Hak Kedua Persaudaraan dalam Islam: Membantu Saudara, Mendahulukan Kebutuhannya, dan Menjaga Ukhuwah (02/05/64)

Imam Al-Ghazali menjelaskan hak kedua persaudaraan: membantu kebutuhan saudara, mendahulukannya, menjaga kepedulian, dan berbuat dengan ikhlas

Pendahuluan

Persaudaraan dalam Islam tidak hanya dibuktikan melalui harta, tetapi juga melalui kesediaan memberikan tenaga, waktu, perhatian, dan pertolongan.

Setelah menjelaskan hak pertama berupa muwāsāh atau berbagi dalam harta, Imam Al-Ghazali melanjutkan kepada hak kedua, yaitu membantu saudara dalam memenuhi kebutuhannya.

Menurut Al-Ghazali, bantuan yang paling baik bukanlah bantuan yang diberikan setelah seseorang berkali-kali meminta. Persaudaraan yang sempurna justru membuat seseorang peka terhadap keadaan saudaranya, mengetahui waktu ketika ia membutuhkan pertolongan, kemudian segera membantunya sebelum ia terpaksa meminta.

Bahkan, seseorang dianjurkan untuk memandang kebutuhan saudaranya sebagaimana kebutuhan dirinya sendiri, atau bahkan menganggap kebutuhan saudaranya lebih penting ketika keadaan memungkinkan.

Yang lebih menarik, Al-Ghazali tidak hanya membahas memberikan bantuan, tetapi juga menjelaskan adab ketika membantu: dilakukan dengan wajah gembira, tanpa membuat saudara merasa berutang budi, tanpa mengungkit jasa, dan bahkan seolah-olah seseorang tidak merasa telah melakukan kebaikan.

Sumber

Kitab : Ihya' 'Ulumuddin (إحياء علوم الدين) Juz : 2

Bab: الباب الثاني في حقوق الأخوة والصحبة

Pembahasan: الحق الثاني في الإعانة بالنفس في قضاء الحاجات

Tema: Hak Kedua Persaudaraan — Membantu dengan Tenaga dalam Memenuhi Kebutuhan

Pengarang

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali Ath-Thusi
Wafat: 505 H.

Teks Arab

الحق الثاني

في الإعانة بالنفس في قضاء الحاجات والقيام بها قبل السؤال وتقديمها على الحاجات الخاصة .

وهذه أيضا لها درجات كما للمواساة بالمال فأدناها القيام بالحاجة عند السؤال والقدرة ولكن مع البشاشة والاستبشار وإظهار الفرح وقبول المنة .

قال بعضهم : إذا استقضيت أخاك حاجة فلم يقضها فذكره ثانية فلعله أن يكون قد نسي فإن لم يقضها فكبر عليه واقرأ هذه الآية والموتى يبعثهم الله وقضى ابن شبرمة حاجة لبعض إخوانه كبيرة فجاء بهدية فقال ما هذا قال ؟! : لما أسديته إلي فقال : خذ مالك عافاك الله إذا سألت أخاك حاجة فلم يجهد نفسه في قضائها فتوضأ للصلاة وكبر عليه أربع تكبيرات وعده في الموتى .

قال جعفر بن محمد إني لأتسارع إلى قضاء حوائج أعدائي مخافة أن أردهم فيستغنوا عني .

هذا في الأعداء فكيف في الأصدقاء وكان في السلف من يتفقد عيال أخيه وأولاده بعد موته أربعين سنة يقوم بحاجتهم ويتردد كل يوم إليهم ويمونهم من ماله فكانوا لا يفقدون من أبيهم إلا عينه بل كانوا يرون منه ما لم يروا من أبيهم في حياته وكان الواحد منهم يتردد إلى باب دار أخيه ويسأل ويقول : هل لكم زيت هل لكم ملح ؟ هل لكم حاجة ؟ وكان يقوم بها حيث لا يعرفه أخوه .

وبهذا تظهر الشفقة والأخوة فإذا لم تثمر الشفقة حتى يشفق على أخيه كما يشفق على نفسه فلا خير فيها .

قال ميمون بن مهران من لم تنتفع بصداقته لم تضرك عداوته .

وقال صلى الله عليه وسلم ألا وإن : " لله أواني في أرضه وهي القلوب فأحب الأواني إلى الله تعالى أصفاها وأصلبها وأرقها أصفاها من الذنوب وأصلبها في الدين وأرقها على الإخوان .

وبالجملة فينبغي أن تكون حاجة أخيك مثل حاجتك أو أهم من حاجتك وأن تكون متفقدا لأوقات الحاجة غير غافل عن أحواله كما لا تغفل عن أحوال نفسك وتغنيه عن السؤال وإظهار الحاجة إلى الاستعانة بل تقوم بحاجته كأنك لا تدري أنك قمت بها ولا ترى لنفسك حقا بسبب قيامك بها بل تتقلد منه بقبوله سعيك في حقه وقيامك بأمره .

ولا ينبغي أن تقتصر على قضاء الحاجة بل تجتهد في البداية بالإكرام في الزيادة والإيثار والتقديم على الأقارب والولد .

كان الحسن يقول إخواننا أحب إلينا من أهلنا وأولادنا لأن أهلنا يذكروننا بالدنيا وإخواننا يذكروننا بالآخرة .

وقال الحسن من شيع أخاه في الله بعث الله ملائكة من تحت عرشه يوم القيامة يشيعونه إلى الجنة .

وفي الأثر : ما زار رجل أخا في الله شوقا إلى لقائه إلا ناداه ملك من خلفه : طبت وطابت لك الجنة .

وقال عطاء تفقدوا إخوانكم بعد ثلاث فإن كانوا مرضى فعودوهم أو مشاغيل فأعينوهم أو كانوا نسوا فذكروهم .

وروي أن ابن عمر كان يلتفت يمينا وشمالا بين يدي رسول الله صلى الله عليه وسلم فسأله عن ذلك فقال أحببت رجلا فأنا أطلبه ولا أراه فقال إذا أحببت أحدا فسله عن اسمه واسم أبيه وعن منزله ، فإن كان مريضا عدته وإن كان مشغولا أعنته .

وفي رواية وعن اسم جده وعشيرته .

وقال الشعبي في الرجل يجالس الرجل فيقول : أعرف وجهه ولا أعرف اسمه ، تلك معرفة النوكى .

وقيل لابن عباس من أحب الناس إليك ؟ قال : جليسي وقال : ما اختلف رجل إلى مجلسي ثلاثا من غير حاجة له إلي فعلمت ما مكافأته من الدنيا .

وقال سعيد بن العاص لجليسي علي ثلاث : إذا دنا رحبت به ، وإذا حدث أقبلت عليه ، وإذا جلس أوسعت له .

وقد قال تعالى: رحماء بينهم إشارة إلى الشفقة والإكرام .

ومن تمام الشفقة أن لا ينفرد بطعام لذيذ أو بحضور في مسرة دونه بل يتنغض لفراقه ويستوحش بانفراده عن أخيه .

Terjemahan Lengkap

Hak Kedua: Membantu dengan Tenaga dalam Memenuhi Kebutuhan

Hak kedua adalah membantu dengan diri dan tenaga dalam memenuhi berbagai kebutuhan saudara, melaksanakannya sebelum ia meminta, serta mendahulukannya daripada kebutuhan pribadi.

Hak ini juga memiliki beberapa tingkatan, sebagaimana berbagi harta memiliki beberapa tingkatan.

Tingkatan pertama

Tingkat paling rendah adalah memenuhi kebutuhan saudara setelah ia meminta, ketika kita sebenarnya mampu melakukannya.

Namun, bantuan tersebut harus disertai:

  • wajah yang ceria;
  • kegembiraan;
  • menunjukkan rasa senang;
  • serta menerima pemberian atau jasa baik dari saudara tersebut tanpa merasa terbebani.

Dengan kata lain, jangan membantu dengan wajah masam seakan-akan kita sedang melakukan sesuatu yang sangat berat.

Jangan Membuat Saudara Berkali-Kali Meminta

Sebagian ulama berkata:

“Jika engkau meminta kepada saudaramu agar memenuhi suatu kebutuhanmu, tetapi ia tidak melaksanakannya, ingatkanlah ia untuk kedua kalinya. Barangkali ia lupa.

Jika setelah itu ia tetap tidak memenuhinya, maka anggaplah ia telah mati.”

Ia kemudian mengucapkan ayat:

وَالْمَوْتَىٰ يَبْعَثُهُمُ اللَّهُ

“Dan orang-orang yang telah mati akan dibangkitkan oleh Allah.”

Diriwayatkan pula bahwa Ibnu Syubrumah pernah memenuhi kebutuhan besar salah seorang saudaranya.

Setelah itu orang tersebut datang membawa hadiah sebagai ungkapan terima kasih.

Ibnu Syubrumah berkata:

“Apa ini?”

Orang itu menjawab:

“Ini karena kebaikan yang telah engkau berikan kepadaku.”

Ibnu Syubrumah berkata:

“Ambillah kembali hartamu, semoga Allah memberikan kesehatan kepadamu.”

Kemudian ia mengatakan bahwa apabila seseorang meminta kebutuhan kepada saudaranya lalu saudaranya tidak bersungguh-sungguh dalam memenuhinya, maka seakan-akan ia telah kehilangan kehidupan persaudaraan.

Bersegera Membantu Bahkan kepada Musuh

Ja‘far bin Muhammad berkata:

إني لأتسارع إلى قضاء حوائج أعدائي مخافة أن أردهم فيستغنوا عني

“Aku benar-benar bersegera memenuhi kebutuhan musuh-musuhku karena khawatir jika aku menolak mereka, mereka akan menjadi tidak membutuhkan diriku.”

Jika kepada musuh saja seseorang berusaha segera memenuhi kebutuhan mereka, lalu bagaimana dengan sahabat dan saudara?

Ini menunjukkan betapa tingginya nilai membantu orang lain dalam pandangan para ulama terdahulu.

Membantu Keluarga Saudara Setelah Ia Meninggal

Al-Ghazali kemudian menyebutkan sebuah gambaran yang sangat kuat tentang persaudaraan.

Di antara generasi salaf ada seseorang yang terus memperhatikan keluarga dan anak-anak saudaranya setelah saudaranya meninggal selama empat puluh tahun.

Ia memenuhi kebutuhan mereka, mengunjungi mereka setiap hari, dan menanggung kebutuhan mereka dari hartanya sendiri.

Anak-anak tersebut sampai tidak merasa kehilangan apa-apa dari ayah mereka kecuali kehadiran fisiknya.

Bahkan mereka mendapatkan perhatian darinya yang sebelumnya tidak mereka dapatkan dari ayah mereka ketika masih hidup.

Ini merupakan bentuk persaudaraan yang sangat tinggi: tidak membiarkan keluarga saudara menjadi terlantar hanya karena saudara tersebut telah meninggal.

Membantu Tanpa Diketahui Saudara

Ada pula seseorang yang sering datang ke pintu rumah saudaranya.

Ia bertanya:

“Apakah kalian memiliki minyak?”

“Apakah kalian memiliki garam?”

“Apakah ada kebutuhan yang kalian perlukan?”

Jika ada kebutuhan, ia segera memenuhinya.

Yang lebih mengagumkan, ia melakukan semua itu tanpa membuat saudaranya mengetahui bahwa dialah yang membantu.

Ini merupakan bentuk kasih sayang yang sangat halus.

Tujuannya bukan agar dirinya dipuji, tetapi agar kebutuhan saudaranya terpenuhi.

Ukuran Kasih Sayang dalam Persaudaraan

Al-Ghazali kemudian mengatakan bahwa melalui sikap tersebut akan terlihat kasih sayang dan hakikat persaudaraan.

Jika kasih sayang tidak sampai membuat seseorang merasa prihatin terhadap saudaranya sebagaimana ia prihatin terhadap dirinya sendiri, maka tidak ada kebaikan yang sempurna dalam persaudaraan tersebut.

Maimun bin Mihran berkata:

“Barang siapa persahabatannya tidak memberikan manfaat kepadamu, maka permusuhannya tidak akan membahayakanmu.”

Maksudnya, hubungan yang benar-benar memiliki nilai adalah hubungan yang menghadirkan manfaat kebaikan, perhatian, dan pertolongan.

Hati yang Dicintai Allah

Diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

ألا وإن لله أواني في أرضه وهي القلوب فأحب الأواني إلى الله تعالى أصفاها وأصلبها وأرقها

“Ketahuilah, sesungguhnya Allah mempunyai wadah-wadah di bumi-Nya, yaitu hati. Wadah yang paling Allah cintai adalah yang paling bersih, paling kokoh, dan paling lembut.”

Kemudian dijelaskan:

  • paling bersih, yaitu bersih dari dosa;
  • paling kokoh, yaitu kokoh dalam agama;
  • paling lembut, yaitu paling lembut terhadap saudara-saudaranya.

Maka hati yang baik bukan hanya hati yang kuat dalam menjalankan agama, tetapi juga lembut terhadap sesama.

Kebutuhan Saudara Harus Dianggap Seperti Kebutuhan Sendiri

Secara umum, Al-Ghazali menegaskan bahwa:

ينبغي أن تكون حاجة أخيك مثل حاجتك أو أهم من حاجتك

“Kebutuhan saudaramu hendaknya engkau anggap seperti kebutuhanmu sendiri atau bahkan lebih penting daripada kebutuhanmu.”

Karena itu, seseorang hendaknya selalu memperhatikan waktu-waktu ketika saudaranya membutuhkan pertolongan.

Jangan lalai terhadap keadaannya sebagaimana kita tidak lalai terhadap keadaan diri sendiri.

Bahkan, hendaknya seseorang membantu saudaranya sehingga ia tidak perlu meminta atau menunjukkan bahwa dirinya sedang membutuhkan pertolongan.

Membantu Tanpa Menganggap Diri Berjasa

Inilah salah satu adab paling tinggi dalam membantu.

Al-Ghazali mengatakan bahwa seseorang hendaknya membantu saudaranya seolah-olah:

لا تدري أنك قمت بها

“Engkau tidak merasa bahwa engkau telah melakukan sesuatu untuknya.”

Jangan menganggap bahwa karena kita telah membantu, maka kita memiliki hak atas saudara tersebut.

Sebaliknya, justru hendaknya kita merasa berutang kepadanya karena ia telah menerima bantuan kita dan memberi kesempatan kepada kita untuk melakukan kebaikan.

Ini adalah bentuk keikhlasan yang sangat tinggi.

Jangan Hanya Memenuhi Kebutuhan

Al-Ghazali menegaskan bahwa seseorang tidak seharusnya berhenti pada sekadar memenuhi kebutuhan.

Ia hendaknya berusaha menambahkan:

  • penghormatan;
  • pemberian tambahan;
  • pengutamaan;
  • dan itsar.

Bahkan dalam keadaan tertentu, saudara karena Allah didahulukan daripada kerabat dan anak.

Saudara yang Mengingatkan kepada Akhirat

Al-Hasan berkata:

إخواننا أحب إلينا من أهلنا وأولادنا لأن أهلنا يذكروننا بالدنيا وإخواننا يذكروننا بالآخرة

“Saudara-saudara kami lebih kami cintai daripada keluarga dan anak-anak kami, karena keluarga kami mengingatkan kami kepada dunia, sedangkan saudara-saudara kami mengingatkan kami kepada akhirat.”

Yang dimaksud bukan meremehkan keluarga, tetapi menunjukkan bahwa persaudaraan karena Allah mempunyai fungsi spiritual.

Teman yang baik bukan hanya membantu kebutuhan duniawi, tetapi juga mengingatkan seseorang kepada Allah dan akhirat.

Mengunjungi Saudara karena Allah

Al-Hasan juga berkata bahwa siapa yang mengantar atau menyertai saudaranya karena Allah, Allah akan mengutus para malaikat untuk menyertainya menuju surga pada hari kiamat.

Dalam sebuah atsar disebutkan:

“Tidaklah seseorang mengunjungi saudaranya karena Allah, karena rindu bertemu dengannya, kecuali seorang malaikat menyerunya dari belakang: ‘Engkau telah baik dan surga menjadi kebaikan bagimu.’”

Ini menunjukkan bahwa mengunjungi saudara bukan sekadar aktivitas sosial, tetapi dapat menjadi amal yang memiliki nilai akhirat.

Periksa Keadaan Saudara Secara Berkala

‘Atha berkata:

تفقدوا إخوانكم بعد ثلاث

“Periksalah keadaan saudara-saudara kalian setelah tiga hari.”

Jika mereka sakit:

فعودوهم

“Jenguklah mereka.”

Jika mereka sibuk:

فأعينوهم

“Bantulah mereka.”

Jika mereka lupa:

فذكروهم

“Ingatkanlah mereka.”

Ini menunjukkan bahwa persaudaraan membutuhkan perhatian aktif, bukan sekadar menunggu saudara menghubungi kita.

Mengenal Saudara dengan Baik

Diriwayatkan bahwa Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah menoleh ke kanan dan kiri di hadapan Rasulullah ﷺ.

Rasulullah ﷺ bertanya kepadanya mengenai hal tersebut.

Ia menjawab:

“Aku mencintai seseorang, tetapi aku sedang mencarinya dan tidak melihatnya.”

Rasulullah ﷺ kemudian mengajarkan bahwa jika seseorang mencintai orang lain, hendaknya ia mengetahui:

  • namanya;
  • nama ayahnya;
  • tempat tinggalnya.

Jika ia sakit, maka dijenguk.

Jika ia sedang sibuk, maka dibantu.

Dalam riwayat lain disebutkan pula untuk mengetahui nama kakek dan kabilahnya.

Pesannya adalah bahwa kasih sayang yang benar mendorong seseorang untuk mengenal keadaan saudaranya, bukan hanya mengenal wajahnya.

Sekadar Mengenal Wajah Belum Cukup

Asy-Sya‘bi berkata tentang seseorang yang sering duduk bersama orang lain tetapi hanya berkata:

“Aku mengenal wajahnya, tetapi tidak mengetahui namanya.”

Ia berkata:

تلك معرفة النوكى

“Itu adalah pengetahuan orang-orang yang bodoh.”

Maksudnya, kedekatan sosial yang sebenarnya tidak disertai perhatian terhadap identitas dan keadaan orang lain menunjukkan hubungan yang dangkal.

Menghormati Teman yang Duduk Bersama

Ibnu Abbas pernah ditanya:

“Siapakah manusia yang paling engkau cintai?”

Ia menjawab:

جليسي

“Orang yang sedang duduk bersamaku.”

Ia juga mengatakan bahwa jika seseorang datang ke majelisnya tiga kali bukan karena suatu kebutuhan yang ia perlukan dari Ibnu Abbas, maka ia mengetahui bagaimana membalas kebaikannya di dunia.

Ini menggambarkan penghargaan terhadap orang yang memilih hadir dan menemani kita.

Tiga Hak Teman Duduk

Sa‘id bin Al-‘Ash berkata:

لجليسي علي ثلاث

“Teman dudukku memiliki tiga hak atas diriku.”

Pertama:

إذا دنا رحبت به

“Jika ia mendekat, aku menyambutnya dengan hangat.”

Kedua:

وإذا حدث أقبلت عليه

“Jika ia berbicara, aku menghadapkan perhatian kepadanya.”

Ketiga:

وإذا جلس أوسعت له

“Jika ia duduk, aku memberikan ruang kepadanya.”

Tiga sikap ini sederhana, tetapi sangat penting dalam adab sosial:

menyambut, mendengarkan, dan memberikan ruang.

Kasih Sayang dan Penghormatan

Allah menyebut sifat orang-orang beriman:

رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ

“mereka saling berkasih sayang di antara mereka.”

Menurut Al-Ghazali, ayat ini menunjukkan pentingnya kasih sayang dan penghormatan dalam hubungan sesama orang beriman.

Persaudaraan bukan hanya tentang membantu ketika terjadi masalah.

Ia juga terlihat dalam cara seseorang:

  • menyambut saudaranya;
  • berbicara kepadanya;
  • mendengarkan;
  • memberikan ruang;
  • mengunjunginya;
  • dan memperhatikan keadaannya.

Tidak Menikmati Kebahagiaan Sendirian

Bagian akhir pembahasan ini sangat halus.

Kesempurnaan kasih sayang adalah seseorang tidak merasa nyaman menikmati makanan lezat atau kebahagiaan tertentu sendirian sementara saudaranya tidak bersamanya.

Ia merasa kurang sempurna jika saudaranya tidak ada.

Ia merasa sedih karena berpisah dan merasa kesepian ketika jauh dari saudaranya.

Inilah salah satu tanda bahwa cinta telah masuk ke dalam hati, bukan sekadar menjadi hubungan formal.

Artikel Pengembangan

1. Hak Persaudaraan Tidak Berhenti pada Harta

Pada pembahasan sebelumnya, Al-Ghazali menjelaskan hak saudara dalam harta.

Di sini beliau memperluasnya kepada tenaga dan tindakan nyata.

Seseorang mungkin tidak mempunyai banyak uang untuk diberikan, tetapi ia masih memiliki:

  • tenaga;
  • waktu;
  • kemampuan;
  • keahlian;
  • jaringan;
  • perhatian;
  • dan kesempatan untuk membantu.

Karena itu, kemiskinan materi tidak menghalangi seseorang untuk menjadi saudara yang sangat bermanfaat.

2. Membantu Sebelum Diminta

Ada perbedaan besar antara:

“Apa yang kamu perlukan? Katakan kepadaku.”

dan:

“Aku melihat kamu sedang kesulitan. Biar aku bantu.”

Yang kedua membutuhkan kepekaan.

Seseorang tidak hanya menunggu permintaan, tetapi belajar membaca keadaan saudaranya.

Inilah salah satu ciri ukhuwah yang matang.

3. Bantuan Harus Disertai Kelembutan

Bantuan yang diberikan dengan wajah marah dapat berubah menjadi beban.

Misalnya seseorang berkata:

“Sudah, ini uangnya. Jangan merepotkan lagi.”

Secara lahiriah ia membantu, tetapi secara batin ia mungkin sedang menyakiti.

Al-Ghazali justru menekankan:

البشاشة والاستبشار

yaitu wajah yang ceria dan menunjukkan kegembiraan.

Dengan demikian, saudara yang menerima bantuan merasa bahwa dirinya dihormati, bukan dikasihani secara merendahkan.

4. Jangan Mengungkit Bantuan

Salah satu penyakit dalam hubungan sosial adalah mengingat terus kebaikan yang pernah dilakukan.

Setelah membantu seseorang, kemudian setiap kali terjadi perselisihan ia berkata:

“Dulu siapa yang membantu kamu?”

Sikap seperti ini merusak nilai persaudaraan.

Menurut semangat pembahasan Al-Ghazali, orang yang membantu seharusnya justru berusaha melupakan jasanya sendiri.

5. Membantu Keluarga Saudara

Ukhuwah tidak selalu berhenti pada individu.

Jika seorang saudara meninggal, kepedulian terhadap keluarganya merupakan salah satu bentuk kesetiaan yang paling kuat.

Anak-anaknya, pasangan, dan keluarganya tidak boleh dianggap sebagai orang asing.

Orang yang benar-benar mencintai saudaranya akan berusaha memastikan bahwa kebaikan yang dulu diberikan kepada saudaranya terus berlanjut kepada keluarganya.

6. Mengenal Keadaan Saudara

Persaudaraan membutuhkan perhatian.

Kita tidak mungkin membantu orang yang sama sekali tidak kita kenal keadaannya.

Karena itu, mengetahui:

  • apakah ia sakit;
  • apakah ia sedang sibuk;
  • apakah ia sedang mengalami kesulitan;
  • apakah keluarganya membutuhkan bantuan;
  • apakah ia membutuhkan nasihat;

merupakan bagian dari menjaga ukhuwah.

Penjelasan

Tingkatan Hak Kedua

Secara praktis, pembahasan ini dapat dipahami dalam beberapa tingkat:

Tingkat

Bentuk Bantuan

Terendah

Membantu setelah diminta

Lebih tinggi

Membantu dengan wajah ceria

Lebih tinggi

Mengetahui kebutuhan sebelum diminta

Tinggi

Mendahulukan kebutuhan saudara

Tertinggi

Membantu tanpa merasa berjasa dan tanpa menunggu ucapan terima kasih

Semakin tinggi tingkatannya, semakin kuat unsur ihsan dan itsar di dalamnya.

Contoh

Contoh 1: Teman Sakit

Seorang sahabat tidak masuk kerja karena sakit.

Alih-alih menunggu ia meminta bantuan, kita menghubunginya, menanyakan kebutuhannya, kemudian menawarkan bantuan yang benar-benar dapat kita lakukan.

Itulah bentuk tafakkud atau perhatian terhadap keadaan saudara.

Contoh 2: Membantu Pekerjaan

Seorang teman sedang menyelesaikan pekerjaan yang sangat berat.

Kita memiliki waktu dan kemampuan untuk membantunya.

Daripada menunggu ia meminta, kita menawarkan:

“Bagian ini biar saya yang kerjakan.”

Ini sesuai dengan semangat membantu sebelum diminta.

Contoh 3: Membantu Tanpa Mempermalukan

Seorang sahabat sedang mengalami kesulitan ekonomi.

Kita mengetahui keadaannya dan ingin membantu.

Daripada membicarakannya kepada banyak orang, kita membantu secara pribadi dan menjaga kehormatannya.

Ini lebih dekat dengan kasih sayang yang tulus.

Contoh 4: Membantu Keluarga Saudara

Seorang sahabat meninggal dunia dan meninggalkan anak-anak.

Hubungan persaudaraan tidak otomatis berakhir.

Kita dapat membantu biaya pendidikan, kebutuhan sehari-hari, atau sekadar rutin mengunjungi mereka.

Ini merupakan bentuk kesetiaan terhadap persaudaraan.

Contoh 5: Mengingatkan Saudara

Seorang teman mulai lalai dalam kewajiban agama.

Kita tidak mencelanya di depan orang lain.

Kita berbicara secara pribadi, lembut, dan penuh kasih sayang.

Ini adalah bentuk membantu saudara dalam perkara yang lebih penting daripada urusan materi.

Contoh 6: Menyambut Teman

Ketika seorang teman datang, kita menyambutnya dengan hangat.

Ketika ia berbicara, kita berhenti memainkan telepon dan benar-benar mendengarkannya.

Ketika ia duduk, kita memberikan ruang.

Tiga sikap sederhana ini merupakan implementasi dari nasihat Sa‘id bin Al-‘Ash.

Kesimpulan

Hak kedua persaudaraan menurut Imam Al-Ghazali adalah membantu saudara dengan tenaga dalam memenuhi kebutuhannya, berusaha melakukannya sebelum ia meminta, serta mendahulukannya atas kebutuhan pribadi ketika keadaan memungkinkan.

Bantuan memiliki tingkatan. Tingkat terendah adalah membantu setelah diminta. Namun bantuan tersebut tetap harus diberikan dengan wajah ceria, kegembiraan, dan tanpa menunjukkan rasa berat.

Tingkatan yang lebih tinggi adalah mengetahui kebutuhan saudara sebelum ia meminta.

Adapun tingkatan yang lebih sempurna adalah membantu tanpa merasa berjasa, tidak mengungkit kebaikan, bahkan merasa bahwa kita justru mendapatkan kehormatan karena saudara bersedia menerima bantuan kita.

Al-Ghazali juga memperluas makna persaudaraan kepada mengunjungi orang sakit, membantu orang yang sibuk, mengingatkan orang yang lupa, mengenal keadaan saudara, menjaga keluarganya setelah wafat, menyambut tamu, mendengarkan pembicaraan, dan memberikan ruang kepada teman.

Dengan demikian, persaudaraan yang sejati adalah persaudaraan yang aktif, bukan sekadar perasaan.

Hikmah

1. Persaudaraan membutuhkan tindakan

Cinta yang tidak menghasilkan kepedulian dan pertolongan masih merupakan cinta yang belum sempurna.

2. Jangan menunggu saudara meminta

Kepekaan terhadap kebutuhan orang lain merupakan salah satu tanda kedewasaan ukhuwah.

3. Membantu harus dengan wajah yang menyenangkan

Jangan menjadikan bantuan sebagai sumber rasa malu bagi orang yang menerima.

4. Jangan merasa berjasa

Orang yang ikhlas berusaha melupakan kebaikannya sendiri.

5. Kenali keadaan saudaramu

Mengetahui bahwa saudara sakit, sibuk, atau mengalami kesulitan merupakan bagian dari menjaga hubungan.

6. Persaudaraan tetap hidup setelah kematian

Kesetiaan kepada saudara dapat diwujudkan dengan memperhatikan keluarga dan anak-anaknya setelah ia meninggal.

7. Teman yang baik mengingatkan kepada akhirat

Persahabatan terbaik bukan hanya memberikan keuntungan dunia, tetapi juga membawa seseorang lebih dekat kepada Allah.

8. Kelembutan adalah kekuatan

Hati yang kokoh dalam agama tidak harus keras kepada manusia. Justru salah satu sifat hati yang baik adalah lembut kepada saudara.

9. Perhatian kecil dapat menjadi tanda cinta besar

Menanyakan kabar, mengunjungi orang sakit, membantu pekerjaan, atau memberikan ruang ketika seseorang duduk merupakan tindakan sederhana yang dapat memperkuat ukhuwah.

10. Persaudaraan adalah amanah

Ketika seseorang menyebut orang lain sebagai saudaranya karena Allah, maka ia menerima sebuah amanah untuk memperhatikan, membantu, menjaga, dan menginginkan kebaikan bagi saudaranya.

Penutup

Hak persaudaraan yang kedua mengajarkan bahwa ukhuwah tidak boleh hanya berhenti pada ucapan “aku menyayangimu karena Allah”. Cinta harus diterjemahkan menjadi pertolongan yang nyata.

Saudara yang benar-benar kita cintai adalah saudara yang kita perhatikan ketika ia sakit, kita bantu ketika ia sibuk, kita ingatkan ketika ia lupa, kita kunjungi ketika ia membutuhkan teman, dan kita bantu tanpa menunggu ia merendahkan dirinya dengan meminta.

Lebih tinggi lagi, kita belajar mendahulukan kebutuhannya, menjaga kehormatannya, dan tidak merasa berjasa setelah menolongnya.

Inilah keindahan ukhuwah yang digambarkan Imam Al-Ghazali: kebutuhan saudara dipandang seperti kebutuhan diri sendiri, penderitaannya dirasakan sebagai penderitaan sendiri, dan kebahagiaannya menjadi kebahagiaan kita.

Persaudaraan seperti inilah yang menjadikan hubungan antarmanusia bukan sekadar hubungan sosial, tetapi jalan menuju kasih sayang Allah dan bekal menuju kehidupan akhirat.

Wallahu A’lam...

Artikel Terkait :

8 Hak Persaudaraan dalam Islam: Harta, Pengorbanan, Itsar, dan AdabPersahabatan Menurut Imam Al-Ghazali (02/05/63)

Bahaya Berteman dengan Orang yang Cinta Dunia: Nasihat Imam Al-Ghazalitentang Pengaruh Lingkungan (02/05/62)

Hak Ketiga Persaudaraan dalamIslam: Menjaga Lisan, Menutup Aib, Menjaga Rahasia, dan Meninggalkan Perdebatan(02/05/65)

Posting Komentar

0 Komentar