Pendahuluan
Di antara berbagai penyebab putusnya
hubungan, baik hubungan cinta maupun persahabatan, ada satu penyakit jiwa yang
sering kali luput dari perhatian, yaitu al-malal (الملل)
atau sifat mudah bosan.
Sifat ini tidak selalu lahir dari
kebencian, pengkhianatan, atau kesalahan pihak lain. Bahkan sering kali
seseorang meninggalkan orang yang dicintainya bukan karena menemukan
kekurangan, melainkan karena tabiat dirinya sendiri yang tidak mampu bertahan
dalam satu keadaan untuk waktu yang lama.
Dalam pembahasan ini, Imam Ibnu Hazm
menjelaskan bahwa sifat mudah bosan merupakan salah satu karakter yang paling
berbahaya dalam hubungan. Orang yang dikuasai oleh sifat ini sulit menjaga
cinta, persahabatan, komitmen, dan kesetiaan. Hari ini ia sangat mencintai,
esok ia merasa biasa saja, dan lusa ia mungkin telah berpaling sepenuhnya.
Melalui pengalaman pribadi dan kisah
nyata yang beliau saksikan sendiri, Ibnu Hazm menggambarkan betapa besar
kerusakan yang ditimbulkan oleh sifat mudah bosan dalam kehidupan manusia.
Sumber : Kitab Thauqul Hamamah fi al-Ulfah wa al-Ullaf
Penulis : Ibnu Hazm Al-Andalusi
Tema : Sifat Mudah Bosan sebagai Penyebab Hajr, Rusaknya Cinta, dan
Hilangnya Kesetiaan
Terjemahan Lengkap
Bentuk Kelima Hajr
Kemudian ada hajr yang disebabkan
oleh kebosanan.
Kebosanan termasuk salah satu tabiat
yang memang terdapat dalam diri sebagian manusia.
Orang yang ditimpa sifat ini hampir
tidak mungkin memiliki sahabat yang setia, persaudaraan yang kokoh, janji yang
terjaga, atau hubungan yang bertahan lama.
Ia tidak mampu bertahan dalam
persahabatan.
Tidak mampu menjaga cinta.
Tidak memiliki kesetiaan yang tetap
dalam kasih maupun kebencian.
Karena itu, manusia sebaiknya tidak
terlalu mendekatkannya kepada diri mereka dan hendaknya berhati-hati dalam
menjalin hubungan dengannya.
Sebab mereka tidak akan memperoleh
manfaat yang besar darinya.
Karena alasan inilah kami menjauhkan
sifat ini dari para pecinta sejati dan menempatkannya pada pihak yang dicintai.
Merekalah yang biasanya banyak
berprasangka, mencari-cari kesalahan, dan cenderung memutus hubungan.
Adapun orang yang mengaku mencintai
tetapi memiliki sifat mudah bosan, maka sesungguhnya ia tidak termasuk golongan
pecinta sejati.
Ia bahkan tidak layak merasakan
hakikat cinta.
Ia seharusnya tidak dimasukkan ke
dalam kelompok para pecinta.
Aku tidak pernah melihat sifat ini
menguasai seseorang melebihi apa yang terjadi pada Abu Amir Muhammad bin Abi
Amir rahimahullah.
Seandainya ada orang yang
menceritakan sebagian dari apa yang aku ketahui tentang dirinya, niscaya aku
tidak akan mempercayainya.
Orang-orang yang memiliki sifat
seperti ini adalah manusia yang paling cepat jatuh cinta.
Namun mereka juga manusia yang
paling sedikit kesabarannya terhadap orang yang dicintai maupun terhadap
hal-hal yang tidak mereka sukai.
Sebagaimana cepatnya mereka
mencintai, demikian pula cepatnya mereka berpaling dari cinta itu.
Karena itu jangan mempercayai orang
yang mudah bosan.
Jangan pula menggantungkan harapan
kepada kesetiaannya.
Jika engkau terpaksa mencintainya,
maka anggaplah bahwa cintanya hanya bertahan sesaat.
Perbaruilah harapanmu setiap kali
melihat perubahan sikapnya.
Perlakukanlah ia sesuai dengan
perubahan keadaannya.
Abu Amir yang sedang kubicarakan ini
apabila melihat seorang budak perempuan yang menarik, ia tidak mampu menahan
dirinya.
Kegelisahan dan kerinduan akan
menguasainya sampai ia berhasil memilikinya.
Seandainya jalan menuju perempuan
itu dipenuhi duri yang tajam sekalipun, ia akan tetap berusaha mendapatkannya.
Namun ketika ia yakin perempuan itu
telah menjadi miliknya, cinta yang semula menggebu berubah menjadi penolakan.
Keakraban berubah menjadi kejauhan.
Kerinduan berubah menjadi
kejengkelan.
Keinginan mendekat berubah menjadi
keinginan menjauh.
Lalu perempuan itu dijual dengan
harga yang sangat murah.
Kebiasaan ini terus berulang hingga
menghabiskan puluhan ribu dinar.
Padahal Abu Amir adalah seorang yang
beradab, cerdas, terampil, mulia, menyenangkan, dan sangat cepat pemahamannya.
Ia juga memiliki kedudukan yang
tinggi, kehormatan yang besar, dan pengaruh yang luas.
Adapun ketampanan wajah dan
kesempurnaan penampilannya, maka itu berada di luar kemampuan kata-kata untuk
menggambarkannya.
Jalan-jalan menjadi ramai oleh
orang-orang yang sengaja melewati depan rumahnya hanya untuk melihatnya.
Rumahnya berada di dekat rumah kami
di Cordoba.
Orang-orang sengaja melewati jalan
tersebut semata-mata agar dapat memandangnya.
Bahkan ada beberapa budak perempuan
yang meninggal karena cintanya.
Mereka menggantungkan harapan besar
kepadanya.
Namun ia tidak mampu memenuhi
harapan tersebut.
Akhirnya mereka menjadi tawanan
kesedihan dan kesepian hingga meninggal dunia.
Aku mengenal salah seorang di antara
mereka yang bernama Afra'.
Ia tidak pernah menyembunyikan
kecintaannya kepada Abu Amir di mana pun ia berada.
Air matanya hampir tidak pernah
kering karena cinta itu.
Abu Amir sendiri pernah mengakui
kepadaku bahwa ia merasa bosan bahkan terhadap namanya sendiri, apalagi terhadap
hal-hal lainnya.
Adapun sahabat-sahabatnya, selama
hidupnya yang singkat ia telah berkali-kali mengganti mereka.
Ia juga tidak pernah bertahan dalam
satu gaya hidup.
Kadang berpakaian seperti para raja.
Kadang berpakaian seperti para
petualang dan pemberani.
Karena itu, siapa saja yang harus
berhubungan dengan orang seperti ini hendaknya tidak menyerahkan seluruh
hatinya kepadanya.
Ia harus menjadikan sikap pesimis
terhadap kelanggengan hubungan sebagai benteng bagi dirinya.
Jika mulai terlihat tanda-tanda
kebosanan, hendaknya ia menjauh beberapa waktu sampai semangat orang itu
kembali.
Kemudian hubungan dapat dilanjutkan
kembali.
Mungkin dengan cara itu persahabatan
masih dapat bertahan.
Tentang hal ini aku berkata:
Syair
Janganlah engkau berharap kepada
orang yang mudah bosan.
Karena orang yang mudah bosan tidak
memiliki kesetiaan yang bertahan lama.
Tinggalkanlah ia.
Karena dirinya hanyalah titipan yang
suatu saat akan diambil kembali.
Artikel Pengembangan
Kebosanan: Musuh Tersembunyi dalam Hubungan
Banyak hubungan berakhir karena
pengkhianatan.
Sebagian lagi berakhir karena
pertengkaran.
Namun ada hubungan yang berakhir
tanpa sebab yang jelas.
Salah satu penyebabnya adalah sifat
mudah bosan.
Orang yang mudah bosan selalu
mencari sensasi baru.
Ketika sesuatu masih sulit diraih,
ia sangat bersemangat.
Tetapi setelah berhasil memilikinya,
semangat itu perlahan menghilang.
Akibatnya hubungan berubah menjadi
beban.
Mengapa Orang Mudah Bosan Cepat Jatuh Cinta?
Ibnu Hazm mengamati bahwa orang yang
mudah bosan justru termasuk yang paling cepat jatuh cinta.
Hal ini terjadi karena mereka lebih
tertarik kepada sensasi mengejar daripada menikmati hasil yang telah diperoleh.
Bagi mereka, proses mendapatkan
sesuatu terasa lebih menarik daripada mempertahankannya.
Karena itu cinta mereka sering
sangat kuat di awal tetapi cepat padam setelah tujuan tercapai.
Kisah Abu Amir: Ketika Kesempurnaan Tidak Menjamin Kesetiaan
Kisah Abu Amir menjadi bukti bahwa
kecerdasan, ketampanan, kedudukan sosial, dan kekayaan tidak otomatis
melahirkan kesetiaan.
Seseorang dapat memiliki segala
kelebihan lahiriah tetapi tetap gagal mempertahankan hubungan jika tidak mampu
mengendalikan tabiat dirinya.
Inilah salah satu pelajaran penting
dari kisah tersebut.
Musuh terbesar manusia sering kali bukan
orang lain, melainkan karakter buruk yang ada dalam dirinya sendiri.
Cara Menyikapi Orang yang Mudah Bosan
Ibnu Hazm memberikan nasihat yang
sangat realistis.
Jika harus berhubungan dengan orang
yang mudah bosan:
- Jangan menggantungkan seluruh harapan kepadanya.
- Jangan terlalu cepat mempercayai janjinya.
- Berikan ruang ketika ia mulai jenuh.
- Jangan memaksanya terus-menerus.
- Jaga diri dari ketergantungan emosional yang
berlebihan.
Nasihat ini menunjukkan kedalaman
pemahaman Ibnu Hazm terhadap karakter manusia.
Kesetiaan Adalah Bukti Kedewasaan Cinta
Cinta yang sejati tidak diukur dari
besarnya gairah pada awal hubungan.
Cinta sejati diukur dari kemampuan
bertahan ketika rasa kagum pertama telah berlalu.
Kesetiaan lahir ketika seseorang
tetap memilih orang yang sama meskipun sensasi baru telah menghilang.
Karena itu, kesetiaan lebih berharga
daripada sekadar perasaan yang menggebu-gebu.
Hikmah
- Kebosanan adalah salah satu penyebab utama rusaknya
hubungan.
- Orang yang mudah bosan sering kali cepat jatuh cinta dan
cepat pula berpaling.
- Kesetiaan lebih penting daripada gairah cinta yang
besar.
- Jangan menggantungkan seluruh harapan kepada orang yang
tidak stabil perasaannya.
- Ketampanan, kecerdasan, dan kekayaan tidak menjamin
kesetiaan.
- Karakter manusia lebih menentukan daripada
penampilannya.
- Hubungan yang sehat membutuhkan keteguhan hati.
- Memberi ruang terkadang lebih bermanfaat daripada
memaksa kedekatan.
- Cinta sejati bertahan setelah masa ketertarikan awal
berlalu.
- Orang bijak mencintai dengan hati yang tulus tetapi
tetap menjaga akal sehatnya.
Penutup
Dalam pembahasan tentang hajr karena
kebosanan, Ibnu Hazm mengingatkan bahwa salah satu ujian terbesar dalam
hubungan bukanlah kebencian, melainkan hilangnya ketertarikan akibat sifat
mudah jenuh. Orang yang dikuasai tabiat ini sulit menjaga kesetiaan karena
hatinya selalu berubah mengikuti keadaan.
Melalui kisah Abu Amir, kita belajar
bahwa kelebihan lahiriah tidak cukup untuk mempertahankan hubungan. Yang paling
penting adalah kemampuan menjaga komitmen, mengendalikan hawa nafsu, dan
melawan kecenderungan untuk selalu mencari sesuatu yang baru.
Karena itu, cinta yang matang
bukanlah cinta yang paling bergelora pada awalnya, melainkan cinta yang tetap
hidup setelah waktu menguji, keadaan berubah, dan daya tarik pertama mulai
memudar.
Referensi:
٥ - ثم هجر الملل، والملل من الأخلاق المطبوعة في الإنسان،
وأحرى لمن دهي به ألا يصفو له صديق، ولا يصح له إخاء، ولا يثبت على عهد، ولا يصبر
على إلف ولا تطول مساعدته لمحب، ولا يعتقد منه ود ولا بغضة.
وأولى الأمور بالناس ألا
يقربوه منهم وإن يفروا عن صحبته ولقائه، فلن يحلو منه بطائل، ولذلك أبعدنا هذه
الصفة عن المحبين وجعلناها في المحبوبين، فهم بالجملة أهل التجني والتظني والتعرض
للمقاطعة؛ وأما من تزيا باسم الحب وهو ملول فليس منهم، وحقه ألا يتجرع مذاقه،
وينفى عن أهل هذه الصفة ولا يدخل في جملتهم.
وما رأيت قط هذه الصفة أشد
تغلبًا منها على أبي عامر محمد بن [أبي] عامر رحمه الله، فلو وصف لي واصف بعض ما
علمته منه لما صدقته.
وأهل هذا الطبع أسرع الخلق
محبة، وأقلهم صبرًا على المحبوب وعلى المكروه، وبالضد؛ وانقلابهم عن الود علي قدر
تسرعهم إليه؛ فلا تثق بملول ولا تشغل به نفسك، ولا تعنها بالرجاء في وفائه.
فغن دفعت إلى محبته ضرورة
بعده ابن ساعته، واستأنفه كل حين من أحيانه بحسب ما تراه من تلونه، وقابله بما
يشاكله.
ولقد كان أبو عامر المحدث عنه
يرى الجارية فلا يصبر عنها، ويحيق به من الاغتمام والهم ما يكاد أن يأتي عليه حتى
يملكها، ولو حال دون ذلك شوك القتاد، فإذا أيقن بتصيرها إليه عادت المحبة نفارًا،
وذلك الأنس شرودًا والقلق إليها قلقًا منها، ونزاعه نحوها نزاعًا عنها، فيبيعها
بأوكس الأثمان.
هذا كان دأبه حتى أتلف فيما
ذكرنا عشرات ألوف الدنانير عددًا عظيمًا.
وكان رحمه الله مع هذا من أهل
الأدب والحذق والذكاء والنبل والحلاوة والتوقد، مع الشرف العظيم والمنصب الفخم
والجاه العريض؛ وأما حسن وجهه وكمال صورته فشيء تقف الحدود عنه وتكل الأوهام عن
وصف أقله ولا يتعاطى أحد وصفه.
ولقد كانت الشوارع تخلو من
السيارة ويتعمدون الخطور على باب داره في الشاعر الآخذ من النهر الصغير على باب
دارنا في الجانب الشرقي بقرطبة إلى الدرب المتصل بقصر الزاهرة، وفي هذا الدرب كانت
داره رحمه الله ملاصقة لنا، لا لشيء إلا للنظر منه.
ولقد مات من محبته جواركن
علقن أوهامهن به، ووفي له فخانهن مما أملنه منه، فصرن رهائن البلى وقتلهن الوحدة.
وأنا اعرف جارية منهن كانت
تسمى عفراء، عهدي بها لا تتستر بمحبته حيثما جلست،
ولا تجف دموعها، وكانت قد
تصيرت من داره إلى البركات الخيال صاحب الفتيان.
ولقد كان رحمه الله يخبرني عن
نفسه انه يمل اسمه فضلًا عن غير ذلك.
وأما إخوانه فإنه تبدل بهم في
عمره على قصره مرارًا، وكان لا يثبت على زي واحد كأبي براقش، حينًا يكون في ملابس
الملوك وحينًا في ملابس الفتاك.
فيجب على من امتحن بمخالطة من
هذه صفته على أي وجه كان ألا يستفرغ عامة جهده في محبته، وأن يقيم اليأس من دوامه
حصنًا لنفسه، فإذا لاحت له مخايل الملل قاطعه أيامًا حتى ينشط باله، ويبعد به عنه،
ثم يعاوده، فربما دامت المودة مع هذا؛ وفي ذلك أقول: [من المجتث] لا ترجون ملولًا
... ليس الملول بعده ود الملول فدعه ... عارية مسترده
Baca juga:
Bab Hajr karena Prasangka dan Adu Domba: Bahaya yang Menghancurkan Cinta
dan Persahabatan
Bab Hajr karena Teguran: Indahnya Maaf dan Kembalinya Cinta SetelahKesalahan
Bab Hajr karena Menjaga Harga Diri: Ketika Pecinta Memilih Pergi demi
Menghindari Luka Hati

0 Komentar