Pendahuluan
Dalam Tahāfut al-Falāsifah,
Imam al-Ghazali menguraikan argumen lain yang digunakan para filsuf untuk
mempertahankan pendapat tentang keazalian waktu.
Argumen tersebut berangkat dari
pertanyaan: jika Allah telah ada sebelum menciptakan alam dan pada saat itu memiliki
kemampuan untuk menciptakannya, bukankah secara akal mungkin Allah menciptakan
alam lebih awal daripada waktu yang sekarang kita kenal?
Para filsuf kemudian menggunakan
perbandingan antara tahun, jumlah putaran, gerak, dan ukuran waktu untuk
menyimpulkan bahwa sebelum alam harus sudah terdapat suatu rentangan waktu yang
dapat diukur.
Al-Ghazali dalam bagian ini terlebih
dahulu menyampaikan bentuk argumen tersebut secara terperinci. Inti argumen
yang sedang dikemukakan adalah bahwa jika seseorang mengakui adanya kemungkinan
bagi Allah untuk menciptakan alam lebih awal, maka tampaknya harus diakui pula
adanya suatu ukuran atau rentangan sebelum keberadaan alam, dan ukuran
tersebut menurut mereka tidak lain adalah waktu.
Sumber
Kitab: Tahāfut al-Falāsifah (تهافت
الفلاسفة)
Penulis
Abū Ḥāmid Muḥammad bin Muḥammad
al-Ghazālī al-Ṭūsī
(أبو حامد محمد بن محمد الغزالي الطوسي)
Wafat: 505 H / 1111 M
Tema
Argumen tentang Keazalian Waktu
Sebelum Alam dan Konsep Ukuran Waktu
Terjemahan Lengkap
Bentuk
kedua argumen mereka dalam menetapkan keazalian waktu
Perkataan mereka: Allah mampu
menciptakan alam sebelum Dia menciptakannya dengan selisih beberapa tahun.
Mereka berkata:
Tidak diragukan bahwa menurut
kalian, Allah dahulu memiliki kemampuan untuk menciptakan alam sebelum Dia
menciptakannya, misalnya lebih awal satu tahun, seratus tahun, atau seribu
tahun.
Dan jelas bahwa ukuran-ukuran
tersebut berbeda dalam kadar dan jumlahnya.
Maka, harus ditetapkan adanya
sesuatu sebelum keberadaan alam yang memiliki rentangan dan ukuran
tertentu; sebagian rentangan itu lebih panjang daripada sebagian lainnya.
Atau
menciptakan alam lain sebelumnya yang serupa dengannya
Atau, Allah dapat menciptakan
sebelum alam ini alam kedua yang serupa dengannya, sehingga alam kedua
tersebut sampai kepada masa kita sekarang setelah mengalami jumlah putaran yang
lebih banyak.
Jika kalian mengatakan bahwa
penggunaan istilah “tahun” tidak dapat dibenarkan kecuali setelah adanya benda
langit dan peredarannya, maka tinggalkan istilah “tahun” dan kita gunakan
bentuk pertanyaan yang lain.
Kita katakan:
Jika kita mengandaikan bahwa sejak
awal keberadaannya alam ini telah mengalami peredaran benda langit hingga masa
sekarang sebanyak seribu putaran, misalnya, apakah Allah mampu
menciptakan sebelumnya alam kedua yang serupa dengannya, sehingga alam kedua
tersebut sampai kepada masa kita sekarang setelah mengalami seribu seratus
putaran?
Jika kalian menjawab, “Tidak,”
maka seakan-akan Yang Dahulu telah berubah dari ketidakmampuan menjadi
kemampuan, atau alam telah berubah dari sesuatu yang mustahil menjadi sesuatu
yang mungkin.
Jika kalian menjawab, “Ya,”
dan memang harus demikian, maka apakah Dia juga mampu menciptakan alam ketiga
sebelumnya, sehingga alam ketiga tersebut sampai kepada masa kita sekarang
setelah mengalami seribu dua ratus putaran?
Jawabannya tentu harus “Ya.”
Perkataan
kami: Maka terdapat suatu ukuran yang diketahui
Kami berkata:
Alam yang menurut urutan perkiraan
kita sebut sebagai alam ketiga, meskipun sebenarnya ia merupakan alam
yang paling terdahulu, apakah mungkin alam tersebut diciptakan bersamaan dengan
alam yang kita sebut sebagai alam kedua, sedangkan alam ketiga sampai kepada
masa kita setelah mengalami seribu dua ratus putaran, sementara alam
kedua sampai kepada masa kita setelah mengalami seribu seratus putaran,
dengan keduanya memiliki jarak gerak dan kecepatan yang sama?
Jika kalian menjawab, “Ya,”,
maka hal itu mustahil. Sebab, dua gerakan tidak mungkin memiliki kecepatan dan
kelambatan yang sama tetapi berakhir pada satu waktu yang sama, sementara
jumlah putarannya berbeda.
Jika kalian menjawab bahwa alam
ketiga yang sampai kepada kita setelah seribu dua ratus putaran tidak
mungkin diciptakan bersamaan dengan alam kedua yang sampai kepada kita
setelah seribu seratus putaran, tetapi alam ketiga harus diciptakan lebih
dahulu dengan suatu rentangan waktu yang sama dengan rentangan yang membuat
alam kedua lebih dahulu daripada alam pertama, maka—
Kami menyebut “alam pertama” sebagai
alam yang paling dekat dengan wahm kita, karena dalam perkiraan kita,
kita bergerak mundur dari masa sekarang menuju masa sebelumnya.
Dengan demikian, terdapat suatu kemungkinan
yang ukurannya dua kali lipat dibandingkan kemungkinan lainnya.
Dan harus ada kemungkinan lain yang
ukurannya dua kali lipat dari keseluruhan itu.
Maka
di sana terdapat waktu
Dengan demikian, kemungkinan yang
diperkirakan dan diukur ini—yang sebagian lebih panjang daripada sebagian
lainnya dengan ukuran tertentu—tidak memiliki hakikat selain waktu.
Ukuran-ukuran yang diperkirakan
tersebut bukanlah sifat Zat Allah—Mahasuci Dia dari segala sesuatu yang dapat
diukur—dan bukan pula sifat dari ketiadaan alam.
Sebab, ketiadaan bukanlah sesuatu
sehingga dapat diukur dengan ukuran-ukuran yang berbeda.
Adapun kuantitas atau ukuran
merupakan suatu sifat yang membutuhkan sesuatu yang memiliki kuantitas.
Dan sesuatu itu tidak lain adalah gerak.
Sedangkan kuantitas tersebut tidak
lain adalah waktu, yang merupakan ukuran bagi gerak.
Dengan demikian, menurut kalian, sebelum
alam terdapat sesuatu yang memiliki kuantitas dan ukuran yang berbeda-beda,
yaitu waktu.
Maka, menurut kalian, sebelum
alam telah terdapat waktu.
Artikel Pengembangan
1.
Apa yang sedang dipersoalkan?
Bagian ini membahas sebuah argumen
yang sangat erat kaitannya dengan pertanyaan:
Apakah sebelum alam terdapat waktu?
Para filsuf yang sedang dikritik
al-Ghazali mencoba membangun argumen melalui konsep “lebih awal”.
Misalnya, jika alam diciptakan pada
titik tertentu, mereka bertanya: bukankah Allah juga mampu menciptakannya satu
tahun lebih awal, seratus tahun lebih awal, atau seribu tahun lebih awal?
Jika istilah “tahun” dianggap belum
tepat karena tahun bergantung pada peredaran benda langit, mereka menggantinya
dengan konsep jumlah putaran.
Dari sini mereka berusaha
menunjukkan adanya perbedaan ukuran antara satu kemungkinan dan kemungkinan
lainnya.
2.
Dari “lebih awal” menuju ukuran waktu
Argumen tersebut kemudian bergerak
secara bertahap.
Jika alam sekarang telah mengalami
seribu putaran, maka dibayangkan kemungkinan alam diciptakan lebih awal
sehingga mengalami seribu seratus putaran.
Kemudian dapat dibayangkan lagi alam
yang lebih awal sehingga mengalami seribu dua ratus putaran.
Dengan demikian, terdapat perbedaan
antara satu keadaan dan keadaan lainnya.
Para filsuf kemudian bertanya: apa
yang menjadi ukuran perbedaan tersebut?
Menurut argumen yang dikutip
al-Ghazali, ukuran tersebut tidak mungkin berupa ketiadaan, karena ketiadaan
bukanlah sesuatu yang dapat memiliki jumlah atau ukuran.
Mereka kemudian menghubungkannya
dengan gerak, dan akhirnya dengan waktu.
3.
Mengapa ketiadaan tidak dapat menjadi ukuran?
Al-Ghazali menyampaikan argumen
bahwa ketiadaan bukanlah sesuatu yang dapat memiliki kuantitas.
Misalnya, seseorang tidak dapat
memperlakukan “ketiadaan” seperti benda yang mempunyai panjang, lebar, jumlah,
atau ukuran tertentu.
Jika dikatakan bahwa satu ketiadaan
lebih panjang daripada ketiadaan lainnya, maka muncul persoalan: apa yang
sebenarnya sedang diukur?
Karena itu, dalam argumen para
filsuf, perbedaan ukuran tersebut harus dikaitkan dengan sesuatu yang mempunyai
ukuran.
4.
Hubungan gerak dan waktu
Pada bagian akhir, muncul hubungan
penting antara gerak dan waktu.
Dalam kerangka pemikiran yang sedang
dibahas, waktu dipahami sebagai ukuran atau rentangan yang berkaitan dengan
gerak.
Maka ketika dibicarakan:
- seribu putaran,
- seribu seratus putaran,
- seribu dua ratus putaran,
sebenarnya sedang dibicarakan
perbedaan dalam rentangan gerak, yang kemudian dinyatakan melalui waktu.
Dengan demikian, argumen tersebut
berusaha sampai kepada kesimpulan:
Jika terdapat ukuran yang
berbeda-beda sebelum keberadaan alam, maka harus terdapat sesuatu yang menjadi
ukuran tersebut, yaitu waktu.
5.
Perbedaan antara menyampaikan argumen dan menyetujuinya
Hal yang perlu diperhatikan dalam
membaca bagian ini adalah bahwa al-Ghazali sedang menyajikan argumen pihak
yang ia bantah.
Teks dimulai dengan:
قولهم —
“Perkataan mereka...”
Kemudian al-Ghazali menguraikan
argumen tersebut dengan sangat rinci sebelum melanjutkan kepada bantahan.
Karena itu, kesimpulan pada bagian
akhir—bahwa “sebelum alam terdapat waktu”—merupakan kesimpulan dari
argumen yang sedang dikemukakan, bukan berarti al-Ghazali secara otomatis
menerima seluruh argumen tersebut.
Ini penting agar pembacaan Tahāfut
al-Falāsifah tidak keliru dalam membedakan antara argumen lawan dan jawaban
al-Ghazali terhadap argumen tersebut.
6.
Persoalan “Allah mampu menciptakan lebih awal”
Pertanyaan “mengapa Allah tidak
menciptakan alam lebih awal?” tampak sederhana, tetapi sebenarnya mengandung
persoalan tentang makna “lebih awal”.
Jika “lebih awal” berarti ada suatu
rentangan waktu yang telah berlangsung sebelum penciptaan alam, maka secara
tidak langsung waktu ditempatkan sebelum alam.
Namun, justru persoalan itulah yang
sedang diperdebatkan.
Karena itu, pertanyaan tentang
“mengapa tidak lebih awal?” tidak dapat langsung digunakan sebagai bukti tanpa
terlebih dahulu menjelaskan apa yang dimaksud dengan lebih awal dan
apakah konsep waktu sudah dapat diterapkan sebelum keberadaan alam.
Hikmah
- Sebuah argumen perlu diperiksa dari asumsi dasarnya. Pertanyaan “mengapa tidak lebih awal?” mengandung
asumsi tertentu tentang keberadaan waktu.
- Ketiadaan tidak sama dengan sesuatu yang memiliki
ukuran. Sesuatu yang tidak memiliki
keberadaan tidak dapat begitu saja diperlakukan seperti objek yang dapat
diukur.
- Konsep waktu berkaitan erat dengan gerak dalam
pembahasan ini. Perbedaan jumlah putaran
digunakan untuk menjelaskan perbedaan rentangan waktu.
- Istilah yang digunakan dalam argumen harus
didefinisikan dengan jelas.
“Tahun”, “putaran”, “lebih awal”, dan “waktu” tidak dapat digunakan secara
sembarangan.
- Menyampaikan suatu argumen tidak berarti menerimanya. Dalam membaca karya polemis seperti Tahāfut
al-Falāsifah, penting membedakan pendapat yang sedang dikutip dari
pendapat penulis sendiri.
Penutup
Bagian ini menyajikan bentuk lain
dari argumen para filsuf dalam menetapkan keazalian waktu. Mereka
berangkat dari gagasan bahwa Allah mampu menciptakan alam lebih awal, lalu
membayangkan berbagai kemungkinan dengan jumlah putaran yang berbeda-beda.
Dari perbedaan tersebut mereka
menyimpulkan adanya suatu ukuran atau rentangan sebelum keberadaan alam.
Ukuran itu tidak mungkin berasal dari ketiadaan, sehingga dikaitkan dengan
gerak, dan pada akhirnya disebut sebagai waktu.
Dengan demikian, inti argumen yang
dikemukakan adalah: jika terdapat “lebih awal” dengan ukuran yang
berbeda-beda sebelum alam, maka harus ada waktu sebelum alam.
Namun, karena bagian ini merupakan
penyajian argumen dalam rangka pembahasan Tahāfut al-Falāsifah,
kesimpulan tersebut perlu dibaca bersama bantahan al-Ghazali pada bagian
berikutnya, agar posisi argumentasinya dapat dipahami secara utuh.
Teks Arab :
صيغة ثانية لهم في إلزام قدم الزمان
قولهم كان الله قادرًا على أن يخلق العالم
قبل أن خلقه بقدر سنين ...
قالوا: لا شك في أن الله عندكم كان قادرًا على أن يخلق
العالم قبل أن خلقه بقدر سنة ومائة سنة وألف سنة، وإن هذه التقديرات متفاوتة في
المقدار والكمية، فلا بد من إثبات شيء قبل وجود العالم ممتد مقدر بعضه أمد وأطول
من البعض.
أو أن يخلق قبله عالمًا ثانيًا مثله
بحيث ينتهي إلى زماننا هذا بقدر عدد أكثر من الدورات وإن
قلتم: لا يمكن إطلاق لفظ سنين إلا بعد حدوث الفلك ودوره فلنترك لفظ سنين ولنورد
صيغة أخرى فنقول: إذا قدرنا أن العالم من أول وجوده قد دار فلكه إلى الآن بألف
دورة مثلًا، فهل كان الله قادرًا على أن يخلق قبله عالمًا ثانيًا مثله بحيث ينتهي
إلى زماننا هذا بألف ومائة دورة؟ فإن قلتم: لا، فكأنه انقلب القديم من العجز إلى
القدرة أو العالم من الاستحالة إلى الإمكان. وإن قلتم: نعم، ولا بد منه، فهل كان
يقدر على أن يخلق عالمًا ثالثًا بحيث ينتهي إلى زماننا بألف ومائتي دورة؟ ولا بد
من نعم.
قولنا فهناك مقدار معلوم ...
فنقول: هذا العالم الذي سميناه بحسب ترتيبنا في التقدير
ثالثًا، وإن كان هو الأسبق، فهل أمكن خلقه مع العالم الذي سميناه ثانيًا وكان
ينتهي إلينا بألف ومائتي دورة والآخر بألف ومائة دورة وهما متساويان في مسافة
الحركة وسرعتها؟ فإن قلتم: نعم، فهو محال إذ يستحيل أن يتساوى حركتان في السرعة
والبطء ثم تنتهيان إلى وقت واحد، والأعداد متفاوتة. وإن قلتم: إن العالم الثالث
الذي ينتهي إلينا بألف ومائتي دورة لا يمكن أن يخلق مع العالم الثاني الذي ينتهي
إلينا بألف ومائة دورة، بل لا بد وأن يخلقه قبله بمقدار يساوي المقدار الذي تقدم
العالم الثاني على العالم الأول، وسمينا الأول ما هو أقرب إلى وهمنا، إذ ارتقينا
من وقتنا إليه بالتقدير، فيكون قدر إمكان هو ضعف إمكان آخر، ولا بد من إمكان آخر
هو ضعف الكل.
فهناك زمان
فهذا الإمكان المقدر المكمم الذي بعضه أطول من البعض
بمقدار معلوم لا حقيقة له إلا الزمان، فليست هذه الكميات المقدرة صفة ذات الباري
تعالى عن التقدير ولا صفة عدم العالم، إذ العدم ليس شيئًا حتى يتقدر بمقادير
مختلفة، والكمية صفة فتستدعى ذا كمية، وليس ذلك إلا الحركة، والكمية إلا الزمان
الذي هو قدر الحركة. فإذن قبل العالم عندكم شيء ذو كمية متفاوتة وهو الزمان. فقبل
العالم عندكم زمان.
Wallahu A’lam...
Artikel Terkait:
Apakah Akal Mampu Memahami Adanya Awal Tanpa “Sebelum”?Penjelasan Imam al-Ghazali
Apakah Alam Memiliki “Sebelum” dan “Sesudah”? BantahanImam al-Ghazali terhadap Para Filsuf
Ruang Sebelum Alam dan Waktu Sebelum Alam: Bantahan Imamal-Ghazali

0 Komentar