Pendapat Ulama’ Tentang Salam dalam Shalat : Perbedaan Pendapat Tentang Takbiratul Ihram

Perbedaan Pendapat Tentang Takbiratul Ihram

الثامنة عشرة- واختلف العلماء في السلام ، فقيل : واجب ، وقيل : ليس بواجب. والصحيح وجوبه لحديث عائشة وحديث علي الصحيح خرجه أبو داود والترمذي ورواه سفيان الثوري عن عبد الله بن محمد بن عقيل عن محمد بن الحنفية عن علي قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : "مفتاح الصلاة الطهور وتحريمها التكبير وتحليلها التسليم" وهذا الحديث أصل في إيجاب التكبير والتسليم ، وأنه لا يجزئ عنهما غيرهما كما لا يجزئ عن الطهارة غيرها باتفاق.

Pembahasan kedelapan belas:

Para ulama berbeda pendapat tentang salam (penutup shalat):

  • Ada yang mengatakan: salam itu wajib,
  • dan ada yang mengatakan: salam itu tidak wajib.

Pendapat yang benar adalah: salam itu wajib, berdasarkan hadis Aisha dan hadis Ali ibn Abi Talib yang sahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Al-Tirmidhi.

Dan Sufyan al-Thawri meriwayatkan dari Abd Allah ibn Muhammad ibn Aqil, dari Muhammad ibn al-Hanafiyyah, dari Ali ibn Abi Talib, ia berkata: Rasulullah bersabda:

“Kunci shalat adalah bersuci, yang mengharamkan (memasukkan seseorang ke dalam keadaan shalat) adalah takbir, dan yang menghalalkannya (mengeluarkannya dari shalat) adalah salam.”

 

قال عبد الرحمن بن مهدي : لو افتتح رجل صلاته بسبعين اسما من أسماء الله عز وجل ولم يكبر تكبيرة الإحرام لم يجزه ، وإن أحدث قبل أن يسلم لم يجزه ، وهذا تصحيح من عبد الرحمن بن مهدي لحديث علي ، وهو إمام في علم الحديث ومعرفة صحيحه من سقيمه. وحسبك به!

وقد اختلف العلماء في وجوب التكبير عند الافتتاح وهي :

Abd al-Rahman ibn Mahdi berkata:

“Seandainya seseorang memulai shalatnya dengan menyebut tujuh puluh nama dari nama-nama Allah ‘Azza wa Jalla, tetapi ia tidak mengucapkan takbiratul ihram, maka itu tidak mencukupinya (shalatnya tidak sah). Dan jika ia berhadas sebelum mengucapkan salam, maka itu juga tidak mencukupinya (shalatnya belum sah selesai).”

Ini merupakan penegasan Abd al-Rahman ibn Mahdi atas keshahihan hadis Ali ibn Abi Talib tentang sabda Nabi :

“Kunci shalat adalah bersuci, pembukanya adalah takbir, dan penutupnya adalah salam.”

Dan Abd al-Rahman ibn Mahdi adalah imam besar dalam ilmu hadis, sangat ahli dalam membedakan hadis yang sahih dan yang lemahdan cukuplah kedudukannya sebagai hujjah (otoritas) dalam bidang itu!

“Dan para ulama telah berbeda pendapat tentang kewajiban takbir saat pembukaan shalat, yaitu...”

Perbedaan Pendapat Tentang Takbiratul Ihram

التاسعة عشرة- فقال ابن شهاب الزهري وسعيد بن المسيب والأوزاعي وعبدالرحمن وطائفة : تكبيرة الإحرام ليست بواجبة. وقد روي عن مالك في المأموم ما يدل على هذا القول ، والصحيح من مذهبه إيجاب تكبيرة الإحرام وأنها فرض وركن من أركان الصلاة ، وهو الصواب وعليه الجمهور ، وكل من خالف ذلك فمحجوج بالسنة.

Pembahasan kesembilan belas:

Ibn Shihab al-Zuhri, Sa'id ibn al-Musayyib, Al-Awza'i, Abd al-Rahman ibn Mahdi, dan sekelompok ulama berpendapat bahwa takbiratul ihram tidak wajib.

Dan diriwayatkan dari Malik ibn Anas suatu pendapat tentang makmum yang menunjukkan kecenderungan kepada pendapat ini.

Namun pendapat yang sahih dalam mazhab Malik ibn Anas adalah bahwa takbiratul ihram itu wajib, bahkan ia merupakan fardhu dan salah satu rukun shalat.

Inilah pendapat yang benar, dan inilah yang dipegang oleh jumhur (mayoritas) ulama.

Setiap orang yang menyelisihi pendapat ini telah dibantah oleh sunnah Nabi .

الموفية عشرين- واختلف العلماء في اللفظ الذي يدخل به في الصلاة ، فقال مالك وأصحابه وجمهور العلماء : لا يجزئ إلا التكبير ، لا يجزئ منه تهليل ولا تسبيح ولا تعظيم ولا تحميد.

هذا قول الحجازيين وأكثر العراقيين ، ولا يجزئ عند مالك إلا "الله أكبر" لا غير ذلك.

Pembahasan kedua puluh:

Para ulama berbeda pendapat tentang lafaz yang digunakan untuk masuk ke dalam shalat (takbiratul ihram).

Maka Malik ibn Anas, para pengikutnya, dan jumhur (mayoritas) ulama berkata:

Tidak sah masuk shalat kecuali dengan takbir,
dan tidak cukup diganti dengan:

·         tahlil (Lā ilāha illallāh),

·         tasbih (Subḥānallāh),

·         ta‘zhim (lafaz pengagungan lainnya),

·         atau tahmid (Alḥamdulillāh).

Ini adalah pendapat ulama Hijaz dan kebanyakan ulama Irak.

Dan menurut Malik ibn Anas, yang sah hanyalah lafaz:

الله أكبر  (Allāhu Akbar)

Tidak sah dengan lafaz selain itu.              

وكذلك قال الشافعي وزاد : ويجزئ "الله الأكبر" و"الله الكبير" والحجة لمالك حديث عائشة قالت : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يستفتح الصلاة بالتكبير ، والقراءة بـ {الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ} . وحديث علي : وتحريمها التكبير. وحديث الأعرابي : فكبر.

Demikian pula Muhammad ibn Idris al-Shafi'i berpendapat, hanya saja beliau menambahkan:

Sah juga jika seseorang mengucapkan:

·         الله الأكبر  ,

·         atau الله الكبير  .

Sedangkan hujjah (dalil) bagi pendapat Malik ibn Anas adalah:

Hadis Aisha, ia berkata:

“Rasulullah memulai shalat dengan takbir, dan memulai bacaan dengan:
{الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ}
(Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam...)

yakni awal bacaan beliau adalah surah Al-Fatihah.

Dan hadis Ali ibn Abi Talib:

“Dan yang memasukkan seseorang ke dalam shalat adalah takbir.”

Dan hadis orang Arab badui (hadis المسيء صلاته, orang yang salah shalatnya), Nabi bersabda:

“Maka bertakbirlah!”

وفي سنن ابن ماجة حدثنا أبو بكر بن أبى شيبة وعلي بن محمد الطنافسي قالا : حدثنا أبو أسامة قال حدثني عبد الحميد بن جعفر قال حدثنا محمد ابن عمرو بن عطاء قال سمعت أبا حميد الساعدي يقول : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا قام إلى الصلاة استقبل القبلة ورفع يديه وقال : "الله أكبر" وهذا نص صريح وحديث صحيح في تعيين لفظ التكبير ، قال الشاعر :

رأيت الله أكبر كل شيء # محاولة وأعظمه جنودا

ثم إنه يتضمن القدم ، وليس يتضمنه كبير ولا عظيم ، فكان أبلغ في المعنى ، والله أعلم.

Dalam Sunan Ibn Majah disebutkan:

Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Ali bin Muhammad Ath-Thanafasi meriwayatkan kepada kami; Abu Usamah meriwayatkan kepada kami; Abdul Hamid bin Ja‘far menceritakan kepada kami; Muhammad bin ‘Amr bin ‘Atha’ berkata: Aku mendengar Abu Humayd al-Sa'idi berkata:

“Adalah Rasulullah apabila berdiri untuk shalat, beliau menghadap kiblat, mengangkat kedua tangannya, lalu mengucapkan:
الله أكبر  (Allāhu Akbar).”

Ini adalah nash yang jelas dan hadis yang sahih dalam penentuan lafaz takbir secara spesifik.

Sebagaimana syair:

رأيت الله أكبر كل شيء # محاولة وأعظمه جنودا

Artinya:

Aku melihat Allah lebih besar dari segala sesuatu dalam kekuasaan-Nya,
dan Dia memiliki bala tentara yang paling agung

Kemudian lafaz ‘Akbar’ juga mengandung makna keqadiman/keazalian (Allah Mahadahulu, tidak berpermulaan), sedangkan lafaz ‘Kabīr’ (Mahabesar) atau ‘Aẓīm’ (Mahaagung) tidak secara khusus mengandung makna itu. Maka lafaz ‘Akbar’ lebih kuat dan lebih mendalam maknanya. والله أعلم.

وقال أبو حنيفة : إن افتتح بلا إله إلا الله يجزيه ، وإن قال : اللهم اغفر لي لم يجزه ، وبه قال محمد بن الحسن. وقال أبو يوسف : لا يجزئه إذا كان يحسن التكبير. وكان الحكم بن عتيبة يقول : إذا ذكر الله مكان التكبير أجزأه.

Abu Hanifa berkata:

Jika seseorang memulai shalat dengan ucapan:
لا إله إلا الله  (Lā ilāha illallāh),
maka itu mencukupinya (sah).

Namun jika ia mengucapkan:
اللهم اغفر لي  (Ya Allah, ampunilah aku),
maka itu tidak mencukupinya (tidak sah sebagai pembuka shalat).

Dan pendapat ini juga dipegang oleh Muhammad al-Shaybani.

Sedangkan Abu Yusuf berkata:

Itu tidak mencukupi, jika orang tersebut mampu mengucapkan takbir.

Dan Al-Hakam ibn Utaybah berkata:

Jika seseorang menyebut nama Allah sebagai ganti takbir, maka itu mencukupinya (sah).

قال ابن المنذر : ولا أعلمهم يختلفون أن من أحسن القراءة فهلل وكبر ولم يقرأ أن صلاته فاسدة ، فمن كان هذا مذهبه فاللازم له أن يقول لا يجزيه مكان التكبير غيره ، كما لا يجزئ مكان القراءة غيرها. وقال أبو حنيفة : يجزئه التكبير بالفارسية وإن كان يحسن العربية.

قال ابن المنذر : لا يجزيه لأنه خلاف ما عليه جماعات المسلمين ، وخلاف ما علم النبي صلى الله عليه وسلم أمته ، ولا نعلم أحدا وافقه على ما قال. والله أعلم.

Ibn al-Mundhir berkata:

Aku tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama bahwa orang yang mampu membaca Al-Qur’an, lalu ia hanya bertahlil (mengucap لا إله إلا الله) dan bertakbir, tetapi tidak membaca Al-Qur’an, maka shalatnya rusak/tidak sah.

Maka siapa yang berpendapat demikian, konsekuensinya ia juga harus mengatakan bahwa lafaz selain takbir tidak mencukupi sebagai pengganti takbiratul ihram, sebagaimana bacaan lain tidak dapat menggantikan bacaan Al-Qur’an dalam shalat.

Dan Abu Hanifah berkata:

Takbir dengan bahasa Persia tetap mencukupi, walaupun orang itu mampu berbahasa Arab.

Lalu Ibn al-Mundhir menanggapi:

Itu tidak mencukupi (tidak sah), karena pendapat itu menyelisihi apa yang dipegang oleh mayoritas kaum muslimin, menyelisihi apa yang diajarkan Nabi kepada umatnya, dan kami tidak mengetahui ada seorang pun yang menyetujui pendapat beliau dalam hal ini.

والله أعلم.

Kesimpulan:

  1. Takbiratul ihram (الله أكبر) adalah kunci masuk shalat, dan mayoritas ulama menegaskan bahwa itu wajib bahkan rukun shalat. Shalat tidak sah tanpa takbir ini.
  2. Lafaz takbir yang benar menurut sunnah Nabi adalah “الله أكبر, dan sebagian ulama (Syafi’iyah) masih membolehkan lafaz lain yang searti, tetapi jumhur menegaskan hanya lafaz tersebut yang sah.
  3. Tidak boleh mengganti takbir dengan zikir lain seperti tahlil, tasbih, tahmid, atau doa, karena shalat adalah ibadah yang ditentukan lafaznya oleh syariat (tauqifi).
  4. Dalam masalah bahasa, sebagian ulama (seperti Abu Hanifah dalam satu riwayat) membolehkan takbir dengan bahasa selain Arab jika maknanya benar, tetapi pendapat ini ditolak oleh banyak ulama lain karena menyelisihi praktik Nabi dan mayoritas umat Islam.
  5. Secara umum, kaidah besar yang disepakati:
    • Masuk shalat dengan takbir
    • Keluar dari shalat dengan salam
    • Keduanya merupakan batas penting ibadah shalat yang tidak boleh diganti dengan selainnya menurut jumhur.

👉 Intinya: Shalat harus mengikuti tata cara Nabi secara tepat, terutama dalam lafaz pembuka (takbir) dan penutup (salam), karena keduanya adalah bagian pokok yang menentukan sahnya shalat.

Sumber:

الكتاب : الجامع لأحكام القرآن

المؤلف : أبو عبد الله محمد بن أحمد بن أبي بكر بن فرح الأنصاري الخزرجي شمس الدين القرطبي (المتوفى : 671 هـ)

Baca juga:

Perbedaan PendapatTentang Duduk Tasyahud Akhir dan Bacaan-bacaannya

 PerbedaanPendapat Tentang Bacaan Tasbih Dalam Rukuk Dan Sujud

Kesepakatan Ulama’ Tentang Kewajiban Niyat Ketika Takbiratul Ihram, Pernyataan Tentang Rezeki, Penjelasan makna {يُنْفِقُونَ} Dan Perbedaan pendapat tentang maksud “nafkah” dalam ayat ini

Perbedaan Pendapat Tentang Takbiratul Ihram

الثامنة عشرة- واختلف العلماء في السلام ، فقيل : واجب ، وقيل : ليس بواجب. والصحيح وجوبه لحديث عائشة وحديث علي الصحيح خرجه أبو داود والترمذي ورواه سفيان الثوري عن عبد الله بن محمد بن عقيل عن محمد بن الحنفية عن علي قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : "مفتاح الصلاة الطهور وتحريمها التكبير وتحليلها التسليم" وهذا الحديث أصل في إيجاب التكبير والتسليم ، وأنه لا يجزئ عنهما غيرهما كما لا يجزئ عن الطهارة غيرها باتفاق.

Pembahasan kedelapan belas:

Para ulama berbeda pendapat tentang salam (penutup shalat):

  • Ada yang mengatakan: salam itu wajib,
  • dan ada yang mengatakan: salam itu tidak wajib.

Pendapat yang benar adalah: salam itu wajib, berdasarkan hadis Aisha dan hadis Ali ibn Abi Talib yang sahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Al-Tirmidhi.

Dan Sufyan al-Thawri meriwayatkan dari Abd Allah ibn Muhammad ibn Aqil, dari Muhammad ibn al-Hanafiyyah, dari Ali ibn Abi Talib, ia berkata: Rasulullah bersabda:

“Kunci shalat adalah bersuci, yang mengharamkan (memasukkan seseorang ke dalam keadaan shalat) adalah takbir, dan yang menghalalkannya (mengeluarkannya dari shalat) adalah salam.”

 

قال عبد الرحمن بن مهدي : لو افتتح رجل صلاته بسبعين اسما من أسماء الله عز وجل ولم يكبر تكبيرة الإحرام لم يجزه ، وإن أحدث قبل أن يسلم لم يجزه ، وهذا تصحيح من عبد الرحمن بن مهدي لحديث علي ، وهو إمام في علم الحديث ومعرفة صحيحه من سقيمه. وحسبك به!

وقد اختلف العلماء في وجوب التكبير عند الافتتاح وهي :

Abd al-Rahman ibn Mahdi berkata:

“Seandainya seseorang memulai shalatnya dengan menyebut tujuh puluh nama dari nama-nama Allah ‘Azza wa Jalla, tetapi ia tidak mengucapkan takbiratul ihram, maka itu tidak mencukupinya (shalatnya tidak sah). Dan jika ia berhadas sebelum mengucapkan salam, maka itu juga tidak mencukupinya (shalatnya belum sah selesai).”

Ini merupakan penegasan Abd al-Rahman ibn Mahdi atas keshahihan hadis Ali ibn Abi Talib tentang sabda Nabi :

“Kunci shalat adalah bersuci, pembukanya adalah takbir, dan penutupnya adalah salam.”

Dan Abd al-Rahman ibn Mahdi adalah imam besar dalam ilmu hadis, sangat ahli dalam membedakan hadis yang sahih dan yang lemahdan cukuplah kedudukannya sebagai hujjah (otoritas) dalam bidang itu!

“Dan para ulama telah berbeda pendapat tentang kewajiban takbir saat pembukaan shalat, yaitu...”

Perbedaan Pendapat Tentang Takbiratul Ihram

التاسعة عشرة- فقال ابن شهاب الزهري وسعيد بن المسيب والأوزاعي وعبدالرحمن وطائفة : تكبيرة الإحرام ليست بواجبة. وقد روي عن مالك في المأموم ما يدل على هذا القول ، والصحيح من مذهبه إيجاب تكبيرة الإحرام وأنها فرض وركن من أركان الصلاة ، وهو الصواب وعليه الجمهور ، وكل من خالف ذلك فمحجوج بالسنة.

Pembahasan kesembilan belas:

Ibn Shihab al-Zuhri, Sa'id ibn al-Musayyib, Al-Awza'i, Abd al-Rahman ibn Mahdi, dan sekelompok ulama berpendapat bahwa takbiratul ihram tidak wajib.

Dan diriwayatkan dari Malik ibn Anas suatu pendapat tentang makmum yang menunjukkan kecenderungan kepada pendapat ini.

Namun pendapat yang sahih dalam mazhab Malik ibn Anas adalah bahwa takbiratul ihram itu wajib, bahkan ia merupakan fardhu dan salah satu rukun shalat.

Inilah pendapat yang benar, dan inilah yang dipegang oleh jumhur (mayoritas) ulama.

Setiap orang yang menyelisihi pendapat ini telah dibantah oleh sunnah Nabi .

الموفية عشرين- واختلف العلماء في اللفظ الذي يدخل به في الصلاة ، فقال مالك وأصحابه وجمهور العلماء : لا يجزئ إلا التكبير ، لا يجزئ منه تهليل ولا تسبيح ولا تعظيم ولا تحميد.

هذا قول الحجازيين وأكثر العراقيين ، ولا يجزئ عند مالك إلا "الله أكبر" لا غير ذلك.

Pembahasan kedua puluh:

Para ulama berbeda pendapat tentang lafaz yang digunakan untuk masuk ke dalam shalat (takbiratul ihram).

Maka Malik ibn Anas, para pengikutnya, dan jumhur (mayoritas) ulama berkata:

Tidak sah masuk shalat kecuali dengan takbir,
dan tidak cukup diganti dengan:

·         tahlil (Lā ilāha illallāh),

·         tasbih (Subḥānallāh),

·         ta‘zhim (lafaz pengagungan lainnya),

·         atau tahmid (Alḥamdulillāh).

Ini adalah pendapat ulama Hijaz dan kebanyakan ulama Irak.

Dan menurut Malik ibn Anas, yang sah hanyalah lafaz:

الله أكبر  (Allāhu Akbar)

Tidak sah dengan lafaz selain itu.              

وكذلك قال الشافعي وزاد : ويجزئ "الله الأكبر" و"الله الكبير" والحجة لمالك حديث عائشة قالت : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يستفتح الصلاة بالتكبير ، والقراءة بـ {الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ} . وحديث علي : وتحريمها التكبير. وحديث الأعرابي : فكبر.

Demikian pula Muhammad ibn Idris al-Shafi'i berpendapat, hanya saja beliau menambahkan:

Sah juga jika seseorang mengucapkan:

·         الله الأكبر  ,

·         atau الله الكبير  .

Sedangkan hujjah (dalil) bagi pendapat Malik ibn Anas adalah:

Hadis Aisha, ia berkata:

“Rasulullah memulai shalat dengan takbir, dan memulai bacaan dengan:
{الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ}
(Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam...)

yakni awal bacaan beliau adalah surah Al-Fatihah.

Dan hadis Ali ibn Abi Talib:

“Dan yang memasukkan seseorang ke dalam shalat adalah takbir.”

Dan hadis orang Arab badui (hadis المسيء صلاته, orang yang salah shalatnya), Nabi bersabda:

“Maka bertakbirlah!”

وفي سنن ابن ماجة حدثنا أبو بكر بن أبى شيبة وعلي بن محمد الطنافسي قالا : حدثنا أبو أسامة قال حدثني عبد الحميد بن جعفر قال حدثنا محمد ابن عمرو بن عطاء قال سمعت أبا حميد الساعدي يقول : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا قام إلى الصلاة استقبل القبلة ورفع يديه وقال : "الله أكبر" وهذا نص صريح وحديث صحيح في تعيين لفظ التكبير ، قال الشاعر :

رأيت الله أكبر كل شيء # محاولة وأعظمه جنودا

ثم إنه يتضمن القدم ، وليس يتضمنه كبير ولا عظيم ، فكان أبلغ في المعنى ، والله أعلم.

Dalam Sunan Ibn Majah disebutkan:

Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Ali bin Muhammad Ath-Thanafasi meriwayatkan kepada kami; Abu Usamah meriwayatkan kepada kami; Abdul Hamid bin Ja‘far menceritakan kepada kami; Muhammad bin ‘Amr bin ‘Atha’ berkata: Aku mendengar Abu Humayd al-Sa'idi berkata:

“Adalah Rasulullah apabila berdiri untuk shalat, beliau menghadap kiblat, mengangkat kedua tangannya, lalu mengucapkan:
الله أكبر  (Allāhu Akbar).”

Ini adalah nash yang jelas dan hadis yang sahih dalam penentuan lafaz takbir secara spesifik.

Sebagaimana syair:

رأيت الله أكبر كل شيء # محاولة وأعظمه جنودا

Artinya:

Aku melihat Allah lebih besar dari segala sesuatu dalam kekuasaan-Nya,
dan Dia memiliki bala tentara yang paling agung

Kemudian lafaz ‘Akbar’ juga mengandung makna keqadiman/keazalian (Allah Mahadahulu, tidak berpermulaan), sedangkan lafaz ‘Kabīr’ (Mahabesar) atau ‘Aẓīm’ (Mahaagung) tidak secara khusus mengandung makna itu. Maka lafaz ‘Akbar’ lebih kuat dan lebih mendalam maknanya. والله أعلم.

وقال أبو حنيفة : إن افتتح بلا إله إلا الله يجزيه ، وإن قال : اللهم اغفر لي لم يجزه ، وبه قال محمد بن الحسن. وقال أبو يوسف : لا يجزئه إذا كان يحسن التكبير. وكان الحكم بن عتيبة يقول : إذا ذكر الله مكان التكبير أجزأه.

Abu Hanifa berkata:

Jika seseorang memulai shalat dengan ucapan:
لا إله إلا الله  (Lā ilāha illallāh),
maka itu mencukupinya (sah).

Namun jika ia mengucapkan:
اللهم اغفر لي  (Ya Allah, ampunilah aku),
maka itu tidak mencukupinya (tidak sah sebagai pembuka shalat).

Dan pendapat ini juga dipegang oleh Muhammad al-Shaybani.

Sedangkan Abu Yusuf berkata:

Itu tidak mencukupi, jika orang tersebut mampu mengucapkan takbir.

Dan Al-Hakam ibn Utaybah berkata:

Jika seseorang menyebut nama Allah sebagai ganti takbir, maka itu mencukupinya (sah).

قال ابن المنذر : ولا أعلمهم يختلفون أن من أحسن القراءة فهلل وكبر ولم يقرأ أن صلاته فاسدة ، فمن كان هذا مذهبه فاللازم له أن يقول لا يجزيه مكان التكبير غيره ، كما لا يجزئ مكان القراءة غيرها. وقال أبو حنيفة : يجزئه التكبير بالفارسية وإن كان يحسن العربية.

قال ابن المنذر : لا يجزيه لأنه خلاف ما عليه جماعات المسلمين ، وخلاف ما علم النبي صلى الله عليه وسلم أمته ، ولا نعلم أحدا وافقه على ما قال. والله أعلم.

Ibn al-Mundhir berkata:

Aku tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama bahwa orang yang mampu membaca Al-Qur’an, lalu ia hanya bertahlil (mengucap لا إله إلا الله) dan bertakbir, tetapi tidak membaca Al-Qur’an, maka shalatnya rusak/tidak sah.

Maka siapa yang berpendapat demikian, konsekuensinya ia juga harus mengatakan bahwa lafaz selain takbir tidak mencukupi sebagai pengganti takbiratul ihram, sebagaimana bacaan lain tidak dapat menggantikan bacaan Al-Qur’an dalam shalat.

Dan Abu Hanifah berkata:

Takbir dengan bahasa Persia tetap mencukupi, walaupun orang itu mampu berbahasa Arab.

Lalu Ibn al-Mundhir menanggapi:

Itu tidak mencukupi (tidak sah), karena pendapat itu menyelisihi apa yang dipegang oleh mayoritas kaum muslimin, menyelisihi apa yang diajarkan Nabi kepada umatnya, dan kami tidak mengetahui ada seorang pun yang menyetujui pendapat beliau dalam hal ini.

والله أعلم.

Kesimpulan:

  1. Takbiratul ihram (الله أكبر) adalah kunci masuk shalat, dan mayoritas ulama menegaskan bahwa itu wajib bahkan rukun shalat. Shalat tidak sah tanpa takbir ini.
  2. Lafaz takbir yang benar menurut sunnah Nabi adalah “الله أكبر, dan sebagian ulama (Syafi’iyah) masih membolehkan lafaz lain yang searti, tetapi jumhur menegaskan hanya lafaz tersebut yang sah.
  3. Tidak boleh mengganti takbir dengan zikir lain seperti tahlil, tasbih, tahmid, atau doa, karena shalat adalah ibadah yang ditentukan lafaznya oleh syariat (tauqifi).
  4. Dalam masalah bahasa, sebagian ulama (seperti Abu Hanifah dalam satu riwayat) membolehkan takbir dengan bahasa selain Arab jika maknanya benar, tetapi pendapat ini ditolak oleh banyak ulama lain karena menyelisihi praktik Nabi dan mayoritas umat Islam.
  5. Secara umum, kaidah besar yang disepakati:
    • Masuk shalat dengan takbir
    • Keluar dari shalat dengan salam
    • Keduanya merupakan batas penting ibadah shalat yang tidak boleh diganti dengan selainnya menurut jumhur.

👉 Intinya: Shalat harus mengikuti tata cara Nabi secara tepat, terutama dalam lafaz pembuka (takbir) dan penutup (salam), karena keduanya adalah bagian pokok yang menentukan sahnya shalat.

Sumber:

الكتاب : الجامع لأحكام القرآن

المؤلف : أبو عبد الله محمد بن أحمد بن أبي بكر بن فرح الأنصاري الخزرجي شمس الدين القرطبي (المتوفى : 671 هـ)

Baca juga:

Perbedaan PendapatTentang Duduk Tasyahud Akhir dan Bacaan-bacaannya

 PerbedaanPendapat Tentang Bacaan Tasbih Dalam Rukuk Dan Sujud

Kesepakatan Ulama’ Tentang Kewajiban Niyat Ketika Takbiratul Ihram, Pernyataan Tentang Rezeki, Penjelasan makna {يُنْفِقُونَ} Dan Perbedaan pendapat tentang maksud “nafkah” dalam ayat ini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

Tingkat Penggunaan Harta Syubhat Atau Haram

  فإن قيل فإذا كان الكل منصرفا إلى أغراضه فأي فرق بين نفسه وغيره وبين جهة وجهة وما مدرك هذا الفرق قلنا عرف ذلك بما روى أن رافع بن خديج رحم...

Interstisial : Kotak Cahaya :