إِبَانَة
IBĀNAH
التَّعْرِيفُ
Definisi
١ - الإِْبَانَةُ
مَصْدَرُ أَبَانَ، وَمِنْ مَعَانِيهَا اللُّغَوِيَّةِ الإِْظْهَارُ وَالْفَصْل.
وَقَال صَاحِبُ الْمُحْكَمِ: الْقَطْعُ إِبَانَةُ أَجْزَاءِ الْجِرْمِ.
وَالإِْبَانَةُ بِمَعْنَى الْفَصْل، مُرَادِفَةٌ لِلتَّفْرِيقِ. (١) وَأَغْلَبُ تَنَاوُل
الْفُقَهَاءِ لَهَا بِمَعْنَى الْفَصْل وَالْقَطْعِ. وَإِبَانَةُ الزَّوْجَةِ
تَكُونُ بِالطَّلاَقِ الْبَائِنِ أَوِ الْخُلْعِ، وَحِينَئِذٍ تَمْلِكُ
الْمَرْأَةُ نَفْسَهَا، وَلاَ يَحِقُّ لِلزَّوْجِ مُرَاجَعَتُهَا إِلاَّ بِعَقْدٍ
جَدِيدٍ.
1. Ibānah adalah masdar dari kata أَبَانَ
(abāna). Di antara makna bahasanya ialah menampakkan dan memisahkan.
Penulis Al-Muḥkam berkata: “Pemotongan
adalah ibānah, yaitu pemisahan bagian-bagian suatu benda.”
Ibānah dengan makna pemisahan
merupakan sinonim dari pembedaan atau pemisahan satu bagian dari bagian yang
lain. Para fuqaha pada umumnya menggunakan istilah ini dengan makna memisahkan
dan memutuskan.
Adapun ibānah terhadap istri
terjadi melalui talak bain atau khulu‘. Dalam keadaan tersebut,
seorang perempuan telah memiliki hak atas dirinya sendiri, dan suami tidak
berhak merujuknya kecuali dengan akad nikah yang baru.
الْحُكْمُ
الإِْجْمَالِيُّ:
Hukum Secara Umum
٢ - مِنْ أَحْكَامِ
الإِْبَانَةِ مَا اتَّفَقَ عَلَيْهِ الْفُقَهَاءُ فِي الْجُمْلَةِ أَنَّ مَا
أُبِينَ مِنْ حَيٍّ - غَيْرَ الصُّوفِ وَالشَّعْرِ مِنْ الْمَأْكُول - فَهُوَ
كَمَيْتَتِهِ، لِخَبَرِ: مَا أُبِينَ مِنْ حَيٍّ فَهُوَ مَيِّتٌ (٢) .
2. Di antara hukum-hukum ibānah yang secara umum telah
disepakati oleh para fuqaha ialah bahwa setiap bagian yang dipisahkan dari
hewan yang masih hidup—selain wol dan rambut dari hewan yang halal dimakan—maka
bagian tersebut hukumnya seperti bangkai hewan itu. Hal ini berdasarkan
hadis:
“Apa yang dipisahkan dari hewan yang
masih hidup, maka ia adalah bangkai.”
وَمَا
قُطِعَ بَعْدَ التَّذْكِيَةِ وَقَبْل الْمَوْتِ يَحِل تَنَاوُلُهُ، وَإِنْ كَانَ
مَكْرُوهًا فِي الْجُمْلَةِ. (١)
Adapun bagian yang dipotong
setelah penyembelihan yang sesuai syariat, tetapi sebelum hewan tersebut mati,
maka boleh dimakan, meskipun secara umum hukumnya makruh.
مَوَاطِنُ الْبَحْثِ:
Tempat-Tempat Pembahasan
٣ - الْكَلاَمُ فِي الإِْبَانَةِ
ذُكِرَ فِي مَبْحَثِ النَّجَاسَةِ، وَفِي الْعَوْرَةِ (لَمْسُ الْعُضْوِ
الْمُبَانِ وَالنَّظَرُ إِلَيْهِ) وَفِي الدَّفْنِ (٢) ، وَفِي الطَّلاَقِ،
وَالْخُلْعِ (٣) ، وَفِي الْجِنَايَاتِ (الْجِنَايَةُ عَلَى الأَْطْرَافِ،) (٤)
وَفِي اللِّعَانِ، وَفِي الذَّبَائِحِ (كَيْفِيَّةُ الذَّبْحِ) ، وَفِي الصَّيْدِ
(٥) .
3. Pembahasan mengenai ibānah disebutkan dalam beberapa
bab fikih, yaitu:
- Bab najis,
berkaitan dengan hukum bagian tubuh yang terpisah.
- Bab aurat,
berkaitan dengan menyentuh anggota tubuh yang telah terpisah dan
melihatnya.
- Bab pemakaman,
berkaitan dengan hukum bagian tubuh yang terpisah dalam proses penguburan.
- Bab talak.
- Bab khulu‘.
- Bab jinayah,
khususnya berkaitan dengan tindak pidana terhadap anggota-anggota tubuh.
- Bab li‘ān.
- Bab sembelihan,
khususnya mengenai tata cara penyembelihan.
- Bab perburuan.
Wallahu A’lam...
Baca juga:
Ibahah (إباحة) dalam Fikih Islam: Pengertian dan Perbedaannya dengan Jawaz, Halal, Sah, Takhyir, dan ‘Afw; Dalil, Jenis, Sumber, Objek, Dampak, Jaminan, serta Sebab Berakhirnya
Ibdāl dan Istibdāl dalam Fikih? Pengertian, Hukum, Perbedaan Mazhab, dan
Penerapannya dalam Zakat, Jual Beli, Ijarah, dan Wakaf
إِبَانَة
IBĀNAH
التَّعْرِيفُ
Definisi
١ - الإِْبَانَةُ
مَصْدَرُ أَبَانَ، وَمِنْ مَعَانِيهَا اللُّغَوِيَّةِ الإِْظْهَارُ وَالْفَصْل.
وَقَال صَاحِبُ الْمُحْكَمِ: الْقَطْعُ إِبَانَةُ أَجْزَاءِ الْجِرْمِ.
وَالإِْبَانَةُ بِمَعْنَى الْفَصْل، مُرَادِفَةٌ لِلتَّفْرِيقِ. (١) وَأَغْلَبُ تَنَاوُل
الْفُقَهَاءِ لَهَا بِمَعْنَى الْفَصْل وَالْقَطْعِ. وَإِبَانَةُ الزَّوْجَةِ
تَكُونُ بِالطَّلاَقِ الْبَائِنِ أَوِ الْخُلْعِ، وَحِينَئِذٍ تَمْلِكُ
الْمَرْأَةُ نَفْسَهَا، وَلاَ يَحِقُّ لِلزَّوْجِ مُرَاجَعَتُهَا إِلاَّ بِعَقْدٍ
جَدِيدٍ.
1. Ibānah adalah masdar dari kata أَبَانَ
(abāna). Di antara makna bahasanya ialah menampakkan dan memisahkan.
Penulis Al-Muḥkam berkata: “Pemotongan
adalah ibānah, yaitu pemisahan bagian-bagian suatu benda.”
Ibānah dengan makna pemisahan
merupakan sinonim dari pembedaan atau pemisahan satu bagian dari bagian yang
lain. Para fuqaha pada umumnya menggunakan istilah ini dengan makna memisahkan
dan memutuskan.
Adapun ibānah terhadap istri
terjadi melalui talak bain atau khulu‘. Dalam keadaan tersebut,
seorang perempuan telah memiliki hak atas dirinya sendiri, dan suami tidak
berhak merujuknya kecuali dengan akad nikah yang baru.
الْحُكْمُ
الإِْجْمَالِيُّ:
Hukum Secara Umum
٢ - مِنْ أَحْكَامِ
الإِْبَانَةِ مَا اتَّفَقَ عَلَيْهِ الْفُقَهَاءُ فِي الْجُمْلَةِ أَنَّ مَا
أُبِينَ مِنْ حَيٍّ - غَيْرَ الصُّوفِ وَالشَّعْرِ مِنْ الْمَأْكُول - فَهُوَ
كَمَيْتَتِهِ، لِخَبَرِ: مَا أُبِينَ مِنْ حَيٍّ فَهُوَ مَيِّتٌ (٢) .
2. Di antara hukum-hukum ibānah yang secara umum telah
disepakati oleh para fuqaha ialah bahwa setiap bagian yang dipisahkan dari
hewan yang masih hidup—selain wol dan rambut dari hewan yang halal dimakan—maka
bagian tersebut hukumnya seperti bangkai hewan itu. Hal ini berdasarkan
hadis:
“Apa yang dipisahkan dari hewan yang
masih hidup, maka ia adalah bangkai.”
وَمَا
قُطِعَ بَعْدَ التَّذْكِيَةِ وَقَبْل الْمَوْتِ يَحِل تَنَاوُلُهُ، وَإِنْ كَانَ
مَكْرُوهًا فِي الْجُمْلَةِ. (١)
Adapun bagian yang dipotong
setelah penyembelihan yang sesuai syariat, tetapi sebelum hewan tersebut mati,
maka boleh dimakan, meskipun secara umum hukumnya makruh.
مَوَاطِنُ الْبَحْثِ:
Tempat-Tempat Pembahasan
٣ - الْكَلاَمُ فِي الإِْبَانَةِ
ذُكِرَ فِي مَبْحَثِ النَّجَاسَةِ، وَفِي الْعَوْرَةِ (لَمْسُ الْعُضْوِ
الْمُبَانِ وَالنَّظَرُ إِلَيْهِ) وَفِي الدَّفْنِ (٢) ، وَفِي الطَّلاَقِ،
وَالْخُلْعِ (٣) ، وَفِي الْجِنَايَاتِ (الْجِنَايَةُ عَلَى الأَْطْرَافِ،) (٤)
وَفِي اللِّعَانِ، وَفِي الذَّبَائِحِ (كَيْفِيَّةُ الذَّبْحِ) ، وَفِي الصَّيْدِ
(٥) .
3. Pembahasan mengenai ibānah disebutkan dalam beberapa
bab fikih, yaitu:
- Bab najis,
berkaitan dengan hukum bagian tubuh yang terpisah.
- Bab aurat,
berkaitan dengan menyentuh anggota tubuh yang telah terpisah dan
melihatnya.
- Bab pemakaman,
berkaitan dengan hukum bagian tubuh yang terpisah dalam proses penguburan.
- Bab talak.
- Bab khulu‘.
- Bab jinayah,
khususnya berkaitan dengan tindak pidana terhadap anggota-anggota tubuh.
- Bab li‘ān.
- Bab sembelihan,
khususnya mengenai tata cara penyembelihan.
- Bab perburuan.
Wallahu A’lam...
Baca juga:
Ibahah (إباحة) dalam Fikih Islam: Pengertian dan Perbedaannya dengan Jawaz, Halal, Sah, Takhyir, dan ‘Afw; Dalil, Jenis, Sumber, Objek, Dampak, Jaminan, serta Sebab Berakhirnya
Ibdāl dan Istibdāl dalam Fikih? Pengertian, Hukum, Perbedaan Mazhab, dan
Penerapannya dalam Zakat, Jual Beli, Ijarah, dan Wakaf

Tidak ada komentar:
Posting Komentar