إِبَاحَة
Ibāḥah
(Kebolehan)
التَّعْرِيفُ:
Definisi
١ - الإِبَاحَةُ فِي
اللُّغَةِ: الإِْحْلاَل، يُقَال: أَبَحْتُكَ الشَّيْءَ؛ أَيْ أَحْلَلْتُهُ لَكَ.
وَالْمُبَاحُ خِلاَفُ الْمَحْظُورِ (٣) . وَعَرَّفَ الأُْصُولِيُّونَ الإِْبَاحَةَ
بِأَنَّهَا خِطَابُ اللَّهِ تَعَالَى الْمُتَعَلِّقُ بِأَفْعَال الْمُكَلَّفِينَ
تَخْيِيرًا مِنْ غَيْرِ بَدَلٍ. (٤)
1. Ibāḥah secara
bahasa berarti menghalalkan atau
membolehkan. Dikatakan: “Abḥtu laka asy-syai’a” (أَبَحْتُكَ الشَّيْءَ), yakni “Aku telah membolehkan atau
menghalalkan sesuatu itu bagimu.”
Sedangkan mubāḥ (الْمُبَاحُ) adalah lawan dari maḥẓūr (الْمَحْظُورُ), yaitu sesuatu yang dilarang.
Adapun menurut para ahli uṣul
fikih, ibāḥah didefinisikan sebagai:
Khithab Allah Ta‘ala yang berkaitan
dengan perbuatan orang-orang mukalaf, yang memberikan pilihan tanpa adanya
pengganti.
وَعَرَّفَهَا الْفُقَهَاءُ
بِأَنَّهَا الإِْذْنُ بِإِتْيَانِ الْفِعْل حَسَبَ مَشِيئَةِ الْفَاعِل فِي
حُدُودِ الإِْذْنِ (١) . وَقَدْ تُطْلَقُ الإِْبَاحَةُ عَلَى مَا قَابَل
الْحَظْرَ، فَتَشْمَل الْفَرْضَ وَالإِْيجَابَ وَالنَّدْبَ (٢) .
Dan para fuqaha mendefinisikan ibāḥah
sebagai:
“Izin untuk melakukan suatu perbuatan sesuai dengan kehendak
pelakunya, dalam batas-batas izin tersebut.”
Terkadang istilah ibāḥah juga digunakan untuk segala
sesuatu yang merupakan lawan dari larangan (ḥaẓr). Dengan
pengertian ini, ibāḥah mencakup fardu, wajib, dan mandub (sunah).
الأَلْفَاظُ
ذَاتُ الصِّلَةِ بِالإِْبَاحَةِ:
Lafaz-Lafaz yang Berkaitan dengan Ibāḥah
الْجَوَازُ:
Al-Jawāz (Kebolehan)
٢ - اخْتَلَفَ
الأُْصُولِيُّونَ فِي الصِّلَةِ بَيْنَ الإِْبَاحَةِ وَالْجَوَازِ، فَمِنْهُمْ
مَنْ قَال: إِنَّ الْجَائِزَ يُطْلَقُ عَلَى خَمْسَةِ مَعَانٍ: الْمُبَاحِ، وَمَا
لاَ يَمْتَنِعُ شَرْعًا، وَمَا لاَ يَمْتَنِعُ عَقْلاً، أَوْ مَا اسْتَوَى فِيهِ
الأَْمْرَانِ، وَالْمَشْكُوكُ فِي حُكْمِهِ كَسُؤْرِ الْحِمَارِ (٣) ، وَمِنْهُمْ
مَنْ أَطْلَقَهُ عَلَى أَعَمَّ مِنَ الْمُبَاحِ (٤) ، وَمِنْهُمْ مَنْ قَصَرَهُ
عَلَيْهِ، فَجَعَل الْجَوَازَ مُرَادِفًا لِلإِْبَاحَةِ. (٥)
2. Para ahli uṣul fikih berbeda pendapat mengenai
hubungan antara ibāḥah dan jawāz. Di antara mereka ada yang
mengatakan bahwa istilah jā’iz digunakan dalam lima makna, yaitu:
- Mubāḥ,
yaitu sesuatu yang dibolehkan.
- Sesuatu yang tidak dilarang menurut syariat.
- Sesuatu yang tidak mustahil menurut akal.
- Sesuatu yang kedua kemungkinannya sama, yaitu antara melakukan dan meninggalkannya.
- Sesuatu yang diragukan hukumnya, seperti sisa minuman keledai (su’ru al-ḥimār).
Di antara mereka juga ada yang
menggunakan istilah jawāz dalam makna yang lebih umum daripada mubāḥ.
Sedangkan sebagian yang lain
membatasi istilah tersebut hanya pada mubāḥ, sehingga mereka menjadikan jawāz
sebagai sinonim dari ibāḥah.
وَالْفُقَهَاءُ
يَسْتَعْمِلُونَ الْجَوَازَ فِيمَا قَابَل الْحَرَامَ، فَيَشْمَل الْمَكْرُوهَ (٦)
. وَهُنَاكَ اسْتِعْمَالٌ فِقْهِيٌّ لِكَلِمَةِ الْجَوَازِ بِمَعْنَى الصِّحَّةِ،
وَهِيَ مُوَافَقَةُ الْفِعْل ذِي الْوَجْهَيْنِ لِلشَّرْعِ، وَالْجَوَازُ بِهَذَا
الاِسْتِعْمَال حُكْمٌ وَضْعِيٌّ، وَبِالاِسْتِعْمَالَيْنِ السَّابِقَيْنِ حُكْمٌ
تَكْلِيفِيٌّ.
Dan para fuqaha menggunakan istilah jawāz
untuk sesuatu yang berlawanan dengan haram, sehingga
cakupannya juga meliputi makruh.
Selain itu, terdapat penggunaan istilah jawāz dalam fikih
dengan makna ṣaḥḥah (keabsahan), yaitu kesesuaian
suatu perbuatan yang memiliki dua kemungkinan dengan ketentuan syariat.
Jawāz dalam penggunaan terakhir ini merupakan hukum
waḍ‘ī, sedangkan dalam dua penggunaan sebelumnya termasuk hukum
taklīfī.
الْحِل:
Al-Ḥill (Kehalalan)
٣ - الإِْبَاحَةُ فِيهَا
تَخْيِيرٌ، أَمَّا الْحِل فَإِنَّهُ أَعَمُّ مِنْ ذَلِكَ شَرْعًا؛ لأَِنَّهُ
يُطْلَقُ عَلَى مَا سِوَى التَّحْرِيمِ، وَقَدْ جَاءَ مُقَابِلاً لَهُ فِي
الْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ، كَقَوْلِهِ تَعَالَى: {وَأَحَل اللَّهُ الْبَيْعَ
وَحَرَّمَ الرِّبَا} (١) وَقَوْلِهِ: {يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا
أَحَل اللَّهُ لَكَ} (٢) وَقَوْل النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
أَمَا إِنِّي وَاللَّهِ لاَ أُحِل حَرَامًا وَلاَ أُحَرِّمُ حَلاَلاً (٣) .
وَلَمَّا كَانَ الْحَلاَل مُقَابِلاً لِلْحَرَامِ شَمِل مَا عَدَاهُ مِنَ
الْمُبَاحِ وَالْمَنْدُوبِ وَالْوَاجِبِ وَالْمَكْرُوهِ مُطْلَقًا عِنْدَ
الْجُمْهُورِ، وَتَنْزِيهًا عِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ. وَلِهَذَا قَدْ يَكُونُ
الشَّيْءُ حَلاَلاً وَمَكْرُوهًا فِي آنٍ وَاحِدٍ، كَالطَّلاَقِ، فَإِنَّهُ
مَكْرُوهٌ، وَإِنْ وَصَفَهُ الرَّسُول صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
بِأَنَّهُ حَلاَلٌ (٤) ، وَعَلَى ذَلِكَ يَكُونُ كُل مُبَاحٍ
حَلاَلاً وَلاَ عَكْسَ.
3. Dalam ibāḥah terdapat unsur pemberian pilihan,
sedangkan al-ḥill (kehalalan) secara syariat memiliki cakupan yang lebih
luas daripada itu. Hal ini karena istilah al-ḥill digunakan untuk segala
sesuatu selain pengharaman.
Istilah tersebut juga digunakan
sebagai lawan dari haram dalam Al-Qur’an dan Sunnah, sebagaimana firman
Allah Ta‘ala:
“Allah telah menghalalkan jual beli
dan mengharamkan riba.”
Dan firman-Nya:
“Wahai Nabi, mengapa engkau
mengharamkan apa yang telah Allah halalkan bagimu?”
Demikian pula sabda Nabi ﷺ:
“Ketahuilah, demi Allah,
sesungguhnya aku tidak menghalalkan sesuatu yang haram dan tidak pula
mengharamkan sesuatu yang halal.”
Karena halal merupakan lawan
dari haram, maka menurut jumhur ulama, halal mencakup hukum
selain haram, yaitu mubah, mandub (sunah), wajib, dan makruh secara mutlak.
Sedangkan menurut Abu Hanifah, yang dimaksud adalah makruh tanzih.
Oleh karena itu, sesuatu dapat
sekaligus halal dan makruh dalam satu waktu, seperti talak. Talak
itu makruh, meskipun Rasulullah ﷺ menyifatinya sebagai
sesuatu yang halal.
Berdasarkan hal tersebut, maka setiap
yang mubah adalah halal, tetapi tidak setiap yang halal adalah mubah.
الصِّحَّةُ:
Aṣ-Ṣiḥḥah (Keabsahan)
٤ - الصِّحَّةُ هِيَ
مُوَافَقَةُ الْفِعْل ذِي الْوَجْهَيْنِ لِلشَّرْعِ (١)
4. Ṣiḥḥah adalah kesesuaian suatu perbuatan yang memiliki dua
kemungkinan dengan ketentuan syariat.
وَمَعْنَى كَوْنِهِ ذَا
وَجْهَيْنِ أَنَّهُ يَقَعُ تَارَةً مُوَافِقًا لِلشَّرْعِ، لاِشْتِمَالِهِ عَلَى
الشُّرُوطِ الَّتِي اعْتَبَرَهَا الشَّارِعُ، وَيَقَعُ تَارَةً أُخْرَى مُخَالِفًا
لِلشَّرْعِ. وَالإِْبَاحَةُ الَّتِي فِيهَا تَخْيِيرٌ بَيْنَ الْفِعْل وَالتَّرْكِ
مُغَايِرَةٌ لِلصِّحَّةِ. وَهُمَا وَإِنْ كَانَا مِنَ الأَْحْكَامِ
الشَّرْعِيَّةِ، إِلاَّ أَنَّ الإِْبَاحَةَ حُكْمٌ تَكْلِيفِيٌّ، وَالصِّحَّةَ
حُكْمٌ وَضْعِيٌّ عَلَى رَأْيِ الْجُمْهُورِ.
Yang dimaksud dengan perbuatan
yang memiliki dua kemungkinan ialah bahwa perbuatan tersebut terkadang
terjadi sesuai dengan syariat, karena memenuhi syarat-syarat yang telah
ditetapkan oleh Syariat, dan terkadang terjadi dalam keadaan tidak sesuai
dengan syariat.
Adapun ibāḥah, yang
mengandung pemberian pilihan antara melakukan dan meninggalkan suatu
perbuatan, berbeda dengan ṣiḥḥah.
Meskipun keduanya sama-sama termasuk
hukum syariat, namun ibāḥah merupakan hukum taklīfī, sedangkan ṣiḥḥah
merupakan hukum waḍ‘ī menurut pendapat jumhur ulama.
وَمِنْهُمْ مَنْ يَرُدُّ
الصِّحَّةَ إِلَى الإِْبَاحَةِ فَيَقُول: إِنَّ الصِّحَّةَ إِبَاحَةُ
الاِنْتِفَاعِ. (٢)
Dan di antara mereka ada yang mengembalikan makna ṣiḥḥah kepada
ibāḥah, lalu mengatakan:
“Sesungguhnya ṣiḥḥah adalah kebolehan untuk mengambil manfaat.”
وَالْفِعْل الْمُبَاحُ قَدْ
يَجْتَمِعُ مَعَ الْفِعْل الصَّحِيحِ، فَصَوْمُ يَوْمٍ مِنْ غَيْرِ رَمَضَانَ
مُبَاحٌ، أَيْ مَأْذُونٌ فِيهِ مِنَ الشَّرْعِ، وَهُوَ صَحِيحٌ إِنِ اسْتَوْفَى
أَرْكَانَهُ وَشُرُوطَهُ. وَقَدْ يَكُونُ الْفِعْل مُبَاحًا فِي أَصْلِهِ وَغَيْرَ
صَحِيحٍ لاِخْتِلاَل شَرْطِهِ، كَالْعُقُودِ الْفَاسِدَةِ. وَقَدْ يَكُونُ
صَحِيحًا غَيْرَ مُبَاحٍ كَالصَّلاَةِ فِي ثَوْبٍ مَغْصُوبٍ إِذَا اسْتَوْفَتْ
أَرْكَانَهَا وَشُرُوطَهَا عِنْدَ أَكْثَرِ الأَْئِمَّةِ.
Dan perbuatan yang mubah terkadang dapat berkumpul dengan perbuatan
yang sah. Misalnya, berpuasa pada suatu hari selain bulan
Ramadan adalah mubah, yaitu diizinkan oleh syariat, dan puasa tersebut
sah apabila telah memenuhi rukun-rukun dan syarat-syaratnya.
Terkadang suatu perbuatan mubah pada asalnya, tetapi tidak
sah karena salah satu syaratnya tidak terpenuhi, seperti akad-akad
yang rusak (fāsid).
Sebaliknya, suatu perbuatan terkadang sah tetapi tidak mubah,
seperti salat dengan mengenakan pakaian hasil ghasab, apabila
salat tersebut telah memenuhi rukun-rukun dan syarat-syaratnya, menurut
kebanyakan imam.
التَّخْيِيرُ:
At-Takhyīr (Pemberian Pilihan)
٥ - الإِْبَاحَةُ تَخْيِيرٌ
مِنَ الشَّارِعِ بَيْنَ فِعْل الشَّيْءِ وَتَرْكِهِ، مَعَ اسْتِوَاءِ
الطَّرَفَيْنِ بِلاَ تَرَتُّبِ ثَوَابٍ أَوْ عِقَابٍ، أَمَّا التَّخْيِيرُ فَقَدْ
يَكُونُ عَلَى سَبِيل الإِْبَاحَةِ، أَيْ بَيْنَ فِعْل الْمُبَاحِ وَتَرْكِهِ،
وَقَدْ يَكُونُ بَيْنَ الْوَاجِبَاتِ بَعْضِهَا وَبَعْضٍ، وَهِيَ وَاجِبَاتٌ
لَيْسَتْ عَلَى التَّعْيِينِ، كَمَا فِي خِصَال الْكَفَّارَةِ فِي قَوْله
تَعَالَى: {لاَ يُؤَاخِذُكُمْ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَكِنْ
يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُمْ الأَْيْمَانَ فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ
مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ
تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ} (١) فَإِنَّ فِعْل أَيِّ وَاحِدٍ مِنْهَا يُسْقِطُ
الْمُطَالَبَةَ، لَكِنَّ تَرْكَهَا كُلَّهَا يَقْتَضِي الإِْثْمَ.
5. Ibāḥah adalah pemberian pilihan dari Syāri‘ (pembuat syariat)
antara melakukan sesuatu dan meninggalkannya, dengan kedua pilihan tersebut
memiliki kedudukan yang sama, tanpa adanya konsekuensi berupa pahala atau
hukuman.
Adapun takhyīr (pemberian
pilihan) terkadang berupa ibāḥah, yaitu pilihan antara melakukan
sesuatu yang mubah dan meninggalkannya. Namun, takhyīr juga dapat terjadi di
antara beberapa kewajiban, yaitu kewajiban-kewajiban yang tidak ditentukan
secara khusus salah satunya.
Sebagaimana dalam pilihan
bentuk-bentuk kafarat dalam firman Allah Ta‘ala:
“Allah tidak menghukum kamu
disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak disengaja, tetapi Dia menghukum kamu
disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja. Maka kafaratnya ialah memberi makan
sepuluh orang miskin dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu,
atau memberi mereka pakaian, atau memerdekakan seorang hamba.”
Sesungguhnya, melakukan salah
satu dari bentuk-bentuk kafarat tersebut telah menggugurkan tuntutan
kewajiban. Akan tetapi, meninggalkan semuanya mengakibatkan seseorang
berdosa.
وَقَدْ يَكُونُ التَّخْيِيرُ
بَيْنَ الْمَنْدُوبَاتِ كَالتَّنَفُّل قَبْل صَلاَةِ الْعَصْرِ، فَالْمُصَلِّي
مُخَيَّرٌ بَيْنَ أَنْ يَتَنَفَّل بِرَكْعَتَيْنِ أَوْ بِأَرْبَعٍ. (٢)
Dan takhyīr (pemberian pilihan) terkadang terjadi di antara
beberapa perbuatan mandub (sunah), seperti salat sunah sebelum
salat Asar. Seorang yang hendak melaksanakannya diberi pilihan antara melakukan
dua rakaat atau empat rakaat.
وَالْمَنْدُوبُ نَفْسُهُ فِي
مَفْهُومِهِ تَخْيِيرٌ بَيْنَ الْفِعْل وَالتَّرْكِ، وَإِنْ رُجِّحَ جَانِبُ الْفِعْل،
وَفِيهِ ثَوَابٌ، بَيْنَمَا التَّخْيِيرُ فِي الإِْبَاحَةِ لاَ يُرَجَّحُ فِيهِ
جَانِبٌ عَلَى جَانِبٍ، وَلاَ يَتَرَتَّبُ عَلَيْهِ ثَوَابٌ وَلاَ عِقَابٌ.
Mandub itu sendiri, dalam pengertiannya, juga mengandung
unsur pilihan antara melakukan dan meninggalkan, meskipun sisi
melakukan lebih diutamakan dan terdapat pahala padanya.
Sedangkan pilihan dalam ibāḥah tidak ada satu sisi pun yang
lebih diutamakan daripada sisi lainnya, serta tidak ada konsekuensi berupa pahala
maupun hukuman.
الْعَفْوُ:
Al-‘Afw (Pemaafan)
٦ - مِنَ الْعُلَمَاءِ مَنْ
جَعَل الْعَفْوَ الَّذِي رُفِعَتْ فِيهِ الْمُؤَاخَذَةُ، وَنُفِيَ فِيهِ
الْحَرَجُ، مُسَاوِيًا لِلإِْبَاحَةِ، كَمَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ إِنَّ اللَّهَ
فَرَضَ فَرَائِضَ فَلاَ تُضَيِّعُوهَا، وَحَدَّ حُدُودًا فَلاَ تَعْتَدُوهَا،
وَحَرَّمَ أَشْيَاءَ فَلاَ تَنْتَهِكُوهَا، وَعَفَا عَنْ أَشْيَاءَ رَحْمَةً
بِكُمْ مِنْ غَيْرِ نِسْيَانٍ فَلاَ تَبْحَثُوا عَنْهَا (٣) . وَهُوَ مَا يَدُل
عَلَيْهِ قَوْله تَعَالَى {لاَ تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ
تَسُؤْكُمْ وَإِنْ تَسْأَلُوا عَنْهَا حِينَ يُنَزَّل الْقُرْآنُ تُبْدَ لَكُمْ
عَفَا اللَّهُ عَنْهَا} (٤) . فَمَا عَفَا اللَّهُ عَنْهُ لَمْ يُكَلِّفْنَا بِهِ
فِعْلاً أَوْ تَرْكًا، وَلَمْ يُرَتِّبْ عَلَيْهِ مَثُوبَةً وَلاَ عِقَابًا.
وَهُوَ بِهَذَا مُسَاوٍ لِلْمُبَاحِ.
6. Di antara para ulama ada yang menyamakan al-‘afw—yaitu
sesuatu yang telah dihapuskan pertanggungjawabannya dan tidak dikenakan
kesulitan atau beban—dengan ibāḥah.
Hal ini sebagaimana disebutkan dalam
hadis:
“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan
beberapa kewajiban, maka janganlah kalian menyia-nyiakannya. Dia telah
menetapkan beberapa batas, maka janganlah kalian melampauinya. Dia telah
mengharamkan beberapa perkara, maka janganlah kalian melanggarnya. Dan Dia
telah memaafkan beberapa perkara sebagai rahmat bagi kalian, bukan karena lupa,
maka janganlah kalian mencarinya.”
Hal ini juga ditunjukkan oleh firman
Allah Ta‘ala:
“Janganlah kalian menanyakan
perkara-perkara yang jika diterangkan kepada kalian, niscaya akan menyusahkan
kalian. Jika kalian menanyakannya ketika Al-Qur’an sedang diturunkan, niscaya
akan diterangkan kepada kalian. Allah telah memaafkan perkara-perkara
tersebut.”
Dengan demikian, apa yang telah
Allah maafkan tidak dibebankan kepada kita, baik untuk dilakukan maupun
ditinggalkan, dan tidak pula ditetapkan pahala ataupun hukuman atasnya.
Dengan pengertian tersebut, al-‘afw
sama dengan al-mubāḥ.
أَلْفَاظُ
الإِبَاحَةِ:
Lafaz-Lafaz yang Menunjukkan Ibāḥah
٧ - الإِْبَاحَةُ
إِمَّا بِلَفْظٍ أَوْ غَيْرِهِ، سَوَاءٌ مِنَ الشَّارِعِ أَوْ مِنَ الْعِبَادِ.
فَمِثَال غَيْرِ اللَّفْظِ مِنَ الشَّارِعِ أَنْ يَرَى رَسُول اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِعْلاً مِنَ الأَْفْعَال، أَوْ يَسْمَعُ قَوْلاً،
فَلاَ يُنْكِرُهُ، فَيَكُونُ هَذَا تَقْرِيرًا يَدُل عَلَى الإِْبَاحَةِ.
7. Ibāḥah dapat ditunjukkan melalui lafaz (ucapan) maupun
selain lafaz, baik yang berasal dari Syāri‘ (pembuat syariat) maupun
dari manusia.
Contoh ibāḥah yang ditunjukkan bukan
melalui lafaz dari Syāri‘ adalah ketika Rasulullah ﷺ melihat suatu perbuatan atau mendengar suatu perkataan,
kemudian beliau tidak mengingkarinya. Sikap tersebut disebut taqrīr,
yang menunjukkan adanya kebolehan.
وَمِثَالُهُ مِنَ الْعِبَادِ
أَنْ يَضَعَ الشَّخْصُ مَائِدَةً عَامَّةً لِيَأْكُل مِنْهَا مَنْ يَشَاءُ.
Adapun contoh ibāḥah yang berasal
dari manusia, misalnya seseorang menyediakan hidangan yang terbuka
untuk umum, agar siapa saja yang menghendakinya dapat makan darinya.
وَأَمَّا اللَّفْظُ فَقَدْ
يَكُونُ صَرِيحًا، وَمِنْ ذَلِكَ نَفْيُ الْجُنَاحِ وَنَفْيُ الإِْثْمِ أَوِ
الْحِنْثِ أَوِ السَّبِيل أَوِ الْمُؤَاخَذَةِ. وَقَدْ يَكُونُ غَيْرَ صَرِيحٍ،
وَهُوَ الَّذِي يَحْتَاجُ فِي دَلاَلَتِهِ عَلَى الإِْبَاحَةِ إِلَى قَرِينَةٍ.
وَمِنْ ذَلِكَ: الأَْمْرُ بَعْدَ الْحَظْرِ، كَقَوْلِهِ تَعَالَى: {وَإِذَا
حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا} (١) وَمِنْهُ الأَْمْرُ الْمُقْتَرِنُ بِالْمَشِيئَةِ،
وَالتَّعْبِيرُ بِالْحِل، أَوْ نَفْيُ التَّحْرِيمِ، أَوِ الاِسْتِثْنَاءُ مِنَ
التَّحْرِيمِ.
Adapun lafaz, terkadang
bersifat tegas (ṣarīḥ). Di antaranya adalah ungkapan yang menunjukkan peniadaan
dosa (junāḥ), peniadaan dosa (itsm), peniadaan pelanggaran sumpah
(ḥints), peniadaan jalan atau alasan untuk menyalahkan, atau peniadaan
pertanggungjawaban (mu’ākhadzah).
Terkadang lafaz tersebut tidak
tegas, yaitu lafaz yang dalam menunjukkan makna ibāḥah memerlukan
adanya qarīnah (indikasi atau petunjuk yang menyertainya).
Di antara bentuknya adalah:
- Perintah setelah adanya larangan, seperti firman Allah Ta‘ala:
“Apabila kalian telah selesai dari ihram, maka berburu lah.” - Perintah yang disertai dengan kehendak atau pilihan
(masyi’ah).
- Penggunaan ungkapan al-ḥill (kehalalan).
- Peniadaan pengharaman.
- Pengecualian dari sesuatu yang diharamkan.
مَنْ لَهُ
حَقُّ الإِبَاحَةِ:
Siapa yang Memiliki Hak Memberikan Ibāḥah?
الشَّارِعُ:
Syāri‘ (Pembuat Syariat)
٨ - الأَْصْل أَنَّ حَقَّ
الإِْبَاحَةِ لِلشَّارِعِ وَحْدَهُ مِنْ غَيْرِ تَوَقُّفٍ عَلَى إِذْنٍ مِنْ
أَحَدٍ، وَقَدْ تَكُونُ الإِْبَاحَةُ مُطْلَقَةً كَالْمُبَاحَاتِ الأَْصْلِيَّةِ،
وَقَدْ تَكُونُ مُقَيَّدَةً إِمَّا بِشَرْطٍ كَمَا فِي قَوْله تَعَالَى {أَوْ مَا
مَلَكْتُمْ مَفَاتِحَهُ} (٢) فِي شَأْنِ مَا يُبَاحُ أَكْلُهُ مِنْ مِلْكِ
الْغَيْرِ مِنْ غَيْرِ ضَرُورَةٍ، أَوْ مُقَيَّدَةً بِوَقْتٍ كَإِبَاحَةِ أَكْل
الْمَيْتَةِ لِلْمُضْطَرِّ
8. Pada dasarnya, hak memberikan ibāḥah hanya dimiliki oleh
Syāri‘, tanpa bergantung pada izin dari siapa pun.
Ibāḥah terkadang bersifat mutlak,
seperti berbagai perkara yang pada asalnya memang diperbolehkan.
Terkadang ibāḥah bersifat terbatas,
yaitu:
- Dibatasi dengan suatu syarat, sebagaimana firman Allah Ta‘ala:
“Atau (harta) yang kalian kuasai kunci-kuncinya.”
Hal ini berkaitan dengan sesuatu yang boleh dimakan dari milik orang lain tanpa adanya keadaan darurat. - Dibatasi dengan waktu tertentu, seperti kebolehan memakan bangkai bagi orang yang
berada dalam keadaan terpaksa (darurat).
الْعِبَادُ:
Al-‘Ibād (Manusia)
٩ - الإِْبَاحَةُ
مِنَ الْعِبَادِ لاَ بُدَّ فِيهَا أَنْ تَكُونَ عَلَى وَجْهٍ لاَ يَأْبَاهُ
الشَّرْعُ، وَأَلاَّ تَكُونَ عَلَى وَجْهِ التَّمْلِيكِ، وَإِلاَّ كَانَتْ هِبَةً
أَوْ إِعَارَةً.
9. Ibāḥah yang diberikan oleh manusia harus dilakukan
dengan cara yang tidak bertentangan dengan syariat, serta tidak
dilakukan dalam bentuk memberikan kepemilikan. Jika dilakukan dalam
bentuk memberikan kepemilikan, maka hal tersebut menjadi hibah atau ‘āriyah
(pinjaman).
وَإِذَا كَانَتِ الإِْبَاحَةُ
مِنْ وَلِيِّ الأَْمْرِ فَالْمَدَارُ فِيهَا - بَعْدَ الشَّرْطَيْنِ
السَّابِقَيْنِ - أَنْ تَكُونَ مَنُوطَةً بِالْمَصْلَحَةِ الْعَامَّةِ.
Apabila ibāḥah diberikan oleh wali
al-amr (penguasa/pemimpin), maka setelah memenuhi dua syarat sebelumnya,
ukurannya adalah bahwa ibāḥah tersebut harus berlandaskan kemaslahatan umum.
وَهَذِهِ الإِْبَاحَةُ قَدْ
تَكُونُ فِي وَاجِبٍ يَسْقُطُ بِهَا عَنْهُ، كَمَنْ عَلَيْهِ كَفَّارَةٌ،
وَاخْتَارَ التَّكْفِيرَ بِالإِْطْعَامِ، فَإِنَّ الدَّعْوَةَ إِلَى تَنَاوُلِهِ
إِبَاحَةٌ تُسْقِطُ عَنْهُ الْكَفَّارَةَ، إِذْ هُوَ مُخَيَّرٌ فِيهَا بَيْنَ
التَّمْلِيكِ لِمَنْ يَسْتَحِقُّ، وَبَيْنَ الإِْبَاحَةِ.
Ibāḥah ini terkadang berkaitan dengan suatu kewajiban yang menjadi
gugur karenanya, seperti orang yang memiliki kewajiban kafarat,
kemudian ia memilih menunaikan kafarat tersebut dengan memberikan
makanan.
Sesungguhnya, mengundang seseorang untuk menikmati makanan tersebut
merupakan bentuk ibāḥah yang menggugurkan kewajiban kafaratnya, karena
dalam hal ini ia diberi pilihan antara memberikan makanan tersebut
menjadi milik orang yang berhak menerimanya atau memberikan
izin untuk memakannya.
وَهَذَا عِنْدَ بَعْضِ الْفُقَهَاءِ
كَالْحَنَفِيَّةِ، خِلاَفًا لِلشَّافِعِيَّةِ وَمَنْ وَافَقَهُمُ الَّذِينَ
يَرَوْنَ أَنَّ الإِْطْعَامَ فِي الْكَفَّارَةِ يَجِبُ فِيهِ التَّمْلِيكُ (١) .
وَالإِْنْسَانُ يَعْرِفُ إِذْنَ غَيْرِهِ إِمَّا بِنَفْسِهِ، وَإِمَّا بِإِخْبَارِ
ثِقَةٍ يَقَعُ فِي الْقَلْبِ صِدْقُهُ. فَلَوْ قَال مَمْلُوكٌ مَثَلاً: هَذِهِ
هَدِيَّةٌ بَعَثَ بِهَا إِلَيْكَ سَيِّدِي، أَوْ قَال صَبِيٌّ: هَذِهِ هَدِيَّةٌ
بَعَثَ بِهَا إِلَيْكَ وَالِدِي، قُبِل قَوْلُهُمَا فِي حِلِّهَا؛ لأَِنَّ
الْهَدَايَا تُبْعَثُ فِي الْعَادَةِ عَلَى أَيْدِي هَؤُلاَءِ. (٢)
Hal ini menurut sebagian fuqaha, seperti mazhab Hanafiyah,
berbeda dengan mazhab Syafi‘iyah dan ulama yang sependapat
dengan mereka. Mereka berpendapat bahwa pemberian makanan sebagai
kafarat harus dilakukan dengan memberikan kepemilikan (tamlik).
Seseorang dapat mengetahui adanya izin dari orang lain
dengan dua cara: mengetahuinya secara langsung, atau melalui
pemberitahuan dari orang yang terpercaya, yang kebenaran
ucapannya dapat diterima oleh hati.
Seandainya, misalnya, seorang budak berkata, “Ini
adalah hadiah yang dikirimkan tuanku untukmu,” atau seorang anak
kecil berkata, “Ini adalah hadiah yang dikirimkan ayahku untukmu,”
maka perkataan keduanya dapat diterima mengenai kehalalan hadiah
tersebut. Sebab, menurut kebiasaan, hadiah memang biasanya dikirimkan
melalui orang-orang seperti mereka.
دَلِيل
الإِْبَاحَةِ وَأَسْبَابُهَا:
Dalil Ibāḥah dan Sebab-Sebabnya
١٠ - قَدْ يُوجَدُ فِعْلٌ
مِنَ الأَْفْعَال لَمْ يَدُل الدَّلِيل السَّمْعِيُّ عَلَى حُكْمِهِ بِخُصُوصِهِ،
وَذَلِكَ صَادِقٌ بِصُورَتَيْنِ: الأُْولَى عَدَمُ وُرُودِ دَلِيلٍ لِهَذَا
الْفِعْل أَصْلاً، وَالثَّانِيَةُ وُرُودُهُ وَلَكِنَّهُ جُهِل. وَأَكْثَرُ
الأَْفْعَال دَل الدَّلِيل السَّمْعِيُّ عَلَيْهَا وَعُرِفَ حُكْمُهَا، وَتَفْصِيل
ذَلِكَ فِيمَا يَلِي:
10. Terkadang terdapat suatu perbuatan yang tidak
terdapat dalil syar‘i yang bersumber dari wahyu yang menunjukkan secara khusus
mengenai hukumnya.
Hal ini dapat terjadi dalam dua
keadaan:
- Tidak adanya dalil sama sekali mengenai perbuatan tersebut.
- Adanya dalil mengenai perbuatan tersebut, tetapi dalil
itu tidak diketahui.
Adapun sebagian besar perbuatan,
dalil syar‘i telah menunjukkan hukumnya dan hukumnya telah diketahui. Adapun
perinciannya adalah sebagai berikut:
أ - الْبَقَاءُ عَلَى
الأَْصْل:
A.
Tetap Berpegang pada Hukum Asal (Al-Baqā’ ‘alā al-Aṣl)
١١ - وَهَذَا مَا
يُعْرَفُ بِالإِْبَاحَةِ الأَْصْلِيَّةِ، وَجُمْهُورُ الْعُلَمَاءِ عَلَى أَنَّهُ
لاَ حَرَجَ عَلَى مَنْ تَرَكَهُ أَوْ فَعَلَهُ. وَيَظْهَرُ أَثَرُ ذَلِكَ فِيمَا
كَانَ قَبْل الْبَعْثَةِ.
11. Hal ini dikenal sebagai ibāḥah aṣliyyah
(kebolehan berdasarkan hukum asal). Jumhur ulama berpendapat bahwa tidak
ada dosa atau kesalahan bagi orang yang meninggalkannya maupun
melakukannya. Pengaruh pendapat ini tampak dalam perkara-perkara yang terjadi sebelum
diutusnya para rasul.
وَهُنَاكَ تَفْصِيلاَتٌ
بَيْنَ عُلَمَاءِ الْكَلاَمِ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ يُرْجَعُ إِلَيْهَا فِي
الْمُلْحَقِ الأُْصُولِيِّ، أَوْ فِي كُتُبِ عِلْمِ الْكَلاَمِ. وَهَذَا
الْخِلاَفُ لاَ مُحَصِّل لَهُ الآْنَ بَعْدَ وُرُودِ الْبَعْثَةِ، إِذْ دَل
النَّصُّ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ عَلَى أَنَّ الأَْصْل فِي الأَْشْيَاءِ
الإِْبَاحَةُ. قَال تَعَالَى: {وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي
الأَْرْضِ جَمِيعًا مِنْهُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ} (١)
Di antara para ulama ilmu kalam terdapat beberapa perincian mengenai
persoalan ini. Pembahasannya dapat dirujuk dalam lampiran usul fikih
atau dalam kitab-kitab ilmu kalam.
Namun, perbedaan pendapat tersebut tidak lagi memiliki pengaruh
setelah datangnya risalah kenabian, karena terdapat nash dari Kitab
Allah yang menunjukkan bahwa hukum asal segala sesuatu adalah ibāḥah
(boleh).
Allah Ta‘ala berfirman:
“Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa
yang ada di bumi semuanya sebagai karunia dari-Nya. Sesungguhnya pada yang
demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”
ب - مَا جُهِل حُكْمُهُ:
B.
Hukum yang Tidak Diketahui
١٢ - قَدْ
يَكُونُ الْجَهْل مَعَ وُجُودِ الدَّلِيل، وَلَكِنَّ الْمُكَلَّفَ - مُجْتَهِدًا
أَوْ غَيْرَ مُجْتَهِدٍ - لَمْ يَطَّلِعْ عَلَيْهِ، أَوِ اطَّلَعَ عَلَيْهِ
الْمُجْتَهِدُ وَلَمْ يَسْتَطِعْ اسْتِنْبَاطَ الْحُكْمِ.
B.
Hukum yang Tidak Diketahui
12. Ketidaktahuan terhadap hukum terkadang terjadi meskipun
terdapat dalil. Namun, seorang mukallaf, baik ia seorang mujtahid
maupun bukan mujtahid, tidak mengetahuinya karena belum menemukan atau
belum mengetahui dalil tersebut.
Atau, seorang mujtahid telah
mengetahui dalilnya, tetapi tidak mampu melakukan istinbāṭ
(menyimpulkan) hukum darinya.
وَالْقَاعِدَةُ فِي ذَلِكَ
أَنَّ الْجَهْل بِالأَْحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ إِنَّمَا يَكُونُ عُذْرًا إِذَا
تَعَذَّرَ عَلَى الْمُكَلَّفِ الاِطِّلاَعُ عَلَى الدَّلِيل، وَكُل مَنْ كَانَ فِي
إِمْكَانِهِ الاِطِّلاَعُ عَلَى الدَّلِيل وَقَصَّرَ فِي تَحْصِيلِهِ لاَ يَكُونُ
مَعْذُورًا. وَيُفَصِّل الْفُقَهَاءُ أَحْكَامَ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ فِي
مَوَاطِنِهَا.
Kaidah dalam persoalan ini adalah bahwa ketidaktahuan terhadap
hukum-hukum syariat hanya menjadi suatu uzur apabila seorang mukalaf tidak
mampu mengetahui atau menemukan dalil. Adapun setiap orang yang
sebenarnya memiliki kemampuan untuk mengetahui dalil, tetapi
lalai dalam mencarinya, maka ia tidak dianggap memiliki uzur.
Para fuqaha menjelaskan hukum-hukum persoalan ini secara terperinci pada
pembahasannya masing-masing.
وَمَنْ عُذِرَ بِجَهْلِهِ
فَهُوَ غَيْرُ مُخَاطَبٍ بِحُكْمِ الْفِعْل، فَلاَ يُوصَفُ فِعْلُهُ
بِالإِْبَاحَةِ بِالْمَعْنَى الاِصْطِلاَحِيِّ الَّذِي فِيهِ خِطَابٌ
بِالتَّخْيِيرِ. وَإِنْ كَانَ الإِْثْمُ مَرْفُوعًا عَنْهُ بِعُذْرِ الْجَهْل. (٢)
Adapun orang yang diberi uzur karena ketidaktahuannya, maka
ia tidak dibebani dengan hukum perbuatan tersebut. Oleh karena itu,
perbuatannya tidak disebut sebagai ibāḥah dalam pengertian istilah,
yaitu adanya khithab syariat yang memberikan pilihan.
Meskipun demikian, dosa tetap diangkat darinya karena adanya uzur
berupa ketidaktahuan.
وَتُفَصَّل هَذِهِ
الأَْحْكَامُ فِي مَوَاطِنِهَا فِي بَحْثِ (الْجَهْل) . وَيُنْظَرُ فِي
الْمُلْحَقِ الأُْصُولِيِّ.
Perincian mengenai hukum-hukum tersebut dibahas pada pembahasan “Jahl
(Ketidaktahuan)”, dan dapat pula dilihat dalam lampiran usul
fikih.
طُرُقُ
مَعْرِفَةِ الإِْبَاحَةِ:
Cara Mengetahui Ibāḥah
١٣ - طُرُقُ
مَعْرِفَةِ الإِْبَاحَةِ كَثِيرَةٌ، مِنْ أَهَمِّهَا:
13. Cara untuk mengetahui adanya ibāḥah sangat banyak.
Di antara yang paling penting adalah:
النَّصُّ: وَقَدْ تَقَدَّمَ
الْكَلاَمُ عَلَيْهِ تَفْصِيلاً.
1. Nash (dalil
yang jelas)
Pembahasan mengenai hal ini telah dijelaskan sebelumnya secara terperinci.
بَعْضُ أَسْبَابِ الرُّخَصِ:
وَالرُّخْصَةُ هِيَ مَا شُرِعَ لِعُذْرٍ شَاقٍّ اسْتِثْنَاءً مِنْ أَصْلٍ كُلِّيٍّ
يَقْتَضِي الْمَنْعَ، مَعَ الاِقْتِصَارِ عَلَى مَوَاضِعِ الْحَاجَةِ فِيهِ مَعَ
بَقَاءِ حُكْمِ الأَْصْل. وَذَلِكَ كَالإِْفْطَارِ فِي رَمَضَانَ فِي السَّفَرِ،
وَالْمَسْحِ عَلَى الْخُفَّيْنِ، عَلَى تَفْصِيلٍ لِلْفُقَهَاءِ يُرْجَعُ إِلَيْهِ
فِي مَوَاطِنِهِ.
Sebagian sebab yang melahirkan
rukhsah (keringanan)
Rukhsah adalah sesuatu yang disyariatkan karena adanya uzur yang
berat, sebagai pengecualian dari suatu ketentuan umum yang pada asalnya
mengharuskan adanya larangan, dengan membatasi rukhsah tersebut hanya pada
kondisi yang diperlukan, sementara hukum asalnya tetap berlaku.
Contohnya adalah:
- Tidak berpuasa Ramadan ketika dalam perjalanan.
- Mengusap kedua khuf
sebagai pengganti membasuh kaki.
Perincian mengenai hal ini dapat
dilihat dalam pembahasan para fuqaha pada tempatnya masing-masing.
النَّسْخُ: وَهُوَ رَفْعُ
الْحُكْمِ الشَّرْعِيِّ بِنَصٍّ شَرْعِيٍّ مُتَأَخِّرٍ.
Nasakh
Nasakh adalah penghapusan suatu hukum syariat dengan dalil
syariat yang datang kemudian.
وَالَّذِي يُهِمُّنَا هُنَا
هُوَ نَسْخُ الْحَظْرِ بِنَصٍّ شَرْعِيٍّ مُتَأَخِّرٍ فِيمَا كَانَ مُبَاحًا قَبْل
الْحَظْرِ، مِثْل جَوَازِ الاِنْتِبَاذِ فِي الأَْوْعِيَةِ بَعْدَ حَظْرِهِ،
لِقَوْل النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُنْت نَهَيْتُكُمْ عَنِ
الأَْوْعِيَةِ فَانْتَبِذُوا وَاجْتَنِبُوا كُل مُسْكِرٍ (١) فَالأَْمْرُ بِالنَّبْذِ
بَعْدَ النَّهْيِ عَنْهُ يُفِيدُ رَفْعَ الْحَرَجِ، وَهُوَ مَعْنَى الإِْبَاحَةِ.
Yang penting bagi kita dalam
pembahasan ini adalah nasakh terhadap larangan dengan dalil syariat yang
datang kemudian, terhadap suatu perkara yang sebelumnya mubah sebelum adanya
larangan.
Contohnya adalah kebolehan
membuat minuman rendaman dalam wadah-wadah tertentu setelah sebelumnya hal
tersebut dilarang, berdasarkan sabda Nabi ﷺ:
“Dahulu aku telah melarang kalian
menggunakan wadah-wadah tersebut, maka sekarang buatlah minuman rendaman (di
dalamnya), dan jauhilah setiap sesuatu yang memabukkan.”
Maka, perintah untuk membuat
minuman rendaman setelah sebelumnya terdapat larangan darinya menunjukkan diangkatnya
kesulitan atau larangan, dan inilah yang dimaksud dengan ibāḥah (kebolehan).
الْعُرْفُ. وَالْمُخْتَارُ
فِي تَعْرِيفِهِ أَنَّهُ مَا اسْتَقَرَّ فِي النُّفُوسِ مِنْ جِهَةِ الْعُقُول،
وَتَلَقَّتْهُ الطِّبَاعُ السَّلِيمَةُ بِالْقَبُول (١) . وَهُوَ دَلِيلٌ كَاشِفٌ
إِذَا لَمْ يُوجَدْ نَصٌّ وَلاَ إِجْمَاعٌ عَلَى اعْتِبَارِهِ أَوْ إِلْغَائِهِ،
كَالاِسْتِئْجَارِ بِعِوَضٍ مَجْهُولٍ لاَ يُفْضِي إِلَى النِّزَاعِ.
Al-‘Urf
(Adat atau Kebiasaan)
Al-‘urf. Definisi yang dipilih untuknya adalah: “Sesuatu yang
telah menetap dalam jiwa berdasarkan pertimbangan akal dan diterima oleh tabiat
yang sehat.”
‘Urf merupakan dalil yang
menyingkap hukum, apabila tidak terdapat nash maupun ijmak yang
menyatakan bahwa ‘urf tersebut diakui atau dibatalkan.
Contohnya adalah menyewa sesuatu
dengan imbalan yang tidak diketahui secara pasti, selama ketidakjelasan
tersebut tidak menimbulkan perselisihan.
الاِسْتِصْلاَحُ
(الْمَصْلَحَةُ الْمُرْسَلَةُ) :
Al-Istiṣlāḥ (Maṣlaḥah Mursalah)
هِيَ كُل مَصْلَحَةٍ غَيْرُ
مُعْتَبَرَةٍ وَلاَ مُلْغَاةٍ بِنَصٍّ مِنَ الشَّارِعِ بِخُصُوصِهَا، يَكُونُ فِي
الأَْخْذِ بِهَا جَلْبُ مَنْفَعَةٍ أَوْ دَفْعُ ضَرَرٍ، كَمُشَاطَرَةِ عُمَرَ
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَمْوَال الَّذِينَ اتَّهَمَهُمْ بِالإِْثْرَاءِ بِسَبَبِ
عَمَلِهِمْ لِلدَّوْلَةِ، وَهَذَا حَتَّى يَضَعَ مَبْدَأً لِلْعُمَّال أَلاَّ
يَسْتَغِلُّوا مَرَاكِزَهُمْ لِصَالِحِ أَنْفُسِهِمْ.
Al-istiṣlāḥ (al-maṣlaḥah
al-mursalah) adalah setiap kemaslahatan yang
tidak secara khusus dinyatakan oleh Syāri‘ sebagai sesuatu yang diakui ataupun
dibatalkan melalui suatu nash, yang apabila dijadikan pertimbangan dapat mendatangkan
kemanfaatan atau mencegah kemudaratan.
Contohnya adalah tindakan ‘Umar
radhiyallāhu ‘anhu membagi atau mengambil sebagian harta orang-orang yang
dituduh memperoleh kekayaan karena pekerjaan mereka untuk negara. Hal ini
dilakukan agar menjadi prinsip bagi para pegawai, supaya mereka tidak
memanfaatkan jabatan atau kedudukan mereka untuk kepentingan pribadi.
مُتَعَلَّقُ
الإِبَاحَةِ:
Objek yang Menjadi Sasaran Ibāḥah
١٤ - مُتَعَلِّقُ
الإِْبَاحَةِ اهْتَمَّ بِهِ الْفُقَهَاءُ وَتَحَدَّثُوا عَنْ أَقْسَامِهِ
وَفُرُوعِهِ، فَقَسَّمُوهُ مِنْ حَيْثُ مَصْدَرُ الإِْبَاحَةِ إِلَى قِسْمَيْنِ:
مَا أَذِنَ فِيهِ الشَّارِعُ، وَمَا أَذِنَ فِيهِ الْعِبَادُ. وَمِنْ حَيْثُ
نَوْعُ الإِْبَاحَةِ إِلَى قِسْمَيْنِ أَيْضًا: مَا فِيهِ تَمَلُّكٌ
وَاسْتِهْلاَكٌ وَانْتِفَاعٌ، وَمَا فِيهِ اسْتِهْلاَكٌ وَانْتِفَاعٌ دُونَ
تَمَلُّكٍ. وَلِكُل قِسْمٍ حُكْمُهُ، وَبَيَانُهُ فِيمَا يَأْتِي.
14. Objek yang menjadi sasaran ibāḥah mendapat perhatian
dari para fuqaha. Mereka membahas berbagai pembagian dan cabangnya.
Ditinjau dari sumber ibāḥah,
objek tersebut dibagi menjadi dua:
- Sesuatu yang diizinkan oleh Syāri‘.
- Sesuatu yang diizinkan oleh manusia.
Sedangkan ditinjau dari jenis
ibāḥah, objek tersebut juga dibagi menjadi dua:
- Sesuatu yang di dalamnya terdapat unsur kepemilikan,
konsumsi, dan pemanfaatan.
- Sesuatu yang di dalamnya terdapat konsumsi dan
pemanfaatan, tetapi tidak disertai kepemilikan.
Setiap bagian memiliki hukum
masing-masing, dan penjelasannya akan diuraikan berikut ini.
الْمَأْذُونُ
بِهِ مِنَ الشَّارِعِ:
Sesuatu yang Diizinkan oleh Syāri‘
١٥ - الْمَأْذُونُ
بِهِ مِنَ الشَّارِعِ مَا وَرَدَ دَلِيلٌ عَلَى إِبَاحَتِهِ مِنْ نَصٍّ أَوْ مِنْ
مَصْدَرٍ مِنْ مَصَادِرِ التَّشْرِيعِ الأُْخْرَى. وَالْحَدِيثُ هُنَا سَيَكُونُ
عَنِ الْمَأْذُونِ فِيهِ إِذْنًا عَامًّا لاَ يَخْتَصُّ بِبَعْضِ الأَْفْرَادِ
دُونَ بَعْضِهِمُ الآْخَرِ.
15. Sesuatu yang diizinkan oleh Syāri‘ adalah sesuatu
yang terdapat dalil yang menunjukkan kebolehannya, baik berupa nash
maupun salah satu dari sumber-sumber hukum syariat lainnya.
Pembahasan di sini berkaitan dengan
sesuatu yang memperoleh izin secara umum, yaitu izin yang tidak
dikhususkan hanya untuk sebagian individu dan tidak berlaku bagi individu
lainnya.
وَفِي ذَلِكَ مَطْلَبَانِ:
مَطْلَبٌ لِلْمَأْذُونِ فِيهِ عَلَى وَجْهِ التَّمَلُّكِ وَالاِسْتِهْلاَكِ،
وَهُوَ الْمُسَمَّى عِنْدَ الْفُقَهَاءِ بِالْمَال الْمُبَاحِ، وَمَطْلَبٌ
لِلْمَأْذُونِ فِيهِ عَلَى وَجْهِ الاِنْتِفَاعِ فَقَطْ، وَهُوَ الْمُسَمَّى
بِالْمَنَافِعِ الْعَامَّةِ.
Dalam hal ini terdapat dua
pembahasan:
- Sesuatu yang diizinkan dalam bentuk kepemilikan dan
konsumsi, yang oleh para fuqaha disebut
al-māl al-mubāḥ (harta yang dibolehkan).
- Sesuatu yang diizinkan hanya dalam bentuk pemanfaatan, yang disebut al-manāfi‘ al-‘āmmah (kemanfaatan
umum).
الْمَطْلَبُ
الأَْوَّل
Pembahasan Pertama
مَا أَذِنَ
فِيهِ الشَّارِعُ عَلَى وَجْهِ التَّمَلُّكِ وَالاِسْتِهْلاَكِ
Sesuatu
yang Diizinkan oleh Syāri‘ dalam Bentuk Kepemilikan dan Konsumsi
١٦ - الْمَال الْمُبَاحُ هُوَ
كُل مَا خَلَقَهُ اللَّهُ لِيَنْتَفِعَ بِهِ النَّاسُ عَلَى وَجْهٍ مُعْتَادٍ،
وَلَيْسَ فِي حِيَازَةِ أَحَدٍ، مَعَ إِمْكَانِ حِيَازَتِهِ، وَلِكُل إِنْسَانٍ
حَقُّ تَمَلُّكِهِ، سَوَاءٌ أَكَانَ حَيَوَانًا أَمْ نَبَاتًا أَمْ جَمَادًا.
وَالدَّلِيل عَلَى ذَلِكَ قَوْل النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
مَنْ سَبَقَ إِلَى مَا لَمْ يَسْبِقْهُ إِلَيْهِ مُسْلِمٌ فَهُوَ لَهُ (١) .
وَهَذَا التَّمَلُّكُ لاَ يَسْتَقِرُّ إِلاَّ عِنْدَ الاِسْتِيلاَءِ
الْحَقِيقِيِّ، الَّذِي ضَبَطُوهُ بِوَضْعِ الْيَدِ عَلَى الشَّيْءِ الْمُبَاحِ،
أَيْ الاِسْتِيلاَءِ الْفِعْلِيِّ، أَوْ كَوْنِهِ فِي مُتَنَاوَل الْيَدِ، وَهُوَ
الاِسْتِيلاَءُ بِالْقُوَّةِ. وَقَدْ قَال الْعُلَمَاءُ: إِنَّ هَذَا
الاِسْتِيلاَءَ بِإِحْدَى صُورَتَيْهِ لاَ يَحْتَاجُ إِلَى نِيَّةٍ وَقَصْدٍ فِي
اسْتِقْرَارِ الْمِلْكِيَّةِ، كَمَا قَالُوا: إِنَّ الاِسْتِيلاَءَ بِوَسَاطَةِ
آلَةٍ وَحِرْفَةٍ وَمَهَارَةٍ يَحْتَاجُ إِلَى الْقَصْدِ لِيَكُونَ اسْتِيلاَءً
حَقِيقِيًّا، وَإِلاَّ كَانَ اسْتِيلاَءً حُكْمِيًّا. جَاءَ فِي الْفَتَاوَى
الْهِنْدِيَّةِ فِيمَنْ عَلَّقَ كُوزَهُ، أَوْ وَضَعَهُ فِي سَطْحِهِ، فَأَمْطَرَ
السَّحَابُ وَامْتَلأََ الْكُوزُ مِنْ الْمَطَرِ، فَأَخَذَهُ إِنْسَانٌ،
فَالْحُكْمُ هُوَ اسْتِرْدَادُ الْكُوزِ؛ لأَِنَّهُ مِلْكُ صَاحِبِهِ، وَأَمَّا
الْمَاءُ فَإِنْ كَانَ صَاحِبُ الْكُوزِ قَدْ وَضَعَهُ مِنْ أَجْل جَمْعِ الْمَاءِ
فَيَسْتَرِدُّ الْمَاءَ أَيْضًا، لأَِنَّ مِلْكَهُ حَقِيقِيٌّ حِينَئِذٍ، فَإِنْ
لَمْ يَضَعْهُ لِذَلِكَ لَمْ يَسْتَرِدُّهُ. (١)
16. Harta mubah adalah segala sesuatu yang Allah
ciptakan agar manusia dapat mengambil manfaat darinya dengan cara yang lazim, yang
belum berada dalam penguasaan seseorang, serta memungkinkan untuk dikuasai.
Setiap orang berhak memilikinya, baik berupa hewan, tumbuhan, maupun benda
mati.
Dalilnya adalah sabda Nabi ﷺ:
“Barang siapa lebih dahulu
mendapatkan sesuatu yang belum didahului oleh seorang Muslim pun untuk
mendapatkannya, maka sesuatu itu menjadi miliknya.”
Kepemilikan tersebut tidak menjadi
tetap kecuali setelah terjadi penguasaan yang nyata. Para fuqaha
menjelaskan penguasaan ini dalam dua bentuk:
- Meletakkan tangan pada sesuatu yang mubah, yaitu penguasaan secara langsung.
- Sesuatu tersebut berada dalam jangkauan tangan, yaitu penguasaan secara potensial.
Para ulama mengatakan bahwa
penguasaan dalam salah satu dari kedua bentuk tersebut tidak memerlukan niat
dan tujuan tertentu agar kepemilikan menjadi tetap.
Namun, mereka juga menjelaskan bahwa
penguasaan yang dilakukan dengan perantara alat, keahlian, atau keterampilan
memerlukan adanya niat, agar dapat dianggap sebagai penguasaan yang
nyata. Jika tidak disertai niat, maka penguasaan tersebut hanya merupakan penguasaan
secara hukum (istīlā’ ḥukmī).
Dalam Fatāwā al-Hindiyyah
disebutkan mengenai seseorang yang memasang wadahnya atau meletakkannya di atas
atap rumahnya, kemudian hujan turun dan wadah tersebut terisi air hujan, lalu
seseorang mengambilnya. Hukumnya adalah wadah tersebut harus dikembalikan,
karena merupakan milik pemiliknya.
Adapun mengenai air yang berada
di dalam wadah, apabila pemilik wadah memang meletakkannya dengan tujuan mengumpulkan
air, maka ia juga berhak mengambil kembali air tersebut, karena pada saat
itu air tersebut telah menjadi miliknya secara nyata.
Namun, jika ia tidak meletakkan
wadah tersebut dengan tujuan mengumpulkan air, maka ia tidak berhak
mengambil kembali air tersebut.
وَمِنْ أَمْثِلَةِ
الأَْمْوَال الْمُبَاحَةِ الْمَاءُ وَالْكَلأَُ وَالنَّارُ وَالْمَوَاتُ
وَالرِّكَازُ وَالْمَعَادِنُ وَالْحَيَوَانَاتُ غَيْرُ الْمَمْلُوكَةِ. وَلِكُلٍّ
أَحْكَامُهُ
Di antara contoh harta mubah adalah air,
rerumputan, api, tanah mati (tanah yang belum dimiliki atau dikelola), rikāz
(harta terpendam), barang tambang, serta hewan-hewan yang belum dimiliki.
Masing-masing memiliki ketentuan hukum tersendiri.
الْمَطْلَبُ
الثَّانِي
Pembahasan Kedua
مَا أَذِنَ
فِيهِ الشَّارِعُ عَلَى وَجْهِ الاِنْتِفَاعِ
Sesuatu
yang Diizinkan oleh Syāri‘ dalam Bentuk Pemanfaatan
١٧ - وَهُوَ مَا
يُسَمَّى بِالْمَنَافِعِ الْعَامَّةِ، الَّتِي جَعَل اللَّهُ إِبَاحَتَهَا
تَيْسِيرًا عَلَى عِبَادِهِ، لِيَتَقَرَّبُوا إِلَيْهِ فِيهَا، أَوْ لِيُمَارِسُوا
أَعْمَالَهُمْ فِي الْحَيَاةِ مُسْتَعِينِينَ بِهَا، كَالْمَسَاجِدِ، وَالطُّرُقِ.
وَيُرْجَعُ لِمَعْرِفَةِ تَفْصِيل أَحْكَامِهِمَا إِلَى مُصْطَلَحَيْهِمَا.
17. Hal ini disebut al-manāfi‘ al-‘āmmah (kemanfaatan umum),
yaitu berbagai kemanfaatan yang Allah jadikan boleh sebagai bentuk
kemudahan bagi hamba-hamba-Nya, agar mereka dapat mendekatkan diri
kepada-Nya melalui kemanfaatan tersebut atau dapat menjalankan aktivitas
kehidupan mereka dengan memanfaatkannya.
Contohnya adalah masjid dan jalan
umum.
Untuk mengetahui rincian hukum mengenai
keduanya, dapat merujuk kepada pembahasan khusus tentang istilah “masjid”
dan “jalan”.
الْمَأْذُونُ
فِيهِ مِنَ الْعِبَادِ
Sesuatu yang Diizinkan oleh Manusia
١٨ - إِبَاحَةُ
الْعِبَادِ كَذَلِكَ عَلَى نَوْعَيْنِ: نَوْعٌ يَكُونُ التَّسْلِيطُ فِيهِ عَلَى
الْعَيْنِ لاِسْتِهْلاَكِهَا، وَنَوْعٌ يَكُونُ التَّسْلِيطُ فِيهِ عَلَى
الْعَيْنِ لِلاِنْتِفَاعِ بِهَا فَقَطْ.
18. Ibāḥah yang diberikan oleh manusia juga terbagi
menjadi dua jenis:
- Jenis pertama,
yaitu pemberian izin untuk menguasai suatu benda dengan tujuan mengonsumsinya
atau menghabiskannya.
- Jenis kedua,
yaitu pemberian izin untuk menguasai suatu benda hanya untuk memanfaatkannya,
tanpa mengonsumsinya atau menghabiskannya.
إِبَاحَةُ
الاِسْتِهْلاَكِ:
Ibāḥah untuk Konsumsi
١٩ - لِهَذِهِ
الإِْبَاحَةِ جُزْئِيَّاتٌ كَثِيرَةٌ نَكْتَفِي مِنْهَا بِمَا يَأْتِي:
19. Ibāḥah jenis ini memiliki banyak bentuk. Di antaranya
adalah sebagai berikut:
أ - الْوَلاَئِمُ
بِمُنَاسَبَاتِهَا الْمُتَعَدِّدَةِ وَالْمُبَاحُ فِيهَا الأَْكْل وَالشُّرْبُ
دُونَ الأَْخْذِ.
ب - الضِّيَافَةُ. وَيُرْجَعُ
فِي تَفْصِيل أَحْكَامِهِمَا إِلَى مُصْطَلَحَيْهِمَا.
A. Jamuan makanan (walā’im)
Jamuan yang diadakan dalam berbagai kesempatan. Dalam jamuan tersebut, yang
dibolehkan adalah makan dan minum, bukan mengambil atau membawa
makanan tersebut.
B. Jamuan tamu (ḍiyāfah)
Adapun rincian hukum mengenai keduanya dapat dirujuk pada pembahasan khusus
tentang istilah walīmah dan ḍiyāfah.
إِبَاحَةُ
الاِنْتِفَاعِ:
Ibāḥah untuk Pemanfaatan
٢٠ - هَذَا
النَّوْعُ مِنَ الإِْبَاحَةِ قَدْ يَكُونُ مَعَ مِلْكِ الآْذِنِ لِعَيْنِ مَا
أُذِنَ الاِنْتِفَاعُ بِهِ كَإِذْنِ مَالِكِ الدَّابَّةِ أَوِ السَّيَّارَةِ لِغَيْرِهِ
بِرُكُوبِهَا، وَإِذْنِ مَالِكِ الْكُتُبِ لِلاِطِّلاَعِ عَلَيْهَا. وَقَدْ
يَكُونُ الإِْذْنُ فِيمَا لاَ يُمْلَكُ عَيْنُهُ، وَلَكِنْ يُمْلَكُ مَنْفَعَتُهُ
بِمِثْل الإِْجَارَةِ أَوِ الإِْعَارَةِ، إِنْ لَمْ يُشْتَرَطْ فِيهِمَا أَنْ
يَكُونَ الاِنْتِفَاعُ شَخْصِيًّا لِلْمُسْتَأْجِرِ وَالْمُسْتَعِيرِ.
20. Jenis ibāḥah ini terkadang berkaitan dengan kepemilikan
orang yang memberikan izin atas benda yang pemanfaatannya diizinkan,
seperti pemilik hewan tunggangan atau mobil memberikan izin kepada orang lain untuk
mengendarainya, atau pemilik buku memberikan izin kepada orang lain
untuk membacanya dan mempelajarinya.
Terkadang pula izin tersebut
berkaitan dengan sesuatu yang bendanya tidak dimiliki, tetapi manfaatnya
dapat dimiliki, seperti dalam sewa-menyewa (ijārah) atau pinjam-meminjam
(‘āriyah), selama dalam kedua akad tersebut tidak disyaratkan bahwa
pemanfaatannya harus dilakukan secara pribadi oleh penyewa atau peminjam.
تَقْسِيمَاتُ
الإِْبَاحَةِ:
Pembagian-Pembagian Ibāḥah
٢١ - لِلإِْبَاحَةِ
تَقْسِيمَاتٌ شَتَّى بِاعْتِبَارَاتٍ مُخْتَلِفَةٍ، وَقَدْ تَقَدَّمَ أَكْثَرُهَا.
وَبَقِيَ الْكَلاَمُ عَنْ تَقْسِيمِهَا مِنْ حَيْثُ مَصْدَرُهَا وَمِنْ حَيْثُ
الْكُلِّيَّةُ وَالْجُزْئِيَّةُ:
21. Ibāḥah memiliki berbagai macam pembagian berdasarkan beragam
tinjauan, dan sebagian besar di antaranya telah dijelaskan sebelumnya.
Masih tersisa pembahasan mengenai
pembagian ibāḥah berdasarkan sumbernya, serta berdasarkan sifatnya yang bersifat
umum (kullī) atau khusus/parsial (juz’ī).
أ - تَقْسِيمُهَا مِنْ حَيْثُ
مَصْدَرُهَا:
A.
Pembagian Ibāḥah Berdasarkan Sumbernya:
٢٢ - تُقَسَّمُ
بِهَذَا الاِعْتِبَارِ إِلَى
22. Berdasarkan tinjauan ini, ibāḥah dibagi menjadi:
إِبَاحَةٍ أَصْلِيَّةٍ، بِأَلاَّ
يَرِدَ فِيهَا نَصٌّ مِنَ الشَّارِعِ، وَبَقِيَتْ عَلَى الأَْصْل، وَقَدْ سَبَقَ
بَيَانُهَا.
1. Ibāḥah Aṣliyyah
Yaitu ibāḥah yang tidak terdapat
nash dari Syāri‘ yang secara khusus menetapkannya, sehingga perkara
tersebut tetap berada pada hukum asalnya. Penjelasannya telah
dikemukakan sebelumnya.
وَإِبَاحَةٌ شَرْعِيَّةٌ:
2. Ibāḥah
Syar‘iyyah
بِمَعْنَى وُرُودِ نَصٍّ مِنَ
الشَّارِعِ بِالتَّخْيِيرِ، وَذَلِكَ إِمَّا ابْتِدَاءً كَإِبَاحَةِ الأَْكْل
وَالشُّرْبِ، وَإِمَّا بَعْدَ حُكْمٍ سَابِقٍ مُخَالِفٍ، كَمَا فِي النَّسْخِ أَوِ
الرُّخَصِ، وَقَدْ سَبَقَ.
Yaitu ibāḥah dalam pengertian adanya
nash dari Syāri‘ yang memberikan pilihan. Hal ini dapat terjadi dalam dua
keadaan:
- Sejak awal,
seperti kebolehan makan dan minum.
- Setelah adanya hukum sebelumnya yang berbeda, sebagaimana terjadi dalam nasakh atau rukhsah
(keringanan). Penjelasannya juga telah dikemukakan sebelumnya.
عَلَى أَنَّهُ مِمَّا
يَنْبَغِي مُلاَحَظَتُهُ أَنَّهُ بَعْدَ وُرُودِ الشَّرْعِ أَصْبَحَتِ
الإِْبَاحَةُ الأَْصْلِيَّةُ إِبَاحَةً شَرْعِيَّةً لِقَوْل اللَّهِ تَعَالَى
{هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الأَْرْضِ جَمِيعًا} (١)
Namun, perlu diperhatikan bahwa setelah
datangnya syariat, ibāḥah aṣliyyah menjadi ibāḥah syar‘iyyah, berdasarkan
firman Allah Ta‘ala:
“Dialah yang menciptakan untuk
kalian segala sesuatu yang ada di bumi.”
وَقَوْلِهِ: {وَسَخَّرَ
لَكُمْ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الأَْرْضِ جَمِيعًا مِنْهُ} (١)
Dan firman-Nya:
“Dan Dia telah menundukkan untuk
kalian apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya dari-Nya.”
فَإِنَّ هَذَا النَّصَّ يَدُل
عَلَى أَنَّ كُل مَا خَلَقَهُ اللَّهُ يَكُونُ مُبَاحًا إِلاَّ مَا وَرَدَ دَلِيلٌ
يُثْبِتُ لَهُ حُكْمًا آخَرَ، عَلَى خِلاَفٍ وَتَفْصِيلٍ يُرْجَعُ إِلَيْهِ فِي
الْمُلْحَقِ الأُْصُولِيِّ. (٢)
Nash-nash tersebut menunjukkan bahwa
segala sesuatu yang Allah ciptakan pada dasarnya adalah mubah, kecuali
terdapat dalil yang menetapkan hukum lain baginya. Mengenai hal ini
terdapat perbedaan pendapat dan perincian yang dapat dirujuk dalam lampiran
usul fikih.
وَقَدْ يَكُونُ مَصْدَرُ
الإِْبَاحَةِ إِذْنَ الْعِبَادِ بَعْضِهِمْ لِبَعْضٍ عَلَى مَا سَبَقَ. (ف ٩) . (٣)
Sumber ibāḥah juga terkadang berasal
dari izin yang diberikan oleh sesama manusia kepada satu sama lain,
sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
ب - تَقْسِيمُهَا
بِاعْتِبَارِ الْكُلِّيَّةِ وَالْجُزْئِيَّةِ:
B.
Pembagian Ibāḥah Berdasarkan Sifat Kullī dan Juz’ī
٢٣ - تَنْقَسِمُ
أَرْبَعَةَ أَقْسَامٍ:
23. Berdasarkan sifatnya yang kullī (umum/keseluruhan)
dan juz’ī (khusus/parsial), ibāḥah terbagi menjadi empat macam:
١ - إِبَاحَةٌ
لِلْجُزْءِ مَعَ طَلَبِ الْكُل عَلَى جِهَةِ الْوُجُوبِ، كَالأَْكْل مَثَلاً،
فَيُبَاحُ أَكْل نَوْعٍ وَتَرْكُ آخَرَ مِمَّا أَذِنَ بِهِ الشَّرْعُ، وَلَكِنَّ
الاِمْتِنَاعَ عَنِ الأَْكْل جُمْلَةً حَرَامٌ لِمَا يَتَرَتَّبُ عَلَيْهِ مِنَ
الْهَلاَكِ.
1. Ibāḥah pada
Sebagian Perbuatan, Disertai Tuntutan Wajib pada Keseluruhannya
Yaitu suatu perbuatan yang sebagian
bentuknya diperbolehkan, sementara secara keseluruhan terdapat tuntutan
untuk melakukannya secara wajib.
Contohnya adalah makan.
Seseorang diperbolehkan memilih untuk memakan salah satu jenis makanan
dan meninggalkan jenis makanan lainnya yang diizinkan oleh syariat.
Namun, meninggalkan makan secara
keseluruhan adalah haram, karena hal tersebut dapat mengakibatkan kebinasaan
atau kematian.
٢ - إِبَاحَةٌ لِلْجُزْءِ
مَعَ طَلَبِ الْكُل عَلَى جِهَةِ النَّدْبِ، كَالتَّمَتُّعِ بِمَا فَوْقَ
الْحَاجَةِ مِنْ طَيِّبَاتِ الأَْكْل وَالشُّرْبِ، فَذَلِكَ مُبَاحٌ يَجُوزُ
تَرْكُهُ فِي بَعْضِ الأَْحْيَانِ، وَلَكِنَّ هَذَا التَّمَتُّعَ مَنْدُوبٌ
إِلَيْهِ بِاعْتِبَارِ الْكُل، عَلَى مَعْنَى أَنَّ تَرْكَهُ جُمْلَةً يُخَالِفُ
مَا نَدَبَ إِلَيْهِ الشَّرْعُ مِنَ التَّحَدُّثِ بِنِعْمَةِ اللَّهِ
وَالتَّوْسِعَةِ، كَمَا فِي حَدِيثِ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُحِبُّ أَنْ يَرَى
أَثَرَ نِعْمَتِهِ عَلَى عَبْدِهِ (٤) وَكَمَا قَال عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ
رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ إِذَا أَوْسَعَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ فَأَوْسِعُوا
عَلَى أَنْفُسِكُمْ (١) .
2. Ibāḥah pada
Sebagian Perbuatan, Disertai Tuntutan Sunnah pada Keseluruhannya
Yaitu suatu perbuatan yang sebagian
bentuknya diperbolehkan, sementara secara keseluruhan perbuatan tersebut dianjurkan
(mandub).
Contohnya adalah menikmati
makanan dan minuman yang baik melebihi kebutuhan. Hal tersebut pada
dasarnya mubah, sehingga seseorang boleh meninggalkannya pada sebagian
waktu.
Namun, menikmati kenikmatan tersebut
secara keseluruhan dianjurkan, dalam arti bahwa meninggalkannya secara
total bertentangan dengan apa yang dianjurkan syariat, yaitu menampakkan
nikmat Allah dan memberikan kelapangan kepada diri sendiri.
Sebagaimana dalam hadis:
“Sesungguhnya Allah Ta‘ala menyukai
jika Dia melihat bekas nikmat-Nya pada hamba-Nya.”
Sebagaimana pula perkataan ‘Umar
bin al-Khaṭṭāb radhiyallāhu ‘anhu:
“Apabila Allah memberikan kelapangan
kepada kalian, maka berilah kelapangan kepada diri kalian.”
٣ - إِبَاحَةٌ لِلْجُزْءِ مَعَ التَّحْرِيمِ بِاعْتِبَارِ
الْكُل، كَالْمُبَاحَاتِ الَّتِي تَقْدَحُ الْمُدَاوَمَةُ عَلَيْهَا فِي
الْعَدَالَةِ، كَاعْتِيَادِ الْحَلِفِ، وَشَتْمِ الأَْوْلاَدِ، فَذَلِكَ مُبَاحٌ
فِي الأَْصْل، لَكِنَّهُ مُحَرَّمٌ بِالاِعْتِيَادِ.
3. Ibāḥah pada
Sebagian Perbuatan, tetapi Menjadi Haram jika Ditinjau secara Keseluruhan
Yaitu perkara-perkara yang pada
asalnya mubah, tetapi jika dilakukan secara terus-menerus hingga menjadi
kebiasaan, maka hukumnya dapat menjadi haram.
Contohnya adalah terbiasa
bersumpah dan mencaci anak-anak. Perbuatan tersebut pada asalnya
termasuk perkara yang mubah, tetapi menjadikannya sebagai kebiasaan
terus-menerus adalah haram.
٤ - إِبَاحَةٌ
لِلْجُزْءِ مَعَ الْكَرَاهَةِ بِاعْتِبَارِ الْكُل، كَاللَّعِبِ الْمُبَاحِ،
فَإِنَّ ذَلِكَ وَإِنْ كَانَ مُبَاحًا بِالأَْصْل إِلاَّ أَنَّ الْمُدَاوَمَةَ
عَلَيْهِ مَكْرُوهَةٌ.
4. Ibāḥah pada
Sebagian Perbuatan, tetapi Makruh jika Ditinjau secara Keseluruhan
Yaitu suatu perbuatan yang pada
dasarnya mubah ketika dilakukan sesekali, tetapi menjadi makruh apabila
dilakukan secara terus-menerus.
Contohnya adalah permainan yang
mubah. Meskipun permainan tersebut pada asalnya diperbolehkan, terus-menerus
melakukannya hukumnya makruh.
آثَارُ
الإِبَاحَةِ:
Dampak dan Konsekuensi Ibāḥah
٢٤ - إِذَا
ثَبَتَتِ الإِْبَاحَةُ ثَبَتَ لَهَا مِنَ الآْثَارِ مَا يَلِي:
24. Apabila ibāḥah telah ditetapkan, maka beberapa
konsekuensi hukum berikut berlaku:
١ - رَفْعُ
الإِْثْمِ وَالْحَرَجِ.
1. Gugurnya Dosa
dan Kesulitan
وَذَلِكَ مَا يَدُل عَلَيْهِ
تَعْرِيفُ الإِْبَاحَةِ بِأَنَّهُ لاَ يَتَرَتَّبُ عَلَى الْفِعْل الْمُبَاحِ
إِثْمٌ.
Hal ini ditunjukkan oleh definisi
ibāḥah, yaitu bahwa tidak ada dosa yang timbul akibat melakukan suatu
perbuatan yang mubah.
٢ - التَّمْكِينُ
مِنَ التَّمَلُّكِ الْمُسْتَقِرِّ بِالنِّسْبَةِ لِلْعَيْنِ، وَالاِخْتِصَاصُ
بِالنِّسْبَةِ لِلْمَنْفَعَةِ:
2. Memungkinkan
Kepemilikan yang Tetap atas Benda dan Kekhususan Hak atas Manfaat
وَذَلِكَ لأَِنَّ
الإِْبَاحَةَ طَرِيقٌ لِتَمَلُّكِ الْعَيْنِ الْمُبَاحَةِ. هَذَا بِالنِّسْبَةِ
لِلْعَيْنِ. أَمَّا بِالنِّسْبَةِ لِلْمَنْفَعَةِ الْمُبَاحَةِ فَإِنَّ أَثَرَ
الإِْبَاحَةِ فِيهَا اخْتِصَاصُ الْمُبَاحِ لَهُ بِالاِنْتِفَاعِ، وَعِبَارَاتُ
الْفُقَهَاءِ فِي الْمَذَاهِبِ الْمُخْتَلِفَةِ تَتَّفِقُ فِي أَنَّ تَصَرُّفَ
الْمَأْذُونِ لَهُ فِي طَعَامِ الْوَلِيمَةِ قَبْل وَضْعِهِ فِي فَمِهِ لاَ
يَجُوزُ بِغَيْرِ الأَْكْل، إِلاَّ إِذَا أَذِنَ لَهُ صَاحِبُ الْوَلِيمَةِ أَوْ
دَل عَلَيْهِ عُرْفٌ أَوْ قَرِينَةٌ. وَبِهَذَا تُفَارِقُ الإِْبَاحَةُ الْهِبَةَ
وَالصَّدَقَةَ بِأَنَّ فِيهِمَا تَمْلِيكًا، كَمَا أَنَّهَا تُفَارِقُ
الْوَصِيَّةَ حَيْثُ تَكُونُ هَذِهِ مُضَافَةً إِلَى مَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَلاَ
بُدَّ فِيهَا مِنْ إِذْنِ الدَّائِنِينَ وَالْوَرَثَةِ أَحْيَانًا، كَمَا لاَ
بُدَّ مِنْ صِيغَةٍ فِي الْوَصِيَّةِ. (١)
Hal ini karena ibāḥah merupakan
salah satu jalan untuk memperoleh kepemilikan atas benda yang mubah. Ini
berkaitan dengan benda (‘ain).
Adapun berkaitan dengan manfaat
yang dibolehkan, maka dampak ibāḥah adalah memberikan hak khusus kepada
orang yang diberi izin untuk memanfaatkan sesuatu tersebut.
Ungkapan para fuqaha dari berbagai
mazhab menunjukkan kesepakatan bahwa orang yang diberi izin untuk menikmati
makanan dalam suatu walimah, sebelum makanan tersebut dimasukkan ke dalam
mulutnya, tidak diperbolehkan memperlakukannya untuk tujuan selain memakannya,
kecuali apabila pemilik walimah memberikan izin untuk itu, atau terdapat ‘urf
(kebiasaan) atau qarīnah (indikasi) yang menunjukkan kebolehan tersebut.
Dengan demikian, ibāḥah berbeda
dari hibah dan sedekah, karena dalam hibah dan sedekah terdapat unsur pemindahan
kepemilikan (tamlik).
Ibāḥah juga berbeda dari wasiat,
karena wasiat berlaku setelah kematian, dan dalam kondisi tertentu
diperlukan izin para kreditor dan ahli waris, sebagaimana wasiat juga
harus disertai ṣīghah (ungkapan akad).
٢٥ - هَذِهِ هِيَ
آثَارُ الإِْبَاحَةِ لِلأَْعْيَانِ فِي إِذْنِ الْعِبَادِ. أَمَّا آثَارُ الإِْبَاحَةِ
لِلْمَنَافِعِ فَإِنَّ إِبَاحَتَهَا لاَ تُفِيدُ إِلاَّ حِل الاِنْتِفَاعِ فَقَطْ،
عَلَى مَا تَقَدَّمَ تَفْصِيلُهُ. فَحَقُّ الاِنْتِفَاعِ الْمُجَرَّدِ مِنْ قَبِيل
التَّرْخِيصِ بِالاِنْتِفَاعِ الشَّخْصِيِّ دُونَ الاِمْتِلاَكِ، وَمِلْكُ
الْمَنْفَعَةِ فِيهِ اخْتِصَاصٌ حَاجِزٌ لِحَقِّ الْمُسْتَأْجِرِ مِنْ مَنَافِعِ
الْمُؤَجِّرِ، فَهُوَ أَقْوَى وَأَشْمَل؛ لأَِنَّ فِيهِ حَقَّ الاِنْتِفَاعِ
وَزِيَادَةً. وَآثَارُ ذَلِكَ قَدْ تَقَدَّمَ الْكَلاَمُ عَلَيْهَا.
25. Inilah dampak ibāḥah terhadap benda-benda
(‘ain) dalam hal izin yang diberikan oleh manusia.
Adapun dampak ibāḥah terhadap manfaat, maka kebolehannya
hanya memberikan hak untuk memanfaatkan sesuatu, sebagaimana
telah dijelaskan secara terperinci sebelumnya.
Dengan demikian, hak pemanfaatan semata termasuk bentuk
pemberian izin untuk pemanfaatan pribadi tanpa disertai kepemilikan.
Sedangkan kepemilikan atas manfaat merupakan suatu hak
khusus yang membatasi hak penyewa terhadap manfaat yang dimiliki oleh pihak
yang menyewakan. Oleh karena itu, kepemilikan manfaat ini lebih
kuat dan lebih luas, karena di dalamnya terdapat hak untuk
memanfaatkan sekaligus hak tambahan berupa penguasaan atas manfaat tersebut.
Adapun konsekuensi hukum dari hal tersebut telah dijelaskan sebelumnya.
الإِبَاحَةُ
وَالضَّمَانُ:
Ibāḥah dan Ḍamān (Ganti Rugi)
٢٦ - الإِْبَاحَةُ لاَ
تُنَافِي الضَّمَانَ فِي الْجُمْلَةِ؛ لأَِنَّ إِبَاحَةَ اللَّهِ - وَإِنْ كَانَ
فِيهَا رَفْعُ الْحَرَجِ وَالإِْثْمِ - إِلاَّ أَنَّهَا قَدْ يَكُونُ مَعَهَا
ضَمَانٌ، فَإِبَاحَةُ الاِنْتِفَاعِ تَقْتَضِي صِيَانَةَ الْعَيْنِ الْمُبَاحَةِ
عَنِ التَّخْرِيبِ وَالضَّرَرِ، وَمَا حَدَثَ مِنْ ذَلِكَ لاَ بُدَّ مِنْ
ضَمَانِهِ. وَإِبَاحَةُ الأَْعْيَانِ كَأَخْذِ الْمُضْطَرِّ طَعَامَ غَيْرِهِ لاَ
تَمْنَعُ ضَمَانَ قِيمَتِهِ إِذَا كَانَ بِغَيْرِ إِذْنِهِ؛ لأَِنَّ اللَّهَ جَعَل
لِلْعَبْدِ حَقًّا فِي مِلْكِهِ، فَلاَ يُنْقَل الْمِلْكُ مِنْهُ إِلَى غَيْرِهِ
إِلاَّ بِرِضَاهُ، وَلاَ يَصِحُّ الإِْبْرَاءُ مِنْهُ إِلاَّ بِإِسْقَاطِهِ، كَمَا
يَقُول الْقَرَافِيُّ فِي الْفُرُوقِ (١) .
26. Ibāḥah pada dasarnya tidak bertentangan dengan kewajiban
memberikan ganti rugi (ḍamān). Sebab, meskipun ibāḥah dari Allah mengandung
penghapusan kesulitan dan dosa, terkadang ibāḥah tetap disertai kewajiban
ḍamān.
Kebolehan untuk memanfaatkan sesuatu
mengharuskan agar benda yang boleh dimanfaatkan tersebut dijaga dari
kerusakan dan bahaya. Apabila terjadi kerusakan atau kerugian akibatnya,
maka kerusakan tersebut wajib diberikan ganti rugi.
Demikian pula, kebolehan
mengambil atau memanfaatkan suatu benda, seperti orang yang berada dalam
keadaan darurat mengambil makanan milik orang lain, tidak menghilangkan
kewajiban mengganti nilainya apabila pengambilan tersebut dilakukan tanpa
izin pemiliknya.
Hal ini karena Allah telah
menetapkan bagi seorang hamba hak atas harta miliknya. Oleh sebab itu,
kepemilikan tersebut tidak dapat dipindahkan kepada orang lain kecuali dengan kerelaan
pemiliknya.
Demikian pula, hak tersebut tidak
dapat dinyatakan bebas atau gugur kecuali dengan penghapusan hak tersebut
oleh pemiliknya. Sebagaimana dijelaskan oleh al-Qarāfī dalam kitab al-Furūq.
وَحَكَى الْقَرَافِيُّ فِي
هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ قَوْلَيْنِ: أَحَدُهُمَا: لاَ يُضْمَنُ؛ لأَِنَّ الدَّفْعَ
كَانَ وَاجِبًا عَلَى الْمَالِكِ، وَالْوَاجِبُ لاَ يُؤْخَذُ لَهُ عِوَضٌ.
Al-Qarāfī menukil dua pendapat dalam persoalan ini:
Pendapat pertama: Tidak wajib memberikan ganti rugi, karena
pemilik memang berkewajiban menyerahkan makanan tersebut,
sedangkan sesuatu yang wajib diberikan tidak ada kewajiban memberikan
penggantian atasnya.
وَالْقَوْل الثَّانِي:
يَجِبُ، وَهُوَ الأَْظْهَرُ وَالأَْشْهَرُ؛ لأَِنَّ إِذْنَ الْمَالِكِ لَمْ
يُوجَدْ، وَإِنَّمَا وُجِدَ إِذْنُ صَاحِبِ الشَّرْعِ، وَهُوَ لاَ يُوجِبُ سُقُوطَ
الضَّمَانِ، وَإِنَّمَا يَنْفِي الإِْثْمَ وَالْمُؤَاخَذَةَ بِالْعِقَابِ.
Pendapat kedua: Wajib memberikan ganti rugi. Pendapat ini
merupakan pendapat yang lebih kuat dan lebih masyhur, karena izin
dari pemilik harta tidak ada. Yang ada hanyalah izin dari Pembuat
Syariat (Allah). Izin dari Syāri‘ tersebut tidak mengharuskan
gugurnya kewajiban ganti rugi, tetapi hanya menghilangkan dosa
dan pertanggungjawaban berupa hukuman.
أَمَّا إِبَاحَةُ الْعِبَادِ
بَعْضِهِمْ لِبَعْضٍ فَقَدْ تَقَدَّمَ الْكَلاَمُ عَلَيْهَا مُفَصَّلاً.
Adapun ibāḥah yang diberikan oleh sesama manusia kepada yang lainnya,
penjelasannya telah dikemukakan secara terperinci sebelumnya.
مَا
تَنْتَهِي بِهِ الإِبَاحَةُ:
Hal-Hal yang Mengakhiri Ibāḥah
٢٧ - أَوَّلاً:
إِبَاحَةُ اللَّهِ سُبْحَانَهُ لاَ تَنْتَهِي مِنْ جِهَتِهِ هُوَ؛ لأَِنَّهُ
سُبْحَانَهُ حَيٌّ بَاقٍ، وَالْوَحْيُ قَدِ انْقَطَعَ، فَلاَ وَحْيَ بَعْدَ
مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنَّمَا تَنْتَهِي بِانْتِهَاءِ
دَوَاعِيهَا، كَمَا فِي الرُّخَصِ، فَإِذَا وُجِدَ السَّفَرُ فِي نَهَارِ
رَمَضَانَ مَثَلاً وُجِدَتِ الإِْبَاحَةُ بِالتَّرْخِيصِ فِي الْفِطْرِ، فَإِذَا
انْتَهَى السَّفَرُ انْتَهَتِ الرُّخْصَةُ.
27. Pertama: Ibāḥah yang diberikan oleh Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā
tidak berakhir dari sisi Allah sendiri, karena Dia Maha Hidup dan Maha Kekal.
Adapun wahyu telah terputus, sehingga tidak ada wahyu setelah Nabi Muhammad ﷺ.
Ibāḥah berakhir karena berakhirnya
sebab-sebab yang melahirkannya, sebagaimana yang terjadi pada rukhsah
(keringanan).
Sebagai contoh, apabila seseorang melakukan
perjalanan pada siang hari di bulan Ramadan, maka terdapat ibāḥah berupa keringanan
untuk tidak berpuasa. Namun, apabila perjalanan tersebut telah berakhir,
maka rukhsah tersebut juga berakhir.
٢٨ - ثَانِيًا:
وَإِبَاحَةُ الْعِبَادِ تَنْتَهِي بِأُمُورٍ:
28. Kedua: Ibāḥah
yang Diberikan oleh Sesama Manusia Berakhir karena Beberapa Hal
أ - انْتِهَاءُ مُدَّتِهَا
إِنْ كَانَتْ مُقَيَّدَةً بِزَمَنٍ، فَالْمُؤْمِنُونَ عِنْدَ شُرُوطِهِمْ، وَإِذَا
فُقِدَ الشَّرْطُ فُقِدَ الْمَشْرُوطُ.
A. Berakhirnya masa berlaku ibāḥah
Apabila ibāḥah dibatasi oleh waktu
tertentu, maka ketika masa tersebut berakhir, ibāḥah juga berakhir. Sebab, orang-orang
mukmin terikat dengan syarat-syarat yang mereka sepakati. Apabila syaratnya
tidak ada lagi, maka sesuatu yang bergantung pada syarat tersebut juga tidak
ada lagi.
ب - رُجُوعُ الآْذِنِ فِي
إِذْنِهِ، حَيْثُ إِنَّهُ لَيْسَ وَاجِبًا عَلَيْهِ، فَهُوَ تَبَرُّعٌ مِنْهُ،
كَمَا قَال جُمْهُورُ الْعُلَمَاءِ. وَهِيَ لاَ تَنْتَهِي بِمُجَرَّدِ الرُّجُوعِ،
بَل لاَ بُدَّ مِنْ عِلْمِ الْمَأْذُونِ لَهُ بِهِ، كَمَا هُوَ مُقْتَضَى
قَوَاعِدِ الْحَنَفِيَّةِ، وَهُوَ قَوْلٌ لِلشَّافِعِيِّ.
B. Pemberi izin menarik kembali
izinnya
Ibāḥah juga berakhir apabila orang
yang memberikan izin menarik kembali izinnya, karena memberikan izin
bukanlah sesuatu yang wajib baginya, melainkan merupakan bentuk pemberian
sukarela (tabarru‘), sebagaimana pendapat mayoritas ulama.
Namun, ibāḥah tidak berakhir
hanya dengan adanya pencabutan izin semata. Pihak yang sebelumnya
memperoleh izin harus terlebih dahulu mengetahui bahwa izin tersebut telah
dicabut. Demikianlah konsekuensi kaidah-kaidah yang digunakan oleh ulama
Hanafiyah, dan hal ini juga merupakan salah satu pendapat Imam al-Syāfi‘i.
وَذَكَرَ السُّيُوطِيُّ فِي
الأَْشْبَاهِ وَالنَّظَائِرِ (١) قَوْلاً آخَرَ لِلشَّافِعِيِّ، يُفِيدُ أَنَّ
الإِْبَاحَةَ تَنْتَهِي بِمُجَرَّدِ رُجُوعِ الآْذِنِ، وَلَوْ لَمْ يَعْلَمِ
الْمَأْذُونُ لَهُ.
Al-Suyūṭī menyebutkan dalam al-Asybāh
wa al-Naẓā’ir pendapat lain dari Imam al-Syāfi‘i yang menunjukkan bahwa ibāḥah
berakhir hanya dengan pencabutan izin oleh pemberi izin, meskipun pihak
yang sebelumnya memperoleh izin belum mengetahui pencabutan tersebut.
ج - مَوْتُ الآْذِنِ؛
لِبُطْلاَنِ الإِْذْنِ بِمَوْتِهِ، فَتَنْتَهِي آثَارُهُ.
C. Meninggalnya pemberi izin
Ibāḥah berakhir karena meninggalnya pihak yang memberikan izin,
sebab dengan kematiannya, izin tersebut menjadi batal sehingga seluruh
akibat hukumnya juga berakhir.
د - مَوْتُ الْمَأْذُونِ
لَهُ؛ لأَِنَّ حَقَّ الاِنْتِفَاعِ رُخْصَةٌ شَخْصِيَّةٌ لَهُ لاَ تَنْتَقِل إِلَى
وَرَثَتِهِ إِلاَّ إِذَا نَصَّ الآْذِنُ عَلَى خِلاَفِهِ.
D. Meninggalnya pihak yang diberi izin
Ibāḥah juga berakhir karena meninggalnya pihak yang memperoleh izin,
sebab hak untuk memanfaatkan sesuatu merupakan keringanan yang bersifat
pribadi baginya. Hak tersebut tidak berpindah kepada ahli
warisnya, kecuali apabila pihak yang memberikan izin telah menetapkan
ketentuan yang berbeda.
Wallahu A’lam...
Baca juga:
إِبَاحَة
Ibāḥah
(Kebolehan)
التَّعْرِيفُ:
Definisi
١ - الإِبَاحَةُ فِي
اللُّغَةِ: الإِْحْلاَل، يُقَال: أَبَحْتُكَ الشَّيْءَ؛ أَيْ أَحْلَلْتُهُ لَكَ.
وَالْمُبَاحُ خِلاَفُ الْمَحْظُورِ (٣) . وَعَرَّفَ الأُْصُولِيُّونَ الإِْبَاحَةَ
بِأَنَّهَا خِطَابُ اللَّهِ تَعَالَى الْمُتَعَلِّقُ بِأَفْعَال الْمُكَلَّفِينَ
تَخْيِيرًا مِنْ غَيْرِ بَدَلٍ. (٤)
1. Ibāḥah secara
bahasa berarti menghalalkan atau
membolehkan. Dikatakan: “Abḥtu laka asy-syai’a” (أَبَحْتُكَ الشَّيْءَ), yakni “Aku telah membolehkan atau
menghalalkan sesuatu itu bagimu.”
Sedangkan mubāḥ (الْمُبَاحُ) adalah lawan dari maḥẓūr (الْمَحْظُورُ), yaitu sesuatu yang dilarang.
Adapun menurut para ahli uṣul
fikih, ibāḥah didefinisikan sebagai:
Khithab Allah Ta‘ala yang berkaitan
dengan perbuatan orang-orang mukalaf, yang memberikan pilihan tanpa adanya
pengganti.
وَعَرَّفَهَا الْفُقَهَاءُ
بِأَنَّهَا الإِْذْنُ بِإِتْيَانِ الْفِعْل حَسَبَ مَشِيئَةِ الْفَاعِل فِي
حُدُودِ الإِْذْنِ (١) . وَقَدْ تُطْلَقُ الإِْبَاحَةُ عَلَى مَا قَابَل
الْحَظْرَ، فَتَشْمَل الْفَرْضَ وَالإِْيجَابَ وَالنَّدْبَ (٢) .
Dan para fuqaha mendefinisikan ibāḥah
sebagai:
“Izin untuk melakukan suatu perbuatan sesuai dengan kehendak
pelakunya, dalam batas-batas izin tersebut.”
Terkadang istilah ibāḥah juga digunakan untuk segala
sesuatu yang merupakan lawan dari larangan (ḥaẓr). Dengan
pengertian ini, ibāḥah mencakup fardu, wajib, dan mandub (sunah).
الأَلْفَاظُ
ذَاتُ الصِّلَةِ بِالإِْبَاحَةِ:
Lafaz-Lafaz yang Berkaitan dengan Ibāḥah
الْجَوَازُ:
Al-Jawāz (Kebolehan)
٢ - اخْتَلَفَ
الأُْصُولِيُّونَ فِي الصِّلَةِ بَيْنَ الإِْبَاحَةِ وَالْجَوَازِ، فَمِنْهُمْ
مَنْ قَال: إِنَّ الْجَائِزَ يُطْلَقُ عَلَى خَمْسَةِ مَعَانٍ: الْمُبَاحِ، وَمَا
لاَ يَمْتَنِعُ شَرْعًا، وَمَا لاَ يَمْتَنِعُ عَقْلاً، أَوْ مَا اسْتَوَى فِيهِ
الأَْمْرَانِ، وَالْمَشْكُوكُ فِي حُكْمِهِ كَسُؤْرِ الْحِمَارِ (٣) ، وَمِنْهُمْ
مَنْ أَطْلَقَهُ عَلَى أَعَمَّ مِنَ الْمُبَاحِ (٤) ، وَمِنْهُمْ مَنْ قَصَرَهُ
عَلَيْهِ، فَجَعَل الْجَوَازَ مُرَادِفًا لِلإِْبَاحَةِ. (٥)
2. Para ahli uṣul fikih berbeda pendapat mengenai
hubungan antara ibāḥah dan jawāz. Di antara mereka ada yang
mengatakan bahwa istilah jā’iz digunakan dalam lima makna, yaitu:
- Mubāḥ,
yaitu sesuatu yang dibolehkan.
- Sesuatu yang tidak dilarang menurut syariat.
- Sesuatu yang tidak mustahil menurut akal.
- Sesuatu yang kedua kemungkinannya sama, yaitu antara melakukan dan meninggalkannya.
- Sesuatu yang diragukan hukumnya, seperti sisa minuman keledai (su’ru al-ḥimār).
Di antara mereka juga ada yang
menggunakan istilah jawāz dalam makna yang lebih umum daripada mubāḥ.
Sedangkan sebagian yang lain
membatasi istilah tersebut hanya pada mubāḥ, sehingga mereka menjadikan jawāz
sebagai sinonim dari ibāḥah.
وَالْفُقَهَاءُ
يَسْتَعْمِلُونَ الْجَوَازَ فِيمَا قَابَل الْحَرَامَ، فَيَشْمَل الْمَكْرُوهَ (٦)
. وَهُنَاكَ اسْتِعْمَالٌ فِقْهِيٌّ لِكَلِمَةِ الْجَوَازِ بِمَعْنَى الصِّحَّةِ،
وَهِيَ مُوَافَقَةُ الْفِعْل ذِي الْوَجْهَيْنِ لِلشَّرْعِ، وَالْجَوَازُ بِهَذَا
الاِسْتِعْمَال حُكْمٌ وَضْعِيٌّ، وَبِالاِسْتِعْمَالَيْنِ السَّابِقَيْنِ حُكْمٌ
تَكْلِيفِيٌّ.
Dan para fuqaha menggunakan istilah jawāz
untuk sesuatu yang berlawanan dengan haram, sehingga
cakupannya juga meliputi makruh.
Selain itu, terdapat penggunaan istilah jawāz dalam fikih
dengan makna ṣaḥḥah (keabsahan), yaitu kesesuaian
suatu perbuatan yang memiliki dua kemungkinan dengan ketentuan syariat.
Jawāz dalam penggunaan terakhir ini merupakan hukum
waḍ‘ī, sedangkan dalam dua penggunaan sebelumnya termasuk hukum
taklīfī.
الْحِل:
Al-Ḥill (Kehalalan)
٣ - الإِْبَاحَةُ فِيهَا
تَخْيِيرٌ، أَمَّا الْحِل فَإِنَّهُ أَعَمُّ مِنْ ذَلِكَ شَرْعًا؛ لأَِنَّهُ
يُطْلَقُ عَلَى مَا سِوَى التَّحْرِيمِ، وَقَدْ جَاءَ مُقَابِلاً لَهُ فِي
الْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ، كَقَوْلِهِ تَعَالَى: {وَأَحَل اللَّهُ الْبَيْعَ
وَحَرَّمَ الرِّبَا} (١) وَقَوْلِهِ: {يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا
أَحَل اللَّهُ لَكَ} (٢) وَقَوْل النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
أَمَا إِنِّي وَاللَّهِ لاَ أُحِل حَرَامًا وَلاَ أُحَرِّمُ حَلاَلاً (٣) .
وَلَمَّا كَانَ الْحَلاَل مُقَابِلاً لِلْحَرَامِ شَمِل مَا عَدَاهُ مِنَ
الْمُبَاحِ وَالْمَنْدُوبِ وَالْوَاجِبِ وَالْمَكْرُوهِ مُطْلَقًا عِنْدَ
الْجُمْهُورِ، وَتَنْزِيهًا عِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ. وَلِهَذَا قَدْ يَكُونُ
الشَّيْءُ حَلاَلاً وَمَكْرُوهًا فِي آنٍ وَاحِدٍ، كَالطَّلاَقِ، فَإِنَّهُ
مَكْرُوهٌ، وَإِنْ وَصَفَهُ الرَّسُول صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
بِأَنَّهُ حَلاَلٌ (٤) ، وَعَلَى ذَلِكَ يَكُونُ كُل مُبَاحٍ
حَلاَلاً وَلاَ عَكْسَ.
3. Dalam ibāḥah terdapat unsur pemberian pilihan,
sedangkan al-ḥill (kehalalan) secara syariat memiliki cakupan yang lebih
luas daripada itu. Hal ini karena istilah al-ḥill digunakan untuk segala
sesuatu selain pengharaman.
Istilah tersebut juga digunakan
sebagai lawan dari haram dalam Al-Qur’an dan Sunnah, sebagaimana firman
Allah Ta‘ala:
“Allah telah menghalalkan jual beli
dan mengharamkan riba.”
Dan firman-Nya:
“Wahai Nabi, mengapa engkau
mengharamkan apa yang telah Allah halalkan bagimu?”
Demikian pula sabda Nabi ﷺ:
“Ketahuilah, demi Allah,
sesungguhnya aku tidak menghalalkan sesuatu yang haram dan tidak pula
mengharamkan sesuatu yang halal.”
Karena halal merupakan lawan
dari haram, maka menurut jumhur ulama, halal mencakup hukum
selain haram, yaitu mubah, mandub (sunah), wajib, dan makruh secara mutlak.
Sedangkan menurut Abu Hanifah, yang dimaksud adalah makruh tanzih.
Oleh karena itu, sesuatu dapat
sekaligus halal dan makruh dalam satu waktu, seperti talak. Talak
itu makruh, meskipun Rasulullah ﷺ menyifatinya sebagai
sesuatu yang halal.
Berdasarkan hal tersebut, maka setiap
yang mubah adalah halal, tetapi tidak setiap yang halal adalah mubah.
الصِّحَّةُ:
Aṣ-Ṣiḥḥah (Keabsahan)
٤ - الصِّحَّةُ هِيَ
مُوَافَقَةُ الْفِعْل ذِي الْوَجْهَيْنِ لِلشَّرْعِ (١)
4. Ṣiḥḥah adalah kesesuaian suatu perbuatan yang memiliki dua
kemungkinan dengan ketentuan syariat.
وَمَعْنَى كَوْنِهِ ذَا
وَجْهَيْنِ أَنَّهُ يَقَعُ تَارَةً مُوَافِقًا لِلشَّرْعِ، لاِشْتِمَالِهِ عَلَى
الشُّرُوطِ الَّتِي اعْتَبَرَهَا الشَّارِعُ، وَيَقَعُ تَارَةً أُخْرَى مُخَالِفًا
لِلشَّرْعِ. وَالإِْبَاحَةُ الَّتِي فِيهَا تَخْيِيرٌ بَيْنَ الْفِعْل وَالتَّرْكِ
مُغَايِرَةٌ لِلصِّحَّةِ. وَهُمَا وَإِنْ كَانَا مِنَ الأَْحْكَامِ
الشَّرْعِيَّةِ، إِلاَّ أَنَّ الإِْبَاحَةَ حُكْمٌ تَكْلِيفِيٌّ، وَالصِّحَّةَ
حُكْمٌ وَضْعِيٌّ عَلَى رَأْيِ الْجُمْهُورِ.
Yang dimaksud dengan perbuatan
yang memiliki dua kemungkinan ialah bahwa perbuatan tersebut terkadang
terjadi sesuai dengan syariat, karena memenuhi syarat-syarat yang telah
ditetapkan oleh Syariat, dan terkadang terjadi dalam keadaan tidak sesuai
dengan syariat.
Adapun ibāḥah, yang
mengandung pemberian pilihan antara melakukan dan meninggalkan suatu
perbuatan, berbeda dengan ṣiḥḥah.
Meskipun keduanya sama-sama termasuk
hukum syariat, namun ibāḥah merupakan hukum taklīfī, sedangkan ṣiḥḥah
merupakan hukum waḍ‘ī menurut pendapat jumhur ulama.
وَمِنْهُمْ مَنْ يَرُدُّ
الصِّحَّةَ إِلَى الإِْبَاحَةِ فَيَقُول: إِنَّ الصِّحَّةَ إِبَاحَةُ
الاِنْتِفَاعِ. (٢)
Dan di antara mereka ada yang mengembalikan makna ṣiḥḥah kepada
ibāḥah, lalu mengatakan:
“Sesungguhnya ṣiḥḥah adalah kebolehan untuk mengambil manfaat.”
وَالْفِعْل الْمُبَاحُ قَدْ
يَجْتَمِعُ مَعَ الْفِعْل الصَّحِيحِ، فَصَوْمُ يَوْمٍ مِنْ غَيْرِ رَمَضَانَ
مُبَاحٌ، أَيْ مَأْذُونٌ فِيهِ مِنَ الشَّرْعِ، وَهُوَ صَحِيحٌ إِنِ اسْتَوْفَى
أَرْكَانَهُ وَشُرُوطَهُ. وَقَدْ يَكُونُ الْفِعْل مُبَاحًا فِي أَصْلِهِ وَغَيْرَ
صَحِيحٍ لاِخْتِلاَل شَرْطِهِ، كَالْعُقُودِ الْفَاسِدَةِ. وَقَدْ يَكُونُ
صَحِيحًا غَيْرَ مُبَاحٍ كَالصَّلاَةِ فِي ثَوْبٍ مَغْصُوبٍ إِذَا اسْتَوْفَتْ
أَرْكَانَهَا وَشُرُوطَهَا عِنْدَ أَكْثَرِ الأَْئِمَّةِ.
Dan perbuatan yang mubah terkadang dapat berkumpul dengan perbuatan
yang sah. Misalnya, berpuasa pada suatu hari selain bulan
Ramadan adalah mubah, yaitu diizinkan oleh syariat, dan puasa tersebut
sah apabila telah memenuhi rukun-rukun dan syarat-syaratnya.
Terkadang suatu perbuatan mubah pada asalnya, tetapi tidak
sah karena salah satu syaratnya tidak terpenuhi, seperti akad-akad
yang rusak (fāsid).
Sebaliknya, suatu perbuatan terkadang sah tetapi tidak mubah,
seperti salat dengan mengenakan pakaian hasil ghasab, apabila
salat tersebut telah memenuhi rukun-rukun dan syarat-syaratnya, menurut
kebanyakan imam.
التَّخْيِيرُ:
At-Takhyīr (Pemberian Pilihan)
٥ - الإِْبَاحَةُ تَخْيِيرٌ
مِنَ الشَّارِعِ بَيْنَ فِعْل الشَّيْءِ وَتَرْكِهِ، مَعَ اسْتِوَاءِ
الطَّرَفَيْنِ بِلاَ تَرَتُّبِ ثَوَابٍ أَوْ عِقَابٍ، أَمَّا التَّخْيِيرُ فَقَدْ
يَكُونُ عَلَى سَبِيل الإِْبَاحَةِ، أَيْ بَيْنَ فِعْل الْمُبَاحِ وَتَرْكِهِ،
وَقَدْ يَكُونُ بَيْنَ الْوَاجِبَاتِ بَعْضِهَا وَبَعْضٍ، وَهِيَ وَاجِبَاتٌ
لَيْسَتْ عَلَى التَّعْيِينِ، كَمَا فِي خِصَال الْكَفَّارَةِ فِي قَوْله
تَعَالَى: {لاَ يُؤَاخِذُكُمْ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَكِنْ
يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُمْ الأَْيْمَانَ فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ
مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ
تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ} (١) فَإِنَّ فِعْل أَيِّ وَاحِدٍ مِنْهَا يُسْقِطُ
الْمُطَالَبَةَ، لَكِنَّ تَرْكَهَا كُلَّهَا يَقْتَضِي الإِْثْمَ.
5. Ibāḥah adalah pemberian pilihan dari Syāri‘ (pembuat syariat)
antara melakukan sesuatu dan meninggalkannya, dengan kedua pilihan tersebut
memiliki kedudukan yang sama, tanpa adanya konsekuensi berupa pahala atau
hukuman.
Adapun takhyīr (pemberian
pilihan) terkadang berupa ibāḥah, yaitu pilihan antara melakukan
sesuatu yang mubah dan meninggalkannya. Namun, takhyīr juga dapat terjadi di
antara beberapa kewajiban, yaitu kewajiban-kewajiban yang tidak ditentukan
secara khusus salah satunya.
Sebagaimana dalam pilihan
bentuk-bentuk kafarat dalam firman Allah Ta‘ala:
“Allah tidak menghukum kamu
disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak disengaja, tetapi Dia menghukum kamu
disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja. Maka kafaratnya ialah memberi makan
sepuluh orang miskin dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu,
atau memberi mereka pakaian, atau memerdekakan seorang hamba.”
Sesungguhnya, melakukan salah
satu dari bentuk-bentuk kafarat tersebut telah menggugurkan tuntutan
kewajiban. Akan tetapi, meninggalkan semuanya mengakibatkan seseorang
berdosa.
وَقَدْ يَكُونُ التَّخْيِيرُ
بَيْنَ الْمَنْدُوبَاتِ كَالتَّنَفُّل قَبْل صَلاَةِ الْعَصْرِ، فَالْمُصَلِّي
مُخَيَّرٌ بَيْنَ أَنْ يَتَنَفَّل بِرَكْعَتَيْنِ أَوْ بِأَرْبَعٍ. (٢)
Dan takhyīr (pemberian pilihan) terkadang terjadi di antara
beberapa perbuatan mandub (sunah), seperti salat sunah sebelum
salat Asar. Seorang yang hendak melaksanakannya diberi pilihan antara melakukan
dua rakaat atau empat rakaat.
وَالْمَنْدُوبُ نَفْسُهُ فِي
مَفْهُومِهِ تَخْيِيرٌ بَيْنَ الْفِعْل وَالتَّرْكِ، وَإِنْ رُجِّحَ جَانِبُ الْفِعْل،
وَفِيهِ ثَوَابٌ، بَيْنَمَا التَّخْيِيرُ فِي الإِْبَاحَةِ لاَ يُرَجَّحُ فِيهِ
جَانِبٌ عَلَى جَانِبٍ، وَلاَ يَتَرَتَّبُ عَلَيْهِ ثَوَابٌ وَلاَ عِقَابٌ.
Mandub itu sendiri, dalam pengertiannya, juga mengandung
unsur pilihan antara melakukan dan meninggalkan, meskipun sisi
melakukan lebih diutamakan dan terdapat pahala padanya.
Sedangkan pilihan dalam ibāḥah tidak ada satu sisi pun yang
lebih diutamakan daripada sisi lainnya, serta tidak ada konsekuensi berupa pahala
maupun hukuman.
الْعَفْوُ:
Al-‘Afw (Pemaafan)
٦ - مِنَ الْعُلَمَاءِ مَنْ
جَعَل الْعَفْوَ الَّذِي رُفِعَتْ فِيهِ الْمُؤَاخَذَةُ، وَنُفِيَ فِيهِ
الْحَرَجُ، مُسَاوِيًا لِلإِْبَاحَةِ، كَمَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ إِنَّ اللَّهَ
فَرَضَ فَرَائِضَ فَلاَ تُضَيِّعُوهَا، وَحَدَّ حُدُودًا فَلاَ تَعْتَدُوهَا،
وَحَرَّمَ أَشْيَاءَ فَلاَ تَنْتَهِكُوهَا، وَعَفَا عَنْ أَشْيَاءَ رَحْمَةً
بِكُمْ مِنْ غَيْرِ نِسْيَانٍ فَلاَ تَبْحَثُوا عَنْهَا (٣) . وَهُوَ مَا يَدُل
عَلَيْهِ قَوْله تَعَالَى {لاَ تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ
تَسُؤْكُمْ وَإِنْ تَسْأَلُوا عَنْهَا حِينَ يُنَزَّل الْقُرْآنُ تُبْدَ لَكُمْ
عَفَا اللَّهُ عَنْهَا} (٤) . فَمَا عَفَا اللَّهُ عَنْهُ لَمْ يُكَلِّفْنَا بِهِ
فِعْلاً أَوْ تَرْكًا، وَلَمْ يُرَتِّبْ عَلَيْهِ مَثُوبَةً وَلاَ عِقَابًا.
وَهُوَ بِهَذَا مُسَاوٍ لِلْمُبَاحِ.
6. Di antara para ulama ada yang menyamakan al-‘afw—yaitu
sesuatu yang telah dihapuskan pertanggungjawabannya dan tidak dikenakan
kesulitan atau beban—dengan ibāḥah.
Hal ini sebagaimana disebutkan dalam
hadis:
“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan
beberapa kewajiban, maka janganlah kalian menyia-nyiakannya. Dia telah
menetapkan beberapa batas, maka janganlah kalian melampauinya. Dia telah
mengharamkan beberapa perkara, maka janganlah kalian melanggarnya. Dan Dia
telah memaafkan beberapa perkara sebagai rahmat bagi kalian, bukan karena lupa,
maka janganlah kalian mencarinya.”
Hal ini juga ditunjukkan oleh firman
Allah Ta‘ala:
“Janganlah kalian menanyakan
perkara-perkara yang jika diterangkan kepada kalian, niscaya akan menyusahkan
kalian. Jika kalian menanyakannya ketika Al-Qur’an sedang diturunkan, niscaya
akan diterangkan kepada kalian. Allah telah memaafkan perkara-perkara
tersebut.”
Dengan demikian, apa yang telah
Allah maafkan tidak dibebankan kepada kita, baik untuk dilakukan maupun
ditinggalkan, dan tidak pula ditetapkan pahala ataupun hukuman atasnya.
Dengan pengertian tersebut, al-‘afw
sama dengan al-mubāḥ.
أَلْفَاظُ
الإِبَاحَةِ:
Lafaz-Lafaz yang Menunjukkan Ibāḥah
٧ - الإِْبَاحَةُ
إِمَّا بِلَفْظٍ أَوْ غَيْرِهِ، سَوَاءٌ مِنَ الشَّارِعِ أَوْ مِنَ الْعِبَادِ.
فَمِثَال غَيْرِ اللَّفْظِ مِنَ الشَّارِعِ أَنْ يَرَى رَسُول اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِعْلاً مِنَ الأَْفْعَال، أَوْ يَسْمَعُ قَوْلاً،
فَلاَ يُنْكِرُهُ، فَيَكُونُ هَذَا تَقْرِيرًا يَدُل عَلَى الإِْبَاحَةِ.
7. Ibāḥah dapat ditunjukkan melalui lafaz (ucapan) maupun
selain lafaz, baik yang berasal dari Syāri‘ (pembuat syariat) maupun
dari manusia.
Contoh ibāḥah yang ditunjukkan bukan
melalui lafaz dari Syāri‘ adalah ketika Rasulullah ﷺ melihat suatu perbuatan atau mendengar suatu perkataan,
kemudian beliau tidak mengingkarinya. Sikap tersebut disebut taqrīr,
yang menunjukkan adanya kebolehan.
وَمِثَالُهُ مِنَ الْعِبَادِ
أَنْ يَضَعَ الشَّخْصُ مَائِدَةً عَامَّةً لِيَأْكُل مِنْهَا مَنْ يَشَاءُ.
Adapun contoh ibāḥah yang berasal
dari manusia, misalnya seseorang menyediakan hidangan yang terbuka
untuk umum, agar siapa saja yang menghendakinya dapat makan darinya.
وَأَمَّا اللَّفْظُ فَقَدْ
يَكُونُ صَرِيحًا، وَمِنْ ذَلِكَ نَفْيُ الْجُنَاحِ وَنَفْيُ الإِْثْمِ أَوِ
الْحِنْثِ أَوِ السَّبِيل أَوِ الْمُؤَاخَذَةِ. وَقَدْ يَكُونُ غَيْرَ صَرِيحٍ،
وَهُوَ الَّذِي يَحْتَاجُ فِي دَلاَلَتِهِ عَلَى الإِْبَاحَةِ إِلَى قَرِينَةٍ.
وَمِنْ ذَلِكَ: الأَْمْرُ بَعْدَ الْحَظْرِ، كَقَوْلِهِ تَعَالَى: {وَإِذَا
حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا} (١) وَمِنْهُ الأَْمْرُ الْمُقْتَرِنُ بِالْمَشِيئَةِ،
وَالتَّعْبِيرُ بِالْحِل، أَوْ نَفْيُ التَّحْرِيمِ، أَوِ الاِسْتِثْنَاءُ مِنَ
التَّحْرِيمِ.
Adapun lafaz, terkadang
bersifat tegas (ṣarīḥ). Di antaranya adalah ungkapan yang menunjukkan peniadaan
dosa (junāḥ), peniadaan dosa (itsm), peniadaan pelanggaran sumpah
(ḥints), peniadaan jalan atau alasan untuk menyalahkan, atau peniadaan
pertanggungjawaban (mu’ākhadzah).
Terkadang lafaz tersebut tidak
tegas, yaitu lafaz yang dalam menunjukkan makna ibāḥah memerlukan
adanya qarīnah (indikasi atau petunjuk yang menyertainya).
Di antara bentuknya adalah:
- Perintah setelah adanya larangan, seperti firman Allah Ta‘ala:
“Apabila kalian telah selesai dari ihram, maka berburu lah.” - Perintah yang disertai dengan kehendak atau pilihan
(masyi’ah).
- Penggunaan ungkapan al-ḥill (kehalalan).
- Peniadaan pengharaman.
- Pengecualian dari sesuatu yang diharamkan.
مَنْ لَهُ
حَقُّ الإِبَاحَةِ:
Siapa yang Memiliki Hak Memberikan Ibāḥah?
الشَّارِعُ:
Syāri‘ (Pembuat Syariat)
٨ - الأَْصْل أَنَّ حَقَّ
الإِْبَاحَةِ لِلشَّارِعِ وَحْدَهُ مِنْ غَيْرِ تَوَقُّفٍ عَلَى إِذْنٍ مِنْ
أَحَدٍ، وَقَدْ تَكُونُ الإِْبَاحَةُ مُطْلَقَةً كَالْمُبَاحَاتِ الأَْصْلِيَّةِ،
وَقَدْ تَكُونُ مُقَيَّدَةً إِمَّا بِشَرْطٍ كَمَا فِي قَوْله تَعَالَى {أَوْ مَا
مَلَكْتُمْ مَفَاتِحَهُ} (٢) فِي شَأْنِ مَا يُبَاحُ أَكْلُهُ مِنْ مِلْكِ
الْغَيْرِ مِنْ غَيْرِ ضَرُورَةٍ، أَوْ مُقَيَّدَةً بِوَقْتٍ كَإِبَاحَةِ أَكْل
الْمَيْتَةِ لِلْمُضْطَرِّ
8. Pada dasarnya, hak memberikan ibāḥah hanya dimiliki oleh
Syāri‘, tanpa bergantung pada izin dari siapa pun.
Ibāḥah terkadang bersifat mutlak,
seperti berbagai perkara yang pada asalnya memang diperbolehkan.
Terkadang ibāḥah bersifat terbatas,
yaitu:
- Dibatasi dengan suatu syarat, sebagaimana firman Allah Ta‘ala:
“Atau (harta) yang kalian kuasai kunci-kuncinya.”
Hal ini berkaitan dengan sesuatu yang boleh dimakan dari milik orang lain tanpa adanya keadaan darurat. - Dibatasi dengan waktu tertentu, seperti kebolehan memakan bangkai bagi orang yang
berada dalam keadaan terpaksa (darurat).
الْعِبَادُ:
Al-‘Ibād (Manusia)
٩ - الإِْبَاحَةُ
مِنَ الْعِبَادِ لاَ بُدَّ فِيهَا أَنْ تَكُونَ عَلَى وَجْهٍ لاَ يَأْبَاهُ
الشَّرْعُ، وَأَلاَّ تَكُونَ عَلَى وَجْهِ التَّمْلِيكِ، وَإِلاَّ كَانَتْ هِبَةً
أَوْ إِعَارَةً.
9. Ibāḥah yang diberikan oleh manusia harus dilakukan
dengan cara yang tidak bertentangan dengan syariat, serta tidak
dilakukan dalam bentuk memberikan kepemilikan. Jika dilakukan dalam
bentuk memberikan kepemilikan, maka hal tersebut menjadi hibah atau ‘āriyah
(pinjaman).
وَإِذَا كَانَتِ الإِْبَاحَةُ
مِنْ وَلِيِّ الأَْمْرِ فَالْمَدَارُ فِيهَا - بَعْدَ الشَّرْطَيْنِ
السَّابِقَيْنِ - أَنْ تَكُونَ مَنُوطَةً بِالْمَصْلَحَةِ الْعَامَّةِ.
Apabila ibāḥah diberikan oleh wali
al-amr (penguasa/pemimpin), maka setelah memenuhi dua syarat sebelumnya,
ukurannya adalah bahwa ibāḥah tersebut harus berlandaskan kemaslahatan umum.
وَهَذِهِ الإِْبَاحَةُ قَدْ
تَكُونُ فِي وَاجِبٍ يَسْقُطُ بِهَا عَنْهُ، كَمَنْ عَلَيْهِ كَفَّارَةٌ،
وَاخْتَارَ التَّكْفِيرَ بِالإِْطْعَامِ، فَإِنَّ الدَّعْوَةَ إِلَى تَنَاوُلِهِ
إِبَاحَةٌ تُسْقِطُ عَنْهُ الْكَفَّارَةَ، إِذْ هُوَ مُخَيَّرٌ فِيهَا بَيْنَ
التَّمْلِيكِ لِمَنْ يَسْتَحِقُّ، وَبَيْنَ الإِْبَاحَةِ.
Ibāḥah ini terkadang berkaitan dengan suatu kewajiban yang menjadi
gugur karenanya, seperti orang yang memiliki kewajiban kafarat,
kemudian ia memilih menunaikan kafarat tersebut dengan memberikan
makanan.
Sesungguhnya, mengundang seseorang untuk menikmati makanan tersebut
merupakan bentuk ibāḥah yang menggugurkan kewajiban kafaratnya, karena
dalam hal ini ia diberi pilihan antara memberikan makanan tersebut
menjadi milik orang yang berhak menerimanya atau memberikan
izin untuk memakannya.
وَهَذَا عِنْدَ بَعْضِ الْفُقَهَاءِ
كَالْحَنَفِيَّةِ، خِلاَفًا لِلشَّافِعِيَّةِ وَمَنْ وَافَقَهُمُ الَّذِينَ
يَرَوْنَ أَنَّ الإِْطْعَامَ فِي الْكَفَّارَةِ يَجِبُ فِيهِ التَّمْلِيكُ (١) .
وَالإِْنْسَانُ يَعْرِفُ إِذْنَ غَيْرِهِ إِمَّا بِنَفْسِهِ، وَإِمَّا بِإِخْبَارِ
ثِقَةٍ يَقَعُ فِي الْقَلْبِ صِدْقُهُ. فَلَوْ قَال مَمْلُوكٌ مَثَلاً: هَذِهِ
هَدِيَّةٌ بَعَثَ بِهَا إِلَيْكَ سَيِّدِي، أَوْ قَال صَبِيٌّ: هَذِهِ هَدِيَّةٌ
بَعَثَ بِهَا إِلَيْكَ وَالِدِي، قُبِل قَوْلُهُمَا فِي حِلِّهَا؛ لأَِنَّ
الْهَدَايَا تُبْعَثُ فِي الْعَادَةِ عَلَى أَيْدِي هَؤُلاَءِ. (٢)
Hal ini menurut sebagian fuqaha, seperti mazhab Hanafiyah,
berbeda dengan mazhab Syafi‘iyah dan ulama yang sependapat
dengan mereka. Mereka berpendapat bahwa pemberian makanan sebagai
kafarat harus dilakukan dengan memberikan kepemilikan (tamlik).
Seseorang dapat mengetahui adanya izin dari orang lain
dengan dua cara: mengetahuinya secara langsung, atau melalui
pemberitahuan dari orang yang terpercaya, yang kebenaran
ucapannya dapat diterima oleh hati.
Seandainya, misalnya, seorang budak berkata, “Ini
adalah hadiah yang dikirimkan tuanku untukmu,” atau seorang anak
kecil berkata, “Ini adalah hadiah yang dikirimkan ayahku untukmu,”
maka perkataan keduanya dapat diterima mengenai kehalalan hadiah
tersebut. Sebab, menurut kebiasaan, hadiah memang biasanya dikirimkan
melalui orang-orang seperti mereka.
دَلِيل
الإِْبَاحَةِ وَأَسْبَابُهَا:
Dalil Ibāḥah dan Sebab-Sebabnya
١٠ - قَدْ يُوجَدُ فِعْلٌ
مِنَ الأَْفْعَال لَمْ يَدُل الدَّلِيل السَّمْعِيُّ عَلَى حُكْمِهِ بِخُصُوصِهِ،
وَذَلِكَ صَادِقٌ بِصُورَتَيْنِ: الأُْولَى عَدَمُ وُرُودِ دَلِيلٍ لِهَذَا
الْفِعْل أَصْلاً، وَالثَّانِيَةُ وُرُودُهُ وَلَكِنَّهُ جُهِل. وَأَكْثَرُ
الأَْفْعَال دَل الدَّلِيل السَّمْعِيُّ عَلَيْهَا وَعُرِفَ حُكْمُهَا، وَتَفْصِيل
ذَلِكَ فِيمَا يَلِي:
10. Terkadang terdapat suatu perbuatan yang tidak
terdapat dalil syar‘i yang bersumber dari wahyu yang menunjukkan secara khusus
mengenai hukumnya.
Hal ini dapat terjadi dalam dua
keadaan:
- Tidak adanya dalil sama sekali mengenai perbuatan tersebut.
- Adanya dalil mengenai perbuatan tersebut, tetapi dalil
itu tidak diketahui.
Adapun sebagian besar perbuatan,
dalil syar‘i telah menunjukkan hukumnya dan hukumnya telah diketahui. Adapun
perinciannya adalah sebagai berikut:
أ - الْبَقَاءُ عَلَى
الأَْصْل:
A.
Tetap Berpegang pada Hukum Asal (Al-Baqā’ ‘alā al-Aṣl)
١١ - وَهَذَا مَا
يُعْرَفُ بِالإِْبَاحَةِ الأَْصْلِيَّةِ، وَجُمْهُورُ الْعُلَمَاءِ عَلَى أَنَّهُ
لاَ حَرَجَ عَلَى مَنْ تَرَكَهُ أَوْ فَعَلَهُ. وَيَظْهَرُ أَثَرُ ذَلِكَ فِيمَا
كَانَ قَبْل الْبَعْثَةِ.
11. Hal ini dikenal sebagai ibāḥah aṣliyyah
(kebolehan berdasarkan hukum asal). Jumhur ulama berpendapat bahwa tidak
ada dosa atau kesalahan bagi orang yang meninggalkannya maupun
melakukannya. Pengaruh pendapat ini tampak dalam perkara-perkara yang terjadi sebelum
diutusnya para rasul.
وَهُنَاكَ تَفْصِيلاَتٌ
بَيْنَ عُلَمَاءِ الْكَلاَمِ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ يُرْجَعُ إِلَيْهَا فِي
الْمُلْحَقِ الأُْصُولِيِّ، أَوْ فِي كُتُبِ عِلْمِ الْكَلاَمِ. وَهَذَا
الْخِلاَفُ لاَ مُحَصِّل لَهُ الآْنَ بَعْدَ وُرُودِ الْبَعْثَةِ، إِذْ دَل
النَّصُّ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ عَلَى أَنَّ الأَْصْل فِي الأَْشْيَاءِ
الإِْبَاحَةُ. قَال تَعَالَى: {وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي
الأَْرْضِ جَمِيعًا مِنْهُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ} (١)
Di antara para ulama ilmu kalam terdapat beberapa perincian mengenai
persoalan ini. Pembahasannya dapat dirujuk dalam lampiran usul fikih
atau dalam kitab-kitab ilmu kalam.
Namun, perbedaan pendapat tersebut tidak lagi memiliki pengaruh
setelah datangnya risalah kenabian, karena terdapat nash dari Kitab
Allah yang menunjukkan bahwa hukum asal segala sesuatu adalah ibāḥah
(boleh).
Allah Ta‘ala berfirman:
“Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa
yang ada di bumi semuanya sebagai karunia dari-Nya. Sesungguhnya pada yang
demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”
ب - مَا جُهِل حُكْمُهُ:
B.
Hukum yang Tidak Diketahui
١٢ - قَدْ
يَكُونُ الْجَهْل مَعَ وُجُودِ الدَّلِيل، وَلَكِنَّ الْمُكَلَّفَ - مُجْتَهِدًا
أَوْ غَيْرَ مُجْتَهِدٍ - لَمْ يَطَّلِعْ عَلَيْهِ، أَوِ اطَّلَعَ عَلَيْهِ
الْمُجْتَهِدُ وَلَمْ يَسْتَطِعْ اسْتِنْبَاطَ الْحُكْمِ.
B.
Hukum yang Tidak Diketahui
12. Ketidaktahuan terhadap hukum terkadang terjadi meskipun
terdapat dalil. Namun, seorang mukallaf, baik ia seorang mujtahid
maupun bukan mujtahid, tidak mengetahuinya karena belum menemukan atau
belum mengetahui dalil tersebut.
Atau, seorang mujtahid telah
mengetahui dalilnya, tetapi tidak mampu melakukan istinbāṭ
(menyimpulkan) hukum darinya.
وَالْقَاعِدَةُ فِي ذَلِكَ
أَنَّ الْجَهْل بِالأَْحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ إِنَّمَا يَكُونُ عُذْرًا إِذَا
تَعَذَّرَ عَلَى الْمُكَلَّفِ الاِطِّلاَعُ عَلَى الدَّلِيل، وَكُل مَنْ كَانَ فِي
إِمْكَانِهِ الاِطِّلاَعُ عَلَى الدَّلِيل وَقَصَّرَ فِي تَحْصِيلِهِ لاَ يَكُونُ
مَعْذُورًا. وَيُفَصِّل الْفُقَهَاءُ أَحْكَامَ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ فِي
مَوَاطِنِهَا.
Kaidah dalam persoalan ini adalah bahwa ketidaktahuan terhadap
hukum-hukum syariat hanya menjadi suatu uzur apabila seorang mukalaf tidak
mampu mengetahui atau menemukan dalil. Adapun setiap orang yang
sebenarnya memiliki kemampuan untuk mengetahui dalil, tetapi
lalai dalam mencarinya, maka ia tidak dianggap memiliki uzur.
Para fuqaha menjelaskan hukum-hukum persoalan ini secara terperinci pada
pembahasannya masing-masing.
وَمَنْ عُذِرَ بِجَهْلِهِ
فَهُوَ غَيْرُ مُخَاطَبٍ بِحُكْمِ الْفِعْل، فَلاَ يُوصَفُ فِعْلُهُ
بِالإِْبَاحَةِ بِالْمَعْنَى الاِصْطِلاَحِيِّ الَّذِي فِيهِ خِطَابٌ
بِالتَّخْيِيرِ. وَإِنْ كَانَ الإِْثْمُ مَرْفُوعًا عَنْهُ بِعُذْرِ الْجَهْل. (٢)
Adapun orang yang diberi uzur karena ketidaktahuannya, maka
ia tidak dibebani dengan hukum perbuatan tersebut. Oleh karena itu,
perbuatannya tidak disebut sebagai ibāḥah dalam pengertian istilah,
yaitu adanya khithab syariat yang memberikan pilihan.
Meskipun demikian, dosa tetap diangkat darinya karena adanya uzur
berupa ketidaktahuan.
وَتُفَصَّل هَذِهِ
الأَْحْكَامُ فِي مَوَاطِنِهَا فِي بَحْثِ (الْجَهْل) . وَيُنْظَرُ فِي
الْمُلْحَقِ الأُْصُولِيِّ.
Perincian mengenai hukum-hukum tersebut dibahas pada pembahasan “Jahl
(Ketidaktahuan)”, dan dapat pula dilihat dalam lampiran usul
fikih.
طُرُقُ
مَعْرِفَةِ الإِْبَاحَةِ:
Cara Mengetahui Ibāḥah
١٣ - طُرُقُ
مَعْرِفَةِ الإِْبَاحَةِ كَثِيرَةٌ، مِنْ أَهَمِّهَا:
13. Cara untuk mengetahui adanya ibāḥah sangat banyak.
Di antara yang paling penting adalah:
النَّصُّ: وَقَدْ تَقَدَّمَ
الْكَلاَمُ عَلَيْهِ تَفْصِيلاً.
1. Nash (dalil
yang jelas)
Pembahasan mengenai hal ini telah dijelaskan sebelumnya secara terperinci.
بَعْضُ أَسْبَابِ الرُّخَصِ:
وَالرُّخْصَةُ هِيَ مَا شُرِعَ لِعُذْرٍ شَاقٍّ اسْتِثْنَاءً مِنْ أَصْلٍ كُلِّيٍّ
يَقْتَضِي الْمَنْعَ، مَعَ الاِقْتِصَارِ عَلَى مَوَاضِعِ الْحَاجَةِ فِيهِ مَعَ
بَقَاءِ حُكْمِ الأَْصْل. وَذَلِكَ كَالإِْفْطَارِ فِي رَمَضَانَ فِي السَّفَرِ،
وَالْمَسْحِ عَلَى الْخُفَّيْنِ، عَلَى تَفْصِيلٍ لِلْفُقَهَاءِ يُرْجَعُ إِلَيْهِ
فِي مَوَاطِنِهِ.
Sebagian sebab yang melahirkan
rukhsah (keringanan)
Rukhsah adalah sesuatu yang disyariatkan karena adanya uzur yang
berat, sebagai pengecualian dari suatu ketentuan umum yang pada asalnya
mengharuskan adanya larangan, dengan membatasi rukhsah tersebut hanya pada
kondisi yang diperlukan, sementara hukum asalnya tetap berlaku.
Contohnya adalah:
- Tidak berpuasa Ramadan ketika dalam perjalanan.
- Mengusap kedua khuf
sebagai pengganti membasuh kaki.
Perincian mengenai hal ini dapat
dilihat dalam pembahasan para fuqaha pada tempatnya masing-masing.
النَّسْخُ: وَهُوَ رَفْعُ
الْحُكْمِ الشَّرْعِيِّ بِنَصٍّ شَرْعِيٍّ مُتَأَخِّرٍ.
Nasakh
Nasakh adalah penghapusan suatu hukum syariat dengan dalil
syariat yang datang kemudian.
وَالَّذِي يُهِمُّنَا هُنَا
هُوَ نَسْخُ الْحَظْرِ بِنَصٍّ شَرْعِيٍّ مُتَأَخِّرٍ فِيمَا كَانَ مُبَاحًا قَبْل
الْحَظْرِ، مِثْل جَوَازِ الاِنْتِبَاذِ فِي الأَْوْعِيَةِ بَعْدَ حَظْرِهِ،
لِقَوْل النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُنْت نَهَيْتُكُمْ عَنِ
الأَْوْعِيَةِ فَانْتَبِذُوا وَاجْتَنِبُوا كُل مُسْكِرٍ (١) فَالأَْمْرُ بِالنَّبْذِ
بَعْدَ النَّهْيِ عَنْهُ يُفِيدُ رَفْعَ الْحَرَجِ، وَهُوَ مَعْنَى الإِْبَاحَةِ.
Yang penting bagi kita dalam
pembahasan ini adalah nasakh terhadap larangan dengan dalil syariat yang
datang kemudian, terhadap suatu perkara yang sebelumnya mubah sebelum adanya
larangan.
Contohnya adalah kebolehan
membuat minuman rendaman dalam wadah-wadah tertentu setelah sebelumnya hal
tersebut dilarang, berdasarkan sabda Nabi ﷺ:
“Dahulu aku telah melarang kalian
menggunakan wadah-wadah tersebut, maka sekarang buatlah minuman rendaman (di
dalamnya), dan jauhilah setiap sesuatu yang memabukkan.”
Maka, perintah untuk membuat
minuman rendaman setelah sebelumnya terdapat larangan darinya menunjukkan diangkatnya
kesulitan atau larangan, dan inilah yang dimaksud dengan ibāḥah (kebolehan).
الْعُرْفُ. وَالْمُخْتَارُ
فِي تَعْرِيفِهِ أَنَّهُ مَا اسْتَقَرَّ فِي النُّفُوسِ مِنْ جِهَةِ الْعُقُول،
وَتَلَقَّتْهُ الطِّبَاعُ السَّلِيمَةُ بِالْقَبُول (١) . وَهُوَ دَلِيلٌ كَاشِفٌ
إِذَا لَمْ يُوجَدْ نَصٌّ وَلاَ إِجْمَاعٌ عَلَى اعْتِبَارِهِ أَوْ إِلْغَائِهِ،
كَالاِسْتِئْجَارِ بِعِوَضٍ مَجْهُولٍ لاَ يُفْضِي إِلَى النِّزَاعِ.
Al-‘Urf
(Adat atau Kebiasaan)
Al-‘urf. Definisi yang dipilih untuknya adalah: “Sesuatu yang
telah menetap dalam jiwa berdasarkan pertimbangan akal dan diterima oleh tabiat
yang sehat.”
‘Urf merupakan dalil yang
menyingkap hukum, apabila tidak terdapat nash maupun ijmak yang
menyatakan bahwa ‘urf tersebut diakui atau dibatalkan.
Contohnya adalah menyewa sesuatu
dengan imbalan yang tidak diketahui secara pasti, selama ketidakjelasan
tersebut tidak menimbulkan perselisihan.
الاِسْتِصْلاَحُ
(الْمَصْلَحَةُ الْمُرْسَلَةُ) :
Al-Istiṣlāḥ (Maṣlaḥah Mursalah)
هِيَ كُل مَصْلَحَةٍ غَيْرُ
مُعْتَبَرَةٍ وَلاَ مُلْغَاةٍ بِنَصٍّ مِنَ الشَّارِعِ بِخُصُوصِهَا، يَكُونُ فِي
الأَْخْذِ بِهَا جَلْبُ مَنْفَعَةٍ أَوْ دَفْعُ ضَرَرٍ، كَمُشَاطَرَةِ عُمَرَ
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَمْوَال الَّذِينَ اتَّهَمَهُمْ بِالإِْثْرَاءِ بِسَبَبِ
عَمَلِهِمْ لِلدَّوْلَةِ، وَهَذَا حَتَّى يَضَعَ مَبْدَأً لِلْعُمَّال أَلاَّ
يَسْتَغِلُّوا مَرَاكِزَهُمْ لِصَالِحِ أَنْفُسِهِمْ.
Al-istiṣlāḥ (al-maṣlaḥah
al-mursalah) adalah setiap kemaslahatan yang
tidak secara khusus dinyatakan oleh Syāri‘ sebagai sesuatu yang diakui ataupun
dibatalkan melalui suatu nash, yang apabila dijadikan pertimbangan dapat mendatangkan
kemanfaatan atau mencegah kemudaratan.
Contohnya adalah tindakan ‘Umar
radhiyallāhu ‘anhu membagi atau mengambil sebagian harta orang-orang yang
dituduh memperoleh kekayaan karena pekerjaan mereka untuk negara. Hal ini
dilakukan agar menjadi prinsip bagi para pegawai, supaya mereka tidak
memanfaatkan jabatan atau kedudukan mereka untuk kepentingan pribadi.
مُتَعَلَّقُ
الإِبَاحَةِ:
Objek yang Menjadi Sasaran Ibāḥah
١٤ - مُتَعَلِّقُ
الإِْبَاحَةِ اهْتَمَّ بِهِ الْفُقَهَاءُ وَتَحَدَّثُوا عَنْ أَقْسَامِهِ
وَفُرُوعِهِ، فَقَسَّمُوهُ مِنْ حَيْثُ مَصْدَرُ الإِْبَاحَةِ إِلَى قِسْمَيْنِ:
مَا أَذِنَ فِيهِ الشَّارِعُ، وَمَا أَذِنَ فِيهِ الْعِبَادُ. وَمِنْ حَيْثُ
نَوْعُ الإِْبَاحَةِ إِلَى قِسْمَيْنِ أَيْضًا: مَا فِيهِ تَمَلُّكٌ
وَاسْتِهْلاَكٌ وَانْتِفَاعٌ، وَمَا فِيهِ اسْتِهْلاَكٌ وَانْتِفَاعٌ دُونَ
تَمَلُّكٍ. وَلِكُل قِسْمٍ حُكْمُهُ، وَبَيَانُهُ فِيمَا يَأْتِي.
14. Objek yang menjadi sasaran ibāḥah mendapat perhatian
dari para fuqaha. Mereka membahas berbagai pembagian dan cabangnya.
Ditinjau dari sumber ibāḥah,
objek tersebut dibagi menjadi dua:
- Sesuatu yang diizinkan oleh Syāri‘.
- Sesuatu yang diizinkan oleh manusia.
Sedangkan ditinjau dari jenis
ibāḥah, objek tersebut juga dibagi menjadi dua:
- Sesuatu yang di dalamnya terdapat unsur kepemilikan,
konsumsi, dan pemanfaatan.
- Sesuatu yang di dalamnya terdapat konsumsi dan
pemanfaatan, tetapi tidak disertai kepemilikan.
Setiap bagian memiliki hukum
masing-masing, dan penjelasannya akan diuraikan berikut ini.
الْمَأْذُونُ
بِهِ مِنَ الشَّارِعِ:
Sesuatu yang Diizinkan oleh Syāri‘
١٥ - الْمَأْذُونُ
بِهِ مِنَ الشَّارِعِ مَا وَرَدَ دَلِيلٌ عَلَى إِبَاحَتِهِ مِنْ نَصٍّ أَوْ مِنْ
مَصْدَرٍ مِنْ مَصَادِرِ التَّشْرِيعِ الأُْخْرَى. وَالْحَدِيثُ هُنَا سَيَكُونُ
عَنِ الْمَأْذُونِ فِيهِ إِذْنًا عَامًّا لاَ يَخْتَصُّ بِبَعْضِ الأَْفْرَادِ
دُونَ بَعْضِهِمُ الآْخَرِ.
15. Sesuatu yang diizinkan oleh Syāri‘ adalah sesuatu
yang terdapat dalil yang menunjukkan kebolehannya, baik berupa nash
maupun salah satu dari sumber-sumber hukum syariat lainnya.
Pembahasan di sini berkaitan dengan
sesuatu yang memperoleh izin secara umum, yaitu izin yang tidak
dikhususkan hanya untuk sebagian individu dan tidak berlaku bagi individu
lainnya.
وَفِي ذَلِكَ مَطْلَبَانِ:
مَطْلَبٌ لِلْمَأْذُونِ فِيهِ عَلَى وَجْهِ التَّمَلُّكِ وَالاِسْتِهْلاَكِ،
وَهُوَ الْمُسَمَّى عِنْدَ الْفُقَهَاءِ بِالْمَال الْمُبَاحِ، وَمَطْلَبٌ
لِلْمَأْذُونِ فِيهِ عَلَى وَجْهِ الاِنْتِفَاعِ فَقَطْ، وَهُوَ الْمُسَمَّى
بِالْمَنَافِعِ الْعَامَّةِ.
Dalam hal ini terdapat dua
pembahasan:
- Sesuatu yang diizinkan dalam bentuk kepemilikan dan
konsumsi, yang oleh para fuqaha disebut
al-māl al-mubāḥ (harta yang dibolehkan).
- Sesuatu yang diizinkan hanya dalam bentuk pemanfaatan, yang disebut al-manāfi‘ al-‘āmmah (kemanfaatan
umum).
الْمَطْلَبُ
الأَْوَّل
Pembahasan Pertama
مَا أَذِنَ
فِيهِ الشَّارِعُ عَلَى وَجْهِ التَّمَلُّكِ وَالاِسْتِهْلاَكِ
Sesuatu
yang Diizinkan oleh Syāri‘ dalam Bentuk Kepemilikan dan Konsumsi
١٦ - الْمَال الْمُبَاحُ هُوَ
كُل مَا خَلَقَهُ اللَّهُ لِيَنْتَفِعَ بِهِ النَّاسُ عَلَى وَجْهٍ مُعْتَادٍ،
وَلَيْسَ فِي حِيَازَةِ أَحَدٍ، مَعَ إِمْكَانِ حِيَازَتِهِ، وَلِكُل إِنْسَانٍ
حَقُّ تَمَلُّكِهِ، سَوَاءٌ أَكَانَ حَيَوَانًا أَمْ نَبَاتًا أَمْ جَمَادًا.
وَالدَّلِيل عَلَى ذَلِكَ قَوْل النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
مَنْ سَبَقَ إِلَى مَا لَمْ يَسْبِقْهُ إِلَيْهِ مُسْلِمٌ فَهُوَ لَهُ (١) .
وَهَذَا التَّمَلُّكُ لاَ يَسْتَقِرُّ إِلاَّ عِنْدَ الاِسْتِيلاَءِ
الْحَقِيقِيِّ، الَّذِي ضَبَطُوهُ بِوَضْعِ الْيَدِ عَلَى الشَّيْءِ الْمُبَاحِ،
أَيْ الاِسْتِيلاَءِ الْفِعْلِيِّ، أَوْ كَوْنِهِ فِي مُتَنَاوَل الْيَدِ، وَهُوَ
الاِسْتِيلاَءُ بِالْقُوَّةِ. وَقَدْ قَال الْعُلَمَاءُ: إِنَّ هَذَا
الاِسْتِيلاَءَ بِإِحْدَى صُورَتَيْهِ لاَ يَحْتَاجُ إِلَى نِيَّةٍ وَقَصْدٍ فِي
اسْتِقْرَارِ الْمِلْكِيَّةِ، كَمَا قَالُوا: إِنَّ الاِسْتِيلاَءَ بِوَسَاطَةِ
آلَةٍ وَحِرْفَةٍ وَمَهَارَةٍ يَحْتَاجُ إِلَى الْقَصْدِ لِيَكُونَ اسْتِيلاَءً
حَقِيقِيًّا، وَإِلاَّ كَانَ اسْتِيلاَءً حُكْمِيًّا. جَاءَ فِي الْفَتَاوَى
الْهِنْدِيَّةِ فِيمَنْ عَلَّقَ كُوزَهُ، أَوْ وَضَعَهُ فِي سَطْحِهِ، فَأَمْطَرَ
السَّحَابُ وَامْتَلأََ الْكُوزُ مِنْ الْمَطَرِ، فَأَخَذَهُ إِنْسَانٌ،
فَالْحُكْمُ هُوَ اسْتِرْدَادُ الْكُوزِ؛ لأَِنَّهُ مِلْكُ صَاحِبِهِ، وَأَمَّا
الْمَاءُ فَإِنْ كَانَ صَاحِبُ الْكُوزِ قَدْ وَضَعَهُ مِنْ أَجْل جَمْعِ الْمَاءِ
فَيَسْتَرِدُّ الْمَاءَ أَيْضًا، لأَِنَّ مِلْكَهُ حَقِيقِيٌّ حِينَئِذٍ، فَإِنْ
لَمْ يَضَعْهُ لِذَلِكَ لَمْ يَسْتَرِدُّهُ. (١)
16. Harta mubah adalah segala sesuatu yang Allah
ciptakan agar manusia dapat mengambil manfaat darinya dengan cara yang lazim, yang
belum berada dalam penguasaan seseorang, serta memungkinkan untuk dikuasai.
Setiap orang berhak memilikinya, baik berupa hewan, tumbuhan, maupun benda
mati.
Dalilnya adalah sabda Nabi ﷺ:
“Barang siapa lebih dahulu
mendapatkan sesuatu yang belum didahului oleh seorang Muslim pun untuk
mendapatkannya, maka sesuatu itu menjadi miliknya.”
Kepemilikan tersebut tidak menjadi
tetap kecuali setelah terjadi penguasaan yang nyata. Para fuqaha
menjelaskan penguasaan ini dalam dua bentuk:
- Meletakkan tangan pada sesuatu yang mubah, yaitu penguasaan secara langsung.
- Sesuatu tersebut berada dalam jangkauan tangan, yaitu penguasaan secara potensial.
Para ulama mengatakan bahwa
penguasaan dalam salah satu dari kedua bentuk tersebut tidak memerlukan niat
dan tujuan tertentu agar kepemilikan menjadi tetap.
Namun, mereka juga menjelaskan bahwa
penguasaan yang dilakukan dengan perantara alat, keahlian, atau keterampilan
memerlukan adanya niat, agar dapat dianggap sebagai penguasaan yang
nyata. Jika tidak disertai niat, maka penguasaan tersebut hanya merupakan penguasaan
secara hukum (istīlā’ ḥukmī).
Dalam Fatāwā al-Hindiyyah
disebutkan mengenai seseorang yang memasang wadahnya atau meletakkannya di atas
atap rumahnya, kemudian hujan turun dan wadah tersebut terisi air hujan, lalu
seseorang mengambilnya. Hukumnya adalah wadah tersebut harus dikembalikan,
karena merupakan milik pemiliknya.
Adapun mengenai air yang berada
di dalam wadah, apabila pemilik wadah memang meletakkannya dengan tujuan mengumpulkan
air, maka ia juga berhak mengambil kembali air tersebut, karena pada saat
itu air tersebut telah menjadi miliknya secara nyata.
Namun, jika ia tidak meletakkan
wadah tersebut dengan tujuan mengumpulkan air, maka ia tidak berhak
mengambil kembali air tersebut.
وَمِنْ أَمْثِلَةِ
الأَْمْوَال الْمُبَاحَةِ الْمَاءُ وَالْكَلأَُ وَالنَّارُ وَالْمَوَاتُ
وَالرِّكَازُ وَالْمَعَادِنُ وَالْحَيَوَانَاتُ غَيْرُ الْمَمْلُوكَةِ. وَلِكُلٍّ
أَحْكَامُهُ
Di antara contoh harta mubah adalah air,
rerumputan, api, tanah mati (tanah yang belum dimiliki atau dikelola), rikāz
(harta terpendam), barang tambang, serta hewan-hewan yang belum dimiliki.
Masing-masing memiliki ketentuan hukum tersendiri.
الْمَطْلَبُ
الثَّانِي
Pembahasan Kedua
مَا أَذِنَ
فِيهِ الشَّارِعُ عَلَى وَجْهِ الاِنْتِفَاعِ
Sesuatu
yang Diizinkan oleh Syāri‘ dalam Bentuk Pemanfaatan
١٧ - وَهُوَ مَا
يُسَمَّى بِالْمَنَافِعِ الْعَامَّةِ، الَّتِي جَعَل اللَّهُ إِبَاحَتَهَا
تَيْسِيرًا عَلَى عِبَادِهِ، لِيَتَقَرَّبُوا إِلَيْهِ فِيهَا، أَوْ لِيُمَارِسُوا
أَعْمَالَهُمْ فِي الْحَيَاةِ مُسْتَعِينِينَ بِهَا، كَالْمَسَاجِدِ، وَالطُّرُقِ.
وَيُرْجَعُ لِمَعْرِفَةِ تَفْصِيل أَحْكَامِهِمَا إِلَى مُصْطَلَحَيْهِمَا.
17. Hal ini disebut al-manāfi‘ al-‘āmmah (kemanfaatan umum),
yaitu berbagai kemanfaatan yang Allah jadikan boleh sebagai bentuk
kemudahan bagi hamba-hamba-Nya, agar mereka dapat mendekatkan diri
kepada-Nya melalui kemanfaatan tersebut atau dapat menjalankan aktivitas
kehidupan mereka dengan memanfaatkannya.
Contohnya adalah masjid dan jalan
umum.
Untuk mengetahui rincian hukum mengenai
keduanya, dapat merujuk kepada pembahasan khusus tentang istilah “masjid”
dan “jalan”.
الْمَأْذُونُ
فِيهِ مِنَ الْعِبَادِ
Sesuatu yang Diizinkan oleh Manusia
١٨ - إِبَاحَةُ
الْعِبَادِ كَذَلِكَ عَلَى نَوْعَيْنِ: نَوْعٌ يَكُونُ التَّسْلِيطُ فِيهِ عَلَى
الْعَيْنِ لاِسْتِهْلاَكِهَا، وَنَوْعٌ يَكُونُ التَّسْلِيطُ فِيهِ عَلَى
الْعَيْنِ لِلاِنْتِفَاعِ بِهَا فَقَطْ.
18. Ibāḥah yang diberikan oleh manusia juga terbagi
menjadi dua jenis:
- Jenis pertama,
yaitu pemberian izin untuk menguasai suatu benda dengan tujuan mengonsumsinya
atau menghabiskannya.
- Jenis kedua,
yaitu pemberian izin untuk menguasai suatu benda hanya untuk memanfaatkannya,
tanpa mengonsumsinya atau menghabiskannya.
إِبَاحَةُ
الاِسْتِهْلاَكِ:
Ibāḥah untuk Konsumsi
١٩ - لِهَذِهِ
الإِْبَاحَةِ جُزْئِيَّاتٌ كَثِيرَةٌ نَكْتَفِي مِنْهَا بِمَا يَأْتِي:
19. Ibāḥah jenis ini memiliki banyak bentuk. Di antaranya
adalah sebagai berikut:
أ - الْوَلاَئِمُ
بِمُنَاسَبَاتِهَا الْمُتَعَدِّدَةِ وَالْمُبَاحُ فِيهَا الأَْكْل وَالشُّرْبُ
دُونَ الأَْخْذِ.
ب - الضِّيَافَةُ. وَيُرْجَعُ
فِي تَفْصِيل أَحْكَامِهِمَا إِلَى مُصْطَلَحَيْهِمَا.
A. Jamuan makanan (walā’im)
Jamuan yang diadakan dalam berbagai kesempatan. Dalam jamuan tersebut, yang
dibolehkan adalah makan dan minum, bukan mengambil atau membawa
makanan tersebut.
B. Jamuan tamu (ḍiyāfah)
Adapun rincian hukum mengenai keduanya dapat dirujuk pada pembahasan khusus
tentang istilah walīmah dan ḍiyāfah.
إِبَاحَةُ
الاِنْتِفَاعِ:
Ibāḥah untuk Pemanfaatan
٢٠ - هَذَا
النَّوْعُ مِنَ الإِْبَاحَةِ قَدْ يَكُونُ مَعَ مِلْكِ الآْذِنِ لِعَيْنِ مَا
أُذِنَ الاِنْتِفَاعُ بِهِ كَإِذْنِ مَالِكِ الدَّابَّةِ أَوِ السَّيَّارَةِ لِغَيْرِهِ
بِرُكُوبِهَا، وَإِذْنِ مَالِكِ الْكُتُبِ لِلاِطِّلاَعِ عَلَيْهَا. وَقَدْ
يَكُونُ الإِْذْنُ فِيمَا لاَ يُمْلَكُ عَيْنُهُ، وَلَكِنْ يُمْلَكُ مَنْفَعَتُهُ
بِمِثْل الإِْجَارَةِ أَوِ الإِْعَارَةِ، إِنْ لَمْ يُشْتَرَطْ فِيهِمَا أَنْ
يَكُونَ الاِنْتِفَاعُ شَخْصِيًّا لِلْمُسْتَأْجِرِ وَالْمُسْتَعِيرِ.
20. Jenis ibāḥah ini terkadang berkaitan dengan kepemilikan
orang yang memberikan izin atas benda yang pemanfaatannya diizinkan,
seperti pemilik hewan tunggangan atau mobil memberikan izin kepada orang lain untuk
mengendarainya, atau pemilik buku memberikan izin kepada orang lain
untuk membacanya dan mempelajarinya.
Terkadang pula izin tersebut
berkaitan dengan sesuatu yang bendanya tidak dimiliki, tetapi manfaatnya
dapat dimiliki, seperti dalam sewa-menyewa (ijārah) atau pinjam-meminjam
(‘āriyah), selama dalam kedua akad tersebut tidak disyaratkan bahwa
pemanfaatannya harus dilakukan secara pribadi oleh penyewa atau peminjam.
تَقْسِيمَاتُ
الإِْبَاحَةِ:
Pembagian-Pembagian Ibāḥah
٢١ - لِلإِْبَاحَةِ
تَقْسِيمَاتٌ شَتَّى بِاعْتِبَارَاتٍ مُخْتَلِفَةٍ، وَقَدْ تَقَدَّمَ أَكْثَرُهَا.
وَبَقِيَ الْكَلاَمُ عَنْ تَقْسِيمِهَا مِنْ حَيْثُ مَصْدَرُهَا وَمِنْ حَيْثُ
الْكُلِّيَّةُ وَالْجُزْئِيَّةُ:
21. Ibāḥah memiliki berbagai macam pembagian berdasarkan beragam
tinjauan, dan sebagian besar di antaranya telah dijelaskan sebelumnya.
Masih tersisa pembahasan mengenai
pembagian ibāḥah berdasarkan sumbernya, serta berdasarkan sifatnya yang bersifat
umum (kullī) atau khusus/parsial (juz’ī).
أ - تَقْسِيمُهَا مِنْ حَيْثُ
مَصْدَرُهَا:
A.
Pembagian Ibāḥah Berdasarkan Sumbernya:
٢٢ - تُقَسَّمُ
بِهَذَا الاِعْتِبَارِ إِلَى
22. Berdasarkan tinjauan ini, ibāḥah dibagi menjadi:
إِبَاحَةٍ أَصْلِيَّةٍ، بِأَلاَّ
يَرِدَ فِيهَا نَصٌّ مِنَ الشَّارِعِ، وَبَقِيَتْ عَلَى الأَْصْل، وَقَدْ سَبَقَ
بَيَانُهَا.
1. Ibāḥah Aṣliyyah
Yaitu ibāḥah yang tidak terdapat
nash dari Syāri‘ yang secara khusus menetapkannya, sehingga perkara
tersebut tetap berada pada hukum asalnya. Penjelasannya telah
dikemukakan sebelumnya.
وَإِبَاحَةٌ شَرْعِيَّةٌ:
2. Ibāḥah
Syar‘iyyah
بِمَعْنَى وُرُودِ نَصٍّ مِنَ
الشَّارِعِ بِالتَّخْيِيرِ، وَذَلِكَ إِمَّا ابْتِدَاءً كَإِبَاحَةِ الأَْكْل
وَالشُّرْبِ، وَإِمَّا بَعْدَ حُكْمٍ سَابِقٍ مُخَالِفٍ، كَمَا فِي النَّسْخِ أَوِ
الرُّخَصِ، وَقَدْ سَبَقَ.
Yaitu ibāḥah dalam pengertian adanya
nash dari Syāri‘ yang memberikan pilihan. Hal ini dapat terjadi dalam dua
keadaan:
- Sejak awal,
seperti kebolehan makan dan minum.
- Setelah adanya hukum sebelumnya yang berbeda, sebagaimana terjadi dalam nasakh atau rukhsah
(keringanan). Penjelasannya juga telah dikemukakan sebelumnya.
عَلَى أَنَّهُ مِمَّا
يَنْبَغِي مُلاَحَظَتُهُ أَنَّهُ بَعْدَ وُرُودِ الشَّرْعِ أَصْبَحَتِ
الإِْبَاحَةُ الأَْصْلِيَّةُ إِبَاحَةً شَرْعِيَّةً لِقَوْل اللَّهِ تَعَالَى
{هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الأَْرْضِ جَمِيعًا} (١)
Namun, perlu diperhatikan bahwa setelah
datangnya syariat, ibāḥah aṣliyyah menjadi ibāḥah syar‘iyyah, berdasarkan
firman Allah Ta‘ala:
“Dialah yang menciptakan untuk
kalian segala sesuatu yang ada di bumi.”
وَقَوْلِهِ: {وَسَخَّرَ
لَكُمْ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الأَْرْضِ جَمِيعًا مِنْهُ} (١)
Dan firman-Nya:
“Dan Dia telah menundukkan untuk
kalian apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya dari-Nya.”
فَإِنَّ هَذَا النَّصَّ يَدُل
عَلَى أَنَّ كُل مَا خَلَقَهُ اللَّهُ يَكُونُ مُبَاحًا إِلاَّ مَا وَرَدَ دَلِيلٌ
يُثْبِتُ لَهُ حُكْمًا آخَرَ، عَلَى خِلاَفٍ وَتَفْصِيلٍ يُرْجَعُ إِلَيْهِ فِي
الْمُلْحَقِ الأُْصُولِيِّ. (٢)
Nash-nash tersebut menunjukkan bahwa
segala sesuatu yang Allah ciptakan pada dasarnya adalah mubah, kecuali
terdapat dalil yang menetapkan hukum lain baginya. Mengenai hal ini
terdapat perbedaan pendapat dan perincian yang dapat dirujuk dalam lampiran
usul fikih.
وَقَدْ يَكُونُ مَصْدَرُ
الإِْبَاحَةِ إِذْنَ الْعِبَادِ بَعْضِهِمْ لِبَعْضٍ عَلَى مَا سَبَقَ. (ف ٩) . (٣)
Sumber ibāḥah juga terkadang berasal
dari izin yang diberikan oleh sesama manusia kepada satu sama lain,
sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
ب - تَقْسِيمُهَا
بِاعْتِبَارِ الْكُلِّيَّةِ وَالْجُزْئِيَّةِ:
B.
Pembagian Ibāḥah Berdasarkan Sifat Kullī dan Juz’ī
٢٣ - تَنْقَسِمُ
أَرْبَعَةَ أَقْسَامٍ:
23. Berdasarkan sifatnya yang kullī (umum/keseluruhan)
dan juz’ī (khusus/parsial), ibāḥah terbagi menjadi empat macam:
١ - إِبَاحَةٌ
لِلْجُزْءِ مَعَ طَلَبِ الْكُل عَلَى جِهَةِ الْوُجُوبِ، كَالأَْكْل مَثَلاً،
فَيُبَاحُ أَكْل نَوْعٍ وَتَرْكُ آخَرَ مِمَّا أَذِنَ بِهِ الشَّرْعُ، وَلَكِنَّ
الاِمْتِنَاعَ عَنِ الأَْكْل جُمْلَةً حَرَامٌ لِمَا يَتَرَتَّبُ عَلَيْهِ مِنَ
الْهَلاَكِ.
1. Ibāḥah pada
Sebagian Perbuatan, Disertai Tuntutan Wajib pada Keseluruhannya
Yaitu suatu perbuatan yang sebagian
bentuknya diperbolehkan, sementara secara keseluruhan terdapat tuntutan
untuk melakukannya secara wajib.
Contohnya adalah makan.
Seseorang diperbolehkan memilih untuk memakan salah satu jenis makanan
dan meninggalkan jenis makanan lainnya yang diizinkan oleh syariat.
Namun, meninggalkan makan secara
keseluruhan adalah haram, karena hal tersebut dapat mengakibatkan kebinasaan
atau kematian.
٢ - إِبَاحَةٌ لِلْجُزْءِ
مَعَ طَلَبِ الْكُل عَلَى جِهَةِ النَّدْبِ، كَالتَّمَتُّعِ بِمَا فَوْقَ
الْحَاجَةِ مِنْ طَيِّبَاتِ الأَْكْل وَالشُّرْبِ، فَذَلِكَ مُبَاحٌ يَجُوزُ
تَرْكُهُ فِي بَعْضِ الأَْحْيَانِ، وَلَكِنَّ هَذَا التَّمَتُّعَ مَنْدُوبٌ
إِلَيْهِ بِاعْتِبَارِ الْكُل، عَلَى مَعْنَى أَنَّ تَرْكَهُ جُمْلَةً يُخَالِفُ
مَا نَدَبَ إِلَيْهِ الشَّرْعُ مِنَ التَّحَدُّثِ بِنِعْمَةِ اللَّهِ
وَالتَّوْسِعَةِ، كَمَا فِي حَدِيثِ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُحِبُّ أَنْ يَرَى
أَثَرَ نِعْمَتِهِ عَلَى عَبْدِهِ (٤) وَكَمَا قَال عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ
رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ إِذَا أَوْسَعَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ فَأَوْسِعُوا
عَلَى أَنْفُسِكُمْ (١) .
2. Ibāḥah pada
Sebagian Perbuatan, Disertai Tuntutan Sunnah pada Keseluruhannya
Yaitu suatu perbuatan yang sebagian
bentuknya diperbolehkan, sementara secara keseluruhan perbuatan tersebut dianjurkan
(mandub).
Contohnya adalah menikmati
makanan dan minuman yang baik melebihi kebutuhan. Hal tersebut pada
dasarnya mubah, sehingga seseorang boleh meninggalkannya pada sebagian
waktu.
Namun, menikmati kenikmatan tersebut
secara keseluruhan dianjurkan, dalam arti bahwa meninggalkannya secara
total bertentangan dengan apa yang dianjurkan syariat, yaitu menampakkan
nikmat Allah dan memberikan kelapangan kepada diri sendiri.
Sebagaimana dalam hadis:
“Sesungguhnya Allah Ta‘ala menyukai
jika Dia melihat bekas nikmat-Nya pada hamba-Nya.”
Sebagaimana pula perkataan ‘Umar
bin al-Khaṭṭāb radhiyallāhu ‘anhu:
“Apabila Allah memberikan kelapangan
kepada kalian, maka berilah kelapangan kepada diri kalian.”
٣ - إِبَاحَةٌ لِلْجُزْءِ مَعَ التَّحْرِيمِ بِاعْتِبَارِ
الْكُل، كَالْمُبَاحَاتِ الَّتِي تَقْدَحُ الْمُدَاوَمَةُ عَلَيْهَا فِي
الْعَدَالَةِ، كَاعْتِيَادِ الْحَلِفِ، وَشَتْمِ الأَْوْلاَدِ، فَذَلِكَ مُبَاحٌ
فِي الأَْصْل، لَكِنَّهُ مُحَرَّمٌ بِالاِعْتِيَادِ.
3. Ibāḥah pada
Sebagian Perbuatan, tetapi Menjadi Haram jika Ditinjau secara Keseluruhan
Yaitu perkara-perkara yang pada
asalnya mubah, tetapi jika dilakukan secara terus-menerus hingga menjadi
kebiasaan, maka hukumnya dapat menjadi haram.
Contohnya adalah terbiasa
bersumpah dan mencaci anak-anak. Perbuatan tersebut pada asalnya
termasuk perkara yang mubah, tetapi menjadikannya sebagai kebiasaan
terus-menerus adalah haram.
٤ - إِبَاحَةٌ
لِلْجُزْءِ مَعَ الْكَرَاهَةِ بِاعْتِبَارِ الْكُل، كَاللَّعِبِ الْمُبَاحِ،
فَإِنَّ ذَلِكَ وَإِنْ كَانَ مُبَاحًا بِالأَْصْل إِلاَّ أَنَّ الْمُدَاوَمَةَ
عَلَيْهِ مَكْرُوهَةٌ.
4. Ibāḥah pada
Sebagian Perbuatan, tetapi Makruh jika Ditinjau secara Keseluruhan
Yaitu suatu perbuatan yang pada
dasarnya mubah ketika dilakukan sesekali, tetapi menjadi makruh apabila
dilakukan secara terus-menerus.
Contohnya adalah permainan yang
mubah. Meskipun permainan tersebut pada asalnya diperbolehkan, terus-menerus
melakukannya hukumnya makruh.
آثَارُ
الإِبَاحَةِ:
Dampak dan Konsekuensi Ibāḥah
٢٤ - إِذَا
ثَبَتَتِ الإِْبَاحَةُ ثَبَتَ لَهَا مِنَ الآْثَارِ مَا يَلِي:
24. Apabila ibāḥah telah ditetapkan, maka beberapa
konsekuensi hukum berikut berlaku:
١ - رَفْعُ
الإِْثْمِ وَالْحَرَجِ.
1. Gugurnya Dosa
dan Kesulitan
وَذَلِكَ مَا يَدُل عَلَيْهِ
تَعْرِيفُ الإِْبَاحَةِ بِأَنَّهُ لاَ يَتَرَتَّبُ عَلَى الْفِعْل الْمُبَاحِ
إِثْمٌ.
Hal ini ditunjukkan oleh definisi
ibāḥah, yaitu bahwa tidak ada dosa yang timbul akibat melakukan suatu
perbuatan yang mubah.
٢ - التَّمْكِينُ
مِنَ التَّمَلُّكِ الْمُسْتَقِرِّ بِالنِّسْبَةِ لِلْعَيْنِ، وَالاِخْتِصَاصُ
بِالنِّسْبَةِ لِلْمَنْفَعَةِ:
2. Memungkinkan
Kepemilikan yang Tetap atas Benda dan Kekhususan Hak atas Manfaat
وَذَلِكَ لأَِنَّ
الإِْبَاحَةَ طَرِيقٌ لِتَمَلُّكِ الْعَيْنِ الْمُبَاحَةِ. هَذَا بِالنِّسْبَةِ
لِلْعَيْنِ. أَمَّا بِالنِّسْبَةِ لِلْمَنْفَعَةِ الْمُبَاحَةِ فَإِنَّ أَثَرَ
الإِْبَاحَةِ فِيهَا اخْتِصَاصُ الْمُبَاحِ لَهُ بِالاِنْتِفَاعِ، وَعِبَارَاتُ
الْفُقَهَاءِ فِي الْمَذَاهِبِ الْمُخْتَلِفَةِ تَتَّفِقُ فِي أَنَّ تَصَرُّفَ
الْمَأْذُونِ لَهُ فِي طَعَامِ الْوَلِيمَةِ قَبْل وَضْعِهِ فِي فَمِهِ لاَ
يَجُوزُ بِغَيْرِ الأَْكْل، إِلاَّ إِذَا أَذِنَ لَهُ صَاحِبُ الْوَلِيمَةِ أَوْ
دَل عَلَيْهِ عُرْفٌ أَوْ قَرِينَةٌ. وَبِهَذَا تُفَارِقُ الإِْبَاحَةُ الْهِبَةَ
وَالصَّدَقَةَ بِأَنَّ فِيهِمَا تَمْلِيكًا، كَمَا أَنَّهَا تُفَارِقُ
الْوَصِيَّةَ حَيْثُ تَكُونُ هَذِهِ مُضَافَةً إِلَى مَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَلاَ
بُدَّ فِيهَا مِنْ إِذْنِ الدَّائِنِينَ وَالْوَرَثَةِ أَحْيَانًا، كَمَا لاَ
بُدَّ مِنْ صِيغَةٍ فِي الْوَصِيَّةِ. (١)
Hal ini karena ibāḥah merupakan
salah satu jalan untuk memperoleh kepemilikan atas benda yang mubah. Ini
berkaitan dengan benda (‘ain).
Adapun berkaitan dengan manfaat
yang dibolehkan, maka dampak ibāḥah adalah memberikan hak khusus kepada
orang yang diberi izin untuk memanfaatkan sesuatu tersebut.
Ungkapan para fuqaha dari berbagai
mazhab menunjukkan kesepakatan bahwa orang yang diberi izin untuk menikmati
makanan dalam suatu walimah, sebelum makanan tersebut dimasukkan ke dalam
mulutnya, tidak diperbolehkan memperlakukannya untuk tujuan selain memakannya,
kecuali apabila pemilik walimah memberikan izin untuk itu, atau terdapat ‘urf
(kebiasaan) atau qarīnah (indikasi) yang menunjukkan kebolehan tersebut.
Dengan demikian, ibāḥah berbeda
dari hibah dan sedekah, karena dalam hibah dan sedekah terdapat unsur pemindahan
kepemilikan (tamlik).
Ibāḥah juga berbeda dari wasiat,
karena wasiat berlaku setelah kematian, dan dalam kondisi tertentu
diperlukan izin para kreditor dan ahli waris, sebagaimana wasiat juga
harus disertai ṣīghah (ungkapan akad).
٢٥ - هَذِهِ هِيَ
آثَارُ الإِْبَاحَةِ لِلأَْعْيَانِ فِي إِذْنِ الْعِبَادِ. أَمَّا آثَارُ الإِْبَاحَةِ
لِلْمَنَافِعِ فَإِنَّ إِبَاحَتَهَا لاَ تُفِيدُ إِلاَّ حِل الاِنْتِفَاعِ فَقَطْ،
عَلَى مَا تَقَدَّمَ تَفْصِيلُهُ. فَحَقُّ الاِنْتِفَاعِ الْمُجَرَّدِ مِنْ قَبِيل
التَّرْخِيصِ بِالاِنْتِفَاعِ الشَّخْصِيِّ دُونَ الاِمْتِلاَكِ، وَمِلْكُ
الْمَنْفَعَةِ فِيهِ اخْتِصَاصٌ حَاجِزٌ لِحَقِّ الْمُسْتَأْجِرِ مِنْ مَنَافِعِ
الْمُؤَجِّرِ، فَهُوَ أَقْوَى وَأَشْمَل؛ لأَِنَّ فِيهِ حَقَّ الاِنْتِفَاعِ
وَزِيَادَةً. وَآثَارُ ذَلِكَ قَدْ تَقَدَّمَ الْكَلاَمُ عَلَيْهَا.
25. Inilah dampak ibāḥah terhadap benda-benda
(‘ain) dalam hal izin yang diberikan oleh manusia.
Adapun dampak ibāḥah terhadap manfaat, maka kebolehannya
hanya memberikan hak untuk memanfaatkan sesuatu, sebagaimana
telah dijelaskan secara terperinci sebelumnya.
Dengan demikian, hak pemanfaatan semata termasuk bentuk
pemberian izin untuk pemanfaatan pribadi tanpa disertai kepemilikan.
Sedangkan kepemilikan atas manfaat merupakan suatu hak
khusus yang membatasi hak penyewa terhadap manfaat yang dimiliki oleh pihak
yang menyewakan. Oleh karena itu, kepemilikan manfaat ini lebih
kuat dan lebih luas, karena di dalamnya terdapat hak untuk
memanfaatkan sekaligus hak tambahan berupa penguasaan atas manfaat tersebut.
Adapun konsekuensi hukum dari hal tersebut telah dijelaskan sebelumnya.
الإِبَاحَةُ
وَالضَّمَانُ:
Ibāḥah dan Ḍamān (Ganti Rugi)
٢٦ - الإِْبَاحَةُ لاَ
تُنَافِي الضَّمَانَ فِي الْجُمْلَةِ؛ لأَِنَّ إِبَاحَةَ اللَّهِ - وَإِنْ كَانَ
فِيهَا رَفْعُ الْحَرَجِ وَالإِْثْمِ - إِلاَّ أَنَّهَا قَدْ يَكُونُ مَعَهَا
ضَمَانٌ، فَإِبَاحَةُ الاِنْتِفَاعِ تَقْتَضِي صِيَانَةَ الْعَيْنِ الْمُبَاحَةِ
عَنِ التَّخْرِيبِ وَالضَّرَرِ، وَمَا حَدَثَ مِنْ ذَلِكَ لاَ بُدَّ مِنْ
ضَمَانِهِ. وَإِبَاحَةُ الأَْعْيَانِ كَأَخْذِ الْمُضْطَرِّ طَعَامَ غَيْرِهِ لاَ
تَمْنَعُ ضَمَانَ قِيمَتِهِ إِذَا كَانَ بِغَيْرِ إِذْنِهِ؛ لأَِنَّ اللَّهَ جَعَل
لِلْعَبْدِ حَقًّا فِي مِلْكِهِ، فَلاَ يُنْقَل الْمِلْكُ مِنْهُ إِلَى غَيْرِهِ
إِلاَّ بِرِضَاهُ، وَلاَ يَصِحُّ الإِْبْرَاءُ مِنْهُ إِلاَّ بِإِسْقَاطِهِ، كَمَا
يَقُول الْقَرَافِيُّ فِي الْفُرُوقِ (١) .
26. Ibāḥah pada dasarnya tidak bertentangan dengan kewajiban
memberikan ganti rugi (ḍamān). Sebab, meskipun ibāḥah dari Allah mengandung
penghapusan kesulitan dan dosa, terkadang ibāḥah tetap disertai kewajiban
ḍamān.
Kebolehan untuk memanfaatkan sesuatu
mengharuskan agar benda yang boleh dimanfaatkan tersebut dijaga dari
kerusakan dan bahaya. Apabila terjadi kerusakan atau kerugian akibatnya,
maka kerusakan tersebut wajib diberikan ganti rugi.
Demikian pula, kebolehan
mengambil atau memanfaatkan suatu benda, seperti orang yang berada dalam
keadaan darurat mengambil makanan milik orang lain, tidak menghilangkan
kewajiban mengganti nilainya apabila pengambilan tersebut dilakukan tanpa
izin pemiliknya.
Hal ini karena Allah telah
menetapkan bagi seorang hamba hak atas harta miliknya. Oleh sebab itu,
kepemilikan tersebut tidak dapat dipindahkan kepada orang lain kecuali dengan kerelaan
pemiliknya.
Demikian pula, hak tersebut tidak
dapat dinyatakan bebas atau gugur kecuali dengan penghapusan hak tersebut
oleh pemiliknya. Sebagaimana dijelaskan oleh al-Qarāfī dalam kitab al-Furūq.
وَحَكَى الْقَرَافِيُّ فِي
هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ قَوْلَيْنِ: أَحَدُهُمَا: لاَ يُضْمَنُ؛ لأَِنَّ الدَّفْعَ
كَانَ وَاجِبًا عَلَى الْمَالِكِ، وَالْوَاجِبُ لاَ يُؤْخَذُ لَهُ عِوَضٌ.
Al-Qarāfī menukil dua pendapat dalam persoalan ini:
Pendapat pertama: Tidak wajib memberikan ganti rugi, karena
pemilik memang berkewajiban menyerahkan makanan tersebut,
sedangkan sesuatu yang wajib diberikan tidak ada kewajiban memberikan
penggantian atasnya.
وَالْقَوْل الثَّانِي:
يَجِبُ، وَهُوَ الأَْظْهَرُ وَالأَْشْهَرُ؛ لأَِنَّ إِذْنَ الْمَالِكِ لَمْ
يُوجَدْ، وَإِنَّمَا وُجِدَ إِذْنُ صَاحِبِ الشَّرْعِ، وَهُوَ لاَ يُوجِبُ سُقُوطَ
الضَّمَانِ، وَإِنَّمَا يَنْفِي الإِْثْمَ وَالْمُؤَاخَذَةَ بِالْعِقَابِ.
Pendapat kedua: Wajib memberikan ganti rugi. Pendapat ini
merupakan pendapat yang lebih kuat dan lebih masyhur, karena izin
dari pemilik harta tidak ada. Yang ada hanyalah izin dari Pembuat
Syariat (Allah). Izin dari Syāri‘ tersebut tidak mengharuskan
gugurnya kewajiban ganti rugi, tetapi hanya menghilangkan dosa
dan pertanggungjawaban berupa hukuman.
أَمَّا إِبَاحَةُ الْعِبَادِ
بَعْضِهِمْ لِبَعْضٍ فَقَدْ تَقَدَّمَ الْكَلاَمُ عَلَيْهَا مُفَصَّلاً.
Adapun ibāḥah yang diberikan oleh sesama manusia kepada yang lainnya,
penjelasannya telah dikemukakan secara terperinci sebelumnya.
مَا
تَنْتَهِي بِهِ الإِبَاحَةُ:
Hal-Hal yang Mengakhiri Ibāḥah
٢٧ - أَوَّلاً:
إِبَاحَةُ اللَّهِ سُبْحَانَهُ لاَ تَنْتَهِي مِنْ جِهَتِهِ هُوَ؛ لأَِنَّهُ
سُبْحَانَهُ حَيٌّ بَاقٍ، وَالْوَحْيُ قَدِ انْقَطَعَ، فَلاَ وَحْيَ بَعْدَ
مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنَّمَا تَنْتَهِي بِانْتِهَاءِ
دَوَاعِيهَا، كَمَا فِي الرُّخَصِ، فَإِذَا وُجِدَ السَّفَرُ فِي نَهَارِ
رَمَضَانَ مَثَلاً وُجِدَتِ الإِْبَاحَةُ بِالتَّرْخِيصِ فِي الْفِطْرِ، فَإِذَا
انْتَهَى السَّفَرُ انْتَهَتِ الرُّخْصَةُ.
27. Pertama: Ibāḥah yang diberikan oleh Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā
tidak berakhir dari sisi Allah sendiri, karena Dia Maha Hidup dan Maha Kekal.
Adapun wahyu telah terputus, sehingga tidak ada wahyu setelah Nabi Muhammad ﷺ.
Ibāḥah berakhir karena berakhirnya
sebab-sebab yang melahirkannya, sebagaimana yang terjadi pada rukhsah
(keringanan).
Sebagai contoh, apabila seseorang melakukan
perjalanan pada siang hari di bulan Ramadan, maka terdapat ibāḥah berupa keringanan
untuk tidak berpuasa. Namun, apabila perjalanan tersebut telah berakhir,
maka rukhsah tersebut juga berakhir.
٢٨ - ثَانِيًا:
وَإِبَاحَةُ الْعِبَادِ تَنْتَهِي بِأُمُورٍ:
28. Kedua: Ibāḥah
yang Diberikan oleh Sesama Manusia Berakhir karena Beberapa Hal
أ - انْتِهَاءُ مُدَّتِهَا
إِنْ كَانَتْ مُقَيَّدَةً بِزَمَنٍ، فَالْمُؤْمِنُونَ عِنْدَ شُرُوطِهِمْ، وَإِذَا
فُقِدَ الشَّرْطُ فُقِدَ الْمَشْرُوطُ.
A. Berakhirnya masa berlaku ibāḥah
Apabila ibāḥah dibatasi oleh waktu
tertentu, maka ketika masa tersebut berakhir, ibāḥah juga berakhir. Sebab, orang-orang
mukmin terikat dengan syarat-syarat yang mereka sepakati. Apabila syaratnya
tidak ada lagi, maka sesuatu yang bergantung pada syarat tersebut juga tidak
ada lagi.
ب - رُجُوعُ الآْذِنِ فِي
إِذْنِهِ، حَيْثُ إِنَّهُ لَيْسَ وَاجِبًا عَلَيْهِ، فَهُوَ تَبَرُّعٌ مِنْهُ،
كَمَا قَال جُمْهُورُ الْعُلَمَاءِ. وَهِيَ لاَ تَنْتَهِي بِمُجَرَّدِ الرُّجُوعِ،
بَل لاَ بُدَّ مِنْ عِلْمِ الْمَأْذُونِ لَهُ بِهِ، كَمَا هُوَ مُقْتَضَى
قَوَاعِدِ الْحَنَفِيَّةِ، وَهُوَ قَوْلٌ لِلشَّافِعِيِّ.
B. Pemberi izin menarik kembali
izinnya
Ibāḥah juga berakhir apabila orang
yang memberikan izin menarik kembali izinnya, karena memberikan izin
bukanlah sesuatu yang wajib baginya, melainkan merupakan bentuk pemberian
sukarela (tabarru‘), sebagaimana pendapat mayoritas ulama.
Namun, ibāḥah tidak berakhir
hanya dengan adanya pencabutan izin semata. Pihak yang sebelumnya
memperoleh izin harus terlebih dahulu mengetahui bahwa izin tersebut telah
dicabut. Demikianlah konsekuensi kaidah-kaidah yang digunakan oleh ulama
Hanafiyah, dan hal ini juga merupakan salah satu pendapat Imam al-Syāfi‘i.
وَذَكَرَ السُّيُوطِيُّ فِي
الأَْشْبَاهِ وَالنَّظَائِرِ (١) قَوْلاً آخَرَ لِلشَّافِعِيِّ، يُفِيدُ أَنَّ
الإِْبَاحَةَ تَنْتَهِي بِمُجَرَّدِ رُجُوعِ الآْذِنِ، وَلَوْ لَمْ يَعْلَمِ
الْمَأْذُونُ لَهُ.
Al-Suyūṭī menyebutkan dalam al-Asybāh
wa al-Naẓā’ir pendapat lain dari Imam al-Syāfi‘i yang menunjukkan bahwa ibāḥah
berakhir hanya dengan pencabutan izin oleh pemberi izin, meskipun pihak
yang sebelumnya memperoleh izin belum mengetahui pencabutan tersebut.
ج - مَوْتُ الآْذِنِ؛
لِبُطْلاَنِ الإِْذْنِ بِمَوْتِهِ، فَتَنْتَهِي آثَارُهُ.
C. Meninggalnya pemberi izin
Ibāḥah berakhir karena meninggalnya pihak yang memberikan izin,
sebab dengan kematiannya, izin tersebut menjadi batal sehingga seluruh
akibat hukumnya juga berakhir.
د - مَوْتُ الْمَأْذُونِ
لَهُ؛ لأَِنَّ حَقَّ الاِنْتِفَاعِ رُخْصَةٌ شَخْصِيَّةٌ لَهُ لاَ تَنْتَقِل إِلَى
وَرَثَتِهِ إِلاَّ إِذَا نَصَّ الآْذِنُ عَلَى خِلاَفِهِ.
D. Meninggalnya pihak yang diberi izin
Ibāḥah juga berakhir karena meninggalnya pihak yang memperoleh izin,
sebab hak untuk memanfaatkan sesuatu merupakan keringanan yang bersifat
pribadi baginya. Hak tersebut tidak berpindah kepada ahli
warisnya, kecuali apabila pihak yang memberikan izin telah menetapkan
ketentuan yang berbeda.
Wallahu A’lam...
Baca juga:
%20dalam%20Fikih%20Islam%20Pengertian%20dan%20Perbedaannya%20dengan%20Jawaz,%20Halal,%20Sah,%20Takhyir,%20dan%20%E2%80%98Afw;%20Dalil,%20Jenis,%20Sumber,%20Objek,%20Dampak,%20Jaminan,%20serta%20Sebab%20Berakhirnya.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar