir hayat.

Wallahu A’lam...

Artikel Terkait :

Tiga Jenis Sahabat Menurut Al-Ma'mun: Teman Seperti Makanan, Obat, dan Penyakit dalam Pandangan Imam Al-Ghazali (02/05/59)

Tujuan Persahabatan Menurut Imam Al-Ghazali: Memilih Sahabat untuk Dunia, Akhirat, dan Kebersamaan (02/05/58)

Mengapa SahabatHarus Saleh? Nasihat Imam Al-Ghazali tentang Bahaya Berteman dengan Orang Fasik(02/05/61)

Posting Komentar

0 Komentar