Imam Al-Ghazali Membantah Filsuf: Benarkah Allah Hanya Mendahului Alam secara Zat, Bukan Waktu?

Terjemahan Tahafut al-Falasifah tentang bantahan Imam Al-Ghazali terhadap konsep bahwa Allah hanya mendahului alam secara zat, bukan waktu

Pendahuluan

Dalam pembahasan kedua mengenai keazalian alam, Imam Al-Ghazali mengkritik pandangan para filsuf tentang hubungan antara Allah dan alam semesta. Mereka berpendapat bahwa Allah tidak mendahului alam dalam arti waktu, melainkan hanya mendahuluinya secara zat atau kedudukan sebagai sebab terhadap akibat. Menurut mereka, apabila Allah mendahului alam secara waktu, berarti harus ada waktu sebelum alam diciptakan, dan hal itu dianggap mustahil.

Imam Al-Ghazali kemudian memberikan jawaban yang sangat mendasar. Beliau menjelaskan bahwa waktu sendiri merupakan makhluk ciptaan Allah. Karena itu, tidak benar apabila dikatakan harus ada waktu sebelum penciptaan alam.

Sumber Rujukan

Kitab: Tahafut al-Falasifah (تهافت الفلاسفة)

Bab: Masalah Pertama – Bantahan terhadap Pendapat tentang Keazalian Alam

Tema: Bantahan terhadap anggapan bahwa Allah hanya mendahului alam secara zat, bukan secara waktu.

Penulis

Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi (450–505 H / 1058–1111 M)

Terjemahan Lengkap

Dalil Kedua

Kami Berkata: Allah Tidak Hanya Mendahului Alam Secara Zat

Mereka berpendapat:

Orang yang mengatakan bahwa alam datang setelah Allah dan bahwa Allah mendahului alam, tidak lepas dari dua kemungkinan maksud.

Pertama, yang dimaksud ialah Allah mendahului alam secara zat, bukan secara waktu, sebagaimana angka satu mendahului angka dua. Angka satu secara hakikat merupakan dasar bagi angka dua, tetapi keduanya dapat hadir bersamaan dalam keberadaan.

Demikian pula seperti sebab mendahului akibat, misalnya gerakan seseorang dengan gerakan bayangannya, gerakan tangan dengan gerakan cincin yang dikenakan, atau gerakan tangan di dalam air dengan gerakan air. Semua itu terjadi pada waktu yang sama, namun salah satunya menjadi sebab, sedangkan yang lain menjadi akibat.

Karena itu dikatakan bahwa bayangan bergerak karena gerakan orang, dan air bergerak karena gerakan tangan, bukan sebaliknya.

Jika yang dimaksud dengan Allah mendahului alam hanyalah seperti hubungan sebab dengan akibat ini, maka konsekuensinya Allah dan alam sama-sama harus qadim atau sama-sama baru. Tidak mungkin salah satunya qadim sementara yang lain baru.

Atau Allah Mendahului Secara Waktu?

Jika yang dimaksud Allah mendahului alam bukan hanya secara zat, tetapi juga secara waktu, maka berarti sebelum adanya alam dan waktu telah ada waktu lain ketika alam belum ada.

Artinya, ketiadaan alam telah didahului oleh rentang waktu, sedangkan Allah telah ada selama masa yang sangat panjang, yang memiliki akhir tetapi tidak memiliki permulaan.

Konsekuensi ini berarti harus ada waktu sebelum waktu, dan itu merupakan kontradiksi.

Karena itulah, menurut mereka, mustahil mengatakan bahwa waktu mempunyai permulaan.

Apabila waktu harus bersifat qadim, sedangkan waktu hanyalah ukuran gerak, maka gerak juga harus qadim. Dan jika gerak qadim, maka benda yang bergerak pun harus qadim.

Keberatan (I'tirāḍ)

"Tidak ada waktu sebelum penciptaan."

Ucapan: "Allah telah ada ketika belum ada alam (كان الله ولا عالم)" hanya menunjukkan dua hal, yaitu: ...

Keberatan tersebut dijawab sebagai berikut.

Waktu adalah sesuatu yang baru dan merupakan ciptaan Allah. Sama sekali tidak ada waktu sebelum waktu diciptakan.

Yang kami maksud ketika mengatakan bahwa Allah mendahului alam dan waktu ialah bahwa dahulu hanya Allah yang ada, sedangkan alam belum ada. Kemudian Allah menciptakan alam sehingga alam ada bersama kehendak-Nya.

Makna ungkapan "Allah ada dan belum ada alam" hanyalah menunjukkan adanya Zat Allah dan belum adanya alam.

Sedangkan ungkapan "Allah ada bersama alam" hanya menunjukkan adanya dua wujud tersebut.

Maksud kami dengan kata mendahului hanyalah bahwa Allah semata-mata telah ada sendirian sebelum alam diciptakan.

Perumpamaannya seperti apabila dikatakan:

"Allah telah ada, sedangkan Isa belum ada. Kemudian Allah ada bersama Isa."

Ungkapan ini hanya menunjukkan adanya satu zat terlebih dahulu, kemudian adanya dua zat. Tidak ada keharusan untuk membayangkan adanya sesuatu yang ketiga di antara keduanya.

Kalaupun imajinasi seseorang terus memaksakan adanya unsur ketiga berupa waktu sebelum penciptaan, maka hal itu hanyalah kekeliruan angan-angan yang tidak mempunyai nilai dalam pembuktian rasional.

Artikel Pengembangan

Perbedaan "Mendahului Secara Zat" dan "Mendahului Secara Waktu"

Para filsuf Aristotelian memahami hubungan Allah dengan alam sebagaimana hubungan sebab dan akibat yang selalu berlangsung bersamaan. Sebab tidak mungkin ada tanpa akibat.

Karena itu mereka menolak bahwa Allah pernah ada sendirian sebelum alam.

Sebaliknya, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa Allah memang telah ada ketika alam belum diciptakan. Hal itu tidak mengharuskan adanya waktu sebelum alam, sebab waktu sendiri merupakan bagian dari ciptaan Allah.

Waktu Adalah Makhluk

Salah satu gagasan penting dalam pembahasan ini ialah bahwa waktu bukan sesuatu yang berdiri sendiri.

Menurut Imam Al-Ghazali, waktu berkaitan dengan gerak alam semesta. Ketika alam belum ada, waktu pun belum ada.

Karena itu pertanyaan seperti "Apa yang terjadi sebelum Allah menciptakan alam?" menjadi tidak tepat, sebab kata "sebelum" sendiri bergantung pada keberadaan waktu yang saat itu belum diciptakan.

Kritik terhadap Kekeliruan Imajinasi

Imam Al-Ghazali juga mengingatkan bahwa akal sering kali dipengaruhi oleh imajinasi.

Karena manusia selalu hidup dalam ruang dan waktu, maka ia cenderung membayangkan bahwa sebelum setiap peristiwa pasti ada waktu lain.

Padahal, menurut Al-Ghazali, tidak semua gambaran yang muncul dalam imajinasi merupakan bukti rasional.

Hikmah

  • Allah Ta'ala telah ada sebelum seluruh makhluk diciptakan.
  • Waktu bukan sifat Allah, melainkan salah satu ciptaan-Nya.
  • Tidak semua yang dapat dibayangkan oleh manusia merupakan kenyataan yang benar.
  • Akal harus dibimbing oleh dalil yang benar, bukan sekadar oleh imajinasi.
  • Imam Al-Ghazali menunjukkan pentingnya membedakan antara logika yang sahih dan ilusi pikiran.

Penutup

Melalui pembahasan ini, Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa kekeliruan utama para filsuf terletak pada anggapan bahwa waktu harus selalu ada. Beliau menjelaskan bahwa waktu merupakan makhluk ciptaan Allah, sehingga tidak ada kontradiksi ketika dikatakan bahwa Allah telah ada sendirian sebelum alam diciptakan. Dengan demikian, pendapat bahwa alam harus qadim hanya karena tidak boleh ada waktu sebelum penciptaan tidak memiliki dasar yang kuat menurut analisis rasional maupun akidah Islam.

Teks Arab :

الثاني

قولنا ليس الله متقدمًا بالذات فقط ...

زعموا أن القائل بأن العالم متأخر عن الله والله متقدم عليه ليس يخلو إما أن يريد به أنه متقدم بالذات لا بالزمان كتقدم الواحد على الاثنين، فإنه بالطبع، مع أنه يجوز أن يكون معه في الوجود الزماني، وكتقدم العلة على المعلول مثل تقدم حركة الشخص على حركة الظل التابع له وحركة اليد مع حركة الخاتم وحركة اليد في الماء مع حركة الماء، فإنها متساوية في الزمان وبعضها علة وبعضها معلول، إذ يقال: تحرك الظل لحركة الشخص وتحرك الماء لحركة اليد في الماء، ولا يقال تحرك الشخص لحركة الظل وتحرك اليد لحركة الماء، وإن كانت متساوية. فإن أريد بتقدم الباري على العالم هذا لزم أن يكونا حادثين أو قديمين واستحال أن يكون أحدهما قديمًا والآخر حادثًا.

ولا بالزمان

وإن أريد به أن الباري متقدم على العالم والزمان لا بالذات بل بالزمان، فإذن قبل وجود العالم والزمان زمان كان العالم فيه معدومًا، إذ كان العدم سابقًا على الوجود وكان الله سابقًا بمدة مديدة لها طرف من جهة الآخر ولا طرف لها من جهة الأول. فإذن قبل الزمان زمان لا نهاية له وهو متناقض، ولأجله يستحيل القول بحدوث الزمان. وإذا وجب قدم الزمان، وهو عبارة عن قدر الحركة، وجب قدم الحركة ووجب قدم المتحرك الذي يدوم الزمان بدوام حركته.

اعتراض

ليس قبل الخليقة زمان: القول بأن «كان الله ولا عالم» لا يدل إلا على أمرين ...

الاعتراض هو أن يقال: الزمان حادث ومخلوق وليس قبله زمان أصلًا، ونعني بقولنا إن الله متقدم على العالم والزمان إنه كان ولا عالم ثم كان ومعه عالم. ومفهوم قولنا: كان ولا عالم، وجود ذات الباري وعدم ذات العالم فقط، ومفهوم قولنا: كان ومعه عالم، وجود الذاتين فقط. فنعني بالتقدم انفراده بالوجود فقط، والعالم كشخص واحد. ولو قلنا: كان الله ولا عيسى مثلًا ثم كان وعيسى معه لم يتضمن اللفظ إلا وجود ذات وعدم ذات ثم وجود ذاتين، وليس من ضرورة ذلك تقدير شيء ثالث، وإن كان الوهم لا يسكن عن تقدير ثالث فلا التفات إلى أغاليط الأوهام.

Wallahu A’lam...

Artikel Terkait:

Imam Al-Ghazali Membantah Gerak Abadi Langit sebagaiSebab Segala Peristiwa dalam Tahafut al-Falasifah

Benarkah Peristiwa Baru Terjadi karena Kesiapan dan Waktuyang Tepat? Imam Al-Ghazali Membantah Filsuf

Bantahan Imam Al-Ghazali terhadap Filsuf: Benarkah Harus Ada Waktu Sebelum Alam Diciptakan?

Posting Komentar

0 Komentar