السابعة-
وأجمع القراء السبعة وجمهور الناس على رفع الدال من "الحمد لله".
وروي عن
سفيان بن عيينة ورؤبة بن العجّاج : "الحمد لله" بنصب الدال وهذا على
إضمار فعل.
ويقال :
"الحمد لله" بالرفع مبتدأ وخبر وسبيل الخبر أن يفيد فما الفائدة في هذا
؟
Masalah ketujuh:
Para qari’ (ahli baca
Al-Qur’an) dari tujuh mazhab dan mayoritas ulama bersepakat bahwa huruf dāl dalam “Al-ḥamdulillāh” dibaca marfū‘.
Diriwayatkan dari Sufyan bin ‘Uyaynah
dan Ruwaibah bin Al-‘Ajjāj bahwa:
“Al-ḥamdulillāh” dibaca manshūb (menerima fathah pada
dāl), ini berdasarkan pengertian adanya fi‘l (kata kerja yang
tersirat).
Namun ada juga yang berkata:
“Al-ḥamdulillāh” dibaca marfū‘ (menerima dhammah pada dāl) sebagai mubtada’ (subjek) dan khabar
(predikat). Dengan cara ini, ia memberikan makna khabar.
Lalu dipertanyakan: “Apa manfaat dari perbedaan ini?”
فالجواب
أن سيبويه قال : إذا قال الرجل الحمد لله بالرفع ففيه من المعنى مثل ما في قولك :
حمدت الله حمدا ، إلا أن الذي يرفع الحمد يخبر أن الحمد منه ومن جميع الخلق لله ،
والذي ينصب الحمد يخبر أن الحمد منه وحده لله. وقال غير سيبويه. إنما يتكلم بهذا
تعرضا لعفو الله ومغفرته وتعظيما له وتمجيدا ، فهو خلاف معنى الخبر وفيه معنى
السؤال.
Jawabannya, menurut Sibawayh:
Jika seseorang mengucapkan
“Al-ḥamdulillāh” dengan marfū‘ (dhammah pada dāl), maknanya mirip dengan ucapanmu: “ḥamadtu Allāha
ḥamdan” (aku memuji Allah dengan pujian).
Bedanya, jika marfū‘, itu menunjukkan bahwa pujian itu berasal
dari Allah dan dari seluruh makhluk untuk Allah.
Sedangkan jika manshūb (fathah pada dāl),
itu menunjukkan bahwa pujian itu hanya berasal dari Allah sendiri untuk Allah.
Namun menurut ulama lain, makna ini diungkapkan sebagai bentuk permohonan
ampunan Allah, pengagungan, dan pemuliaan-Nya.
Maka cara ini berbeda dari makna khabar biasa dan juga mengandung makna doa
atau permohonan.
وفي
الحديث : "من شغل بذكري عن مسألتي أعطيته أفضل ما أعطي السائلين" . وقيل
: إن مدحه عز وجل لنفسه وثناءه عليها ليعلم ذلك عباده فالمعنى على هذا : قولوا
الحمد لله.
Dalam hadits disebutkan:
“Barangsiapa disibukkan
dengan mengingat-Ku dari pada meminta sesuatu kepada-Ku, Aku akan memberinya
yang terbaik dari apa yang Aku berikan kepada para peminta.”
Dikatakan pula:
Bahwa pujian-Nya (Allah سبحانه)
terhadap Diri-Nya sendiri dan memuji Diri-Nya adalah agar hamba-hamba-Nya
mengetahui hal itu. Maka maknanya dalam konteks ini adalah: “Katakanlah:
Alhamdulillāh.”
قال
الطبري : "الحمد لله" ثناء أثنى به على
نفسه وفي ضمنه أمر عباده أن يثنوا عليه فكأنه قال : قولوا الحمد لله ، وعلى هذا
يجيء قولوا إياك.
وهذا من
حذف العرب ما يدل ظاهر الكلام عليه كما قال الشاعر :
وأعلم أنني سأكون رمسا # إذا سار
النواعج لا يسير
فقال السائلون لمن حفرتم # فقال
القائلون لهم وزير
المعنى :
المحفور له وزير ، فحذف لدلاك ظاهر الكلام عليه وهذا كثير.
Al-Tabari berkata:
“‘Al-ḥamdulillāh’ adalah pujian yang Allah berikan untuk Diri-Nya sendiri,
dan di dalamnya terkandung perintah bagi hamba-hamba-Nya untuk memuji-Nya.
Seakan Dia berkata: ‘Katakanlah: Alhamdulillah.’ Berdasarkan hal ini, muncul
pula perintah ‘Qūlū iyyāka’ (Katakanlah: Hanya Engkaulah yang kami sembah).”
Ini termasuk dari kebiasaan bahasa Arab, yaitu penghapusan sesuatu yang
dapat diketahui dari konteks atau jelas dari kata-kata sebelumnya, sebagaimana
yang dijelaskan penyair:
Dan ketahuilah bahwa aku akan
menjadi debu
Jika para unta berjalan, aku tidak ikut
Maka para penanya bertanya: Untuk
siapa kalian menggali?
Jawabnya: Untuk menteri mereka
Maksudnya:
Yang digali itu untuk menteri,
tetapi kata-kata itu dihilangkan karena jelas dari konteks. Hal seperti ini sering
terjadi dalam bahasa Arab.
وروي عن
ابن أبي عبَلة : "الحمد لله" بضم الدال واللام على إتباع الثاني الأول
وليتجانس اللفظ وطلب التجانس في اللفظ كثير في كلامهم نحو : أجودك وهو منحدر من
الجبل بضم الدال والجيم.
قال :
# اضرب
الساقينُ أُمّك هابل
بضم النون
لأجل ضم الهمزة.
Diriwayatkan dari Ibnu Abi ‘Abla bahwa:
“‘Al-ḥamdulillāh’ dibaca
dengan dhammah pada dāl dan lām, untuk menyelaraskan pengucapan huruf kedua
dengan huruf pertama, karena mencari keserasian dalam pengucapan kata sangat
umum dalam bahasa mereka.
Contohnya: ‘Ajuduka’ (أجودك),
yang berasal dari kata ‘munhadir’ (منحدر) dari gunung, dibaca dengan
dhammah pada dāl dan jīm.”
Ia berkata pula:
“ضرب الساقين أُمك هابل”
dibaca dengan dhammah pada nūn untuk menyesuaikan dengan dhammah pada hamzah.”
وفي قراءة
لأهل مكة "مُرُدفين" بضم الراء إتباعا للميم ، وعلى ذلك
"مُقُتلين" بضم القاف. وقالوا : لإمِّك ، فكسروا الهمزة اتباعا للاّم ،
وأنشد للنعمان بن بشير :
ويلِ
امِّها في هواء الجو طالبة # ولا كهذا
الذي في الأرض مطلوب
الأصل :
ويلٌ لأمها ، فحذفت اللام الأولى واستثقل ضم الهمزة بعد الكسرة فنقلها للأم ثم
أتبع اللام الميم.
Dalam bacaan penduduk Mekah:
- Kata “murudfīn” (مُرُدفين)
dibaca dengan dhammah pada rā’ untuk mengikuti dhammah pada mīm.
- Demikian pula “muqutalīn”
(مُقُتلين) dibaca dengan
dhammah pada qāf.
Mereka juga membaca “li-immik”
(لإمِّك) dengan kasrah pada hamzah
mengikuti huruf lam.
Seorang penyair, An-Nu‘mān bin
Bashīr, bersyair:
Celakalah
ibunya di udara yang dia inginkan,
Tidak seperti yang di bumi yang diinginkan
Asalnya:
“Wailun li-ummihā” (ويلٌ
لأمها),
kemudian lam pertama dihilangkan dan dhammah pada hamzah
setelah kasrah dianggap berat, sehingga dipindahkan ke huruf mīm,
lalu mim diikutkan pada lam.
وروي عن
الحسن بن أبي الحسن وزيد بن علي : "الحمدِ لله" بكسر الدال على اتباع
الأول الثاني.
Diriwayatkan dari Al-Hasan bin Abi Al-Hasan dan Zaid bin Ali bahwa:
“Al-ḥamdu lillāh” dibaca
dengan kasrah pada dāl
mengikuti huruf sebelumnya.
Baca juga:
Pendalaman Al-Fatihah Bab 4: Makna, Qirā’āt, I‘rāb,
Keutamaan Orang yang Memuji Allah dan 36 Pembahasan Penting. Bagian: 04

Tidak ada komentar:
Posting Komentar