Hukum Pemberian Sultan kepada Ulama dan Orang Lain: Jizyah, Warisan, Wakaf, dan Tanah yang Dihidupkan

Pendahuluan

Ketika seorang sultan memberikan harta kepada seorang fakih, ulama, atau orang lain dalam bentuk tunjangan, pemberian, hadiah, atau penghargaan, hukum harta tersebut tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan siapa yang memberikannya.

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa harus diperhatikan asal sumber harta, pihak yang menjadi sumber pemasukan, dasar pemberian, jumlah yang diberikan, serta ketentuan yang melekat pada harta tersebut.

Dalam pembahasan ini, Al-Ghazali menguraikan beberapa kemungkinan sumber harta yang digunakan untuk memberikan idrār (tunjangan), ṣilah (pemberian), atau khal‘ah (hadiah/penghargaan). Di antaranya adalah jizyah, harta warisan, wakaf, dan tanah yang dihidupkan atau dimakmurkan oleh sultan.

Pembahasan ini memperlihatkan ketelitian Al-Ghazali dalam menilai harta yang berada di tangan penguasa. Bahkan harta yang secara asal dapat menjadi milik sultan tetap harus diperhatikan cara memperolehnya.

Sumber

Kitab: Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Jilid 2
Bab: الباب الخامس في إدرارات السلاطين وصلاتهم وما يحل منها وما يحرم

Penulis

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali Ath-Thusi
Wafat: 505 H

Teks Arab

فإذا كتب لفقيه أو غيره إدرار أو صلة أو خلعة على جهة فلا يخلو من أحوال ثمانية فإنه إما أن يكتب له ذلك على الجزية أو على المواريث أو على الأوقاف أو على ملك أحياء السلطان أو على ملك اشتراه أو على عامل خراج المسلمين أو على بياع من جملة التجار أو على الخزانة

فالأول هو الجزية وأربعة أخماسها للمصالح وخمسها لجهات معينة

فما يكتب على الخمس من تلك الجهات أو على الأخماس الأربعة لما فيه مصلحة وروعي فيه الاحتياط في القدر فهو حلال بشرط أن لا تكون الجزية إلا مضروبة على وجه شرعي ليس فيها زيادة على دينار أو على أربعة دنانير فإنه أيضا في محل الاجتهاد وللسلطان أن يفعل ما هو في محل الاجتهاد وبشرط أن يكون الذمي الذي تؤخذ الجزية منه مكتسباً من وجه لا يعلم تحريمه فلا يكون عامل سلطان ظالما ولا بياع خمر ولا صبياً ولا امرأة إذ لا جزية عليهما

فهذه أمور تراعى في كيفية ضرب الجزية ومقدارها وصفة من تصرف أليه ومقدار ما يصرف فيجب النظر في جميع ذلك

الثاني المواريث والأموال الضائعة فهي للمصالح والنظر أن الذي خلفه هل كان ماله كله حراماً أو أكثره أو أقله وقد سبق حكمه فإن لم يكن حراماً بقي النظر في صفة من يصرف إليه بأن يكون في الصرف إليه مصلحة ثم في المقدار المصروف

الثالث الأوقاف وكذا يجري النظر فيها كما يجري في الميراث مع زيادة أمر وهو شرط المواقف حتى يكون المأخوذ موافقاً له في جميع شرائطه

الرابع ما أحياه السلطان وهذا لا يعتبر فيه شرط إذ له أن يعطى من ملكه لمن شاء أي قدر شاء

وإنما النظر في أن الغالب أنه أحياه بإكراه الأجراء أو بأداء أجرتهم من حرام

فإن الإحياء يحصل بحفر القناة والأنهار وبناء الجدران وتسوية الأرض ولا يتولاه السلطان بنفسه

فإن كانوا مكرهين على الفعل لم يملكه السلطان وهو حرام وإن كانوا مستأجرين ثم قضيت أجورهم من الحرام فهذا يورث شبهة قد نبهنا عليها في تعلق الكرامة بالأعواض

Terjemahan Lengkap

Apabila seorang fakih atau orang lain diberi tunjangan, pemberian, atau hadiah penghargaan yang ditetapkan untuk suatu keperluan atau pihak tertentu, maka keadaan pemberian tersebut tidak terlepas dari delapan kemungkinan.

Pemberian itu mungkin berasal dari:

  1. jizyah;
  2. harta warisan;
  3. harta wakaf;
  4. milik tanah yang dihidupkan atau dimakmurkan oleh sultan;
  5. harta milik yang dibeli oleh sultan;
  6. harta yang berada pada petugas pemungut kharaj kaum Muslimin;
  7. harta dari seorang pedagang yang termasuk dalam kelompok para pedagang;
  8. kas atau perbendaharaan negara (khizānah).

Pertama: Pemberian yang Bersumber dari Jizyah

Sumber pertama adalah jizyah. Empat perlima dari jizyah diperuntukkan bagi kemaslahatan umum, sedangkan seperlimanya diperuntukkan bagi beberapa pihak tertentu.

Maka, apabila suatu pemberian diambil dari bagian seperlima yang memang diperuntukkan bagi pihak-pihak tersebut, atau diambil dari empat perlima yang digunakan untuk kemaslahatan, dan dalam penentuannya diperhatikan kehati-hatian mengenai jumlah yang diberikan, maka harta tersebut halal.

Namun, hal itu dengan syarat bahwa jizyah tersebut dipungut dengan cara yang sesuai dengan syariat dan tidak terdapat penambahan yang melampaui batas yang dibenarkan. Dalam teks ini disebutkan kadar satu dinar atau empat dinar, yang juga merupakan perkara ijtihad.

Sultan boleh menetapkan sesuatu yang termasuk dalam wilayah ijtihad.

Selain itu, orang dzimmi yang dikenai jizyah harus memperoleh hartanya melalui cara yang tidak diketahui keharamannya. Dengan demikian, orang yang dikenai jizyah bukanlah:

  • pegawai atau pekerja sultan yang zalim;
  • penjual khamar;
  • anak kecil;
  • perempuan,

karena anak kecil dan perempuan tidak dikenai jizyah.

Maka, dalam persoalan jizyah, beberapa hal harus diperhatikan, yaitu bagaimana jizyah ditetapkan, berapa kadarnya, siapa yang membayarnya, kepada siapa hasilnya disalurkan, dan berapa jumlah yang diberikan kepada penerima.

Semua perkara tersebut harus diperiksa.

Kedua: Warisan dan Harta yang Terlantar

Sumber kedua adalah harta warisan dan harta-harta yang terlantar atau tidak diketahui pemiliknya.

Harta tersebut diperuntukkan bagi kemaslahatan.

Yang harus diperhatikan terlebih dahulu adalah keadaan orang yang meninggalkan harta tersebut: apakah seluruh hartanya haram, sebagian besar hartanya haram, atau hanya sebagian kecil yang haram.

Hukum mengenai hal itu telah dijelaskan sebelumnya.

Apabila harta tersebut tidak termasuk harta haram, maka masih harus diperhatikan sifat dan keadaan orang yang menerima pemberian tersebut, yaitu apakah penyaluran kepadanya mengandung kemaslahatan.

Setelah itu, harus diperhatikan pula jumlah harta yang diberikan.

Ketiga: Harta Wakaf

Sumber ketiga adalah harta wakaf.

Dalam harta wakaf, penilaiannya juga dilakukan sebagaimana penilaian terhadap harta warisan.

Namun, terdapat satu tambahan penting, yaitu harus diperhatikan syarat yang ditetapkan oleh pewakaf.

Harta yang diambil atau diberikan harus sesuai dengan seluruh ketentuan dan persyaratan yang ditetapkan oleh orang yang mewakafkannya.

Dengan demikian, harta wakaf tidak boleh digunakan sesuka hati. Keberadaan harta wakaf terikat dengan tujuan dan syarat yang ditetapkan oleh pewakaf, selama syarat tersebut sah.

Keempat: Harta dari Tanah yang Dihidupkan oleh Sultan

Sumber keempat adalah harta yang berasal dari tanah yang dihidupkan atau dimakmurkan oleh sultan.

Dalam hal ini, tidak diperlukan syarat khusus berkaitan dengan penerima, karena sultan berhak memberikan sesuatu dari miliknya kepada siapa saja yang ia kehendaki dan dengan jumlah berapa pun yang ia kehendaki.

Namun, yang harus diperhatikan adalah bahwa pada umumnya proses menghidupkan atau memakmurkan tanah tersebut dilakukan dengan memaksa para pekerja atau dengan membayar upah mereka menggunakan harta yang haram.

Menghidupkan tanah dilakukan melalui berbagai pekerjaan, seperti:

  • menggali saluran air;
  • membuat sungai atau kanal;
  • membangun dinding atau bangunan;
  • meratakan tanah.

Pekerjaan semacam ini tentu tidak dilakukan sendiri oleh sultan.

Apabila para pekerja tersebut dipaksa melakukan pekerjaan itu, maka sultan tidak menjadi pemilik tanah tersebut melalui cara tersebut, dan harta itu menjadi haram.

Namun, apabila mereka adalah pekerja yang disewa, kemudian upah mereka dibayarkan menggunakan harta yang haram, maka keadaan tersebut menimbulkan syubhat.

Al-Ghazali telah mengingatkan tentang persoalan ini dalam pembahasan mengenai keterkaitan kehormatan atau kemuliaan suatu harta dengan kompensasi atau imbalan yang diberikan sebagai gantinya.

Artikel Pengembangan

1. Mengapa pemberian sultan harus diteliti?

Imam Al-Ghazali tidak menganggap semua pemberian sultan berada dalam satu hukum. Hukum pemberian mengikuti sumber harta dan mekanisme perolehannya.

Karena itu, ketika seseorang mendapatkan tunjangan atau hadiah dari penguasa, terdapat perbedaan besar antara:

  • harta yang berasal dari sumber yang sah;
  • harta yang berasal dari hak masyarakat;
  • harta wakaf yang memiliki ketentuan tertentu;
  • harta yang diperoleh melalui kezaliman;
  • dan harta yang sumbernya mengandung syubhat.

Seseorang yang ingin menjaga wara’ tidak cukup hanya mengetahui bahwa pemberian itu berasal dari seorang sultan. Ia perlu mengetahui asal dan jalur harta tersebut.

2. Harta wakaf tidak boleh diperlakukan seperti harta pribadi

Salah satu poin penting dalam teks adalah pembahasan mengenai wakaf.

Harta wakaf memiliki karakter khusus. Orang yang mengelolanya tidak bebas mempergunakannya sesuai keinginannya sendiri. Ia harus memperhatikan syarat pewakaf dan tujuan wakaf tersebut.

Misalnya, apabila seseorang mewakafkan tanah untuk kepentingan tertentu, maka hasilnya harus disalurkan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

Karena itu, mengambil harta wakaf untuk kepentingan yang tidak sesuai dengan ketentuan pewakaf dapat menjadi tindakan yang tidak dibenarkan.

3. Jumlah yang diterima juga harus diperhatikan

Al-Ghazali berulang kali menekankan pentingnya memperhatikan kadar atau jumlah.

Seseorang bisa saja memiliki hak untuk mendapatkan suatu pemberian, tetapi hal itu tidak berarti ia berhak mengambil jumlah tanpa batas.

Ada dua pertanyaan yang harus dibedakan:

Apakah seseorang berhak menerima?

dan:

Berapa jumlah yang menjadi haknya?

Keduanya merupakan persoalan yang berbeda.

4. Status pekerja dalam proses menghidupkan tanah

Teks juga memberikan perhatian terhadap orang-orang yang melakukan pekerjaan fisik dalam proses iḥyā’ al-arḍ.

Pekerjaan seperti menggali kanal, membuat sungai, membangun dinding, dan meratakan tanah membutuhkan tenaga manusia.

Jika tenaga tersebut diperoleh melalui paksaan, maka terdapat persoalan serius mengenai kepemilikan dan kehalalan hasil pekerjaan.

Sebaliknya, jika pekerja tersebut dipekerjakan dengan akad yang sah tetapi pembayaran upahnya berasal dari harta haram, maka timbul persoalan syubhat yang perlu diperhatikan.

5. Perbedaan antara halal dan syubhat

Al-Ghazali juga menunjukkan bahwa tidak semua persoalan harus langsung ditempatkan pada kategori halal atau haram tanpa perincian.

Dalam kasus tertentu, suatu harta dapat mengandung syubhat, yaitu adanya unsur yang membuat statusnya tidak sepenuhnya jelas.

Sikap yang paling hati-hati dalam kondisi seperti ini adalah melakukan pemeriksaan terhadap sumber harta dan menghindari sesuatu yang menimbulkan keraguan apabila tidak ada kebutuhan untuk mengambilnya.

Contoh

Contoh 1: Tunjangan dari dana kemaslahatan

Seorang ulama mendapatkan tunjangan dari dana yang memang disediakan untuk kemaslahatan dan sumbernya diperoleh melalui mekanisme yang sah.

Jika pemberian tersebut sesuai dengan ketentuan dan jumlahnya wajar, maka pada prinsip yang dijelaskan Al-Ghazali, pemberian tersebut dapat diterima.

Contoh 2: Harta wakaf

Sebuah wakaf diperuntukkan bagi para fakir miskin. Pengelola kemudian menggunakan hasil wakaf tersebut untuk kepentingan pribadi yang tidak termasuk dalam tujuan wakaf.

Hal ini bermasalah karena pengelola wajib memperhatikan syarat pewakaf dan tujuan harta wakaf.

Contoh 3: Pekerja dipaksa menggarap tanah

Seorang penguasa memaksa sejumlah pekerja menggali kanal dan meratakan tanah tanpa kerelaan mereka.

Menurut prinsip yang dijelaskan dalam teks, terdapat persoalan serius karena penguasaan atas hasil pekerjaan tersebut tidak diperoleh melalui cara yang sah.

Contoh 4: Pekerja dibayar dari harta haram

Seorang penguasa mempekerjakan orang untuk menghidupkan tanah secara sah, tetapi upah mereka dibayarkan menggunakan harta yang diketahui berasal dari sumber haram.

Al-Ghazali menyatakan bahwa kondisi seperti ini menimbulkan syubhat, sehingga persoalan harta yang dihasilkan harus diperhatikan secara hati-hati.

Contoh 5: Pemberian melebihi hak

Seseorang memang termasuk pihak yang berhak menerima dana tertentu, tetapi ia mengambil jumlah yang jauh lebih besar daripada kadar yang ditetapkan.

Dalam kasus seperti ini, hak atas sebagian pemberian tidak berarti membolehkan mengambil bagian yang melebihi haknya.

Penutup

Pembahasan Imam Al-Ghazali menunjukkan bahwa asal-usul harta merupakan perkara yang sangat penting dalam menentukan hukum penerimaan pemberian dari penguasa.

Pemberian kepada seorang fakih atau orang lain dapat bersumber dari berbagai jalur, seperti jizyah, warisan, harta terlantar, wakaf, tanah yang dihidupkan, harta yang dibeli, dan sumber lainnya.

Setiap sumber memiliki ketentuan tersendiri. Pada harta jizyah harus diperhatikan cara pemungutannya dan pihak yang dikenai. Pada harta warisan harus diperhatikan keadaan harta yang ditinggalkan. Pada harta wakaf harus diperhatikan syarat pewakaf. Adapun harta yang berasal dari proses menghidupkan tanah harus diperhatikan pula bagaimana tanah tersebut dikelola dan bagaimana para pekerja memperoleh imbalannya.

Dengan demikian, prinsip yang dapat diambil dari pembahasan ini adalah bahwa kehalalan harta tidak hanya bergantung pada siapa yang memberikannya, tetapi juga pada sumber, cara memperoleh, tujuan penyaluran, dan kadar yang diterima.

Wallahu A’lam...

Artikel Terkait:

Harta dan Pemberian Sultan dalam Islam: Mana yang Halal dan yang Haram Menurut Imam Al-Ghazali

Harta Halal Bercampur Haram: Mana yang Harus Dipakai untuk Diri dan Keluarga?

Hukum Pemberian Sultan dari Harta Halal dan Haram: Harta yang Dibeli,Kharaj, Pedagang, dan Kas Negara

Posting Komentar

0 Komentar