Pendahuluan
Dalam
pembahasan sebelumnya, Imam Al-Muhasibi menjelaskan bahwa kesempurnaan akal
melahirkan tauhid yang murni, ketundukan kepada Allah, kerendahan hati, dan
kemampuan mengenali penyakit hati serta obatnya.
Pada bagian ini, beliau melangkah
lebih jauh. Menurutnya, akal yang benar-benar memahami Allah bukan hanya
melahirkan rasa takut dan cinta kepada-Nya, tetapi juga membuat seorang hamba
mampu "melihat" akhirat dengan mata hatinya. Ketika akal telah
dipenuhi keyakinan terhadap janji Allah, maka surga menjadi begitu nyata dalam
kesadarannya, sedangkan dunia tampak kecil dan tidak layak diperebutkan.
Inilah salah satu buah terbesar dari
akal yang tercerahkan oleh iman: kerinduan kepada akhirat dan sikap zuhud
terhadap dunia.
Akal yang Memahami Besarnya Nikmat Surga
Imam Al-Muhasibi menjelaskan bahwa
orang yang berakal tentang Allah akan memahami betapa agung pahala yang Allah
siapkan di surga.
Ia menyadari bahwa surga adalah
tempat yang:
- Kekal selama-lamanya.
- Bebas dari segala penderitaan.
- Tidak mengenal kesedihan.
- Tidak mengenal penyakit.
- Tidak mengenal rasa takut.
- Tidak mengenal kehilangan.
Lebih dari itu, kenikmatan surga
berada jauh di atas segala sesuatu yang pernah dibayangkan manusia.
Hal ini sesuai dengan sabda Nabi ﷺ:
"Allah telah menyiapkan di
surga sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh
telinga, dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia."
Karena itu, menurut Al-Muhasibi,
tidak ada seorang pun yang mampu menggambarkan seluruh kenikmatan surga secara
sempurna. Apa yang diketahui manusia hanyalah sebagian kecil dari kemuliaan
yang Allah sembunyikan bagi para wali-Nya.
Allah Ta'ala berfirman:
"Maka tidak seorang pun
mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka berupa berbagai penyejuk mata
sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan." (QS. As-Sajdah: 17)
Ayat ini menunjukkan bahwa hakikat
kenikmatan surga melampaui seluruh deskripsi manusia.
Akal yang Menjadikan Akhirat Seolah Terlihat di Depan Mata
Menurut Imam Al-Muhasibi, ketika
ilmu tentang surga tertanam kuat dalam hati, maka akal akan terus memikirkan
dan menghadirkannya dalam kesadaran.
Lambat laun, hati akan memandang
janji Allah seakan-akan sedang menyaksikannya secara langsung.
Inilah yang pernah digambarkan oleh
sahabat Haritsah radhiyallahu 'anhu ketika berkata:
"Seakan-akan aku melihat Arsy
Tuhanku dengan jelas, dan melihat penghuni surga saling berkunjung."
Demikian pula perkataan Al-Hasan
Al-Bashri tentang para wali Allah:
"Mereka membenarkannya sehingga
seolah-olah mereka melihat apa yang dijanjikan kepada mereka dengan mata
kepala."
Tentu bukan berarti mereka
benar-benar melihat surga saat masih hidup di dunia. Yang dimaksud adalah
kuatnya keyakinan sehingga berita akhirat terasa lebih nyata daripada banyak
perkara dunia.
Inilah salah satu ciri akal yang
sempurna: keyakinan yang hidup dalam hati.
Kerinduan kepada Allah Lahir dari Keyakinan
Ketika hati terus menerus memikirkan
surga dan kedekatan dengan Allah, maka muncullah kerinduan yang mendalam.
Imam Al-Muhasibi menggambarkan
prosesnya secara bertahap:
- Akal memahami janji Allah.
- Hati menghadirkan gambaran akhirat.
- Timbul rasa rindu.
- Rindu melahirkan kerinduan untuk bertemu Allah.
- Hati menjadi sibuk dengan akhirat.
- Dunia mulai kehilangan daya tariknya.
Inilah yang disebut para ulama
sebagai syauq (kerinduan kepada Allah).
Semakin kuat ma'rifat seseorang
kepada Allah, semakin besar pula kerinduannya kepada negeri akhirat.
Mengapa Orang Berakal Menjadi Zuhud terhadap Dunia?
Menurut Imam Al-Muhasibi, orang yang
banyak merenungkan akhirat akan memahami perbedaan yang sangat besar antara
dunia dan akhirat.
Dunia adalah:
- Tempat yang sementara.
- Penuh kekurangan.
- Cepat berlalu.
- Sarat ujian.
- Menjadi objek hisab pada hari kiamat.
Sedangkan akhirat adalah:
- Tempat tinggal abadi.
- Negeri balasan.
- Negeri kemuliaan.
- Negeri kedekatan dengan Allah.
- Negeri tanpa akhir.
Karena itu Allah memerintahkan
manusia untuk memikirkan dunia dan akhirat secara bersamaan agar mampu
membandingkan keduanya dengan benar.
Ketika seseorang menyadari kenyataan
ini, ia akan memahami bahwa setiap kesenangan dunia yang tidak mendekatkannya
kepada Allah justru dapat mengurangi derajatnya di akhirat.
Dunia Menjadi Sarana, Bukan Tujuan
Al-Muhasibi tidak mengajarkan untuk
meninggalkan dunia secara total.
Beliau menjelaskan bahwa seorang
mukmin tetap mengambil bagian dunia yang dibutuhkannya, tetapi hanya sebatas
sarana untuk beribadah kepada Allah.
Karena itu, orang yang berakal:
- Makan agar kuat beribadah.
- Bekerja agar dapat menjalankan kewajiban.
- Memiliki harta untuk mendukung ketaatan.
- Memanfaatkan dunia sebagai kendaraan menuju akhirat.
Ia tidak menjadikan dunia sebagai
tujuan hidup.
Bahkan jika memungkinkan, hatinya
berharap tidak perlu terlalu sibuk dengan urusan dunia agar dapat lebih fokus
kepada Allah.
Sikap terhadap Harta Menurut Orang yang Berakal
Imam Al-Muhasibi menjelaskan bahwa
kebutuhan dasar manusia hanyalah:
- Makanan yang mencukupi.
- Pakaian yang menutup aurat.
- Sarana yang menunjang ketaatan.
Karena itu, seorang mukmin tidak
berlebihan dalam mengejar kemewahan.
Jika Allah memberinya harta lebih
melalui warisan atau sebab lainnya, ia tidak terpikat oleh harta tersebut.
Sebaliknya, ia merasa gembira ketika dapat menginfakkannya di jalan Allah.
Al-Muhasibi menggambarkan bahwa
orang seperti ini bahkan merasa berat apabila harta itu terlalu lama berada di
tangannya karena ia lebih senang mengirimkannya terlebih dahulu sebagai bekal
akhirat.
Ini adalah puncak zuhud yang lahir
dari keyakinan, bukan dari kemiskinan.
Zuhud Bukan Membenci Dunia
Kesalahpahaman yang sering muncul
adalah menganggap zuhud berarti membenci dunia secara mutlak.
Padahal menurut Imam Al-Muhasibi,
zuhud adalah memandang dunia sesuai ukurannya.
Dunia tetap dimanfaatkan, tetapi
tidak dijadikan tujuan utama.
Harta tetap dicari, tetapi tidak
menguasai hati.
Nikmat tetap disyukuri, tetapi tidak
melalaikan dari Allah.
Dengan demikian, ukuran zuhud bukan
terletak pada sedikit atau banyaknya harta, melainkan pada posisi harta di
dalam hati.
Pelajaran Penting dari Pembahasan Ini
Dari uraian Imam Al-Muhasibi, kita
dapat mengambil beberapa pelajaran penting:
1.
Akal yang sempurna selalu mengingat akhirat
Semakin sempurna akal seseorang,
semakin besar perhatiannya terhadap kehidupan setelah mati.
2.
Keyakinan melahirkan kerinduan kepada Allah
Orang yang benar-benar mengenal
Allah akan merindukan perjumpaan dengan-Nya.
3.
Surga adalah motivasi terbesar seorang mukmin
Mengingat janji Allah akan
memperkuat semangat beribadah dan menjauhi maksiat.
4.
Dunia hanyalah sarana
Segala aktivitas dunia seharusnya
membantu perjalanan menuju akhirat.
5.
Zuhud lahir dari ma'rifatullah
Semakin seseorang mengenal Allah dan
akhirat, semakin kecil dunia di matanya.
Penutup
Menurut Imam Al-Muhasibi, salah satu
tanda terbesar kesempurnaan akal adalah kemampuan memandang realitas akhirat
lebih penting daripada dunia. Ketika akal memahami kebesaran surga, keagungan
pahala Allah, dan kemuliaan berada di sisi-Nya, maka hati akan dipenuhi
kerinduan kepada akhirat. Dari sinilah lahir sikap zuhud yang sejati: bukan
meninggalkan dunia, tetapi menjadikan dunia hanya sebagai bekal menuju
perjumpaan dengan Allah.
Pada bagian berikutnya, Imam
Al-Muhasibi akan menjelaskan lebih jauh bagaimana akal yang sempurna melahirkan
rasa takut kepada Allah, muhasabah diri yang mendalam, dan kerendahan hati di
hadapan seluruh manusia.
Referensi:
وعقل عَن الله عز وجل مَا عظم من قدر ثَوَابه فِي جنته
بدوامه وَطيب الْعَيْش فِيهِ وَزَوَال الْآفَات والتكدير والتنغيص عَنهُ وَأَنه
فَوق مَا تحب النُّفُوس لَا يحسن أحد أَن يخْطر بِبَالِهِ ذكر كثير مِمَّا أعد
فِيهَا
وَقد قَالَ رَسُول الله ﷺ أعد الله عز وجل فِي جنته
مَا لَا عين رَأَتْ وَلَا أذن سَمِعت وَلَا خطر على قلب بشر
وَكَفاك بِاللَّه تَعَالَى واصفا عَمَّا أعد لأوليائه
إِذْ يَقُول عز من قَائِل ﴿فَلَا تعلم نفس مَا أُخْفِي لَهُم من قُرَّة أعين﴾
فقد أخبرنَا أَنه جَازَ فِي الْكَمَال وَالنَّعِيم
وقرة الْعُيُون وصف الواصفين وَمَعْرِفَة العارفين وَذكر الذَّاكِرِينَ لجَمِيع
النَّعيم فَعظم فِي قلبه جوَار مَوْلَاهُ وَمَا أعد فِيهِ لمن أناب إِلَيْهِ
وأطاعه فشخص إِلَيْهِ بعقله فاتصل مَا استودع قلبه من الْعلم بذلك لمشاهدته بعقله
حَتَّى أَنه رَأْي عينه عَمَّا قَالَه حَارِثَة فَكَأَنِّي أنظر إِلَى عرش
رَبِّي بارزا وَإِلَى أهل الْجنَّة يتزاورون
وكما قَالَ الْحسن وَذكر أَوْلِيَاء الله فِي
الدُّنْيَا فَقَالَ صدقُوا بِهِ فَكَأَنَّمَا يرَوْنَ مَا وعدوا رَأْي الْعين
فَلَمَّا اتَّصل عقله بمشاهدة ذَلِك حن واشتاق
فَلَمَّا حن واشتاق تعلق قلبه واشتغل فَلَمَّا اشْتغل بالشوق إِلَى جوَار ربه سلا
عَن الدُّنْيَا فلهَا عَنْهَا ١١٠ فَمن تفكر فِي دَار الدُّنْيَا أَيْن هِيَ من
جوَار ربه إِذْ يَقُول عز وجل ﴿لَعَلَّكُمْ تتفكرون فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَة﴾
قيل فِي التَّفْسِير تَفَكَّرُوا فيهمَا فَعَلمُوا أَن الدُّنْيَا دَار فنَاء
وَأَن الْآخِرَة دَار جَزَاء وَبَقَاء فعقل نعت ربه لزوَال الدُّنْيَا وفنائها
وَأَن كل مَا أَخذ مِنْهَا لغير الْقرْبَة إِلَى ربه فِي جواره نَاقص من دَرَجَات
الْقرب وَكَمَال النَّعيم فِي جوَار ربه وَأَن فِيهِ الْحساب وَالسُّؤَال عَن
نعيمها بِالْحَبْسِ عَن السَّبق فِي أَوَائِل الزمر إِلَى جوَار ربه ومولاه
وَأَنَّهَا مشغلة لَهُ عَن الِاشْتِغَال بربه مَا دَامَ فِيهَا حَتَّى مَا يعدله
من الْأنس بربه وحلاوة مُنَاجَاة سَيّده
فارتفع قلبه عَنْهَا وَتمنى أَن لَو اسْتغنى أَن يتَنَاوَل
مِنْهَا شَيْئا فَلم يجد بدا من الْأَخْذ مِنْهَا مَا يقويه على طَاعَة ربه خوفًا
أَن يمسك عَن الْقُوت فَيَنْقَطِع عَن عبَادَة ربه
فَكَانَ نصِيبه مِنْهَا الْقُوت من الْغذَاء وَلم
يتَكَلَّف مَا جَازَ بلغَة الْقُوت من غذائه وَستر عَوْرَته وان تكلّف طلبه لم
يتَكَلَّف إِلَّا للقربة إِلَى ربه فَإِن ابْتُلِيَ مِنْهَا بِمَا فَوق غذائه
وَستر عَوْرَته من مثل مِيرَاث أَو غَيره فمبذول كُله لرَبه يفرح بِإِخْرَاجِهِ
ويغتم أَن يمْكث عِنْده أقل من طرفه عين
Sumber;
الكتاب: ماهية
العقل ومعناه واختلاف الناس فيه
المؤلف: الحارث
بن أسد المحاسبي، أبو عبد الله (ت ٢٤٣هـ)
Baca juga:
Hakikat Akal
Menurut Imam Al-Muhasibi (Bagian 9): Akal yang Membaca Tanda-Tanda Kebesaran
Allah di Alam Semesta
%20Ketika%20Akal%20Memandang%20Surga%20dan%20Meremehkan%20Dunia.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar