Tiga Bahaya Besar Ketiga Menerima Harta dari Penguasa Zalim: Legitimasi Kebatilan, Fitnah Keteladanan, dan Rusaknya Hati karena Cinta Dunia

Tiga Bahaya Besar Ketiga

الغائلة الثالثة أن يتحرك قلبك إلى حبك لتخصيصه إياك وإثاره لك بما أنفذه إليك فإن كان كذلك فلا تقبل ذلك هو السم القاتل و الداء الدفين أعنى ما يحبب الظلمة إليك فإن من أحببته لا بد أن تحرص عليه وتداهن فيه

قالت عائشة رضي الله عنها جبلت النفوس على حب من احسن إليها

وقال عليه السلام اللهم لا تجعل لفاجر عندي يدا فيحبه قلبي // حديث اللهم لا تجعل لفاجر عندي يدا فيحبه قلبي أخرجه ابن مردويه في التفسير من رواية كثير بن عطية عن رجل لم يسم ورواه أبو منصور الديلمي في مسند الفردوس من حديث معاذ وأبو موسى المديني في كتاب تضييع العمر و الأيام مرسلا وأسانيده كلها ضعيفة //

بين صلى الله عليه و سلم أن القلب لا يكاد يمتنع من ذلك

وروى أن بعض الأمراء أرسل إلى مالك بن دينار بعشرة آلاف درهم فأخرجها كلها فأتاه محمد بن واسع فقال ما صنعت بما أعطاك هذا المخلوق قال سل أصحابي فقالوا أخرجه كله فقال

أنشدك الله أقلبك أشد حبا له الآن أم قبل أن أرسل إليك لا بل الآن قال إنما كنت أخاف هذا

وقد صدق فإنه إذا احبه احب بقاءه وكره وعزله ونكبته وموته وأحب اتساع ولايته وكثرة ماله وكل ذلك حب لأسباب الظلم وهو مذموم

قال سلمان وابن مسعود رضي الله عنهما من رضى بأمر وان غاب عنه كان كمن شهده قال تعالى ولا تركنوا إلى الذين ظلموا قيل لا ترضوا بأعمالهم فإن كنت في القوة بحيث لا تزداد حبالهم بذلك فلا بأس بالأخذ

وقد حكى عن بعض عباد البصرة أنه كان يأخذ أموالا ويفرقها فقيل له ألا تخاف أن تحبهم فقال لو أخذ رجل بيدى وأدخلنى الجنة ثم عصى ربه ما أحبه قلبي لأن ما الذي سخره للأخذ بيدي هو الذي أبغضه لأجله شكرا له على تصخيره إياه

وبهذا تبين أخذ المال الآن منهم وأن كان ذلك المال بعينه من وجه حلال محذور ومذموم لأنه لا ينفك عن هذه الغوائل

Bahaya ketiga:

Yaitu apabila hatimu mulai bergerak mencintai penguasa itu karena ia mengkhususkan pemberian kepadamu dan mengutamakanmu dengan hadiah yang ia kirimkan. Jika demikian, maka janganlah engkau menerimanya.

Itulah racun yang mematikan dan penyakit tersembunyi, yaitu sesuatu yang membuat para penguasa zalim menjadi dicintai olehmu. Sebab siapa yang engkau cintai, pasti engkau akan:

  • menjaga kepentingannya,
  • bersikap lunak kepadanya,
  • dan bermudah-mudahan terhadapnya.

Aisyah berkata:

“Jiwa manusia diciptakan mencintai orang yang berbuat baik kepadanya.”

Dan Nabi bersabda:

“Ya Allah, jangan Engkau jadikan orang fasik memiliki jasa kepadaku sehingga hatiku mencintainya.”

Beliau menjelaskan bahwa hati hampir tidak mampu menolak pengaruh semacam itu.

Diriwayatkan bahwa salah seorang penguasa mengirim sepuluh ribu dirham kepada Malik bin Dinar. Lalu beliau mengeluarkan seluruh uang itu untuk disedekahkan.

Kemudian Muhammad bin Wasi' datang dan bertanya:

“Apa yang engkau lakukan dengan pemberian makhluk itu?”

Malik berkata:

“Tanyakan kepada sahabat-sahabatku.”

Mereka menjawab:

“Beliau telah mengeluarkannya semua.”

Muhammad bin Wasi’ bertanya:

“Aku bersumpah atas nama Allah, apakah sekarang hatimu lebih mencintainya dibanding sebelum ia mengirim uang itu?”

Malik menjawab:

“Ya, sekarang lebih.”

Muhammad berkata:

“Inilah yang aku khawatirkan.”

Dan memang benar demikian. Sebab bila seseorang telah mencintainya, maka ia akan:

  • senang penguasa itu tetap berkuasa,
  • tidak suka jika ia dicopot,
  • tidak suka jika ia mendapat musibah atau mati,
  • suka kekuasaannya semakin luas,
  • dan suka hartanya semakin banyak.

Semua itu berarti mencintai sebab-sebab kezaliman, dan itu tercela.

Salman al-Farisi dan Abdullah bin Mas'ud berkata:

“Siapa yang ridha terhadap suatu perbuatan, meskipun ia tidak hadir di dalamnya, maka ia seperti orang yang menyaksikannya.”

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan janganlah kalian cenderung kepada orang-orang zalim.”

Dikatakan:

“Maksudnya: jangan ridha terhadap perbuatan mereka.”

Apabila engkau memiliki kekuatan hati sehingga hubungan mereka denganmu tidak menambah kecintaan di hatimu, maka tidak mengapa mengambilnya.

Dikisahkan dari sebagian ahli ibadah di Basrah bahwa ia pernah mengambil harta dari penguasa lalu membagikannya. Ketika ditanya:

“Tidakkah engkau takut mencintai mereka?”

Ia menjawab:

“Seandainya ada seseorang memegang tanganku lalu memasukkanku ke surga, kemudian ia durhaka kepada Rabb-nya, niscaya hatiku tidak akan mencintainya. Sebab Dzat yang membuatku mencintainya karena jasanya itulah juga Dzat yang membuatku membencinya karena maksiatnya. Aku hanya bersyukur kepada Allah yang menjadikannya sebab.”

Dengan ini jelaslah bahwa mengambil harta dari mereka pada zaman sekarang, meskipun harta itu sendiri berasal dari sisi yang halal, tetap mengandung bahaya dan tercela karena hampir tidak bisa lepas dari berbagai bahaya tersebut.

Penjelasan

Pembahasan ini menjelaskan bahaya paling halus dan paling tersembunyi, yaitu:

Rusaknya hati karena cinta kepada pelaku kezaliman.

Pada awalnya seseorang mungkin berkata:

  • “Saya hanya menerima hadiah.”
  • “Saya tidak mendukung kezalimannya.”
  • “Saya hanya ingin membantu dakwah atau fakir miskin.”

Namun hati manusia sangat mudah berubah.

Ketika seseorang sering menerima:

  • pemberian,
  • penghormatan,
  • fasilitas,
  • perhatian,

maka perlahan muncul:

  • rasa senang,
  • kedekatan emosional,
  • loyalitas,
  • pembelaan,
  • dan akhirnya toleransi terhadap kezaliman.

Inilah yang disebut:

“racun yang tersembunyi.”

Karena kerusakan hati sering datang perlahan tanpa disadari.

Contoh

1. Contoh Dai dan Pejabat

Seorang dai sering menerima bantuan dari pejabat zalim:

  • tiket,
  • hotel,
  • hadiah,
  • proyek dakwah.

Awalnya ia tetap tegas. Namun lama-kelamaan:

  • ia enggan mengkritik kezaliman,
  • membela pejabat itu,
  • atau diam saat rakyat dizalimi.

Bukan karena dalil, tetapi karena hatinya sudah condong.

2. Contoh Media Sosial

Seorang influencer Islam diberi sponsor besar oleh perusahaan yang jelas banyak unsur syubhat. Awalnya ia berkata:

“Saya hanya ambil uangnya untuk dakwah.”

Tetapi setelah sering mendapat kontrak:

  • ia takut kehilangan sponsor,
  • mulai memuji perusahaan,
  • menghindari kritik,
  • bahkan membela keburukannya.

Ini contoh cinta yang lahir karena pemberian.

3. Contoh Malik bin Dinar

Walaupun Malik bin Dinar sudah menyedekahkan seluruh uang itu, ternyata hatinya tetap merasa lebih mencintai penguasa tersebut. Ini menunjukkan:

  • hati manusia lemah,
  • pengaruh hadiah sangat besar,
  • bahkan orang saleh pun takut terhadap penyakit hati ini.

Kesimpulan

  1. Menerima pemberian dari orang zalim dapat menumbuhkan kecenderungan hati kepada mereka.
  2. Cinta kepada pelaku kezaliman berbahaya karena membuat seseorang:
    • membela mereka,
    • diam terhadap keburukan,
    • dan senang kekuasaan mereka terus bertambah.
  3. Penyakit hati sering muncul perlahan dan tidak disadari.
  4. Para ulama salaf sangat takut terhadap pengaruh hadiah karena hadiah mampu menundukkan hati.
  5. Menjaga hati lebih penting daripada sekadar menjaga penampilan amal lahiriah.
  6. Semakin seseorang menjadi panutan, semakin besar kewajibannya menjaga independensi hati dan sikapnya.
  7. Karena sulit selamat dari tiga bahaya tadi:
    • melegitimasi kezaliman,
    • menyesatkan manusia,
    • dan mencintai orang zalim,

maka banyak ulama memilih meninggalkan pemberian penguasa walaupun secara lahir ada sisi kebolehannya.

Ringkasan

Pembahasan ini menerangkan bahaya menerima pemberian dari penguasa zalim. Bahaya terbesar bukan hanya pada hartanya, tetapi pada pengaruhnya terhadap hati dan masyarakat. Hadiah dapat membuat seseorang mencintai pelaku kezaliman, membela mereka, dan diam terhadap keburukan mereka. Selain itu, masyarakat bisa salah paham lalu menganggap perbuatan zalim menjadi halal karena melihat ulama menerimanya. Oleh sebab itu para ulama salaf sangat berhati-hati, bahkan meninggalkan perkara yang tampak boleh demi menjaga hati, agama, dan keteladanan bagi manusia.

Wallahu A’lam...

Sumber:

Ihya’Ulumiddin al-Ghazaly

Maktabah Syamilah

Baca juga:

Sikap Imam Ahmad bin Hanbalterhadap Warisan Harta Syubhat: Membersihkan yang Haram tanpa Menyia-nyiakanHak Waris dan Utang

Tiga Bahaya Besar Kedua Menerima Harta dari PenguasaZalim: Legitimasi Kebatilan, Fitnah Keteladanan, dan Rusaknya Hati karena CintaDunia

Haram Mencuri dan Mengkhianati Harta Orang Zalim: Menjaga Amanah dan Hak Kepemilikan dalam Syariat

Tiga Bahaya Besar Ketiga

الغائلة الثالثة أن يتحرك قلبك إلى حبك لتخصيصه إياك وإثاره لك بما أنفذه إليك فإن كان كذلك فلا تقبل ذلك هو السم القاتل و الداء الدفين أعنى ما يحبب الظلمة إليك فإن من أحببته لا بد أن تحرص عليه وتداهن فيه

قالت عائشة رضي الله عنها جبلت النفوس على حب من احسن إليها

وقال عليه السلام اللهم لا تجعل لفاجر عندي يدا فيحبه قلبي // حديث اللهم لا تجعل لفاجر عندي يدا فيحبه قلبي أخرجه ابن مردويه في التفسير من رواية كثير بن عطية عن رجل لم يسم ورواه أبو منصور الديلمي في مسند الفردوس من حديث معاذ وأبو موسى المديني في كتاب تضييع العمر و الأيام مرسلا وأسانيده كلها ضعيفة //

بين صلى الله عليه و سلم أن القلب لا يكاد يمتنع من ذلك

وروى أن بعض الأمراء أرسل إلى مالك بن دينار بعشرة آلاف درهم فأخرجها كلها فأتاه محمد بن واسع فقال ما صنعت بما أعطاك هذا المخلوق قال سل أصحابي فقالوا أخرجه كله فقال

أنشدك الله أقلبك أشد حبا له الآن أم قبل أن أرسل إليك لا بل الآن قال إنما كنت أخاف هذا

وقد صدق فإنه إذا احبه احب بقاءه وكره وعزله ونكبته وموته وأحب اتساع ولايته وكثرة ماله وكل ذلك حب لأسباب الظلم وهو مذموم

قال سلمان وابن مسعود رضي الله عنهما من رضى بأمر وان غاب عنه كان كمن شهده قال تعالى ولا تركنوا إلى الذين ظلموا قيل لا ترضوا بأعمالهم فإن كنت في القوة بحيث لا تزداد حبالهم بذلك فلا بأس بالأخذ

وقد حكى عن بعض عباد البصرة أنه كان يأخذ أموالا ويفرقها فقيل له ألا تخاف أن تحبهم فقال لو أخذ رجل بيدى وأدخلنى الجنة ثم عصى ربه ما أحبه قلبي لأن ما الذي سخره للأخذ بيدي هو الذي أبغضه لأجله شكرا له على تصخيره إياه

وبهذا تبين أخذ المال الآن منهم وأن كان ذلك المال بعينه من وجه حلال محذور ومذموم لأنه لا ينفك عن هذه الغوائل

Bahaya ketiga:

Yaitu apabila hatimu mulai bergerak mencintai penguasa itu karena ia mengkhususkan pemberian kepadamu dan mengutamakanmu dengan hadiah yang ia kirimkan. Jika demikian, maka janganlah engkau menerimanya.

Itulah racun yang mematikan dan penyakit tersembunyi, yaitu sesuatu yang membuat para penguasa zalim menjadi dicintai olehmu. Sebab siapa yang engkau cintai, pasti engkau akan:

  • menjaga kepentingannya,
  • bersikap lunak kepadanya,
  • dan bermudah-mudahan terhadapnya.

Aisyah berkata:

“Jiwa manusia diciptakan mencintai orang yang berbuat baik kepadanya.”

Dan Nabi bersabda:

“Ya Allah, jangan Engkau jadikan orang fasik memiliki jasa kepadaku sehingga hatiku mencintainya.”

Beliau menjelaskan bahwa hati hampir tidak mampu menolak pengaruh semacam itu.

Diriwayatkan bahwa salah seorang penguasa mengirim sepuluh ribu dirham kepada Malik bin Dinar. Lalu beliau mengeluarkan seluruh uang itu untuk disedekahkan.

Kemudian Muhammad bin Wasi' datang dan bertanya:

“Apa yang engkau lakukan dengan pemberian makhluk itu?”

Malik berkata:

“Tanyakan kepada sahabat-sahabatku.”

Mereka menjawab:

“Beliau telah mengeluarkannya semua.”

Muhammad bin Wasi’ bertanya:

“Aku bersumpah atas nama Allah, apakah sekarang hatimu lebih mencintainya dibanding sebelum ia mengirim uang itu?”

Malik menjawab:

“Ya, sekarang lebih.”

Muhammad berkata:

“Inilah yang aku khawatirkan.”

Dan memang benar demikian. Sebab bila seseorang telah mencintainya, maka ia akan:

  • senang penguasa itu tetap berkuasa,
  • tidak suka jika ia dicopot,
  • tidak suka jika ia mendapat musibah atau mati,
  • suka kekuasaannya semakin luas,
  • dan suka hartanya semakin banyak.

Semua itu berarti mencintai sebab-sebab kezaliman, dan itu tercela.

Salman al-Farisi dan Abdullah bin Mas'ud berkata:

“Siapa yang ridha terhadap suatu perbuatan, meskipun ia tidak hadir di dalamnya, maka ia seperti orang yang menyaksikannya.”

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan janganlah kalian cenderung kepada orang-orang zalim.”

Dikatakan:

“Maksudnya: jangan ridha terhadap perbuatan mereka.”

Apabila engkau memiliki kekuatan hati sehingga hubungan mereka denganmu tidak menambah kecintaan di hatimu, maka tidak mengapa mengambilnya.

Dikisahkan dari sebagian ahli ibadah di Basrah bahwa ia pernah mengambil harta dari penguasa lalu membagikannya. Ketika ditanya:

“Tidakkah engkau takut mencintai mereka?”

Ia menjawab:

“Seandainya ada seseorang memegang tanganku lalu memasukkanku ke surga, kemudian ia durhaka kepada Rabb-nya, niscaya hatiku tidak akan mencintainya. Sebab Dzat yang membuatku mencintainya karena jasanya itulah juga Dzat yang membuatku membencinya karena maksiatnya. Aku hanya bersyukur kepada Allah yang menjadikannya sebab.”

Dengan ini jelaslah bahwa mengambil harta dari mereka pada zaman sekarang, meskipun harta itu sendiri berasal dari sisi yang halal, tetap mengandung bahaya dan tercela karena hampir tidak bisa lepas dari berbagai bahaya tersebut.

Penjelasan

Pembahasan ini menjelaskan bahaya paling halus dan paling tersembunyi, yaitu:

Rusaknya hati karena cinta kepada pelaku kezaliman.

Pada awalnya seseorang mungkin berkata:

  • “Saya hanya menerima hadiah.”
  • “Saya tidak mendukung kezalimannya.”
  • “Saya hanya ingin membantu dakwah atau fakir miskin.”

Namun hati manusia sangat mudah berubah.

Ketika seseorang sering menerima:

  • pemberian,
  • penghormatan,
  • fasilitas,
  • perhatian,

maka perlahan muncul:

  • rasa senang,
  • kedekatan emosional,
  • loyalitas,
  • pembelaan,
  • dan akhirnya toleransi terhadap kezaliman.

Inilah yang disebut:

“racun yang tersembunyi.”

Karena kerusakan hati sering datang perlahan tanpa disadari.

Contoh

1. Contoh Dai dan Pejabat

Seorang dai sering menerima bantuan dari pejabat zalim:

  • tiket,
  • hotel,
  • hadiah,
  • proyek dakwah.

Awalnya ia tetap tegas. Namun lama-kelamaan:

  • ia enggan mengkritik kezaliman,
  • membela pejabat itu,
  • atau diam saat rakyat dizalimi.

Bukan karena dalil, tetapi karena hatinya sudah condong.

2. Contoh Media Sosial

Seorang influencer Islam diberi sponsor besar oleh perusahaan yang jelas banyak unsur syubhat. Awalnya ia berkata:

“Saya hanya ambil uangnya untuk dakwah.”

Tetapi setelah sering mendapat kontrak:

  • ia takut kehilangan sponsor,
  • mulai memuji perusahaan,
  • menghindari kritik,
  • bahkan membela keburukannya.

Ini contoh cinta yang lahir karena pemberian.

3. Contoh Malik bin Dinar

Walaupun Malik bin Dinar sudah menyedekahkan seluruh uang itu, ternyata hatinya tetap merasa lebih mencintai penguasa tersebut. Ini menunjukkan:

  • hati manusia lemah,
  • pengaruh hadiah sangat besar,
  • bahkan orang saleh pun takut terhadap penyakit hati ini.

Kesimpulan

  1. Menerima pemberian dari orang zalim dapat menumbuhkan kecenderungan hati kepada mereka.
  2. Cinta kepada pelaku kezaliman berbahaya karena membuat seseorang:
    • membela mereka,
    • diam terhadap keburukan,
    • dan senang kekuasaan mereka terus bertambah.
  3. Penyakit hati sering muncul perlahan dan tidak disadari.
  4. Para ulama salaf sangat takut terhadap pengaruh hadiah karena hadiah mampu menundukkan hati.
  5. Menjaga hati lebih penting daripada sekadar menjaga penampilan amal lahiriah.
  6. Semakin seseorang menjadi panutan, semakin besar kewajibannya menjaga independensi hati dan sikapnya.
  7. Karena sulit selamat dari tiga bahaya tadi:
    • melegitimasi kezaliman,
    • menyesatkan manusia,
    • dan mencintai orang zalim,

maka banyak ulama memilih meninggalkan pemberian penguasa walaupun secara lahir ada sisi kebolehannya.

Ringkasan

Pembahasan ini menerangkan bahaya menerima pemberian dari penguasa zalim. Bahaya terbesar bukan hanya pada hartanya, tetapi pada pengaruhnya terhadap hati dan masyarakat. Hadiah dapat membuat seseorang mencintai pelaku kezaliman, membela mereka, dan diam terhadap keburukan mereka. Selain itu, masyarakat bisa salah paham lalu menganggap perbuatan zalim menjadi halal karena melihat ulama menerimanya. Oleh sebab itu para ulama salaf sangat berhati-hati, bahkan meninggalkan perkara yang tampak boleh demi menjaga hati, agama, dan keteladanan bagi manusia.

Wallahu A’lam...

Sumber:

Ihya’Ulumiddin al-Ghazaly

Maktabah Syamilah

Baca juga:

Sikap Imam Ahmad bin Hanbalterhadap Warisan Harta Syubhat: Membersihkan yang Haram tanpa Menyia-nyiakanHak Waris dan Utang

Tiga Bahaya Besar Kedua Menerima Harta dari PenguasaZalim: Legitimasi Kebatilan, Fitnah Keteladanan, dan Rusaknya Hati karena CintaDunia

Haram Mencuri dan Mengkhianati Harta Orang Zalim: Menjaga Amanah dan Hak Kepemilikan dalam Syariat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

Apa Itu Ībāq (Budak Melarikan Diri) dalam Fikih Islam? Definisi, Hukum Haram, Hak Majikan, Kewajiban Penemu, Ganti Rugi, Jual Beli, Zakat, dan Pendapat Empat Madzhab

إِبَاق إِبَاق — Ībāq التَّعْرِيفُ : Definisi ١ - الإِْبَاقُ لُغَةً: مَصْدَرُ أَبَقَ الْعَبْدُ - بِفَتْحِ الْبَاءِ - يَأْبِقُ وَ...