Apakah Akal Mampu Memahami Adanya Awal Tanpa “Sebelum”? Penjelasan Imam al-Ghazali

Imam al-Ghazali menjelaskan perbedaan antara keterbatasan wahm dan pertimbangan akal dalam memahami keberadaan alam, ruang, dan waktu

Pendahuluan

Dalam Tahāfut al-Falāsifah, Imam al-Ghazali melanjutkan pembahasan mengenai keberadaan alam, ruang, dan waktu. Persoalan yang dibahas pada bagian ini berkaitan dengan kemampuan manusia dalam membayangkan sesuatu yang tidak biasa dialaminya.

Al-Ghazali menjelaskan bahwa manusia dapat meyakini suatu perkara secara rasional, tetapi wahm atau daya imajinasi batinnya terkadang tidak mampu membayangkan perkara tersebut. Ketidakmampuan wahm bukan berarti perkara itu mustahil secara akal.

Contohnya adalah persoalan alam. Seseorang yang meyakini bahwa alam memiliki permulaan mungkin tetap merasa sulit membayangkan suatu keberadaan yang tidak didahului oleh sesuatu yang telah ada. Sebaliknya, orang yang meyakini alam tidak memiliki permulaan juga dapat membayangkan secara mental bahwa alam pernah bermula.

Menurut al-Ghazali, hal ini menunjukkan bahwa wahm tidak selalu menjadi ukuran bagi kemungkinan rasional.

Sumber

Kitab: Tahāfut al-Falāsifah (تهافت الفلاسفة)

Penulis

Abū Ḥāmid Muḥammad bin Muḥammad al-Ghazālī al-Ṭūsī
(أبو حامد محمد بن محمد الغزالي الطوسي)
Wafat: 505 H / 1111 M

Tema

Perbedaan antara Wahm dan Akal dalam Memahami Awal Keberadaan Alam

Terjemahan Lengkap

Menisbahkan hal tersebut kepada tempat dan waktu merupakan pekerjaan wahm

Masih tersisa bagi kami untuk mengatakan:

Allah memiliki keberadaan, dan tidak ada alam bersama-Nya.

Namun, pernyataan ini juga tidak mengharuskan adanya sesuatu yang lain.

Yang menunjukkan bahwa persoalan tersebut merupakan pekerjaan wahm adalah bahwa hal itu berkaitan secara khusus dengan waktu dan tempat.

Sebab, sekalipun lawan kami meyakini bahwa benda itu azali atau tidak memiliki permulaan, wahm mereka tetap dapat menerima gambaran bahwa benda tersebut memiliki permulaan.

Sebaliknya, meskipun kami meyakini bahwa benda itu hadis atau memiliki permulaan, wahm kami terkadang dapat menerima gambaran bahwa benda tersebut tidak memiliki permulaan.

Demikian halnya dalam persoalan benda.

Adapun ketika kita kembali kepada persoalan waktu, lawan kami tidak mampu membayangkan adanya waktu yang bermula tetapi tidak mempunyai “sebelum”.

Padahal, sesuatu yang bertentangan dengan keyakinan seseorang dapat saja ditempatkan dalam wahm sebagai gambaran dan anggapan.

Akan tetapi, perkara ini tidak dapat ditempatkan dalam wahm sebagaimana persoalan tempat.

Sebab, orang yang meyakini bahwa benda itu terbatas maupun orang yang tidak meyakininya, keduanya sama-sama tidak mampu membayangkan adanya suatu benda yang di belakangnya tidak terdapat ruang kosong maupun ruang yang terisi.

Bahkan, wahm mereka tidak mau menerima gambaran tersebut.

Inilah sebab kekeliruan

Namun dikatakan:

Akal yang jelas, apabila tidak menghalangi keberadaan benda yang terbatas berdasarkan suatu bukti, tidak perlu memperhatikan wahm.

Demikian pula, akal yang jelas tidak menghalangi adanya suatu keberadaan yang memiliki permulaan tetapi tidak didahului oleh sesuatu apa pun.

Jika wahm tidak mampu memahami hal tersebut, maka wahm tidak perlu dijadikan pertimbangan.

Sebab, wahm tidak pernah terbiasa melihat benda yang terbatas kecuali di sampingnya terdapat benda lain atau udara yang kemudian dibayangkannya sebagai ruang kosong.

Karena itu, wahm tidak mampu memahami keadaan tersebut pada sesuatu yang tidak hadir di hadapannya.

Demikian pula, wahm tidak pernah terbiasa melihat sesuatu yang baru terjadi kecuali setelah adanya sesuatu yang lain.

Maka, wahm menjadi tidak mampu membayangkan adanya sesuatu yang bermula tetapi tidak memiliki “sebelum”, yang merupakan sesuatu yang telah ada kemudian berlalu.

Inilah sebab kekeliruannya.

Dan bantahan terhadap persoalan tersebut telah terjadi melalui perbandingan ini.

Artikel Pengembangan

1. Wahm tidak sama dengan akal

Salah satu gagasan penting dalam teks ini adalah pembedaan antara wahm dan akal.

Wahm adalah kemampuan batin yang membuat manusia membayangkan dan menangkap berbagai gambaran berdasarkan pengalaman yang telah dikenalnya. Karena itu, wahm sangat dipengaruhi oleh kebiasaan dan pengalaman.

Sedangkan akal tidak terbatas hanya pada apa yang mudah dibayangkan. Akal dapat mempertimbangkan suatu proposisi berdasarkan argumentasi, meskipun gambaran mental mengenai proposisi tersebut sulit atau bahkan tidak terbentuk dengan sempurna.

Inilah dasar argumentasi al-Ghazali dalam bagian ini.

2. Contoh tentang benda yang terbatas

Al-Ghazali memberikan contoh yang berkaitan dengan ruang.

Ketika seseorang membayangkan sebuah benda yang memiliki batas, wahm secara spontan membayangkan sesuatu di luar batas tersebut. Jika bukan benda lain, maka dibayangkan adanya ruang kosong.

Dengan demikian, wahm sulit menerima gagasan tentang benda yang terbatas tanpa adanya ruang di luarnya.

Namun, ketidakmampuan tersebut tidak otomatis menjadi bukti bahwa gagasan tersebut mustahil secara rasional.

Dengan kata lain:

Tidak dapat dibayangkan ≠ tidak dapat diterima oleh akal.

3. Kesulitan membayangkan awal tanpa “sebelum”

Pola yang sama diterapkan al-Ghazali kepada persoalan waktu.

Dalam pengalaman sehari-hari, setiap kejadian yang baru muncul selalu kita lihat setelah adanya kejadian lain.

Misalnya, sebuah bangunan selesai setelah proses pembangunan. Seseorang lahir setelah adanya orang tua. Suatu peristiwa terjadi setelah peristiwa lain.

Karena pengalaman manusia selalu memperlihatkan pola seperti itu, wahm kemudian membentuk kebiasaan:

Setiap sesuatu yang bermula pasti didahului oleh sesuatu.

Namun, al-Ghazali mempertanyakan apakah kebiasaan wahm tersebut dapat diterapkan kepada permulaan keberadaan alam secara keseluruhan.

Jika yang sedang dibicarakan adalah permulaan alam, maka kita tidak dapat begitu saja menjadikan pengalaman terhadap kejadian-kejadian di dalam alam sebagai ukuran untuk menentukan apa yang berada pada permulaan alam secara keseluruhan.

4. Perbedaan antara “tidak terbiasa” dan “mustahil”

Teks ini mengajarkan sebuah prinsip penting dalam berpikir:

Sesuatu yang tidak biasa dibayangkan tidak selalu mustahil.

Ada perbedaan antara:

  • sesuatu yang bertentangan dengan akal;
  • sesuatu yang tidak dapat dibayangkan oleh wahm;
  • sesuatu yang belum pernah dialami;
  • dan sesuatu yang tidak sesuai dengan kebiasaan manusia.

Al-Ghazali menekankan bahwa ketidakmampuan wahm tidak boleh secara otomatis dijadikan dalil untuk menetapkan kemustahilan.

5. Akal sebagai alat untuk menguji gambaran mental

Dalam konteks pembahasan al-Ghazali, akal berfungsi untuk menguji apakah suatu konsep memiliki kontradiksi atau tidak.

Jika sebuah konsep sulit divisualisasikan oleh wahm tetapi tidak bertentangan dengan prinsip rasional, maka kesulitan dalam membayangkannya tidak cukup untuk menolaknya.

Sebaliknya, apabila suatu konsep mengandung kontradiksi yang nyata, maka persoalannya berbeda.

Dengan demikian, pembahasan ini mengajarkan pentingnya membedakan antara keterbatasan representasi mental dan kemustahilan rasional.

6. Hubungannya dengan pembahasan sebelumnya

Bagian ini merupakan kelanjutan dari pembahasan mengenai “sebelum”, “sesudah”, “luar”, dan “dalam”.

Sebelumnya, al-Ghazali telah menunjukkan bahwa manusia sulit membayangkan:

  • sesuatu yang berada di luar batas alam;
  • benda terbatas tanpa sesuatu di luarnya;
  • dan permulaan tanpa “sebelum”.

Pada bagian ini, ia menjelaskan mengapa kesulitan tersebut muncul.

Jawabannya adalah karena wahm bekerja berdasarkan pengalaman dan kebiasaan yang telah dikenalnya.

Karena itu, wahm dapat menghasilkan gambaran yang terasa sangat kuat, tetapi kekuatan perasaan tersebut tidak dengan sendirinya menjadikannya bukti rasional.

Hikmah

  1. Tidak semua yang sulit dibayangkan berarti mustahil.
  2. Wahm memiliki keterbatasan karena sangat dipengaruhi pengalaman dan kebiasaan.
  3. Akal dan imajinasi memiliki fungsi yang berbeda dalam memahami realitas.
  4. Ketidakmampuan membayangkan sesuatu tidak cukup untuk membuktikan kemustahilannya.
  5. Perlu dibedakan antara kebiasaan pengalaman dan kepastian rasional.
  6. Dalam persoalan metafisika, seseorang tidak cukup hanya mengandalkan gambaran mental.
  7. Ketelitian dalam membedakan “tidak dapat dibayangkan” dan “tidak dapat ada” sangat penting dalam berpikir.

Penutup

Dalam bagian ini, Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa kesulitan manusia dalam membayangkan keberadaan yang memiliki permulaan tetapi tidak didahului oleh sesuatu berasal dari keterbatasan wahm.

Wahm terbiasa melihat segala sesuatu yang terbatas memiliki sesuatu di luarnya dan terbiasa melihat setiap kejadian yang baru muncul didahului oleh kejadian lainnya. Karena itu, wahm sulit menerima gambaran tentang suatu permulaan yang tidak memiliki “sebelum”.

Namun, menurut al-Ghazali, ketidakmampuan wahm bukanlah bukti kemustahilan akal. Sesuatu dapat sulit dibayangkan tetapi tetap perlu dinilai berdasarkan pertimbangan rasional.

Inilah salah satu pelajaran penting dari pembahasan Tahāfut al-Falāsifah: jangan menjadikan keterbatasan imajinasi sebagai ukuran tunggal bagi kemungkinan dan kemustahilan suatu perkara.

Teks Arab :

نسبة ذلك للمكان والزمان من عمل الوهم ...

بقي أنا نقول: لله وجود ولا عالم معه. وهذا القدر أيضًا لا يوجب إثبات شيء آخر، والذي يدل على أن هذا عمل الوهم أنه مخصوص بالزمان والمكان. فإن الخصم، وإن اعتقد قدم الجسم، يذعن وهمه لتقدير حدوثه. ونحن، وإن اعتقدنا حدوثه، ربما أذعن وهمنا لتقدير قدمه. هذا في الجسم. فإذا رجعنا إلى الزمان، لم يقدر الخصم على تقدير حدوث زمان لا «قبل» له، وخلاف المعتقد يمكن وضعه في الوهم تقديرًا وفرضًا. وهذا مما لا يمكن وضعه في الوهم كما في المكان، فإن من يعتقد تناهي الجسم ومن لا يعتقد كل واحد يعجز عن تقدير جسم ليس وراءه لا خلاء ولا ملاء، بل لا يذعن وهمه لقبول ذلك.

وهذا هو سبب الغلط

ولكن قيل: صريح العقل إذا لم يمنع وجود جسم متناه بحكم الدليل لا يلتفت إلى الوهم. فكذلك صريح العقل لا يمنع وجودًا مفتتحًا ليس قبله شيء. وإن قصر الوهم عنه فلا يلتفت إليه، لأن الوهم، لما لم يألف جسمًا متناهيًا إلا وبجنبه جسم آخر أو هواء تخيله خلاء، لم يتمكن من ذلك في الغائب. فكذلك لم يألف الوهم حادثًا إلا بعد شيء آخر، فكاع عن تقدير حادث ليس له «قبل» هو شيء موجود قد انقضى. فهذا هو سبب الغلط، والمقاومة حاصلة بهذه المعارضة.

Wallahu A’lam...

Artikel Terkait:

Apakah Alam Memiliki “Sebelum” dan “Sesudah”? BantahanImam al-Ghazali terhadap Para Filsuf

Apakah Waktu Ada Sebelum Penciptaan Alam? Penjelasan Imamal-Ghazali tentang Makna “Sebelum” dan “Sesudah”

Argumen Para Filsuf tentang Keazalian Waktu dan JawabanImam al-Ghazali

Posting Komentar

0 Komentar