Pendahuluan
Dalam Islam, kecintaan kepada Allah
tidak cukup diwujudkan melalui ibadah pribadi seperti salat, puasa, dan zikir.
Keimanan yang sempurna juga tercermin dalam sikap seorang muslim terhadap orang
lain. Ia mencintai orang-orang yang taat kepada Allah, mendukung mereka dalam
kebaikan, serta membenci kekufuran, kemaksiatan, dan kezaliman karena Allah,
bukan karena dorongan hawa nafsu.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya'
Ulumuddin mengingatkan bahwa al-walā' wal-barā' (loyalitas dan sikap
berlepas diri karena Allah) merupakan bagian penting dari kesempurnaan iman.
Hal ini ditegaskan melalui sebuah riwayat tentang wahyu Allah kepada salah
seorang nabi serta doa Rasulullah ﷺ
yang mengajarkan pentingnya menjaga hati agar tidak bergantung kepada
orang-orang yang durhaka.
Sumber
Kitab : Ihya' 'Ulumuddin (إحياء
علوم الدين) Juz : 2
Pengarang : Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali (450–505 H), yang
dikenal dengan gelar Hujjatul Islam, seorang ulama besar dalam bidang
akhlak, tasawuf, fikih, dan pendidikan Islam.
Tema : Cinta dan benci karena Allah, loyalitas kepada orang-orang
saleh, serta menjaga hati agar tidak bergantung kepada orang yang durhaka.
Teks Arab
ويروى أن الله تعالى أوحى إلى نبي من الأنبياء أما زهدك في
الدنيا فقد تعجلت الراحة ، وأما انقطاعك إلي فقد تعززت بي ، ولكن هل عاديت في عدوا
أو هل ؟ واليت في وليا .
؟ وقال صلى الله عليه وسلم : اللهم لا تجعل لفاجر علي منة
فترزقه مني محبة .
Terjemahan Lengkap
Diriwayatkan bahwa Allah Ta'ala
mewahyukan kepada salah seorang nabi di antara para nabi:
"Adapun sikap zuhudmu terhadap
dunia, maka engkau telah menyegerakan istirahat bagi dirimu sendiri. Adapun
pengabdianmu yang sepenuhnya kepada-Ku, maka dengannya engkau telah memperoleh
kemuliaan melalui-Ku. Akan tetapi, apakah engkau pernah memusuhi musuh-Ku
karena Aku? Dan apakah engkau pernah mencintai serta membela wali-Ku karena
Aku?"
Rasulullah ﷺ
juga berdoa:
"Ya Allah, janganlah Engkau
jadikan orang yang durhaka memiliki jasa kepadaku sehingga Engkau menumbuhkan
rasa cinta dalam hatiku kepadanya."
Penjelasan
Dalam riwayat ini Allah menjelaskan
bahwa ibadah yang bersifat pribadi, seperti zuhud dan memperbanyak ibadah,
memang memiliki keutamaan. Namun, masih ada satu perkara yang harus melengkapi
kesempurnaan iman, yaitu mencintai para kekasih Allah dan membenci segala
bentuk permusuhan terhadap agama-Nya karena Allah semata.
Artinya, hubungan sosial seorang
mukmin juga merupakan bagian dari ibadah. Ia tidak bersikap netral terhadap
kebenaran dan kebatilan, tetapi menempatkan kecintaannya sesuai dengan apa yang
dicintai Allah.
Sementara itu, doa Rasulullah ﷺ mengajarkan agar seorang mukmin tidak
sampai bergantung kepada orang yang durhaka karena jasa atau pemberiannya.
Sebab, ketergantungan semacam itu dapat memengaruhi hati sehingga sulit
menegakkan kebenaran atau menasihatinya ketika ia berbuat salah.
Artikel Pengembangan
Kesempurnaan Iman Tidak Hanya Diukur dari Banyaknya Ibadah
Sering kali seseorang merasa telah
dekat dengan Allah karena rajin beribadah. Padahal, Islam juga menilai
bagaimana ia memperlakukan sesama manusia.
Apakah ia mencintai orang-orang yang
taat kepada Allah?
Apakah ia mendukung dakwah, ilmu,
dan kebaikan?
Apakah ia menjauhi keburukan tanpa
didorong kebencian pribadi?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang
terkandung dalam wahyu Allah kepada nabi tersebut. Ibadah yang benar akan
melahirkan keberpihakan kepada kebenaran dan kasih sayang kepada orang-orang
yang beriman.
Makna
Memusuhi Musuh Allah
Ungkapan "memusuhi musuh
Allah" bukan berarti berlaku zalim atau memendam kebencian pribadi
terhadap seseorang. Maksudnya adalah tidak menyetujui kekufuran, kemaksiatan,
dan kezaliman serta tidak memberikan dukungan kepada perbuatan yang dimurkai
Allah.
Seorang muslim tetap diperintahkan
berlaku adil, menjaga akhlak, dan mengajak kepada kebaikan dengan hikmah,
meskipun terhadap orang yang berbeda keyakinan atau sedang melakukan kesalahan.
Mengapa
Rasulullah Berdoa Demikian?
Rasulullah ﷺ
memohon agar tidak bergantung kepada orang yang durhaka karena sebuah jasa.
Ketika seseorang terlalu bergantung kepada pemberian atau bantuan orang lain,
ada kemungkinan ia menjadi sungkan untuk menegur ketika melihat kemungkaran
atau bahkan terdorong mencintainya bukan karena Allah.
Islam mengajarkan agar hati tetap
merdeka dan hanya bergantung kepada Allah. Dengan demikian, hubungan dengan
manusia tetap berada dalam koridor keikhlasan dan kebenaran.
Penjelasan
Imam Al-Ghazali ingin menunjukkan
bahwa keikhlasan dalam hubungan sosial merupakan bagian dari penyucian hati.
Seorang muslim hendaknya menjadikan Allah sebagai ukuran utama dalam mencintai,
menghormati, dan memberikan loyalitas. Ia tidak membangun hubungan hanya
berdasarkan manfaat dunia, tetapi berdasarkan nilai-nilai yang diridhai Allah.
Contoh
Seorang pegawai memperoleh banyak
bantuan dari atasannya. Namun, ketika atasannya memerintahkan sesuatu yang
bertentangan dengan syariat, ia menolaknya dengan sopan dan tetap menghormati
atasannya tanpa mengikuti perintah yang salah. Ia tidak membiarkan rasa sungkan
mengalahkan ketaatan kepada Allah.
Contoh lain, seseorang aktif
membantu kegiatan dakwah di lingkungannya. Ia mencintai para pengajar dan
sahabat-sahabatnya karena semangat mereka dalam menuntut ilmu, bukan karena
kekayaan atau kedudukan mereka. Hubungan tersebut membuatnya semakin dekat
kepada Allah dan semakin bersemangat dalam beramal.
Kesimpulan
Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa
kesempurnaan iman tidak hanya diwujudkan melalui ibadah pribadi, tetapi juga
melalui sikap hati terhadap sesama. Seorang muslim hendaknya mencintai
orang-orang saleh karena Allah, mendukung kebaikan, menjauhi kemaksiatan, dan
menjaga hatinya agar tidak bergantung kepada orang yang durhaka. Dengan
demikian, seluruh aspek kehidupannya menjadi bagian dari ibadah kepada Allah.
Hikmah
- Zuhud dan ibadah harus disempurnakan dengan loyalitas
kepada kebenaran.
- Mencintai orang-orang saleh karena Allah merupakan
bagian dari kesempurnaan iman.
- Kebencian karena Allah berarti membenci kekufuran dan
kemaksiatan, bukan berbuat zalim kepada manusia.
- Seorang muslim hendaknya menjaga hati agar tidak
bergantung kepada orang yang durhaka.
- Keikhlasan menjadi dasar dalam membangun seluruh
hubungan sosial.
- Hubungan yang dilandasi iman akan menguatkan ketakwaan
dan akhlak.
- Allah menilai bukan hanya ibadah pribadi, tetapi juga
sikap kita terhadap kebenaran dan kebajikan.
Penutup
Persaudaraan dan kecintaan karena
Allah merupakan buah dari hati yang bersih dan iman yang kokoh. Sebagaimana
dijelaskan Imam Al-Ghazali, ibadah tidak berhenti pada hubungan seorang hamba
dengan Tuhannya, tetapi juga tercermin dalam cara ia mencintai, mendukung, dan
bergaul dengan sesama. Ketika Allah menjadi dasar setiap rasa cinta dan
loyalitas, hubungan antarmanusia akan dipenuhi keikhlasan, keadilan, dan
keberkahan, serta menjadi jalan menuju ridha-Nya di dunia dan akhirat.
Baca Juga :
Keutamaan Mencintai dan Mengunjungi Saudara karena Allah: Terjemah Ihya Ulumuddin Imam Al-Ghazali
Cara Meraih Cinta
Allah Menurut Imam Al-Ghazali: Terjemah Ihya Ulumuddin tentang Mencintai karena
Allah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar