Ibahah (إباحة) dalam Fikih Islam: Pengertian dan Perbedaannya dengan Jawaz, Halal, Sah, Takhyir, dan ‘Afw; Dalil, Jenis, Sumber, Objek, Dampak, Jaminan, serta Sebab Berakhirnya

إِبَاحَة

Ibāḥah (Kebolehan)

التَّعْرِيفُ:

Definisi

١ - الإِبَاحَةُ فِي اللُّغَةِ: الإِْحْلاَل، يُقَال: أَبَحْتُكَ الشَّيْءَ؛ أَيْ أَحْلَلْتُهُ لَكَ. وَالْمُبَاحُ خِلاَفُ الْمَحْظُورِ (٣) . وَعَرَّفَ الأُْصُولِيُّونَ الإِْبَاحَةَ بِأَنَّهَا خِطَابُ اللَّهِ تَعَالَى الْمُتَعَلِّقُ بِأَفْعَال الْمُكَلَّفِينَ تَخْيِيرًا مِنْ غَيْرِ بَدَلٍ. (٤)

1. Ibāḥah secara bahasa berarti menghalalkan atau membolehkan. Dikatakan: “Abḥtu laka asy-syai’a” (أَبَحْتُكَ الشَّيْءَ), yakni “Aku telah membolehkan atau menghalalkan sesuatu itu bagimu.”

Sedangkan mubāḥ (الْمُبَاحُ) adalah lawan dari maḥẓūr (الْمَحْظُورُ), yaitu sesuatu yang dilarang.

Adapun menurut para ahli uṣul fikih, ibāḥah didefinisikan sebagai:

Khithab Allah Ta‘ala yang berkaitan dengan perbuatan orang-orang mukalaf, yang memberikan pilihan tanpa adanya pengganti.

وَعَرَّفَهَا الْفُقَهَاءُ بِأَنَّهَا الإِْذْنُ بِإِتْيَانِ الْفِعْل حَسَبَ مَشِيئَةِ الْفَاعِل فِي حُدُودِ الإِْذْنِ (١) . وَقَدْ تُطْلَقُ الإِْبَاحَةُ عَلَى مَا قَابَل الْحَظْرَ، فَتَشْمَل الْفَرْضَ وَالإِْيجَابَ وَالنَّدْبَ (٢) .

Dan para fuqaha mendefinisikan ibāḥah sebagai:

“Izin untuk melakukan suatu perbuatan sesuai dengan kehendak pelakunya, dalam batas-batas izin tersebut.”

Terkadang istilah ibāḥah juga digunakan untuk segala sesuatu yang merupakan lawan dari larangan (ḥaẓr). Dengan pengertian ini, ibāḥah mencakup fardu, wajib, dan mandub (sunah).

الأَلْفَاظُ ذَاتُ الصِّلَةِ بِالإِْبَاحَةِ:

Lafaz-Lafaz yang Berkaitan dengan Ibāḥah

الْجَوَازُ:

Al-Jawāz (Kebolehan)

٢ - اخْتَلَفَ الأُْصُولِيُّونَ فِي الصِّلَةِ بَيْنَ الإِْبَاحَةِ وَالْجَوَازِ، فَمِنْهُمْ مَنْ قَال: إِنَّ الْجَائِزَ يُطْلَقُ عَلَى خَمْسَةِ مَعَانٍ: الْمُبَاحِ، وَمَا لاَ يَمْتَنِعُ شَرْعًا، وَمَا لاَ يَمْتَنِعُ عَقْلاً، أَوْ مَا اسْتَوَى فِيهِ الأَْمْرَانِ، وَالْمَشْكُوكُ فِي حُكْمِهِ كَسُؤْرِ الْحِمَارِ (٣) ، وَمِنْهُمْ مَنْ أَطْلَقَهُ عَلَى أَعَمَّ مِنَ الْمُبَاحِ (٤) ، وَمِنْهُمْ مَنْ قَصَرَهُ عَلَيْهِ، فَجَعَل الْجَوَازَ مُرَادِفًا لِلإِْبَاحَةِ. (٥)

2. Para ahli uṣul fikih berbeda pendapat mengenai hubungan antara ibāḥah dan jawāz. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa istilah jā’iz digunakan dalam lima makna, yaitu:

  1. Mubāḥ, yaitu sesuatu yang dibolehkan.
  2. Sesuatu yang tidak dilarang menurut syariat.
  3. Sesuatu yang tidak mustahil menurut akal.
  4. Sesuatu yang kedua kemungkinannya sama, yaitu antara melakukan dan meninggalkannya.
  5. Sesuatu yang diragukan hukumnya, seperti sisa minuman keledai (su’ru al-ḥimār).

Di antara mereka juga ada yang menggunakan istilah jawāz dalam makna yang lebih umum daripada mubāḥ.

Sedangkan sebagian yang lain membatasi istilah tersebut hanya pada mubāḥ, sehingga mereka menjadikan jawāz sebagai sinonim dari ibāḥah.

وَالْفُقَهَاءُ يَسْتَعْمِلُونَ الْجَوَازَ فِيمَا قَابَل الْحَرَامَ، فَيَشْمَل الْمَكْرُوهَ (٦) . وَهُنَاكَ اسْتِعْمَالٌ فِقْهِيٌّ لِكَلِمَةِ الْجَوَازِ بِمَعْنَى الصِّحَّةِ، وَهِيَ مُوَافَقَةُ الْفِعْل ذِي الْوَجْهَيْنِ لِلشَّرْعِ، وَالْجَوَازُ بِهَذَا الاِسْتِعْمَال حُكْمٌ وَضْعِيٌّ، وَبِالاِسْتِعْمَالَيْنِ السَّابِقَيْنِ حُكْمٌ تَكْلِيفِيٌّ.

Dan para fuqaha menggunakan istilah jawāz untuk sesuatu yang berlawanan dengan haram, sehingga cakupannya juga meliputi makruh.

Selain itu, terdapat penggunaan istilah jawāz dalam fikih dengan makna ṣaḥḥah (keabsahan), yaitu kesesuaian suatu perbuatan yang memiliki dua kemungkinan dengan ketentuan syariat.

Jawāz dalam penggunaan terakhir ini merupakan hukum waḍ‘ī, sedangkan dalam dua penggunaan sebelumnya termasuk hukum taklīfī.

الْحِل:

Al-Ḥill (Kehalalan)

٣ - الإِْبَاحَةُ فِيهَا تَخْيِيرٌ، أَمَّا الْحِل فَإِنَّهُ أَعَمُّ مِنْ ذَلِكَ شَرْعًا؛ لأَِنَّهُ يُطْلَقُ عَلَى مَا سِوَى التَّحْرِيمِ، وَقَدْ جَاءَ مُقَابِلاً لَهُ فِي الْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ، كَقَوْلِهِ تَعَالَى: {وَأَحَل اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا} (١) وَقَوْلِهِ: {يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَل اللَّهُ لَكَ} (٢) وَقَوْل النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَمَا إِنِّي وَاللَّهِ لاَ أُحِل حَرَامًا وَلاَ أُحَرِّمُ حَلاَلاً (٣) . وَلَمَّا كَانَ الْحَلاَل مُقَابِلاً لِلْحَرَامِ شَمِل مَا عَدَاهُ مِنَ الْمُبَاحِ وَالْمَنْدُوبِ وَالْوَاجِبِ وَالْمَكْرُوهِ مُطْلَقًا عِنْدَ الْجُمْهُورِ، وَتَنْزِيهًا عِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ. وَلِهَذَا قَدْ يَكُونُ الشَّيْءُ حَلاَلاً وَمَكْرُوهًا فِي آنٍ وَاحِدٍ، كَالطَّلاَقِ، فَإِنَّهُ مَكْرُوهٌ، وَإِنْ وَصَفَهُ الرَّسُول صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَنَّهُ حَلاَلٌ (٤) ، وَعَلَى ذَلِكَ يَكُونُ كُل مُبَاحٍ حَلاَلاً وَلاَ عَكْسَ.

3. Dalam ibāḥah terdapat unsur pemberian pilihan, sedangkan al-ḥill (kehalalan) secara syariat memiliki cakupan yang lebih luas daripada itu. Hal ini karena istilah al-ḥill digunakan untuk segala sesuatu selain pengharaman.

Istilah tersebut juga digunakan sebagai lawan dari haram dalam Al-Qur’an dan Sunnah, sebagaimana firman Allah Ta‘ala:

“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”

Dan firman-Nya:

“Wahai Nabi, mengapa engkau mengharamkan apa yang telah Allah halalkan bagimu?”

Demikian pula sabda Nabi :

“Ketahuilah, demi Allah, sesungguhnya aku tidak menghalalkan sesuatu yang haram dan tidak pula mengharamkan sesuatu yang halal.”

Karena halal merupakan lawan dari haram, maka menurut jumhur ulama, halal mencakup hukum selain haram, yaitu mubah, mandub (sunah), wajib, dan makruh secara mutlak. Sedangkan menurut Abu Hanifah, yang dimaksud adalah makruh tanzih.

Oleh karena itu, sesuatu dapat sekaligus halal dan makruh dalam satu waktu, seperti talak. Talak itu makruh, meskipun Rasulullah menyifatinya sebagai sesuatu yang halal.

Berdasarkan hal tersebut, maka setiap yang mubah adalah halal, tetapi tidak setiap yang halal adalah mubah.

الصِّحَّةُ:

Aṣ-Ṣiḥḥah (Keabsahan)

٤ - الصِّحَّةُ هِيَ مُوَافَقَةُ الْفِعْل ذِي الْوَجْهَيْنِ لِلشَّرْعِ (١)

4. Ṣiḥḥah adalah kesesuaian suatu perbuatan yang memiliki dua kemungkinan dengan ketentuan syariat.

وَمَعْنَى كَوْنِهِ ذَا وَجْهَيْنِ أَنَّهُ يَقَعُ تَارَةً مُوَافِقًا لِلشَّرْعِ، لاِشْتِمَالِهِ عَلَى الشُّرُوطِ الَّتِي اعْتَبَرَهَا الشَّارِعُ، وَيَقَعُ تَارَةً أُخْرَى مُخَالِفًا لِلشَّرْعِ. وَالإِْبَاحَةُ الَّتِي فِيهَا تَخْيِيرٌ بَيْنَ الْفِعْل وَالتَّرْكِ مُغَايِرَةٌ لِلصِّحَّةِ. وَهُمَا وَإِنْ كَانَا مِنَ الأَْحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ، إِلاَّ أَنَّ الإِْبَاحَةَ حُكْمٌ تَكْلِيفِيٌّ، وَالصِّحَّةَ حُكْمٌ وَضْعِيٌّ عَلَى رَأْيِ الْجُمْهُورِ.

Yang dimaksud dengan perbuatan yang memiliki dua kemungkinan ialah bahwa perbuatan tersebut terkadang terjadi sesuai dengan syariat, karena memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh Syariat, dan terkadang terjadi dalam keadaan tidak sesuai dengan syariat.

Adapun ibāḥah, yang mengandung pemberian pilihan antara melakukan dan meninggalkan suatu perbuatan, berbeda dengan ṣiḥḥah.

Meskipun keduanya sama-sama termasuk hukum syariat, namun ibāḥah merupakan hukum taklīfī, sedangkan ṣiḥḥah merupakan hukum waḍ‘ī menurut pendapat jumhur ulama.

وَمِنْهُمْ مَنْ يَرُدُّ الصِّحَّةَ إِلَى الإِْبَاحَةِ فَيَقُول: إِنَّ الصِّحَّةَ إِبَاحَةُ الاِنْتِفَاعِ. (٢)

Dan di antara mereka ada yang mengembalikan makna ṣiḥḥah kepada ibāḥah, lalu mengatakan:

“Sesungguhnya ṣiḥḥah adalah kebolehan untuk mengambil manfaat.”

وَالْفِعْل الْمُبَاحُ قَدْ يَجْتَمِعُ مَعَ الْفِعْل الصَّحِيحِ، فَصَوْمُ يَوْمٍ مِنْ غَيْرِ رَمَضَانَ مُبَاحٌ، أَيْ مَأْذُونٌ فِيهِ مِنَ الشَّرْعِ، وَهُوَ صَحِيحٌ إِنِ اسْتَوْفَى أَرْكَانَهُ وَشُرُوطَهُ. وَقَدْ يَكُونُ الْفِعْل مُبَاحًا فِي أَصْلِهِ وَغَيْرَ صَحِيحٍ لاِخْتِلاَل شَرْطِهِ، كَالْعُقُودِ الْفَاسِدَةِ. وَقَدْ يَكُونُ صَحِيحًا غَيْرَ مُبَاحٍ كَالصَّلاَةِ فِي ثَوْبٍ مَغْصُوبٍ إِذَا اسْتَوْفَتْ أَرْكَانَهَا وَشُرُوطَهَا عِنْدَ أَكْثَرِ الأَْئِمَّةِ.

Dan perbuatan yang mubah terkadang dapat berkumpul dengan perbuatan yang sah. Misalnya, berpuasa pada suatu hari selain bulan Ramadan adalah mubah, yaitu diizinkan oleh syariat, dan puasa tersebut sah apabila telah memenuhi rukun-rukun dan syarat-syaratnya.

Terkadang suatu perbuatan mubah pada asalnya, tetapi tidak sah karena salah satu syaratnya tidak terpenuhi, seperti akad-akad yang rusak (fāsid).

Sebaliknya, suatu perbuatan terkadang sah tetapi tidak mubah, seperti salat dengan mengenakan pakaian hasil ghasab, apabila salat tersebut telah memenuhi rukun-rukun dan syarat-syaratnya, menurut kebanyakan imam.

التَّخْيِيرُ:

At-Takhyīr (Pemberian Pilihan)

٥ - الإِْبَاحَةُ تَخْيِيرٌ مِنَ الشَّارِعِ بَيْنَ فِعْل الشَّيْءِ وَتَرْكِهِ، مَعَ اسْتِوَاءِ الطَّرَفَيْنِ بِلاَ تَرَتُّبِ ثَوَابٍ أَوْ عِقَابٍ، أَمَّا التَّخْيِيرُ فَقَدْ يَكُونُ عَلَى سَبِيل الإِْبَاحَةِ، أَيْ بَيْنَ فِعْل الْمُبَاحِ وَتَرْكِهِ، وَقَدْ يَكُونُ بَيْنَ الْوَاجِبَاتِ بَعْضِهَا وَبَعْضٍ، وَهِيَ وَاجِبَاتٌ لَيْسَتْ عَلَى التَّعْيِينِ، كَمَا فِي خِصَال الْكَفَّارَةِ فِي قَوْله تَعَالَى: {لاَ يُؤَاخِذُكُمْ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُمْ الأَْيْمَانَ فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ} (١) فَإِنَّ فِعْل أَيِّ وَاحِدٍ مِنْهَا يُسْقِطُ الْمُطَالَبَةَ، لَكِنَّ تَرْكَهَا كُلَّهَا يَقْتَضِي الإِْثْمَ.

5. Ibāḥah adalah pemberian pilihan dari Syāri‘ (pembuat syariat) antara melakukan sesuatu dan meninggalkannya, dengan kedua pilihan tersebut memiliki kedudukan yang sama, tanpa adanya konsekuensi berupa pahala atau hukuman.

Adapun takhyīr (pemberian pilihan) terkadang berupa ibāḥah, yaitu pilihan antara melakukan sesuatu yang mubah dan meninggalkannya. Namun, takhyīr juga dapat terjadi di antara beberapa kewajiban, yaitu kewajiban-kewajiban yang tidak ditentukan secara khusus salah satunya.

Sebagaimana dalam pilihan bentuk-bentuk kafarat dalam firman Allah Ta‘ala:

“Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak disengaja, tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja. Maka kafaratnya ialah memberi makan sepuluh orang miskin dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi mereka pakaian, atau memerdekakan seorang hamba.”

Sesungguhnya, melakukan salah satu dari bentuk-bentuk kafarat tersebut telah menggugurkan tuntutan kewajiban. Akan tetapi, meninggalkan semuanya mengakibatkan seseorang berdosa.

وَقَدْ يَكُونُ التَّخْيِيرُ بَيْنَ الْمَنْدُوبَاتِ كَالتَّنَفُّل قَبْل صَلاَةِ الْعَصْرِ، فَالْمُصَلِّي مُخَيَّرٌ بَيْنَ أَنْ يَتَنَفَّل بِرَكْعَتَيْنِ أَوْ بِأَرْبَعٍ. (٢)

Dan takhyīr (pemberian pilihan) terkadang terjadi di antara beberapa perbuatan mandub (sunah), seperti salat sunah sebelum salat Asar. Seorang yang hendak melaksanakannya diberi pilihan antara melakukan dua rakaat atau empat rakaat.

وَالْمَنْدُوبُ نَفْسُهُ فِي مَفْهُومِهِ تَخْيِيرٌ بَيْنَ الْفِعْل وَالتَّرْكِ، وَإِنْ رُجِّحَ جَانِبُ الْفِعْل، وَفِيهِ ثَوَابٌ، بَيْنَمَا التَّخْيِيرُ فِي الإِْبَاحَةِ لاَ يُرَجَّحُ فِيهِ جَانِبٌ عَلَى جَانِبٍ، وَلاَ يَتَرَتَّبُ عَلَيْهِ ثَوَابٌ وَلاَ عِقَابٌ.

Mandub itu sendiri, dalam pengertiannya, juga mengandung unsur pilihan antara melakukan dan meninggalkan, meskipun sisi melakukan lebih diutamakan dan terdapat pahala padanya.

Sedangkan pilihan dalam ibāḥah tidak ada satu sisi pun yang lebih diutamakan daripada sisi lainnya, serta tidak ada konsekuensi berupa pahala maupun hukuman.

الْعَفْوُ:

Al-‘Afw (Pemaafan)

٦ - مِنَ الْعُلَمَاءِ مَنْ جَعَل الْعَفْوَ الَّذِي رُفِعَتْ فِيهِ الْمُؤَاخَذَةُ، وَنُفِيَ فِيهِ الْحَرَجُ، مُسَاوِيًا لِلإِْبَاحَةِ، كَمَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ إِنَّ اللَّهَ فَرَضَ فَرَائِضَ فَلاَ تُضَيِّعُوهَا، وَحَدَّ حُدُودًا فَلاَ تَعْتَدُوهَا، وَحَرَّمَ أَشْيَاءَ فَلاَ تَنْتَهِكُوهَا، وَعَفَا عَنْ أَشْيَاءَ رَحْمَةً بِكُمْ مِنْ غَيْرِ نِسْيَانٍ فَلاَ تَبْحَثُوا عَنْهَا (٣) . وَهُوَ مَا يَدُل عَلَيْهِ قَوْله تَعَالَى {لاَ تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ وَإِنْ تَسْأَلُوا عَنْهَا حِينَ يُنَزَّل الْقُرْآنُ تُبْدَ لَكُمْ عَفَا اللَّهُ عَنْهَا} (٤) . فَمَا عَفَا اللَّهُ عَنْهُ لَمْ يُكَلِّفْنَا بِهِ فِعْلاً أَوْ تَرْكًا، وَلَمْ يُرَتِّبْ عَلَيْهِ مَثُوبَةً وَلاَ عِقَابًا. وَهُوَ بِهَذَا مُسَاوٍ لِلْمُبَاحِ.

6. Di antara para ulama ada yang menyamakan al-‘afw—yaitu sesuatu yang telah dihapuskan pertanggungjawabannya dan tidak dikenakan kesulitan atau beban—dengan ibāḥah.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis:

“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban, maka janganlah kalian menyia-nyiakannya. Dia telah menetapkan beberapa batas, maka janganlah kalian melampauinya. Dia telah mengharamkan beberapa perkara, maka janganlah kalian melanggarnya. Dan Dia telah memaafkan beberapa perkara sebagai rahmat bagi kalian, bukan karena lupa, maka janganlah kalian mencarinya.”

Hal ini juga ditunjukkan oleh firman Allah Ta‘ala:

“Janganlah kalian menanyakan perkara-perkara yang jika diterangkan kepada kalian, niscaya akan menyusahkan kalian. Jika kalian menanyakannya ketika Al-Qur’an sedang diturunkan, niscaya akan diterangkan kepada kalian. Allah telah memaafkan perkara-perkara tersebut.”

Dengan demikian, apa yang telah Allah maafkan tidak dibebankan kepada kita, baik untuk dilakukan maupun ditinggalkan, dan tidak pula ditetapkan pahala ataupun hukuman atasnya.

Dengan pengertian tersebut, al-‘afw sama dengan al-mubāḥ.

أَلْفَاظُ الإِبَاحَةِ:

Lafaz-Lafaz yang Menunjukkan Ibāḥah

٧ - الإِْبَاحَةُ إِمَّا بِلَفْظٍ أَوْ غَيْرِهِ، سَوَاءٌ مِنَ الشَّارِعِ أَوْ مِنَ الْعِبَادِ. فَمِثَال غَيْرِ اللَّفْظِ مِنَ الشَّارِعِ أَنْ يَرَى رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِعْلاً مِنَ الأَْفْعَال، أَوْ يَسْمَعُ قَوْلاً، فَلاَ يُنْكِرُهُ، فَيَكُونُ هَذَا تَقْرِيرًا يَدُل عَلَى الإِْبَاحَةِ.

7. Ibāḥah dapat ditunjukkan melalui lafaz (ucapan) maupun selain lafaz, baik yang berasal dari Syāri‘ (pembuat syariat) maupun dari manusia.

Contoh ibāḥah yang ditunjukkan bukan melalui lafaz dari Syāri‘ adalah ketika Rasulullah melihat suatu perbuatan atau mendengar suatu perkataan, kemudian beliau tidak mengingkarinya. Sikap tersebut disebut taqrīr, yang menunjukkan adanya kebolehan.

وَمِثَالُهُ مِنَ الْعِبَادِ أَنْ يَضَعَ الشَّخْصُ مَائِدَةً عَامَّةً لِيَأْكُل مِنْهَا مَنْ يَشَاءُ.

Adapun contoh ibāḥah yang berasal dari manusia, misalnya seseorang menyediakan hidangan yang terbuka untuk umum, agar siapa saja yang menghendakinya dapat makan darinya.

وَأَمَّا اللَّفْظُ فَقَدْ يَكُونُ صَرِيحًا، وَمِنْ ذَلِكَ نَفْيُ الْجُنَاحِ وَنَفْيُ الإِْثْمِ أَوِ الْحِنْثِ أَوِ السَّبِيل أَوِ الْمُؤَاخَذَةِ. وَقَدْ يَكُونُ غَيْرَ صَرِيحٍ، وَهُوَ الَّذِي يَحْتَاجُ فِي دَلاَلَتِهِ عَلَى الإِْبَاحَةِ إِلَى قَرِينَةٍ. وَمِنْ ذَلِكَ: الأَْمْرُ بَعْدَ الْحَظْرِ، كَقَوْلِهِ تَعَالَى: {وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا} (١) وَمِنْهُ الأَْمْرُ الْمُقْتَرِنُ بِالْمَشِيئَةِ، وَالتَّعْبِيرُ بِالْحِل، أَوْ نَفْيُ التَّحْرِيمِ، أَوِ الاِسْتِثْنَاءُ مِنَ التَّحْرِيمِ.

Adapun lafaz, terkadang bersifat tegas (ṣarīḥ). Di antaranya adalah ungkapan yang menunjukkan peniadaan dosa (junāḥ), peniadaan dosa (itsm), peniadaan pelanggaran sumpah (ḥints), peniadaan jalan atau alasan untuk menyalahkan, atau peniadaan pertanggungjawaban (mu’ākhadzah).

Terkadang lafaz tersebut tidak tegas, yaitu lafaz yang dalam menunjukkan makna ibāḥah memerlukan adanya qarīnah (indikasi atau petunjuk yang menyertainya).

Di antara bentuknya adalah:

  • Perintah setelah adanya larangan, seperti firman Allah Ta‘ala:
    “Apabila kalian telah selesai dari ihram, maka berburu lah.”
  • Perintah yang disertai dengan kehendak atau pilihan (masyi’ah).
  • Penggunaan ungkapan al-ḥill (kehalalan).
  • Peniadaan pengharaman.
  • Pengecualian dari sesuatu yang diharamkan.

مَنْ لَهُ حَقُّ الإِبَاحَةِ:

Siapa yang Memiliki Hak Memberikan Ibāḥah?

الشَّارِعُ:

Syāri‘ (Pembuat Syariat)

٨ - الأَْصْل أَنَّ حَقَّ الإِْبَاحَةِ لِلشَّارِعِ وَحْدَهُ مِنْ غَيْرِ تَوَقُّفٍ عَلَى إِذْنٍ مِنْ أَحَدٍ، وَقَدْ تَكُونُ الإِْبَاحَةُ مُطْلَقَةً كَالْمُبَاحَاتِ الأَْصْلِيَّةِ، وَقَدْ تَكُونُ مُقَيَّدَةً إِمَّا بِشَرْطٍ كَمَا فِي قَوْله تَعَالَى {أَوْ مَا مَلَكْتُمْ مَفَاتِحَهُ} (٢) فِي شَأْنِ مَا يُبَاحُ أَكْلُهُ مِنْ مِلْكِ الْغَيْرِ مِنْ غَيْرِ ضَرُورَةٍ، أَوْ مُقَيَّدَةً بِوَقْتٍ كَإِبَاحَةِ أَكْل الْمَيْتَةِ لِلْمُضْطَرِّ

8. Pada dasarnya, hak memberikan ibāḥah hanya dimiliki oleh Syāri‘, tanpa bergantung pada izin dari siapa pun.

Ibāḥah terkadang bersifat mutlak, seperti berbagai perkara yang pada asalnya memang diperbolehkan.

Terkadang ibāḥah bersifat terbatas, yaitu:

  • Dibatasi dengan suatu syarat, sebagaimana firman Allah Ta‘ala:
    “Atau (harta) yang kalian kuasai kunci-kuncinya.”
    Hal ini berkaitan dengan sesuatu yang boleh dimakan dari milik orang lain tanpa adanya keadaan darurat.
  • Dibatasi dengan waktu tertentu, seperti kebolehan memakan bangkai bagi orang yang berada dalam keadaan terpaksa (darurat).

الْعِبَادُ:

Al-‘Ibād (Manusia)

٩ - الإِْبَاحَةُ مِنَ الْعِبَادِ لاَ بُدَّ فِيهَا أَنْ تَكُونَ عَلَى وَجْهٍ لاَ يَأْبَاهُ الشَّرْعُ، وَأَلاَّ تَكُونَ عَلَى وَجْهِ التَّمْلِيكِ، وَإِلاَّ كَانَتْ هِبَةً أَوْ إِعَارَةً.

9. Ibāḥah yang diberikan oleh manusia harus dilakukan dengan cara yang tidak bertentangan dengan syariat, serta tidak dilakukan dalam bentuk memberikan kepemilikan. Jika dilakukan dalam bentuk memberikan kepemilikan, maka hal tersebut menjadi hibah atau ‘āriyah (pinjaman).

وَإِذَا كَانَتِ الإِْبَاحَةُ مِنْ وَلِيِّ الأَْمْرِ فَالْمَدَارُ فِيهَا - بَعْدَ الشَّرْطَيْنِ السَّابِقَيْنِ - أَنْ تَكُونَ مَنُوطَةً بِالْمَصْلَحَةِ الْعَامَّةِ.

Apabila ibāḥah diberikan oleh wali al-amr (penguasa/pemimpin), maka setelah memenuhi dua syarat sebelumnya, ukurannya adalah bahwa ibāḥah tersebut harus berlandaskan kemaslahatan umum.

وَهَذِهِ الإِْبَاحَةُ قَدْ تَكُونُ فِي وَاجِبٍ يَسْقُطُ بِهَا عَنْهُ، كَمَنْ عَلَيْهِ كَفَّارَةٌ، وَاخْتَارَ التَّكْفِيرَ بِالإِْطْعَامِ، فَإِنَّ الدَّعْوَةَ إِلَى تَنَاوُلِهِ إِبَاحَةٌ تُسْقِطُ عَنْهُ الْكَفَّارَةَ، إِذْ هُوَ مُخَيَّرٌ فِيهَا بَيْنَ التَّمْلِيكِ لِمَنْ يَسْتَحِقُّ، وَبَيْنَ الإِْبَاحَةِ.

Ibāḥah ini terkadang berkaitan dengan suatu kewajiban yang menjadi gugur karenanya, seperti orang yang memiliki kewajiban kafarat, kemudian ia memilih menunaikan kafarat tersebut dengan memberikan makanan.

Sesungguhnya, mengundang seseorang untuk menikmati makanan tersebut merupakan bentuk ibāḥah yang menggugurkan kewajiban kafaratnya, karena dalam hal ini ia diberi pilihan antara memberikan makanan tersebut menjadi milik orang yang berhak menerimanya atau memberikan izin untuk memakannya.

وَهَذَا عِنْدَ بَعْضِ الْفُقَهَاءِ كَالْحَنَفِيَّةِ، خِلاَفًا لِلشَّافِعِيَّةِ وَمَنْ وَافَقَهُمُ الَّذِينَ يَرَوْنَ أَنَّ الإِْطْعَامَ فِي الْكَفَّارَةِ يَجِبُ فِيهِ التَّمْلِيكُ (١) . وَالإِْنْسَانُ يَعْرِفُ إِذْنَ غَيْرِهِ إِمَّا بِنَفْسِهِ، وَإِمَّا بِإِخْبَارِ ثِقَةٍ يَقَعُ فِي الْقَلْبِ صِدْقُهُ. فَلَوْ قَال مَمْلُوكٌ مَثَلاً: هَذِهِ هَدِيَّةٌ بَعَثَ بِهَا إِلَيْكَ سَيِّدِي، أَوْ قَال صَبِيٌّ: هَذِهِ هَدِيَّةٌ بَعَثَ بِهَا إِلَيْكَ وَالِدِي، قُبِل قَوْلُهُمَا فِي حِلِّهَا؛ لأَِنَّ الْهَدَايَا تُبْعَثُ فِي الْعَادَةِ عَلَى أَيْدِي هَؤُلاَءِ. (٢)

Hal ini menurut sebagian fuqaha, seperti mazhab Hanafiyah, berbeda dengan mazhab Syafi‘iyah dan ulama yang sependapat dengan mereka. Mereka berpendapat bahwa pemberian makanan sebagai kafarat harus dilakukan dengan memberikan kepemilikan (tamlik).

Seseorang dapat mengetahui adanya izin dari orang lain dengan dua cara: mengetahuinya secara langsung, atau melalui pemberitahuan dari orang yang terpercaya, yang kebenaran ucapannya dapat diterima oleh hati.

Seandainya, misalnya, seorang budak berkata, “Ini adalah hadiah yang dikirimkan tuanku untukmu,” atau seorang anak kecil berkata, “Ini adalah hadiah yang dikirimkan ayahku untukmu,” maka perkataan keduanya dapat diterima mengenai kehalalan hadiah tersebut. Sebab, menurut kebiasaan, hadiah memang biasanya dikirimkan melalui orang-orang seperti mereka.

دَلِيل الإِْبَاحَةِ وَأَسْبَابُهَا:

Dalil Ibāḥah dan Sebab-Sebabnya

١٠ - قَدْ يُوجَدُ فِعْلٌ مِنَ الأَْفْعَال لَمْ يَدُل الدَّلِيل السَّمْعِيُّ عَلَى حُكْمِهِ بِخُصُوصِهِ، وَذَلِكَ صَادِقٌ بِصُورَتَيْنِ: الأُْولَى عَدَمُ وُرُودِ دَلِيلٍ لِهَذَا الْفِعْل أَصْلاً، وَالثَّانِيَةُ وُرُودُهُ وَلَكِنَّهُ جُهِل. وَأَكْثَرُ الأَْفْعَال دَل الدَّلِيل السَّمْعِيُّ عَلَيْهَا وَعُرِفَ حُكْمُهَا، وَتَفْصِيل ذَلِكَ فِيمَا يَلِي:

10. Terkadang terdapat suatu perbuatan yang tidak terdapat dalil syar‘i yang bersumber dari wahyu yang menunjukkan secara khusus mengenai hukumnya.

Hal ini dapat terjadi dalam dua keadaan:

  1. Tidak adanya dalil sama sekali mengenai perbuatan tersebut.
  2. Adanya dalil mengenai perbuatan tersebut, tetapi dalil itu tidak diketahui.

Adapun sebagian besar perbuatan, dalil syar‘i telah menunjukkan hukumnya dan hukumnya telah diketahui. Adapun perinciannya adalah sebagai berikut:

أ - الْبَقَاءُ عَلَى الأَْصْل:

A. Tetap Berpegang pada Hukum Asal (Al-Baqā’ ‘alā al-Aṣl)

١١ - وَهَذَا مَا يُعْرَفُ بِالإِْبَاحَةِ الأَْصْلِيَّةِ، وَجُمْهُورُ الْعُلَمَاءِ عَلَى أَنَّهُ لاَ حَرَجَ عَلَى مَنْ تَرَكَهُ أَوْ فَعَلَهُ. وَيَظْهَرُ أَثَرُ ذَلِكَ فِيمَا كَانَ قَبْل الْبَعْثَةِ.

11. Hal ini dikenal sebagai ibāḥah aṣliyyah (kebolehan berdasarkan hukum asal). Jumhur ulama berpendapat bahwa tidak ada dosa atau kesalahan bagi orang yang meninggalkannya maupun melakukannya. Pengaruh pendapat ini tampak dalam perkara-perkara yang terjadi sebelum diutusnya para rasul.

وَهُنَاكَ تَفْصِيلاَتٌ بَيْنَ عُلَمَاءِ الْكَلاَمِ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ يُرْجَعُ إِلَيْهَا فِي الْمُلْحَقِ الأُْصُولِيِّ، أَوْ فِي كُتُبِ عِلْمِ الْكَلاَمِ. وَهَذَا الْخِلاَفُ لاَ مُحَصِّل لَهُ الآْنَ بَعْدَ وُرُودِ الْبَعْثَةِ، إِذْ دَل النَّصُّ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ عَلَى أَنَّ الأَْصْل فِي الأَْشْيَاءِ الإِْبَاحَةُ. قَال تَعَالَى: {وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الأَْرْضِ جَمِيعًا مِنْهُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ} (١)

Di antara para ulama ilmu kalam terdapat beberapa perincian mengenai persoalan ini. Pembahasannya dapat dirujuk dalam lampiran usul fikih atau dalam kitab-kitab ilmu kalam.

Namun, perbedaan pendapat tersebut tidak lagi memiliki pengaruh setelah datangnya risalah kenabian, karena terdapat nash dari Kitab Allah yang menunjukkan bahwa hukum asal segala sesuatu adalah ibāḥah (boleh).

Allah Ta‘ala berfirman:

“Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya sebagai karunia dari-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”

ب - مَا جُهِل حُكْمُهُ:

B. Hukum yang Tidak Diketahui

١٢ - قَدْ يَكُونُ الْجَهْل مَعَ وُجُودِ الدَّلِيل، وَلَكِنَّ الْمُكَلَّفَ - مُجْتَهِدًا أَوْ غَيْرَ مُجْتَهِدٍ - لَمْ يَطَّلِعْ عَلَيْهِ، أَوِ اطَّلَعَ عَلَيْهِ الْمُجْتَهِدُ وَلَمْ يَسْتَطِعْ اسْتِنْبَاطَ الْحُكْمِ.

B. Hukum yang Tidak Diketahui

12. Ketidaktahuan terhadap hukum terkadang terjadi meskipun terdapat dalil. Namun, seorang mukallaf, baik ia seorang mujtahid maupun bukan mujtahid, tidak mengetahuinya karena belum menemukan atau belum mengetahui dalil tersebut.

Atau, seorang mujtahid telah mengetahui dalilnya, tetapi tidak mampu melakukan istinbāṭ (menyimpulkan) hukum darinya.

وَالْقَاعِدَةُ فِي ذَلِكَ أَنَّ الْجَهْل بِالأَْحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ إِنَّمَا يَكُونُ عُذْرًا إِذَا تَعَذَّرَ عَلَى الْمُكَلَّفِ الاِطِّلاَعُ عَلَى الدَّلِيل، وَكُل مَنْ كَانَ فِي إِمْكَانِهِ الاِطِّلاَعُ عَلَى الدَّلِيل وَقَصَّرَ فِي تَحْصِيلِهِ لاَ يَكُونُ مَعْذُورًا. وَيُفَصِّل الْفُقَهَاءُ أَحْكَامَ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ فِي مَوَاطِنِهَا.

Kaidah dalam persoalan ini adalah bahwa ketidaktahuan terhadap hukum-hukum syariat hanya menjadi suatu uzur apabila seorang mukalaf tidak mampu mengetahui atau menemukan dalil. Adapun setiap orang yang sebenarnya memiliki kemampuan untuk mengetahui dalil, tetapi lalai dalam mencarinya, maka ia tidak dianggap memiliki uzur.

Para fuqaha menjelaskan hukum-hukum persoalan ini secara terperinci pada pembahasannya masing-masing.

وَمَنْ عُذِرَ بِجَهْلِهِ فَهُوَ غَيْرُ مُخَاطَبٍ بِحُكْمِ الْفِعْل، فَلاَ يُوصَفُ فِعْلُهُ بِالإِْبَاحَةِ بِالْمَعْنَى الاِصْطِلاَحِيِّ الَّذِي فِيهِ خِطَابٌ بِالتَّخْيِيرِ. وَإِنْ كَانَ الإِْثْمُ مَرْفُوعًا عَنْهُ بِعُذْرِ الْجَهْل. (٢)

Adapun orang yang diberi uzur karena ketidaktahuannya, maka ia tidak dibebani dengan hukum perbuatan tersebut. Oleh karena itu, perbuatannya tidak disebut sebagai ibāḥah dalam pengertian istilah, yaitu adanya khithab syariat yang memberikan pilihan.

Meskipun demikian, dosa tetap diangkat darinya karena adanya uzur berupa ketidaktahuan.

وَتُفَصَّل هَذِهِ الأَْحْكَامُ فِي مَوَاطِنِهَا فِي بَحْثِ (الْجَهْل) . وَيُنْظَرُ فِي الْمُلْحَقِ الأُْصُولِيِّ.

Perincian mengenai hukum-hukum tersebut dibahas pada pembahasan “Jahl (Ketidaktahuan)”, dan dapat pula dilihat dalam lampiran usul fikih.

طُرُقُ مَعْرِفَةِ الإِْبَاحَةِ:

Cara Mengetahui Ibāḥah

١٣ - طُرُقُ مَعْرِفَةِ الإِْبَاحَةِ كَثِيرَةٌ، مِنْ أَهَمِّهَا:

13. Cara untuk mengetahui adanya ibāḥah sangat banyak. Di antara yang paling penting adalah:

النَّصُّ: وَقَدْ تَقَدَّمَ الْكَلاَمُ عَلَيْهِ تَفْصِيلاً.

1. Nash (dalil yang jelas)
Pembahasan mengenai hal ini telah dijelaskan sebelumnya secara terperinci.

بَعْضُ أَسْبَابِ الرُّخَصِ: وَالرُّخْصَةُ هِيَ مَا شُرِعَ لِعُذْرٍ شَاقٍّ اسْتِثْنَاءً مِنْ أَصْلٍ كُلِّيٍّ يَقْتَضِي الْمَنْعَ، مَعَ الاِقْتِصَارِ عَلَى مَوَاضِعِ الْحَاجَةِ فِيهِ مَعَ بَقَاءِ حُكْمِ الأَْصْل. وَذَلِكَ كَالإِْفْطَارِ فِي رَمَضَانَ فِي السَّفَرِ، وَالْمَسْحِ عَلَى الْخُفَّيْنِ، عَلَى تَفْصِيلٍ لِلْفُقَهَاءِ يُرْجَعُ إِلَيْهِ فِي مَوَاطِنِهِ.

Sebagian sebab yang melahirkan rukhsah (keringanan)
Rukhsah adalah sesuatu yang disyariatkan karena adanya uzur yang berat, sebagai pengecualian dari suatu ketentuan umum yang pada asalnya mengharuskan adanya larangan, dengan membatasi rukhsah tersebut hanya pada kondisi yang diperlukan, sementara hukum asalnya tetap berlaku.

Contohnya adalah:

  • Tidak berpuasa Ramadan ketika dalam perjalanan.
  • Mengusap kedua khuf sebagai pengganti membasuh kaki.

Perincian mengenai hal ini dapat dilihat dalam pembahasan para fuqaha pada tempatnya masing-masing.

النَّسْخُ: وَهُوَ رَفْعُ الْحُكْمِ الشَّرْعِيِّ بِنَصٍّ شَرْعِيٍّ مُتَأَخِّرٍ.

Nasakh

Nasakh adalah penghapusan suatu hukum syariat dengan dalil syariat yang datang kemudian.

وَالَّذِي يُهِمُّنَا هُنَا هُوَ نَسْخُ الْحَظْرِ بِنَصٍّ شَرْعِيٍّ مُتَأَخِّرٍ فِيمَا كَانَ مُبَاحًا قَبْل الْحَظْرِ، مِثْل جَوَازِ الاِنْتِبَاذِ فِي الأَْوْعِيَةِ بَعْدَ حَظْرِهِ، لِقَوْل النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُنْت نَهَيْتُكُمْ عَنِ الأَْوْعِيَةِ فَانْتَبِذُوا وَاجْتَنِبُوا كُل مُسْكِرٍ (١) فَالأَْمْرُ بِالنَّبْذِ بَعْدَ النَّهْيِ عَنْهُ يُفِيدُ رَفْعَ الْحَرَجِ، وَهُوَ مَعْنَى الإِْبَاحَةِ.

Yang penting bagi kita dalam pembahasan ini adalah nasakh terhadap larangan dengan dalil syariat yang datang kemudian, terhadap suatu perkara yang sebelumnya mubah sebelum adanya larangan.

Contohnya adalah kebolehan membuat minuman rendaman dalam wadah-wadah tertentu setelah sebelumnya hal tersebut dilarang, berdasarkan sabda Nabi :

“Dahulu aku telah melarang kalian menggunakan wadah-wadah tersebut, maka sekarang buatlah minuman rendaman (di dalamnya), dan jauhilah setiap sesuatu yang memabukkan.”

Maka, perintah untuk membuat minuman rendaman setelah sebelumnya terdapat larangan darinya menunjukkan diangkatnya kesulitan atau larangan, dan inilah yang dimaksud dengan ibāḥah (kebolehan).

الْعُرْفُ. وَالْمُخْتَارُ فِي تَعْرِيفِهِ أَنَّهُ مَا اسْتَقَرَّ فِي النُّفُوسِ مِنْ جِهَةِ الْعُقُول، وَتَلَقَّتْهُ الطِّبَاعُ السَّلِيمَةُ بِالْقَبُول (١) . وَهُوَ دَلِيلٌ كَاشِفٌ إِذَا لَمْ يُوجَدْ نَصٌّ وَلاَ إِجْمَاعٌ عَلَى اعْتِبَارِهِ أَوْ إِلْغَائِهِ، كَالاِسْتِئْجَارِ بِعِوَضٍ مَجْهُولٍ لاَ يُفْضِي إِلَى النِّزَاعِ.

Al-‘Urf (Adat atau Kebiasaan)

Al-‘urf. Definisi yang dipilih untuknya adalah: “Sesuatu yang telah menetap dalam jiwa berdasarkan pertimbangan akal dan diterima oleh tabiat yang sehat.”

‘Urf merupakan dalil yang menyingkap hukum, apabila tidak terdapat nash maupun ijmak yang menyatakan bahwa ‘urf tersebut diakui atau dibatalkan.

Contohnya adalah menyewa sesuatu dengan imbalan yang tidak diketahui secara pasti, selama ketidakjelasan tersebut tidak menimbulkan perselisihan.

الاِسْتِصْلاَحُ (الْمَصْلَحَةُ الْمُرْسَلَةُ) :

Al-Istiṣlāḥ (Maṣlaḥah Mursalah)

هِيَ كُل مَصْلَحَةٍ غَيْرُ مُعْتَبَرَةٍ وَلاَ مُلْغَاةٍ بِنَصٍّ مِنَ الشَّارِعِ بِخُصُوصِهَا، يَكُونُ فِي الأَْخْذِ بِهَا جَلْبُ مَنْفَعَةٍ أَوْ دَفْعُ ضَرَرٍ، كَمُشَاطَرَةِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَمْوَال الَّذِينَ اتَّهَمَهُمْ بِالإِْثْرَاءِ بِسَبَبِ عَمَلِهِمْ لِلدَّوْلَةِ، وَهَذَا حَتَّى يَضَعَ مَبْدَأً لِلْعُمَّال أَلاَّ يَسْتَغِلُّوا مَرَاكِزَهُمْ لِصَالِحِ أَنْفُسِهِمْ.

Al-istiṣlāḥ (al-maṣlaḥah al-mursalah) adalah setiap kemaslahatan yang tidak secara khusus dinyatakan oleh Syāri‘ sebagai sesuatu yang diakui ataupun dibatalkan melalui suatu nash, yang apabila dijadikan pertimbangan dapat mendatangkan kemanfaatan atau mencegah kemudaratan.

Contohnya adalah tindakan ‘Umar radhiyallāhu ‘anhu membagi atau mengambil sebagian harta orang-orang yang dituduh memperoleh kekayaan karena pekerjaan mereka untuk negara. Hal ini dilakukan agar menjadi prinsip bagi para pegawai, supaya mereka tidak memanfaatkan jabatan atau kedudukan mereka untuk kepentingan pribadi.

مُتَعَلَّقُ الإِبَاحَةِ:

Objek yang Menjadi Sasaran Ibāḥah

١٤ - مُتَعَلِّقُ الإِْبَاحَةِ اهْتَمَّ بِهِ الْفُقَهَاءُ وَتَحَدَّثُوا عَنْ أَقْسَامِهِ وَفُرُوعِهِ، فَقَسَّمُوهُ مِنْ حَيْثُ مَصْدَرُ الإِْبَاحَةِ إِلَى قِسْمَيْنِ: مَا أَذِنَ فِيهِ الشَّارِعُ، وَمَا أَذِنَ فِيهِ الْعِبَادُ. وَمِنْ حَيْثُ نَوْعُ الإِْبَاحَةِ إِلَى قِسْمَيْنِ أَيْضًا: مَا فِيهِ تَمَلُّكٌ وَاسْتِهْلاَكٌ وَانْتِفَاعٌ، وَمَا فِيهِ اسْتِهْلاَكٌ وَانْتِفَاعٌ دُونَ تَمَلُّكٍ. وَلِكُل قِسْمٍ حُكْمُهُ، وَبَيَانُهُ فِيمَا يَأْتِي.

14. Objek yang menjadi sasaran ibāḥah mendapat perhatian dari para fuqaha. Mereka membahas berbagai pembagian dan cabangnya.

Ditinjau dari sumber ibāḥah, objek tersebut dibagi menjadi dua:

  1. Sesuatu yang diizinkan oleh Syāri‘.
  2. Sesuatu yang diizinkan oleh manusia.

Sedangkan ditinjau dari jenis ibāḥah, objek tersebut juga dibagi menjadi dua:

  1. Sesuatu yang di dalamnya terdapat unsur kepemilikan, konsumsi, dan pemanfaatan.
  2. Sesuatu yang di dalamnya terdapat konsumsi dan pemanfaatan, tetapi tidak disertai kepemilikan.

Setiap bagian memiliki hukum masing-masing, dan penjelasannya akan diuraikan berikut ini.

الْمَأْذُونُ بِهِ مِنَ الشَّارِعِ:

Sesuatu yang Diizinkan oleh Syāri‘

١٥ - الْمَأْذُونُ بِهِ مِنَ الشَّارِعِ مَا وَرَدَ دَلِيلٌ عَلَى إِبَاحَتِهِ مِنْ نَصٍّ أَوْ مِنْ مَصْدَرٍ مِنْ مَصَادِرِ التَّشْرِيعِ الأُْخْرَى. وَالْحَدِيثُ هُنَا سَيَكُونُ عَنِ الْمَأْذُونِ فِيهِ إِذْنًا عَامًّا لاَ يَخْتَصُّ بِبَعْضِ الأَْفْرَادِ دُونَ بَعْضِهِمُ الآْخَرِ.

15. Sesuatu yang diizinkan oleh Syāri‘ adalah sesuatu yang terdapat dalil yang menunjukkan kebolehannya, baik berupa nash maupun salah satu dari sumber-sumber hukum syariat lainnya.

Pembahasan di sini berkaitan dengan sesuatu yang memperoleh izin secara umum, yaitu izin yang tidak dikhususkan hanya untuk sebagian individu dan tidak berlaku bagi individu lainnya.

وَفِي ذَلِكَ مَطْلَبَانِ: مَطْلَبٌ لِلْمَأْذُونِ فِيهِ عَلَى وَجْهِ التَّمَلُّكِ وَالاِسْتِهْلاَكِ، وَهُوَ الْمُسَمَّى عِنْدَ الْفُقَهَاءِ بِالْمَال الْمُبَاحِ، وَمَطْلَبٌ لِلْمَأْذُونِ فِيهِ عَلَى وَجْهِ الاِنْتِفَاعِ فَقَطْ، وَهُوَ الْمُسَمَّى بِالْمَنَافِعِ الْعَامَّةِ.

Dalam hal ini terdapat dua pembahasan:

  1. Sesuatu yang diizinkan dalam bentuk kepemilikan dan konsumsi, yang oleh para fuqaha disebut al-māl al-mubāḥ (harta yang dibolehkan).
  2. Sesuatu yang diizinkan hanya dalam bentuk pemanfaatan, yang disebut al-manāfi‘ al-‘āmmah (kemanfaatan umum).

الْمَطْلَبُ الأَْوَّل

Pembahasan Pertama

مَا أَذِنَ فِيهِ الشَّارِعُ عَلَى وَجْهِ التَّمَلُّكِ وَالاِسْتِهْلاَكِ

Sesuatu yang Diizinkan oleh Syāri‘ dalam Bentuk Kepemilikan dan Konsumsi

١٦ - الْمَال الْمُبَاحُ هُوَ كُل مَا خَلَقَهُ اللَّهُ لِيَنْتَفِعَ بِهِ النَّاسُ عَلَى وَجْهٍ مُعْتَادٍ، وَلَيْسَ فِي حِيَازَةِ أَحَدٍ، مَعَ إِمْكَانِ حِيَازَتِهِ، وَلِكُل إِنْسَانٍ حَقُّ تَمَلُّكِهِ، سَوَاءٌ أَكَانَ حَيَوَانًا أَمْ نَبَاتًا أَمْ جَمَادًا. وَالدَّلِيل عَلَى ذَلِكَ قَوْل النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. مَنْ سَبَقَ إِلَى مَا لَمْ يَسْبِقْهُ إِلَيْهِ مُسْلِمٌ فَهُوَ لَهُ (١) . وَهَذَا التَّمَلُّكُ لاَ يَسْتَقِرُّ إِلاَّ عِنْدَ الاِسْتِيلاَءِ الْحَقِيقِيِّ، الَّذِي ضَبَطُوهُ بِوَضْعِ الْيَدِ عَلَى الشَّيْءِ الْمُبَاحِ، أَيْ الاِسْتِيلاَءِ الْفِعْلِيِّ، أَوْ كَوْنِهِ فِي مُتَنَاوَل الْيَدِ، وَهُوَ الاِسْتِيلاَءُ بِالْقُوَّةِ. وَقَدْ قَال الْعُلَمَاءُ: إِنَّ هَذَا الاِسْتِيلاَءَ بِإِحْدَى صُورَتَيْهِ لاَ يَحْتَاجُ إِلَى نِيَّةٍ وَقَصْدٍ فِي اسْتِقْرَارِ الْمِلْكِيَّةِ، كَمَا قَالُوا: إِنَّ الاِسْتِيلاَءَ بِوَسَاطَةِ آلَةٍ وَحِرْفَةٍ وَمَهَارَةٍ يَحْتَاجُ إِلَى الْقَصْدِ لِيَكُونَ اسْتِيلاَءً حَقِيقِيًّا، وَإِلاَّ كَانَ اسْتِيلاَءً حُكْمِيًّا. جَاءَ فِي الْفَتَاوَى الْهِنْدِيَّةِ فِيمَنْ عَلَّقَ كُوزَهُ، أَوْ وَضَعَهُ فِي سَطْحِهِ، فَأَمْطَرَ السَّحَابُ وَامْتَلأََ الْكُوزُ مِنْ الْمَطَرِ، فَأَخَذَهُ إِنْسَانٌ، فَالْحُكْمُ هُوَ اسْتِرْدَادُ الْكُوزِ؛ لأَِنَّهُ مِلْكُ صَاحِبِهِ، وَأَمَّا الْمَاءُ فَإِنْ كَانَ صَاحِبُ الْكُوزِ قَدْ وَضَعَهُ مِنْ أَجْل جَمْعِ الْمَاءِ فَيَسْتَرِدُّ الْمَاءَ أَيْضًا، لأَِنَّ مِلْكَهُ حَقِيقِيٌّ حِينَئِذٍ، فَإِنْ لَمْ يَضَعْهُ لِذَلِكَ لَمْ يَسْتَرِدُّهُ. (١)

16. Harta mubah adalah segala sesuatu yang Allah ciptakan agar manusia dapat mengambil manfaat darinya dengan cara yang lazim, yang belum berada dalam penguasaan seseorang, serta memungkinkan untuk dikuasai. Setiap orang berhak memilikinya, baik berupa hewan, tumbuhan, maupun benda mati.

Dalilnya adalah sabda Nabi :

“Barang siapa lebih dahulu mendapatkan sesuatu yang belum didahului oleh seorang Muslim pun untuk mendapatkannya, maka sesuatu itu menjadi miliknya.”

Kepemilikan tersebut tidak menjadi tetap kecuali setelah terjadi penguasaan yang nyata. Para fuqaha menjelaskan penguasaan ini dalam dua bentuk:

  1. Meletakkan tangan pada sesuatu yang mubah, yaitu penguasaan secara langsung.
  2. Sesuatu tersebut berada dalam jangkauan tangan, yaitu penguasaan secara potensial.

Para ulama mengatakan bahwa penguasaan dalam salah satu dari kedua bentuk tersebut tidak memerlukan niat dan tujuan tertentu agar kepemilikan menjadi tetap.

Namun, mereka juga menjelaskan bahwa penguasaan yang dilakukan dengan perantara alat, keahlian, atau keterampilan memerlukan adanya niat, agar dapat dianggap sebagai penguasaan yang nyata. Jika tidak disertai niat, maka penguasaan tersebut hanya merupakan penguasaan secara hukum (istīlā’ ḥukmī).

Dalam Fatāwā al-Hindiyyah disebutkan mengenai seseorang yang memasang wadahnya atau meletakkannya di atas atap rumahnya, kemudian hujan turun dan wadah tersebut terisi air hujan, lalu seseorang mengambilnya. Hukumnya adalah wadah tersebut harus dikembalikan, karena merupakan milik pemiliknya.

Adapun mengenai air yang berada di dalam wadah, apabila pemilik wadah memang meletakkannya dengan tujuan mengumpulkan air, maka ia juga berhak mengambil kembali air tersebut, karena pada saat itu air tersebut telah menjadi miliknya secara nyata.

Namun, jika ia tidak meletakkan wadah tersebut dengan tujuan mengumpulkan air, maka ia tidak berhak mengambil kembali air tersebut.

وَمِنْ أَمْثِلَةِ الأَْمْوَال الْمُبَاحَةِ الْمَاءُ وَالْكَلأَُ وَالنَّارُ وَالْمَوَاتُ وَالرِّكَازُ وَالْمَعَادِنُ وَالْحَيَوَانَاتُ غَيْرُ الْمَمْلُوكَةِ. وَلِكُلٍّ أَحْكَامُهُ

Di antara contoh harta mubah adalah air, rerumputan, api, tanah mati (tanah yang belum dimiliki atau dikelola), rikāz (harta terpendam), barang tambang, serta hewan-hewan yang belum dimiliki.

Masing-masing memiliki ketentuan hukum tersendiri.

الْمَطْلَبُ الثَّانِي

Pembahasan Kedua

مَا أَذِنَ فِيهِ الشَّارِعُ عَلَى وَجْهِ الاِنْتِفَاعِ

Sesuatu yang Diizinkan oleh Syāri‘ dalam Bentuk Pemanfaatan

١٧ - وَهُوَ مَا يُسَمَّى بِالْمَنَافِعِ الْعَامَّةِ، الَّتِي جَعَل اللَّهُ إِبَاحَتَهَا تَيْسِيرًا عَلَى عِبَادِهِ، لِيَتَقَرَّبُوا إِلَيْهِ فِيهَا، أَوْ لِيُمَارِسُوا أَعْمَالَهُمْ فِي الْحَيَاةِ مُسْتَعِينِينَ بِهَا، كَالْمَسَاجِدِ، وَالطُّرُقِ. وَيُرْجَعُ لِمَعْرِفَةِ تَفْصِيل أَحْكَامِهِمَا إِلَى مُصْطَلَحَيْهِمَا.

17. Hal ini disebut al-manāfi‘ al-‘āmmah (kemanfaatan umum), yaitu berbagai kemanfaatan yang Allah jadikan boleh sebagai bentuk kemudahan bagi hamba-hamba-Nya, agar mereka dapat mendekatkan diri kepada-Nya melalui kemanfaatan tersebut atau dapat menjalankan aktivitas kehidupan mereka dengan memanfaatkannya.

Contohnya adalah masjid dan jalan umum.

Untuk mengetahui rincian hukum mengenai keduanya, dapat merujuk kepada pembahasan khusus tentang istilah “masjid” dan “jalan”.

الْمَأْذُونُ فِيهِ مِنَ الْعِبَادِ

Sesuatu yang Diizinkan oleh Manusia

١٨ - إِبَاحَةُ الْعِبَادِ كَذَلِكَ عَلَى نَوْعَيْنِ: نَوْعٌ يَكُونُ التَّسْلِيطُ فِيهِ عَلَى الْعَيْنِ لاِسْتِهْلاَكِهَا، وَنَوْعٌ يَكُونُ التَّسْلِيطُ فِيهِ عَلَى الْعَيْنِ لِلاِنْتِفَاعِ بِهَا فَقَطْ.

18. Ibāḥah yang diberikan oleh manusia juga terbagi menjadi dua jenis:

  1. Jenis pertama, yaitu pemberian izin untuk menguasai suatu benda dengan tujuan mengonsumsinya atau menghabiskannya.
  2. Jenis kedua, yaitu pemberian izin untuk menguasai suatu benda hanya untuk memanfaatkannya, tanpa mengonsumsinya atau menghabiskannya.

إِبَاحَةُ الاِسْتِهْلاَكِ:

Ibāḥah untuk Konsumsi

١٩ - لِهَذِهِ الإِْبَاحَةِ جُزْئِيَّاتٌ كَثِيرَةٌ نَكْتَفِي مِنْهَا بِمَا يَأْتِي:

19. Ibāḥah jenis ini memiliki banyak bentuk. Di antaranya adalah sebagai berikut:

أ - الْوَلاَئِمُ بِمُنَاسَبَاتِهَا الْمُتَعَدِّدَةِ وَالْمُبَاحُ فِيهَا الأَْكْل وَالشُّرْبُ دُونَ الأَْخْذِ.

 

ب - الضِّيَافَةُ. وَيُرْجَعُ فِي تَفْصِيل أَحْكَامِهِمَا إِلَى مُصْطَلَحَيْهِمَا.

A. Jamuan makanan (walā’im)
Jamuan yang diadakan dalam berbagai kesempatan. Dalam jamuan tersebut, yang dibolehkan adalah makan dan minum, bukan mengambil atau membawa makanan tersebut.

B. Jamuan tamu (ḍiyāfah)
Adapun rincian hukum mengenai keduanya dapat dirujuk pada pembahasan khusus tentang istilah walīmah dan ḍiyāfah.

إِبَاحَةُ الاِنْتِفَاعِ:

Ibāḥah untuk Pemanfaatan

٢٠ - هَذَا النَّوْعُ مِنَ الإِْبَاحَةِ قَدْ يَكُونُ مَعَ مِلْكِ الآْذِنِ لِعَيْنِ مَا أُذِنَ الاِنْتِفَاعُ بِهِ كَإِذْنِ مَالِكِ الدَّابَّةِ أَوِ السَّيَّارَةِ لِغَيْرِهِ بِرُكُوبِهَا، وَإِذْنِ مَالِكِ الْكُتُبِ لِلاِطِّلاَعِ عَلَيْهَا. وَقَدْ يَكُونُ الإِْذْنُ فِيمَا لاَ يُمْلَكُ عَيْنُهُ، وَلَكِنْ يُمْلَكُ مَنْفَعَتُهُ بِمِثْل الإِْجَارَةِ أَوِ الإِْعَارَةِ، إِنْ لَمْ يُشْتَرَطْ فِيهِمَا أَنْ يَكُونَ الاِنْتِفَاعُ شَخْصِيًّا لِلْمُسْتَأْجِرِ وَالْمُسْتَعِيرِ.

20. Jenis ibāḥah ini terkadang berkaitan dengan kepemilikan orang yang memberikan izin atas benda yang pemanfaatannya diizinkan, seperti pemilik hewan tunggangan atau mobil memberikan izin kepada orang lain untuk mengendarainya, atau pemilik buku memberikan izin kepada orang lain untuk membacanya dan mempelajarinya.

Terkadang pula izin tersebut berkaitan dengan sesuatu yang bendanya tidak dimiliki, tetapi manfaatnya dapat dimiliki, seperti dalam sewa-menyewa (ijārah) atau pinjam-meminjam (‘āriyah), selama dalam kedua akad tersebut tidak disyaratkan bahwa pemanfaatannya harus dilakukan secara pribadi oleh penyewa atau peminjam.

تَقْسِيمَاتُ الإِْبَاحَةِ:

Pembagian-Pembagian Ibāḥah

٢١ - لِلإِْبَاحَةِ تَقْسِيمَاتٌ شَتَّى بِاعْتِبَارَاتٍ مُخْتَلِفَةٍ، وَقَدْ تَقَدَّمَ أَكْثَرُهَا. وَبَقِيَ الْكَلاَمُ عَنْ تَقْسِيمِهَا مِنْ حَيْثُ مَصْدَرُهَا وَمِنْ حَيْثُ الْكُلِّيَّةُ وَالْجُزْئِيَّةُ:

21. Ibāḥah memiliki berbagai macam pembagian berdasarkan beragam tinjauan, dan sebagian besar di antaranya telah dijelaskan sebelumnya.

Masih tersisa pembahasan mengenai pembagian ibāḥah berdasarkan sumbernya, serta berdasarkan sifatnya yang bersifat umum (kullī) atau khusus/parsial (juz’ī).

أ - تَقْسِيمُهَا مِنْ حَيْثُ مَصْدَرُهَا:

A. Pembagian Ibāḥah Berdasarkan Sumbernya:

٢٢ - تُقَسَّمُ بِهَذَا الاِعْتِبَارِ إِلَى

22. Berdasarkan tinjauan ini, ibāḥah dibagi menjadi:

إِبَاحَةٍ أَصْلِيَّةٍ، بِأَلاَّ يَرِدَ فِيهَا نَصٌّ مِنَ الشَّارِعِ، وَبَقِيَتْ عَلَى الأَْصْل، وَقَدْ سَبَقَ بَيَانُهَا.

1. Ibāḥah Aṣliyyah

Yaitu ibāḥah yang tidak terdapat nash dari Syāri‘ yang secara khusus menetapkannya, sehingga perkara tersebut tetap berada pada hukum asalnya. Penjelasannya telah dikemukakan sebelumnya.

وَإِبَاحَةٌ شَرْعِيَّةٌ:

2. Ibāḥah Syar‘iyyah

بِمَعْنَى وُرُودِ نَصٍّ مِنَ الشَّارِعِ بِالتَّخْيِيرِ، وَذَلِكَ إِمَّا ابْتِدَاءً كَإِبَاحَةِ الأَْكْل وَالشُّرْبِ، وَإِمَّا بَعْدَ حُكْمٍ سَابِقٍ مُخَالِفٍ، كَمَا فِي النَّسْخِ أَوِ الرُّخَصِ، وَقَدْ سَبَقَ.

Yaitu ibāḥah dalam pengertian adanya nash dari Syāri‘ yang memberikan pilihan. Hal ini dapat terjadi dalam dua keadaan:

  • Sejak awal, seperti kebolehan makan dan minum.
  • Setelah adanya hukum sebelumnya yang berbeda, sebagaimana terjadi dalam nasakh atau rukhsah (keringanan). Penjelasannya juga telah dikemukakan sebelumnya.

عَلَى أَنَّهُ مِمَّا يَنْبَغِي مُلاَحَظَتُهُ أَنَّهُ بَعْدَ وُرُودِ الشَّرْعِ أَصْبَحَتِ الإِْبَاحَةُ الأَْصْلِيَّةُ إِبَاحَةً شَرْعِيَّةً لِقَوْل اللَّهِ تَعَالَى {هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الأَْرْضِ جَمِيعًا} (١)

Namun, perlu diperhatikan bahwa setelah datangnya syariat, ibāḥah aṣliyyah menjadi ibāḥah syar‘iyyah, berdasarkan firman Allah Ta‘ala:

“Dialah yang menciptakan untuk kalian segala sesuatu yang ada di bumi.”

وَقَوْلِهِ: {وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الأَْرْضِ جَمِيعًا مِنْهُ} (١)

Dan firman-Nya:

“Dan Dia telah menundukkan untuk kalian apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya dari-Nya.”

فَإِنَّ هَذَا النَّصَّ يَدُل عَلَى أَنَّ كُل مَا خَلَقَهُ اللَّهُ يَكُونُ مُبَاحًا إِلاَّ مَا وَرَدَ دَلِيلٌ يُثْبِتُ لَهُ حُكْمًا آخَرَ، عَلَى خِلاَفٍ وَتَفْصِيلٍ يُرْجَعُ إِلَيْهِ فِي الْمُلْحَقِ الأُْصُولِيِّ. (٢)

Nash-nash tersebut menunjukkan bahwa segala sesuatu yang Allah ciptakan pada dasarnya adalah mubah, kecuali terdapat dalil yang menetapkan hukum lain baginya. Mengenai hal ini terdapat perbedaan pendapat dan perincian yang dapat dirujuk dalam lampiran usul fikih.

وَقَدْ يَكُونُ مَصْدَرُ الإِْبَاحَةِ إِذْنَ الْعِبَادِ بَعْضِهِمْ لِبَعْضٍ عَلَى مَا سَبَقَ. (ف ٩) . (٣)

Sumber ibāḥah juga terkadang berasal dari izin yang diberikan oleh sesama manusia kepada satu sama lain, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

ب - تَقْسِيمُهَا بِاعْتِبَارِ الْكُلِّيَّةِ وَالْجُزْئِيَّةِ:

B. Pembagian Ibāḥah Berdasarkan Sifat Kullī dan Juz’ī

٢٣ - تَنْقَسِمُ أَرْبَعَةَ أَقْسَامٍ:

23. Berdasarkan sifatnya yang kullī (umum/keseluruhan) dan juz’ī (khusus/parsial), ibāḥah terbagi menjadi empat macam:

١ - إِبَاحَةٌ لِلْجُزْءِ مَعَ طَلَبِ الْكُل عَلَى جِهَةِ الْوُجُوبِ، كَالأَْكْل مَثَلاً، فَيُبَاحُ أَكْل نَوْعٍ وَتَرْكُ آخَرَ مِمَّا أَذِنَ بِهِ الشَّرْعُ، وَلَكِنَّ الاِمْتِنَاعَ عَنِ الأَْكْل جُمْلَةً حَرَامٌ لِمَا يَتَرَتَّبُ عَلَيْهِ مِنَ الْهَلاَكِ.

1. Ibāḥah pada Sebagian Perbuatan, Disertai Tuntutan Wajib pada Keseluruhannya

Yaitu suatu perbuatan yang sebagian bentuknya diperbolehkan, sementara secara keseluruhan terdapat tuntutan untuk melakukannya secara wajib.

Contohnya adalah makan. Seseorang diperbolehkan memilih untuk memakan salah satu jenis makanan dan meninggalkan jenis makanan lainnya yang diizinkan oleh syariat.

Namun, meninggalkan makan secara keseluruhan adalah haram, karena hal tersebut dapat mengakibatkan kebinasaan atau kematian.

٢ - إِبَاحَةٌ لِلْجُزْءِ مَعَ طَلَبِ الْكُل عَلَى جِهَةِ النَّدْبِ، كَالتَّمَتُّعِ بِمَا فَوْقَ الْحَاجَةِ مِنْ طَيِّبَاتِ الأَْكْل وَالشُّرْبِ، فَذَلِكَ مُبَاحٌ يَجُوزُ تَرْكُهُ فِي بَعْضِ الأَْحْيَانِ، وَلَكِنَّ هَذَا التَّمَتُّعَ مَنْدُوبٌ إِلَيْهِ بِاعْتِبَارِ الْكُل، عَلَى مَعْنَى أَنَّ تَرْكَهُ جُمْلَةً يُخَالِفُ مَا نَدَبَ إِلَيْهِ الشَّرْعُ مِنَ التَّحَدُّثِ بِنِعْمَةِ اللَّهِ وَالتَّوْسِعَةِ، كَمَا فِي حَدِيثِ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُحِبُّ أَنْ يَرَى أَثَرَ نِعْمَتِهِ عَلَى عَبْدِهِ (٤) وَكَمَا قَال عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ إِذَا أَوْسَعَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ فَأَوْسِعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ (١) .

2. Ibāḥah pada Sebagian Perbuatan, Disertai Tuntutan Sunnah pada Keseluruhannya

Yaitu suatu perbuatan yang sebagian bentuknya diperbolehkan, sementara secara keseluruhan perbuatan tersebut dianjurkan (mandub).

Contohnya adalah menikmati makanan dan minuman yang baik melebihi kebutuhan. Hal tersebut pada dasarnya mubah, sehingga seseorang boleh meninggalkannya pada sebagian waktu.

Namun, menikmati kenikmatan tersebut secara keseluruhan dianjurkan, dalam arti bahwa meninggalkannya secara total bertentangan dengan apa yang dianjurkan syariat, yaitu menampakkan nikmat Allah dan memberikan kelapangan kepada diri sendiri.

Sebagaimana dalam hadis:

“Sesungguhnya Allah Ta‘ala menyukai jika Dia melihat bekas nikmat-Nya pada hamba-Nya.”

Sebagaimana pula perkataan ‘Umar bin al-Khaṭṭāb radhiyallāhu ‘anhu:

“Apabila Allah memberikan kelapangan kepada kalian, maka berilah kelapangan kepada diri kalian.”

٣ - إِبَاحَةٌ لِلْجُزْءِ مَعَ التَّحْرِيمِ بِاعْتِبَارِ الْكُل، كَالْمُبَاحَاتِ الَّتِي تَقْدَحُ الْمُدَاوَمَةُ عَلَيْهَا فِي الْعَدَالَةِ، كَاعْتِيَادِ الْحَلِفِ، وَشَتْمِ الأَْوْلاَدِ، فَذَلِكَ مُبَاحٌ فِي الأَْصْل، لَكِنَّهُ مُحَرَّمٌ بِالاِعْتِيَادِ.

3. Ibāḥah pada Sebagian Perbuatan, tetapi Menjadi Haram jika Ditinjau secara Keseluruhan

Yaitu perkara-perkara yang pada asalnya mubah, tetapi jika dilakukan secara terus-menerus hingga menjadi kebiasaan, maka hukumnya dapat menjadi haram.

Contohnya adalah terbiasa bersumpah dan mencaci anak-anak. Perbuatan tersebut pada asalnya termasuk perkara yang mubah, tetapi menjadikannya sebagai kebiasaan terus-menerus adalah haram.

٤ - إِبَاحَةٌ لِلْجُزْءِ مَعَ الْكَرَاهَةِ بِاعْتِبَارِ الْكُل، كَاللَّعِبِ الْمُبَاحِ، فَإِنَّ ذَلِكَ وَإِنْ كَانَ مُبَاحًا بِالأَْصْل إِلاَّ أَنَّ الْمُدَاوَمَةَ عَلَيْهِ مَكْرُوهَةٌ.

4. Ibāḥah pada Sebagian Perbuatan, tetapi Makruh jika Ditinjau secara Keseluruhan

Yaitu suatu perbuatan yang pada dasarnya mubah ketika dilakukan sesekali, tetapi menjadi makruh apabila dilakukan secara terus-menerus.

Contohnya adalah permainan yang mubah. Meskipun permainan tersebut pada asalnya diperbolehkan, terus-menerus melakukannya hukumnya makruh.

آثَارُ الإِبَاحَةِ:

Dampak dan Konsekuensi Ibāḥah

٢٤ - إِذَا ثَبَتَتِ الإِْبَاحَةُ ثَبَتَ لَهَا مِنَ الآْثَارِ مَا يَلِي:

24. Apabila ibāḥah telah ditetapkan, maka beberapa konsekuensi hukum berikut berlaku:

١ - رَفْعُ الإِْثْمِ وَالْحَرَجِ.

1. Gugurnya Dosa dan Kesulitan

وَذَلِكَ مَا يَدُل عَلَيْهِ تَعْرِيفُ الإِْبَاحَةِ بِأَنَّهُ لاَ يَتَرَتَّبُ عَلَى الْفِعْل الْمُبَاحِ إِثْمٌ.

Hal ini ditunjukkan oleh definisi ibāḥah, yaitu bahwa tidak ada dosa yang timbul akibat melakukan suatu perbuatan yang mubah.

٢ - التَّمْكِينُ مِنَ التَّمَلُّكِ الْمُسْتَقِرِّ بِالنِّسْبَةِ لِلْعَيْنِ، وَالاِخْتِصَاصُ بِالنِّسْبَةِ لِلْمَنْفَعَةِ:

2. Memungkinkan Kepemilikan yang Tetap atas Benda dan Kekhususan Hak atas Manfaat

وَذَلِكَ لأَِنَّ الإِْبَاحَةَ طَرِيقٌ لِتَمَلُّكِ الْعَيْنِ الْمُبَاحَةِ. هَذَا بِالنِّسْبَةِ لِلْعَيْنِ. أَمَّا بِالنِّسْبَةِ لِلْمَنْفَعَةِ الْمُبَاحَةِ فَإِنَّ أَثَرَ الإِْبَاحَةِ فِيهَا اخْتِصَاصُ الْمُبَاحِ لَهُ بِالاِنْتِفَاعِ، وَعِبَارَاتُ الْفُقَهَاءِ فِي الْمَذَاهِبِ الْمُخْتَلِفَةِ تَتَّفِقُ فِي أَنَّ تَصَرُّفَ الْمَأْذُونِ لَهُ فِي طَعَامِ الْوَلِيمَةِ قَبْل وَضْعِهِ فِي فَمِهِ لاَ يَجُوزُ بِغَيْرِ الأَْكْل، إِلاَّ إِذَا أَذِنَ لَهُ صَاحِبُ الْوَلِيمَةِ أَوْ دَل عَلَيْهِ عُرْفٌ أَوْ قَرِينَةٌ. وَبِهَذَا تُفَارِقُ الإِْبَاحَةُ الْهِبَةَ وَالصَّدَقَةَ بِأَنَّ فِيهِمَا تَمْلِيكًا، كَمَا أَنَّهَا تُفَارِقُ الْوَصِيَّةَ حَيْثُ تَكُونُ هَذِهِ مُضَافَةً إِلَى مَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَلاَ بُدَّ فِيهَا مِنْ إِذْنِ الدَّائِنِينَ وَالْوَرَثَةِ أَحْيَانًا، كَمَا لاَ بُدَّ مِنْ صِيغَةٍ فِي الْوَصِيَّةِ. (١)

Hal ini karena ibāḥah merupakan salah satu jalan untuk memperoleh kepemilikan atas benda yang mubah. Ini berkaitan dengan benda (‘ain).

Adapun berkaitan dengan manfaat yang dibolehkan, maka dampak ibāḥah adalah memberikan hak khusus kepada orang yang diberi izin untuk memanfaatkan sesuatu tersebut.

Ungkapan para fuqaha dari berbagai mazhab menunjukkan kesepakatan bahwa orang yang diberi izin untuk menikmati makanan dalam suatu walimah, sebelum makanan tersebut dimasukkan ke dalam mulutnya, tidak diperbolehkan memperlakukannya untuk tujuan selain memakannya, kecuali apabila pemilik walimah memberikan izin untuk itu, atau terdapat ‘urf (kebiasaan) atau qarīnah (indikasi) yang menunjukkan kebolehan tersebut.

Dengan demikian, ibāḥah berbeda dari hibah dan sedekah, karena dalam hibah dan sedekah terdapat unsur pemindahan kepemilikan (tamlik).

Ibāḥah juga berbeda dari wasiat, karena wasiat berlaku setelah kematian, dan dalam kondisi tertentu diperlukan izin para kreditor dan ahli waris, sebagaimana wasiat juga harus disertai ṣīghah (ungkapan akad).

٢٥ - هَذِهِ هِيَ آثَارُ الإِْبَاحَةِ لِلأَْعْيَانِ فِي إِذْنِ الْعِبَادِ. أَمَّا آثَارُ الإِْبَاحَةِ لِلْمَنَافِعِ فَإِنَّ إِبَاحَتَهَا لاَ تُفِيدُ إِلاَّ حِل الاِنْتِفَاعِ فَقَطْ، عَلَى مَا تَقَدَّمَ تَفْصِيلُهُ. فَحَقُّ الاِنْتِفَاعِ الْمُجَرَّدِ مِنْ قَبِيل التَّرْخِيصِ بِالاِنْتِفَاعِ الشَّخْصِيِّ دُونَ الاِمْتِلاَكِ، وَمِلْكُ الْمَنْفَعَةِ فِيهِ اخْتِصَاصٌ حَاجِزٌ لِحَقِّ الْمُسْتَأْجِرِ مِنْ مَنَافِعِ الْمُؤَجِّرِ، فَهُوَ أَقْوَى وَأَشْمَل؛ لأَِنَّ فِيهِ حَقَّ الاِنْتِفَاعِ وَزِيَادَةً. وَآثَارُ ذَلِكَ قَدْ تَقَدَّمَ الْكَلاَمُ عَلَيْهَا.

25. Inilah dampak ibāḥah terhadap benda-benda (‘ain) dalam hal izin yang diberikan oleh manusia.

Adapun dampak ibāḥah terhadap manfaat, maka kebolehannya hanya memberikan hak untuk memanfaatkan sesuatu, sebagaimana telah dijelaskan secara terperinci sebelumnya.

Dengan demikian, hak pemanfaatan semata termasuk bentuk pemberian izin untuk pemanfaatan pribadi tanpa disertai kepemilikan.

Sedangkan kepemilikan atas manfaat merupakan suatu hak khusus yang membatasi hak penyewa terhadap manfaat yang dimiliki oleh pihak yang menyewakan. Oleh karena itu, kepemilikan manfaat ini lebih kuat dan lebih luas, karena di dalamnya terdapat hak untuk memanfaatkan sekaligus hak tambahan berupa penguasaan atas manfaat tersebut.

Adapun konsekuensi hukum dari hal tersebut telah dijelaskan sebelumnya.

الإِبَاحَةُ وَالضَّمَانُ:

Ibāḥah dan Ḍamān (Ganti Rugi)

٢٦ - الإِْبَاحَةُ لاَ تُنَافِي الضَّمَانَ فِي الْجُمْلَةِ؛ لأَِنَّ إِبَاحَةَ اللَّهِ - وَإِنْ كَانَ فِيهَا رَفْعُ الْحَرَجِ وَالإِْثْمِ - إِلاَّ أَنَّهَا قَدْ يَكُونُ مَعَهَا ضَمَانٌ، فَإِبَاحَةُ الاِنْتِفَاعِ تَقْتَضِي صِيَانَةَ الْعَيْنِ الْمُبَاحَةِ عَنِ التَّخْرِيبِ وَالضَّرَرِ، وَمَا حَدَثَ مِنْ ذَلِكَ لاَ بُدَّ مِنْ ضَمَانِهِ. وَإِبَاحَةُ الأَْعْيَانِ كَأَخْذِ الْمُضْطَرِّ طَعَامَ غَيْرِهِ لاَ تَمْنَعُ ضَمَانَ قِيمَتِهِ إِذَا كَانَ بِغَيْرِ إِذْنِهِ؛ لأَِنَّ اللَّهَ جَعَل لِلْعَبْدِ حَقًّا فِي مِلْكِهِ، فَلاَ يُنْقَل الْمِلْكُ مِنْهُ إِلَى غَيْرِهِ إِلاَّ بِرِضَاهُ، وَلاَ يَصِحُّ الإِْبْرَاءُ مِنْهُ إِلاَّ بِإِسْقَاطِهِ، كَمَا يَقُول الْقَرَافِيُّ فِي الْفُرُوقِ (١) .

26. Ibāḥah pada dasarnya tidak bertentangan dengan kewajiban memberikan ganti rugi (ḍamān). Sebab, meskipun ibāḥah dari Allah mengandung penghapusan kesulitan dan dosa, terkadang ibāḥah tetap disertai kewajiban ḍamān.

Kebolehan untuk memanfaatkan sesuatu mengharuskan agar benda yang boleh dimanfaatkan tersebut dijaga dari kerusakan dan bahaya. Apabila terjadi kerusakan atau kerugian akibatnya, maka kerusakan tersebut wajib diberikan ganti rugi.

Demikian pula, kebolehan mengambil atau memanfaatkan suatu benda, seperti orang yang berada dalam keadaan darurat mengambil makanan milik orang lain, tidak menghilangkan kewajiban mengganti nilainya apabila pengambilan tersebut dilakukan tanpa izin pemiliknya.

Hal ini karena Allah telah menetapkan bagi seorang hamba hak atas harta miliknya. Oleh sebab itu, kepemilikan tersebut tidak dapat dipindahkan kepada orang lain kecuali dengan kerelaan pemiliknya.

Demikian pula, hak tersebut tidak dapat dinyatakan bebas atau gugur kecuali dengan penghapusan hak tersebut oleh pemiliknya. Sebagaimana dijelaskan oleh al-Qarāfī dalam kitab al-Furūq.

وَحَكَى الْقَرَافِيُّ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ قَوْلَيْنِ: أَحَدُهُمَا: لاَ يُضْمَنُ؛ لأَِنَّ الدَّفْعَ كَانَ وَاجِبًا عَلَى الْمَالِكِ، وَالْوَاجِبُ لاَ يُؤْخَذُ لَهُ عِوَضٌ.

Al-Qarāfī menukil dua pendapat dalam persoalan ini:

Pendapat pertama: Tidak wajib memberikan ganti rugi, karena pemilik memang berkewajiban menyerahkan makanan tersebut, sedangkan sesuatu yang wajib diberikan tidak ada kewajiban memberikan penggantian atasnya.

وَالْقَوْل الثَّانِي: يَجِبُ، وَهُوَ الأَْظْهَرُ وَالأَْشْهَرُ؛ لأَِنَّ إِذْنَ الْمَالِكِ لَمْ يُوجَدْ، وَإِنَّمَا وُجِدَ إِذْنُ صَاحِبِ الشَّرْعِ، وَهُوَ لاَ يُوجِبُ سُقُوطَ الضَّمَانِ، وَإِنَّمَا يَنْفِي الإِْثْمَ وَالْمُؤَاخَذَةَ بِالْعِقَابِ.

Pendapat kedua: Wajib memberikan ganti rugi. Pendapat ini merupakan pendapat yang lebih kuat dan lebih masyhur, karena izin dari pemilik harta tidak ada. Yang ada hanyalah izin dari Pembuat Syariat (Allah). Izin dari Syāri‘ tersebut tidak mengharuskan gugurnya kewajiban ganti rugi, tetapi hanya menghilangkan dosa dan pertanggungjawaban berupa hukuman.

أَمَّا إِبَاحَةُ الْعِبَادِ بَعْضِهِمْ لِبَعْضٍ فَقَدْ تَقَدَّمَ الْكَلاَمُ عَلَيْهَا مُفَصَّلاً.

Adapun ibāḥah yang diberikan oleh sesama manusia kepada yang lainnya, penjelasannya telah dikemukakan secara terperinci sebelumnya.

مَا تَنْتَهِي بِهِ الإِبَاحَةُ:

Hal-Hal yang Mengakhiri Ibāḥah

٢٧ - أَوَّلاً: إِبَاحَةُ اللَّهِ سُبْحَانَهُ لاَ تَنْتَهِي مِنْ جِهَتِهِ هُوَ؛ لأَِنَّهُ سُبْحَانَهُ حَيٌّ بَاقٍ، وَالْوَحْيُ قَدِ انْقَطَعَ، فَلاَ وَحْيَ بَعْدَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنَّمَا تَنْتَهِي بِانْتِهَاءِ دَوَاعِيهَا، كَمَا فِي الرُّخَصِ، فَإِذَا وُجِدَ السَّفَرُ فِي نَهَارِ رَمَضَانَ مَثَلاً وُجِدَتِ الإِْبَاحَةُ بِالتَّرْخِيصِ فِي الْفِطْرِ، فَإِذَا انْتَهَى السَّفَرُ انْتَهَتِ الرُّخْصَةُ.

27. Pertama: Ibāḥah yang diberikan oleh Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā tidak berakhir dari sisi Allah sendiri, karena Dia Maha Hidup dan Maha Kekal. Adapun wahyu telah terputus, sehingga tidak ada wahyu setelah Nabi Muhammad .

Ibāḥah berakhir karena berakhirnya sebab-sebab yang melahirkannya, sebagaimana yang terjadi pada rukhsah (keringanan).

Sebagai contoh, apabila seseorang melakukan perjalanan pada siang hari di bulan Ramadan, maka terdapat ibāḥah berupa keringanan untuk tidak berpuasa. Namun, apabila perjalanan tersebut telah berakhir, maka rukhsah tersebut juga berakhir.

٢٨ - ثَانِيًا: وَإِبَاحَةُ الْعِبَادِ تَنْتَهِي بِأُمُورٍ:

28. Kedua: Ibāḥah yang Diberikan oleh Sesama Manusia Berakhir karena Beberapa Hal

أ - انْتِهَاءُ مُدَّتِهَا إِنْ كَانَتْ مُقَيَّدَةً بِزَمَنٍ، فَالْمُؤْمِنُونَ عِنْدَ شُرُوطِهِمْ، وَإِذَا فُقِدَ الشَّرْطُ فُقِدَ الْمَشْرُوطُ.

A. Berakhirnya masa berlaku ibāḥah

Apabila ibāḥah dibatasi oleh waktu tertentu, maka ketika masa tersebut berakhir, ibāḥah juga berakhir. Sebab, orang-orang mukmin terikat dengan syarat-syarat yang mereka sepakati. Apabila syaratnya tidak ada lagi, maka sesuatu yang bergantung pada syarat tersebut juga tidak ada lagi.

ب - رُجُوعُ الآْذِنِ فِي إِذْنِهِ، حَيْثُ إِنَّهُ لَيْسَ وَاجِبًا عَلَيْهِ، فَهُوَ تَبَرُّعٌ مِنْهُ، كَمَا قَال جُمْهُورُ الْعُلَمَاءِ. وَهِيَ لاَ تَنْتَهِي بِمُجَرَّدِ الرُّجُوعِ، بَل لاَ بُدَّ مِنْ عِلْمِ الْمَأْذُونِ لَهُ بِهِ، كَمَا هُوَ مُقْتَضَى قَوَاعِدِ الْحَنَفِيَّةِ، وَهُوَ قَوْلٌ لِلشَّافِعِيِّ.

B. Pemberi izin menarik kembali izinnya

Ibāḥah juga berakhir apabila orang yang memberikan izin menarik kembali izinnya, karena memberikan izin bukanlah sesuatu yang wajib baginya, melainkan merupakan bentuk pemberian sukarela (tabarru‘), sebagaimana pendapat mayoritas ulama.

Namun, ibāḥah tidak berakhir hanya dengan adanya pencabutan izin semata. Pihak yang sebelumnya memperoleh izin harus terlebih dahulu mengetahui bahwa izin tersebut telah dicabut. Demikianlah konsekuensi kaidah-kaidah yang digunakan oleh ulama Hanafiyah, dan hal ini juga merupakan salah satu pendapat Imam al-Syāfi‘i.

وَذَكَرَ السُّيُوطِيُّ فِي الأَْشْبَاهِ وَالنَّظَائِرِ (١) قَوْلاً آخَرَ لِلشَّافِعِيِّ، يُفِيدُ أَنَّ الإِْبَاحَةَ تَنْتَهِي بِمُجَرَّدِ رُجُوعِ الآْذِنِ، وَلَوْ لَمْ يَعْلَمِ الْمَأْذُونُ لَهُ.

Al-Suyūṭī menyebutkan dalam al-Asybāh wa al-Naẓā’ir pendapat lain dari Imam al-Syāfi‘i yang menunjukkan bahwa ibāḥah berakhir hanya dengan pencabutan izin oleh pemberi izin, meskipun pihak yang sebelumnya memperoleh izin belum mengetahui pencabutan tersebut.

ج - مَوْتُ الآْذِنِ؛ لِبُطْلاَنِ الإِْذْنِ بِمَوْتِهِ، فَتَنْتَهِي آثَارُهُ.

C. Meninggalnya pemberi izin

Ibāḥah berakhir karena meninggalnya pihak yang memberikan izin, sebab dengan kematiannya, izin tersebut menjadi batal sehingga seluruh akibat hukumnya juga berakhir.

د - مَوْتُ الْمَأْذُونِ لَهُ؛ لأَِنَّ حَقَّ الاِنْتِفَاعِ رُخْصَةٌ شَخْصِيَّةٌ لَهُ لاَ تَنْتَقِل إِلَى وَرَثَتِهِ إِلاَّ إِذَا نَصَّ الآْذِنُ عَلَى خِلاَفِهِ.

D. Meninggalnya pihak yang diberi izin

Ibāḥah juga berakhir karena meninggalnya pihak yang memperoleh izin, sebab hak untuk memanfaatkan sesuatu merupakan keringanan yang bersifat pribadi baginya. Hak tersebut tidak berpindah kepada ahli warisnya, kecuali apabila pihak yang memberikan izin telah menetapkan ketentuan yang berbeda.

Wallahu A’lam...

Baca juga:

Ab (Ayah) dalam Fikih Islam: Pengertian, Hak dan Tanggung Jawab terhadap Anak, Perwalian, Nafkah, Warisan, dan Hukum-Hukum yang Berkaitan dengannya

Apa Itu Āyat dalam Al-Qur’an? Pengertian, Perbedaan dengan Surah, Hukum Menyentuh, Membaca dalam Salat, Sujud Tilawah, dan Keutamaannya

Apa Itu Ībāq (Budak Melarikan Diri) dalam Fikih Islam? Definisi, HukumHaram, Hak Majikan, Kewajiban Penemu, Ganti Rugi, Jual Beli, Zakat, danPendapat Empat Madzhab

إِبَاحَة

Ibāḥah (Kebolehan)

التَّعْرِيفُ:

Definisi

١ - الإِبَاحَةُ فِي اللُّغَةِ: الإِْحْلاَل، يُقَال: أَبَحْتُكَ الشَّيْءَ؛ أَيْ أَحْلَلْتُهُ لَكَ. وَالْمُبَاحُ خِلاَفُ الْمَحْظُورِ (٣) . وَعَرَّفَ الأُْصُولِيُّونَ الإِْبَاحَةَ بِأَنَّهَا خِطَابُ اللَّهِ تَعَالَى الْمُتَعَلِّقُ بِأَفْعَال الْمُكَلَّفِينَ تَخْيِيرًا مِنْ غَيْرِ بَدَلٍ. (٤)

1. Ibāḥah secara bahasa berarti menghalalkan atau membolehkan. Dikatakan: “Abḥtu laka asy-syai’a” (أَبَحْتُكَ الشَّيْءَ), yakni “Aku telah membolehkan atau menghalalkan sesuatu itu bagimu.”

Sedangkan mubāḥ (الْمُبَاحُ) adalah lawan dari maḥẓūr (الْمَحْظُورُ), yaitu sesuatu yang dilarang.

Adapun menurut para ahli uṣul fikih, ibāḥah didefinisikan sebagai:

Khithab Allah Ta‘ala yang berkaitan dengan perbuatan orang-orang mukalaf, yang memberikan pilihan tanpa adanya pengganti.

وَعَرَّفَهَا الْفُقَهَاءُ بِأَنَّهَا الإِْذْنُ بِإِتْيَانِ الْفِعْل حَسَبَ مَشِيئَةِ الْفَاعِل فِي حُدُودِ الإِْذْنِ (١) . وَقَدْ تُطْلَقُ الإِْبَاحَةُ عَلَى مَا قَابَل الْحَظْرَ، فَتَشْمَل الْفَرْضَ وَالإِْيجَابَ وَالنَّدْبَ (٢) .

Dan para fuqaha mendefinisikan ibāḥah sebagai:

“Izin untuk melakukan suatu perbuatan sesuai dengan kehendak pelakunya, dalam batas-batas izin tersebut.”

Terkadang istilah ibāḥah juga digunakan untuk segala sesuatu yang merupakan lawan dari larangan (ḥaẓr). Dengan pengertian ini, ibāḥah mencakup fardu, wajib, dan mandub (sunah).

الأَلْفَاظُ ذَاتُ الصِّلَةِ بِالإِْبَاحَةِ:

Lafaz-Lafaz yang Berkaitan dengan Ibāḥah

الْجَوَازُ:

Al-Jawāz (Kebolehan)

٢ - اخْتَلَفَ الأُْصُولِيُّونَ فِي الصِّلَةِ بَيْنَ الإِْبَاحَةِ وَالْجَوَازِ، فَمِنْهُمْ مَنْ قَال: إِنَّ الْجَائِزَ يُطْلَقُ عَلَى خَمْسَةِ مَعَانٍ: الْمُبَاحِ، وَمَا لاَ يَمْتَنِعُ شَرْعًا، وَمَا لاَ يَمْتَنِعُ عَقْلاً، أَوْ مَا اسْتَوَى فِيهِ الأَْمْرَانِ، وَالْمَشْكُوكُ فِي حُكْمِهِ كَسُؤْرِ الْحِمَارِ (٣) ، وَمِنْهُمْ مَنْ أَطْلَقَهُ عَلَى أَعَمَّ مِنَ الْمُبَاحِ (٤) ، وَمِنْهُمْ مَنْ قَصَرَهُ عَلَيْهِ، فَجَعَل الْجَوَازَ مُرَادِفًا لِلإِْبَاحَةِ. (٥)

2. Para ahli uṣul fikih berbeda pendapat mengenai hubungan antara ibāḥah dan jawāz. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa istilah jā’iz digunakan dalam lima makna, yaitu:

  1. Mubāḥ, yaitu sesuatu yang dibolehkan.
  2. Sesuatu yang tidak dilarang menurut syariat.
  3. Sesuatu yang tidak mustahil menurut akal.
  4. Sesuatu yang kedua kemungkinannya sama, yaitu antara melakukan dan meninggalkannya.
  5. Sesuatu yang diragukan hukumnya, seperti sisa minuman keledai (su’ru al-ḥimār).

Di antara mereka juga ada yang menggunakan istilah jawāz dalam makna yang lebih umum daripada mubāḥ.

Sedangkan sebagian yang lain membatasi istilah tersebut hanya pada mubāḥ, sehingga mereka menjadikan jawāz sebagai sinonim dari ibāḥah.

وَالْفُقَهَاءُ يَسْتَعْمِلُونَ الْجَوَازَ فِيمَا قَابَل الْحَرَامَ، فَيَشْمَل الْمَكْرُوهَ (٦) . وَهُنَاكَ اسْتِعْمَالٌ فِقْهِيٌّ لِكَلِمَةِ الْجَوَازِ بِمَعْنَى الصِّحَّةِ، وَهِيَ مُوَافَقَةُ الْفِعْل ذِي الْوَجْهَيْنِ لِلشَّرْعِ، وَالْجَوَازُ بِهَذَا الاِسْتِعْمَال حُكْمٌ وَضْعِيٌّ، وَبِالاِسْتِعْمَالَيْنِ السَّابِقَيْنِ حُكْمٌ تَكْلِيفِيٌّ.

Dan para fuqaha menggunakan istilah jawāz untuk sesuatu yang berlawanan dengan haram, sehingga cakupannya juga meliputi makruh.

Selain itu, terdapat penggunaan istilah jawāz dalam fikih dengan makna ṣaḥḥah (keabsahan), yaitu kesesuaian suatu perbuatan yang memiliki dua kemungkinan dengan ketentuan syariat.

Jawāz dalam penggunaan terakhir ini merupakan hukum waḍ‘ī, sedangkan dalam dua penggunaan sebelumnya termasuk hukum taklīfī.

الْحِل:

Al-Ḥill (Kehalalan)

٣ - الإِْبَاحَةُ فِيهَا تَخْيِيرٌ، أَمَّا الْحِل فَإِنَّهُ أَعَمُّ مِنْ ذَلِكَ شَرْعًا؛ لأَِنَّهُ يُطْلَقُ عَلَى مَا سِوَى التَّحْرِيمِ، وَقَدْ جَاءَ مُقَابِلاً لَهُ فِي الْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ، كَقَوْلِهِ تَعَالَى: {وَأَحَل اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا} (١) وَقَوْلِهِ: {يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَل اللَّهُ لَكَ} (٢) وَقَوْل النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَمَا إِنِّي وَاللَّهِ لاَ أُحِل حَرَامًا وَلاَ أُحَرِّمُ حَلاَلاً (٣) . وَلَمَّا كَانَ الْحَلاَل مُقَابِلاً لِلْحَرَامِ شَمِل مَا عَدَاهُ مِنَ الْمُبَاحِ وَالْمَنْدُوبِ وَالْوَاجِبِ وَالْمَكْرُوهِ مُطْلَقًا عِنْدَ الْجُمْهُورِ، وَتَنْزِيهًا عِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ. وَلِهَذَا قَدْ يَكُونُ الشَّيْءُ حَلاَلاً وَمَكْرُوهًا فِي آنٍ وَاحِدٍ، كَالطَّلاَقِ، فَإِنَّهُ مَكْرُوهٌ، وَإِنْ وَصَفَهُ الرَّسُول صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَنَّهُ حَلاَلٌ (٤) ، وَعَلَى ذَلِكَ يَكُونُ كُل مُبَاحٍ حَلاَلاً وَلاَ عَكْسَ.

3. Dalam ibāḥah terdapat unsur pemberian pilihan, sedangkan al-ḥill (kehalalan) secara syariat memiliki cakupan yang lebih luas daripada itu. Hal ini karena istilah al-ḥill digunakan untuk segala sesuatu selain pengharaman.

Istilah tersebut juga digunakan sebagai lawan dari haram dalam Al-Qur’an dan Sunnah, sebagaimana firman Allah Ta‘ala:

“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”

Dan firman-Nya:

“Wahai Nabi, mengapa engkau mengharamkan apa yang telah Allah halalkan bagimu?”

Demikian pula sabda Nabi :

“Ketahuilah, demi Allah, sesungguhnya aku tidak menghalalkan sesuatu yang haram dan tidak pula mengharamkan sesuatu yang halal.”

Karena halal merupakan lawan dari haram, maka menurut jumhur ulama, halal mencakup hukum selain haram, yaitu mubah, mandub (sunah), wajib, dan makruh secara mutlak. Sedangkan menurut Abu Hanifah, yang dimaksud adalah makruh tanzih.

Oleh karena itu, sesuatu dapat sekaligus halal dan makruh dalam satu waktu, seperti talak. Talak itu makruh, meskipun Rasulullah menyifatinya sebagai sesuatu yang halal.

Berdasarkan hal tersebut, maka setiap yang mubah adalah halal, tetapi tidak setiap yang halal adalah mubah.

الصِّحَّةُ:

Aṣ-Ṣiḥḥah (Keabsahan)

٤ - الصِّحَّةُ هِيَ مُوَافَقَةُ الْفِعْل ذِي الْوَجْهَيْنِ لِلشَّرْعِ (١)

4. Ṣiḥḥah adalah kesesuaian suatu perbuatan yang memiliki dua kemungkinan dengan ketentuan syariat.

وَمَعْنَى كَوْنِهِ ذَا وَجْهَيْنِ أَنَّهُ يَقَعُ تَارَةً مُوَافِقًا لِلشَّرْعِ، لاِشْتِمَالِهِ عَلَى الشُّرُوطِ الَّتِي اعْتَبَرَهَا الشَّارِعُ، وَيَقَعُ تَارَةً أُخْرَى مُخَالِفًا لِلشَّرْعِ. وَالإِْبَاحَةُ الَّتِي فِيهَا تَخْيِيرٌ بَيْنَ الْفِعْل وَالتَّرْكِ مُغَايِرَةٌ لِلصِّحَّةِ. وَهُمَا وَإِنْ كَانَا مِنَ الأَْحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ، إِلاَّ أَنَّ الإِْبَاحَةَ حُكْمٌ تَكْلِيفِيٌّ، وَالصِّحَّةَ حُكْمٌ وَضْعِيٌّ عَلَى رَأْيِ الْجُمْهُورِ.

Yang dimaksud dengan perbuatan yang memiliki dua kemungkinan ialah bahwa perbuatan tersebut terkadang terjadi sesuai dengan syariat, karena memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh Syariat, dan terkadang terjadi dalam keadaan tidak sesuai dengan syariat.

Adapun ibāḥah, yang mengandung pemberian pilihan antara melakukan dan meninggalkan suatu perbuatan, berbeda dengan ṣiḥḥah.

Meskipun keduanya sama-sama termasuk hukum syariat, namun ibāḥah merupakan hukum taklīfī, sedangkan ṣiḥḥah merupakan hukum waḍ‘ī menurut pendapat jumhur ulama.

وَمِنْهُمْ مَنْ يَرُدُّ الصِّحَّةَ إِلَى الإِْبَاحَةِ فَيَقُول: إِنَّ الصِّحَّةَ إِبَاحَةُ الاِنْتِفَاعِ. (٢)

Dan di antara mereka ada yang mengembalikan makna ṣiḥḥah kepada ibāḥah, lalu mengatakan:

“Sesungguhnya ṣiḥḥah adalah kebolehan untuk mengambil manfaat.”

وَالْفِعْل الْمُبَاحُ قَدْ يَجْتَمِعُ مَعَ الْفِعْل الصَّحِيحِ، فَصَوْمُ يَوْمٍ مِنْ غَيْرِ رَمَضَانَ مُبَاحٌ، أَيْ مَأْذُونٌ فِيهِ مِنَ الشَّرْعِ، وَهُوَ صَحِيحٌ إِنِ اسْتَوْفَى أَرْكَانَهُ وَشُرُوطَهُ. وَقَدْ يَكُونُ الْفِعْل مُبَاحًا فِي أَصْلِهِ وَغَيْرَ صَحِيحٍ لاِخْتِلاَل شَرْطِهِ، كَالْعُقُودِ الْفَاسِدَةِ. وَقَدْ يَكُونُ صَحِيحًا غَيْرَ مُبَاحٍ كَالصَّلاَةِ فِي ثَوْبٍ مَغْصُوبٍ إِذَا اسْتَوْفَتْ أَرْكَانَهَا وَشُرُوطَهَا عِنْدَ أَكْثَرِ الأَْئِمَّةِ.

Dan perbuatan yang mubah terkadang dapat berkumpul dengan perbuatan yang sah. Misalnya, berpuasa pada suatu hari selain bulan Ramadan adalah mubah, yaitu diizinkan oleh syariat, dan puasa tersebut sah apabila telah memenuhi rukun-rukun dan syarat-syaratnya.

Terkadang suatu perbuatan mubah pada asalnya, tetapi tidak sah karena salah satu syaratnya tidak terpenuhi, seperti akad-akad yang rusak (fāsid).

Sebaliknya, suatu perbuatan terkadang sah tetapi tidak mubah, seperti salat dengan mengenakan pakaian hasil ghasab, apabila salat tersebut telah memenuhi rukun-rukun dan syarat-syaratnya, menurut kebanyakan imam.

التَّخْيِيرُ:

At-Takhyīr (Pemberian Pilihan)

٥ - الإِْبَاحَةُ تَخْيِيرٌ مِنَ الشَّارِعِ بَيْنَ فِعْل الشَّيْءِ وَتَرْكِهِ، مَعَ اسْتِوَاءِ الطَّرَفَيْنِ بِلاَ تَرَتُّبِ ثَوَابٍ أَوْ عِقَابٍ، أَمَّا التَّخْيِيرُ فَقَدْ يَكُونُ عَلَى سَبِيل الإِْبَاحَةِ، أَيْ بَيْنَ فِعْل الْمُبَاحِ وَتَرْكِهِ، وَقَدْ يَكُونُ بَيْنَ الْوَاجِبَاتِ بَعْضِهَا وَبَعْضٍ، وَهِيَ وَاجِبَاتٌ لَيْسَتْ عَلَى التَّعْيِينِ، كَمَا فِي خِصَال الْكَفَّارَةِ فِي قَوْله تَعَالَى: {لاَ يُؤَاخِذُكُمْ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُمْ الأَْيْمَانَ فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ} (١) فَإِنَّ فِعْل أَيِّ وَاحِدٍ مِنْهَا يُسْقِطُ الْمُطَالَبَةَ، لَكِنَّ تَرْكَهَا كُلَّهَا يَقْتَضِي الإِْثْمَ.

5. Ibāḥah adalah pemberian pilihan dari Syāri‘ (pembuat syariat) antara melakukan sesuatu dan meninggalkannya, dengan kedua pilihan tersebut memiliki kedudukan yang sama, tanpa adanya konsekuensi berupa pahala atau hukuman.

Adapun takhyīr (pemberian pilihan) terkadang berupa ibāḥah, yaitu pilihan antara melakukan sesuatu yang mubah dan meninggalkannya. Namun, takhyīr juga dapat terjadi di antara beberapa kewajiban, yaitu kewajiban-kewajiban yang tidak ditentukan secara khusus salah satunya.

Sebagaimana dalam pilihan bentuk-bentuk kafarat dalam firman Allah Ta‘ala:

“Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak disengaja, tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja. Maka kafaratnya ialah memberi makan sepuluh orang miskin dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi mereka pakaian, atau memerdekakan seorang hamba.”

Sesungguhnya, melakukan salah satu dari bentuk-bentuk kafarat tersebut telah menggugurkan tuntutan kewajiban. Akan tetapi, meninggalkan semuanya mengakibatkan seseorang berdosa.

وَقَدْ يَكُونُ التَّخْيِيرُ بَيْنَ الْمَنْدُوبَاتِ كَالتَّنَفُّل قَبْل صَلاَةِ الْعَصْرِ، فَالْمُصَلِّي مُخَيَّرٌ بَيْنَ أَنْ يَتَنَفَّل بِرَكْعَتَيْنِ أَوْ بِأَرْبَعٍ. (٢)

Dan takhyīr (pemberian pilihan) terkadang terjadi di antara beberapa perbuatan mandub (sunah), seperti salat sunah sebelum salat Asar. Seorang yang hendak melaksanakannya diberi pilihan antara melakukan dua rakaat atau empat rakaat.

وَالْمَنْدُوبُ نَفْسُهُ فِي مَفْهُومِهِ تَخْيِيرٌ بَيْنَ الْفِعْل وَالتَّرْكِ، وَإِنْ رُجِّحَ جَانِبُ الْفِعْل، وَفِيهِ ثَوَابٌ، بَيْنَمَا التَّخْيِيرُ فِي الإِْبَاحَةِ لاَ يُرَجَّحُ فِيهِ جَانِبٌ عَلَى جَانِبٍ، وَلاَ يَتَرَتَّبُ عَلَيْهِ ثَوَابٌ وَلاَ عِقَابٌ.

Mandub itu sendiri, dalam pengertiannya, juga mengandung unsur pilihan antara melakukan dan meninggalkan, meskipun sisi melakukan lebih diutamakan dan terdapat pahala padanya.

Sedangkan pilihan dalam ibāḥah tidak ada satu sisi pun yang lebih diutamakan daripada sisi lainnya, serta tidak ada konsekuensi berupa pahala maupun hukuman.

الْعَفْوُ:

Al-‘Afw (Pemaafan)

٦ - مِنَ الْعُلَمَاءِ مَنْ جَعَل الْعَفْوَ الَّذِي رُفِعَتْ فِيهِ الْمُؤَاخَذَةُ، وَنُفِيَ فِيهِ الْحَرَجُ، مُسَاوِيًا لِلإِْبَاحَةِ، كَمَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ إِنَّ اللَّهَ فَرَضَ فَرَائِضَ فَلاَ تُضَيِّعُوهَا، وَحَدَّ حُدُودًا فَلاَ تَعْتَدُوهَا، وَحَرَّمَ أَشْيَاءَ فَلاَ تَنْتَهِكُوهَا، وَعَفَا عَنْ أَشْيَاءَ رَحْمَةً بِكُمْ مِنْ غَيْرِ نِسْيَانٍ فَلاَ تَبْحَثُوا عَنْهَا (٣) . وَهُوَ مَا يَدُل عَلَيْهِ قَوْله تَعَالَى {لاَ تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ وَإِنْ تَسْأَلُوا عَنْهَا حِينَ يُنَزَّل الْقُرْآنُ تُبْدَ لَكُمْ عَفَا اللَّهُ عَنْهَا} (٤) . فَمَا عَفَا اللَّهُ عَنْهُ لَمْ يُكَلِّفْنَا بِهِ فِعْلاً أَوْ تَرْكًا، وَلَمْ يُرَتِّبْ عَلَيْهِ مَثُوبَةً وَلاَ عِقَابًا. وَهُوَ بِهَذَا مُسَاوٍ لِلْمُبَاحِ.

6. Di antara para ulama ada yang menyamakan al-‘afw—yaitu sesuatu yang telah dihapuskan pertanggungjawabannya dan tidak dikenakan kesulitan atau beban—dengan ibāḥah.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis:

“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban, maka janganlah kalian menyia-nyiakannya. Dia telah menetapkan beberapa batas, maka janganlah kalian melampauinya. Dia telah mengharamkan beberapa perkara, maka janganlah kalian melanggarnya. Dan Dia telah memaafkan beberapa perkara sebagai rahmat bagi kalian, bukan karena lupa, maka janganlah kalian mencarinya.”

Hal ini juga ditunjukkan oleh firman Allah Ta‘ala:

“Janganlah kalian menanyakan perkara-perkara yang jika diterangkan kepada kalian, niscaya akan menyusahkan kalian. Jika kalian menanyakannya ketika Al-Qur’an sedang diturunkan, niscaya akan diterangkan kepada kalian. Allah telah memaafkan perkara-perkara tersebut.”

Dengan demikian, apa yang telah Allah maafkan tidak dibebankan kepada kita, baik untuk dilakukan maupun ditinggalkan, dan tidak pula ditetapkan pahala ataupun hukuman atasnya.

Dengan pengertian tersebut, al-‘afw sama dengan al-mubāḥ.

أَلْفَاظُ الإِبَاحَةِ:

Lafaz-Lafaz yang Menunjukkan Ibāḥah

٧ - الإِْبَاحَةُ إِمَّا بِلَفْظٍ أَوْ غَيْرِهِ، سَوَاءٌ مِنَ الشَّارِعِ أَوْ مِنَ الْعِبَادِ. فَمِثَال غَيْرِ اللَّفْظِ مِنَ الشَّارِعِ أَنْ يَرَى رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِعْلاً مِنَ الأَْفْعَال، أَوْ يَسْمَعُ قَوْلاً، فَلاَ يُنْكِرُهُ، فَيَكُونُ هَذَا تَقْرِيرًا يَدُل عَلَى الإِْبَاحَةِ.

7. Ibāḥah dapat ditunjukkan melalui lafaz (ucapan) maupun selain lafaz, baik yang berasal dari Syāri‘ (pembuat syariat) maupun dari manusia.

Contoh ibāḥah yang ditunjukkan bukan melalui lafaz dari Syāri‘ adalah ketika Rasulullah melihat suatu perbuatan atau mendengar suatu perkataan, kemudian beliau tidak mengingkarinya. Sikap tersebut disebut taqrīr, yang menunjukkan adanya kebolehan.

وَمِثَالُهُ مِنَ الْعِبَادِ أَنْ يَضَعَ الشَّخْصُ مَائِدَةً عَامَّةً لِيَأْكُل مِنْهَا مَنْ يَشَاءُ.

Adapun contoh ibāḥah yang berasal dari manusia, misalnya seseorang menyediakan hidangan yang terbuka untuk umum, agar siapa saja yang menghendakinya dapat makan darinya.

وَأَمَّا اللَّفْظُ فَقَدْ يَكُونُ صَرِيحًا، وَمِنْ ذَلِكَ نَفْيُ الْجُنَاحِ وَنَفْيُ الإِْثْمِ أَوِ الْحِنْثِ أَوِ السَّبِيل أَوِ الْمُؤَاخَذَةِ. وَقَدْ يَكُونُ غَيْرَ صَرِيحٍ، وَهُوَ الَّذِي يَحْتَاجُ فِي دَلاَلَتِهِ عَلَى الإِْبَاحَةِ إِلَى قَرِينَةٍ. وَمِنْ ذَلِكَ: الأَْمْرُ بَعْدَ الْحَظْرِ، كَقَوْلِهِ تَعَالَى: {وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا} (١) وَمِنْهُ الأَْمْرُ الْمُقْتَرِنُ بِالْمَشِيئَةِ، وَالتَّعْبِيرُ بِالْحِل، أَوْ نَفْيُ التَّحْرِيمِ، أَوِ الاِسْتِثْنَاءُ مِنَ التَّحْرِيمِ.

Adapun lafaz, terkadang bersifat tegas (ṣarīḥ). Di antaranya adalah ungkapan yang menunjukkan peniadaan dosa (junāḥ), peniadaan dosa (itsm), peniadaan pelanggaran sumpah (ḥints), peniadaan jalan atau alasan untuk menyalahkan, atau peniadaan pertanggungjawaban (mu’ākhadzah).

Terkadang lafaz tersebut tidak tegas, yaitu lafaz yang dalam menunjukkan makna ibāḥah memerlukan adanya qarīnah (indikasi atau petunjuk yang menyertainya).

Di antara bentuknya adalah:

  • Perintah setelah adanya larangan, seperti firman Allah Ta‘ala:
    “Apabila kalian telah selesai dari ihram, maka berburu lah.”
  • Perintah yang disertai dengan kehendak atau pilihan (masyi’ah).
  • Penggunaan ungkapan al-ḥill (kehalalan).
  • Peniadaan pengharaman.
  • Pengecualian dari sesuatu yang diharamkan.

مَنْ لَهُ حَقُّ الإِبَاحَةِ:

Siapa yang Memiliki Hak Memberikan Ibāḥah?

الشَّارِعُ:

Syāri‘ (Pembuat Syariat)

٨ - الأَْصْل أَنَّ حَقَّ الإِْبَاحَةِ لِلشَّارِعِ وَحْدَهُ مِنْ غَيْرِ تَوَقُّفٍ عَلَى إِذْنٍ مِنْ أَحَدٍ، وَقَدْ تَكُونُ الإِْبَاحَةُ مُطْلَقَةً كَالْمُبَاحَاتِ الأَْصْلِيَّةِ، وَقَدْ تَكُونُ مُقَيَّدَةً إِمَّا بِشَرْطٍ كَمَا فِي قَوْله تَعَالَى {أَوْ مَا مَلَكْتُمْ مَفَاتِحَهُ} (٢) فِي شَأْنِ مَا يُبَاحُ أَكْلُهُ مِنْ مِلْكِ الْغَيْرِ مِنْ غَيْرِ ضَرُورَةٍ، أَوْ مُقَيَّدَةً بِوَقْتٍ كَإِبَاحَةِ أَكْل الْمَيْتَةِ لِلْمُضْطَرِّ

8. Pada dasarnya, hak memberikan ibāḥah hanya dimiliki oleh Syāri‘, tanpa bergantung pada izin dari siapa pun.

Ibāḥah terkadang bersifat mutlak, seperti berbagai perkara yang pada asalnya memang diperbolehkan.

Terkadang ibāḥah bersifat terbatas, yaitu:

  • Dibatasi dengan suatu syarat, sebagaimana firman Allah Ta‘ala:
    “Atau (harta) yang kalian kuasai kunci-kuncinya.”
    Hal ini berkaitan dengan sesuatu yang boleh dimakan dari milik orang lain tanpa adanya keadaan darurat.
  • Dibatasi dengan waktu tertentu, seperti kebolehan memakan bangkai bagi orang yang berada dalam keadaan terpaksa (darurat).

الْعِبَادُ:

Al-‘Ibād (Manusia)

٩ - الإِْبَاحَةُ مِنَ الْعِبَادِ لاَ بُدَّ فِيهَا أَنْ تَكُونَ عَلَى وَجْهٍ لاَ يَأْبَاهُ الشَّرْعُ، وَأَلاَّ تَكُونَ عَلَى وَجْهِ التَّمْلِيكِ، وَإِلاَّ كَانَتْ هِبَةً أَوْ إِعَارَةً.

9. Ibāḥah yang diberikan oleh manusia harus dilakukan dengan cara yang tidak bertentangan dengan syariat, serta tidak dilakukan dalam bentuk memberikan kepemilikan. Jika dilakukan dalam bentuk memberikan kepemilikan, maka hal tersebut menjadi hibah atau ‘āriyah (pinjaman).

وَإِذَا كَانَتِ الإِْبَاحَةُ مِنْ وَلِيِّ الأَْمْرِ فَالْمَدَارُ فِيهَا - بَعْدَ الشَّرْطَيْنِ السَّابِقَيْنِ - أَنْ تَكُونَ مَنُوطَةً بِالْمَصْلَحَةِ الْعَامَّةِ.

Apabila ibāḥah diberikan oleh wali al-amr (penguasa/pemimpin), maka setelah memenuhi dua syarat sebelumnya, ukurannya adalah bahwa ibāḥah tersebut harus berlandaskan kemaslahatan umum.

وَهَذِهِ الإِْبَاحَةُ قَدْ تَكُونُ فِي وَاجِبٍ يَسْقُطُ بِهَا عَنْهُ، كَمَنْ عَلَيْهِ كَفَّارَةٌ، وَاخْتَارَ التَّكْفِيرَ بِالإِْطْعَامِ، فَإِنَّ الدَّعْوَةَ إِلَى تَنَاوُلِهِ إِبَاحَةٌ تُسْقِطُ عَنْهُ الْكَفَّارَةَ، إِذْ هُوَ مُخَيَّرٌ فِيهَا بَيْنَ التَّمْلِيكِ لِمَنْ يَسْتَحِقُّ، وَبَيْنَ الإِْبَاحَةِ.

Ibāḥah ini terkadang berkaitan dengan suatu kewajiban yang menjadi gugur karenanya, seperti orang yang memiliki kewajiban kafarat, kemudian ia memilih menunaikan kafarat tersebut dengan memberikan makanan.

Sesungguhnya, mengundang seseorang untuk menikmati makanan tersebut merupakan bentuk ibāḥah yang menggugurkan kewajiban kafaratnya, karena dalam hal ini ia diberi pilihan antara memberikan makanan tersebut menjadi milik orang yang berhak menerimanya atau memberikan izin untuk memakannya.

وَهَذَا عِنْدَ بَعْضِ الْفُقَهَاءِ كَالْحَنَفِيَّةِ، خِلاَفًا لِلشَّافِعِيَّةِ وَمَنْ وَافَقَهُمُ الَّذِينَ يَرَوْنَ أَنَّ الإِْطْعَامَ فِي الْكَفَّارَةِ يَجِبُ فِيهِ التَّمْلِيكُ (١) . وَالإِْنْسَانُ يَعْرِفُ إِذْنَ غَيْرِهِ إِمَّا بِنَفْسِهِ، وَإِمَّا بِإِخْبَارِ ثِقَةٍ يَقَعُ فِي الْقَلْبِ صِدْقُهُ. فَلَوْ قَال مَمْلُوكٌ مَثَلاً: هَذِهِ هَدِيَّةٌ بَعَثَ بِهَا إِلَيْكَ سَيِّدِي، أَوْ قَال صَبِيٌّ: هَذِهِ هَدِيَّةٌ بَعَثَ بِهَا إِلَيْكَ وَالِدِي، قُبِل قَوْلُهُمَا فِي حِلِّهَا؛ لأَِنَّ الْهَدَايَا تُبْعَثُ فِي الْعَادَةِ عَلَى أَيْدِي هَؤُلاَءِ. (٢)

Hal ini menurut sebagian fuqaha, seperti mazhab Hanafiyah, berbeda dengan mazhab Syafi‘iyah dan ulama yang sependapat dengan mereka. Mereka berpendapat bahwa pemberian makanan sebagai kafarat harus dilakukan dengan memberikan kepemilikan (tamlik).

Seseorang dapat mengetahui adanya izin dari orang lain dengan dua cara: mengetahuinya secara langsung, atau melalui pemberitahuan dari orang yang terpercaya, yang kebenaran ucapannya dapat diterima oleh hati.

Seandainya, misalnya, seorang budak berkata, “Ini adalah hadiah yang dikirimkan tuanku untukmu,” atau seorang anak kecil berkata, “Ini adalah hadiah yang dikirimkan ayahku untukmu,” maka perkataan keduanya dapat diterima mengenai kehalalan hadiah tersebut. Sebab, menurut kebiasaan, hadiah memang biasanya dikirimkan melalui orang-orang seperti mereka.

دَلِيل الإِْبَاحَةِ وَأَسْبَابُهَا:

Dalil Ibāḥah dan Sebab-Sebabnya

١٠ - قَدْ يُوجَدُ فِعْلٌ مِنَ الأَْفْعَال لَمْ يَدُل الدَّلِيل السَّمْعِيُّ عَلَى حُكْمِهِ بِخُصُوصِهِ، وَذَلِكَ صَادِقٌ بِصُورَتَيْنِ: الأُْولَى عَدَمُ وُرُودِ دَلِيلٍ لِهَذَا الْفِعْل أَصْلاً، وَالثَّانِيَةُ وُرُودُهُ وَلَكِنَّهُ جُهِل. وَأَكْثَرُ الأَْفْعَال دَل الدَّلِيل السَّمْعِيُّ عَلَيْهَا وَعُرِفَ حُكْمُهَا، وَتَفْصِيل ذَلِكَ فِيمَا يَلِي:

10. Terkadang terdapat suatu perbuatan yang tidak terdapat dalil syar‘i yang bersumber dari wahyu yang menunjukkan secara khusus mengenai hukumnya.

Hal ini dapat terjadi dalam dua keadaan:

  1. Tidak adanya dalil sama sekali mengenai perbuatan tersebut.
  2. Adanya dalil mengenai perbuatan tersebut, tetapi dalil itu tidak diketahui.

Adapun sebagian besar perbuatan, dalil syar‘i telah menunjukkan hukumnya dan hukumnya telah diketahui. Adapun perinciannya adalah sebagai berikut:

أ - الْبَقَاءُ عَلَى الأَْصْل:

A. Tetap Berpegang pada Hukum Asal (Al-Baqā’ ‘alā al-Aṣl)

١١ - وَهَذَا مَا يُعْرَفُ بِالإِْبَاحَةِ الأَْصْلِيَّةِ، وَجُمْهُورُ الْعُلَمَاءِ عَلَى أَنَّهُ لاَ حَرَجَ عَلَى مَنْ تَرَكَهُ أَوْ فَعَلَهُ. وَيَظْهَرُ أَثَرُ ذَلِكَ فِيمَا كَانَ قَبْل الْبَعْثَةِ.

11. Hal ini dikenal sebagai ibāḥah aṣliyyah (kebolehan berdasarkan hukum asal). Jumhur ulama berpendapat bahwa tidak ada dosa atau kesalahan bagi orang yang meninggalkannya maupun melakukannya. Pengaruh pendapat ini tampak dalam perkara-perkara yang terjadi sebelum diutusnya para rasul.

وَهُنَاكَ تَفْصِيلاَتٌ بَيْنَ عُلَمَاءِ الْكَلاَمِ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ يُرْجَعُ إِلَيْهَا فِي الْمُلْحَقِ الأُْصُولِيِّ، أَوْ فِي كُتُبِ عِلْمِ الْكَلاَمِ. وَهَذَا الْخِلاَفُ لاَ مُحَصِّل لَهُ الآْنَ بَعْدَ وُرُودِ الْبَعْثَةِ، إِذْ دَل النَّصُّ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ عَلَى أَنَّ الأَْصْل فِي الأَْشْيَاءِ الإِْبَاحَةُ. قَال تَعَالَى: {وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الأَْرْضِ جَمِيعًا مِنْهُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ} (١)

Di antara para ulama ilmu kalam terdapat beberapa perincian mengenai persoalan ini. Pembahasannya dapat dirujuk dalam lampiran usul fikih atau dalam kitab-kitab ilmu kalam.

Namun, perbedaan pendapat tersebut tidak lagi memiliki pengaruh setelah datangnya risalah kenabian, karena terdapat nash dari Kitab Allah yang menunjukkan bahwa hukum asal segala sesuatu adalah ibāḥah (boleh).

Allah Ta‘ala berfirman:

“Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya sebagai karunia dari-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”

ب - مَا جُهِل حُكْمُهُ:

B. Hukum yang Tidak Diketahui

١٢ - قَدْ يَكُونُ الْجَهْل مَعَ وُجُودِ الدَّلِيل، وَلَكِنَّ الْمُكَلَّفَ - مُجْتَهِدًا أَوْ غَيْرَ مُجْتَهِدٍ - لَمْ يَطَّلِعْ عَلَيْهِ، أَوِ اطَّلَعَ عَلَيْهِ الْمُجْتَهِدُ وَلَمْ يَسْتَطِعْ اسْتِنْبَاطَ الْحُكْمِ.

B. Hukum yang Tidak Diketahui

12. Ketidaktahuan terhadap hukum terkadang terjadi meskipun terdapat dalil. Namun, seorang mukallaf, baik ia seorang mujtahid maupun bukan mujtahid, tidak mengetahuinya karena belum menemukan atau belum mengetahui dalil tersebut.

Atau, seorang mujtahid telah mengetahui dalilnya, tetapi tidak mampu melakukan istinbāṭ (menyimpulkan) hukum darinya.

وَالْقَاعِدَةُ فِي ذَلِكَ أَنَّ الْجَهْل بِالأَْحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ إِنَّمَا يَكُونُ عُذْرًا إِذَا تَعَذَّرَ عَلَى الْمُكَلَّفِ الاِطِّلاَعُ عَلَى الدَّلِيل، وَكُل مَنْ كَانَ فِي إِمْكَانِهِ الاِطِّلاَعُ عَلَى الدَّلِيل وَقَصَّرَ فِي تَحْصِيلِهِ لاَ يَكُونُ مَعْذُورًا. وَيُفَصِّل الْفُقَهَاءُ أَحْكَامَ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ فِي مَوَاطِنِهَا.

Kaidah dalam persoalan ini adalah bahwa ketidaktahuan terhadap hukum-hukum syariat hanya menjadi suatu uzur apabila seorang mukalaf tidak mampu mengetahui atau menemukan dalil. Adapun setiap orang yang sebenarnya memiliki kemampuan untuk mengetahui dalil, tetapi lalai dalam mencarinya, maka ia tidak dianggap memiliki uzur.

Para fuqaha menjelaskan hukum-hukum persoalan ini secara terperinci pada pembahasannya masing-masing.

وَمَنْ عُذِرَ بِجَهْلِهِ فَهُوَ غَيْرُ مُخَاطَبٍ بِحُكْمِ الْفِعْل، فَلاَ يُوصَفُ فِعْلُهُ بِالإِْبَاحَةِ بِالْمَعْنَى الاِصْطِلاَحِيِّ الَّذِي فِيهِ خِطَابٌ بِالتَّخْيِيرِ. وَإِنْ كَانَ الإِْثْمُ مَرْفُوعًا عَنْهُ بِعُذْرِ الْجَهْل. (٢)

Adapun orang yang diberi uzur karena ketidaktahuannya, maka ia tidak dibebani dengan hukum perbuatan tersebut. Oleh karena itu, perbuatannya tidak disebut sebagai ibāḥah dalam pengertian istilah, yaitu adanya khithab syariat yang memberikan pilihan.

Meskipun demikian, dosa tetap diangkat darinya karena adanya uzur berupa ketidaktahuan.

وَتُفَصَّل هَذِهِ الأَْحْكَامُ فِي مَوَاطِنِهَا فِي بَحْثِ (الْجَهْل) . وَيُنْظَرُ فِي الْمُلْحَقِ الأُْصُولِيِّ.

Perincian mengenai hukum-hukum tersebut dibahas pada pembahasan “Jahl (Ketidaktahuan)”, dan dapat pula dilihat dalam lampiran usul fikih.

طُرُقُ مَعْرِفَةِ الإِْبَاحَةِ:

Cara Mengetahui Ibāḥah

١٣ - طُرُقُ مَعْرِفَةِ الإِْبَاحَةِ كَثِيرَةٌ، مِنْ أَهَمِّهَا:

13. Cara untuk mengetahui adanya ibāḥah sangat banyak. Di antara yang paling penting adalah:

النَّصُّ: وَقَدْ تَقَدَّمَ الْكَلاَمُ عَلَيْهِ تَفْصِيلاً.

1. Nash (dalil yang jelas)
Pembahasan mengenai hal ini telah dijelaskan sebelumnya secara terperinci.

بَعْضُ أَسْبَابِ الرُّخَصِ: وَالرُّخْصَةُ هِيَ مَا شُرِعَ لِعُذْرٍ شَاقٍّ اسْتِثْنَاءً مِنْ أَصْلٍ كُلِّيٍّ يَقْتَضِي الْمَنْعَ، مَعَ الاِقْتِصَارِ عَلَى مَوَاضِعِ الْحَاجَةِ فِيهِ مَعَ بَقَاءِ حُكْمِ الأَْصْل. وَذَلِكَ كَالإِْفْطَارِ فِي رَمَضَانَ فِي السَّفَرِ، وَالْمَسْحِ عَلَى الْخُفَّيْنِ، عَلَى تَفْصِيلٍ لِلْفُقَهَاءِ يُرْجَعُ إِلَيْهِ فِي مَوَاطِنِهِ.

Sebagian sebab yang melahirkan rukhsah (keringanan)
Rukhsah adalah sesuatu yang disyariatkan karena adanya uzur yang berat, sebagai pengecualian dari suatu ketentuan umum yang pada asalnya mengharuskan adanya larangan, dengan membatasi rukhsah tersebut hanya pada kondisi yang diperlukan, sementara hukum asalnya tetap berlaku.

Contohnya adalah:

  • Tidak berpuasa Ramadan ketika dalam perjalanan.
  • Mengusap kedua khuf sebagai pengganti membasuh kaki.

Perincian mengenai hal ini dapat dilihat dalam pembahasan para fuqaha pada tempatnya masing-masing.

النَّسْخُ: وَهُوَ رَفْعُ الْحُكْمِ الشَّرْعِيِّ بِنَصٍّ شَرْعِيٍّ مُتَأَخِّرٍ.

Nasakh

Nasakh adalah penghapusan suatu hukum syariat dengan dalil syariat yang datang kemudian.

وَالَّذِي يُهِمُّنَا هُنَا هُوَ نَسْخُ الْحَظْرِ بِنَصٍّ شَرْعِيٍّ مُتَأَخِّرٍ فِيمَا كَانَ مُبَاحًا قَبْل الْحَظْرِ، مِثْل جَوَازِ الاِنْتِبَاذِ فِي الأَْوْعِيَةِ بَعْدَ حَظْرِهِ، لِقَوْل النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُنْت نَهَيْتُكُمْ عَنِ الأَْوْعِيَةِ فَانْتَبِذُوا وَاجْتَنِبُوا كُل مُسْكِرٍ (١) فَالأَْمْرُ بِالنَّبْذِ بَعْدَ النَّهْيِ عَنْهُ يُفِيدُ رَفْعَ الْحَرَجِ، وَهُوَ مَعْنَى الإِْبَاحَةِ.

Yang penting bagi kita dalam pembahasan ini adalah nasakh terhadap larangan dengan dalil syariat yang datang kemudian, terhadap suatu perkara yang sebelumnya mubah sebelum adanya larangan.

Contohnya adalah kebolehan membuat minuman rendaman dalam wadah-wadah tertentu setelah sebelumnya hal tersebut dilarang, berdasarkan sabda Nabi :

“Dahulu aku telah melarang kalian menggunakan wadah-wadah tersebut, maka sekarang buatlah minuman rendaman (di dalamnya), dan jauhilah setiap sesuatu yang memabukkan.”

Maka, perintah untuk membuat minuman rendaman setelah sebelumnya terdapat larangan darinya menunjukkan diangkatnya kesulitan atau larangan, dan inilah yang dimaksud dengan ibāḥah (kebolehan).

الْعُرْفُ. وَالْمُخْتَارُ فِي تَعْرِيفِهِ أَنَّهُ مَا اسْتَقَرَّ فِي النُّفُوسِ مِنْ جِهَةِ الْعُقُول، وَتَلَقَّتْهُ الطِّبَاعُ السَّلِيمَةُ بِالْقَبُول (١) . وَهُوَ دَلِيلٌ كَاشِفٌ إِذَا لَمْ يُوجَدْ نَصٌّ وَلاَ إِجْمَاعٌ عَلَى اعْتِبَارِهِ أَوْ إِلْغَائِهِ، كَالاِسْتِئْجَارِ بِعِوَضٍ مَجْهُولٍ لاَ يُفْضِي إِلَى النِّزَاعِ.

Al-‘Urf (Adat atau Kebiasaan)

Al-‘urf. Definisi yang dipilih untuknya adalah: “Sesuatu yang telah menetap dalam jiwa berdasarkan pertimbangan akal dan diterima oleh tabiat yang sehat.”

‘Urf merupakan dalil yang menyingkap hukum, apabila tidak terdapat nash maupun ijmak yang menyatakan bahwa ‘urf tersebut diakui atau dibatalkan.

Contohnya adalah menyewa sesuatu dengan imbalan yang tidak diketahui secara pasti, selama ketidakjelasan tersebut tidak menimbulkan perselisihan.

الاِسْتِصْلاَحُ (الْمَصْلَحَةُ الْمُرْسَلَةُ) :

Al-Istiṣlāḥ (Maṣlaḥah Mursalah)

هِيَ كُل مَصْلَحَةٍ غَيْرُ مُعْتَبَرَةٍ وَلاَ مُلْغَاةٍ بِنَصٍّ مِنَ الشَّارِعِ بِخُصُوصِهَا، يَكُونُ فِي الأَْخْذِ بِهَا جَلْبُ مَنْفَعَةٍ أَوْ دَفْعُ ضَرَرٍ، كَمُشَاطَرَةِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَمْوَال الَّذِينَ اتَّهَمَهُمْ بِالإِْثْرَاءِ بِسَبَبِ عَمَلِهِمْ لِلدَّوْلَةِ، وَهَذَا حَتَّى يَضَعَ مَبْدَأً لِلْعُمَّال أَلاَّ يَسْتَغِلُّوا مَرَاكِزَهُمْ لِصَالِحِ أَنْفُسِهِمْ.

Al-istiṣlāḥ (al-maṣlaḥah al-mursalah) adalah setiap kemaslahatan yang tidak secara khusus dinyatakan oleh Syāri‘ sebagai sesuatu yang diakui ataupun dibatalkan melalui suatu nash, yang apabila dijadikan pertimbangan dapat mendatangkan kemanfaatan atau mencegah kemudaratan.

Contohnya adalah tindakan ‘Umar radhiyallāhu ‘anhu membagi atau mengambil sebagian harta orang-orang yang dituduh memperoleh kekayaan karena pekerjaan mereka untuk negara. Hal ini dilakukan agar menjadi prinsip bagi para pegawai, supaya mereka tidak memanfaatkan jabatan atau kedudukan mereka untuk kepentingan pribadi.

مُتَعَلَّقُ الإِبَاحَةِ:

Objek yang Menjadi Sasaran Ibāḥah

١٤ - مُتَعَلِّقُ الإِْبَاحَةِ اهْتَمَّ بِهِ الْفُقَهَاءُ وَتَحَدَّثُوا عَنْ أَقْسَامِهِ وَفُرُوعِهِ، فَقَسَّمُوهُ مِنْ حَيْثُ مَصْدَرُ الإِْبَاحَةِ إِلَى قِسْمَيْنِ: مَا أَذِنَ فِيهِ الشَّارِعُ، وَمَا أَذِنَ فِيهِ الْعِبَادُ. وَمِنْ حَيْثُ نَوْعُ الإِْبَاحَةِ إِلَى قِسْمَيْنِ أَيْضًا: مَا فِيهِ تَمَلُّكٌ وَاسْتِهْلاَكٌ وَانْتِفَاعٌ، وَمَا فِيهِ اسْتِهْلاَكٌ وَانْتِفَاعٌ دُونَ تَمَلُّكٍ. وَلِكُل قِسْمٍ حُكْمُهُ، وَبَيَانُهُ فِيمَا يَأْتِي.

14. Objek yang menjadi sasaran ibāḥah mendapat perhatian dari para fuqaha. Mereka membahas berbagai pembagian dan cabangnya.

Ditinjau dari sumber ibāḥah, objek tersebut dibagi menjadi dua:

  1. Sesuatu yang diizinkan oleh Syāri‘.
  2. Sesuatu yang diizinkan oleh manusia.

Sedangkan ditinjau dari jenis ibāḥah, objek tersebut juga dibagi menjadi dua:

  1. Sesuatu yang di dalamnya terdapat unsur kepemilikan, konsumsi, dan pemanfaatan.
  2. Sesuatu yang di dalamnya terdapat konsumsi dan pemanfaatan, tetapi tidak disertai kepemilikan.

Setiap bagian memiliki hukum masing-masing, dan penjelasannya akan diuraikan berikut ini.

الْمَأْذُونُ بِهِ مِنَ الشَّارِعِ:

Sesuatu yang Diizinkan oleh Syāri‘

١٥ - الْمَأْذُونُ بِهِ مِنَ الشَّارِعِ مَا وَرَدَ دَلِيلٌ عَلَى إِبَاحَتِهِ مِنْ نَصٍّ أَوْ مِنْ مَصْدَرٍ مِنْ مَصَادِرِ التَّشْرِيعِ الأُْخْرَى. وَالْحَدِيثُ هُنَا سَيَكُونُ عَنِ الْمَأْذُونِ فِيهِ إِذْنًا عَامًّا لاَ يَخْتَصُّ بِبَعْضِ الأَْفْرَادِ دُونَ بَعْضِهِمُ الآْخَرِ.

15. Sesuatu yang diizinkan oleh Syāri‘ adalah sesuatu yang terdapat dalil yang menunjukkan kebolehannya, baik berupa nash maupun salah satu dari sumber-sumber hukum syariat lainnya.

Pembahasan di sini berkaitan dengan sesuatu yang memperoleh izin secara umum, yaitu izin yang tidak dikhususkan hanya untuk sebagian individu dan tidak berlaku bagi individu lainnya.

وَفِي ذَلِكَ مَطْلَبَانِ: مَطْلَبٌ لِلْمَأْذُونِ فِيهِ عَلَى وَجْهِ التَّمَلُّكِ وَالاِسْتِهْلاَكِ، وَهُوَ الْمُسَمَّى عِنْدَ الْفُقَهَاءِ بِالْمَال الْمُبَاحِ، وَمَطْلَبٌ لِلْمَأْذُونِ فِيهِ عَلَى وَجْهِ الاِنْتِفَاعِ فَقَطْ، وَهُوَ الْمُسَمَّى بِالْمَنَافِعِ الْعَامَّةِ.

Dalam hal ini terdapat dua pembahasan:

  1. Sesuatu yang diizinkan dalam bentuk kepemilikan dan konsumsi, yang oleh para fuqaha disebut al-māl al-mubāḥ (harta yang dibolehkan).
  2. Sesuatu yang diizinkan hanya dalam bentuk pemanfaatan, yang disebut al-manāfi‘ al-‘āmmah (kemanfaatan umum).

الْمَطْلَبُ الأَْوَّل

Pembahasan Pertama

مَا أَذِنَ فِيهِ الشَّارِعُ عَلَى وَجْهِ التَّمَلُّكِ وَالاِسْتِهْلاَكِ

Sesuatu yang Diizinkan oleh Syāri‘ dalam Bentuk Kepemilikan dan Konsumsi

١٦ - الْمَال الْمُبَاحُ هُوَ كُل مَا خَلَقَهُ اللَّهُ لِيَنْتَفِعَ بِهِ النَّاسُ عَلَى وَجْهٍ مُعْتَادٍ، وَلَيْسَ فِي حِيَازَةِ أَحَدٍ، مَعَ إِمْكَانِ حِيَازَتِهِ، وَلِكُل إِنْسَانٍ حَقُّ تَمَلُّكِهِ، سَوَاءٌ أَكَانَ حَيَوَانًا أَمْ نَبَاتًا أَمْ جَمَادًا. وَالدَّلِيل عَلَى ذَلِكَ قَوْل النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. مَنْ سَبَقَ إِلَى مَا لَمْ يَسْبِقْهُ إِلَيْهِ مُسْلِمٌ فَهُوَ لَهُ (١) . وَهَذَا التَّمَلُّكُ لاَ يَسْتَقِرُّ إِلاَّ عِنْدَ الاِسْتِيلاَءِ الْحَقِيقِيِّ، الَّذِي ضَبَطُوهُ بِوَضْعِ الْيَدِ عَلَى الشَّيْءِ الْمُبَاحِ، أَيْ الاِسْتِيلاَءِ الْفِعْلِيِّ، أَوْ كَوْنِهِ فِي مُتَنَاوَل الْيَدِ، وَهُوَ الاِسْتِيلاَءُ بِالْقُوَّةِ. وَقَدْ قَال الْعُلَمَاءُ: إِنَّ هَذَا الاِسْتِيلاَءَ بِإِحْدَى صُورَتَيْهِ لاَ يَحْتَاجُ إِلَى نِيَّةٍ وَقَصْدٍ فِي اسْتِقْرَارِ الْمِلْكِيَّةِ، كَمَا قَالُوا: إِنَّ الاِسْتِيلاَءَ بِوَسَاطَةِ آلَةٍ وَحِرْفَةٍ وَمَهَارَةٍ يَحْتَاجُ إِلَى الْقَصْدِ لِيَكُونَ اسْتِيلاَءً حَقِيقِيًّا، وَإِلاَّ كَانَ اسْتِيلاَءً حُكْمِيًّا. جَاءَ فِي الْفَتَاوَى الْهِنْدِيَّةِ فِيمَنْ عَلَّقَ كُوزَهُ، أَوْ وَضَعَهُ فِي سَطْحِهِ، فَأَمْطَرَ السَّحَابُ وَامْتَلأََ الْكُوزُ مِنْ الْمَطَرِ، فَأَخَذَهُ إِنْسَانٌ، فَالْحُكْمُ هُوَ اسْتِرْدَادُ الْكُوزِ؛ لأَِنَّهُ مِلْكُ صَاحِبِهِ، وَأَمَّا الْمَاءُ فَإِنْ كَانَ صَاحِبُ الْكُوزِ قَدْ وَضَعَهُ مِنْ أَجْل جَمْعِ الْمَاءِ فَيَسْتَرِدُّ الْمَاءَ أَيْضًا، لأَِنَّ مِلْكَهُ حَقِيقِيٌّ حِينَئِذٍ، فَإِنْ لَمْ يَضَعْهُ لِذَلِكَ لَمْ يَسْتَرِدُّهُ. (١)

16. Harta mubah adalah segala sesuatu yang Allah ciptakan agar manusia dapat mengambil manfaat darinya dengan cara yang lazim, yang belum berada dalam penguasaan seseorang, serta memungkinkan untuk dikuasai. Setiap orang berhak memilikinya, baik berupa hewan, tumbuhan, maupun benda mati.

Dalilnya adalah sabda Nabi :

“Barang siapa lebih dahulu mendapatkan sesuatu yang belum didahului oleh seorang Muslim pun untuk mendapatkannya, maka sesuatu itu menjadi miliknya.”

Kepemilikan tersebut tidak menjadi tetap kecuali setelah terjadi penguasaan yang nyata. Para fuqaha menjelaskan penguasaan ini dalam dua bentuk:

  1. Meletakkan tangan pada sesuatu yang mubah, yaitu penguasaan secara langsung.
  2. Sesuatu tersebut berada dalam jangkauan tangan, yaitu penguasaan secara potensial.

Para ulama mengatakan bahwa penguasaan dalam salah satu dari kedua bentuk tersebut tidak memerlukan niat dan tujuan tertentu agar kepemilikan menjadi tetap.

Namun, mereka juga menjelaskan bahwa penguasaan yang dilakukan dengan perantara alat, keahlian, atau keterampilan memerlukan adanya niat, agar dapat dianggap sebagai penguasaan yang nyata. Jika tidak disertai niat, maka penguasaan tersebut hanya merupakan penguasaan secara hukum (istīlā’ ḥukmī).

Dalam Fatāwā al-Hindiyyah disebutkan mengenai seseorang yang memasang wadahnya atau meletakkannya di atas atap rumahnya, kemudian hujan turun dan wadah tersebut terisi air hujan, lalu seseorang mengambilnya. Hukumnya adalah wadah tersebut harus dikembalikan, karena merupakan milik pemiliknya.

Adapun mengenai air yang berada di dalam wadah, apabila pemilik wadah memang meletakkannya dengan tujuan mengumpulkan air, maka ia juga berhak mengambil kembali air tersebut, karena pada saat itu air tersebut telah menjadi miliknya secara nyata.

Namun, jika ia tidak meletakkan wadah tersebut dengan tujuan mengumpulkan air, maka ia tidak berhak mengambil kembali air tersebut.

وَمِنْ أَمْثِلَةِ الأَْمْوَال الْمُبَاحَةِ الْمَاءُ وَالْكَلأَُ وَالنَّارُ وَالْمَوَاتُ وَالرِّكَازُ وَالْمَعَادِنُ وَالْحَيَوَانَاتُ غَيْرُ الْمَمْلُوكَةِ. وَلِكُلٍّ أَحْكَامُهُ

Di antara contoh harta mubah adalah air, rerumputan, api, tanah mati (tanah yang belum dimiliki atau dikelola), rikāz (harta terpendam), barang tambang, serta hewan-hewan yang belum dimiliki.

Masing-masing memiliki ketentuan hukum tersendiri.

الْمَطْلَبُ الثَّانِي

Pembahasan Kedua

مَا أَذِنَ فِيهِ الشَّارِعُ عَلَى وَجْهِ الاِنْتِفَاعِ

Sesuatu yang Diizinkan oleh Syāri‘ dalam Bentuk Pemanfaatan

١٧ - وَهُوَ مَا يُسَمَّى بِالْمَنَافِعِ الْعَامَّةِ، الَّتِي جَعَل اللَّهُ إِبَاحَتَهَا تَيْسِيرًا عَلَى عِبَادِهِ، لِيَتَقَرَّبُوا إِلَيْهِ فِيهَا، أَوْ لِيُمَارِسُوا أَعْمَالَهُمْ فِي الْحَيَاةِ مُسْتَعِينِينَ بِهَا، كَالْمَسَاجِدِ، وَالطُّرُقِ. وَيُرْجَعُ لِمَعْرِفَةِ تَفْصِيل أَحْكَامِهِمَا إِلَى مُصْطَلَحَيْهِمَا.

17. Hal ini disebut al-manāfi‘ al-‘āmmah (kemanfaatan umum), yaitu berbagai kemanfaatan yang Allah jadikan boleh sebagai bentuk kemudahan bagi hamba-hamba-Nya, agar mereka dapat mendekatkan diri kepada-Nya melalui kemanfaatan tersebut atau dapat menjalankan aktivitas kehidupan mereka dengan memanfaatkannya.

Contohnya adalah masjid dan jalan umum.

Untuk mengetahui rincian hukum mengenai keduanya, dapat merujuk kepada pembahasan khusus tentang istilah “masjid” dan “jalan”.

الْمَأْذُونُ فِيهِ مِنَ الْعِبَادِ

Sesuatu yang Diizinkan oleh Manusia

١٨ - إِبَاحَةُ الْعِبَادِ كَذَلِكَ عَلَى نَوْعَيْنِ: نَوْعٌ يَكُونُ التَّسْلِيطُ فِيهِ عَلَى الْعَيْنِ لاِسْتِهْلاَكِهَا، وَنَوْعٌ يَكُونُ التَّسْلِيطُ فِيهِ عَلَى الْعَيْنِ لِلاِنْتِفَاعِ بِهَا فَقَطْ.

18. Ibāḥah yang diberikan oleh manusia juga terbagi menjadi dua jenis:

  1. Jenis pertama, yaitu pemberian izin untuk menguasai suatu benda dengan tujuan mengonsumsinya atau menghabiskannya.
  2. Jenis kedua, yaitu pemberian izin untuk menguasai suatu benda hanya untuk memanfaatkannya, tanpa mengonsumsinya atau menghabiskannya.

إِبَاحَةُ الاِسْتِهْلاَكِ:

Ibāḥah untuk Konsumsi

١٩ - لِهَذِهِ الإِْبَاحَةِ جُزْئِيَّاتٌ كَثِيرَةٌ نَكْتَفِي مِنْهَا بِمَا يَأْتِي:

19. Ibāḥah jenis ini memiliki banyak bentuk. Di antaranya adalah sebagai berikut:

أ - الْوَلاَئِمُ بِمُنَاسَبَاتِهَا الْمُتَعَدِّدَةِ وَالْمُبَاحُ فِيهَا الأَْكْل وَالشُّرْبُ دُونَ الأَْخْذِ.

 

ب - الضِّيَافَةُ. وَيُرْجَعُ فِي تَفْصِيل أَحْكَامِهِمَا إِلَى مُصْطَلَحَيْهِمَا.

A. Jamuan makanan (walā’im)
Jamuan yang diadakan dalam berbagai kesempatan. Dalam jamuan tersebut, yang dibolehkan adalah makan dan minum, bukan mengambil atau membawa makanan tersebut.

B. Jamuan tamu (ḍiyāfah)
Adapun rincian hukum mengenai keduanya dapat dirujuk pada pembahasan khusus tentang istilah walīmah dan ḍiyāfah.

إِبَاحَةُ الاِنْتِفَاعِ:

Ibāḥah untuk Pemanfaatan

٢٠ - هَذَا النَّوْعُ مِنَ الإِْبَاحَةِ قَدْ يَكُونُ مَعَ مِلْكِ الآْذِنِ لِعَيْنِ مَا أُذِنَ الاِنْتِفَاعُ بِهِ كَإِذْنِ مَالِكِ الدَّابَّةِ أَوِ السَّيَّارَةِ لِغَيْرِهِ بِرُكُوبِهَا، وَإِذْنِ مَالِكِ الْكُتُبِ لِلاِطِّلاَعِ عَلَيْهَا. وَقَدْ يَكُونُ الإِْذْنُ فِيمَا لاَ يُمْلَكُ عَيْنُهُ، وَلَكِنْ يُمْلَكُ مَنْفَعَتُهُ بِمِثْل الإِْجَارَةِ أَوِ الإِْعَارَةِ، إِنْ لَمْ يُشْتَرَطْ فِيهِمَا أَنْ يَكُونَ الاِنْتِفَاعُ شَخْصِيًّا لِلْمُسْتَأْجِرِ وَالْمُسْتَعِيرِ.

20. Jenis ibāḥah ini terkadang berkaitan dengan kepemilikan orang yang memberikan izin atas benda yang pemanfaatannya diizinkan, seperti pemilik hewan tunggangan atau mobil memberikan izin kepada orang lain untuk mengendarainya, atau pemilik buku memberikan izin kepada orang lain untuk membacanya dan mempelajarinya.

Terkadang pula izin tersebut berkaitan dengan sesuatu yang bendanya tidak dimiliki, tetapi manfaatnya dapat dimiliki, seperti dalam sewa-menyewa (ijārah) atau pinjam-meminjam (‘āriyah), selama dalam kedua akad tersebut tidak disyaratkan bahwa pemanfaatannya harus dilakukan secara pribadi oleh penyewa atau peminjam.

تَقْسِيمَاتُ الإِْبَاحَةِ:

Pembagian-Pembagian Ibāḥah

٢١ - لِلإِْبَاحَةِ تَقْسِيمَاتٌ شَتَّى بِاعْتِبَارَاتٍ مُخْتَلِفَةٍ، وَقَدْ تَقَدَّمَ أَكْثَرُهَا. وَبَقِيَ الْكَلاَمُ عَنْ تَقْسِيمِهَا مِنْ حَيْثُ مَصْدَرُهَا وَمِنْ حَيْثُ الْكُلِّيَّةُ وَالْجُزْئِيَّةُ:

21. Ibāḥah memiliki berbagai macam pembagian berdasarkan beragam tinjauan, dan sebagian besar di antaranya telah dijelaskan sebelumnya.

Masih tersisa pembahasan mengenai pembagian ibāḥah berdasarkan sumbernya, serta berdasarkan sifatnya yang bersifat umum (kullī) atau khusus/parsial (juz’ī).

أ - تَقْسِيمُهَا مِنْ حَيْثُ مَصْدَرُهَا:

A. Pembagian Ibāḥah Berdasarkan Sumbernya:

٢٢ - تُقَسَّمُ بِهَذَا الاِعْتِبَارِ إِلَى

22. Berdasarkan tinjauan ini, ibāḥah dibagi menjadi:

إِبَاحَةٍ أَصْلِيَّةٍ، بِأَلاَّ يَرِدَ فِيهَا نَصٌّ مِنَ الشَّارِعِ، وَبَقِيَتْ عَلَى الأَْصْل، وَقَدْ سَبَقَ بَيَانُهَا.

1. Ibāḥah Aṣliyyah

Yaitu ibāḥah yang tidak terdapat nash dari Syāri‘ yang secara khusus menetapkannya, sehingga perkara tersebut tetap berada pada hukum asalnya. Penjelasannya telah dikemukakan sebelumnya.

وَإِبَاحَةٌ شَرْعِيَّةٌ:

2. Ibāḥah Syar‘iyyah

بِمَعْنَى وُرُودِ نَصٍّ مِنَ الشَّارِعِ بِالتَّخْيِيرِ، وَذَلِكَ إِمَّا ابْتِدَاءً كَإِبَاحَةِ الأَْكْل وَالشُّرْبِ، وَإِمَّا بَعْدَ حُكْمٍ سَابِقٍ مُخَالِفٍ، كَمَا فِي النَّسْخِ أَوِ الرُّخَصِ، وَقَدْ سَبَقَ.

Yaitu ibāḥah dalam pengertian adanya nash dari Syāri‘ yang memberikan pilihan. Hal ini dapat terjadi dalam dua keadaan:

  • Sejak awal, seperti kebolehan makan dan minum.
  • Setelah adanya hukum sebelumnya yang berbeda, sebagaimana terjadi dalam nasakh atau rukhsah (keringanan). Penjelasannya juga telah dikemukakan sebelumnya.

عَلَى أَنَّهُ مِمَّا يَنْبَغِي مُلاَحَظَتُهُ أَنَّهُ بَعْدَ وُرُودِ الشَّرْعِ أَصْبَحَتِ الإِْبَاحَةُ الأَْصْلِيَّةُ إِبَاحَةً شَرْعِيَّةً لِقَوْل اللَّهِ تَعَالَى {هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الأَْرْضِ جَمِيعًا} (١)

Namun, perlu diperhatikan bahwa setelah datangnya syariat, ibāḥah aṣliyyah menjadi ibāḥah syar‘iyyah, berdasarkan firman Allah Ta‘ala:

“Dialah yang menciptakan untuk kalian segala sesuatu yang ada di bumi.”

وَقَوْلِهِ: {وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الأَْرْضِ جَمِيعًا مِنْهُ} (١)

Dan firman-Nya:

“Dan Dia telah menundukkan untuk kalian apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya dari-Nya.”

فَإِنَّ هَذَا النَّصَّ يَدُل عَلَى أَنَّ كُل مَا خَلَقَهُ اللَّهُ يَكُونُ مُبَاحًا إِلاَّ مَا وَرَدَ دَلِيلٌ يُثْبِتُ لَهُ حُكْمًا آخَرَ، عَلَى خِلاَفٍ وَتَفْصِيلٍ يُرْجَعُ إِلَيْهِ فِي الْمُلْحَقِ الأُْصُولِيِّ. (٢)

Nash-nash tersebut menunjukkan bahwa segala sesuatu yang Allah ciptakan pada dasarnya adalah mubah, kecuali terdapat dalil yang menetapkan hukum lain baginya. Mengenai hal ini terdapat perbedaan pendapat dan perincian yang dapat dirujuk dalam lampiran usul fikih.

وَقَدْ يَكُونُ مَصْدَرُ الإِْبَاحَةِ إِذْنَ الْعِبَادِ بَعْضِهِمْ لِبَعْضٍ عَلَى مَا سَبَقَ. (ف ٩) . (٣)

Sumber ibāḥah juga terkadang berasal dari izin yang diberikan oleh sesama manusia kepada satu sama lain, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

ب - تَقْسِيمُهَا بِاعْتِبَارِ الْكُلِّيَّةِ وَالْجُزْئِيَّةِ:

B. Pembagian Ibāḥah Berdasarkan Sifat Kullī dan Juz’ī

٢٣ - تَنْقَسِمُ أَرْبَعَةَ أَقْسَامٍ:

23. Berdasarkan sifatnya yang kullī (umum/keseluruhan) dan juz’ī (khusus/parsial), ibāḥah terbagi menjadi empat macam:

١ - إِبَاحَةٌ لِلْجُزْءِ مَعَ طَلَبِ الْكُل عَلَى جِهَةِ الْوُجُوبِ، كَالأَْكْل مَثَلاً، فَيُبَاحُ أَكْل نَوْعٍ وَتَرْكُ آخَرَ مِمَّا أَذِنَ بِهِ الشَّرْعُ، وَلَكِنَّ الاِمْتِنَاعَ عَنِ الأَْكْل جُمْلَةً حَرَامٌ لِمَا يَتَرَتَّبُ عَلَيْهِ مِنَ الْهَلاَكِ.

1. Ibāḥah pada Sebagian Perbuatan, Disertai Tuntutan Wajib pada Keseluruhannya

Yaitu suatu perbuatan yang sebagian bentuknya diperbolehkan, sementara secara keseluruhan terdapat tuntutan untuk melakukannya secara wajib.

Contohnya adalah makan. Seseorang diperbolehkan memilih untuk memakan salah satu jenis makanan dan meninggalkan jenis makanan lainnya yang diizinkan oleh syariat.

Namun, meninggalkan makan secara keseluruhan adalah haram, karena hal tersebut dapat mengakibatkan kebinasaan atau kematian.

٢ - إِبَاحَةٌ لِلْجُزْءِ مَعَ طَلَبِ الْكُل عَلَى جِهَةِ النَّدْبِ، كَالتَّمَتُّعِ بِمَا فَوْقَ الْحَاجَةِ مِنْ طَيِّبَاتِ الأَْكْل وَالشُّرْبِ، فَذَلِكَ مُبَاحٌ يَجُوزُ تَرْكُهُ فِي بَعْضِ الأَْحْيَانِ، وَلَكِنَّ هَذَا التَّمَتُّعَ مَنْدُوبٌ إِلَيْهِ بِاعْتِبَارِ الْكُل، عَلَى مَعْنَى أَنَّ تَرْكَهُ جُمْلَةً يُخَالِفُ مَا نَدَبَ إِلَيْهِ الشَّرْعُ مِنَ التَّحَدُّثِ بِنِعْمَةِ اللَّهِ وَالتَّوْسِعَةِ، كَمَا فِي حَدِيثِ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُحِبُّ أَنْ يَرَى أَثَرَ نِعْمَتِهِ عَلَى عَبْدِهِ (٤) وَكَمَا قَال عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ إِذَا أَوْسَعَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ فَأَوْسِعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ (١) .

2. Ibāḥah pada Sebagian Perbuatan, Disertai Tuntutan Sunnah pada Keseluruhannya

Yaitu suatu perbuatan yang sebagian bentuknya diperbolehkan, sementara secara keseluruhan perbuatan tersebut dianjurkan (mandub).

Contohnya adalah menikmati makanan dan minuman yang baik melebihi kebutuhan. Hal tersebut pada dasarnya mubah, sehingga seseorang boleh meninggalkannya pada sebagian waktu.

Namun, menikmati kenikmatan tersebut secara keseluruhan dianjurkan, dalam arti bahwa meninggalkannya secara total bertentangan dengan apa yang dianjurkan syariat, yaitu menampakkan nikmat Allah dan memberikan kelapangan kepada diri sendiri.

Sebagaimana dalam hadis:

“Sesungguhnya Allah Ta‘ala menyukai jika Dia melihat bekas nikmat-Nya pada hamba-Nya.”

Sebagaimana pula perkataan ‘Umar bin al-Khaṭṭāb radhiyallāhu ‘anhu:

“Apabila Allah memberikan kelapangan kepada kalian, maka berilah kelapangan kepada diri kalian.”

٣ - إِبَاحَةٌ لِلْجُزْءِ مَعَ التَّحْرِيمِ بِاعْتِبَارِ الْكُل، كَالْمُبَاحَاتِ الَّتِي تَقْدَحُ الْمُدَاوَمَةُ عَلَيْهَا فِي الْعَدَالَةِ، كَاعْتِيَادِ الْحَلِفِ، وَشَتْمِ الأَْوْلاَدِ، فَذَلِكَ مُبَاحٌ فِي الأَْصْل، لَكِنَّهُ مُحَرَّمٌ بِالاِعْتِيَادِ.

3. Ibāḥah pada Sebagian Perbuatan, tetapi Menjadi Haram jika Ditinjau secara Keseluruhan

Yaitu perkara-perkara yang pada asalnya mubah, tetapi jika dilakukan secara terus-menerus hingga menjadi kebiasaan, maka hukumnya dapat menjadi haram.

Contohnya adalah terbiasa bersumpah dan mencaci anak-anak. Perbuatan tersebut pada asalnya termasuk perkara yang mubah, tetapi menjadikannya sebagai kebiasaan terus-menerus adalah haram.

٤ - إِبَاحَةٌ لِلْجُزْءِ مَعَ الْكَرَاهَةِ بِاعْتِبَارِ الْكُل، كَاللَّعِبِ الْمُبَاحِ، فَإِنَّ ذَلِكَ وَإِنْ كَانَ مُبَاحًا بِالأَْصْل إِلاَّ أَنَّ الْمُدَاوَمَةَ عَلَيْهِ مَكْرُوهَةٌ.

4. Ibāḥah pada Sebagian Perbuatan, tetapi Makruh jika Ditinjau secara Keseluruhan

Yaitu suatu perbuatan yang pada dasarnya mubah ketika dilakukan sesekali, tetapi menjadi makruh apabila dilakukan secara terus-menerus.

Contohnya adalah permainan yang mubah. Meskipun permainan tersebut pada asalnya diperbolehkan, terus-menerus melakukannya hukumnya makruh.

آثَارُ الإِبَاحَةِ:

Dampak dan Konsekuensi Ibāḥah

٢٤ - إِذَا ثَبَتَتِ الإِْبَاحَةُ ثَبَتَ لَهَا مِنَ الآْثَارِ مَا يَلِي:

24. Apabila ibāḥah telah ditetapkan, maka beberapa konsekuensi hukum berikut berlaku:

١ - رَفْعُ الإِْثْمِ وَالْحَرَجِ.

1. Gugurnya Dosa dan Kesulitan

وَذَلِكَ مَا يَدُل عَلَيْهِ تَعْرِيفُ الإِْبَاحَةِ بِأَنَّهُ لاَ يَتَرَتَّبُ عَلَى الْفِعْل الْمُبَاحِ إِثْمٌ.

Hal ini ditunjukkan oleh definisi ibāḥah, yaitu bahwa tidak ada dosa yang timbul akibat melakukan suatu perbuatan yang mubah.

٢ - التَّمْكِينُ مِنَ التَّمَلُّكِ الْمُسْتَقِرِّ بِالنِّسْبَةِ لِلْعَيْنِ، وَالاِخْتِصَاصُ بِالنِّسْبَةِ لِلْمَنْفَعَةِ:

2. Memungkinkan Kepemilikan yang Tetap atas Benda dan Kekhususan Hak atas Manfaat

وَذَلِكَ لأَِنَّ الإِْبَاحَةَ طَرِيقٌ لِتَمَلُّكِ الْعَيْنِ الْمُبَاحَةِ. هَذَا بِالنِّسْبَةِ لِلْعَيْنِ. أَمَّا بِالنِّسْبَةِ لِلْمَنْفَعَةِ الْمُبَاحَةِ فَإِنَّ أَثَرَ الإِْبَاحَةِ فِيهَا اخْتِصَاصُ الْمُبَاحِ لَهُ بِالاِنْتِفَاعِ، وَعِبَارَاتُ الْفُقَهَاءِ فِي الْمَذَاهِبِ الْمُخْتَلِفَةِ تَتَّفِقُ فِي أَنَّ تَصَرُّفَ الْمَأْذُونِ لَهُ فِي طَعَامِ الْوَلِيمَةِ قَبْل وَضْعِهِ فِي فَمِهِ لاَ يَجُوزُ بِغَيْرِ الأَْكْل، إِلاَّ إِذَا أَذِنَ لَهُ صَاحِبُ الْوَلِيمَةِ أَوْ دَل عَلَيْهِ عُرْفٌ أَوْ قَرِينَةٌ. وَبِهَذَا تُفَارِقُ الإِْبَاحَةُ الْهِبَةَ وَالصَّدَقَةَ بِأَنَّ فِيهِمَا تَمْلِيكًا، كَمَا أَنَّهَا تُفَارِقُ الْوَصِيَّةَ حَيْثُ تَكُونُ هَذِهِ مُضَافَةً إِلَى مَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَلاَ بُدَّ فِيهَا مِنْ إِذْنِ الدَّائِنِينَ وَالْوَرَثَةِ أَحْيَانًا، كَمَا لاَ بُدَّ مِنْ صِيغَةٍ فِي الْوَصِيَّةِ. (١)

Hal ini karena ibāḥah merupakan salah satu jalan untuk memperoleh kepemilikan atas benda yang mubah. Ini berkaitan dengan benda (‘ain).

Adapun berkaitan dengan manfaat yang dibolehkan, maka dampak ibāḥah adalah memberikan hak khusus kepada orang yang diberi izin untuk memanfaatkan sesuatu tersebut.

Ungkapan para fuqaha dari berbagai mazhab menunjukkan kesepakatan bahwa orang yang diberi izin untuk menikmati makanan dalam suatu walimah, sebelum makanan tersebut dimasukkan ke dalam mulutnya, tidak diperbolehkan memperlakukannya untuk tujuan selain memakannya, kecuali apabila pemilik walimah memberikan izin untuk itu, atau terdapat ‘urf (kebiasaan) atau qarīnah (indikasi) yang menunjukkan kebolehan tersebut.

Dengan demikian, ibāḥah berbeda dari hibah dan sedekah, karena dalam hibah dan sedekah terdapat unsur pemindahan kepemilikan (tamlik).

Ibāḥah juga berbeda dari wasiat, karena wasiat berlaku setelah kematian, dan dalam kondisi tertentu diperlukan izin para kreditor dan ahli waris, sebagaimana wasiat juga harus disertai ṣīghah (ungkapan akad).

٢٥ - هَذِهِ هِيَ آثَارُ الإِْبَاحَةِ لِلأَْعْيَانِ فِي إِذْنِ الْعِبَادِ. أَمَّا آثَارُ الإِْبَاحَةِ لِلْمَنَافِعِ فَإِنَّ إِبَاحَتَهَا لاَ تُفِيدُ إِلاَّ حِل الاِنْتِفَاعِ فَقَطْ، عَلَى مَا تَقَدَّمَ تَفْصِيلُهُ. فَحَقُّ الاِنْتِفَاعِ الْمُجَرَّدِ مِنْ قَبِيل التَّرْخِيصِ بِالاِنْتِفَاعِ الشَّخْصِيِّ دُونَ الاِمْتِلاَكِ، وَمِلْكُ الْمَنْفَعَةِ فِيهِ اخْتِصَاصٌ حَاجِزٌ لِحَقِّ الْمُسْتَأْجِرِ مِنْ مَنَافِعِ الْمُؤَجِّرِ، فَهُوَ أَقْوَى وَأَشْمَل؛ لأَِنَّ فِيهِ حَقَّ الاِنْتِفَاعِ وَزِيَادَةً. وَآثَارُ ذَلِكَ قَدْ تَقَدَّمَ الْكَلاَمُ عَلَيْهَا.

25. Inilah dampak ibāḥah terhadap benda-benda (‘ain) dalam hal izin yang diberikan oleh manusia.

Adapun dampak ibāḥah terhadap manfaat, maka kebolehannya hanya memberikan hak untuk memanfaatkan sesuatu, sebagaimana telah dijelaskan secara terperinci sebelumnya.

Dengan demikian, hak pemanfaatan semata termasuk bentuk pemberian izin untuk pemanfaatan pribadi tanpa disertai kepemilikan.

Sedangkan kepemilikan atas manfaat merupakan suatu hak khusus yang membatasi hak penyewa terhadap manfaat yang dimiliki oleh pihak yang menyewakan. Oleh karena itu, kepemilikan manfaat ini lebih kuat dan lebih luas, karena di dalamnya terdapat hak untuk memanfaatkan sekaligus hak tambahan berupa penguasaan atas manfaat tersebut.

Adapun konsekuensi hukum dari hal tersebut telah dijelaskan sebelumnya.

الإِبَاحَةُ وَالضَّمَانُ:

Ibāḥah dan Ḍamān (Ganti Rugi)

٢٦ - الإِْبَاحَةُ لاَ تُنَافِي الضَّمَانَ فِي الْجُمْلَةِ؛ لأَِنَّ إِبَاحَةَ اللَّهِ - وَإِنْ كَانَ فِيهَا رَفْعُ الْحَرَجِ وَالإِْثْمِ - إِلاَّ أَنَّهَا قَدْ يَكُونُ مَعَهَا ضَمَانٌ، فَإِبَاحَةُ الاِنْتِفَاعِ تَقْتَضِي صِيَانَةَ الْعَيْنِ الْمُبَاحَةِ عَنِ التَّخْرِيبِ وَالضَّرَرِ، وَمَا حَدَثَ مِنْ ذَلِكَ لاَ بُدَّ مِنْ ضَمَانِهِ. وَإِبَاحَةُ الأَْعْيَانِ كَأَخْذِ الْمُضْطَرِّ طَعَامَ غَيْرِهِ لاَ تَمْنَعُ ضَمَانَ قِيمَتِهِ إِذَا كَانَ بِغَيْرِ إِذْنِهِ؛ لأَِنَّ اللَّهَ جَعَل لِلْعَبْدِ حَقًّا فِي مِلْكِهِ، فَلاَ يُنْقَل الْمِلْكُ مِنْهُ إِلَى غَيْرِهِ إِلاَّ بِرِضَاهُ، وَلاَ يَصِحُّ الإِْبْرَاءُ مِنْهُ إِلاَّ بِإِسْقَاطِهِ، كَمَا يَقُول الْقَرَافِيُّ فِي الْفُرُوقِ (١) .

26. Ibāḥah pada dasarnya tidak bertentangan dengan kewajiban memberikan ganti rugi (ḍamān). Sebab, meskipun ibāḥah dari Allah mengandung penghapusan kesulitan dan dosa, terkadang ibāḥah tetap disertai kewajiban ḍamān.

Kebolehan untuk memanfaatkan sesuatu mengharuskan agar benda yang boleh dimanfaatkan tersebut dijaga dari kerusakan dan bahaya. Apabila terjadi kerusakan atau kerugian akibatnya, maka kerusakan tersebut wajib diberikan ganti rugi.

Demikian pula, kebolehan mengambil atau memanfaatkan suatu benda, seperti orang yang berada dalam keadaan darurat mengambil makanan milik orang lain, tidak menghilangkan kewajiban mengganti nilainya apabila pengambilan tersebut dilakukan tanpa izin pemiliknya.

Hal ini karena Allah telah menetapkan bagi seorang hamba hak atas harta miliknya. Oleh sebab itu, kepemilikan tersebut tidak dapat dipindahkan kepada orang lain kecuali dengan kerelaan pemiliknya.

Demikian pula, hak tersebut tidak dapat dinyatakan bebas atau gugur kecuali dengan penghapusan hak tersebut oleh pemiliknya. Sebagaimana dijelaskan oleh al-Qarāfī dalam kitab al-Furūq.

وَحَكَى الْقَرَافِيُّ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ قَوْلَيْنِ: أَحَدُهُمَا: لاَ يُضْمَنُ؛ لأَِنَّ الدَّفْعَ كَانَ وَاجِبًا عَلَى الْمَالِكِ، وَالْوَاجِبُ لاَ يُؤْخَذُ لَهُ عِوَضٌ.

Al-Qarāfī menukil dua pendapat dalam persoalan ini:

Pendapat pertama: Tidak wajib memberikan ganti rugi, karena pemilik memang berkewajiban menyerahkan makanan tersebut, sedangkan sesuatu yang wajib diberikan tidak ada kewajiban memberikan penggantian atasnya.

وَالْقَوْل الثَّانِي: يَجِبُ، وَهُوَ الأَْظْهَرُ وَالأَْشْهَرُ؛ لأَِنَّ إِذْنَ الْمَالِكِ لَمْ يُوجَدْ، وَإِنَّمَا وُجِدَ إِذْنُ صَاحِبِ الشَّرْعِ، وَهُوَ لاَ يُوجِبُ سُقُوطَ الضَّمَانِ، وَإِنَّمَا يَنْفِي الإِْثْمَ وَالْمُؤَاخَذَةَ بِالْعِقَابِ.

Pendapat kedua: Wajib memberikan ganti rugi. Pendapat ini merupakan pendapat yang lebih kuat dan lebih masyhur, karena izin dari pemilik harta tidak ada. Yang ada hanyalah izin dari Pembuat Syariat (Allah). Izin dari Syāri‘ tersebut tidak mengharuskan gugurnya kewajiban ganti rugi, tetapi hanya menghilangkan dosa dan pertanggungjawaban berupa hukuman.

أَمَّا إِبَاحَةُ الْعِبَادِ بَعْضِهِمْ لِبَعْضٍ فَقَدْ تَقَدَّمَ الْكَلاَمُ عَلَيْهَا مُفَصَّلاً.

Adapun ibāḥah yang diberikan oleh sesama manusia kepada yang lainnya, penjelasannya telah dikemukakan secara terperinci sebelumnya.

مَا تَنْتَهِي بِهِ الإِبَاحَةُ:

Hal-Hal yang Mengakhiri Ibāḥah

٢٧ - أَوَّلاً: إِبَاحَةُ اللَّهِ سُبْحَانَهُ لاَ تَنْتَهِي مِنْ جِهَتِهِ هُوَ؛ لأَِنَّهُ سُبْحَانَهُ حَيٌّ بَاقٍ، وَالْوَحْيُ قَدِ انْقَطَعَ، فَلاَ وَحْيَ بَعْدَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنَّمَا تَنْتَهِي بِانْتِهَاءِ دَوَاعِيهَا، كَمَا فِي الرُّخَصِ، فَإِذَا وُجِدَ السَّفَرُ فِي نَهَارِ رَمَضَانَ مَثَلاً وُجِدَتِ الإِْبَاحَةُ بِالتَّرْخِيصِ فِي الْفِطْرِ، فَإِذَا انْتَهَى السَّفَرُ انْتَهَتِ الرُّخْصَةُ.

27. Pertama: Ibāḥah yang diberikan oleh Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā tidak berakhir dari sisi Allah sendiri, karena Dia Maha Hidup dan Maha Kekal. Adapun wahyu telah terputus, sehingga tidak ada wahyu setelah Nabi Muhammad .

Ibāḥah berakhir karena berakhirnya sebab-sebab yang melahirkannya, sebagaimana yang terjadi pada rukhsah (keringanan).

Sebagai contoh, apabila seseorang melakukan perjalanan pada siang hari di bulan Ramadan, maka terdapat ibāḥah berupa keringanan untuk tidak berpuasa. Namun, apabila perjalanan tersebut telah berakhir, maka rukhsah tersebut juga berakhir.

٢٨ - ثَانِيًا: وَإِبَاحَةُ الْعِبَادِ تَنْتَهِي بِأُمُورٍ:

28. Kedua: Ibāḥah yang Diberikan oleh Sesama Manusia Berakhir karena Beberapa Hal

أ - انْتِهَاءُ مُدَّتِهَا إِنْ كَانَتْ مُقَيَّدَةً بِزَمَنٍ، فَالْمُؤْمِنُونَ عِنْدَ شُرُوطِهِمْ، وَإِذَا فُقِدَ الشَّرْطُ فُقِدَ الْمَشْرُوطُ.

A. Berakhirnya masa berlaku ibāḥah

Apabila ibāḥah dibatasi oleh waktu tertentu, maka ketika masa tersebut berakhir, ibāḥah juga berakhir. Sebab, orang-orang mukmin terikat dengan syarat-syarat yang mereka sepakati. Apabila syaratnya tidak ada lagi, maka sesuatu yang bergantung pada syarat tersebut juga tidak ada lagi.

ب - رُجُوعُ الآْذِنِ فِي إِذْنِهِ، حَيْثُ إِنَّهُ لَيْسَ وَاجِبًا عَلَيْهِ، فَهُوَ تَبَرُّعٌ مِنْهُ، كَمَا قَال جُمْهُورُ الْعُلَمَاءِ. وَهِيَ لاَ تَنْتَهِي بِمُجَرَّدِ الرُّجُوعِ، بَل لاَ بُدَّ مِنْ عِلْمِ الْمَأْذُونِ لَهُ بِهِ، كَمَا هُوَ مُقْتَضَى قَوَاعِدِ الْحَنَفِيَّةِ، وَهُوَ قَوْلٌ لِلشَّافِعِيِّ.

B. Pemberi izin menarik kembali izinnya

Ibāḥah juga berakhir apabila orang yang memberikan izin menarik kembali izinnya, karena memberikan izin bukanlah sesuatu yang wajib baginya, melainkan merupakan bentuk pemberian sukarela (tabarru‘), sebagaimana pendapat mayoritas ulama.

Namun, ibāḥah tidak berakhir hanya dengan adanya pencabutan izin semata. Pihak yang sebelumnya memperoleh izin harus terlebih dahulu mengetahui bahwa izin tersebut telah dicabut. Demikianlah konsekuensi kaidah-kaidah yang digunakan oleh ulama Hanafiyah, dan hal ini juga merupakan salah satu pendapat Imam al-Syāfi‘i.

وَذَكَرَ السُّيُوطِيُّ فِي الأَْشْبَاهِ وَالنَّظَائِرِ (١) قَوْلاً آخَرَ لِلشَّافِعِيِّ، يُفِيدُ أَنَّ الإِْبَاحَةَ تَنْتَهِي بِمُجَرَّدِ رُجُوعِ الآْذِنِ، وَلَوْ لَمْ يَعْلَمِ الْمَأْذُونُ لَهُ.

Al-Suyūṭī menyebutkan dalam al-Asybāh wa al-Naẓā’ir pendapat lain dari Imam al-Syāfi‘i yang menunjukkan bahwa ibāḥah berakhir hanya dengan pencabutan izin oleh pemberi izin, meskipun pihak yang sebelumnya memperoleh izin belum mengetahui pencabutan tersebut.

ج - مَوْتُ الآْذِنِ؛ لِبُطْلاَنِ الإِْذْنِ بِمَوْتِهِ، فَتَنْتَهِي آثَارُهُ.

C. Meninggalnya pemberi izin

Ibāḥah berakhir karena meninggalnya pihak yang memberikan izin, sebab dengan kematiannya, izin tersebut menjadi batal sehingga seluruh akibat hukumnya juga berakhir.

د - مَوْتُ الْمَأْذُونِ لَهُ؛ لأَِنَّ حَقَّ الاِنْتِفَاعِ رُخْصَةٌ شَخْصِيَّةٌ لَهُ لاَ تَنْتَقِل إِلَى وَرَثَتِهِ إِلاَّ إِذَا نَصَّ الآْذِنُ عَلَى خِلاَفِهِ.

D. Meninggalnya pihak yang diberi izin

Ibāḥah juga berakhir karena meninggalnya pihak yang memperoleh izin, sebab hak untuk memanfaatkan sesuatu merupakan keringanan yang bersifat pribadi baginya. Hak tersebut tidak berpindah kepada ahli warisnya, kecuali apabila pihak yang memberikan izin telah menetapkan ketentuan yang berbeda.

Wallahu A’lam...

Baca juga:

Ab (Ayah) dalam Fikih Islam: Pengertian, Hak dan Tanggung Jawab terhadap Anak, Perwalian, Nafkah, Warisan, dan Hukum-Hukum yang Berkaitan dengannya

Apa Itu Āyat dalam Al-Qur’an? Pengertian, Perbedaan dengan Surah, Hukum Menyentuh, Membaca dalam Salat, Sujud Tilawah, dan Keutamaannya

Apa Itu Ībāq (Budak Melarikan Diri) dalam Fikih Islam? Definisi, HukumHaram, Hak Majikan, Kewajiban Penemu, Ganti Rugi, Jual Beli, Zakat, danPendapat Empat Madzhab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

Apa Itu Ībāq (Budak Melarikan Diri) dalam Fikih Islam? Definisi, Hukum Haram, Hak Majikan, Kewajiban Penemu, Ganti Rugi, Jual Beli, Zakat, dan Pendapat Empat Madzhab

إِبَاق إِبَاق — Ībāq التَّعْرِيفُ : Definisi ١ - الإِْبَاقُ لُغَةً: مَصْدَرُ أَبَقَ الْعَبْدُ - بِفَتْحِ الْبَاءِ - يَأْبِقُ وَ...