Apa Itu Āyat dalam Al-Qur’an? Pengertian, Perbedaan dengan Surah, Hukum Menyentuh, Membaca dalam Salat, Sujud Tilawah, dan Keutamaannya

آيَة

Āyat

التَّعْرِيفُ:

Definisi:

١ - الآْيَةُ لُغَةً: الْعَلاَمَةُ وَالْعِبْرَةُ، وَشَرْعًا هِيَ جُزْءٌ مِنْ سُورَةٍ مِنَ الْقُرْآنِ تَبَيَّنَ أَوَّلُهُ وَآخِرُهُ تَوْقِيفًا.

1. Secara bahasa, āyah berarti tanda dan pelajaran.

Secara syariat, āyah adalah satu bagian dari sebuah surah Al-Qur’an yang telah ditentukan awal dan akhirnya berdasarkan ketetapan (tawqīf) dari syariat.

وَالْفَرْقُ بَيْنَ الآْيَةِ وَالسُّورَةِ أَنَّ السُّورَةَ لاَ بُدَّ أَنْ يَكُونَ لَهَا اسْمٌ خَاصٌّ بِهَا، وَلاَ تَقِل عَنْ ثَلاَثِ آيَاتٍ. وَأَمَّا الآْيَةُ فَقَدْ يَكُونُ لَهَا اسْمٌ كَآيَةِ الْكُرْسِيِّ، وَقَدْ لاَ يَكُونُ، وَهُوَ الأَْكْثَرُ. (٢)

Perbedaan antara āyah (ayat) dan sūrah (surah) adalah bahwa surah harus memiliki nama khusus yang menjadi identitasnya, dan tidak kurang dari tiga ayat.

Adapun āyah (ayat), terkadang memiliki nama, seperti Āyat al-Kursī, dan terkadang tidak memiliki nama, dan inilah yang lebih banyak.

وَقَدِ اسْتَعْمَل الْفُقَهَاءُ الآْيَةَ بِالْمَعْنَى اللُّغَوِيِّ أَيْضًا، حِينَ أَطْلَقُوا عَلَى الْحَوَادِثِ الْكَوْنِيَّةِ، كَالزَّلاَزِل وَالرِّيَاحِ وَالْكُسُوفِ وَالْخُسُوفِ، إِلَخْ، اسْمَ الآْيَاتِ.

Para fuqaha juga menggunakan kata āyah (ayat) dengan makna bahasa, yaitu tanda. Oleh karena itu, mereka menyebut berbagai peristiwa alam, seperti gempa bumi, angin, gerhana matahari, gerhana bulan, dan sebagainya, dengan istilah āyāt (tanda-tanda).

الْحُكْمُ الإِجْمَالِيُّ:

Hukum Secara Umum

٢ - بِمَا أَنَّ الآْيَةَ جُزْءٌ مِنَ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ فَإِنَّ أَحْكَامَهَا تَدُورُ فِي الْجُمْلَةِ عَلَى أَنَّهُ هَل تَجْرِي عَلَيْهَا أَحْكَامُ الْمُصْحَفِ أَوْ لاَ؟ وَذَلِكَ كَمَا لَوْ كُتِبَتْ آيَةٌ مِنَ الْقُرْآنِ عَلَى لَوْحٍ فَهَل يَجُوزُ لِلْمُحْدِثِ مَسُّهُ؟ مِنَ الْفُقَهَاءِ مَنْ مَنَعَهُ اعْتِبَارًا بِمَا فِيهِ مِنْ قُرْآنٍ، وَمِنْهُمْ مَنْ أَجَازَهُ لِعَدَمِ شَبَهِهِ بِالْمُصْحَفِ. (١)

2. Karena āyah (ayat) merupakan bagian dari Al-Qur’an yang mulia, maka hukum-hukumnya secara umum berkisar pada persoalan: apakah hukum-hukum mushaf juga berlaku terhadapnya atau tidak?

Contohnya, apabila sebuah ayat Al-Qur’an ditulis pada sebuah papan, apakah orang yang sedang berhadas boleh menyentuhnya? Sebagian fuqaha melarangnya, dengan mempertimbangkan adanya ayat Al-Qur’an yang tertulis padanya. Sebagian lainnya membolehkannya, karena benda tersebut tidak menyerupai mushaf.

كَمَا اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي إِجْزَاءِ قِرَاءَةِ الآْيَةِ الْوَاحِدَةِ فِي الصَّلاَةِ، عَلَى تَفْصِيلٍ لَهُمْ فِي ذَلِكَ.

Para fuqaha juga berbeda pendapat mengenai keabsahan membaca satu ayat saja dalam salat, dengan perincian pendapat mereka dalam masalah tersebut.

مَوَاطِنُ الْبَحْثِ:

Tempat-Tempat Pembahasan

٣ - الطَّهَارَةُ: يَتَعَرَّضُ الْفُقَهَاءُ لِحُكْمِ مَسِّ الْمُحْدِثِ لِلَوْحٍ كُتِبَتْ عَلَيْهِ آيَةٌ أَوْ آيَاتٌ، فِي كِتَابِ الطَّهَارَةِ - مَا يَحْرُمُ بِالْحَدَثِ.

3. Taharah (Bersuci):

Para fuqaha membahas hukum menyentuh papan yang dituliskan satu ayat atau beberapa ayat Al-Qur’an oleh orang yang sedang berhadas, dalam Kitab Taharah, pada pembahasan hal-hal yang diharamkan karena hadas.

الصَّلاَةُ: تَعَرَّضَ الْفُقَهَاءُ لِحُكْمِ قِرَاءَةِ الآْيَةِ الْقُرْآنِيَّةِ أَوِ الآْيَاتِ فِي الصَّلاَةِ، فِي صِفَةِ الصَّلاَةِ، وَعِنْدَ الْكَلاَمِ عَلَى مُسْتَحَبَّاتِ الصَّلاَةِ. وَذَكَرُوا كَذَلِكَ مَا يَتَّصِل بِتِلاَوَةِ الآْيَةِ مِنْ أَحْكَامٍ، كَالتَّنْكِيسِ لِلآْيِ، وَعَدِّهَا بِالأَْصَابِعِ، وَالسُّؤَال وَالتَّسْبِيحِ وَالتَّعَوُّذِ عِنْدَ آيَةِ الرَّحْمَةِ أَوْ آيَةِ الْعَذَابِ، وَتَكْرَارِ الآْيَةِ الْوَاحِدَةِ، وَقِرَاءَةِ الآْيَاتِ مِنْ أَثْنَاءِ سُورَةٍ. (٢)

Salat:

Para fuqaha membahas hukum membaca satu ayat Al-Qur’an atau beberapa ayat dalam salat, dalam pembahasan sifat-sifat salat, serta ketika membahas hal-hal yang disunnahkan dalam salat.

Mereka juga menjelaskan berbagai hukum yang berkaitan dengan tilawah ayat, seperti membaca ayat secara terbalik (tanksīs al-āyāt), menghitung ayat dengan jari-jari, memohon ketika membaca ayat rahmat, membaca tasbih dan memohon perlindungan kepada Allah ketika membaca ayat azab, mengulang satu ayat tertentu, serta membaca beberapa ayat dari bagian tengah suatu surah.

كَمَا ذَكَرُوا حُكْمَ قِرَاءَةِ خَطِيبِ الْجُمُعَةِ وَالْعِيدَيْنِ وَالْكُسُوفِ وَالاِسْتِسْقَاءِ لِلآْيَةِ فِي الْخُطْبَةِ فِي صَلاَةِ الْجُمُعَةِ، وَفِي صَلاَةِ الْعِيدَيْنِ، وَصَلاَةِ الْكُسُوفِ، وَصَلاَةِ الاِسْتِسْقَاءِ.

Mereka juga membahas hukum pembacaan ayat oleh khatib Jumat, khatib salat Idulfitri dan Iduladha, khatib salat gerhana, serta khatib salat istisqa (memohon hujan) dalam khutbah, yaitu dalam salat Jumat, salat Id, salat gerhana, dan salat istisqa.

كَمَا ذَكَرَ بَعْضُ الْفُقَهَاءِ حُكْمَ الصَّلاَةِ عِنْدَ حُدُوثِ الآْيَاتِ الْكَوْنِيَّةِ فِي صَلاَةِ الْكُسُوفِ.

Sebagian fuqaha juga menyebutkan hukum melaksanakan salat ketika terjadi tanda-tanda atau peristiwa alam, khususnya salat gerhana ketika terjadi gerhana.

سَجْدَةُ التِّلاَوَةِ: يُذْكَرُ تَفْصِيل أَحْكَامِ تِلاَوَةِ آيَةِ السَّجْدَةِ فِي مَبْحَثِ سَجْدَةِ التِّلاَوَةِ (١) .

Sujud Tilawah

Perincian hukum yang berkaitan dengan membaca ayat sajdah dibahas dalam pembahasan Sujud Tilawah.

حُكْمُ الآْيَةِ فِي مَوَاضِعَ مُتَفَرِّقَةٍ: حُكْمُ الاِسْتِعَاذَةِ وَالْبَسْمَلَةِ قَبْل تِلاَوَةِ الآْيَةِ فَصَّلَهُ الْفُقَهَاءُ فِي مَبْحَثِ الاِسْتِعَاذَةِ مِنْ صِفَةِ الصَّلاَةِ.

Hukum Ayat dalam Berbagai Pembahasan

Adapun hukum isti‘ādzah dan basmalah sebelum membaca ayat, para fuqaha telah menjelaskannya secara terperinci dalam pembahasan isti‘ādzah, yang termasuk dalam sifat-sifat salat.

وَتَتَعَرَّضُ كُتُبُ الأَْذْكَارِ وَالآْدَابِ لِتِلاَوَةِ آيَاتٍ مُعَيَّنَةٍ مِنَ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ فِي حَالاَتٍ خَاصَّةٍ، كَقِرَاءَةِ آيَةِ الْكُرْسِيِّ قَبْل النَّوْمِ وَبَعْدَ الصَّلاَةِ (٢) إِلَخْ.

Kitab-kitab zikir dan adab juga membahas tentang membaca ayat-ayat tertentu dari Al-Qur’an dalam keadaan-keadaan khusus, seperti membaca Ayat Kursi sebelum tidur dan setelah salat, dan sebagainya.

Wallahu A’lam...

Baca juga:

Hukum Bejana (Āniyah) dalam Fikih Islam Menurut 4 Mazhab: Jenis, Bahan,Penggunaan, Kepemilikan, Najis, Bejana Emas-Perak, dan Zakat

Bacaan Āmīn dalam Fikih Islam: Pengertian, Hukum, Tata Cara Mengucapkan, dan Pembahasannya dalam Salat, Qunut, Khutbah, Istisqā’, serta Doa Setelah Salat

Ayah (Ab) dalam Fikih Islam:Pengertian, Hak dan Tanggung Jawab terhadap Anak, Perwalian, Nafkah, Warisan,dan Hukum-Hukum yang Berkaitan dengannya

آيَة

Āyat

التَّعْرِيفُ:

Definisi:

١ - الآْيَةُ لُغَةً: الْعَلاَمَةُ وَالْعِبْرَةُ، وَشَرْعًا هِيَ جُزْءٌ مِنْ سُورَةٍ مِنَ الْقُرْآنِ تَبَيَّنَ أَوَّلُهُ وَآخِرُهُ تَوْقِيفًا.

1. Secara bahasa, āyah berarti tanda dan pelajaran.

Secara syariat, āyah adalah satu bagian dari sebuah surah Al-Qur’an yang telah ditentukan awal dan akhirnya berdasarkan ketetapan (tawqīf) dari syariat.

وَالْفَرْقُ بَيْنَ الآْيَةِ وَالسُّورَةِ أَنَّ السُّورَةَ لاَ بُدَّ أَنْ يَكُونَ لَهَا اسْمٌ خَاصٌّ بِهَا، وَلاَ تَقِل عَنْ ثَلاَثِ آيَاتٍ. وَأَمَّا الآْيَةُ فَقَدْ يَكُونُ لَهَا اسْمٌ كَآيَةِ الْكُرْسِيِّ، وَقَدْ لاَ يَكُونُ، وَهُوَ الأَْكْثَرُ. (٢)

Perbedaan antara āyah (ayat) dan sūrah (surah) adalah bahwa surah harus memiliki nama khusus yang menjadi identitasnya, dan tidak kurang dari tiga ayat.

Adapun āyah (ayat), terkadang memiliki nama, seperti Āyat al-Kursī, dan terkadang tidak memiliki nama, dan inilah yang lebih banyak.

وَقَدِ اسْتَعْمَل الْفُقَهَاءُ الآْيَةَ بِالْمَعْنَى اللُّغَوِيِّ أَيْضًا، حِينَ أَطْلَقُوا عَلَى الْحَوَادِثِ الْكَوْنِيَّةِ، كَالزَّلاَزِل وَالرِّيَاحِ وَالْكُسُوفِ وَالْخُسُوفِ، إِلَخْ، اسْمَ الآْيَاتِ.

Para fuqaha juga menggunakan kata āyah (ayat) dengan makna bahasa, yaitu tanda. Oleh karena itu, mereka menyebut berbagai peristiwa alam, seperti gempa bumi, angin, gerhana matahari, gerhana bulan, dan sebagainya, dengan istilah āyāt (tanda-tanda).

الْحُكْمُ الإِجْمَالِيُّ:

Hukum Secara Umum

٢ - بِمَا أَنَّ الآْيَةَ جُزْءٌ مِنَ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ فَإِنَّ أَحْكَامَهَا تَدُورُ فِي الْجُمْلَةِ عَلَى أَنَّهُ هَل تَجْرِي عَلَيْهَا أَحْكَامُ الْمُصْحَفِ أَوْ لاَ؟ وَذَلِكَ كَمَا لَوْ كُتِبَتْ آيَةٌ مِنَ الْقُرْآنِ عَلَى لَوْحٍ فَهَل يَجُوزُ لِلْمُحْدِثِ مَسُّهُ؟ مِنَ الْفُقَهَاءِ مَنْ مَنَعَهُ اعْتِبَارًا بِمَا فِيهِ مِنْ قُرْآنٍ، وَمِنْهُمْ مَنْ أَجَازَهُ لِعَدَمِ شَبَهِهِ بِالْمُصْحَفِ. (١)

2. Karena āyah (ayat) merupakan bagian dari Al-Qur’an yang mulia, maka hukum-hukumnya secara umum berkisar pada persoalan: apakah hukum-hukum mushaf juga berlaku terhadapnya atau tidak?

Contohnya, apabila sebuah ayat Al-Qur’an ditulis pada sebuah papan, apakah orang yang sedang berhadas boleh menyentuhnya? Sebagian fuqaha melarangnya, dengan mempertimbangkan adanya ayat Al-Qur’an yang tertulis padanya. Sebagian lainnya membolehkannya, karena benda tersebut tidak menyerupai mushaf.

كَمَا اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي إِجْزَاءِ قِرَاءَةِ الآْيَةِ الْوَاحِدَةِ فِي الصَّلاَةِ، عَلَى تَفْصِيلٍ لَهُمْ فِي ذَلِكَ.

Para fuqaha juga berbeda pendapat mengenai keabsahan membaca satu ayat saja dalam salat, dengan perincian pendapat mereka dalam masalah tersebut.

مَوَاطِنُ الْبَحْثِ:

Tempat-Tempat Pembahasan

٣ - الطَّهَارَةُ: يَتَعَرَّضُ الْفُقَهَاءُ لِحُكْمِ مَسِّ الْمُحْدِثِ لِلَوْحٍ كُتِبَتْ عَلَيْهِ آيَةٌ أَوْ آيَاتٌ، فِي كِتَابِ الطَّهَارَةِ - مَا يَحْرُمُ بِالْحَدَثِ.

3. Taharah (Bersuci):

Para fuqaha membahas hukum menyentuh papan yang dituliskan satu ayat atau beberapa ayat Al-Qur’an oleh orang yang sedang berhadas, dalam Kitab Taharah, pada pembahasan hal-hal yang diharamkan karena hadas.

الصَّلاَةُ: تَعَرَّضَ الْفُقَهَاءُ لِحُكْمِ قِرَاءَةِ الآْيَةِ الْقُرْآنِيَّةِ أَوِ الآْيَاتِ فِي الصَّلاَةِ، فِي صِفَةِ الصَّلاَةِ، وَعِنْدَ الْكَلاَمِ عَلَى مُسْتَحَبَّاتِ الصَّلاَةِ. وَذَكَرُوا كَذَلِكَ مَا يَتَّصِل بِتِلاَوَةِ الآْيَةِ مِنْ أَحْكَامٍ، كَالتَّنْكِيسِ لِلآْيِ، وَعَدِّهَا بِالأَْصَابِعِ، وَالسُّؤَال وَالتَّسْبِيحِ وَالتَّعَوُّذِ عِنْدَ آيَةِ الرَّحْمَةِ أَوْ آيَةِ الْعَذَابِ، وَتَكْرَارِ الآْيَةِ الْوَاحِدَةِ، وَقِرَاءَةِ الآْيَاتِ مِنْ أَثْنَاءِ سُورَةٍ. (٢)

Salat:

Para fuqaha membahas hukum membaca satu ayat Al-Qur’an atau beberapa ayat dalam salat, dalam pembahasan sifat-sifat salat, serta ketika membahas hal-hal yang disunnahkan dalam salat.

Mereka juga menjelaskan berbagai hukum yang berkaitan dengan tilawah ayat, seperti membaca ayat secara terbalik (tanksīs al-āyāt), menghitung ayat dengan jari-jari, memohon ketika membaca ayat rahmat, membaca tasbih dan memohon perlindungan kepada Allah ketika membaca ayat azab, mengulang satu ayat tertentu, serta membaca beberapa ayat dari bagian tengah suatu surah.

كَمَا ذَكَرُوا حُكْمَ قِرَاءَةِ خَطِيبِ الْجُمُعَةِ وَالْعِيدَيْنِ وَالْكُسُوفِ وَالاِسْتِسْقَاءِ لِلآْيَةِ فِي الْخُطْبَةِ فِي صَلاَةِ الْجُمُعَةِ، وَفِي صَلاَةِ الْعِيدَيْنِ، وَصَلاَةِ الْكُسُوفِ، وَصَلاَةِ الاِسْتِسْقَاءِ.

Mereka juga membahas hukum pembacaan ayat oleh khatib Jumat, khatib salat Idulfitri dan Iduladha, khatib salat gerhana, serta khatib salat istisqa (memohon hujan) dalam khutbah, yaitu dalam salat Jumat, salat Id, salat gerhana, dan salat istisqa.

كَمَا ذَكَرَ بَعْضُ الْفُقَهَاءِ حُكْمَ الصَّلاَةِ عِنْدَ حُدُوثِ الآْيَاتِ الْكَوْنِيَّةِ فِي صَلاَةِ الْكُسُوفِ.

Sebagian fuqaha juga menyebutkan hukum melaksanakan salat ketika terjadi tanda-tanda atau peristiwa alam, khususnya salat gerhana ketika terjadi gerhana.

سَجْدَةُ التِّلاَوَةِ: يُذْكَرُ تَفْصِيل أَحْكَامِ تِلاَوَةِ آيَةِ السَّجْدَةِ فِي مَبْحَثِ سَجْدَةِ التِّلاَوَةِ (١) .

Sujud Tilawah

Perincian hukum yang berkaitan dengan membaca ayat sajdah dibahas dalam pembahasan Sujud Tilawah.

حُكْمُ الآْيَةِ فِي مَوَاضِعَ مُتَفَرِّقَةٍ: حُكْمُ الاِسْتِعَاذَةِ وَالْبَسْمَلَةِ قَبْل تِلاَوَةِ الآْيَةِ فَصَّلَهُ الْفُقَهَاءُ فِي مَبْحَثِ الاِسْتِعَاذَةِ مِنْ صِفَةِ الصَّلاَةِ.

Hukum Ayat dalam Berbagai Pembahasan

Adapun hukum isti‘ādzah dan basmalah sebelum membaca ayat, para fuqaha telah menjelaskannya secara terperinci dalam pembahasan isti‘ādzah, yang termasuk dalam sifat-sifat salat.

وَتَتَعَرَّضُ كُتُبُ الأَْذْكَارِ وَالآْدَابِ لِتِلاَوَةِ آيَاتٍ مُعَيَّنَةٍ مِنَ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ فِي حَالاَتٍ خَاصَّةٍ، كَقِرَاءَةِ آيَةِ الْكُرْسِيِّ قَبْل النَّوْمِ وَبَعْدَ الصَّلاَةِ (٢) إِلَخْ.

Kitab-kitab zikir dan adab juga membahas tentang membaca ayat-ayat tertentu dari Al-Qur’an dalam keadaan-keadaan khusus, seperti membaca Ayat Kursi sebelum tidur dan setelah salat, dan sebagainya.

Wallahu A’lam...

Baca juga:

Hukum Bejana (Āniyah) dalam Fikih Islam Menurut 4 Mazhab: Jenis, Bahan,Penggunaan, Kepemilikan, Najis, Bejana Emas-Perak, dan Zakat

Bacaan Āmīn dalam Fikih Islam: Pengertian, Hukum, Tata Cara Mengucapkan, dan Pembahasannya dalam Salat, Qunut, Khutbah, Istisqā’, serta Doa Setelah Salat

Ayah (Ab) dalam Fikih Islam:Pengertian, Hak dan Tanggung Jawab terhadap Anak, Perwalian, Nafkah, Warisan,dan Hukum-Hukum yang Berkaitan dengannya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

Apa Itu Ībāq (Budak Melarikan Diri) dalam Fikih Islam? Definisi, Hukum Haram, Hak Majikan, Kewajiban Penemu, Ganti Rugi, Jual Beli, Zakat, dan Pendapat Empat Madzhab

إِبَاق إِبَاق — Ībāq التَّعْرِيفُ : Definisi ١ - الإِْبَاقُ لُغَةً: مَصْدَرُ أَبَقَ الْعَبْدُ - بِفَتْحِ الْبَاءِ - يَأْبِقُ وَ...