Mengungkap Sebab-sebab Yang Menghalangi Pemahaman

كشف الأسباب المانعة من الفهم

Mengungkap Sebab-sebab Yang Menghalangi Pemahaman


فَيَنْبَغِي لِطَالِبِ الْعِلْمِ أَنْ يَكْشِفَ عَنْ الْأَسْبَابِ الْمَانِعَةِ عَنْ فَهْمِ الْمَعْنَى لِيَسْهُلَ عَلَيْهِ الْوُصُولُ إلَيْهِ ، ثُمَّ يَكُونُ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ سَائِسًا لِنَفْسِهِ مُدَبِّرًا لَهَا فِي حَالِ تَعَلُّمِهِ .

فَإِنَّ لِلنَّفْسِ نُفُورًا يُفْضِي إلَى تَقْصِيرٍ وَوُفُورًا يَئُولُ إلَى سَرَفٍ وَقِيَادُهَا عَسِرٌ وَلَهَا أَحْوَالٌ ثَلَاثٌ : فَحَالُ عَدْلٍ وَإِنْصَافٍ ، وَحَالُ غُلُوٍّ وَإِسْرَافٍ ، وَحَالُ تَقْصِيرٍ وَإِجْحَافٍ .

Maka seorang penuntut ilmu seharusnya menyingkap sebab-sebab yang menghalangi pemahaman makna, agar mudah baginya mencapai pemahaman tersebut. Setelah itu, ia harus mengatur dan mendidik dirinya sendiri dalam keadaan belajar.

Karena jiwa (nafsu) memiliki sifat enggan yang dapat menyebabkan kelalaian, dan juga semangat berlebihan yang dapat berujung pada sikap melampaui batas, dan mengendalikan jiwa itu tidaklah mudah, dan ia memiliki tiga keadaan, yaitu:

  1. Keadaan adil dan seimbang,
  2. Keadaan berlebihan dan melampaui batas,
  3. Keadaan kekurangan dan kelalaian yang merugikan.


فَأَمَّا حَالُ الْعَدْلِ وَالْإِنْصَافِ فَهِيَ أَنْ تَخْتَلِفَ قُوَى النَّفْسِ مِنْ جِهَتَيْنِ مُتَقَابِلَتَيْنِ : طَاعَةٌ مُسْعِدَةٌ وَشَفَقَةٌ كَافَّةٌ .

Adapun keadaan yang adil dan seimbang, yaitu ketika kekuatan-kekuatan dalam jiwa berada di antara dua arah yang saling berhadapan, yaitu:

  • ketaatan yang membawa kebahagiaan, dan
  • kehati-hatian atau rasa menjaga diri yang menahan (dari berlebihan).


فَطَاعَتُهَا تَمْنَعُ التَّقْصِيرَ ، وَشَفَقَتُهَا تَرُدُّ عَنْ السَّرَفِ وَالتَّبْذِيرِ .

وَهَذِهِ أَحْمَدُ الْأَحْوَالِ ؛ لِأَنَّ مَا مُنِعَ مِنْ التَّقْصِيرِ نَمَا ، وَمَا صُدَّ عَنْ السَّرَفِ مُسْتَدِيمٌ .

وَالنُّمُوُّ إذَا اسْتَدَامَ فَأَخْلِقْ بِهِ أَنْ يُسْتَكْمَلَ .

Maka ketaatan jiwa itu mencegah dari kekurangan atau kelalaian, dan sikap kehati-hatiannya menahan dari berlebih-lebihan dan pemborosan.

Keadaan ini adalah sebaik-baik keadaan, karena sesuatu yang terjaga dari kekurangan akan berkembang, dan sesuatu yang terhindar dari berlebih-lebihan akan terus bertahan.

Dan apabila pertumbuhan itu berlangsung terus-menerus, maka sangat layak untuk mencapai kesempurnaan.


وَقَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ : إيَّاكَ وَمُفَارَقَةَ الِاعْتِدَالِ ، فَإِنَّ الْمُسْرِفَ مِثْلُ الْمُقَصِّرِ فِي الْخُرُوجِ عَنْ الْحَدِّ .

Sebagian orang bijak berkata:

“Hati-hatilah kamu dari meninggalkan sikap pertengahan (keseimbangan), karena orang yang berlebihan sama dengan orang yang keluar dari batas.”


وَأَمَّا حَالُ الْغُلُوِّ وَالْإِسْرَافِ فَهِيَ أَنْ تَخْتَصَّ النَّفْسُ بِقُوَى الطَّاعَةِ وَتُقَدِّمَ قَوَّى الشَّفَقَةِ فَيَبْعَثَهَا اخْتِصَاصُ الطَّاعَةِ عَلَى إفْرَاغِ الْجُهْدِ ، وَيُفْضِي إفْرَاغُ الْجُهْدِ إلَى عَجْزِ الْكَلَالِ ، فَيُؤَدِّي عَجْزُ الْكَلَالِ إلَى التَّرْكِ وَالْإِهْمَالِ ، فَتَصِيرُ الزِّيَادَةُ نُقْصَانًا ، وَالرِّبْحُ خُسْرَانًا .

Adapun keadaan berlebihan dan melampaui batas, yaitu ketika jiwa hanya mengikuti kekuatan ketaatan dan mengabaikan kekuatan kehati-hatian, sehingga dorongan ketaatan itu membuatnya mencurahkan seluruh tenaga.

Namun mencurahkan seluruh tenaga itu akhirnya menimbulkan kelelahan dan ketidakmampuan, dan kelelahan itu menyebabkan seseorang meninggalkan dan mengabaikan (pekerjaannya).

Akhirnya kelebihan itu berubah menjadi kekurangan, dan keuntungan berubah menjadi kerugian.


وَقَدْ قَالَتْ الْحُكَمَاءُ : طَالِبُ الْعِلْمِ وَعَامِلُ الْبِرِّ كَآكِلِ الطَّعَامِ إنْ أَخَذَ مِنْهُ قُوتًا عَصَمَهُ ، وَإِنْ أَسْرَفَ فِيهِ أَبْشَمَهُ .

Para ahli hikmah berkata:

“Penuntut ilmu dan orang yang melakukan kebaikan itu seperti orang yang makan makanan: jika ia mengambilnya sekadar untuk kekuatan (secukupnya), maka makanan itu menjaganya; tetapi jika ia berlebihan dalam memakannya, maka makanan itu justru membuatnya sakit.”


وَرُبَّمَا كَانَ فِيهِ مَنِيَّتُهُ كَأَخْذِ الْأَدْوِيَةِ الَّتِي فِيهَا شِفَاءٌ وَمُجَاوَزَةُ الْقَصْدِ فِيهَا السُّمُّ الْمُمِيتُ ، وَأَمَّا حَالُ التَّقْصِيرِ وَالْإِجْحَافِ فَهِيَ أَنْ تَخْتَصَّ النَّفْسُ بِقُوَى الشَّفَقَةِ وَتَعْدَمَ قُوَى الطَّاعَةِ فَيَدْعُوهَا الْإِشْفَاقُ إلَى الْمَعْصِيَةِ ، وَتَمْنَعُهَا الْمَعْصِيَةُ مِنْ الْإِجَابَةِ فَلَا تَطْلُبُ شَارِدًا ، وَلَا تَقْبَلُ عَائِدًا ، وَلَا تَحْفَظُ مُسْتَوْدَعًا .

Bahkan terkadang di dalamnya terdapat kematiannya, seperti meminum obat yang sebenarnya mengandung kesembuhan, tetapi jika melampaui batas dalam meminumnya justru menjadi racun yang mematikan.

Adapun keadaan kekurangan dan kelalaian, yaitu ketika jiwa hanya dikuasai oleh kekuatan kehati-hatian (rasa takut atau enggan) dan tidak memiliki dorongan ketaatan. Maka rasa takut itu mendorongnya untuk meninggalkan ketaatan, dan kemaksiatan menghalanginya untuk menerima kebaikan, sehingga:

  • tidak mengejar sesuatu yang telah lepas,
  • tidak menerima sesuatu yang kembali,
  • dan tidak menjaga sesuatu yang dititipkan kepadanya.


وَمَنْ لَمْ يَطْلُبْ الشَّارِدَ ، وَيَقْبَلْ الْعَائِدَ ، وَيَحْفَظْ الْمُسْتَوْدَعَ فَقَدَ الْمَوْجُودَ ، وَلَمْ يَجِدْ الْمَفْقُودَ .

وَمَنْ فَقَدَ مَا وَجَدَ فَهُوَ مُصَابٌ مَحْزُونٌ ، وَمَنْ لَمْ يَجِدْ مَا فَقَدَ فَهُوَ خَائِبٌ مَغْبُونٌ .

Barang siapa tidak mencari sesuatu yang telah lepas, tidak menerima sesuatu yang kembali, dan tidak menjaga sesuatu yang dititipkan, maka ia akan kehilangan apa yang sudah ada, dan tidak akan mendapatkan apa yang hilang.

Barang siapa kehilangan sesuatu yang telah dimilikinya, maka ia tertimpa musibah dan bersedih.

Dan barang siapa tidak mendapatkan kembali apa yang telah hilang darinya, maka ia menjadi orang yang kecewa dan merugi.


وَقَدْ قَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ : الْعَجْزُ مَعَ الْوَانِي ، وَالْفَوْتُ مَعَ التَّوَانِي .

Sebagian orang bijak berkata:

“Kelemahan muncul bersama kemalasan, dan kehilangan terjadi bersama sikap menunda-nunda.”


وَقَدْ يَكُونُ لِلنَّفْسِ مَعَ الْأَحْوَالِ الثَّلَاثِ حَالَتَانِ مُشْتَرَكَتَانِ بِغَلَبَةِ إحْدَى الْقُوَّتَيْنِ ، فَيَكُونُ لِلنَّفْسِ طَاعَةٌ وَإِشْفَاقٌ ، وَأَحَدُهُمَا أَغْلَبُ مِنْ الْآخَرِ .

Dan terkadang jiwa memiliki dua keadaan gabungan dari tiga keadaan tadi, karena salah satu dari dua kekuatan itu lebih dominan. Maka dalam jiwa terdapat dorongan ketaatan (semangat melakukan kebaikan) dan rasa kehati-hatian atau rasa takut, tetapi salah satunya lebih kuat daripada yang lain.


فَإِنْ كَانَتْ الطَّاعَةُ أَغْلَبَ كَانَتْ إلَى الْوُفُورِ أَمْيَلَ ، وَإِنْ كَانَ الْإِشْفَاقُ أَغْلَبَ كَانَتْ إلَى التَّقْصِيرِ أَقْرَبَ .

فَإِذَا عَرَفَ مِنْ نَفْسِهِ قَدْرَ طَاعَتِهَا ، وَخَبَرَ مِنْهَا كُنْهَ إشْفَاقِهَا رَاضَ نَفْسَهُ لِتَثْبُتَ عَلَى أَحَدِ حَالَاتِهَا .

Jika dorongan ketaatan lebih kuat, maka jiwa akan lebih condong kepada semangat yang melimpah (berlebihan).

Dan jika rasa kehati-hatian atau rasa takut lebih kuat, maka jiwa akan lebih dekat kepada kekurangan atau kelalaian.

Apabila seseorang telah mengetahui dari dirinya kadar dorongan ketaatannya, dan memahami hakikat rasa kehati-hatiannya, maka ia melatih dan mendidik dirinya agar tetap berada pada salah satu keadaan yang benar (yang seimbang).


وَقَدْ أَشَارَ إلَى مَا وَصَفْنَا مِنْ حَالِ النَّفْسِ الْفَرَزْدَقُ فِي قَوْلِهِ :

لِكُلِّ امْرِئٍ نَفْسَانِ نَفْسٌ كَرِيمَةٌ # وَأُخْرَى يُعَاصِيهَا الْفَتَى وَيُطِيعُهَا

وَنَفْسُك مِنْ نَفْسَيْك تَشْفَعُ لِلنَّدَى # إذَا قَلَّ مِنْ إحْرَازِهِنَّ شَفِيعُهَا

Penyair Al-Farazdaq telah mengisyaratkan keadaan jiwa yang telah kami jelaskan dalam ucapannya:

Setiap orang memiliki dua jiwa: satu jiwa yang mulia, dan yang lain kadang dilawan oleh seseorang dan kadang ia menaatinya

Dan dari dua jiwamu itu ada satu jiwa yang mendorong kepada kemurahan hati, ketika sedikit orang yang menjadi penolongnya dalam meraih kemuliaan itu.”


وَإِنْ أَهْمَلَ سِيَاسَتَهَا ، فَأَغْفَلَ رِيَاضَتَهَا ، وَرَامَ أَنْ يَأْخُذَهَا بِالْعُنْفِ ، وَيَقْهَرَهَا بِالْعَسْفِ ، اسْتَشَاطَتْ نَافِرَةً وَلَحَّتْ مُعَانِدَةً فَلَمْ تَنْقَدْ إلَى طَاعَةٍ وَلَمْ تَنْكَفَّ عَنْ مَعْصِيَةٍ

Jika seseorang mengabaikan pengaturan jiwanya, dan lalai melatihnya, lalu ia ingin menguasainya dengan kekerasan dan memaksanya secara kasar, maka jiwa itu akan semakin memberontak dan menjauh, serta terus membangkang.

Akibatnya, jiwa itu tidak akan tunduk kepada ketaatan dan tidak pula berhenti dari kemaksiatan.


وَقَالَ سَابِقٌ الْبَرْبَرِيُّ :

إذَا زَجَرْت لَجُوجًا زِدْته عَلَقًا # وَلَجَّتْ النَّفْسُ مِنْهُ فِي تَمَادِيهَا

فَعُدْ عَلَيْهِ إذَا مَا نَفْسُهُ جَنَحَتْ # بِاللِّينِ مِنْك فَإِنَّ اللِّينَ يُثْنِيهَا

Dan Sābiq al-Barbarī berkata:

Jika engkau menegur jiwa yang keras kepala dengan keras, maka engkau justru menambah kerasnya lagi; jiwa itu semakin melampaui batas dalam kebandelannya.

Maka kembalilah kepadanya dengan lembut, ketika jiwa itu mulai condong kepada kebaikan; karena kelembutan akan menundukkan jiwa


فَإِذَا اسْتَصْعَبَ عَلَيْهِ قِيَادُ نَفْسِهِ وَدَامَ مِنْهُ نُفُورُ قَلْبِهِ مَعَ سِيَاسَتِهَا ، وَمُعَانَاةِ رِيَاضَتِهَا ، تَرَكَهَا تَرْكَ رَاحَةٍ ، ثُمَّ عَاوَدَهَا بَعْدَ الِاسْتِرَاحَةِ ، فَإِنَّ إجَابَتَهَا تُسْرِعُ ، وَطَاعَتُهَا تَرْجِعُ .

Jika memimpin jiwanya terasa sangat sulit, dan hati tetap enggan meskipun telah diatur dan dilatih, maka tinggalkan jiwa itu sejenak untuk beristirahat.

Kemudian kembalilah setelah memberi waktu istirahat, maka jiwa akan lebih cepat menanggapi dan ketaatannya akan kembali.


وَقَدْ رُوِيَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : { إنَّ الْقَلْبَ يَمُوتُ وَيَحْيَى وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ } .

Telah diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda:

“Sesungguhnya hati itu bisa mati dan hidup kembali, meskipun setelah waktu tertentu.”


وَقَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ : لِلْقُلُوبِ شَهْوَةٌ وَإِقْبَالٌ وَفَتْرَةٌ وَإِدْبَارٌ فَأْتُوهَا مِنْ قِبَلِ شَهْوَتِهَا وَلَا تَأْتُوهَا مِنْ قِبَلِ فَتْرَتِهَا .

Ibnu Mas‘ud berkata:

“Hati itu memiliki keinginan dan semangat, serta mengalami kemalasan dan menjauh.

Dekatilak hati melalui keinginan dan semangatnya, dan jangan mendekatinya melalui kelemahan atau kemalasan.”


وَقَالَ الشَّاعِرُ :

وَمَا سُمِّيَ الْإِنْسَانُ إلَّا لِأُنْسِهِ  #وَلَا الْقَلْبُ إلَّا أَنَّهُ يَتَقَلَّبُ

Dan sang penyair berkata:

Manusia tidak dinakan “insan” kecuali karena kebiasaannya mencari teman dan pergaulan; dan hati tidak dinamakan “Qalb” kecuali karena selalu berubah-ubah.”


Baca juga: Syarat-syarat Yang Harus Dipenuhi Agar Penuntut Ilmu Memperoleh Ilmu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

Mengungkap Sebab-sebab Yang Menghalangi Pemahaman

كشف الأسباب المانعة من الفهم Mengungkap Sebab-sebab Yang Menghalangi Pemahaman فَيَنْبَغِي لِطَالِبِ الْعِلْمِ أَنْ يَكْشِفَ عَنْ الْأَسْبَا...