Pendahuluan
Dalam kehidupan, tidak semua sahabat
memiliki pengaruh yang sama. Ada teman yang selalu dibutuhkan karena membawa
manfaat besar, ada yang hanya diperlukan pada keadaan tertentu, dan ada pula
yang justru menjadi beban dalam kehidupan. Imam Al-Ghazali menutup pembahasan
mengenai pemilihan sahabat dengan mengutip perumpamaan yang sangat menarik dari
Al-Ma'mun tentang tiga macam sahabat.
Beliau juga menyampaikan sebuah
perumpamaan lain yang membandingkan manusia dengan pepohonan. Sebagaimana pohon
memiliki manfaat yang berbeda-beda, demikian pula manusia. Ada yang memberikan
manfaat dunia sekaligus akhirat, ada yang hanya memberikan manfaat dunia yang
sifatnya sementara, dan ada pula yang hampir tidak memberikan manfaat sama
sekali. Melalui perumpamaan ini, Imam Al-Ghazali mengajak setiap muslim untuk
bijaksana dalam membangun hubungan sosial.
Sumber
Kitab : Ihya' 'Ulumuddin (إحياء
علوم الدين) Juz : 2
Pengarang : Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali (450–505 H)
Tema : Perumpamaan tiga jenis sahabat dan tingkatan manfaat
manusia dalam persahabatan.
Teks Arab
وقد قال المأمون الإخوان ثلاثة
: أحدهم مثله مثل الغذاء لا يستغنى عنه ،
والآخر مثله مثل الدواء يحتاج إليه في وقت دون وقت ، والثالث مثله مثل الداء لا
يحتاج إليه قط ، ولكن العبد قد يبتلى به وهو الذي لا أنس فيه ولا نفع .
وقد قيل : مثل جملة الناس كمثل
الشجر والنبات فمنها ، ما له ظل وليس له ثمر ، وهو مثل الذي ينتفع به في الدنيا
دون الآخرة فإن نفع الدنيا كالظل السريع الزوال .
Terjemahan Lengkap
Al-Ma'mun berkata:
"Sahabat itu ada tiga macam.
Yang pertama seperti makanan;
seseorang tidak dapat hidup tanpanya.
Yang kedua seperti obat; ia
dibutuhkan hanya pada waktu-waktu tertentu.
Yang ketiga seperti penyakit;
sebenarnya tidak pernah dibutuhkan sama sekali, tetapi seorang hamba terkadang
diuji dengannya. Dialah orang yang tidak menghadirkan keakraban maupun
manfaat."
Dikatakan pula:
"Perumpamaan seluruh manusia
seperti pohon-pohon dan tumbuh-tumbuhan.
Di antaranya ada pohon yang memiliki
naungan tetapi tidak memiliki buah.
Itulah perumpamaan orang yang
manfaatnya hanya untuk urusan dunia, bukan untuk akhirat. Sebab manfaat dunia
itu seperti bayangan yang cepat hilang."
Penjelasan
Imam Al-Ghazali menggunakan dua
perumpamaan yang sangat sederhana namun sarat makna.
Pertama, beliau membagi sahabat
berdasarkan tingkat manfaatnya.
Kedua, beliau membandingkan manusia
dengan pohon yang memiliki manfaat berbeda-beda.
Kedua perumpamaan tersebut
mengajarkan bahwa seorang muslim hendaknya menilai persahabatan berdasarkan
manfaat yang dibawanya, terutama manfaat yang mengantarkan kepada keridaan
Allah.
Artikel Pengembangan
1.
Sahabat Seperti Makanan
Al-Ma'mun mengatakan:
"Ia seperti makanan."
Makanan merupakan kebutuhan pokok
manusia.
Tanpa makanan, kehidupan tidak dapat
berlangsung.
Begitu pula sahabat jenis ini.
Ia selalu dibutuhkan karena:
- menguatkan iman,
- memberikan nasihat,
- menjaga amanah,
- membantu ketika kesulitan,
- mengingatkan kepada Allah,
- menghadirkan ketenangan hati.
Sahabat seperti inilah yang sangat
berharga dan patut dijaga.
2.
Sahabat Seperti Obat
Obat tidak diminum setiap hari
apabila seseorang dalam keadaan sehat.
Namun ketika sakit, obat menjadi
sangat penting.
Demikian pula sebagian sahabat.
Mereka memiliki keahlian atau
kemampuan tertentu sehingga dibutuhkan pada waktu-waktu tertentu.
Misalnya:
- guru dalam bidang tertentu,
- penasihat hukum,
- dokter,
- rekan kerja profesional,
- ahli dalam suatu keahlian.
Hubungan seperti ini tetap bernilai
baik meskipun tidak selalu intens.
3.
Sahabat Seperti Penyakit
Perumpamaan ini menggambarkan orang
yang tidak membawa manfaat bahkan menjadi sumber kesulitan.
Ia tidak menghadirkan:
- ketenangan,
- nasihat,
- bantuan,
- ilmu,
- maupun akhlak yang baik.
Sebaliknya, kehadirannya justru
sering menimbulkan konflik, keresahan, atau kerugian.
Al-Ma'mun mengatakan bahwa orang
seperti ini bukan dicari, tetapi terkadang menjadi ujian dalam kehidupan.
4.
Manusia Seperti Pohon
Imam Al-Ghazali kemudian mengutip
perumpamaan lain.
Setiap pohon memiliki manfaat yang
berbeda.
Ada yang:
- berbuah,
- memberi keteduhan,
- menghasilkan kayu,
- bahkan ada yang hampir tidak memberi manfaat.
Begitu pula manusia.
Sebagian memberikan manfaat besar
bagi agama dan kehidupan.
Sebagian hanya membantu urusan
dunia.
Sebagian lagi hampir tidak
memberikan manfaat kepada siapa pun.
Perumpamaan ini mengajak seseorang
untuk terus meningkatkan kualitas dirinya agar menjadi pribadi yang membawa
manfaat seluas mungkin.
5.
Manfaat Dunia Ibarat Bayangan
Nasihat tersebut menyebutkan bahwa
manfaat dunia diibaratkan seperti bayangan.
Bayangan memang memberi kesejukan.
Namun sifatnya sementara.
Ketika matahari bergerak, bayangan
pun berpindah dan akhirnya hilang.
Begitu pula keuntungan dunia.
Harta, jabatan, dan popularitas akan
berlalu.
Sedangkan manfaat yang berkaitan
dengan ilmu, amal saleh, dan ketakwaan akan terus memberikan kebaikan hingga
akhirat.
Karena itu, seorang muslim hendaknya
tidak hanya mencari teman yang bermanfaat bagi dunia, tetapi juga yang menolong
perjalanan menuju kehidupan setelah kematian.
6.
Jadilah Pohon yang Berbuah
Perumpamaan pohon tidak hanya
mengajarkan cara memilih sahabat.
Lebih dari itu, ia menjadi ajakan
untuk memperbaiki diri.
Seorang muslim hendaknya berusaha
menjadi seperti pohon yang:
- memberi keteduhan,
- menghasilkan buah,
- bermanfaat bagi banyak orang,
- tidak menyakiti siapa pun,
- terus memberi manfaat meskipun tidak diminta.
Semakin banyak manfaat yang
diberikan, semakin tinggi nilai seseorang di sisi Allah.
Penjelasan
Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa
kualitas manusia tidak diukur dari kedudukan atau kekayaannya, melainkan dari
manfaat yang ia berikan kepada orang lain. Demikian pula dalam memilih sahabat,
ukuran utamanya bukan sekadar kesenangan sesaat, tetapi sejauh mana persahabatan
tersebut membawa kebaikan bagi agama, akhlak, dan kehidupan.
Persahabatan yang hanya berorientasi
pada keuntungan dunia boleh jadi memberikan manfaat sementara, tetapi
persahabatan yang dibangun atas dasar iman dan ketakwaan akan terus memberikan
manfaat hingga akhirat.
Contoh
Seorang mahasiswa memiliki beberapa
teman. Salah seorang selalu mengajaknya menghadiri kajian, berdiskusi tentang
ilmu, dan saling mengingatkan ketika lalai. Teman seperti ini menjadi sumber
semangat setiap hari, layaknya makanan yang dibutuhkan terus-menerus.
Ia juga mengenal seorang dosen yang
hanya ditemuinya ketika membutuhkan bimbingan penelitian. Kehadiran dosen
tersebut sangat berharga pada waktu tertentu, seperti obat yang digunakan
sesuai kebutuhan.
Sebaliknya, ada seorang teman yang
sering mengajak membuang waktu, memprovokasi pertengkaran, dan menjerumuskannya
kepada kebiasaan buruk. Setelah menyadari dampaknya, ia membatasi kedekatan
dengan orang tersebut sambil tetap menjaga adab dan tidak berbuat zalim.
Contoh ini menunjukkan bahwa setiap
hubungan memiliki tingkat manfaat yang berbeda sehingga perlu disikapi secara
bijaksana.
Kesimpulan
Imam Al-Ghazali melalui perkataan
Al-Ma'mun mengajarkan bahwa sahabat memiliki tingkatan manfaat yang berbeda.
Ada yang sangat dibutuhkan seperti makanan, ada yang diperlukan pada saat
tertentu seperti obat, dan ada pula yang justru menjadi ujian seperti penyakit.
Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya memilih lingkungan yang
mendekatkannya kepada kebaikan sekaligus berusaha menjadi pribadi yang
bermanfaat bagi sesama.
Hikmah
- Tidak semua sahabat memiliki tingkat manfaat yang sama.
- Sahabat terbaik adalah yang terus menguatkan iman dan
akhlak.
- Sebagian hubungan hanya diperlukan sesuai kebutuhan
yang baik.
- Hindari kedekatan yang membawa kerugian dan melalaikan
dari ketaatan.
- Manfaat dunia bersifat sementara, sedangkan manfaat
akhirat bersifat abadi.
- Jadilah pribadi yang memberikan manfaat seperti pohon
yang berbuah dan menaungi orang lain.
- Nilai seseorang di sisi Allah tampak dari manfaat yang
ia berikan kepada sesama.
Penutup
Perumpamaan yang dikutip Imam
Al-Ghazali memberikan pelajaran yang mendalam tentang seni membangun
persahabatan. Seorang muslim hendaknya mampu mengenali jenis-jenis hubungan
yang dijalaninya, menghargai setiap orang sesuai kadar manfaatnya, dan tidak
menaruh harapan yang berlebihan kepada manusia. Yang lebih penting lagi, setiap
orang perlu berusaha menjadi sahabat yang menghadirkan ketenangan, ilmu, dan
kebaikan bagi orang lain. Dengan demikian, persahabatan tidak hanya menjadi
penopang kehidupan di dunia, tetapi juga menjadi amal saleh yang terus berbuah
hingga kehidupan akhirat.
Wallahu A’lam...
Artikel Terkait :
Nasihat ImamAl-Ghazali tentang Memilih Sahabat: Berteman untuk Dunia atau Akhirat?(02/05/57)

0 Komentar