Tidak Pantas Memberi Titik Pada Suatu Tulisan Yang Ditulis Untuk Kalangan Khusus Dan Orang-orang Terpelajar - استقباح النقط فيما يكتب للخاصة والمثقفين

 


استقباح النقط فيما يكتب للخاصة والمثقفين

Tidak Pantas Memberi Titik Pada Suatu Tulisan Yang Ditulis Untuk Kalangan Khusus Dan Orang-orang Terpelajar

بَلْ اسْتَقْبَحَ الْكُتَّابُ ذَلِكَ فِي الْمُكَاتَبَاتِ وَرَأَوْهُ مِنْ تَقْصِيرِ الْكَاتِبِ أَوْ سُوءِ ظَنِّهِ بِفَهْمِ الْمُكَاتَبِ ، وَإِنْ كَانَ اسْتِقْبَاحُهُمْ لَهُ فِي مُكَاتَبَةِ الرُّؤَسَاءِ أَكْثَرَ .

Bahkan para penulis menganggap hal itu buruk dalam surat-menyurat, dan mereka memandangnya sebagai tanda kekurangan kemampuan penulis atau buruk sangkanya terhadap pemahaman orang yang diajak berkirim surat.
Terlebih lagi, anggapan buruk itu lebih kuat apabila dilakukan dalam surat kepada para pemimpin atau orang-orang besar.

حَكَى قُدَامَةُ بْنُ جَعْفَرٍ أَنَّ بَعْضَ كُتَّابِ الدَّوَاوِينِ حَاسَبَ عَامِلًا فَشَكَا الْعَامِلُ مِنْهُ إلَى عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ سُلَيْمَانَ وَكَتَبَ رُقْعَةً يَذْكُرُ فِيهَا احْتِجَاجًا لِصِحَّةِ دَعْوَاهُ ، وَوُضُوحِ شَكْوَاهُ .

Qudāmah bin Ja‘far meriwayatkan bahwa seorang penulis dari kantor-kantor pemerintahan (diwān) pernah menghitung atau memeriksa urusan keuangan seorang pejabat.

Lalu pejabat tersebut mengadukannya kepada ‘Ubaidullāh bin Sulaimān, dan ia menulis sebuah surat kecil (nota atau catatan) yang di dalamnya ia menyebutkan alasan-alasan sebagai bukti kebenaran klaimnya dan kejelasan pengaduannya.

فَوَقَعَ فِيهَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ سُلَيْمَانَ هَذَا ، هَذَا ، فَأَخَذَهَا الْعَامِلُ وَقَرَأَهَا فَظَنَّ أَنَّ عُبَيْدَ اللَّهِ أَرَادَ بِهَذَا هَذَا إثْبَاتًا لِصِحَّةِ دَعْوَاهُ وَصِدْقِ قَوْلِهِ ، كَمَا يُقَالُ فِي إثْبَاتِ الشَّيْءِ هُوَ هُوَ ، فَحَمَلَ الرُّقْعَةَ إلَى كَاتِبِ الدِّيوَانِ ، وَأَرَاهُ خَطَّ عُبَيْدِ اللَّهِ وَقَالَ لَهُ : إنَّ عُبَيْدَ اللَّهِ قَدْ صَدَّقَ قَوْلِي ، وَصَحَّحَ مَا ذَكَرْتُ .
فَخَفِيَ عَلَى الْكَاتِبِ ذَلِكَ ، وَأُطِيفَ بِهِ عَلَى كُتَّابِ الدَّوَاوِينِ فَلَمْ يَقِفُوا عَلَى مُرَادِ عُبَيْدِ اللَّهِ .

Lalu pada surat itu ‘Ubaidullāh bin Sulaimān menuliskan: “هذا، هذا” (ini, ini).

Kemudian pejabat itu mengambil surat tersebut dan membacanya, lalu ia menyangka bahwa maksud ‘Ubaidullāh dengan tulisan “ini, ini” adalah sebagai penegasan atas kebenaran klaimnya dan kejujuran perkataannya, sebagaimana dalam ungkapan penegasan sesuatu dikatakan: “هو هو” (itulah dia, benar begitu).

Maka ia membawa surat kecil itu kepada penulis kantor diwān, memperlihatkan tulisan tangan ‘Ubaidullāh, dan berkata kepadanya:
“Sesungguhnya ‘Ubaidullāh telah membenarkan perkataanku dan mengesahkan apa yang aku sebutkan.”

Namun maksud itu menjadi samar bagi penulis tersebut, lalu surat itu dibawa berkeliling kepada para penulis di kantor-kantor diwān, tetapi mereka pun tidak mengetahui apa sebenarnya yang dimaksud oleh ‘Ubaidullāh.

وَرُدَّ إلَيْهِ لِيُسْأَلَ عَنْ مُرَادِهِ بِهِ فَشَدَّدَ عُبَيْدُ اللَّهِ الْكَلِمَةَ الثَّانِيَةَ وَكَتَبَ تَحْتَهَا وَاَللَّهُ الْمُسْتَعَانُ اسْتِعْظَامًا مِنْهُ لِتَقْصِيرِهِمْ فِي اسْتِخْرَاجِ مُرَادِهِ حَتَّى احْتَاجَ إلَى إبَانَتِهِ بِالشَّكْلِ .
فَهَذِهِ حَالُ الْكُتَّابِ فِي اسْتِقْبَاحِهِمْ إعْجَامِ الْمُكَاتَبَاتِ بِالنُّقَطِ وَالْأَشْكَالِ .

Lalu surat itu dikembalikan kepadanya untuk ditanyakan maksudnya. Maka ‘Ubaidullāh memberi tanda tasydid pada kata yang kedua, dan menuliskan di bawahnya “والله المستعان” (dan Allah-lah tempat memohon pertolongan), sebagai bentuk keheranannya atas kekurangan mereka dalam memahami maksudnya, sampai ia harus menjelaskannya dengan memberi tanda (harakat).

Maka demikianlah keadaan para penulis, yaitu mereka menganggap tidak baik memberi titik dan tanda-tanda (harakat) dalam surat-menyurat.

فَأَمَّا غَيْرُ الْمُكَاتَبَاتِ مِنْ سَائِرِ الْعُلُومِ فَلَمْ يَرَوْهُ قَبِيحًا بَلْ اسْتَحْسَنُوهُ لَا سِيَّمَا فِي كُتُبِ الْأَدَبِ الَّتِي يُقْصَدُ بِهَا مَعْرِفَةُ صِيغَةِ الْأَلْفَاظِ وَكَيْفِيَّةِ مَخَارِجِهَا مِثْلِ كُتُبِ النَّحْوِ وَاللُّغَةِ وَالشِّعْرِ الْغَرِيبِ فَإِنَّ الْحَاجَةَ إلَى ضَبْطِهَا بِالشَّكْلِ وَالْإِعْجَامِ أَكْثَرُ ، وَهِيَ فِيمَا سِوَاهُ مِنْ الْعُلُومِ أَيْسَرُ .

Adapun selain surat-menyurat, yaitu dalam berbagai ilmu pengetahuan lainnya, maka mereka tidak menganggap pemberian titik dan tanda (harakat) itu buruk, bahkan mereka memandangnya baik.

Terutama dalam kitab-kitab adab (sastra dan ilmu bahasa) yang bertujuan untuk mengetahui bentuk-bentuk lafadz dan cara pengucapannya, seperti:
  • kitab-kitab nahwu,
  • kitab-kitab bahasa,
  • dan syair-syair yang asing (gharīb).
Karena kebutuhan untuk memberi tanda (harakat) dan titik pada tulisan-tulisan tersebut lebih besar.

Sedangkan dalam ilmu-ilmu selain itu, kebutuhannya lebih ringan atau lebih mudah.

وَقَدْ قَالَ النُّورِيُّ : الْخُطُوطُ الْمُعْجَمَةُ كَالْبُرُودِ الْمُعَلَّمَةِ .

An-Nūrī berkata:
“Tulisan yang diberi titik-titik itu seperti pakaian bergaris atau bermotif.”

وَقَالَ بَعْضُ الْبُلَغَاءِ : إعْجَامُ الْخَطِّ يَمْنَعُ مِنْ اسْتِعْجَامِهِ ، وَشَكْلُهُ يُؤَمِّنُ مِنْ إشْكَالِهِ .

Sebagian ahli balaghah berkata:
“Memberi titik pada tulisan dapat mencegah dari ketidakjelasan, dan memberi harakat padanya akan menjaga dari kesamaran.”

وَقَالَ بَعْضُ الْأُدَبَاءِ : رُبَّ عِلْمٍ لَمْ تُعْجَمْ فُصُولُهُ فَاسْتُعْجِمَ مَحْصُولُهُ .

Sebagian ahli sastra berkata:
“Betapa banyak suatu ilmu yang bagian-bagiannya tidak diberi titik, sehingga hasil atau pemahamannya menjadi tidak jelas.”

وَكَمَا اسْتَقْبَحَ الْكُتَّابُ الشَّكْلَ وَالْإِعْجَامَ فِي الْمُكَاتَبَاتِ ، وَإِنْ كَانَ فِي كُتُبِ الْعُلُومِ مُسْتَحْسَنًا ، فَكَذَلِكَ اسْتَحْسَنُوا مَشْقَ الْخَطِّ فِي الْمُكَاتَبَاتِ وَإِنْ كَانَ فِي كُتُبِ الْعُلُومِ مُسْتَقْبَحًا .

Sebagaimana para penulis menganggap tidak baik memberi harakat dan titik pada surat-menyurat, meskipun hal itu dianggap baik dalam kitab-kitab ilmu, maka demikian pula mereka menganggap baik memperindah atau memperindah goresan tulisan dalam surat-menyurat, walaupun hal itu dianggap kurang baik dalam kitab-kitab ilmu.

وَسَبَبُ ذَلِكَ أَنَّهُمْ لِفَرْطِ إدْلَالِهِمْ فِي الصَّنْعَةِ وَتَقَدُّمِهِمْ فِي الْكِتَابَةِ يَكْتَفُونَ بِالْإِشَارَةِ وَيَقْتَصِرُونَ عَلَى التَّلْوِيحِ ، وَيَرَوْنَ الْحَاجَةَ إلَى اسْتِيفَاءِ شُرُوطِ الْإِبَانَةِ تَقْصِيرًا وَلِفَصْلِ مَا يَعْتَقِدُونَهُ مِنْ التَّقَدُّمِ بِهَذَا الْحَالِ رَأَوْا مَا نُبِّهَ عَلَيْهِ مِنْ سَوَادِ الْمِدَادِ أَثَرًا جَمِيلًا ، وَعَلَى الْفَضْلِ وَالتَّخْصِيصِ دَلِيلًا .

Sebab hal itu adalah karena mereka sangat merasa percaya diri dengan keahlian mereka dalam bidang penulisan dan kemajuan mereka dalam keterampilan menulis, sehingga mereka merasa cukup dengan sekadar isyarat dan hanya menggunakan ungkapan secara tidak langsung (sindiran).

Mereka memandang bahwa harus memenuhi seluruh syarat-syarat penjelasan yang lengkap justru dianggap sebagai suatu kekurangan.

Karena mereka merasa memiliki keunggulan dan kemajuan dalam keadaan seperti itu, maka mereka menganggap apa yang tampak dari hitamnya tinta (tulisan yang padat tanpa titik dan tanda) sebagai suatu keindahan, dan sebagai tanda keutamaan serta kekhususan.

حُكِيَ أَنَّ عُبَيْدَ اللَّهِ بْنَ سُلَيْمَانَ رَأَى عَلَى بَعْضِ ثِيَابِهِ أَثَرَ صُفْرَةٍ فَأَخَذَ مِنْ مِدَادِ الدَّوَاةِ فَطَلَاهُ بِهِ ثُمَّ قَالَ : الْمِدَادُ بِنَا أَحْسَنُ مِنْ الزَّعْفَرَانِ ، وَأَنْشَدَ :
إنَّمَا الزَّعْفَرَانُ عِطْرُ الْعَذَارَى  # وَمِدَادُ الدُّوِيِّ عِطْرُ الرِّجَالِ
فَهَذِهِ جُمْلَةٌ كَافِيَةٌ فِي الْإِبَانَةِ عَلَى الْأَسْبَابِ الْمَانِعَةِ مِنْ فَهْمِ الْكَلَامِ وَمَعْرِفَةِ مَعَانِيهِ لَفْظًا كَانَ أَوْ خَطًّا ، وَاَللَّهُ وَلِيُّ التَّوْفِيقِ .

Dikisahkan bahwa ‘Ubaidullāh bin Sulaimān pernah melihat pada sebagian pakaiannya ada bekas warna kuning. Lalu ia mengambil tinta dari tempat tinta (dawāt) dan mengoleskannya pada bekas itu, kemudian berkata:
“Tinta bagi kami lebih baik daripada za‘faran.”

Lalu ia membacakan syair:
Sesungguhnya za‘faran adalah wewangian para gadis, “Dan tinta dari tempat tinta adalah wewangian bagi para lelaki

Kemudian penulis berkata:
Demikianlah uraian yang cukup untuk menjelaskan sebab-sebab yang menghalangi pemahaman perkataan dan mengetahui maknanya, baik dalam bentuk ucapan maupun tulisan. Dan Allah-lah yang memberi taufik.

Baca juga: Mengungkap Sebab-sebab Yang Menghalangi Pemahaman

Komentar

Postingan populer dari blog ini

الا لا تنال العلم الا بستة Bahasa Jawa dan Indonesia

Kesungguhan, Kegigihan Dan Cita-Cita Luhur

Mengagungkan Ilmu Dan Ahli Ilmu