Pendahuluan
Setelah membahas kelompok Zaidiyah
dan Kaisaniyah, Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini beralih kepada pembahasan
mengenai Imamiyah, yang menurut pembagian beliau terdiri atas lima belas
golongan. Kelompok pertama yang dibahas adalah Kamiliyah, sebuah sekte
yang dinisbatkan kepada Abu Kamil.
Dalam karya ini, penulis menjelaskan
berbagai keyakinan yang dinisbatkan kepada kelompok tersebut, termasuk
pandangan mereka terhadap para sahabat Nabi ﷺ
dan beberapa tokoh yang dianggap mengikuti ajaran mereka. Pembahasan ini
merupakan bagian dari kajian ilmu firqah dalam tradisi ulama Ahlus Sunnah.
Sumber
Kitab: At-Tabṣīr fī ad-Dīn wa Tamyīz al-Firqah an-Nājiyah 'an
al-Firaq al-Hālikīn (التبصير في الدين وتمييز
الفرقة الناجية عن الفرق الهالكين)
Penulis: Imam Abu al-Muzaffar Thahir bin Muhammad al-Isfarayini
(wafat 471 H)
Penulis
Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini
merupakan seorang ulama besar Ahlus Sunnah pada abad ke-5 Hijriah yang dikenal
melalui karya-karyanya dalam bidang akidah dan ilmu firqah. Dalam kitab At-Tabṣīr
fī ad-Dīn, beliau menginventarisasi berbagai kelompok yang pernah muncul
dalam sejarah Islam beserta keyakinan yang dinisbatkan kepada masing-masing
kelompok menurut perspektif Ahlus Sunnah.
Tema
Kelompok Kamiliyah dalam Imamiyah
dan Keyakinan yang Dinisbatkan kepada Mereka
Terjemahan Lengkap
Imamiyah
Adapun Imamiyah, maka menurut
penulis mereka terdiri atas lima belas golongan.
1.
Kamiliyah
Golongan pertama adalah Kamiliyah,
yaitu para pengikut Abu Kamil.
Mereka berpendapat bahwa seluruh
sahabat telah kafir karena meninggalkan baiat kepada Ali.
Mereka juga menganggap Ali turut
bersalah karena tidak memerangi mereka, padahal menurut keyakinan mereka hal
itu wajib dilakukan, sebagaimana Ali memerangi pasukan dalam Perang Shiffin dan
Perang Jamal.
Penyair Basyar bin Burd
disebut termasuk golongan mereka.
Ketika ia ditanya tentang para
sahabat, ia menjawab,
"Mereka telah kafir."
Lalu ditanyakan kepadanya,
"Bagaimana pendapatmu tentang
Ali?"
Maka ia membacakan syair:
"Tidaklah kejahatan tiga orang
itu, wahai Ummu 'Amr,
lebih buruk daripada sahabatmu yang tidak layak engkau jadikan
sahabat."
Basyar ini, menurut penulis,
menambahkan dua bentuk bid'ah di atas ajaran Kamiliyah.
Pertama, ia meyakini raj'ah,
yaitu keyakinan bahwa sebagian manusia akan kembali hidup sebelum Hari Kiamat,
sebagaimana diyakini kelompok Raj'iyyah dari kalangan Rafidhah.
Kedua, ia membenarkan Iblis dalam
anggapannya bahwa api lebih utama daripada tanah.
Karena itu ia berkata:
"Tanah itu gelap, sedangkan api
bercahaya.
Api telah disembah sejak dahulu kala."
Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan
taufik kepada Khalifah Al-Mahdi bin Manshur, sehingga ia menenggelamkan
Basyar beserta para pengikutnya di Sungai Tigris (Dajlah).
Demikianlah kehinaan bagi mereka di
dunia, dan bagi mereka di akhirat azab yang besar.
Artikel Pengembangan
Pembahasan mengenai Kamiliyah
menunjukkan bagaimana para ulama ilmu firqah berusaha mengklasifikasikan
berbagai kelompok yang muncul dalam sejarah Islam berdasarkan keyakinan yang
mereka nisbatkan kepada masing-masing golongan.
Menurut Imam Al-Isfarayini, ciri
utama Kamiliyah adalah sikap mereka terhadap persoalan imamah dan penilaian
terhadap para sahabat Nabi ﷺ. Penulis menilai
bahwa pandangan tersebut merupakan penyimpangan yang serius karena berkaitan
dengan penghukuman terhadap generasi sahabat yang menjadi perantara sampainya
Al-Qur'an dan Sunnah kepada umat Islam.
Dalam bagian ini juga disebutkan
nama Basyar bin Burd sebagai tokoh yang dinilai memiliki sejumlah keyakinan
tambahan, seperti raj'ah dan pembenaran terhadap logika Iblis yang menganggap
api lebih mulia daripada tanah. Penyebutan ini menggambarkan bagaimana dalam
literatur klasik, seorang tokoh terkadang dikaitkan dengan lebih dari satu
gagasan yang dipandang menyimpang oleh para penulis ilmu firqah.
Perlu dipahami bahwa kitab At-Tabṣīr
fī ad-Dīn merupakan karya polemik akidah dari perspektif Ahlus Sunnah.
Karena itu, penyebutan keyakinan suatu kelompok di dalamnya merupakan
representasi pandangan penulis terhadap kelompok-kelompok tersebut. Kajian
sejarah modern dapat memuat pembahasan yang lebih luas mengenai asal-usul,
perkembangan, dan keakuratan penisbatan pandangan kepada masing-masing
kelompok.
Hikmah
- Perbedaan dalam persoalan akidah dapat melahirkan
penilaian yang sangat berbeda terhadap sejarah dan para tokoh Islam.
- Ilmu firqah mengajarkan pentingnya mengenali berbagai
pemikiran yang pernah muncul dalam sejarah umat agar tidak mudah
terpengaruh oleh ajaran yang menyimpang.
- Menghormati para sahabat Nabi ﷺ
merupakan bagian penting dari tradisi Ahlus Sunnah, karena mereka adalah
generasi yang menerima dan menyampaikan ajaran Islam.
- Kajian terhadap literatur klasik hendaknya dilakukan
secara ilmiah dengan memahami konteks sejarah, tujuan penulisan, dan perspektif
penulisnya.
Penutup
Dalam pembukaan pembahasan tentang Imamiyah,
Imam Al-Isfarayini memulai dengan menjelaskan kelompok Kamiliyah beserta
keyakinan yang dinisbatkan kepada mereka. Uraian ini menjadi dasar bagi
pembahasan kelompok-kelompok Imamiyah lainnya pada bagian berikutnya, sekaligus
memperlihatkan metode penulis dalam menguraikan sejarah dan pemikiran berbagai
aliran dalam tradisi ilmu firqah Islam.
Teks Arab :
الإمامية
أما الإمامية مِنْهُم فهم خمس عشرَة فرقة
1- الكاملية
أحداهما الْكَامِلَة وهم أَتبَاع أبي كَامِل يَقُولُونَ
أَن الصَّحَابَة كلهم كفرُوا بتركهم بيعَة على وَكفر على أَيْضا بِتَرْكِهِ
قِتَالهمْ إِذْ كَانَ وَاجِبا عَلَيْهِ أَن يقاتلهم كَمَا قَاتل أهل صفّين والجمل
وَكَانَ بشار بن برد الشَّاعِر مِنْهُم لما سُئِلَ عَن الصَّحَابَة فَقَالَ كفرُوا
فَقيل لَهُ مَا تَقول فِي عَليّ فَأَنْشد قَول الشَّاعِر
(وَمَا شَرّ
الثَّلَاثَة أم عَمْرو ... بصاحبك الَّذِي لَا تصحبيا)
وبشار هَذَا زَاد على الكاملية بنوعين من الْبِدْعَة
أَحدهمَا أَنه كَانَ يَقُول بالرجعة قبل الْقِيَامَة
كَمَا كَانَ يَقُولهَا الرَّجْعِيَّة من الروافض
وَالثَّانِي انه كَانَ يَقُول بتصويب إِبْلِيس فِي
تَفْضِيل النَّار على الأَرْض وَلذَلِك قَالَ
(الأَرْض مظْلمَة
وَالنَّار مشرقة ... وَالنَّار معبودة مذ كَانَت النَّار)
ووفق الله سُبْحَانَهُ الْمهْدي بن مَنْصُور الْخَلِيفَة
حَتَّى غرقه وَأَتْبَاعه فِي دجلة ذَلِك لَهُم خزي فِي الدُّنْيَا وَلَهُم فِي
الْآخِرَة عَذَاب عَظِيم
Baca juga👇:
Keyakinan Kaisaniyah tentang Muhammad bin Al-Hanafiyah diGunung Radwa: Penjelasan Imam Al-Isfarayini
Konsep Bada' dalam Kaisaniyah: Kisah Al-Mukhtar Ats-Tsaqafi Menurut Imam Al-Isfarayini
Kelompok Muhammadiyah dalam Imamiyah: Keyakinan tentang
Muhammad bin Abdullah An-Nafs az-Zakiyyah Menurut Imam Al-Isfarayini

Tidak ada komentar:
Posting Komentar