Tiga Jenis Sahabat Menurut Al-Ma'mun: Teman Seperti Makanan, Obat, dan Penyakit dalam Pandangan Imam Al-Ghazali (02/05/59)

Imam Al-Ghazali mengutip Al-Ma'mun tentang tiga jenis sahabat: seperti makanan, obat, dan penyakit. Pelajari makna serta hikmahnya

Pendahuluan

Dalam kehidupan, tidak semua sahabat memiliki pengaruh yang sama. Ada teman yang selalu dibutuhkan karena membawa manfaat besar, ada yang hanya diperlukan pada keadaan tertentu, dan ada pula yang justru menjadi beban dalam kehidupan. Imam Al-Ghazali menutup pembahasan mengenai pemilihan sahabat dengan mengutip perumpamaan yang sangat menarik dari Al-Ma'mun tentang tiga macam sahabat.

Beliau juga menyampaikan sebuah perumpamaan lain yang membandingkan manusia dengan pepohonan. Sebagaimana pohon memiliki manfaat yang berbeda-beda, demikian pula manusia. Ada yang memberikan manfaat dunia sekaligus akhirat, ada yang hanya memberikan manfaat dunia yang sifatnya sementara, dan ada pula yang hampir tidak memberikan manfaat sama sekali. Melalui perumpamaan ini, Imam Al-Ghazali mengajak setiap muslim untuk bijaksana dalam membangun hubungan sosial.

Sumber

Kitab : Ihya' 'Ulumuddin (إحياء علوم الدين) Juz : 2

Pengarang : Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali (450–505 H)

Tema : Perumpamaan tiga jenis sahabat dan tingkatan manfaat manusia dalam persahabatan.

Teks Arab

وقد قال المأمون الإخوان ثلاثة :  أحدهم مثله مثل الغذاء لا يستغنى عنه ، والآخر مثله مثل الدواء يحتاج إليه في وقت دون وقت ، والثالث مثله مثل الداء لا يحتاج إليه قط ، ولكن العبد قد يبتلى به وهو الذي لا أنس فيه ولا نفع .

وقد قيل : مثل جملة الناس كمثل الشجر والنبات فمنها ، ما له ظل وليس له ثمر ، وهو مثل الذي ينتفع به في الدنيا دون الآخرة فإن نفع الدنيا كالظل السريع الزوال .

Terjemahan Lengkap

Al-Ma'mun berkata:

"Sahabat itu ada tiga macam.

Yang pertama seperti makanan; seseorang tidak dapat hidup tanpanya.

Yang kedua seperti obat; ia dibutuhkan hanya pada waktu-waktu tertentu.

Yang ketiga seperti penyakit; sebenarnya tidak pernah dibutuhkan sama sekali, tetapi seorang hamba terkadang diuji dengannya. Dialah orang yang tidak menghadirkan keakraban maupun manfaat."

Dikatakan pula:

"Perumpamaan seluruh manusia seperti pohon-pohon dan tumbuh-tumbuhan.

Di antaranya ada pohon yang memiliki naungan tetapi tidak memiliki buah.

Itulah perumpamaan orang yang manfaatnya hanya untuk urusan dunia, bukan untuk akhirat. Sebab manfaat dunia itu seperti bayangan yang cepat hilang."

Penjelasan

Imam Al-Ghazali menggunakan dua perumpamaan yang sangat sederhana namun sarat makna.

Pertama, beliau membagi sahabat berdasarkan tingkat manfaatnya.

Kedua, beliau membandingkan manusia dengan pohon yang memiliki manfaat berbeda-beda.

Kedua perumpamaan tersebut mengajarkan bahwa seorang muslim hendaknya menilai persahabatan berdasarkan manfaat yang dibawanya, terutama manfaat yang mengantarkan kepada keridaan Allah.

Artikel Pengembangan

1. Sahabat Seperti Makanan

Al-Ma'mun mengatakan:

"Ia seperti makanan."

Makanan merupakan kebutuhan pokok manusia.

Tanpa makanan, kehidupan tidak dapat berlangsung.

Begitu pula sahabat jenis ini.

Ia selalu dibutuhkan karena:

  • menguatkan iman,
  • memberikan nasihat,
  • menjaga amanah,
  • membantu ketika kesulitan,
  • mengingatkan kepada Allah,
  • menghadirkan ketenangan hati.

Sahabat seperti inilah yang sangat berharga dan patut dijaga.

2. Sahabat Seperti Obat

Obat tidak diminum setiap hari apabila seseorang dalam keadaan sehat.

Namun ketika sakit, obat menjadi sangat penting.

Demikian pula sebagian sahabat.

Mereka memiliki keahlian atau kemampuan tertentu sehingga dibutuhkan pada waktu-waktu tertentu.

Misalnya:

  • guru dalam bidang tertentu,
  • penasihat hukum,
  • dokter,
  • rekan kerja profesional,
  • ahli dalam suatu keahlian.

Hubungan seperti ini tetap bernilai baik meskipun tidak selalu intens.

3. Sahabat Seperti Penyakit

Perumpamaan ini menggambarkan orang yang tidak membawa manfaat bahkan menjadi sumber kesulitan.

Ia tidak menghadirkan:

  • ketenangan,
  • nasihat,
  • bantuan,
  • ilmu,
  • maupun akhlak yang baik.

Sebaliknya, kehadirannya justru sering menimbulkan konflik, keresahan, atau kerugian.

Al-Ma'mun mengatakan bahwa orang seperti ini bukan dicari, tetapi terkadang menjadi ujian dalam kehidupan.

4. Manusia Seperti Pohon

Imam Al-Ghazali kemudian mengutip perumpamaan lain.

Setiap pohon memiliki manfaat yang berbeda.

Ada yang:

  • berbuah,
  • memberi keteduhan,
  • menghasilkan kayu,
  • bahkan ada yang hampir tidak memberi manfaat.

Begitu pula manusia.

Sebagian memberikan manfaat besar bagi agama dan kehidupan.

Sebagian hanya membantu urusan dunia.

Sebagian lagi hampir tidak memberikan manfaat kepada siapa pun.

Perumpamaan ini mengajak seseorang untuk terus meningkatkan kualitas dirinya agar menjadi pribadi yang membawa manfaat seluas mungkin.

5. Manfaat Dunia Ibarat Bayangan

Nasihat tersebut menyebutkan bahwa manfaat dunia diibaratkan seperti bayangan.

Bayangan memang memberi kesejukan.

Namun sifatnya sementara.

Ketika matahari bergerak, bayangan pun berpindah dan akhirnya hilang.

Begitu pula keuntungan dunia.

Harta, jabatan, dan popularitas akan berlalu.

Sedangkan manfaat yang berkaitan dengan ilmu, amal saleh, dan ketakwaan akan terus memberikan kebaikan hingga akhirat.

Karena itu, seorang muslim hendaknya tidak hanya mencari teman yang bermanfaat bagi dunia, tetapi juga yang menolong perjalanan menuju kehidupan setelah kematian.

6. Jadilah Pohon yang Berbuah

Perumpamaan pohon tidak hanya mengajarkan cara memilih sahabat.

Lebih dari itu, ia menjadi ajakan untuk memperbaiki diri.

Seorang muslim hendaknya berusaha menjadi seperti pohon yang:

  • memberi keteduhan,
  • menghasilkan buah,
  • bermanfaat bagi banyak orang,
  • tidak menyakiti siapa pun,
  • terus memberi manfaat meskipun tidak diminta.

Semakin banyak manfaat yang diberikan, semakin tinggi nilai seseorang di sisi Allah.

Penjelasan

Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa kualitas manusia tidak diukur dari kedudukan atau kekayaannya, melainkan dari manfaat yang ia berikan kepada orang lain. Demikian pula dalam memilih sahabat, ukuran utamanya bukan sekadar kesenangan sesaat, tetapi sejauh mana persahabatan tersebut membawa kebaikan bagi agama, akhlak, dan kehidupan.

Persahabatan yang hanya berorientasi pada keuntungan dunia boleh jadi memberikan manfaat sementara, tetapi persahabatan yang dibangun atas dasar iman dan ketakwaan akan terus memberikan manfaat hingga akhirat.

Contoh

Seorang mahasiswa memiliki beberapa teman. Salah seorang selalu mengajaknya menghadiri kajian, berdiskusi tentang ilmu, dan saling mengingatkan ketika lalai. Teman seperti ini menjadi sumber semangat setiap hari, layaknya makanan yang dibutuhkan terus-menerus.

Ia juga mengenal seorang dosen yang hanya ditemuinya ketika membutuhkan bimbingan penelitian. Kehadiran dosen tersebut sangat berharga pada waktu tertentu, seperti obat yang digunakan sesuai kebutuhan.

Sebaliknya, ada seorang teman yang sering mengajak membuang waktu, memprovokasi pertengkaran, dan menjerumuskannya kepada kebiasaan buruk. Setelah menyadari dampaknya, ia membatasi kedekatan dengan orang tersebut sambil tetap menjaga adab dan tidak berbuat zalim.

Contoh ini menunjukkan bahwa setiap hubungan memiliki tingkat manfaat yang berbeda sehingga perlu disikapi secara bijaksana.

Kesimpulan

Imam Al-Ghazali melalui perkataan Al-Ma'mun mengajarkan bahwa sahabat memiliki tingkatan manfaat yang berbeda. Ada yang sangat dibutuhkan seperti makanan, ada yang diperlukan pada saat tertentu seperti obat, dan ada pula yang justru menjadi ujian seperti penyakit. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya memilih lingkungan yang mendekatkannya kepada kebaikan sekaligus berusaha menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama.

Hikmah

  • Tidak semua sahabat memiliki tingkat manfaat yang sama.
  • Sahabat terbaik adalah yang terus menguatkan iman dan akhlak.
  • Sebagian hubungan hanya diperlukan sesuai kebutuhan yang baik.
  • Hindari kedekatan yang membawa kerugian dan melalaikan dari ketaatan.
  • Manfaat dunia bersifat sementara, sedangkan manfaat akhirat bersifat abadi.
  • Jadilah pribadi yang memberikan manfaat seperti pohon yang berbuah dan menaungi orang lain.
  • Nilai seseorang di sisi Allah tampak dari manfaat yang ia berikan kepada sesama.

Penutup

Perumpamaan yang dikutip Imam Al-Ghazali memberikan pelajaran yang mendalam tentang seni membangun persahabatan. Seorang muslim hendaknya mampu mengenali jenis-jenis hubungan yang dijalaninya, menghargai setiap orang sesuai kadar manfaatnya, dan tidak menaruh harapan yang berlebihan kepada manusia. Yang lebih penting lagi, setiap orang perlu berusaha menjadi sahabat yang menghadirkan ketenangan, ilmu, dan kebaikan bagi orang lain. Dengan demikian, persahabatan tidak hanya menjadi penopang kehidupan di dunia, tetapi juga menjadi amal saleh yang terus berbuah hingga kehidupan akhirat.

Wallahu A’lam...

Artikel Terkait :

Tujuan Persahabatan Menurut Imam Al-Ghazali: Memilih Sahabat untuk Dunia, Akhirat, dan Kebersamaan (02/05/58)

Nasihat ImamAl-Ghazali tentang Memilih Sahabat: Berteman untuk Dunia atau Akhirat?(02/05/57)

Lebih Baik Sendiridaripada Berteman Buruk: Nasihat Imam Al-Ghazali tentang Memilih Sahabat (02/05/60)

Posting Komentar

0 Komentar