Pendahuluan
Persaudaraan dalam Islam tidak hanya
dibuktikan melalui harta, tetapi juga melalui kesediaan memberikan tenaga,
waktu, perhatian, dan pertolongan.
Setelah menjelaskan hak pertama
berupa muwāsāh atau berbagi dalam harta, Imam Al-Ghazali melanjutkan
kepada hak kedua, yaitu membantu saudara dalam memenuhi kebutuhannya.
Menurut Al-Ghazali, bantuan yang
paling baik bukanlah bantuan yang diberikan setelah seseorang berkali-kali
meminta. Persaudaraan yang sempurna justru membuat seseorang peka terhadap
keadaan saudaranya, mengetahui waktu ketika ia membutuhkan pertolongan,
kemudian segera membantunya sebelum ia terpaksa meminta.
Bahkan, seseorang dianjurkan untuk
memandang kebutuhan saudaranya sebagaimana kebutuhan dirinya sendiri, atau
bahkan menganggap kebutuhan saudaranya lebih penting ketika keadaan
memungkinkan.
Yang lebih menarik, Al-Ghazali tidak
hanya membahas memberikan bantuan, tetapi juga menjelaskan adab ketika
membantu: dilakukan dengan wajah gembira, tanpa membuat saudara merasa berutang
budi, tanpa mengungkit jasa, dan bahkan seolah-olah seseorang tidak merasa
telah melakukan kebaikan.
Sumber
Kitab : Ihya' 'Ulumuddin (إحياء
علوم الدين) Juz : 2
Bab: الباب الثاني في حقوق الأخوة
والصحبة
Pembahasan: الحق الثاني في الإعانة بالنفس
في قضاء الحاجات
Tema: Hak Kedua Persaudaraan — Membantu dengan Tenaga dalam
Memenuhi Kebutuhan
Pengarang
Abu Hamid Muhammad bin Muhammad
Al-Ghazali Ath-Thusi
Wafat: 505 H.
Teks Arab
الحق
الثاني
في الإعانة بالنفس في قضاء الحاجات
والقيام بها قبل السؤال وتقديمها على الحاجات الخاصة
.
وهذه أيضا لها درجات كما للمواساة
بالمال فأدناها القيام بالحاجة عند السؤال والقدرة ولكن مع البشاشة والاستبشار
وإظهار الفرح وقبول المنة
.
قال بعضهم : إذا استقضيت أخاك حاجة
فلم يقضها فذكره ثانية فلعله أن يكون قد نسي فإن لم يقضها فكبر عليه واقرأ هذه
الآية والموتى يبعثهم الله وقضى ابن شبرمة حاجة لبعض إخوانه كبيرة فجاء بهدية فقال
ما هذا قال ؟! : لما أسديته إلي فقال : خذ مالك عافاك الله إذا سألت أخاك حاجة فلم
يجهد نفسه في قضائها فتوضأ للصلاة وكبر عليه أربع تكبيرات وعده في الموتى .
قال جعفر بن محمد إني لأتسارع إلى
قضاء حوائج أعدائي مخافة أن أردهم فيستغنوا عني
.
هذا في الأعداء فكيف في الأصدقاء وكان
في السلف من يتفقد عيال أخيه وأولاده بعد موته أربعين سنة يقوم بحاجتهم ويتردد كل
يوم إليهم ويمونهم من ماله فكانوا لا يفقدون من أبيهم إلا عينه بل كانوا يرون منه
ما لم يروا من أبيهم في حياته وكان الواحد منهم يتردد إلى باب دار أخيه ويسأل
ويقول : هل لكم زيت هل لكم ملح ؟ هل لكم حاجة ؟ وكان يقوم بها حيث لا يعرفه أخوه .
وبهذا تظهر الشفقة والأخوة فإذا لم
تثمر الشفقة حتى يشفق على أخيه كما يشفق على نفسه فلا خير فيها .
قال ميمون بن مهران من لم تنتفع
بصداقته لم تضرك عداوته
.
وقال صلى الله عليه وسلم ألا وإن :
" لله أواني في أرضه وهي القلوب فأحب الأواني إلى الله تعالى أصفاها وأصلبها
وأرقها أصفاها من الذنوب وأصلبها في الدين وأرقها على الإخوان .
وبالجملة فينبغي أن تكون حاجة أخيك
مثل حاجتك أو أهم من حاجتك وأن تكون متفقدا لأوقات الحاجة غير غافل عن أحواله كما
لا تغفل عن أحوال نفسك وتغنيه عن السؤال وإظهار الحاجة إلى الاستعانة بل تقوم
بحاجته كأنك لا تدري أنك قمت بها ولا ترى لنفسك حقا بسبب قيامك بها بل تتقلد منه
بقبوله سعيك في حقه وقيامك بأمره
.
ولا ينبغي أن تقتصر على قضاء الحاجة
بل تجتهد في البداية بالإكرام في الزيادة والإيثار والتقديم على الأقارب والولد .
كان الحسن يقول إخواننا أحب إلينا من
أهلنا وأولادنا لأن أهلنا يذكروننا بالدنيا وإخواننا يذكروننا بالآخرة .
وقال الحسن من شيع أخاه في الله بعث
الله ملائكة من تحت عرشه يوم القيامة يشيعونه إلى الجنة
.
وفي الأثر : ما زار رجل أخا في الله
شوقا إلى لقائه إلا ناداه ملك من خلفه : طبت وطابت لك الجنة
.
وقال عطاء تفقدوا إخوانكم بعد ثلاث
فإن كانوا مرضى فعودوهم أو مشاغيل فأعينوهم أو كانوا نسوا فذكروهم .
وروي أن ابن عمر كان يلتفت يمينا
وشمالا بين يدي رسول الله صلى الله عليه وسلم فسأله عن ذلك فقال أحببت رجلا فأنا
أطلبه ولا أراه فقال إذا أحببت أحدا فسله عن اسمه واسم أبيه وعن منزله ، فإن كان
مريضا عدته وإن كان مشغولا أعنته
.
وفي رواية وعن اسم جده وعشيرته .
وقال الشعبي في الرجل يجالس الرجل
فيقول : أعرف وجهه ولا أعرف اسمه ، تلك معرفة النوكى
.
وقيل لابن عباس من أحب الناس إليك ؟
قال : جليسي وقال : ما اختلف رجل إلى مجلسي ثلاثا من غير حاجة له إلي فعلمت ما
مكافأته من الدنيا
.
وقال سعيد بن العاص لجليسي علي ثلاث :
إذا دنا رحبت به ، وإذا حدث أقبلت عليه ، وإذا جلس أوسعت له
.
وقد قال تعالى: رحماء بينهم إشارة إلى
الشفقة والإكرام .
ومن تمام الشفقة أن لا ينفرد بطعام
لذيذ أو بحضور في مسرة دونه بل يتنغض لفراقه ويستوحش بانفراده عن أخيه .
Terjemahan Lengkap
Hak
Kedua: Membantu dengan Tenaga dalam Memenuhi Kebutuhan
Hak kedua adalah membantu dengan
diri dan tenaga dalam memenuhi berbagai kebutuhan saudara, melaksanakannya
sebelum ia meminta, serta mendahulukannya daripada kebutuhan pribadi.
Hak ini juga memiliki beberapa
tingkatan, sebagaimana berbagi harta memiliki beberapa tingkatan.
Tingkatan
pertama
Tingkat paling rendah adalah
memenuhi kebutuhan saudara setelah ia meminta, ketika kita sebenarnya
mampu melakukannya.
Namun, bantuan tersebut harus
disertai:
- wajah yang ceria;
- kegembiraan;
- menunjukkan rasa senang;
- serta menerima pemberian atau jasa baik dari saudara
tersebut tanpa merasa terbebani.
Dengan kata lain, jangan membantu
dengan wajah masam seakan-akan kita sedang melakukan sesuatu yang sangat berat.
Jangan Membuat Saudara Berkali-Kali
Meminta
Sebagian ulama berkata:
“Jika engkau meminta kepada
saudaramu agar memenuhi suatu kebutuhanmu, tetapi ia tidak melaksanakannya,
ingatkanlah ia untuk kedua kalinya. Barangkali ia lupa.
Jika setelah itu ia tetap tidak
memenuhinya, maka anggaplah ia telah mati.”
Ia kemudian mengucapkan ayat:
وَالْمَوْتَىٰ
يَبْعَثُهُمُ اللَّهُ
“Dan orang-orang yang telah mati
akan dibangkitkan oleh Allah.”
Diriwayatkan pula bahwa Ibnu
Syubrumah pernah memenuhi kebutuhan besar salah seorang saudaranya.
Setelah itu orang tersebut datang
membawa hadiah sebagai ungkapan terima kasih.
Ibnu Syubrumah berkata:
“Apa ini?”
Orang itu menjawab:
“Ini karena kebaikan yang telah
engkau berikan kepadaku.”
Ibnu Syubrumah berkata:
“Ambillah kembali hartamu, semoga
Allah memberikan kesehatan kepadamu.”
Kemudian ia mengatakan bahwa apabila
seseorang meminta kebutuhan kepada saudaranya lalu saudaranya tidak
bersungguh-sungguh dalam memenuhinya, maka seakan-akan ia telah kehilangan
kehidupan persaudaraan.
Bersegera Membantu Bahkan kepada
Musuh
Ja‘far bin Muhammad berkata:
إني
لأتسارع إلى قضاء حوائج أعدائي مخافة أن أردهم فيستغنوا عني
“Aku benar-benar bersegera memenuhi
kebutuhan musuh-musuhku karena khawatir jika aku menolak mereka, mereka akan
menjadi tidak membutuhkan diriku.”
Jika kepada musuh saja
seseorang berusaha segera memenuhi kebutuhan mereka, lalu bagaimana dengan sahabat
dan saudara?
Ini menunjukkan betapa tingginya
nilai membantu orang lain dalam pandangan para ulama terdahulu.
Membantu Keluarga Saudara Setelah Ia
Meninggal
Al-Ghazali kemudian menyebutkan
sebuah gambaran yang sangat kuat tentang persaudaraan.
Di antara generasi salaf ada
seseorang yang terus memperhatikan keluarga dan anak-anak saudaranya setelah
saudaranya meninggal selama empat puluh tahun.
Ia memenuhi kebutuhan mereka,
mengunjungi mereka setiap hari, dan menanggung kebutuhan mereka dari hartanya
sendiri.
Anak-anak tersebut sampai tidak
merasa kehilangan apa-apa dari ayah mereka kecuali kehadiran fisiknya.
Bahkan mereka mendapatkan perhatian
darinya yang sebelumnya tidak mereka dapatkan dari ayah mereka ketika masih
hidup.
Ini merupakan bentuk persaudaraan
yang sangat tinggi: tidak membiarkan keluarga saudara menjadi terlantar
hanya karena saudara tersebut telah meninggal.
Membantu Tanpa Diketahui Saudara
Ada pula seseorang yang sering
datang ke pintu rumah saudaranya.
Ia bertanya:
“Apakah kalian memiliki minyak?”
“Apakah kalian memiliki garam?”
“Apakah ada kebutuhan yang kalian
perlukan?”
Jika ada kebutuhan, ia segera
memenuhinya.
Yang lebih mengagumkan, ia melakukan
semua itu tanpa membuat saudaranya mengetahui bahwa dialah yang membantu.
Ini merupakan bentuk kasih sayang
yang sangat halus.
Tujuannya bukan agar dirinya dipuji,
tetapi agar kebutuhan saudaranya terpenuhi.
Ukuran Kasih Sayang dalam
Persaudaraan
Al-Ghazali kemudian mengatakan bahwa
melalui sikap tersebut akan terlihat kasih sayang dan hakikat persaudaraan.
Jika kasih sayang tidak sampai
membuat seseorang merasa prihatin terhadap saudaranya sebagaimana ia prihatin
terhadap dirinya sendiri, maka tidak ada kebaikan yang sempurna dalam persaudaraan
tersebut.
Maimun bin Mihran berkata:
“Barang siapa persahabatannya tidak
memberikan manfaat kepadamu, maka permusuhannya tidak akan membahayakanmu.”
Maksudnya, hubungan yang benar-benar
memiliki nilai adalah hubungan yang menghadirkan manfaat kebaikan, perhatian,
dan pertolongan.
Hati yang Dicintai Allah
Diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
ألا
وإن لله أواني في أرضه وهي القلوب فأحب الأواني إلى الله تعالى أصفاها وأصلبها
وأرقها
“Ketahuilah, sesungguhnya Allah
mempunyai wadah-wadah di bumi-Nya, yaitu hati. Wadah yang paling Allah cintai
adalah yang paling bersih, paling kokoh, dan paling lembut.”
Kemudian dijelaskan:
- paling bersih,
yaitu bersih dari dosa;
- paling kokoh,
yaitu kokoh dalam agama;
- paling lembut,
yaitu paling lembut terhadap saudara-saudaranya.
Maka hati yang baik bukan hanya hati
yang kuat dalam menjalankan agama, tetapi juga lembut terhadap sesama.
Kebutuhan Saudara Harus Dianggap
Seperti Kebutuhan Sendiri
Secara umum, Al-Ghazali menegaskan
bahwa:
ينبغي
أن تكون حاجة أخيك مثل حاجتك أو أهم من حاجتك
“Kebutuhan saudaramu hendaknya
engkau anggap seperti kebutuhanmu sendiri atau bahkan lebih penting daripada
kebutuhanmu.”
Karena itu, seseorang hendaknya
selalu memperhatikan waktu-waktu ketika saudaranya membutuhkan pertolongan.
Jangan lalai terhadap keadaannya
sebagaimana kita tidak lalai terhadap keadaan diri sendiri.
Bahkan, hendaknya seseorang membantu
saudaranya sehingga ia tidak perlu meminta atau menunjukkan bahwa
dirinya sedang membutuhkan pertolongan.
Membantu Tanpa Menganggap Diri
Berjasa
Inilah salah satu adab paling tinggi
dalam membantu.
Al-Ghazali mengatakan bahwa
seseorang hendaknya membantu saudaranya seolah-olah:
لا
تدري أنك قمت بها
“Engkau tidak merasa bahwa engkau
telah melakukan sesuatu untuknya.”
Jangan menganggap bahwa karena kita
telah membantu, maka kita memiliki hak atas saudara tersebut.
Sebaliknya, justru hendaknya kita
merasa berutang kepadanya karena ia telah menerima bantuan kita dan memberi
kesempatan kepada kita untuk melakukan kebaikan.
Ini adalah bentuk keikhlasan yang
sangat tinggi.
Jangan Hanya Memenuhi Kebutuhan
Al-Ghazali menegaskan bahwa
seseorang tidak seharusnya berhenti pada sekadar memenuhi kebutuhan.
Ia hendaknya berusaha menambahkan:
- penghormatan;
- pemberian tambahan;
- pengutamaan;
- dan itsar.
Bahkan dalam keadaan tertentu,
saudara karena Allah didahulukan daripada kerabat dan anak.
Saudara yang Mengingatkan kepada
Akhirat
Al-Hasan berkata:
إخواننا
أحب إلينا من أهلنا وأولادنا لأن أهلنا يذكروننا بالدنيا وإخواننا يذكروننا
بالآخرة
“Saudara-saudara kami lebih kami
cintai daripada keluarga dan anak-anak kami, karena keluarga kami mengingatkan
kami kepada dunia, sedangkan saudara-saudara kami mengingatkan kami kepada
akhirat.”
Yang dimaksud bukan meremehkan
keluarga, tetapi menunjukkan bahwa persaudaraan karena Allah mempunyai
fungsi spiritual.
Teman yang baik bukan hanya membantu
kebutuhan duniawi, tetapi juga mengingatkan seseorang kepada Allah dan akhirat.
Mengunjungi Saudara karena Allah
Al-Hasan juga berkata bahwa siapa
yang mengantar atau menyertai saudaranya karena Allah, Allah akan mengutus para
malaikat untuk menyertainya menuju surga pada hari kiamat.
Dalam sebuah atsar disebutkan:
“Tidaklah seseorang mengunjungi
saudaranya karena Allah, karena rindu bertemu dengannya, kecuali seorang
malaikat menyerunya dari belakang: ‘Engkau telah baik dan surga menjadi
kebaikan bagimu.’”
Ini menunjukkan bahwa mengunjungi
saudara bukan sekadar aktivitas sosial, tetapi dapat menjadi amal yang
memiliki nilai akhirat.
Periksa Keadaan Saudara Secara
Berkala
‘Atha berkata:
تفقدوا
إخوانكم بعد ثلاث
“Periksalah keadaan saudara-saudara
kalian setelah tiga hari.”
Jika mereka sakit:
فعودوهم
“Jenguklah mereka.”
Jika mereka sibuk:
فأعينوهم
“Bantulah mereka.”
Jika mereka lupa:
فذكروهم
“Ingatkanlah mereka.”
Ini menunjukkan bahwa persaudaraan
membutuhkan perhatian aktif, bukan sekadar menunggu saudara menghubungi
kita.
Mengenal Saudara dengan Baik
Diriwayatkan bahwa Ibnu Umar
radhiyallahu ‘anhuma pernah menoleh ke kanan dan kiri di hadapan Rasulullah ﷺ.
Rasulullah ﷺ
bertanya kepadanya mengenai hal tersebut.
Ia menjawab:
“Aku mencintai seseorang, tetapi aku
sedang mencarinya dan tidak melihatnya.”
Rasulullah ﷺ
kemudian mengajarkan bahwa jika seseorang mencintai orang lain, hendaknya ia
mengetahui:
- namanya;
- nama ayahnya;
- tempat tinggalnya.
Jika ia sakit, maka dijenguk.
Jika ia sedang sibuk, maka dibantu.
Dalam riwayat lain disebutkan pula
untuk mengetahui nama kakek dan kabilahnya.
Pesannya adalah bahwa kasih sayang
yang benar mendorong seseorang untuk mengenal keadaan saudaranya, bukan
hanya mengenal wajahnya.
Sekadar Mengenal Wajah Belum Cukup
Asy-Sya‘bi berkata tentang seseorang
yang sering duduk bersama orang lain tetapi hanya berkata:
“Aku mengenal wajahnya, tetapi tidak
mengetahui namanya.”
Ia berkata:
تلك
معرفة النوكى
“Itu adalah pengetahuan orang-orang
yang bodoh.”
Maksudnya, kedekatan sosial yang
sebenarnya tidak disertai perhatian terhadap identitas dan keadaan orang lain
menunjukkan hubungan yang dangkal.
Menghormati Teman yang Duduk Bersama
Ibnu Abbas pernah ditanya:
“Siapakah manusia yang paling engkau
cintai?”
Ia menjawab:
جليسي
“Orang yang sedang duduk bersamaku.”
Ia juga mengatakan bahwa jika
seseorang datang ke majelisnya tiga kali bukan karena suatu kebutuhan yang ia
perlukan dari Ibnu Abbas, maka ia mengetahui bagaimana membalas kebaikannya di
dunia.
Ini menggambarkan penghargaan
terhadap orang yang memilih hadir dan menemani kita.
Tiga Hak Teman Duduk
Sa‘id bin Al-‘Ash berkata:
لجليسي
علي ثلاث
“Teman dudukku memiliki tiga hak
atas diriku.”
Pertama:
إذا
دنا رحبت به
“Jika ia mendekat, aku menyambutnya
dengan hangat.”
Kedua:
وإذا
حدث أقبلت عليه
“Jika ia berbicara, aku menghadapkan
perhatian kepadanya.”
Ketiga:
وإذا
جلس أوسعت له
“Jika ia duduk, aku memberikan ruang
kepadanya.”
Tiga sikap ini sederhana, tetapi
sangat penting dalam adab sosial:
menyambut, mendengarkan, dan
memberikan ruang.
Kasih Sayang dan Penghormatan
Allah menyebut sifat orang-orang
beriman:
رُحَمَاءُ
بَيْنَهُمْ
“mereka saling berkasih sayang di
antara mereka.”
Menurut Al-Ghazali, ayat ini
menunjukkan pentingnya kasih sayang dan penghormatan dalam hubungan
sesama orang beriman.
Persaudaraan bukan hanya tentang
membantu ketika terjadi masalah.
Ia juga terlihat dalam cara
seseorang:
- menyambut saudaranya;
- berbicara kepadanya;
- mendengarkan;
- memberikan ruang;
- mengunjunginya;
- dan memperhatikan keadaannya.
Tidak Menikmati Kebahagiaan
Sendirian
Bagian akhir pembahasan ini sangat
halus.
Kesempurnaan kasih sayang adalah
seseorang tidak merasa nyaman menikmati makanan lezat atau kebahagiaan tertentu
sendirian sementara saudaranya tidak bersamanya.
Ia merasa kurang sempurna jika
saudaranya tidak ada.
Ia merasa sedih karena berpisah dan
merasa kesepian ketika jauh dari saudaranya.
Inilah salah satu tanda bahwa cinta
telah masuk ke dalam hati, bukan sekadar menjadi hubungan formal.
Artikel Pengembangan
1.
Hak Persaudaraan Tidak Berhenti pada Harta
Pada pembahasan sebelumnya,
Al-Ghazali menjelaskan hak saudara dalam harta.
Di sini beliau memperluasnya kepada tenaga
dan tindakan nyata.
Seseorang mungkin tidak mempunyai
banyak uang untuk diberikan, tetapi ia masih memiliki:
- tenaga;
- waktu;
- kemampuan;
- keahlian;
- jaringan;
- perhatian;
- dan kesempatan untuk membantu.
Karena itu, kemiskinan materi tidak
menghalangi seseorang untuk menjadi saudara yang sangat bermanfaat.
2.
Membantu Sebelum Diminta
Ada perbedaan besar antara:
“Apa yang kamu perlukan? Katakan
kepadaku.”
dan:
“Aku melihat kamu sedang kesulitan.
Biar aku bantu.”
Yang kedua membutuhkan kepekaan.
Seseorang tidak hanya menunggu
permintaan, tetapi belajar membaca keadaan saudaranya.
Inilah salah satu ciri ukhuwah yang
matang.
3.
Bantuan Harus Disertai Kelembutan
Bantuan yang diberikan dengan wajah
marah dapat berubah menjadi beban.
Misalnya seseorang berkata:
“Sudah, ini uangnya. Jangan
merepotkan lagi.”
Secara lahiriah ia membantu, tetapi
secara batin ia mungkin sedang menyakiti.
Al-Ghazali justru menekankan:
البشاشة
والاستبشار
yaitu wajah yang ceria dan
menunjukkan kegembiraan.
Dengan demikian, saudara yang
menerima bantuan merasa bahwa dirinya dihormati, bukan dikasihani secara
merendahkan.
4.
Jangan Mengungkit Bantuan
Salah satu penyakit dalam hubungan
sosial adalah mengingat terus kebaikan yang pernah dilakukan.
Setelah membantu seseorang, kemudian
setiap kali terjadi perselisihan ia berkata:
“Dulu siapa yang membantu kamu?”
Sikap seperti ini merusak nilai
persaudaraan.
Menurut semangat pembahasan
Al-Ghazali, orang yang membantu seharusnya justru berusaha melupakan jasanya
sendiri.
5.
Membantu Keluarga Saudara
Ukhuwah tidak selalu berhenti pada
individu.
Jika seorang saudara meninggal,
kepedulian terhadap keluarganya merupakan salah satu bentuk kesetiaan yang
paling kuat.
Anak-anaknya, pasangan, dan
keluarganya tidak boleh dianggap sebagai orang asing.
Orang yang benar-benar mencintai
saudaranya akan berusaha memastikan bahwa kebaikan yang dulu diberikan
kepada saudaranya terus berlanjut kepada keluarganya.
6.
Mengenal Keadaan Saudara
Persaudaraan membutuhkan perhatian.
Kita tidak mungkin membantu orang
yang sama sekali tidak kita kenal keadaannya.
Karena itu, mengetahui:
- apakah ia sakit;
- apakah ia sedang sibuk;
- apakah ia sedang mengalami kesulitan;
- apakah keluarganya membutuhkan bantuan;
- apakah ia membutuhkan nasihat;
merupakan bagian dari menjaga
ukhuwah.
Penjelasan
Tingkatan
Hak Kedua
Secara praktis, pembahasan ini dapat
dipahami dalam beberapa tingkat:
|
Tingkat |
Bentuk
Bantuan |
|
Terendah |
Membantu setelah diminta |
|
Lebih tinggi |
Membantu dengan wajah ceria |
|
Lebih tinggi |
Mengetahui kebutuhan sebelum
diminta |
|
Tinggi |
Mendahulukan kebutuhan saudara |
|
Tertinggi |
Membantu tanpa merasa berjasa dan
tanpa menunggu ucapan terima kasih |
Semakin tinggi tingkatannya, semakin
kuat unsur ihsan dan itsar di dalamnya.
Contoh
Contoh
1: Teman Sakit
Seorang sahabat tidak masuk kerja
karena sakit.
Alih-alih menunggu ia meminta
bantuan, kita menghubunginya, menanyakan kebutuhannya, kemudian menawarkan
bantuan yang benar-benar dapat kita lakukan.
Itulah bentuk tafakkud atau
perhatian terhadap keadaan saudara.
Contoh
2: Membantu Pekerjaan
Seorang teman sedang menyelesaikan
pekerjaan yang sangat berat.
Kita memiliki waktu dan kemampuan
untuk membantunya.
Daripada menunggu ia meminta, kita
menawarkan:
“Bagian ini biar saya yang
kerjakan.”
Ini sesuai dengan semangat membantu
sebelum diminta.
Contoh
3: Membantu Tanpa Mempermalukan
Seorang sahabat sedang mengalami
kesulitan ekonomi.
Kita mengetahui keadaannya dan ingin
membantu.
Daripada membicarakannya kepada
banyak orang, kita membantu secara pribadi dan menjaga kehormatannya.
Ini lebih dekat dengan kasih sayang
yang tulus.
Contoh
4: Membantu Keluarga Saudara
Seorang sahabat meninggal dunia dan
meninggalkan anak-anak.
Hubungan persaudaraan tidak otomatis
berakhir.
Kita dapat membantu biaya
pendidikan, kebutuhan sehari-hari, atau sekadar rutin mengunjungi mereka.
Ini merupakan bentuk kesetiaan
terhadap persaudaraan.
Contoh
5: Mengingatkan Saudara
Seorang teman mulai lalai dalam
kewajiban agama.
Kita tidak mencelanya di depan orang
lain.
Kita berbicara secara pribadi,
lembut, dan penuh kasih sayang.
Ini adalah bentuk membantu saudara
dalam perkara yang lebih penting daripada urusan materi.
Contoh
6: Menyambut Teman
Ketika seorang teman datang, kita menyambutnya
dengan hangat.
Ketika ia berbicara, kita berhenti
memainkan telepon dan benar-benar mendengarkannya.
Ketika ia duduk, kita memberikan
ruang.
Tiga sikap sederhana ini merupakan
implementasi dari nasihat Sa‘id bin Al-‘Ash.
Kesimpulan
Hak kedua persaudaraan menurut Imam
Al-Ghazali adalah membantu saudara dengan tenaga dalam memenuhi
kebutuhannya, berusaha melakukannya sebelum ia meminta, serta mendahulukannya
atas kebutuhan pribadi ketika keadaan memungkinkan.
Bantuan memiliki tingkatan. Tingkat
terendah adalah membantu setelah diminta. Namun bantuan tersebut tetap harus
diberikan dengan wajah ceria, kegembiraan, dan tanpa menunjukkan rasa berat.
Tingkatan yang lebih tinggi adalah
mengetahui kebutuhan saudara sebelum ia meminta.
Adapun tingkatan yang lebih sempurna
adalah membantu tanpa merasa berjasa, tidak mengungkit kebaikan, bahkan merasa
bahwa kita justru mendapatkan kehormatan karena saudara bersedia menerima
bantuan kita.
Al-Ghazali juga memperluas makna
persaudaraan kepada mengunjungi orang sakit, membantu orang yang sibuk,
mengingatkan orang yang lupa, mengenal keadaan saudara, menjaga keluarganya
setelah wafat, menyambut tamu, mendengarkan pembicaraan, dan memberikan ruang
kepada teman.
Dengan demikian, persaudaraan yang
sejati adalah persaudaraan yang aktif, bukan sekadar perasaan.
Hikmah
1.
Persaudaraan membutuhkan tindakan
Cinta yang tidak menghasilkan
kepedulian dan pertolongan masih merupakan cinta yang belum sempurna.
2.
Jangan menunggu saudara meminta
Kepekaan terhadap kebutuhan orang lain
merupakan salah satu tanda kedewasaan ukhuwah.
3.
Membantu harus dengan wajah yang menyenangkan
Jangan menjadikan bantuan sebagai
sumber rasa malu bagi orang yang menerima.
4.
Jangan merasa berjasa
Orang yang ikhlas berusaha melupakan
kebaikannya sendiri.
5.
Kenali keadaan saudaramu
Mengetahui bahwa saudara sakit,
sibuk, atau mengalami kesulitan merupakan bagian dari menjaga hubungan.
6.
Persaudaraan tetap hidup setelah kematian
Kesetiaan kepada saudara dapat
diwujudkan dengan memperhatikan keluarga dan anak-anaknya setelah ia meninggal.
7.
Teman yang baik mengingatkan kepada akhirat
Persahabatan terbaik bukan hanya
memberikan keuntungan dunia, tetapi juga membawa seseorang lebih dekat kepada
Allah.
8.
Kelembutan adalah kekuatan
Hati yang kokoh dalam agama tidak
harus keras kepada manusia. Justru salah satu sifat hati yang baik adalah lembut
kepada saudara.
9.
Perhatian kecil dapat menjadi tanda cinta besar
Menanyakan kabar, mengunjungi orang
sakit, membantu pekerjaan, atau memberikan ruang ketika seseorang duduk
merupakan tindakan sederhana yang dapat memperkuat ukhuwah.
10.
Persaudaraan adalah amanah
Ketika seseorang menyebut orang lain
sebagai saudaranya karena Allah, maka ia menerima sebuah amanah untuk memperhatikan,
membantu, menjaga, dan menginginkan kebaikan bagi saudaranya.
Penutup
Hak persaudaraan yang kedua
mengajarkan bahwa ukhuwah tidak boleh hanya berhenti pada ucapan “aku
menyayangimu karena Allah”. Cinta harus diterjemahkan menjadi pertolongan
yang nyata.
Saudara yang benar-benar kita cintai
adalah saudara yang kita perhatikan ketika ia sakit, kita bantu ketika ia
sibuk, kita ingatkan ketika ia lupa, kita kunjungi ketika ia membutuhkan teman,
dan kita bantu tanpa menunggu ia merendahkan dirinya dengan meminta.
Lebih tinggi lagi, kita belajar mendahulukan
kebutuhannya, menjaga kehormatannya, dan tidak merasa berjasa setelah
menolongnya.
Inilah keindahan ukhuwah yang
digambarkan Imam Al-Ghazali: kebutuhan saudara dipandang seperti kebutuhan
diri sendiri, penderitaannya dirasakan sebagai penderitaan sendiri, dan
kebahagiaannya menjadi kebahagiaan kita.
Persaudaraan seperti inilah yang
menjadikan hubungan antarmanusia bukan sekadar hubungan sosial, tetapi jalan
menuju kasih sayang Allah dan bekal menuju kehidupan akhirat.
Wallahu A’lam...
Artikel Terkait :
.png)
0 Komentar