آمِينَ
Āmīn
مَعْنَاهُ،
وَاللُّغَاتُ الَّتِي وَرَدَتْ فِيهِ:
Makna dan Ragam Pengucapannya
١ - جُمْهُورُ
أَهْل اللُّغَةِ عَلَى أَنَّ آمِينَ فِي الدُّعَاءِ يُمَدُّ وَيُقْصَرُ، وَتَقُول:
أَمَّنْتُ عَلَى الدُّعَاءِ تَأْمِينًا، إِذَا قُلْتَ آمِينَ. (١) وَيُعَبَّرُ
غَالِبًا بِالتَّأْمِينِ بَدَلاً مِنْ عِبَارَةِ: قَوْل آمِينَ، لِسُهُولَةِ
اللَّفْظِ. وَلَمْ يُعْتَبَرْ التَّأْمِينُ عُنْوَانًا لِلْبَحْثِ؛ لِئَلاَّ
يُشْتَبَهَ بِالتَّأْمِينِ التِّجَارِيِّ.
1. Mayoritas ahli bahasa berpendapat bahwa lafaz Āmīn (آمِينَ) dalam doa boleh dibaca panjang
maupun pendek.
Dikatakan:
أَمَّنْتُ
عَلَى الدُّعَاءِ تَأْمِينًا
“Aku mengucapkan Āmīn atas doa
tersebut,” apabila engkau mengucapkan Āmīn.
Istilah at-ta’mīn (التَّأْمِين) sering digunakan sebagai pengganti
ungkapan “mengucapkan Āmīn (قَوْلُ آمِينَ)”,
karena lebih mudah dalam pengucapan.
Istilah at-ta’mīn tidak
dijadikan sebagai judul pembahasan, agar tidak menimbulkan kerancuan dengan
istilah at-ta’mīn yang berarti asuransi atau pertanggungan komersial.
وَنَقَل الْفُقَهَاءُ فِيهِ
لُغَاتٍ عَدِيدَةً، نَكْتَفِي مِنْهَا بِأَرْبَعٍ: الْمَدِّ، وَالْقَصْرِ،
وَالْمَدِّ مَعَ الإِْمَالَةِ وَالتَّخْفِيفِ، وَالْمَدِّ مَعَ التَّشْدِيدِ.
وَالأَْخِيرَتَانِ حَكَاهُمَا الْوَاحِدِيُّ وَزَيَّفَ الأَْخِيرَةَ مِنْهُمَا.
وَقَال النَّوَوِيُّ: إِنَّهَا مُنْكَرَةٌ. وَحَكَى ابْنُ الأَْنْبَارِيِّ
الْقَصْرَ مَعَ التَّشْدِيدِ. وَهِيَ شَاذَّةٌ أَيْضًا.
Para fuqaha menukil beberapa ragam
pengucapan lafaz tersebut. Kami cukup menyebutkan empat bentuk, yaitu:
- Dibaca panjang (al-madd).
- Dibaca pendek (al-qashr).
- Dibaca panjang disertai imālah dan takhfīf.
- Dibaca panjang disertai tasydid.
Dua bentuk yang terakhir dinukil
oleh al-Wāḥidī, tetapi ia menilai bentuk terakhir sebagai lemah dan
tidak benar. Imam an-Nawawi berkata bahwa bentuk tersebut munkar.
Sementara itu, Ibn al-Anbārī
menukil bentuk dibaca pendek disertai tasydid, tetapi bentuk ini juga
dinilai syādz (jarang dan menyimpang dari bentuk yang umum).
وَكُلُّهَا إِلاَّ
الرَّابِعَةَ اسْمُ فِعْلٍ بِمَعْنَى اسْتَجِبْ. وَمَعْنَى آمِّينَ (بِالْمَدِّ
مَعَ التَّشْدِيدِ) قَاصِدِينَ إِلَيْكَ. قَال ابْنُ عَبَّاسٍ: سَأَلْتُ
النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ مَعْنَى آمِينَ، فَقَال:
افْعَل. وَقَال قَتَادَةُ: كَذَلِكَ يَكُونُ. وَرُوِيَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَال: آمِينَ خَاتَمُ رَبِّ الْعَالَمِينَ عَلَى عِبَادِهِ
الْمُؤْمِنِينَ. (٢) وَقَال عَطَاءٌ: آمِينَ دُعَاءٌ. وَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَال: مَا حَسَدَكُمُ الْيَهُودُ عَلَى شَيْءٍ مَا
حَسَدُوكُمْ عَلَى آمِينَ وَتَسْلِيمِ بَعْضِكُمْ عَلَى بَعْضٍ. (١) قَال ابْنُ
الْعَرَبِيِّ: هَذِهِ الْكَلِمَةُ لَمْ تَكُنْ لِمَنْ قَبْلَنَا، خَصَّنَا اللَّهُ
تَعَالَى بِهَا. (٢)
Semuanya, kecuali bentuk yang keempat, merupakan isim fi‘il
yang bermakna “istajib” (استجب),
yaitu “kabulkanlah.”
Adapun makna Āmmīna (آمِّينَ)
— dengan bacaan panjang disertai tasydid — adalah “orang-orang yang
menghadap dan menuju kepada-Mu.”
Ibnu ‘Abbās berkata: “Aku bertanya kepada Nabi ﷺ tentang makna Āmīn, lalu beliau
menjawab: ‘Lakukanlah.’”
Qatādah berkata: “Demikianlah maknanya.”
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, dari
Nabi ﷺ, beliau bersabda:
“Āmīn adalah penutup dari Tuhan semesta alam bagi hamba-hamba-Nya
yang beriman.”
‘Aṭā’ berkata: “Āmīn adalah doa.”
Sesungguhnya Nabi ﷺ juga bersabda:
“Orang-orang Yahudi tidak pernah iri kepada kalian atas sesuatu
sebagaimana mereka iri kepada kalian karena ucapan Āmīn dan karena sebagian
kalian mengucapkan salam kepada sebagian yang lain.”
Ibnu al-‘Arabī berkata: “Kata ini tidak pernah digunakan
oleh umat sebelum kita. Allah Ta‘ālā mengkhususkannya untuk kita.”
حَقِيقَةُ
التَّأْمِينِ:
Hakikat Ta’mīn
٢ - التَّأْمِينُ
دُعَاءٌ؛ لأَِنَّ الْمُؤَمِّنَ يَطْلُبُ مِنَ اللَّهِ أَنْ يَسْتَجِيبَ
الدُّعَاءَ. (٣)
2. Ta’mīn adalah doa, karena orang yang mengucapkan
ta’mīn memohon kepada Allah agar mengabulkan doa tersebut.
صِفَتُهُ
(حُكْمُهُ التَّكْلِيفِيُّ) :
Sifatnya (Hukum Taklifi)
٣ - الأَْصْل فِي قَوْل
آمِينَ أَنَّهُ سُنَّةٌ، لَكِنَّهُ قَدْ يَخْرُجُ عَنِ النَّدْبِ إِلَى غَيْرِهِ،
كَالتَّأْمِينِ عَلَى دُعَاءٍ مُحَرَّمٍ، فَإِنَّهُ يَكُونُ حَرَامًا. (٤)
3. Hukum asal mengucapkan Āmīn adalah sunnah.
Namun, hukumnya dapat berubah dari anjuran (nadb) menjadi hukum yang
lain, seperti mengucapkan ta’mīn atas doa yang diharamkan. Dalam keadaan
demikian, mengucapkan ta’mīn hukumnya haram.
نَفْيُ
الْقُرْآنِيَّةِ عَنْ " آمِينَ ":
Tidak Termasuk Al-Qur’an: “Āmīn”
٤ - لاَ خِلاَفَ
فِي أَنَّ " آمِينَ " لَيْسَتْ مِنَ الْقُرْآنِ، لَكِنَّهَا مَأْثُورَةٌ
عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. وَقَدْ وَاظَبَ عَلَيْهَا
وَأَمَرَ بِهَا فِي الصَّلاَةِ وَخَارِجَهَا، كَمَا يُعْرَفُ مِنَ الأَْحَادِيثِ
الَّتِي سَتَرِدُ فِي خِلاَل الْبَحْثِ. (١)
4. Tidak ada perbedaan pendapat bahwa “Āmīn” bukanlah
bagian dari Al-Qur’an. Namun, lafaz tersebut merupakan amalan yang bersumber
dari Nabi ﷺ.
Beliau senantiasa mengucapkannya
dan memerintahkan untuk mengucapkannya, baik di dalam salat maupun di
luar salat, sebagaimana dapat diketahui dari hadis-hadis yang akan
disebutkan dalam pembahasan selanjutnya.
مَوَاطِنُ
التَّأْمِينِ:
Tempat-Tempat Mengucapkan Ta’mīn
٥ - التَّأْمِينُ
دُعَاءٌ غَيْرُ مُسْتَقِلٍّ بِنَفْسِهِ بَل مُرْتَبِطٌ بِغَيْرِهِ مِنَ
الأَْدْعِيَةِ، لِذَلِكَ يَحْسُنُ بَيَانُ الْمَوَاضِعِ الَّتِي يُؤَمَّنُ عَلَى
الدُّعَاءِ فِيهَا، فَمِنْ أَهَمِّهَا:
5. Ta’mīn merupakan doa yang tidak berdiri sendiri,
melainkan berkaitan dengan doa lainnya. Oleh karena itu, perlu
dijelaskan tempat-tempat di mana seseorang mengucapkan ta’mīn atas suatu doa.
Di antara tempat yang paling penting adalah:
أ - التَّأْمِينُ فِي
الصَّلاَةِ: التَّأْمِينُ عَقِبَ قِرَاءَةِ الْفَاتِحَةِ، وَعَلَى الدُّعَاءِ فِي
قُنُوتِ الصُّبْحِ وَالْوِتْرِ وَالنَّازِلَةِ.
A. Ta’mīn dalam salat:
Ta’mīn dilakukan setelah membaca Surah al-Fātiḥah, serta atas
doa dalam qunut Subuh, qunut witir, dan qunut nāzilah.
ب - وَالتَّأْمِينُ خَارِجَ
الصَّلاَةِ: عَقِبَ قِرَاءَةِ الْفَاتِحَةِ، وَالتَّأْمِينُ عَلَى الدُّعَاءِ فِي
الْخُطْبَةِ، وَفِي الاِسْتِسْقَاءِ.
B. Ta’mīn di luar salat:
Ta’mīn dilakukan setelah membaca Surah al-Fātiḥah, serta atas
doa yang disampaikan dalam khutbah dan dalam salat
istisqā’ (memohon hujan).
أَوَّلاً: التَّأْمِينُ فِي
الصَّلاَةِ
Pertama:
Ta’mīn dalam Salat
التَّأْمِينُ عَقِبَ
الْفَاتِحَةِ:
Ta’mīn
Setelah Membaca al-Fātiḥah
٥ م - التَّأْمِينُ لِلْمُنْفَرِدِ سُنَّةٌ، سَوَاءٌ أَكَانَتِ الصَّلاَةُ
سِرِّيَّةً أَمْ جَهْرِيَّةً. وَمِثْلُهُ الإِْمَامُ وَالْمَأْمُومُ فِي
السِّرِّيَّةِ، وَالْمُقْتَدِي فِي صَلاَةِ الْجَهْرِ.
5 م.
Mengucapkan ta’mīn bagi orang yang salat sendirian hukumnya sunnah,
baik salat tersebut dibaca secara sirr (pelan) maupun jahr
(dikeraskan).
Demikian pula hukumnya bagi imam
dan makmum dalam salat sirr, serta bagi makmum dalam salat jahr.
أَمَّا الإِْمَامُ فِي
الصَّلاَةِ الْجَهْرِيَّةِ فَلِلْعُلَمَاءِ فِيهِ ثَلاَثَةُ آرَاءٍ:
Adapun imam dalam salat jahr, para ulama memiliki tiga
pendapat mengenai hal ini:
أَوَّلاً - نَدْبُ
التَّأْمِينِ، وَهُوَ قَوْل الشَّافِعِيَّةِ، وَالْحَنَابِلَةِ، وَالْحَنَفِيَّةِ،
عَدَا رِوَايَةَ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي حَنِيفَةَ وَهُوَ رِوَايَةُ الْمَدَنِيِّينَ
مِنَ الْمَالِكِيَّةِ (١) لِحَدِيثِ: إِذَا أَمَّنَ الإِْمَامُ فَأَمِّنُوا،
فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الْمَلاَئِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا
تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ. (٢)
Pertama — Dianjurkan mengucapkan ta’mīn.
Ini merupakan pendapat mazhab Syafi‘iyah, Hanabilah, dan Hanafiyah,
kecuali riwayat al-Ḥasan dari Abu Hanifah. Pendapat ini juga
merupakan riwayat dari ulama Madinah dalam mazhab Malikiyah.
Hal ini berdasarkan hadis:
“Apabila imam mengucapkan Āmīn, maka ucapkanlah Āmīn. Sesungguhnya barang
siapa ucapan Āmīn-nya bertepatan dengan ucapan Āmīn para malaikat, maka
dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.”
ثَانِيًا - عَدَمُ النَّدْبِ،
وَهُوَ رِوَايَةُ الْمِصْرِيِّينَ مِنَ الْمَالِكِيَّةِ، وَهُوَ رِوَايَةُ
الْحَسَنِ عَنْ أَبِي حَنِيفَةَ. وَدَلِيل عَدَمِ اسْتِحْسَانِهِ مِنَ الإِْمَامِ
مَا رَوَى مَالِكٌ عَنْ سُمَيٍّ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ
رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَال: إِذَا قَال الإِْمَامُ:
غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ، فَقُولُوا: آمِينَ، فَإِنَّهُ
مَنْ وَافَقَ قَوْلُهُ قَوْل الْمَلاَئِكَةِ غُفِرَ لَهُ. (٣) وَهَذَا دَلِيلٌ
عَلَى أَنَّهُ لاَ يَقُولُهُ؛ لأَِنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَسَمَ
ذَلِكَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْقَوْمِ، وَالْقِسْمَةُ تُنَافِي الشَّرِكَةَ. (٤)
Kedua — Tidak dianjurkan mengucapkan
ta’mīn.
Pendapat ini merupakan riwayat ulama Mesir dari mazhab Malikiyah,
dan juga merupakan riwayat al-Ḥasan dari Abu Hanifah.
Dalil yang menunjukkan bahwa imam tidak dianjurkan mengucapkan ta’mīn adalah
hadis yang diriwayatkan oleh Mālik, dari Sumayy,
dari Abu Ṣāliḥ, dari Abu Hurairah, bahwa
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila imam mengucapkan: ‘Ghairil-maghḍūbi ‘alaihim wa
laḍ-ḍāllīn,’ maka ucapkanlah: ‘Āmīn.’ Sebab, barang siapa ucapannya bertepatan
dengan ucapan para malaikat, maka ia akan diampuni.”
Hadis ini menjadi dalil bahwa imam tidak mengucapkan Āmīn,
karena Nabi ﷺ membagi hal tersebut
antara imam dan makmum. Adanya pembagian menunjukkan bahwa
keduanya tidak melakukan hal yang sama, sebab pembagian mengandung makna
tidak adanya penyertaan dalam perbuatan tersebut.
ثَالِثًا - وُجُوبُ
التَّأْمِينِ، وَهُوَ رِوَايَةٌ عَنْ أَحْمَدَ، قَال فِي رِوَايَةِ إِسْحَاقَ بْنِ
إِبْرَاهِيمَ: آمِينَ أَمْرٌ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
(٥)
Ketiga — Wajib mengucapkan ta’mīn.
Pendapat ini merupakan salah satu riwayat dari Imam Aḥmad.
Dalam riwayat Isḥāq bin Ibrāhīm, beliau berkata:
“Āmīn merupakan perintah dari Nabi ﷺ.”
ارْتِبَاطُ
التَّأْمِينِ بِالسَّمَاعِ:
Keterkaitan Ta’mīn dengan Mendengarkan
٦ - اتَّفَقَتِ الْمَذَاهِبُ
الأَْرْبَعَةُ عَلَى أَنَّهُ يُسَنُّ التَّأْمِينُ عِنْدَ سَمَاعِ قِرَاءَةِ
الإِْمَامِ، أَمَّا إِنْ سَمِعَ الْمَأْمُومُ التَّأْمِينَ مِنْ مُقْتَدٍ آخَرَ
فَلِلْفُقَهَاءِ فِي ذَلِكَ رَأْيَانِ:
6. Keempat mazhab sepakat bahwa disunnahkan mengucapkan
ta’mīn ketika mendengar bacaan imam.
Adapun apabila makmum mendengar
ucapan ta’mīn dari makmum lain yang juga mengikuti imam, maka para fuqaha
memiliki dua pendapat mengenai hal tersebut:
الأَْوَّل: نَدْبُ
التَّأْمِينِ، وَإِلَيْهِ ذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ، وَهُوَ قَوْلٌ لِلْمَالِكِيَّةِ
وَقَوْلٌ مُضَعَّفٌ لِلشَّافِعِيَّةِ.
Pertama — Dianjurkan mengucapkan ta’mīn.
Pendapat ini diikuti oleh mazhab Hanafiyah, dan merupakan
salah satu pendapat dalam mazhab Malikiyah, serta salah satu
pendapat yang dilemahkan dalam mazhab Syafi‘iyah.
الثَّانِي: لاَ يُطْلَبُ
التَّأْمِينُ، وَهُوَ الْمُعْتَمَدُ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ وَالْقَوْل الآْخَرُ
لِلْمَالِكِيَّةِ، وَلَمْ نَقِفْ عَلَى نَصٍّ لِلْحَنَابِلَةِ فِي هَذَا. (١)
Kedua — Ta’mīn tidak dianjurkan.
Pendapat ini merupakan pendapat yang mu‘tamad dalam mazhab Syafi‘iyah
dan pendapat lainnya dalam mazhab Malikiyah. Adapun dari mazhab
Hanabilah, kami tidak menemukan keterangan yang secara khusus membahas
masalah ini.
تَحَرِّي
الاِسْتِمَاعِ:
Kesengajaan Mendengarkan
٧ - لاَ يَتَحَرَّى
الْمُقْتَدِي عَلَى الأَْظْهَرِ الاِسْتِمَاعَ لِلإِْمَامِ عِنْدَ
الْمَالِكِيَّةِ، وَمُقَابِلُهُ: يَتَحَرَّى، وَهُوَ قَوْل الشَّافِعِيَّةِ. (٢)
7. Menurut pendapat yang lebih kuat (al-aẓhar) dalam
mazhab Malikiyah, makmum yang mengikuti imam tidak perlu secara
khusus mengupayakan diri untuk mendengarkan bacaan imam.
Adapun pendapat lainnya menyatakan
bahwa makmum perlu mengupayakan untuk mendengarkan bacaan imam, dan
pendapat ini merupakan salah satu pendapat dalam mazhab Syafi‘iyah.
الإِسْرَارُ
بِالتَّأْمِينِ وَالْجَهْرُ بِهِ:
Membaca Ta’mīn dengan Sirr dan Jahr
٨ - لاَ خِلاَفَ بَيْنَ
الْمَذَاهِبِ الأَْرْبَعَةِ فِي أَنَّ الصَّلاَةَ إِنْ كَانَتْ سِرِّيَّةً
فَالإِْسْرَارُ بِالتَّأْمِينِ سُنَّةٌ فِي حَقِّ الإِْمَامِ وَالْمَأْمُومِ
وَالْمُنْفَرِدِ. (٣)
8. Tidak ada perbedaan pendapat di antara empat mazhab
bahwa apabila salat dilakukan secara sirr (bacaan pelan), maka membaca
ta’mīn secara sirr merupakan sunnah bagi imam, makmum, maupun orang yang
salat sendirian.
وَأَمَّا إِنْ كَانَتْ
جَهْرِيَّةً فَقَدِ اخْتَلَفُوا فِي الإِْسْرَارِ بِهِ وَعَدَمِهِ عَلَى ثَلاَثَةِ
مَذَاهِبَ:
Adapun jika salat tersebut jahriah (bacaan dikeraskan),
para ulama berbeda pendapat mengenai apakah ta’mīn dibaca secara sirr
(pelan) atau tidak, dan mereka terbagi menjadi tiga pendapat:
الأَْوَّل: نَدْبُ
الإِْسْرَارِ، وَإِلَيْهِ ذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ وَالْمَالِكِيَّةُ، وَهُوَ
مُقَابِل الأَْظْهَرِ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ، إِلاَّ أَنَّ الْمَالِكِيَّةَ
اسْتَحَبُّوهُ بِالنِّسْبَةِ لِلْمَأْمُومِ وَالْمُنْفَرِدِ فَقَطْ،
وَالْحَنَفِيَّةُ وَمَعَهُمْ ابْنُ الْحَاجِبِ وَابْنُ عَرَفَةَ مِنَ
الْمَالِكِيَّةِ اسْتَحَبُّوهُ لِلْجَمِيعِ؛ لأَِنَّهُ دُعَاءٌ وَالأَْصْل فِيهِ
الإِْخْفَاءُ. (١) لِقَوْلِهِ سُبْحَانَهُ: {ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا
وَخُفْيَةً} (٢) وَلِقَوْل ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَرْبَعٌ
يُخْفِيهِنَّ الإِْمَامُ، وَذَكَرَ مِنْهَا آمِينَ (٣) .
Pertama — Dianjurkan membaca ta’mīn secara sirr (pelan).
Pendapat ini dianut oleh mazhab Hanafiyah dan Malikiyah,
dan merupakan pendapat yang berseberangan dengan pendapat al-aẓhar
dalam mazhab Syafi‘iyah.
Namun, Malikiyah hanya menganjurkan membaca ta’mīn secara
sirr bagi makmum dan orang yang salat sendirian. Sedangkan Hanafiyah,
bersama Ibnu al-Ḥājib dan Ibnu ‘Arafah dari kalangan Malikiyah,
menganjurkannya bagi semuanya, baik imam, makmum, maupun orang
yang salat sendirian.
Hal ini karena ta’mīn merupakan doa, sedangkan hukum asal
dalam berdoa adalah dilakukan secara tersembunyi (pelan).
Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman:
“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan penuh kerendahan diri dan secara tersembunyi.”
Demikian pula berdasarkan perkataan Ibnu Mas‘ūd radhiyallāhu ‘anhu:
“Ada empat perkara yang imam menyembunyikannya (membacanya secara
pelan),” dan beliau menyebutkan di antaranya adalah Āmīn.
وَمُقَابِل الأَْظْهَرِ
عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ تَخْصِيصُ الإِْسْرَارِ بِالْمَأْمُومِ فَقَطْ إِنْ
أَمَّنَ الإِْمَامُ، كَسَائِرِ الأَْذْكَارِ، وَقِيل: يُسِرُّ فِي هَذِهِ
الْحَالَةِ إِنْ قَل الْجَمْعُ. (٤)
Adapun pendapat yang berseberangan dengan pendapat al-aẓhar dalam
mazhab Syafi‘iyah adalah bahwa membaca ta’mīn secara sirr
hanya dikhususkan bagi makmum, apabila imam mengucapkan ta’mīn. Hal
ini disamakan dengan zikir-zikir lainnya.
Ada pula yang berpendapat bahwa dalam keadaan seperti ini ta’mīn
dibaca secara sirr apabila jumlah jamaah sedikit.
الثَّانِي: نَدْبُ الْجَهْرِ.
وَهُوَ مَذْهَبُ الشَّافِعِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ، إِلاَّ أَنَّ الْحَنَابِلَةَ
عَمَّمُوا النَّدْبَ فِي كُل مُصَلٍّ.
Kedua — Dianjurkan membaca ta’mīn secara jahr (dikeraskan).
Ini merupakan pendapat mazhab Syafi‘iyah dan Hanabilah.
Hanya saja, mazhab Hanabilah memberlakukan anjuran tersebut kepada
setiap orang yang sedang salat, baik imam, makmum, maupun orang yang
salat sendirian.
وَوَافَقَهُمُ
الشَّافِعِيَّةُ اتِّفَاقًا بِالنِّسْبَةِ لِلإِْمَامِ وَالْمُنْفَرِدِ. وَأَمَّا
فِي الْمَأْمُومِ فَقَدْ وَافَقُوهُمْ أَيْضًا بِشَرْطِ عَدَمِ تَأْمِينِ
الإِْمَامِ. فَإِنْ أَمَّنَ فَالأَْظْهَرُ نَدْبُ الْجَهْرِ كَذَلِكَ. وَقِيل:
إِنَّمَا يَجْهَرُ فِي حَالَةِ تَأْمِينِ الإِْمَامِ بِشَرْطِ كَثْرَةِ الْجَمْعِ.
فَإِنْ لَمْ يَكْثُرْ فَلاَ يُنْدَبُ الْجَهْرُ.
Mazhab Syafi‘iyah juga sependapat dengan mereka secara
mutlak dalam hal imam dan orang yang salat sendirian.
Adapun dalam hal makmum, mereka juga sependapat dengan
mereka dengan syarat imam tidak mengucapkan ta’mīn. Jika imam
mengucapkan ta’mīn, maka menurut pendapat al-aẓhar, disunnahkan
pula mengeraskan bacaan ta’mīn.
Ada pula pendapat yang menyatakan bahwa dalam keadaan imam mengucapkan
ta’mīn, ta’mīn hanya dikeraskan apabila jumlah jamaah banyak.
Jika jumlah jamaah tidak banyak, maka tidak disunnahkan mengeraskannya.
وَاسْتَدَل الْقَائِلُونَ
بِنَدْبِ الْجَهْرِ بِأَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَال: "
آمِينَ " وَرَفَعَ بِهَا صَوْتَهُ. (١)
Para ulama yang berpendapat bahwa mengeraskan suara ketika
mengucapkan ta’mīn hukumnya sunnah berdalil dengan hadis bahwa Nabi ﷺ mengucapkan “Āmīn” dan meninggikan suara
ketika mengucapkannya.
الثَّالِثُ: التَّخْيِيرُ
بَيْنَ الْجَهْرِ وَالإِْسْرَارِ، وَبِهِ قَال ابْنُ بُكَيْرٍ وَابْنُ
الْعَرَبِيِّ مِنَ الْمَالِكِيَّةِ، غَيْرَ أَنَّ ابْنَ بُكَيْرٍ خَصَّهُ بِالإِْمَامِ
فَقَطْ، وَخَيَّرَ ابْنُ الْعَرَبِيِّ الْجَمِيعَ، وَصَحَّحَ فِي كِتَابِهِ "
أَحْكَامِ الْقُرْآنِ " الْجَهْرَ. (٢)
Ketiga — Diberikan pilihan antara membaca secara jahr (dikeraskan)
atau sirr (dipelankan).
Pendapat ini dikemukakan oleh Ibnu Bukair dan Ibnu
al-‘Arabī dari kalangan Malikiyah.
Hanya saja, Ibnu Bukair mengkhususkan pilihan tersebut bagi
imam saja, sedangkan Ibnu al-‘Arabī
memberikan pilihan tersebut kepada semua orang yang salat.
Dalam kitabnya Aḥkām al-Qur’ān, Ibnu al-‘Arabī menilai pendapat
mengeraskan bacaan ta’mīn sebagai pendapat yang lebih kuat.
وَلَوْ أَسَرَّ بِهِ
الإِْمَامُ جَهَرَ بِهِ الْمَأْمُومُ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ؛
لأَِنَّ جَهْرَ الْمَأْمُومِ بِالتَّأْمِينِ سُنَّةٌ، فَلاَ يَسْقُطُ بِتَرْكِ
الإِْمَامِ لَهُ، وَلأَِنَّهُ رُبَّمَا نَسِيَهُ الإِْمَامُ، فَيَجْهَرُ بِهِ
الْمَأْمُومُ لِيُذَكِّرَهُ. (٣)
Apabila imam membaca ta’mīn secara sirr (pelan), maka makmum
membaca ta’mīn secara jahr (dikeraskan) menurut mazhab Syafi‘iyah
dan Hanabilah.
Hal ini karena mengeraskan suara ketika mengucapkan ta’mīn bagi
makmum merupakan sunnah, sehingga sunnah tersebut tidak gugur hanya
karena imam tidak mengeraskannya.
Selain itu, bisa jadi imam lupa mengucapkan ta’mīn,
sehingga makmum mengeraskannya agar mengingatkan imam.
الْمُقَارَنَةُ
وَالتَّبَعِيَّةُ فِي التَّأْمِينِ:
Kesamaan Waktu dan Mengikuti dalam Ta’mīn
٩ - مَذْهَبُ
الشَّافِعِيَّةِ، وَالأَْصَحُّ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ أَنَّ مُقَارَنَةَ تَأْمِينِ
الإِْمَامِ لِتَأْمِينِ الْمَأْمُومِ سُنَّةٌ، لِخَبَرِ إِذَا أَمَّنَ الإِْمَامُ فَأَمِّنُوا
فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الْمَلاَئِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا
تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَخَبَرِ إِذَا قَال أَحَدُكُمْ: آمِينَ، وَقَالَتِ
الْمَلاَئِكَةُ فِي السَّمَاءِ: آمِينَ، فَوَافَقَتْ إِحْدَاهُمَا الأُْخْرَى،
غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ رَوَاهُ الشَّيْخَانِ. (٤)
9. Menurut mazhab Syafi‘iyah dan pendapat yang lebih
sahih dalam mazhab Hanabilah, bersamaan waktunya ta’mīn imam dengan
ta’mīn makmum merupakan sunnah.
Hal ini berdasarkan hadis:
“Apabila imam mengucapkan ta’mīn,
maka ucapkanlah ta’mīn. Sesungguhnya barang siapa ta’mīnnya bertepatan dengan
ta’mīn para malaikat, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.”
Juga berdasarkan hadis:
“Apabila salah seorang di antara
kalian mengucapkan: ‘Āmīn’, dan para malaikat di langit juga mengucapkan:
‘Āmīn’, lalu salah satunya bertepatan dengan yang lainnya, maka dosa-dosanya
yang telah lalu akan diampuni.”
Hadis tersebut diriwayatkan oleh al-Bukhārī
dan Muslim (asy-Syaikhān).
وَمُقَابِل الأَْصَحِّ عِنْدَ
الْحَنَابِلَةِ أَنَّ الْمُقْتَدِيَ يُؤَمِّنُ بَعْدَ تَأْمِينِ الإِْمَامِ. (١)
Adapun pendapat yang berseberangan dengan pendapat lebih sahih dalam
mazhab Hanabilah adalah bahwa makmum mengucapkan ta’mīn
setelah imam mengucapkan ta’mīn.
وَلَمْ أَقِفْ عَلَى نَصٍّ
صَرِيحٍ فِي ذَلِكَ لِلْحَنَفِيَّةِ وَالْمَالِكِيَّةِ، لَكِنَّهُمْ ذَكَرُوا مَا
يُفِيدُ مُقَارَنَةَ التَّأْمِينِ لِتَأْمِينِ الْمَلاَئِكَةِ، مُسْتَدِلِّينَ
بِحَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ السَّابِقِ إِذَا قَال أَحَدُكُمْ: آمِينَ، وَقَالَتِ
الْمَلاَئِكَةُ فِي السَّمَاءِ: آمِينَ. . . إِلَخْ.
Saya tidak menemukan keterangan yang secara tegas mengenai
hal tersebut dari mazhab Hanafiyah dan Malikiyah. Namun,
mereka menyebutkan sesuatu yang menunjukkan bersamaan dalam mengucapkan
ta’mīn dengan ta’mīn para malaikat, dengan berdalil pada hadis Abu
Hurairah yang telah disebutkan sebelumnya:
“Apabila salah seorang di antara kalian mengucapkan: ‘Āmīn’, dan
para malaikat di langit mengucapkan: ‘Āmīn’...” dan seterusnya.
وَبِحَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَيْضًا أَنَّ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَال: إِذَا قَال
الإِْمَامُ: غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ، فَقُولُوا:
آمِينَ، فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ قَوْلُهُ قَوْل الْمَلاَئِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا
تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ. (٢)
Juga berdasarkan hadis Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu,
bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila imam mengucapkan: ‘Ghairil-maghḍūbi ‘alaihim wa
laḍ-ḍāllīn’, maka ucapkanlah: ‘Āmīn’. Sebab, barang siapa ucapannya bertepatan
dengan ucapan para malaikat, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.”
فَإِنْ فَاتَتْهُ مُقَارَنَةُ
تَأْمِينِهِ لِتَأْمِينِ إِمَامِهِ أَتَى بِهِ عَقِبَهُ، فَإِنْ لَمْ يَعْلَمِ
الْمَأْمُومُ بِتَأْمِينِ إِمَامِهِ، أَوْ أَخَّرَهُ عَنْ وَقْتِهِ الْمَنْدُوبِ
أَمَّنَ. نَصَّ عَلَى ذَلِكَ الشَّافِعِيَّةُ، كَمَا نَصُّوا عَلَى أَنَّهُ لَوْ
قَرَأَ مَعَهُ وَفَرَغَا مَعًا كَفَى تَأْمِينٌ وَاحِدٌ، أَوْ فَرَغَ قَبْلَهُ،
قَال الْبَغَوِيُّ: يَنْتَظِرُهُ، وَالْمُخْتَارُ أَوِ الصَّوَابُ أَنَّهُ
يُؤَمِّنُ لِنَفْسِهِ، ثُمَّ يُؤَمِّنُ لِلْمُتَابَعَةِ. (٣)
Jika makmum tidak sempat bersamaan mengucapkan ta’mīn dengan imam,
maka ia mengucapkannya segera setelah imam selesai mengucapkan ta’mīn.
Jika makmum tidak mengetahui bahwa imam telah mengucapkan ta’mīn,
atau ia terlambat mengucapkannya dari waktu yang dianjurkan,
maka ia tetap mengucapkan ta’mīn.
Demikian ditegaskan oleh mazhab Syafi‘iyah. Mereka juga
menjelaskan bahwa apabila makmum membaca bersama imam dan keduanya
selesai secara bersamaan, maka satu kali ta’mīn sudah
mencukupi.
Namun, apabila makmum selesai membaca sebelum imam, al-Baghawī
berkata: “Ia menunggu imam.”
Pendapat yang dipilih atau yang dianggap benar adalah bahwa makmum
mengucapkan ta’mīn untuk dirinya sendiri, kemudian mengucapkannya lagi sebagai
bentuk mengikuti imam.
الْفَصْل
بَيْنَ " آمِينَ " وَبَيْنَ {وَلاَ الضَّالِّينَ} :
Jeda antara “Āmīn” dan {وَلَا
الضَّالِّينَ}
١٠ - الشَّافِعِيَّةُ
وَالْحَنَابِلَةُ عَلَى نَدْبِ السُّكُوتِ لَحْظَةً لَطِيفَةً بَيْنَ {وَلاَ
الضَّالِّينَ} وَبَيْنَ " آمِينَ " لِيُعْلِمَ أَنَّهَا لَيْسَتْ مِنَ
الْقُرْآنِ، وَعَلَى أَلاَّ يَتَخَلَّل فِي هَذِهِ اللَّحْظَةِ لَفْظٌ. نَعَمْ،
يَسْتَثْنِي الشَّافِعِيَّةُ " رَبِّ اغْفِرْ لِي " قَالُوا:
وَيَنْبَغِي أَنَّهُ لَوْ زَادَ عَلَى ذَلِكَ " وَلِوَالِدَيَّ وَلِجَمِيعِ
الْمُسْلِمِينَ " لَمْ يَضُرَّ أَيْضًا. (١)
10. Mazhab Syafi‘iyah dan Hanabilah menganjurkan adanya jeda
sejenak antara bacaan {وَلَا الضَّالِّينَ}
dan ucapan “Āmīn”, agar diketahui bahwa “Āmīn” bukan bagian dari
Al-Qur’an.
Pada jeda tersebut, hendaknya
tidak diselingi dengan ucapan apa pun.
Namun, mazhab Syafi‘iyah
mengecualikan ucapan:
رَبِّ
اغْفِرْ لِي
“Wahai Tuhanku, ampunilah aku.”
Mereka juga mengatakan bahwa apabila
seseorang menambahkan:
وَلِوَالِدَيَّ
وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ
“Dan ampunilah kedua orang tuaku serta seluruh kaum Muslimin,”
maka hal tersebut juga tidak
mengapa.
وَلَمْ أَرَ مِنَ
الْحَنَفِيَّةِ وَالْمَالِكِيَّةِ مَنْ تَعَرَّضَ لِهَذِهِ النُّقْطَةِ، فِيمَا
وَقَفْتُ عَلَيْهِ.
Saya belum menemukan keterangan dari mazhab Hanafiyah dan Malikiyah
yang membahas masalah ini, berdasarkan sumber-sumber yang telah saya telusuri.
تَكْرَارُ
آمِينَ وَالزِّيَادَةُ بَعْدَهَا:
Mengulang “Āmīn” dan Menambahkan Bacaan Setelahnya
١١ - يَحْسُنُ
عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ قَوْل " آمِينَ رَبَّ الْعَالَمِينَ "، وَغَيْرُ
ذَلِكَ مِنَ الذِّكْرِ. وَلاَ يُسْتَحَبُّ عِنْدَ أَحْمَدَ، لَكِنْ لاَ تَبْطُل
صَلاَتُهُ، وَلاَ يَسْجُدُ لِلسَّهْوِ عَنْهَا. (٢) وَلَمْ نَجِدْ لِغَيْرِ
الشَّافِعِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ نَصًّا فِي التَّكْرَارِ.
Mengulang
“Āmīn” dan Menambahkan Bacaan Setelahnya
11. Menurut mazhab Syafi‘iyah, disunnahkan mengucapkan “Āmīn,
Rabbal-‘ālamīn” dan zikir-zikir lainnya setelahnya.
Adapun menurut Imam Aḥmad,
hal tersebut tidak disunnahkan. Namun, apabila seseorang melakukannya, salatnya
tidak batal, dan ia tidak perlu melakukan sujud sahwi karena
meninggalkannya.
Kami tidak menemukan keterangan dari
selain mazhab Syafi‘iyah dan Hanabilah mengenai masalah mengulang
ucapan Āmīn.
وَذَكَرَ الْكُرْدِيُّ عَنِ
ابْنِ حَجَرٍ أَنَّهُ يُنْدَبُ تَكْرَارُ " آمِينَ " فِي الصَّلاَةِ،
مُسْتَدِلًّا بِمَا رَوَاهُ وَائِل بْنُ حُجْرٍ أَنَّهُ قَال: رَأَيْتُ رَسُول
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَل الصَّلاَةَ، فَلَمَّا فَرَغَ
مِنْ فَاتِحَةِ الْكِتَابِ، قَال: آمِينَ، ثَلاَثًا وَيُؤْخَذُ مِنْهُ تَكْرَارُ
" آمِينَ " ثَلاَثًا، حَتَّى فِي الصَّلاَةِ. (٣)
Al-Kurdī menukil dari Ibnu Ḥajar bahwa dianjurkan
mengulang ucapan “Āmīn” dalam salat.
Ia berdalil dengan riwayat Wā’il bin Ḥujr, bahwa ia
berkata:
“Aku melihat Rasulullah ﷺ
memulai salat. Ketika beliau selesai membaca Fātiḥatul-Kitāb, beliau
mengucapkan: ‘Āmīn’ sebanyak tiga kali.”
Dari hadis tersebut dapat diambil pemahaman tentang disunnahkannya
mengulang ucapan “Āmīn” sebanyak tiga kali, bahkan di dalam
salat.
تَرْكُ
التَّأْمِينِ:
Meninggalkan Membaca Amin
١٢ - الْمَذَاهِبُ
الأَْرْبَعَةُ عَلَى أَنَّ الْمُصَلِّيَ لَوْ تَرَكَ " آمِينَ "
وَاشْتَغَل بِغَيْرِهَا لاَ تَفْسُدُ صَلاَتُهُ، وَلاَ سَهْوَ عَلَيْهِ؛ لأَِنَّهُ
سُنَّةٌ فَاتَ مَحَلُّهَا. (١)
12. Keempat mazhab sepakat bahwa apabila orang yang sedang
salat meninggalkan ucapan “Āmīn” dan melakukan hal lain sebagai
gantinya, maka salatnya tidak menjadi batal dan ia tidak perlu
melakukan sujud sahwi.
Hal ini karena ta’mīn hukumnya
sunnah, dan waktunya untuk dilakukan telah terlewat.
عَدَمُ
انْقِطَاعِ الْقِرَاءَةِ بِالتَّأْمِينِ عَلَى قِرَاءَةِ الإِْمَامِ:
Bacaan Makmum Tidak Terputus karena Ta’mīn atas Bacaan Imam
١٣ - إِذَا
فَرَغَ الإِْمَامُ مِنْ قِرَاءَةِ الْفَاتِحَةِ أَثْنَاءَ قِرَاءَةِ الْمَأْمُومِ،
قَال الْمَأْمُومُ: " آمِينَ " ثُمَّ يُتِمُّ قِرَاءَتَهُ، نَصَّ عَلَى
ذَلِكَ الشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ.
13. Apabila imam telah selesai membaca Surah al-Fātiḥah
ketika makmum masih dalam proses membaca, maka makmum mengucapkan “Āmīn”,
kemudian melanjutkan dan menyempurnakan bacaannya.
Hal ini ditegaskan oleh mazhab
Syafi‘iyah dan Hanabilah.
وَلاَ قِرَاءَةَ عِنْدَ
الْحَنَفِيَّةِ وَالْمَالِكِيَّةِ بِالنِّسْبَةِ لِلْمَأْمُومِ. (٢)
Adapun menurut mazhab Hanafiyah dan Malikiyah, makmum
tidak membaca (al-Fātiḥah) dalam keadaan tersebut.
التَّأْمِينُ
عَقِبَ الْفَاتِحَةِ خَارِجَ الصَّلاَةِ:
Membaca Amin Setelah Membaca
al-Fātiḥah di Luar Salat
١٤ - التَّأْمِينُ عَقِبَ
قِرَاءَةِ الْفَاتِحَةِ سُنَّةٌ عِنْدَ الْمَذَاهِبِ الأَْرْبَعَةِ؛ لِقَوْلِهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَّنَنِي جِبْرِيل عَلَيْهِ السَّلَامُ
عِنْدَ فَرَاغِي مِنَ الْفَاتِحَةِ: آمِينَ (٣) .
14. Mengucapkan ta’mīn setelah membaca Surah al-Fātiḥah
hukumnya sunnah menurut keempat mazhab.
Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ:
“Jibril ‘alaihissalām mengajarkan
kepadaku untuk mengucapkan ‘Āmīn’ ketika aku selesai membaca al-Fātiḥah.”
التَّأْمِينُ
عَلَى الْقُنُوتِ:
Ta’mīn atas Doa Qunut
١٥ - الْقُنُوتُ
قَدْ يَكُونُ فِي النَّازِلَةِ وَقَدْ يَكُونُ فِي غَيْرِهَا. وَلِلْفُقَهَاءِ فِي
التَّأْمِينِ عَلَى قُنُوتِ غَيْرِ النَّازِلَةِ ثَلاَثَةُ اتِّجَاهَاتٍ:
15. Qunut terkadang dilakukan karena adanya nāzilah (musibah
atau bencana) dan terkadang bukan karena nāzilah.
Mengenai mengucapkan ta’mīn atas
doa qunut yang bukan qunut nāzilah, para fuqaha memiliki tiga pendapat.
الأَْوَّل: التَّأْمِينُ
جَهْرًا، إِنْ سَمِعَ الإِْمَامَ، وَإِلاَّ قَنَتَ لِنَفْسِهِ. وَهُوَ قَوْل
الشَّافِعِيَّةِ وَالصَّحِيحُ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ، وَهُوَ قَوْل مُحَمَّدِ بْنِ
الْحَسَنِ فِي الْقُنُوتِ وَفِي الدُّعَاءِ بَعْدَهُ. (١) وَمِنْهُ الصَّلاَةُ
عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا نَصَّ الشَّافِعِيَّةُ.
وَهُوَ الْمُتَبَادِرُ لِغَيْرِهِمْ لِدُخُولِهِ فِي الشُّمُول.
Pertama — Mengucapkan ta’mīn dengan suara jahr (dikeraskan)
apabila ia mendengar imam. Jika tidak mendengar imam, maka ia berdoa
untuk dirinya sendiri.
Pendapat ini merupakan pendapat mazhab Syafi‘iyah dan
pendapat yang sahih dalam mazhab Hanabilah. Pendapat ini juga
merupakan pendapat Muḥammad bin al-Ḥasan mengenai qunut dan
doa setelahnya.
Termasuk di dalamnya adalah bersalawat kepada Nabi ﷺ, sebagaimana ditegaskan oleh mazhab
Syafi‘iyah. Hal ini juga merupakan pemahaman yang langsung tercakup
secara umum menurut mazhab-mazhab selain mereka, karena salawat
termasuk dalam cakupan doa tersebut.
الثَّانِي: تَرْكُ
التَّأْمِينِ. وَإِلَيْهِ ذَهَبَ الْمَالِكِيَّةُ، وَهُوَ الأَْصَحُّ عِنْدَ
الْحَنَفِيَّةِ، وَرِوَايَةً عَنْ أَحْمَدَ، وَقَوْلٌ ضَعِيفٌ عِنْدَ
الشَّافِعِيَّةِ. (٢)
Kedua — Meninggalkan ta’mīn.
Pendapat ini dianut oleh mazhab Malikiyah, merupakan pendapat
yang lebih sahih dalam mazhab Hanafiyah, salah satu riwayat
dari Imam Aḥmad, serta salah satu pendapat yang lemah
dalam mazhab Syafi‘iyah.
الثَّالِثُ: التَّخْيِيرُ بَيْنَ
التَّأْمِينِ وَتَرْكِهِ. وَهُوَ قَوْل أَبِي يُوسُفَ، وَقَوْلٌ ضَعِيفٌ
لِلشَّافِعِيَّةِ. (٣)
Ketiga — Memberikan pilihan antara mengucapkan ta’mīn atau
meninggalkannya.
Pendapat ini merupakan pendapat Abu Yūsuf, serta salah satu
pendapat yang lemah dalam mazhab Syafi‘iyah.
وَلاَ فَرْقَ بَيْنَ قُنُوتِ
النَّازِلَةِ وَقُنُوتِ غَيْرِهَا، عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ.
Menurut mazhab Syafi‘iyah dan Hanabilah, tidak ada
perbedaan antara qunut nāzilah dan qunut selain
nāzilah dalam masalah ini.
وَلاَ تَأْمِينَ فِي
النَّازِلَةِ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ لإِِسْرَارِهِمْ بِالْقُنُوتِ فِيهَا. فَإِنْ
جَهَرَ الإِْمَامُ أَمَّنَ الْمَأْمُومُ. قَال ابْنُ عَابِدِينَ: وَالَّذِي
يَظْهَرُ لِي أَنَّ الْمُقْتَدِيَ يُتَابِعُ إِمَامَهُ إِلاَّ إِذَا جَهَرَ
فَيُؤَمِّنُ.
Menurut mazhab Hanafiyah, tidak ada ta’mīn dalam qunut
nāzilah, karena mereka membaca qunut nāzilah secara sirr
(pelan).
Namun, jika imam mengeraskan bacaan qunut, maka makmum mengucapkan
ta’mīn.
Ibnu ‘Ābidīn berkata: “Menurut pendapat yang tampak bagi
saya, makmum mengikuti imamnya, kecuali apabila imam mengeraskan bacaan, maka
makmum mengucapkan ta’mīn.”
وَلاَ قُنُوتَ فِي
النَّازِلَةِ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ عَلَى الْمَشْهُورِ. (١)
Menurut mazhab Malikiyah, berdasarkan pendapat yang
masyhur, tidak terdapat qunut nāzilah.
وَلَوِ اقْتَدَى الْمَأْمُومُ
بِمَنْ يَقْنُتُ فِي صَلاَةِ الصُّبْحِ أَجَازَ لَهُ الْحَنَابِلَةُ التَّأْمِينَ.
وَمَعَهُمْ فِي ذَلِكَ ابْنُ فَرْحُونَ مِنَ الْمَالِكِيَّةِ. (٢)
Apabila seorang makmum mengikuti imam yang melakukan qunut dalam
salat Subuh, maka mazhab Hanabilah membolehkan makmum
mengucapkan ta’mīn. Dalam hal ini, Ibnu Farḥūn dari mazhab
Malikiyah juga sependapat dengan mereka.
وَيَسْكُتُ مَنْ صَلَّى
وَرَاءَ مَنْ يَقْنُتُ فِي الْفَجْرِ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ. (٣) وَيُرَاعِي
الْمَأْمُومُ الْمُقْتَدِي بِمَنْ لاَ يَقْنُتُ حَال نَفْسِهِ، عِنْدَ
الشَّافِعِيَّةِ، بِشَرْطِ عَدَمِ الإِْخْلاَل بِالْمُتَابَعَةِ. (٤)
Menurut mazhab Hanafiyah, orang yang salat di belakang imam
yang melakukan qunut dalam salat Subuh hendaknya diam.
Adapun menurut mazhab Syafi‘iyah, makmum yang mengikuti
imam yang tidak melakukan qunut tetap memperhatikan dan
menjaga keadaan dirinya sendiri, dengan syarat hal tersebut tidak
mengganggu kewajiban mengikuti imam.
ثَانِيًا:
التَّأْمِينُ خَارِجَ الصَّلاَةِ
Kedua: Ta’mīn di Luar Salat
التَّأْمِينُ
عَلَى دُعَاءِ الْخَطِيبِ:
Ta’mīn atas Doa Khatib
١٦ - يُسَنُّ التَّأْمِينُ
عَلَى دُعَاءِ الْخَطِيبِ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ وَالشَّافِعِيَّةِ
وَالْحَنَابِلَةِ، إِلاَّ أَنَّهُ يَكُونُ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ
وَالْحَنَابِلَةِ سِرًّا، وَبِلاَ رَفْعِ صَوْتٍ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ.
16. Mengucapkan ta’mīn atas doa khatib hukumnya sunnah
menurut mazhab Malikiyah, Syafi‘iyah, dan Hanabilah.
Namun, menurut Malikiyah dan
Hanabilah, ta’mīn tersebut dilakukan secara sirr (pelan). Sedangkan
menurut Syafi‘iyah, ta’mīn dilakukan tanpa mengeraskan suara.
وَلاَ تَأْمِينَ بِاللِّسَانِ
جَهْرًا عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ بَل يُؤَمِّنُ فِي نَفْسِهِ. (١)
Menurut mazhab Hanafiyah, tidak diperbolehkan mengucapkan
ta’mīn dengan lisan secara jahr (dengan suara keras).
Sebaliknya, seseorang mengucapkan ta’mīn dalam hati atau secara lirih
dalam dirinya sendiri.
وَنَصَّ الْمَالِكِيَّةُ
عَلَى تَحْرِيمِ مَا يَقَعُ عَلَى دَكَّةِ الْمُبَلِّغِينَ بَعْدَ قَوْل
الإِْمَامِ: " ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِْجَابَةِ "
مِنْ رَفْعِ أَصْوَاتِ جَمَاعَةٍ بِقَوْلِهِمْ: " آمِينَ. آمِينَ. آمِينَ
" وَاعْتَبَرُوهُ بِدْعَةً مُحَرَّمَةً. (٢)
Mazhab Malikiyah secara tegas menyatakan bahwa diharamkan
apa yang dilakukan di atas tempat para muballigh setelah imam
mengucapkan:
“Berdoalah kepada Allah dengan penuh keyakinan bahwa doa tersebut
akan dikabulkan.”
Yaitu ketika sekelompok orang mengeraskan suara mereka secara
bersama-sama dengan mengucapkan:
“Āmīn, Āmīn, Āmīn.”
Mereka menganggap perbuatan tersebut sebagai bid‘ah yang diharamkan.
التَّأْمِينُ
عَلَى دُعَاءِ الاِسْتِسْقَاءِ:
Ta’mīn atas Doa Istisqā’
١٧ - اسْتَحَبَّ
الشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ، وَهُوَ قَوْلٌ لِلْمَالِكِيَّةِ، التَّأْمِينَ
عَلَى دُعَاءِ الاِسْتِسْقَاءِ عِنْدَ جَهْرِ الإِْمَامِ بِهِ. وَلاَ يُخَالِفُ
الْحَنَفِيَّةُ فِي ذَلِكَ.
17. Mazhab Syafi‘iyah dan Hanabilah, serta salah satu
pendapat dalam mazhab Malikiyah, menganjurkan mengucapkan ta’mīn atas
doa istisqā’ ketika imam mengeraskan doa tersebut.
Mazhab Hanafiyah juga tidak
menyelisihi pendapat tersebut.
وَالْقَوْل الآْخَرُ
لِلْمَالِكِيَّةِ أَنْ يَدْعُوَ الإِْمَامُ وَالْمَأْمُومُونَ. وَقِيل بَعْدَ
دُعَائِهِمْ مَعًا: يَسْتَقْبِلُهُمُ الإِْمَامُ، فَيَدْعُو وَيُؤَمِّنُونَ. (٣)
Adapun pendapat lainnya dalam mazhab Malikiyah adalah bahwa
imam dan para makmum sama-sama berdoa.
Ada pula yang berpendapat bahwa setelah mereka berdoa bersama,
imam menghadap kepada mereka, kemudian imam berdoa dan para makmum
mengucapkan ta’mīn atas doanya.
التَّأْمِينُ
عَلَى الدُّعَاءِ دُبُرَ الصَّلاَةِ.
Ta’mīn atas Doa Setelah Salat
١٨ - لَمْ أَجِدْ
مَنْ يَقُول بِالتَّأْمِينِ عَلَى دُعَاءِ الإِْمَامِ بَعْدَ الصَّلاَةِ إِلاَّ
بَعْضَ الْمَالِكِيَّةِ. وَمِمَّنْ قَال بِجَوَازِهِ ابْنُ عَرَفَةَ، وَأَنْكَرَ
الْخِلاَفَ فِي كَرَاهِيَتِهِ. وَفِي جَوَابِ الْفَقِيهِ الْعَلاَّمَةِ أَبِي
مَهْدِيٍّ الْغُبْرِينِيُّ مَا نَصُّهُ: " وَنُقَرِّرُ أَوَّلاً أَنَّهُ لَمْ
يَرِدْ فِي الْمِلَّةِ نَهْيٌ عَنْ الدُّعَاءِ دُبُرَ الصَّلاَةِ، عَلَى مَا جَرَتْ
بِهِ الْعَادَةُ الْيَوْمَ مِنَ الاِجْتِمَاعِ، بَل جَاءَ التَّرْغِيبُ فِيهِ
عَلَى الْجُمْلَةِ. " فَذَكَرَ أَدِلَّةً كَثِيرَةً ثُمَّ قَال: "
فَتَحَصَّل بَعْدَ ذَلِكَ كُلِّهِ مِنَ الْمَجْمُوعِ أَنَّ عَمَل الأَْئِمَّةِ
مُنْذُ الأَْزْمِنَةِ الْمُتَقَادِمَةِ مُسْتَمِرٌّ فِي مَسَاجِدِ الْجَمَاعَاتِ،
وَهُيَ مَسَاجِدُ الْجَوَامِعِ، وَفِي مَسَاجِدِ الْقَبَائِل، وَهِيَ مَسَاجِدُ
الأَْرْبَاضِ وَالرَّوَابِطِ، عَلَى الْجَهْرِ بِالدُّعَاءِ بَعْدَ الْفَرَاغِ
مِنَ الصَّلَوَاتِ، عَلَى الْهَيْئَةِ الْمُتَعَارَفَةِ الآْنَ، مِنْ تَشْرِيكِ
الْحَاضِرِينَ، وَتَأْمِينِ السَّامِعِينَ، وَبَسْطِ الأَْيْدِي وَمَدِّهَا عِنْدَ
السُّؤَال وَالتَّضَرُّعِ وَالاِبْتِهَال مِنْ غَيْرِ مُنَازِعٍ. "
18. Saya tidak menemukan ulama yang berpendapat tentang
mengucapkan ta’mīn atas doa imam setelah salat, kecuali
sebagian ulama Malikiyah. Di antara mereka yang berpendapat bahwa hal tersebut dibolehkan
adalah Ibnu ‘Arafah, bahkan ia mengingkari adanya perbedaan
pendapat mengenai kemakruhannya.
Dalam jawaban faqih dan ulama besar Abu Mahdi al-Ghubrīnī,
disebutkan:
“Pertama-tama, kami menegaskan bahwa dalam syariat tidak terdapat
larangan berdoa setelah salat, sebagaimana kebiasaan yang berlangsung
pada masa sekarang berupa berkumpul untuk berdoa. Bahkan, secara umum terdapat
anjuran untuk berdoa.”
Kemudian beliau menyebutkan banyak dalil, lalu berkata:
“Setelah seluruh dalil tersebut dikumpulkan, dapat disimpulkan bahwa praktik
para imam sejak masa-masa terdahulu telah berlangsung secara terus-menerus di
masjid-masjid jamaah, yaitu masjid-masjid jami‘, serta di
masjid-masjid kabilah, yakni masjid-masjid di kawasan permukiman dan
tempat-tempat peribadatan mereka.
Mereka senantiasa mengeraskan doa setelah selesai melaksanakan salat,
dengan tata cara yang dikenal hingga sekarang, yaitu orang-orang yang
hadir turut serta dalam doa, para pendengar mengucapkan ta’mīn, dan mereka
mengangkat serta membentangkan tangan ketika memohon, merendahkan diri, dan
bersungguh-sungguh dalam berdoa, tanpa ada pihak yang mengingkarinya.”
وَكَرِهَهُ مَالِكٌ
وَجَمَاعَةٌ غَيْرُهُ مِنَ الْمَالِكِيَّةِ، لِمَا يَقَعُ فِي نَفْسِ الإِْمَامِ
مِنَ التَّعَاظُمِ. وَبَقِيَّةُ الْقَائِلِينَ بِالدُّعَاءِ عَقِبَ الصَّلاَةِ
يُسِرُّونَ بِهِ نَدْبًا، عَلَى تَفْصِيلٍ. (١) (ر: دُعَاءٌ) .
Mālik dan sejumlah ulama lainnya dari kalangan Malikiyah
memakruhkannya, karena hal tersebut dikhawatirkan dapat menimbulkan rasa
membesarkan diri atau kesombongan dalam diri imam.
Adapun ulama lainnya yang berpendapat bahwa berdoa setelah salat
diperbolehkan, mereka menganjurkan agar doa tersebut dibaca secara sirr
(pelan), dengan perincian tertentu.
(Lihat: “Du‘ā’”).
Wallahu A’lam...
Baca juga:
Hukum Bejana (Āniyah) dalam Fikih
Islam Menurut 4 Mazhab: Jenis, Bahan, Penggunaan, Kepemilikan, Najis, Bejana
Emas-Perak, dan Zakat
آمِينَ
Āmīn
مَعْنَاهُ،
وَاللُّغَاتُ الَّتِي وَرَدَتْ فِيهِ:
Makna dan Ragam Pengucapannya
١ - جُمْهُورُ
أَهْل اللُّغَةِ عَلَى أَنَّ آمِينَ فِي الدُّعَاءِ يُمَدُّ وَيُقْصَرُ، وَتَقُول:
أَمَّنْتُ عَلَى الدُّعَاءِ تَأْمِينًا، إِذَا قُلْتَ آمِينَ. (١) وَيُعَبَّرُ
غَالِبًا بِالتَّأْمِينِ بَدَلاً مِنْ عِبَارَةِ: قَوْل آمِينَ، لِسُهُولَةِ
اللَّفْظِ. وَلَمْ يُعْتَبَرْ التَّأْمِينُ عُنْوَانًا لِلْبَحْثِ؛ لِئَلاَّ
يُشْتَبَهَ بِالتَّأْمِينِ التِّجَارِيِّ.
1. Mayoritas ahli bahasa berpendapat bahwa lafaz Āmīn (آمِينَ) dalam doa boleh dibaca panjang
maupun pendek.
Dikatakan:
أَمَّنْتُ
عَلَى الدُّعَاءِ تَأْمِينًا
“Aku mengucapkan Āmīn atas doa
tersebut,” apabila engkau mengucapkan Āmīn.
Istilah at-ta’mīn (التَّأْمِين) sering digunakan sebagai pengganti
ungkapan “mengucapkan Āmīn (قَوْلُ آمِينَ)”,
karena lebih mudah dalam pengucapan.
Istilah at-ta’mīn tidak
dijadikan sebagai judul pembahasan, agar tidak menimbulkan kerancuan dengan
istilah at-ta’mīn yang berarti asuransi atau pertanggungan komersial.
وَنَقَل الْفُقَهَاءُ فِيهِ
لُغَاتٍ عَدِيدَةً، نَكْتَفِي مِنْهَا بِأَرْبَعٍ: الْمَدِّ، وَالْقَصْرِ،
وَالْمَدِّ مَعَ الإِْمَالَةِ وَالتَّخْفِيفِ، وَالْمَدِّ مَعَ التَّشْدِيدِ.
وَالأَْخِيرَتَانِ حَكَاهُمَا الْوَاحِدِيُّ وَزَيَّفَ الأَْخِيرَةَ مِنْهُمَا.
وَقَال النَّوَوِيُّ: إِنَّهَا مُنْكَرَةٌ. وَحَكَى ابْنُ الأَْنْبَارِيِّ
الْقَصْرَ مَعَ التَّشْدِيدِ. وَهِيَ شَاذَّةٌ أَيْضًا.
Para fuqaha menukil beberapa ragam
pengucapan lafaz tersebut. Kami cukup menyebutkan empat bentuk, yaitu:
- Dibaca panjang (al-madd).
- Dibaca pendek (al-qashr).
- Dibaca panjang disertai imālah dan takhfīf.
- Dibaca panjang disertai tasydid.
Dua bentuk yang terakhir dinukil
oleh al-Wāḥidī, tetapi ia menilai bentuk terakhir sebagai lemah dan
tidak benar. Imam an-Nawawi berkata bahwa bentuk tersebut munkar.
Sementara itu, Ibn al-Anbārī
menukil bentuk dibaca pendek disertai tasydid, tetapi bentuk ini juga
dinilai syādz (jarang dan menyimpang dari bentuk yang umum).
وَكُلُّهَا إِلاَّ
الرَّابِعَةَ اسْمُ فِعْلٍ بِمَعْنَى اسْتَجِبْ. وَمَعْنَى آمِّينَ (بِالْمَدِّ
مَعَ التَّشْدِيدِ) قَاصِدِينَ إِلَيْكَ. قَال ابْنُ عَبَّاسٍ: سَأَلْتُ
النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ مَعْنَى آمِينَ، فَقَال:
افْعَل. وَقَال قَتَادَةُ: كَذَلِكَ يَكُونُ. وَرُوِيَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَال: آمِينَ خَاتَمُ رَبِّ الْعَالَمِينَ عَلَى عِبَادِهِ
الْمُؤْمِنِينَ. (٢) وَقَال عَطَاءٌ: آمِينَ دُعَاءٌ. وَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَال: مَا حَسَدَكُمُ الْيَهُودُ عَلَى شَيْءٍ مَا
حَسَدُوكُمْ عَلَى آمِينَ وَتَسْلِيمِ بَعْضِكُمْ عَلَى بَعْضٍ. (١) قَال ابْنُ
الْعَرَبِيِّ: هَذِهِ الْكَلِمَةُ لَمْ تَكُنْ لِمَنْ قَبْلَنَا، خَصَّنَا اللَّهُ
تَعَالَى بِهَا. (٢)
Semuanya, kecuali bentuk yang keempat, merupakan isim fi‘il
yang bermakna “istajib” (استجب),
yaitu “kabulkanlah.”
Adapun makna Āmmīna (آمِّينَ)
— dengan bacaan panjang disertai tasydid — adalah “orang-orang yang
menghadap dan menuju kepada-Mu.”
Ibnu ‘Abbās berkata: “Aku bertanya kepada Nabi ﷺ tentang makna Āmīn, lalu beliau
menjawab: ‘Lakukanlah.’”
Qatādah berkata: “Demikianlah maknanya.”
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, dari
Nabi ﷺ, beliau bersabda:
“Āmīn adalah penutup dari Tuhan semesta alam bagi hamba-hamba-Nya
yang beriman.”
‘Aṭā’ berkata: “Āmīn adalah doa.”
Sesungguhnya Nabi ﷺ juga bersabda:
“Orang-orang Yahudi tidak pernah iri kepada kalian atas sesuatu
sebagaimana mereka iri kepada kalian karena ucapan Āmīn dan karena sebagian
kalian mengucapkan salam kepada sebagian yang lain.”
Ibnu al-‘Arabī berkata: “Kata ini tidak pernah digunakan
oleh umat sebelum kita. Allah Ta‘ālā mengkhususkannya untuk kita.”
حَقِيقَةُ
التَّأْمِينِ:
Hakikat Ta’mīn
٢ - التَّأْمِينُ
دُعَاءٌ؛ لأَِنَّ الْمُؤَمِّنَ يَطْلُبُ مِنَ اللَّهِ أَنْ يَسْتَجِيبَ
الدُّعَاءَ. (٣)
2. Ta’mīn adalah doa, karena orang yang mengucapkan
ta’mīn memohon kepada Allah agar mengabulkan doa tersebut.
صِفَتُهُ
(حُكْمُهُ التَّكْلِيفِيُّ) :
Sifatnya (Hukum Taklifi)
٣ - الأَْصْل فِي قَوْل
آمِينَ أَنَّهُ سُنَّةٌ، لَكِنَّهُ قَدْ يَخْرُجُ عَنِ النَّدْبِ إِلَى غَيْرِهِ،
كَالتَّأْمِينِ عَلَى دُعَاءٍ مُحَرَّمٍ، فَإِنَّهُ يَكُونُ حَرَامًا. (٤)
3. Hukum asal mengucapkan Āmīn adalah sunnah.
Namun, hukumnya dapat berubah dari anjuran (nadb) menjadi hukum yang
lain, seperti mengucapkan ta’mīn atas doa yang diharamkan. Dalam keadaan
demikian, mengucapkan ta’mīn hukumnya haram.
نَفْيُ
الْقُرْآنِيَّةِ عَنْ " آمِينَ ":
Tidak Termasuk Al-Qur’an: “Āmīn”
٤ - لاَ خِلاَفَ
فِي أَنَّ " آمِينَ " لَيْسَتْ مِنَ الْقُرْآنِ، لَكِنَّهَا مَأْثُورَةٌ
عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. وَقَدْ وَاظَبَ عَلَيْهَا
وَأَمَرَ بِهَا فِي الصَّلاَةِ وَخَارِجَهَا، كَمَا يُعْرَفُ مِنَ الأَْحَادِيثِ
الَّتِي سَتَرِدُ فِي خِلاَل الْبَحْثِ. (١)
4. Tidak ada perbedaan pendapat bahwa “Āmīn” bukanlah
bagian dari Al-Qur’an. Namun, lafaz tersebut merupakan amalan yang bersumber
dari Nabi ﷺ.
Beliau senantiasa mengucapkannya
dan memerintahkan untuk mengucapkannya, baik di dalam salat maupun di
luar salat, sebagaimana dapat diketahui dari hadis-hadis yang akan
disebutkan dalam pembahasan selanjutnya.
مَوَاطِنُ
التَّأْمِينِ:
Tempat-Tempat Mengucapkan Ta’mīn
٥ - التَّأْمِينُ
دُعَاءٌ غَيْرُ مُسْتَقِلٍّ بِنَفْسِهِ بَل مُرْتَبِطٌ بِغَيْرِهِ مِنَ
الأَْدْعِيَةِ، لِذَلِكَ يَحْسُنُ بَيَانُ الْمَوَاضِعِ الَّتِي يُؤَمَّنُ عَلَى
الدُّعَاءِ فِيهَا، فَمِنْ أَهَمِّهَا:
5. Ta’mīn merupakan doa yang tidak berdiri sendiri,
melainkan berkaitan dengan doa lainnya. Oleh karena itu, perlu
dijelaskan tempat-tempat di mana seseorang mengucapkan ta’mīn atas suatu doa.
Di antara tempat yang paling penting adalah:
أ - التَّأْمِينُ فِي
الصَّلاَةِ: التَّأْمِينُ عَقِبَ قِرَاءَةِ الْفَاتِحَةِ، وَعَلَى الدُّعَاءِ فِي
قُنُوتِ الصُّبْحِ وَالْوِتْرِ وَالنَّازِلَةِ.
A. Ta’mīn dalam salat:
Ta’mīn dilakukan setelah membaca Surah al-Fātiḥah, serta atas
doa dalam qunut Subuh, qunut witir, dan qunut nāzilah.
ب - وَالتَّأْمِينُ خَارِجَ
الصَّلاَةِ: عَقِبَ قِرَاءَةِ الْفَاتِحَةِ، وَالتَّأْمِينُ عَلَى الدُّعَاءِ فِي
الْخُطْبَةِ، وَفِي الاِسْتِسْقَاءِ.
B. Ta’mīn di luar salat:
Ta’mīn dilakukan setelah membaca Surah al-Fātiḥah, serta atas
doa yang disampaikan dalam khutbah dan dalam salat
istisqā’ (memohon hujan).
أَوَّلاً: التَّأْمِينُ فِي
الصَّلاَةِ
Pertama:
Ta’mīn dalam Salat
التَّأْمِينُ عَقِبَ
الْفَاتِحَةِ:
Ta’mīn
Setelah Membaca al-Fātiḥah
٥ م - التَّأْمِينُ لِلْمُنْفَرِدِ سُنَّةٌ، سَوَاءٌ أَكَانَتِ الصَّلاَةُ
سِرِّيَّةً أَمْ جَهْرِيَّةً. وَمِثْلُهُ الإِْمَامُ وَالْمَأْمُومُ فِي
السِّرِّيَّةِ، وَالْمُقْتَدِي فِي صَلاَةِ الْجَهْرِ.
5 م.
Mengucapkan ta’mīn bagi orang yang salat sendirian hukumnya sunnah,
baik salat tersebut dibaca secara sirr (pelan) maupun jahr
(dikeraskan).
Demikian pula hukumnya bagi imam
dan makmum dalam salat sirr, serta bagi makmum dalam salat jahr.
أَمَّا الإِْمَامُ فِي
الصَّلاَةِ الْجَهْرِيَّةِ فَلِلْعُلَمَاءِ فِيهِ ثَلاَثَةُ آرَاءٍ:
Adapun imam dalam salat jahr, para ulama memiliki tiga
pendapat mengenai hal ini:
أَوَّلاً - نَدْبُ
التَّأْمِينِ، وَهُوَ قَوْل الشَّافِعِيَّةِ، وَالْحَنَابِلَةِ، وَالْحَنَفِيَّةِ،
عَدَا رِوَايَةَ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي حَنِيفَةَ وَهُوَ رِوَايَةُ الْمَدَنِيِّينَ
مِنَ الْمَالِكِيَّةِ (١) لِحَدِيثِ: إِذَا أَمَّنَ الإِْمَامُ فَأَمِّنُوا،
فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الْمَلاَئِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا
تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ. (٢)
Pertama — Dianjurkan mengucapkan ta’mīn.
Ini merupakan pendapat mazhab Syafi‘iyah, Hanabilah, dan Hanafiyah,
kecuali riwayat al-Ḥasan dari Abu Hanifah. Pendapat ini juga
merupakan riwayat dari ulama Madinah dalam mazhab Malikiyah.
Hal ini berdasarkan hadis:
“Apabila imam mengucapkan Āmīn, maka ucapkanlah Āmīn. Sesungguhnya barang
siapa ucapan Āmīn-nya bertepatan dengan ucapan Āmīn para malaikat, maka
dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.”
ثَانِيًا - عَدَمُ النَّدْبِ،
وَهُوَ رِوَايَةُ الْمِصْرِيِّينَ مِنَ الْمَالِكِيَّةِ، وَهُوَ رِوَايَةُ
الْحَسَنِ عَنْ أَبِي حَنِيفَةَ. وَدَلِيل عَدَمِ اسْتِحْسَانِهِ مِنَ الإِْمَامِ
مَا رَوَى مَالِكٌ عَنْ سُمَيٍّ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ
رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَال: إِذَا قَال الإِْمَامُ:
غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ، فَقُولُوا: آمِينَ، فَإِنَّهُ
مَنْ وَافَقَ قَوْلُهُ قَوْل الْمَلاَئِكَةِ غُفِرَ لَهُ. (٣) وَهَذَا دَلِيلٌ
عَلَى أَنَّهُ لاَ يَقُولُهُ؛ لأَِنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَسَمَ
ذَلِكَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْقَوْمِ، وَالْقِسْمَةُ تُنَافِي الشَّرِكَةَ. (٤)
Kedua — Tidak dianjurkan mengucapkan
ta’mīn.
Pendapat ini merupakan riwayat ulama Mesir dari mazhab Malikiyah,
dan juga merupakan riwayat al-Ḥasan dari Abu Hanifah.
Dalil yang menunjukkan bahwa imam tidak dianjurkan mengucapkan ta’mīn adalah
hadis yang diriwayatkan oleh Mālik, dari Sumayy,
dari Abu Ṣāliḥ, dari Abu Hurairah, bahwa
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila imam mengucapkan: ‘Ghairil-maghḍūbi ‘alaihim wa
laḍ-ḍāllīn,’ maka ucapkanlah: ‘Āmīn.’ Sebab, barang siapa ucapannya bertepatan
dengan ucapan para malaikat, maka ia akan diampuni.”
Hadis ini menjadi dalil bahwa imam tidak mengucapkan Āmīn,
karena Nabi ﷺ membagi hal tersebut
antara imam dan makmum. Adanya pembagian menunjukkan bahwa
keduanya tidak melakukan hal yang sama, sebab pembagian mengandung makna
tidak adanya penyertaan dalam perbuatan tersebut.
ثَالِثًا - وُجُوبُ
التَّأْمِينِ، وَهُوَ رِوَايَةٌ عَنْ أَحْمَدَ، قَال فِي رِوَايَةِ إِسْحَاقَ بْنِ
إِبْرَاهِيمَ: آمِينَ أَمْرٌ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
(٥)
Ketiga — Wajib mengucapkan ta’mīn.
Pendapat ini merupakan salah satu riwayat dari Imam Aḥmad.
Dalam riwayat Isḥāq bin Ibrāhīm, beliau berkata:
“Āmīn merupakan perintah dari Nabi ﷺ.”
ارْتِبَاطُ
التَّأْمِينِ بِالسَّمَاعِ:
Keterkaitan Ta’mīn dengan Mendengarkan
٦ - اتَّفَقَتِ الْمَذَاهِبُ
الأَْرْبَعَةُ عَلَى أَنَّهُ يُسَنُّ التَّأْمِينُ عِنْدَ سَمَاعِ قِرَاءَةِ
الإِْمَامِ، أَمَّا إِنْ سَمِعَ الْمَأْمُومُ التَّأْمِينَ مِنْ مُقْتَدٍ آخَرَ
فَلِلْفُقَهَاءِ فِي ذَلِكَ رَأْيَانِ:
6. Keempat mazhab sepakat bahwa disunnahkan mengucapkan
ta’mīn ketika mendengar bacaan imam.
Adapun apabila makmum mendengar
ucapan ta’mīn dari makmum lain yang juga mengikuti imam, maka para fuqaha
memiliki dua pendapat mengenai hal tersebut:
الأَْوَّل: نَدْبُ
التَّأْمِينِ، وَإِلَيْهِ ذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ، وَهُوَ قَوْلٌ لِلْمَالِكِيَّةِ
وَقَوْلٌ مُضَعَّفٌ لِلشَّافِعِيَّةِ.
Pertama — Dianjurkan mengucapkan ta’mīn.
Pendapat ini diikuti oleh mazhab Hanafiyah, dan merupakan
salah satu pendapat dalam mazhab Malikiyah, serta salah satu
pendapat yang dilemahkan dalam mazhab Syafi‘iyah.
الثَّانِي: لاَ يُطْلَبُ
التَّأْمِينُ، وَهُوَ الْمُعْتَمَدُ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ وَالْقَوْل الآْخَرُ
لِلْمَالِكِيَّةِ، وَلَمْ نَقِفْ عَلَى نَصٍّ لِلْحَنَابِلَةِ فِي هَذَا. (١)
Kedua — Ta’mīn tidak dianjurkan.
Pendapat ini merupakan pendapat yang mu‘tamad dalam mazhab Syafi‘iyah
dan pendapat lainnya dalam mazhab Malikiyah. Adapun dari mazhab
Hanabilah, kami tidak menemukan keterangan yang secara khusus membahas
masalah ini.
تَحَرِّي
الاِسْتِمَاعِ:
Kesengajaan Mendengarkan
٧ - لاَ يَتَحَرَّى
الْمُقْتَدِي عَلَى الأَْظْهَرِ الاِسْتِمَاعَ لِلإِْمَامِ عِنْدَ
الْمَالِكِيَّةِ، وَمُقَابِلُهُ: يَتَحَرَّى، وَهُوَ قَوْل الشَّافِعِيَّةِ. (٢)
7. Menurut pendapat yang lebih kuat (al-aẓhar) dalam
mazhab Malikiyah, makmum yang mengikuti imam tidak perlu secara
khusus mengupayakan diri untuk mendengarkan bacaan imam.
Adapun pendapat lainnya menyatakan
bahwa makmum perlu mengupayakan untuk mendengarkan bacaan imam, dan
pendapat ini merupakan salah satu pendapat dalam mazhab Syafi‘iyah.
الإِسْرَارُ
بِالتَّأْمِينِ وَالْجَهْرُ بِهِ:
Membaca Ta’mīn dengan Sirr dan Jahr
٨ - لاَ خِلاَفَ بَيْنَ
الْمَذَاهِبِ الأَْرْبَعَةِ فِي أَنَّ الصَّلاَةَ إِنْ كَانَتْ سِرِّيَّةً
فَالإِْسْرَارُ بِالتَّأْمِينِ سُنَّةٌ فِي حَقِّ الإِْمَامِ وَالْمَأْمُومِ
وَالْمُنْفَرِدِ. (٣)
8. Tidak ada perbedaan pendapat di antara empat mazhab
bahwa apabila salat dilakukan secara sirr (bacaan pelan), maka membaca
ta’mīn secara sirr merupakan sunnah bagi imam, makmum, maupun orang yang
salat sendirian.
وَأَمَّا إِنْ كَانَتْ
جَهْرِيَّةً فَقَدِ اخْتَلَفُوا فِي الإِْسْرَارِ بِهِ وَعَدَمِهِ عَلَى ثَلاَثَةِ
مَذَاهِبَ:
Adapun jika salat tersebut jahriah (bacaan dikeraskan),
para ulama berbeda pendapat mengenai apakah ta’mīn dibaca secara sirr
(pelan) atau tidak, dan mereka terbagi menjadi tiga pendapat:
الأَْوَّل: نَدْبُ
الإِْسْرَارِ، وَإِلَيْهِ ذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ وَالْمَالِكِيَّةُ، وَهُوَ
مُقَابِل الأَْظْهَرِ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ، إِلاَّ أَنَّ الْمَالِكِيَّةَ
اسْتَحَبُّوهُ بِالنِّسْبَةِ لِلْمَأْمُومِ وَالْمُنْفَرِدِ فَقَطْ،
وَالْحَنَفِيَّةُ وَمَعَهُمْ ابْنُ الْحَاجِبِ وَابْنُ عَرَفَةَ مِنَ
الْمَالِكِيَّةِ اسْتَحَبُّوهُ لِلْجَمِيعِ؛ لأَِنَّهُ دُعَاءٌ وَالأَْصْل فِيهِ
الإِْخْفَاءُ. (١) لِقَوْلِهِ سُبْحَانَهُ: {ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا
وَخُفْيَةً} (٢) وَلِقَوْل ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَرْبَعٌ
يُخْفِيهِنَّ الإِْمَامُ، وَذَكَرَ مِنْهَا آمِينَ (٣) .
Pertama — Dianjurkan membaca ta’mīn secara sirr (pelan).
Pendapat ini dianut oleh mazhab Hanafiyah dan Malikiyah,
dan merupakan pendapat yang berseberangan dengan pendapat al-aẓhar
dalam mazhab Syafi‘iyah.
Namun, Malikiyah hanya menganjurkan membaca ta’mīn secara
sirr bagi makmum dan orang yang salat sendirian. Sedangkan Hanafiyah,
bersama Ibnu al-Ḥājib dan Ibnu ‘Arafah dari kalangan Malikiyah,
menganjurkannya bagi semuanya, baik imam, makmum, maupun orang
yang salat sendirian.
Hal ini karena ta’mīn merupakan doa, sedangkan hukum asal
dalam berdoa adalah dilakukan secara tersembunyi (pelan).
Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman:
“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan penuh kerendahan diri dan secara tersembunyi.”
Demikian pula berdasarkan perkataan Ibnu Mas‘ūd radhiyallāhu ‘anhu:
“Ada empat perkara yang imam menyembunyikannya (membacanya secara
pelan),” dan beliau menyebutkan di antaranya adalah Āmīn.
وَمُقَابِل الأَْظْهَرِ
عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ تَخْصِيصُ الإِْسْرَارِ بِالْمَأْمُومِ فَقَطْ إِنْ
أَمَّنَ الإِْمَامُ، كَسَائِرِ الأَْذْكَارِ، وَقِيل: يُسِرُّ فِي هَذِهِ
الْحَالَةِ إِنْ قَل الْجَمْعُ. (٤)
Adapun pendapat yang berseberangan dengan pendapat al-aẓhar dalam
mazhab Syafi‘iyah adalah bahwa membaca ta’mīn secara sirr
hanya dikhususkan bagi makmum, apabila imam mengucapkan ta’mīn. Hal
ini disamakan dengan zikir-zikir lainnya.
Ada pula yang berpendapat bahwa dalam keadaan seperti ini ta’mīn
dibaca secara sirr apabila jumlah jamaah sedikit.
الثَّانِي: نَدْبُ الْجَهْرِ.
وَهُوَ مَذْهَبُ الشَّافِعِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ، إِلاَّ أَنَّ الْحَنَابِلَةَ
عَمَّمُوا النَّدْبَ فِي كُل مُصَلٍّ.
Kedua — Dianjurkan membaca ta’mīn secara jahr (dikeraskan).
Ini merupakan pendapat mazhab Syafi‘iyah dan Hanabilah.
Hanya saja, mazhab Hanabilah memberlakukan anjuran tersebut kepada
setiap orang yang sedang salat, baik imam, makmum, maupun orang yang
salat sendirian.
وَوَافَقَهُمُ
الشَّافِعِيَّةُ اتِّفَاقًا بِالنِّسْبَةِ لِلإِْمَامِ وَالْمُنْفَرِدِ. وَأَمَّا
فِي الْمَأْمُومِ فَقَدْ وَافَقُوهُمْ أَيْضًا بِشَرْطِ عَدَمِ تَأْمِينِ
الإِْمَامِ. فَإِنْ أَمَّنَ فَالأَْظْهَرُ نَدْبُ الْجَهْرِ كَذَلِكَ. وَقِيل:
إِنَّمَا يَجْهَرُ فِي حَالَةِ تَأْمِينِ الإِْمَامِ بِشَرْطِ كَثْرَةِ الْجَمْعِ.
فَإِنْ لَمْ يَكْثُرْ فَلاَ يُنْدَبُ الْجَهْرُ.
Mazhab Syafi‘iyah juga sependapat dengan mereka secara
mutlak dalam hal imam dan orang yang salat sendirian.
Adapun dalam hal makmum, mereka juga sependapat dengan
mereka dengan syarat imam tidak mengucapkan ta’mīn. Jika imam
mengucapkan ta’mīn, maka menurut pendapat al-aẓhar, disunnahkan
pula mengeraskan bacaan ta’mīn.
Ada pula pendapat yang menyatakan bahwa dalam keadaan imam mengucapkan
ta’mīn, ta’mīn hanya dikeraskan apabila jumlah jamaah banyak.
Jika jumlah jamaah tidak banyak, maka tidak disunnahkan mengeraskannya.
وَاسْتَدَل الْقَائِلُونَ
بِنَدْبِ الْجَهْرِ بِأَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَال: "
آمِينَ " وَرَفَعَ بِهَا صَوْتَهُ. (١)
Para ulama yang berpendapat bahwa mengeraskan suara ketika
mengucapkan ta’mīn hukumnya sunnah berdalil dengan hadis bahwa Nabi ﷺ mengucapkan “Āmīn” dan meninggikan suara
ketika mengucapkannya.
الثَّالِثُ: التَّخْيِيرُ
بَيْنَ الْجَهْرِ وَالإِْسْرَارِ، وَبِهِ قَال ابْنُ بُكَيْرٍ وَابْنُ
الْعَرَبِيِّ مِنَ الْمَالِكِيَّةِ، غَيْرَ أَنَّ ابْنَ بُكَيْرٍ خَصَّهُ بِالإِْمَامِ
فَقَطْ، وَخَيَّرَ ابْنُ الْعَرَبِيِّ الْجَمِيعَ، وَصَحَّحَ فِي كِتَابِهِ "
أَحْكَامِ الْقُرْآنِ " الْجَهْرَ. (٢)
Ketiga — Diberikan pilihan antara membaca secara jahr (dikeraskan)
atau sirr (dipelankan).
Pendapat ini dikemukakan oleh Ibnu Bukair dan Ibnu
al-‘Arabī dari kalangan Malikiyah.
Hanya saja, Ibnu Bukair mengkhususkan pilihan tersebut bagi
imam saja, sedangkan Ibnu al-‘Arabī
memberikan pilihan tersebut kepada semua orang yang salat.
Dalam kitabnya Aḥkām al-Qur’ān, Ibnu al-‘Arabī menilai pendapat
mengeraskan bacaan ta’mīn sebagai pendapat yang lebih kuat.
وَلَوْ أَسَرَّ بِهِ
الإِْمَامُ جَهَرَ بِهِ الْمَأْمُومُ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ؛
لأَِنَّ جَهْرَ الْمَأْمُومِ بِالتَّأْمِينِ سُنَّةٌ، فَلاَ يَسْقُطُ بِتَرْكِ
الإِْمَامِ لَهُ، وَلأَِنَّهُ رُبَّمَا نَسِيَهُ الإِْمَامُ، فَيَجْهَرُ بِهِ
الْمَأْمُومُ لِيُذَكِّرَهُ. (٣)
Apabila imam membaca ta’mīn secara sirr (pelan), maka makmum
membaca ta’mīn secara jahr (dikeraskan) menurut mazhab Syafi‘iyah
dan Hanabilah.
Hal ini karena mengeraskan suara ketika mengucapkan ta’mīn bagi
makmum merupakan sunnah, sehingga sunnah tersebut tidak gugur hanya
karena imam tidak mengeraskannya.
Selain itu, bisa jadi imam lupa mengucapkan ta’mīn,
sehingga makmum mengeraskannya agar mengingatkan imam.
الْمُقَارَنَةُ
وَالتَّبَعِيَّةُ فِي التَّأْمِينِ:
Kesamaan Waktu dan Mengikuti dalam Ta’mīn
٩ - مَذْهَبُ
الشَّافِعِيَّةِ، وَالأَْصَحُّ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ أَنَّ مُقَارَنَةَ تَأْمِينِ
الإِْمَامِ لِتَأْمِينِ الْمَأْمُومِ سُنَّةٌ، لِخَبَرِ إِذَا أَمَّنَ الإِْمَامُ فَأَمِّنُوا
فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الْمَلاَئِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا
تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَخَبَرِ إِذَا قَال أَحَدُكُمْ: آمِينَ، وَقَالَتِ
الْمَلاَئِكَةُ فِي السَّمَاءِ: آمِينَ، فَوَافَقَتْ إِحْدَاهُمَا الأُْخْرَى،
غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ رَوَاهُ الشَّيْخَانِ. (٤)
9. Menurut mazhab Syafi‘iyah dan pendapat yang lebih
sahih dalam mazhab Hanabilah, bersamaan waktunya ta’mīn imam dengan
ta’mīn makmum merupakan sunnah.
Hal ini berdasarkan hadis:
“Apabila imam mengucapkan ta’mīn,
maka ucapkanlah ta’mīn. Sesungguhnya barang siapa ta’mīnnya bertepatan dengan
ta’mīn para malaikat, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.”
Juga berdasarkan hadis:
“Apabila salah seorang di antara
kalian mengucapkan: ‘Āmīn’, dan para malaikat di langit juga mengucapkan:
‘Āmīn’, lalu salah satunya bertepatan dengan yang lainnya, maka dosa-dosanya
yang telah lalu akan diampuni.”
Hadis tersebut diriwayatkan oleh al-Bukhārī
dan Muslim (asy-Syaikhān).
وَمُقَابِل الأَْصَحِّ عِنْدَ
الْحَنَابِلَةِ أَنَّ الْمُقْتَدِيَ يُؤَمِّنُ بَعْدَ تَأْمِينِ الإِْمَامِ. (١)
Adapun pendapat yang berseberangan dengan pendapat lebih sahih dalam
mazhab Hanabilah adalah bahwa makmum mengucapkan ta’mīn
setelah imam mengucapkan ta’mīn.
وَلَمْ أَقِفْ عَلَى نَصٍّ
صَرِيحٍ فِي ذَلِكَ لِلْحَنَفِيَّةِ وَالْمَالِكِيَّةِ، لَكِنَّهُمْ ذَكَرُوا مَا
يُفِيدُ مُقَارَنَةَ التَّأْمِينِ لِتَأْمِينِ الْمَلاَئِكَةِ، مُسْتَدِلِّينَ
بِحَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ السَّابِقِ إِذَا قَال أَحَدُكُمْ: آمِينَ، وَقَالَتِ
الْمَلاَئِكَةُ فِي السَّمَاءِ: آمِينَ. . . إِلَخْ.
Saya tidak menemukan keterangan yang secara tegas mengenai
hal tersebut dari mazhab Hanafiyah dan Malikiyah. Namun,
mereka menyebutkan sesuatu yang menunjukkan bersamaan dalam mengucapkan
ta’mīn dengan ta’mīn para malaikat, dengan berdalil pada hadis Abu
Hurairah yang telah disebutkan sebelumnya:
“Apabila salah seorang di antara kalian mengucapkan: ‘Āmīn’, dan
para malaikat di langit mengucapkan: ‘Āmīn’...” dan seterusnya.
وَبِحَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَيْضًا أَنَّ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَال: إِذَا قَال
الإِْمَامُ: غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ، فَقُولُوا:
آمِينَ، فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ قَوْلُهُ قَوْل الْمَلاَئِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا
تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ. (٢)
Juga berdasarkan hadis Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu,
bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila imam mengucapkan: ‘Ghairil-maghḍūbi ‘alaihim wa
laḍ-ḍāllīn’, maka ucapkanlah: ‘Āmīn’. Sebab, barang siapa ucapannya bertepatan
dengan ucapan para malaikat, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.”
فَإِنْ فَاتَتْهُ مُقَارَنَةُ
تَأْمِينِهِ لِتَأْمِينِ إِمَامِهِ أَتَى بِهِ عَقِبَهُ، فَإِنْ لَمْ يَعْلَمِ
الْمَأْمُومُ بِتَأْمِينِ إِمَامِهِ، أَوْ أَخَّرَهُ عَنْ وَقْتِهِ الْمَنْدُوبِ
أَمَّنَ. نَصَّ عَلَى ذَلِكَ الشَّافِعِيَّةُ، كَمَا نَصُّوا عَلَى أَنَّهُ لَوْ
قَرَأَ مَعَهُ وَفَرَغَا مَعًا كَفَى تَأْمِينٌ وَاحِدٌ، أَوْ فَرَغَ قَبْلَهُ،
قَال الْبَغَوِيُّ: يَنْتَظِرُهُ، وَالْمُخْتَارُ أَوِ الصَّوَابُ أَنَّهُ
يُؤَمِّنُ لِنَفْسِهِ، ثُمَّ يُؤَمِّنُ لِلْمُتَابَعَةِ. (٣)
Jika makmum tidak sempat bersamaan mengucapkan ta’mīn dengan imam,
maka ia mengucapkannya segera setelah imam selesai mengucapkan ta’mīn.
Jika makmum tidak mengetahui bahwa imam telah mengucapkan ta’mīn,
atau ia terlambat mengucapkannya dari waktu yang dianjurkan,
maka ia tetap mengucapkan ta’mīn.
Demikian ditegaskan oleh mazhab Syafi‘iyah. Mereka juga
menjelaskan bahwa apabila makmum membaca bersama imam dan keduanya
selesai secara bersamaan, maka satu kali ta’mīn sudah
mencukupi.
Namun, apabila makmum selesai membaca sebelum imam, al-Baghawī
berkata: “Ia menunggu imam.”
Pendapat yang dipilih atau yang dianggap benar adalah bahwa makmum
mengucapkan ta’mīn untuk dirinya sendiri, kemudian mengucapkannya lagi sebagai
bentuk mengikuti imam.
الْفَصْل
بَيْنَ " آمِينَ " وَبَيْنَ {وَلاَ الضَّالِّينَ} :
Jeda antara “Āmīn” dan {وَلَا
الضَّالِّينَ}
١٠ - الشَّافِعِيَّةُ
وَالْحَنَابِلَةُ عَلَى نَدْبِ السُّكُوتِ لَحْظَةً لَطِيفَةً بَيْنَ {وَلاَ
الضَّالِّينَ} وَبَيْنَ " آمِينَ " لِيُعْلِمَ أَنَّهَا لَيْسَتْ مِنَ
الْقُرْآنِ، وَعَلَى أَلاَّ يَتَخَلَّل فِي هَذِهِ اللَّحْظَةِ لَفْظٌ. نَعَمْ،
يَسْتَثْنِي الشَّافِعِيَّةُ " رَبِّ اغْفِرْ لِي " قَالُوا:
وَيَنْبَغِي أَنَّهُ لَوْ زَادَ عَلَى ذَلِكَ " وَلِوَالِدَيَّ وَلِجَمِيعِ
الْمُسْلِمِينَ " لَمْ يَضُرَّ أَيْضًا. (١)
10. Mazhab Syafi‘iyah dan Hanabilah menganjurkan adanya jeda
sejenak antara bacaan {وَلَا الضَّالِّينَ}
dan ucapan “Āmīn”, agar diketahui bahwa “Āmīn” bukan bagian dari
Al-Qur’an.
Pada jeda tersebut, hendaknya
tidak diselingi dengan ucapan apa pun.
Namun, mazhab Syafi‘iyah
mengecualikan ucapan:
رَبِّ
اغْفِرْ لِي
“Wahai Tuhanku, ampunilah aku.”
Mereka juga mengatakan bahwa apabila
seseorang menambahkan:
وَلِوَالِدَيَّ
وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ
“Dan ampunilah kedua orang tuaku serta seluruh kaum Muslimin,”
maka hal tersebut juga tidak
mengapa.
وَلَمْ أَرَ مِنَ
الْحَنَفِيَّةِ وَالْمَالِكِيَّةِ مَنْ تَعَرَّضَ لِهَذِهِ النُّقْطَةِ، فِيمَا
وَقَفْتُ عَلَيْهِ.
Saya belum menemukan keterangan dari mazhab Hanafiyah dan Malikiyah
yang membahas masalah ini, berdasarkan sumber-sumber yang telah saya telusuri.
تَكْرَارُ
آمِينَ وَالزِّيَادَةُ بَعْدَهَا:
Mengulang “Āmīn” dan Menambahkan Bacaan Setelahnya
١١ - يَحْسُنُ
عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ قَوْل " آمِينَ رَبَّ الْعَالَمِينَ "، وَغَيْرُ
ذَلِكَ مِنَ الذِّكْرِ. وَلاَ يُسْتَحَبُّ عِنْدَ أَحْمَدَ، لَكِنْ لاَ تَبْطُل
صَلاَتُهُ، وَلاَ يَسْجُدُ لِلسَّهْوِ عَنْهَا. (٢) وَلَمْ نَجِدْ لِغَيْرِ
الشَّافِعِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ نَصًّا فِي التَّكْرَارِ.
Mengulang
“Āmīn” dan Menambahkan Bacaan Setelahnya
11. Menurut mazhab Syafi‘iyah, disunnahkan mengucapkan “Āmīn,
Rabbal-‘ālamīn” dan zikir-zikir lainnya setelahnya.
Adapun menurut Imam Aḥmad,
hal tersebut tidak disunnahkan. Namun, apabila seseorang melakukannya, salatnya
tidak batal, dan ia tidak perlu melakukan sujud sahwi karena
meninggalkannya.
Kami tidak menemukan keterangan dari
selain mazhab Syafi‘iyah dan Hanabilah mengenai masalah mengulang
ucapan Āmīn.
وَذَكَرَ الْكُرْدِيُّ عَنِ
ابْنِ حَجَرٍ أَنَّهُ يُنْدَبُ تَكْرَارُ " آمِينَ " فِي الصَّلاَةِ،
مُسْتَدِلًّا بِمَا رَوَاهُ وَائِل بْنُ حُجْرٍ أَنَّهُ قَال: رَأَيْتُ رَسُول
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَل الصَّلاَةَ، فَلَمَّا فَرَغَ
مِنْ فَاتِحَةِ الْكِتَابِ، قَال: آمِينَ، ثَلاَثًا وَيُؤْخَذُ مِنْهُ تَكْرَارُ
" آمِينَ " ثَلاَثًا، حَتَّى فِي الصَّلاَةِ. (٣)
Al-Kurdī menukil dari Ibnu Ḥajar bahwa dianjurkan
mengulang ucapan “Āmīn” dalam salat.
Ia berdalil dengan riwayat Wā’il bin Ḥujr, bahwa ia
berkata:
“Aku melihat Rasulullah ﷺ
memulai salat. Ketika beliau selesai membaca Fātiḥatul-Kitāb, beliau
mengucapkan: ‘Āmīn’ sebanyak tiga kali.”
Dari hadis tersebut dapat diambil pemahaman tentang disunnahkannya
mengulang ucapan “Āmīn” sebanyak tiga kali, bahkan di dalam
salat.
تَرْكُ
التَّأْمِينِ:
Meninggalkan Membaca Amin
١٢ - الْمَذَاهِبُ
الأَْرْبَعَةُ عَلَى أَنَّ الْمُصَلِّيَ لَوْ تَرَكَ " آمِينَ "
وَاشْتَغَل بِغَيْرِهَا لاَ تَفْسُدُ صَلاَتُهُ، وَلاَ سَهْوَ عَلَيْهِ؛ لأَِنَّهُ
سُنَّةٌ فَاتَ مَحَلُّهَا. (١)
12. Keempat mazhab sepakat bahwa apabila orang yang sedang
salat meninggalkan ucapan “Āmīn” dan melakukan hal lain sebagai
gantinya, maka salatnya tidak menjadi batal dan ia tidak perlu
melakukan sujud sahwi.
Hal ini karena ta’mīn hukumnya
sunnah, dan waktunya untuk dilakukan telah terlewat.
عَدَمُ
انْقِطَاعِ الْقِرَاءَةِ بِالتَّأْمِينِ عَلَى قِرَاءَةِ الإِْمَامِ:
Bacaan Makmum Tidak Terputus karena Ta’mīn atas Bacaan Imam
١٣ - إِذَا
فَرَغَ الإِْمَامُ مِنْ قِرَاءَةِ الْفَاتِحَةِ أَثْنَاءَ قِرَاءَةِ الْمَأْمُومِ،
قَال الْمَأْمُومُ: " آمِينَ " ثُمَّ يُتِمُّ قِرَاءَتَهُ، نَصَّ عَلَى
ذَلِكَ الشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ.
13. Apabila imam telah selesai membaca Surah al-Fātiḥah
ketika makmum masih dalam proses membaca, maka makmum mengucapkan “Āmīn”,
kemudian melanjutkan dan menyempurnakan bacaannya.
Hal ini ditegaskan oleh mazhab
Syafi‘iyah dan Hanabilah.
وَلاَ قِرَاءَةَ عِنْدَ
الْحَنَفِيَّةِ وَالْمَالِكِيَّةِ بِالنِّسْبَةِ لِلْمَأْمُومِ. (٢)
Adapun menurut mazhab Hanafiyah dan Malikiyah, makmum
tidak membaca (al-Fātiḥah) dalam keadaan tersebut.
التَّأْمِينُ
عَقِبَ الْفَاتِحَةِ خَارِجَ الصَّلاَةِ:
Membaca Amin Setelah Membaca
al-Fātiḥah di Luar Salat
١٤ - التَّأْمِينُ عَقِبَ
قِرَاءَةِ الْفَاتِحَةِ سُنَّةٌ عِنْدَ الْمَذَاهِبِ الأَْرْبَعَةِ؛ لِقَوْلِهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَّنَنِي جِبْرِيل عَلَيْهِ السَّلَامُ
عِنْدَ فَرَاغِي مِنَ الْفَاتِحَةِ: آمِينَ (٣) .
14. Mengucapkan ta’mīn setelah membaca Surah al-Fātiḥah
hukumnya sunnah menurut keempat mazhab.
Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ:
“Jibril ‘alaihissalām mengajarkan
kepadaku untuk mengucapkan ‘Āmīn’ ketika aku selesai membaca al-Fātiḥah.”
التَّأْمِينُ
عَلَى الْقُنُوتِ:
Ta’mīn atas Doa Qunut
١٥ - الْقُنُوتُ
قَدْ يَكُونُ فِي النَّازِلَةِ وَقَدْ يَكُونُ فِي غَيْرِهَا. وَلِلْفُقَهَاءِ فِي
التَّأْمِينِ عَلَى قُنُوتِ غَيْرِ النَّازِلَةِ ثَلاَثَةُ اتِّجَاهَاتٍ:
15. Qunut terkadang dilakukan karena adanya nāzilah (musibah
atau bencana) dan terkadang bukan karena nāzilah.
Mengenai mengucapkan ta’mīn atas
doa qunut yang bukan qunut nāzilah, para fuqaha memiliki tiga pendapat.
الأَْوَّل: التَّأْمِينُ
جَهْرًا، إِنْ سَمِعَ الإِْمَامَ، وَإِلاَّ قَنَتَ لِنَفْسِهِ. وَهُوَ قَوْل
الشَّافِعِيَّةِ وَالصَّحِيحُ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ، وَهُوَ قَوْل مُحَمَّدِ بْنِ
الْحَسَنِ فِي الْقُنُوتِ وَفِي الدُّعَاءِ بَعْدَهُ. (١) وَمِنْهُ الصَّلاَةُ
عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا نَصَّ الشَّافِعِيَّةُ.
وَهُوَ الْمُتَبَادِرُ لِغَيْرِهِمْ لِدُخُولِهِ فِي الشُّمُول.
Pertama — Mengucapkan ta’mīn dengan suara jahr (dikeraskan)
apabila ia mendengar imam. Jika tidak mendengar imam, maka ia berdoa
untuk dirinya sendiri.
Pendapat ini merupakan pendapat mazhab Syafi‘iyah dan
pendapat yang sahih dalam mazhab Hanabilah. Pendapat ini juga
merupakan pendapat Muḥammad bin al-Ḥasan mengenai qunut dan
doa setelahnya.
Termasuk di dalamnya adalah bersalawat kepada Nabi ﷺ, sebagaimana ditegaskan oleh mazhab
Syafi‘iyah. Hal ini juga merupakan pemahaman yang langsung tercakup
secara umum menurut mazhab-mazhab selain mereka, karena salawat
termasuk dalam cakupan doa tersebut.
الثَّانِي: تَرْكُ
التَّأْمِينِ. وَإِلَيْهِ ذَهَبَ الْمَالِكِيَّةُ، وَهُوَ الأَْصَحُّ عِنْدَ
الْحَنَفِيَّةِ، وَرِوَايَةً عَنْ أَحْمَدَ، وَقَوْلٌ ضَعِيفٌ عِنْدَ
الشَّافِعِيَّةِ. (٢)
Kedua — Meninggalkan ta’mīn.
Pendapat ini dianut oleh mazhab Malikiyah, merupakan pendapat
yang lebih sahih dalam mazhab Hanafiyah, salah satu riwayat
dari Imam Aḥmad, serta salah satu pendapat yang lemah
dalam mazhab Syafi‘iyah.
الثَّالِثُ: التَّخْيِيرُ بَيْنَ
التَّأْمِينِ وَتَرْكِهِ. وَهُوَ قَوْل أَبِي يُوسُفَ، وَقَوْلٌ ضَعِيفٌ
لِلشَّافِعِيَّةِ. (٣)
Ketiga — Memberikan pilihan antara mengucapkan ta’mīn atau
meninggalkannya.
Pendapat ini merupakan pendapat Abu Yūsuf, serta salah satu
pendapat yang lemah dalam mazhab Syafi‘iyah.
وَلاَ فَرْقَ بَيْنَ قُنُوتِ
النَّازِلَةِ وَقُنُوتِ غَيْرِهَا، عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ.
Menurut mazhab Syafi‘iyah dan Hanabilah, tidak ada
perbedaan antara qunut nāzilah dan qunut selain
nāzilah dalam masalah ini.
وَلاَ تَأْمِينَ فِي
النَّازِلَةِ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ لإِِسْرَارِهِمْ بِالْقُنُوتِ فِيهَا. فَإِنْ
جَهَرَ الإِْمَامُ أَمَّنَ الْمَأْمُومُ. قَال ابْنُ عَابِدِينَ: وَالَّذِي
يَظْهَرُ لِي أَنَّ الْمُقْتَدِيَ يُتَابِعُ إِمَامَهُ إِلاَّ إِذَا جَهَرَ
فَيُؤَمِّنُ.
Menurut mazhab Hanafiyah, tidak ada ta’mīn dalam qunut
nāzilah, karena mereka membaca qunut nāzilah secara sirr
(pelan).
Namun, jika imam mengeraskan bacaan qunut, maka makmum mengucapkan
ta’mīn.
Ibnu ‘Ābidīn berkata: “Menurut pendapat yang tampak bagi
saya, makmum mengikuti imamnya, kecuali apabila imam mengeraskan bacaan, maka
makmum mengucapkan ta’mīn.”
وَلاَ قُنُوتَ فِي
النَّازِلَةِ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ عَلَى الْمَشْهُورِ. (١)
Menurut mazhab Malikiyah, berdasarkan pendapat yang
masyhur, tidak terdapat qunut nāzilah.
وَلَوِ اقْتَدَى الْمَأْمُومُ
بِمَنْ يَقْنُتُ فِي صَلاَةِ الصُّبْحِ أَجَازَ لَهُ الْحَنَابِلَةُ التَّأْمِينَ.
وَمَعَهُمْ فِي ذَلِكَ ابْنُ فَرْحُونَ مِنَ الْمَالِكِيَّةِ. (٢)
Apabila seorang makmum mengikuti imam yang melakukan qunut dalam
salat Subuh, maka mazhab Hanabilah membolehkan makmum
mengucapkan ta’mīn. Dalam hal ini, Ibnu Farḥūn dari mazhab
Malikiyah juga sependapat dengan mereka.
وَيَسْكُتُ مَنْ صَلَّى
وَرَاءَ مَنْ يَقْنُتُ فِي الْفَجْرِ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ. (٣) وَيُرَاعِي
الْمَأْمُومُ الْمُقْتَدِي بِمَنْ لاَ يَقْنُتُ حَال نَفْسِهِ، عِنْدَ
الشَّافِعِيَّةِ، بِشَرْطِ عَدَمِ الإِْخْلاَل بِالْمُتَابَعَةِ. (٤)
Menurut mazhab Hanafiyah, orang yang salat di belakang imam
yang melakukan qunut dalam salat Subuh hendaknya diam.
Adapun menurut mazhab Syafi‘iyah, makmum yang mengikuti
imam yang tidak melakukan qunut tetap memperhatikan dan
menjaga keadaan dirinya sendiri, dengan syarat hal tersebut tidak
mengganggu kewajiban mengikuti imam.
ثَانِيًا:
التَّأْمِينُ خَارِجَ الصَّلاَةِ
Kedua: Ta’mīn di Luar Salat
التَّأْمِينُ
عَلَى دُعَاءِ الْخَطِيبِ:
Ta’mīn atas Doa Khatib
١٦ - يُسَنُّ التَّأْمِينُ
عَلَى دُعَاءِ الْخَطِيبِ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ وَالشَّافِعِيَّةِ
وَالْحَنَابِلَةِ، إِلاَّ أَنَّهُ يَكُونُ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ
وَالْحَنَابِلَةِ سِرًّا، وَبِلاَ رَفْعِ صَوْتٍ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ.
16. Mengucapkan ta’mīn atas doa khatib hukumnya sunnah
menurut mazhab Malikiyah, Syafi‘iyah, dan Hanabilah.
Namun, menurut Malikiyah dan
Hanabilah, ta’mīn tersebut dilakukan secara sirr (pelan). Sedangkan
menurut Syafi‘iyah, ta’mīn dilakukan tanpa mengeraskan suara.
وَلاَ تَأْمِينَ بِاللِّسَانِ
جَهْرًا عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ بَل يُؤَمِّنُ فِي نَفْسِهِ. (١)
Menurut mazhab Hanafiyah, tidak diperbolehkan mengucapkan
ta’mīn dengan lisan secara jahr (dengan suara keras).
Sebaliknya, seseorang mengucapkan ta’mīn dalam hati atau secara lirih
dalam dirinya sendiri.
وَنَصَّ الْمَالِكِيَّةُ
عَلَى تَحْرِيمِ مَا يَقَعُ عَلَى دَكَّةِ الْمُبَلِّغِينَ بَعْدَ قَوْل
الإِْمَامِ: " ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِْجَابَةِ "
مِنْ رَفْعِ أَصْوَاتِ جَمَاعَةٍ بِقَوْلِهِمْ: " آمِينَ. آمِينَ. آمِينَ
" وَاعْتَبَرُوهُ بِدْعَةً مُحَرَّمَةً. (٢)
Mazhab Malikiyah secara tegas menyatakan bahwa diharamkan
apa yang dilakukan di atas tempat para muballigh setelah imam
mengucapkan:
“Berdoalah kepada Allah dengan penuh keyakinan bahwa doa tersebut
akan dikabulkan.”
Yaitu ketika sekelompok orang mengeraskan suara mereka secara
bersama-sama dengan mengucapkan:
“Āmīn, Āmīn, Āmīn.”
Mereka menganggap perbuatan tersebut sebagai bid‘ah yang diharamkan.
التَّأْمِينُ
عَلَى دُعَاءِ الاِسْتِسْقَاءِ:
Ta’mīn atas Doa Istisqā’
١٧ - اسْتَحَبَّ
الشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ، وَهُوَ قَوْلٌ لِلْمَالِكِيَّةِ، التَّأْمِينَ
عَلَى دُعَاءِ الاِسْتِسْقَاءِ عِنْدَ جَهْرِ الإِْمَامِ بِهِ. وَلاَ يُخَالِفُ
الْحَنَفِيَّةُ فِي ذَلِكَ.
17. Mazhab Syafi‘iyah dan Hanabilah, serta salah satu
pendapat dalam mazhab Malikiyah, menganjurkan mengucapkan ta’mīn atas
doa istisqā’ ketika imam mengeraskan doa tersebut.
Mazhab Hanafiyah juga tidak
menyelisihi pendapat tersebut.
وَالْقَوْل الآْخَرُ
لِلْمَالِكِيَّةِ أَنْ يَدْعُوَ الإِْمَامُ وَالْمَأْمُومُونَ. وَقِيل بَعْدَ
دُعَائِهِمْ مَعًا: يَسْتَقْبِلُهُمُ الإِْمَامُ، فَيَدْعُو وَيُؤَمِّنُونَ. (٣)
Adapun pendapat lainnya dalam mazhab Malikiyah adalah bahwa
imam dan para makmum sama-sama berdoa.
Ada pula yang berpendapat bahwa setelah mereka berdoa bersama,
imam menghadap kepada mereka, kemudian imam berdoa dan para makmum
mengucapkan ta’mīn atas doanya.
التَّأْمِينُ
عَلَى الدُّعَاءِ دُبُرَ الصَّلاَةِ.
Ta’mīn atas Doa Setelah Salat
١٨ - لَمْ أَجِدْ
مَنْ يَقُول بِالتَّأْمِينِ عَلَى دُعَاءِ الإِْمَامِ بَعْدَ الصَّلاَةِ إِلاَّ
بَعْضَ الْمَالِكِيَّةِ. وَمِمَّنْ قَال بِجَوَازِهِ ابْنُ عَرَفَةَ، وَأَنْكَرَ
الْخِلاَفَ فِي كَرَاهِيَتِهِ. وَفِي جَوَابِ الْفَقِيهِ الْعَلاَّمَةِ أَبِي
مَهْدِيٍّ الْغُبْرِينِيُّ مَا نَصُّهُ: " وَنُقَرِّرُ أَوَّلاً أَنَّهُ لَمْ
يَرِدْ فِي الْمِلَّةِ نَهْيٌ عَنْ الدُّعَاءِ دُبُرَ الصَّلاَةِ، عَلَى مَا جَرَتْ
بِهِ الْعَادَةُ الْيَوْمَ مِنَ الاِجْتِمَاعِ، بَل جَاءَ التَّرْغِيبُ فِيهِ
عَلَى الْجُمْلَةِ. " فَذَكَرَ أَدِلَّةً كَثِيرَةً ثُمَّ قَال: "
فَتَحَصَّل بَعْدَ ذَلِكَ كُلِّهِ مِنَ الْمَجْمُوعِ أَنَّ عَمَل الأَْئِمَّةِ
مُنْذُ الأَْزْمِنَةِ الْمُتَقَادِمَةِ مُسْتَمِرٌّ فِي مَسَاجِدِ الْجَمَاعَاتِ،
وَهُيَ مَسَاجِدُ الْجَوَامِعِ، وَفِي مَسَاجِدِ الْقَبَائِل، وَهِيَ مَسَاجِدُ
الأَْرْبَاضِ وَالرَّوَابِطِ، عَلَى الْجَهْرِ بِالدُّعَاءِ بَعْدَ الْفَرَاغِ
مِنَ الصَّلَوَاتِ، عَلَى الْهَيْئَةِ الْمُتَعَارَفَةِ الآْنَ، مِنْ تَشْرِيكِ
الْحَاضِرِينَ، وَتَأْمِينِ السَّامِعِينَ، وَبَسْطِ الأَْيْدِي وَمَدِّهَا عِنْدَ
السُّؤَال وَالتَّضَرُّعِ وَالاِبْتِهَال مِنْ غَيْرِ مُنَازِعٍ. "
18. Saya tidak menemukan ulama yang berpendapat tentang
mengucapkan ta’mīn atas doa imam setelah salat, kecuali
sebagian ulama Malikiyah. Di antara mereka yang berpendapat bahwa hal tersebut dibolehkan
adalah Ibnu ‘Arafah, bahkan ia mengingkari adanya perbedaan
pendapat mengenai kemakruhannya.
Dalam jawaban faqih dan ulama besar Abu Mahdi al-Ghubrīnī,
disebutkan:
“Pertama-tama, kami menegaskan bahwa dalam syariat tidak terdapat
larangan berdoa setelah salat, sebagaimana kebiasaan yang berlangsung
pada masa sekarang berupa berkumpul untuk berdoa. Bahkan, secara umum terdapat
anjuran untuk berdoa.”
Kemudian beliau menyebutkan banyak dalil, lalu berkata:
“Setelah seluruh dalil tersebut dikumpulkan, dapat disimpulkan bahwa praktik
para imam sejak masa-masa terdahulu telah berlangsung secara terus-menerus di
masjid-masjid jamaah, yaitu masjid-masjid jami‘, serta di
masjid-masjid kabilah, yakni masjid-masjid di kawasan permukiman dan
tempat-tempat peribadatan mereka.
Mereka senantiasa mengeraskan doa setelah selesai melaksanakan salat,
dengan tata cara yang dikenal hingga sekarang, yaitu orang-orang yang
hadir turut serta dalam doa, para pendengar mengucapkan ta’mīn, dan mereka
mengangkat serta membentangkan tangan ketika memohon, merendahkan diri, dan
bersungguh-sungguh dalam berdoa, tanpa ada pihak yang mengingkarinya.”
وَكَرِهَهُ مَالِكٌ
وَجَمَاعَةٌ غَيْرُهُ مِنَ الْمَالِكِيَّةِ، لِمَا يَقَعُ فِي نَفْسِ الإِْمَامِ
مِنَ التَّعَاظُمِ. وَبَقِيَّةُ الْقَائِلِينَ بِالدُّعَاءِ عَقِبَ الصَّلاَةِ
يُسِرُّونَ بِهِ نَدْبًا، عَلَى تَفْصِيلٍ. (١) (ر: دُعَاءٌ) .
Mālik dan sejumlah ulama lainnya dari kalangan Malikiyah
memakruhkannya, karena hal tersebut dikhawatirkan dapat menimbulkan rasa
membesarkan diri atau kesombongan dalam diri imam.
Adapun ulama lainnya yang berpendapat bahwa berdoa setelah salat
diperbolehkan, mereka menganjurkan agar doa tersebut dibaca secara sirr
(pelan), dengan perincian tertentu.
(Lihat: “Du‘ā’”).
Wallahu A’lam...
Baca juga:
Hukum Bejana (Āniyah) dalam Fikih
Islam Menurut 4 Mazhab: Jenis, Bahan, Penggunaan, Kepemilikan, Najis, Bejana
Emas-Perak, dan Zakat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar