Pendahuluan
Dalam pembahasan sebelumnya, Imam
Al-Ghazali mengajukan pertanyaan yang sulit dijawab oleh para filsuf: mengapa
dua titik tertentu pada bola langit ditetapkan sebagai kutub utara dan kutub
selatan, padahal seluruh permukaan langit dianggap memiliki sifat yang sama?
Pada bagian ini, para filsuf mencoba
menjawab bahwa mungkin saja titik kutub memang mempunyai sifat khusus
yang membedakannya dari titik-titik lainnya. Namun Imam Al-Ghazali menunjukkan
bahwa jawaban tersebut justru bertentangan dengan prinsip dasar filsafat mereka
sendiri. Melalui analisis yang tajam, beliau memperlihatkan adanya kontradiksi
dalam teori tentang keseragaman langit.
Sumber Rujukan
Kitab: Tahāfut al-Falāsifah (تهافت
الفلاسفة)
Bab: Masalah Pertama – Bantahan terhadap Pendapat tentang
Keazalian Alam
Tema: Kritik Imam Al-Ghazali terhadap anggapan bahwa titik kutub
memiliki sifat khusus.
Penulis
Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad
al-Ghazali ath-Thusi (450–505 H / 1058–1111 M)
Terjemahan Lengkap
Jawaban
Mereka: Mungkin Titik Kutub Memiliki Sifat Khusus
Jika mereka berkata:
"Mungkin tempat yang menjadi
titik kutub memiliki suatu sifat khusus yang membedakannya dari tempat-tempat
lainnya, sehingga ia memang lebih layak menjadi lokasi kutub yang tetap.
Seakan-akan titik itu tidak berubah
dari tempat, posisi, dan letaknya—atau dengan istilah apa pun yang digunakan
untuk menjelaskannya.
Sedangkan seluruh bagian langit
lainnya berubah posisinya terhadap bumi dan terhadap langit-langit lainnya
karena gerakan rotasi.
Adapun kutub tetap berada pada
posisinya.
Maka boleh jadi tempat itu memang
lebih pantas menjadi titik yang tetap daripada tempat-tempat lainnya."
Jawaban
Kami: Itu Bertentangan dengan Prinsip Kalian Sendiri
Kami menjawab:
Dalam ucapan itu terdapat pengakuan
yang jelas bahwa bagian-bagian bola langit pertama berbeda-beda dalam
tabiatnya, sehingga tidak seluruhnya memiliki sifat yang sama.
Padahal hal itu bertentangan dengan
prinsip dasar kalian sendiri.
Sebab salah satu dalil yang kalian
gunakan untuk membuktikan bahwa langit berbentuk bola ialah karena langit
mempunyai tabiat yang sederhana dan seluruh bagiannya seragam tanpa perbedaan.
Bentuk yang paling sederhana adalah
bola.
Sedangkan bentuk persegi, segi enam,
dan bentuk-bentuk lainnya mengharuskan adanya sudut-sudut dan perbedaan pada
bagian-bagiannya.
Keadaan seperti itu hanya mungkin
terjadi apabila terdapat sesuatu yang ditambahkan kepada tabiat sederhana
tersebut.
Artikel Pengembangan
Al-Ghazali
Menunjukkan Kontradiksi Internal
Pada bagian ini, Imam Al-Ghazali
tidak langsung membantah isi jawaban para filsuf.
Beliau justru menunjukkan bahwa
jawaban mereka bertentangan dengan teori mereka sendiri.
Jika mereka mengatakan bahwa titik
kutub memiliki sifat istimewa, berarti tidak semua bagian langit identik.
Padahal sebelumnya mereka selalu
menegaskan bahwa langit memiliki tabiat yang sederhana dan seluruh bagiannya
sama.
Mengapa
Langit Harus Berbentuk Bola?
Menurut kosmologi filsafat Yunani
yang diikuti banyak filsuf Islam, langit berbentuk bola karena bola dianggap
sebagai bentuk paling sempurna dan paling sesuai dengan benda yang sederhana.
Kesimpulan itu didasarkan pada
anggapan bahwa seluruh bagian bola memiliki sifat yang sama.
Namun ketika mereka mulai mengatakan
bahwa salah satu titik lebih istimewa daripada titik lainnya, dasar argumentasi
tersebut menjadi goyah.
Sifat
Khusus Berarti Ada Perbedaan Hakiki
Apabila suatu titik memang memiliki
karakter yang tidak dimiliki titik lainnya, berarti bola langit tidak lagi
benar-benar seragam.
Dengan demikian, alasan mengapa
langit harus berbentuk bola karena seluruh bagiannya identik menjadi kehilangan
kekuatannya.
Inilah kontradiksi yang ingin
ditunjukkan Al-Ghazali.
Metode
Debat yang Digunakan Al-Ghazali
Al-Ghazali menggunakan metode yang
dikenal dalam ilmu kalam sebagai ilzām, yaitu menunjukkan bahwa suatu
pendapat menghasilkan konsekuensi yang bertentangan dengan prinsip yang dianut
oleh pemilik pendapat itu sendiri.
Beliau tidak perlu membuktikan teori
baru.
Cukup dengan memperlihatkan bahwa teori
lawan tidak konsisten, maka klaim kepastian mereka menjadi lemah.
Pelajaran
Filosofis dari Pembahasan Ini
Pembahasan ini menunjukkan bahwa
konsistensi merupakan syarat penting dalam sebuah sistem pemikiran.
Sebuah teori tidak cukup hanya
tampak masuk akal pada satu bagian.
Ia juga harus tetap konsisten ketika
diterapkan pada seluruh konsekuensi logisnya.
Inilah yang terus diuji oleh Imam
Al-Ghazali sepanjang Tahāfut al-Falāsifah.
Hikmah
- Imam Al-Ghazali mengajarkan pentingnya menjaga
konsistensi dalam berpikir.
- Sebuah teori harus selaras dengan seluruh prinsip yang
menjadi dasarnya.
- Mengakui adanya pengecualian tanpa alasan yang kuat
dapat melemahkan keseluruhan argumentasi.
- Perdebatan ilmiah yang baik tidak hanya mencari
kelemahan lawan, tetapi juga menguji kesesuaian antara teori dan
konsekuensinya.
- Karya-karya ulama klasik menunjukkan tingginya tradisi
berpikir logis dalam khazanah Islam.
- Mencari kebenaran membutuhkan keberanian untuk
mengoreksi teori ketika muncul kontradiksi.
Penutup
Melalui jawaban para filsuf tentang
kemungkinan adanya sifat khusus pada titik kutub, Imam Al-Ghazali
memperlihatkan adanya kontradiksi mendasar dalam sistem pemikiran mereka. Jika
benar salah satu titik langit memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki titik
lain, maka anggapan bahwa seluruh bagian langit bersifat sederhana dan seragam
tidak lagi dapat dipertahankan. Dengan demikian, alasan yang mereka gunakan
untuk menjelaskan bentuk bola langit justru melemah oleh konsekuensi dari
jawaban mereka sendiri. Inilah salah satu contoh kecermatan Al-Ghazali dalam
menguji konsistensi logika para filsuf melalui argumentasi yang runtut dan
mendalam.
Teks Arab :
قولهم لعل ذلك الموضع يفارق غيره بخاصية
فإن قيل لعل الموضع الذي عليه نقطة القطب يفارق غيره
بخاصية تناسب كونه محلًا للقطب حتى يثبت، فكأنه لا يفارق مكانه وحيزه ووضعه أو ما
يفرض إطلاقه عليه من الأسامي، وسائر مواضع الفلك يتبدل بالدور وضعها من الأرض ومن
الأفلاك والقطب ثابت الوضع، فلعل ذلك الموضع كان أولى بأن يكون ثابت الوضع من غيره.
تقولون بتشابه السماء ...
قلنا: ففي هذا تصريح بتفاوت أجزاء الكرة الأولى في
الطبيعة وأنها ليست متشابهة الأجزاء، وهو على خلاف أصلكم، إذ أحد ما استدللتم به
على لزوم
كون السماء كرى الشكل أنه بسيط الطبيعة متشابه لا
يتفاوت، وأبسط الأشكال الكرة، فإن التربيع والتسديس وغيرهما يقتضي خروج زوايا
وتفاوتها، وذلك لا يكون إلا بأمر زائد على الطبع البسيط.
Wallahu A’lam...
Artikel Terkait:
Imam Al-Ghazali Membantah Filsuf: Mengapa Kutub Utara dan Selatan Ditentukan pada Titik Itu?
Imam Al-Ghazali Membantah Filsuf: Mengapa Alam Memiliki Bentuk Tertentu dan Bukan Bentuk Lain?
Imam Al-Ghazali Membantah Filsuf: Dari Mana Asal SifatKhusus Titik Kutub Langit?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar