Perselisihan Tentang Kepemimpinan Setelah Wafat Nabi ﷺ: Bagaimana Abu Bakar Menyatukan Umat Islam?

Imam Al-Isfarayini menjelaskan perselisihan tentang khalifah setelah wafat Nabi ﷺ dan bagaimana Abu Bakar menyelesaikannya dengan Al-Qur'an dan Sunnah

Pendahuluan

Di antara persoalan terbesar yang dihadapi umat Islam setelah wafatnya Rasulullah adalah penentuan pemimpin yang akan melanjutkan urusan kaum muslimin. Persoalan ini memiliki dampak yang sangat besar karena menyangkut persatuan umat dan keberlangsungan pemerintahan Islam.

Dalam At-Tabṣīr fī ad-Dīn, Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini menjelaskan bahwa perbedaan pendapat mengenai kepemimpinan (imamah) sempat terjadi antara kaum Muhajirin dan Anshar. Namun, sebagaimana dua perselisihan sebelumnya, perbedaan ini akhirnya dapat diselesaikan melalui dalil Al-Qur'an dan Sunnah yang disampaikan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه. Dari peristiwa ini, beliau menunjukkan bahwa penyelesaian masalah besar dalam Islam harus dikembalikan kepada wahyu, bukan kepada kepentingan golongan.

Sumber

Kitab:

At-Tabṣīr fī ad-Dīn wa Tamyīz al-Firqah an-Nājiyah 'an al-Firaq al-Hālikīn (التبصير في الدين وتمييز الفرقة الناجية عن الفرق الهالكين)

Penulis:

Imam Abu al-Muzaffar Thahir bin Muhammad al-Isfarayini (wafat 471 H)

Penulis

Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini adalah ulama besar Ahlus Sunnah wal Jamaah dari mazhab Syafi'i yang hidup pada abad ke-5 Hijriah. Beliau dikenal sebagai pakar akidah dan sejarah aliran-aliran Islam. Melalui kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn, beliau berusaha menjelaskan sejarah munculnya berbagai perselisihan di kalangan umat Islam sekaligus menegaskan prinsip-prinsip akidah Ahlus Sunnah berdasarkan Al-Qur'an, Sunnah, dan riwayat para ulama.

Tema

Perselisihan Tentang Imamah Setelah Wafat Rasulullah dan Kesepakatan Umat atas Kepemimpinan Abu Bakar Ash-Shiddiq

Terjemahan Lengkap

Perselisihan ketiga yang terjadi adalah mengenai masalah kepemimpinan (imamah).

Kaum Anshar berkata:

"Dari kami seorang pemimpin, dan dari kalian (kaum Muhajirin) seorang pemimpin."

Perdebatan mengenai hal itu berlangsung cukup lama.

Kemudian Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه naik ke mimbar dan menyampaikan khutbah.

Beliau membacakan firman Allah Ta'ala:

"Bagi orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin yang diusir dari kampung halaman dan harta benda mereka, mereka mencari karunia dan keridaan Allah serta menolong agama Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar."
(QS. Al-Hasyr: 8)

Lalu beliau berkata:

"Allah telah menamai kami sebagai orang-orang yang benar (ash-shādiqīn)."

Kemudian beliau membacakan firman Allah Ta'ala:

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan jadilah bersama orang-orang yang benar."
(QS. At-Taubah: 119)

Selanjutnya Abu Bakar meriwayatkan kepada mereka bahwa Rasulullah bersabda:

"Para pemimpin (imam) berasal dari kalangan Quraisy."

Mereka pun membenarkan riwayat yang beliau sampaikan, menerima keputusan beliau, serta bersepakat dengan pendapat tersebut.

Dengan keberkahan Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه, perselisihan itu pun berakhir.

Kemudian, pada masa berikutnya, muncul perbedaan pendapat dari sebagian kaum Khawarij. Mereka berpendapat bahwa kekhalifahan boleh dipegang oleh selain orang Quraisy, sebagaimana akan kami jelaskan pada pembahasan berikutnya, insya Allah Ta'ala.

Artikel Pengembangan

Imam Al-Isfarayini menempatkan persoalan imamah sebagai perselisihan besar ketiga yang muncul setelah wafat Rasulullah . Berbeda dengan dua peristiwa sebelumnya yang berkaitan dengan wafat dan pemakaman Nabi , persoalan ini menyangkut kepemimpinan politik umat Islam sehingga memiliki dampak yang sangat luas terhadap perjalanan sejarah Islam.

Kaum Anshar mengusulkan agar kepemimpinan dibagi antara Muhajirin dan Anshar dengan ungkapan, "Dari kami seorang pemimpin dan dari kalian seorang pemimpin." Usulan tersebut lahir dari jasa besar kaum Anshar yang telah memberikan perlindungan kepada Rasulullah dan kaum Muhajirin ketika hijrah ke Madinah. Sementara itu, kaum Muhajirin memiliki kedudukan istimewa sebagai generasi pertama yang beriman dan mendampingi Rasulullah sejak awal dakwah.

Dalam penjelasan Imam Al-Isfarayini, Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه tidak menyelesaikan persoalan ini dengan mengedepankan kelebihan pribadi ataupun kekuatan politik. Beliau mengembalikan pembahasan kepada Al-Qur'an dengan membaca ayat yang memuji kaum Muhajirin sebagai ash-shādiqīn (orang-orang yang benar), kemudian mengaitkannya dengan perintah Allah agar kaum mukmin bersama orang-orang yang benar.

Selain itu, beliau menyampaikan hadis Rasulullah yang menyatakan bahwa kepemimpinan berada di kalangan Quraisy. Berdasarkan riwayat tersebut, para sahabat menerima keputusan yang disampaikan Abu Bakar sehingga perselisihan dapat diselesaikan melalui dalil, bukan melalui pertentangan yang berkepanjangan.

Imam Al-Isfarayini juga memberi isyarat bahwa persoalan ini tidak berhenti pada masa para sahabat. Beliau menyebut bahwa pada masa berikutnya kaum Khawarij memiliki pandangan berbeda mengenai syarat kepemimpinan. Isyarat ini menjadi pengantar bagi pembahasan yang lebih rinci pada bab-bab selanjutnya mengenai berbagai kelompok dan pandangan mereka.

Dari sudut pandang sejarah, uraian ini memperlihatkan bagaimana persoalan politik dalam Islam sejak awal selalu berkaitan erat dengan pemahaman terhadap nash agama. Bagi Imam Al-Isfarayini, penyelesaian perselisihan harus berlandaskan dalil syariat, sementara pembahasan mengenai kelompok-kelompok yang muncul kemudian akan dijelaskan secara khusus dalam bagian-bagian berikutnya sesuai metode penyusunan kitabnya.

Hikmah

  • Persoalan kepemimpinan merupakan amanah besar yang harus diselesaikan berdasarkan petunjuk syariat.
  • Perbedaan pendapat dapat diselesaikan melalui musyawarah yang berlandaskan Al-Qur'an dan Sunnah.
  • Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه menunjukkan kepemimpinan yang mengutamakan dalil daripada kepentingan golongan.
  • Persatuan umat lebih mudah terwujud ketika seluruh pihak bersedia menerima petunjuk wahyu.
  • Sejarah awal Islam menunjukkan pentingnya ilmu dan kebijaksanaan dalam menghadapi persoalan yang menyangkut kepentingan umat.
  • Memahami sejarah perselisihan membantu umat mengenali latar belakang munculnya berbagai pandangan dalam sejarah Islam.

Penutup

Dalam pembahasan ini, Imam Al-Isfarayini menggambarkan bahwa persoalan kepemimpinan setelah wafat Rasulullah merupakan salah satu ujian terbesar bagi kaum muslimin. Namun, melalui kebijaksanaan Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه dan kesediaan para sahabat untuk kembali kepada Al-Qur'an serta Sunnah, perselisihan tersebut dapat diselesaikan dengan damai. Uraian ini menjadi pengantar penting bagi pembahasan berikutnya, ketika Imam Al-Isfarayini mulai menjelaskan bagaimana sebagian kelompok pada masa-masa setelah para sahabat mengembangkan pandangan yang berbeda mengenai persoalan imamah dan berbagai masalah akidah lainnya.

Teks Arab :

الثَّالِث اخْتلَافهمْ فِي بَاب الامامة فَقَالَت الْأَنْصَار منا إِمَام ومنكم إِمَام وَطَالَ بَينهم الْكَلَام فِي ذَلِك حَتَّى صعد الصّديق رضي الله عنه الْمِنْبَر وخطب ثمَّ تَلا وَعَلَيْهِم قَوْله تَعَالَى ﴿للْفُقَرَاء الْمُهَاجِرين الَّذين أخرجُوا من دِيَارهمْ وَأَمْوَالهمْ يَبْتَغُونَ فضلا من الله ورضوانا وينصرون الله وَرَسُوله أُولَئِكَ هم الصادقون﴾ قَالَ فسمانا الصَّادِقين ثمَّ أَمر الْمُؤمنِينَ أَي الله تَعَالَى أَن يَكُونُوا مَعَ الصَّادِقين بقوله تَعَالَى ﴿يَا أَيهَا الَّذين آمنُوا اتَّقوا الله وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقين﴾ وروى لَهُم أَن رَسُول الله ﷺ قَالَ الْأَئِمَّة من قُرَيْش فصدقوه فِي رِوَايَته ونزلوا على قَضيته وَاتَّفَقُوا على قَوْله فَزَالَ هَذَا الْخلاف أَيْضا ببركة الصّديق ثمَّ حدث فِيهِ خلاف قوم من الْخَوَارِج حَيْثُ قَالُوا بِجَوَاز الْخلَافَة فِي غير قُرَيْش كَمَا نذكرهُ إِن شَاءَ الله تَعَالَى

Baca juga:

Mengapa Rasulullah Dimakamkan di Madinah? Penjelasan Imam Al-Isfarayini tentang Perselisihan Kedua Setelah Wafat Nabi

Perselisihan Pertama dalam Islam Setelah Wafatnya Rasulullah : Kisah Abu Bakar Menenangkan Umat

Awal Munculnya Khawarij dan Saba'iyah: Penjelasan Imam Al-Isfarayini tentang Perpecahan Umat Islam

Imam Al-Isfarayini menjelaskan perselisihan tentang khalifah setelah wafat Nabi ﷺ dan bagaimana Abu Bakar menyelesaikannya dengan Al-Qur'an dan Sunnah

Pendahuluan

Di antara persoalan terbesar yang dihadapi umat Islam setelah wafatnya Rasulullah adalah penentuan pemimpin yang akan melanjutkan urusan kaum muslimin. Persoalan ini memiliki dampak yang sangat besar karena menyangkut persatuan umat dan keberlangsungan pemerintahan Islam.

Dalam At-Tabṣīr fī ad-Dīn, Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini menjelaskan bahwa perbedaan pendapat mengenai kepemimpinan (imamah) sempat terjadi antara kaum Muhajirin dan Anshar. Namun, sebagaimana dua perselisihan sebelumnya, perbedaan ini akhirnya dapat diselesaikan melalui dalil Al-Qur'an dan Sunnah yang disampaikan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه. Dari peristiwa ini, beliau menunjukkan bahwa penyelesaian masalah besar dalam Islam harus dikembalikan kepada wahyu, bukan kepada kepentingan golongan.

Sumber

Kitab:

At-Tabṣīr fī ad-Dīn wa Tamyīz al-Firqah an-Nājiyah 'an al-Firaq al-Hālikīn (التبصير في الدين وتمييز الفرقة الناجية عن الفرق الهالكين)

Penulis:

Imam Abu al-Muzaffar Thahir bin Muhammad al-Isfarayini (wafat 471 H)

Penulis

Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini adalah ulama besar Ahlus Sunnah wal Jamaah dari mazhab Syafi'i yang hidup pada abad ke-5 Hijriah. Beliau dikenal sebagai pakar akidah dan sejarah aliran-aliran Islam. Melalui kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn, beliau berusaha menjelaskan sejarah munculnya berbagai perselisihan di kalangan umat Islam sekaligus menegaskan prinsip-prinsip akidah Ahlus Sunnah berdasarkan Al-Qur'an, Sunnah, dan riwayat para ulama.

Tema

Perselisihan Tentang Imamah Setelah Wafat Rasulullah dan Kesepakatan Umat atas Kepemimpinan Abu Bakar Ash-Shiddiq

Terjemahan Lengkap

Perselisihan ketiga yang terjadi adalah mengenai masalah kepemimpinan (imamah).

Kaum Anshar berkata:

"Dari kami seorang pemimpin, dan dari kalian (kaum Muhajirin) seorang pemimpin."

Perdebatan mengenai hal itu berlangsung cukup lama.

Kemudian Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه naik ke mimbar dan menyampaikan khutbah.

Beliau membacakan firman Allah Ta'ala:

"Bagi orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin yang diusir dari kampung halaman dan harta benda mereka, mereka mencari karunia dan keridaan Allah serta menolong agama Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar."
(QS. Al-Hasyr: 8)

Lalu beliau berkata:

"Allah telah menamai kami sebagai orang-orang yang benar (ash-shādiqīn)."

Kemudian beliau membacakan firman Allah Ta'ala:

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan jadilah bersama orang-orang yang benar."
(QS. At-Taubah: 119)

Selanjutnya Abu Bakar meriwayatkan kepada mereka bahwa Rasulullah bersabda:

"Para pemimpin (imam) berasal dari kalangan Quraisy."

Mereka pun membenarkan riwayat yang beliau sampaikan, menerima keputusan beliau, serta bersepakat dengan pendapat tersebut.

Dengan keberkahan Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه, perselisihan itu pun berakhir.

Kemudian, pada masa berikutnya, muncul perbedaan pendapat dari sebagian kaum Khawarij. Mereka berpendapat bahwa kekhalifahan boleh dipegang oleh selain orang Quraisy, sebagaimana akan kami jelaskan pada pembahasan berikutnya, insya Allah Ta'ala.

Artikel Pengembangan

Imam Al-Isfarayini menempatkan persoalan imamah sebagai perselisihan besar ketiga yang muncul setelah wafat Rasulullah . Berbeda dengan dua peristiwa sebelumnya yang berkaitan dengan wafat dan pemakaman Nabi , persoalan ini menyangkut kepemimpinan politik umat Islam sehingga memiliki dampak yang sangat luas terhadap perjalanan sejarah Islam.

Kaum Anshar mengusulkan agar kepemimpinan dibagi antara Muhajirin dan Anshar dengan ungkapan, "Dari kami seorang pemimpin dan dari kalian seorang pemimpin." Usulan tersebut lahir dari jasa besar kaum Anshar yang telah memberikan perlindungan kepada Rasulullah dan kaum Muhajirin ketika hijrah ke Madinah. Sementara itu, kaum Muhajirin memiliki kedudukan istimewa sebagai generasi pertama yang beriman dan mendampingi Rasulullah sejak awal dakwah.

Dalam penjelasan Imam Al-Isfarayini, Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه tidak menyelesaikan persoalan ini dengan mengedepankan kelebihan pribadi ataupun kekuatan politik. Beliau mengembalikan pembahasan kepada Al-Qur'an dengan membaca ayat yang memuji kaum Muhajirin sebagai ash-shādiqīn (orang-orang yang benar), kemudian mengaitkannya dengan perintah Allah agar kaum mukmin bersama orang-orang yang benar.

Selain itu, beliau menyampaikan hadis Rasulullah yang menyatakan bahwa kepemimpinan berada di kalangan Quraisy. Berdasarkan riwayat tersebut, para sahabat menerima keputusan yang disampaikan Abu Bakar sehingga perselisihan dapat diselesaikan melalui dalil, bukan melalui pertentangan yang berkepanjangan.

Imam Al-Isfarayini juga memberi isyarat bahwa persoalan ini tidak berhenti pada masa para sahabat. Beliau menyebut bahwa pada masa berikutnya kaum Khawarij memiliki pandangan berbeda mengenai syarat kepemimpinan. Isyarat ini menjadi pengantar bagi pembahasan yang lebih rinci pada bab-bab selanjutnya mengenai berbagai kelompok dan pandangan mereka.

Dari sudut pandang sejarah, uraian ini memperlihatkan bagaimana persoalan politik dalam Islam sejak awal selalu berkaitan erat dengan pemahaman terhadap nash agama. Bagi Imam Al-Isfarayini, penyelesaian perselisihan harus berlandaskan dalil syariat, sementara pembahasan mengenai kelompok-kelompok yang muncul kemudian akan dijelaskan secara khusus dalam bagian-bagian berikutnya sesuai metode penyusunan kitabnya.

Hikmah

  • Persoalan kepemimpinan merupakan amanah besar yang harus diselesaikan berdasarkan petunjuk syariat.
  • Perbedaan pendapat dapat diselesaikan melalui musyawarah yang berlandaskan Al-Qur'an dan Sunnah.
  • Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه menunjukkan kepemimpinan yang mengutamakan dalil daripada kepentingan golongan.
  • Persatuan umat lebih mudah terwujud ketika seluruh pihak bersedia menerima petunjuk wahyu.
  • Sejarah awal Islam menunjukkan pentingnya ilmu dan kebijaksanaan dalam menghadapi persoalan yang menyangkut kepentingan umat.
  • Memahami sejarah perselisihan membantu umat mengenali latar belakang munculnya berbagai pandangan dalam sejarah Islam.

Penutup

Dalam pembahasan ini, Imam Al-Isfarayini menggambarkan bahwa persoalan kepemimpinan setelah wafat Rasulullah merupakan salah satu ujian terbesar bagi kaum muslimin. Namun, melalui kebijaksanaan Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه dan kesediaan para sahabat untuk kembali kepada Al-Qur'an serta Sunnah, perselisihan tersebut dapat diselesaikan dengan damai. Uraian ini menjadi pengantar penting bagi pembahasan berikutnya, ketika Imam Al-Isfarayini mulai menjelaskan bagaimana sebagian kelompok pada masa-masa setelah para sahabat mengembangkan pandangan yang berbeda mengenai persoalan imamah dan berbagai masalah akidah lainnya.

Teks Arab :

الثَّالِث اخْتلَافهمْ فِي بَاب الامامة فَقَالَت الْأَنْصَار منا إِمَام ومنكم إِمَام وَطَالَ بَينهم الْكَلَام فِي ذَلِك حَتَّى صعد الصّديق رضي الله عنه الْمِنْبَر وخطب ثمَّ تَلا وَعَلَيْهِم قَوْله تَعَالَى ﴿للْفُقَرَاء الْمُهَاجِرين الَّذين أخرجُوا من دِيَارهمْ وَأَمْوَالهمْ يَبْتَغُونَ فضلا من الله ورضوانا وينصرون الله وَرَسُوله أُولَئِكَ هم الصادقون﴾ قَالَ فسمانا الصَّادِقين ثمَّ أَمر الْمُؤمنِينَ أَي الله تَعَالَى أَن يَكُونُوا مَعَ الصَّادِقين بقوله تَعَالَى ﴿يَا أَيهَا الَّذين آمنُوا اتَّقوا الله وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقين﴾ وروى لَهُم أَن رَسُول الله ﷺ قَالَ الْأَئِمَّة من قُرَيْش فصدقوه فِي رِوَايَته ونزلوا على قَضيته وَاتَّفَقُوا على قَوْله فَزَالَ هَذَا الْخلاف أَيْضا ببركة الصّديق ثمَّ حدث فِيهِ خلاف قوم من الْخَوَارِج حَيْثُ قَالُوا بِجَوَاز الْخلَافَة فِي غير قُرَيْش كَمَا نذكرهُ إِن شَاءَ الله تَعَالَى

Baca juga:

Mengapa Rasulullah Dimakamkan di Madinah? Penjelasan Imam Al-Isfarayini tentang Perselisihan Kedua Setelah Wafat Nabi

Perselisihan Pertama dalam Islam Setelah Wafatnya Rasulullah : Kisah Abu Bakar Menenangkan Umat

Awal Munculnya Khawarij dan Saba'iyah: Penjelasan Imam Al-Isfarayini tentang Perpecahan Umat Islam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

Tingkat Penggunaan Harta Syubhat Atau Haram

  فإن قيل فإذا كان الكل منصرفا إلى أغراضه فأي فرق بين نفسه وغيره وبين جهة وجهة وما مدرك هذا الفرق قلنا عرف ذلك بما روى أن رافع بن خديج رحم...

Interstisial : Kotak Cahaya :