BuraQ12: Hakikat Akal Menurut Imam Al-Muhasibi (Bagian 8): Ketika Akal Memandang Surga dan Meremehkan Dunia

BuraQ12: Hakikat Akal Menurut Imam Al-Muhasibi (Bagian 8): ...:

Pendahuluan

Dalam pembahasan sebelumnya, Imam Al-Muhasibi menjelaskan bahwa kesempurnaan akal melahirkan tauhid yang murni, ketundukan kepada Allah, kerendahan hati, dan kemampuan mengenali penyakit hati serta obatnya.

Pada bagian ini, beliau melangkah lebih jauh. Menurutnya, akal yang benar-benar memahami Allah bukan hanya melahirkan rasa takut dan cinta kepada-Nya, tetapi juga membuat seorang hamba mampu "melihat" akhirat dengan mata hatinya. Ketika akal telah dipenuhi keyakinan terhadap janji Allah, maka surga menjadi begitu nyata dalam kesadarannya, sedangkan dunia tampak kecil dan tidak layak diperebutkan.

Inilah salah satu buah terbesar dari akal yang tercerahkan oleh iman: kerinduan kepada akhirat dan sikap zuhud terhadap dunia.

Akal yang Memahami Besarnya Nikmat Surga

Imam Al-Muhasibi menjelaskan bahwa orang yang berakal tentang Allah akan memahami betapa agung pahala yang Allah siapkan di surga.

Ia menyadari bahwa surga adalah tempat yang:

  • Kekal selama-lamanya.
  • Bebas dari segala penderitaan.
  • Tidak mengenal kesedihan.
  • Tidak mengenal penyakit.
  • Tidak mengenal rasa takut.
  • Tidak mengenal kehilangan.

Lebih dari itu, kenikmatan surga berada jauh di atas segala sesuatu yang pernah dibayangkan manusia.

Hal ini sesuai dengan sabda Nabi :

"Allah telah menyiapkan di surga sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia."

Karena itu, menurut Al-Muhasibi, tidak ada seorang pun yang mampu menggambarkan seluruh kenikmatan surga secara sempurna. Apa yang diketahui manusia hanyalah sebagian kecil dari kemuliaan yang Allah sembunyikan bagi para wali-Nya.

Allah Ta'ala berfirman:

"Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka berupa berbagai penyejuk mata sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan." (QS. As-Sajdah: 17)

Ayat ini menunjukkan bahwa hakikat kenikmatan surga melampaui seluruh deskripsi manusia.

Akal yang Menjadikan Akhirat Seolah Terlihat di Depan Mata

Menurut Imam Al-Muhasibi, ketika ilmu tentang surga tertanam kuat dalam hati, maka akal akan terus memikirkan dan menghadirkannya dalam kesadaran.

Lambat laun, hati akan memandang janji Allah seakan-akan sedang menyaksikannya secara langsung.

Inilah yang pernah digambarkan oleh sahabat Haritsah radhiyallahu 'anhu ketika berkata:

"Seakan-akan aku melihat Arsy Tuhanku dengan jelas, dan melihat penghuni surga saling berkunjung."

Demikian pula perkataan Al-Hasan Al-Bashri tentang para wali Allah:

"Mereka membenarkannya sehingga seolah-olah mereka melihat apa yang dijanjikan kepada mereka dengan mata kepala."

Tentu bukan berarti mereka benar-benar melihat surga saat masih hidup di dunia. Yang dimaksud adalah kuatnya keyakinan sehingga berita akhirat terasa lebih nyata daripada banyak perkara dunia.

Inilah salah satu ciri akal yang sempurna: keyakinan yang hidup dalam hati.

Kerinduan kepada Allah Lahir dari Keyakinan

Ketika hati terus menerus memikirkan surga dan kedekatan dengan Allah, maka muncullah kerinduan yang mendalam.

Imam Al-Muhasibi menggambarkan prosesnya secara bertahap:

  1. Akal memahami janji Allah.
  2. Hati menghadirkan gambaran akhirat.
  3. Timbul rasa rindu.
  4. Rindu melahirkan kerinduan untuk bertemu Allah.
  5. Hati menjadi sibuk dengan akhirat.
  6. Dunia mulai kehilangan daya tariknya.

Inilah yang disebut para ulama sebagai syauq (kerinduan kepada Allah).

Semakin kuat ma'rifat seseorang kepada Allah, semakin besar pula kerinduannya kepada negeri akhirat.

Mengapa Orang Berakal Menjadi Zuhud terhadap Dunia?

Menurut Imam Al-Muhasibi, orang yang banyak merenungkan akhirat akan memahami perbedaan yang sangat besar antara dunia dan akhirat.

Dunia adalah:

  • Tempat yang sementara.
  • Penuh kekurangan.
  • Cepat berlalu.
  • Sarat ujian.
  • Menjadi objek hisab pada hari kiamat.

Sedangkan akhirat adalah:

  • Tempat tinggal abadi.
  • Negeri balasan.
  • Negeri kemuliaan.
  • Negeri kedekatan dengan Allah.
  • Negeri tanpa akhir.

Karena itu Allah memerintahkan manusia untuk memikirkan dunia dan akhirat secara bersamaan agar mampu membandingkan keduanya dengan benar.

Ketika seseorang menyadari kenyataan ini, ia akan memahami bahwa setiap kesenangan dunia yang tidak mendekatkannya kepada Allah justru dapat mengurangi derajatnya di akhirat.

Dunia Menjadi Sarana, Bukan Tujuan

Al-Muhasibi tidak mengajarkan untuk meninggalkan dunia secara total.

Beliau menjelaskan bahwa seorang mukmin tetap mengambil bagian dunia yang dibutuhkannya, tetapi hanya sebatas sarana untuk beribadah kepada Allah.

Karena itu, orang yang berakal:

  • Makan agar kuat beribadah.
  • Bekerja agar dapat menjalankan kewajiban.
  • Memiliki harta untuk mendukung ketaatan.
  • Memanfaatkan dunia sebagai kendaraan menuju akhirat.

Ia tidak menjadikan dunia sebagai tujuan hidup.

Bahkan jika memungkinkan, hatinya berharap tidak perlu terlalu sibuk dengan urusan dunia agar dapat lebih fokus kepada Allah.

Sikap terhadap Harta Menurut Orang yang Berakal

Imam Al-Muhasibi menjelaskan bahwa kebutuhan dasar manusia hanyalah:

  • Makanan yang mencukupi.
  • Pakaian yang menutup aurat.
  • Sarana yang menunjang ketaatan.

Karena itu, seorang mukmin tidak berlebihan dalam mengejar kemewahan.

Jika Allah memberinya harta lebih melalui warisan atau sebab lainnya, ia tidak terpikat oleh harta tersebut. Sebaliknya, ia merasa gembira ketika dapat menginfakkannya di jalan Allah.

Al-Muhasibi menggambarkan bahwa orang seperti ini bahkan merasa berat apabila harta itu terlalu lama berada di tangannya karena ia lebih senang mengirimkannya terlebih dahulu sebagai bekal akhirat.

Ini adalah puncak zuhud yang lahir dari keyakinan, bukan dari kemiskinan.

Zuhud Bukan Membenci Dunia

Kesalahpahaman yang sering muncul adalah menganggap zuhud berarti membenci dunia secara mutlak.

Padahal menurut Imam Al-Muhasibi, zuhud adalah memandang dunia sesuai ukurannya.

Dunia tetap dimanfaatkan, tetapi tidak dijadikan tujuan utama.

Harta tetap dicari, tetapi tidak menguasai hati.

Nikmat tetap disyukuri, tetapi tidak melalaikan dari Allah.

Dengan demikian, ukuran zuhud bukan terletak pada sedikit atau banyaknya harta, melainkan pada posisi harta di dalam hati.

Pelajaran Penting dari Pembahasan Ini

Dari uraian Imam Al-Muhasibi, kita dapat mengambil beberapa pelajaran penting:

1. Akal yang sempurna selalu mengingat akhirat

Semakin sempurna akal seseorang, semakin besar perhatiannya terhadap kehidupan setelah mati.

2. Keyakinan melahirkan kerinduan kepada Allah

Orang yang benar-benar mengenal Allah akan merindukan perjumpaan dengan-Nya.

3. Surga adalah motivasi terbesar seorang mukmin

Mengingat janji Allah akan memperkuat semangat beribadah dan menjauhi maksiat.

4. Dunia hanyalah sarana

Segala aktivitas dunia seharusnya membantu perjalanan menuju akhirat.

5. Zuhud lahir dari ma'rifatullah

Semakin seseorang mengenal Allah dan akhirat, semakin kecil dunia di matanya.

Penutup

Menurut Imam Al-Muhasibi, salah satu tanda terbesar kesempurnaan akal adalah kemampuan memandang realitas akhirat lebih penting daripada dunia. Ketika akal memahami kebesaran surga, keagungan pahala Allah, dan kemuliaan berada di sisi-Nya, maka hati akan dipenuhi kerinduan kepada akhirat. Dari sinilah lahir sikap zuhud yang sejati: bukan meninggalkan dunia, tetapi menjadikan dunia hanya sebagai bekal menuju perjumpaan dengan Allah.

Pada bagian berikutnya, Imam Al-Muhasibi akan menjelaskan lebih jauh bagaimana akal yang sempurna melahirkan rasa takut kepada Allah, muhasabah diri yang mendalam, dan kerendahan hati di hadapan seluruh manusia.

Referensi:

وعقل عَن الله عز وجل مَا عظم من قدر ثَوَابه فِي جنته بدوامه وَطيب الْعَيْش فِيهِ وَزَوَال الْآفَات والتكدير والتنغيص عَنهُ وَأَنه فَوق مَا تحب النُّفُوس لَا يحسن أحد أَن يخْطر بِبَالِهِ ذكر كثير مِمَّا أعد فِيهَا
وَقد قَالَ رَسُول الله ﷺ أعد الله عز وجل فِي جنته مَا لَا عين رَأَتْ وَلَا أذن سَمِعت وَلَا خطر على قلب بشر
وَكَفاك بِاللَّه تَعَالَى واصفا عَمَّا أعد لأوليائه إِذْ يَقُول عز من قَائِل ﴿فَلَا تعلم نفس مَا أُخْفِي لَهُم من قُرَّة أعين﴾
فقد أخبرنَا أَنه جَازَ فِي الْكَمَال وَالنَّعِيم وقرة الْعُيُون وصف الواصفين وَمَعْرِفَة العارفين وَذكر الذَّاكِرِينَ لجَمِيع النَّعيم فَعظم فِي قلبه جوَار مَوْلَاهُ وَمَا أعد فِيهِ لمن أناب إِلَيْهِ وأطاعه فشخص إِلَيْهِ بعقله فاتصل مَا استودع قلبه من الْعلم بذلك لمشاهدته بعقله حَتَّى أَنه رَأْي عينه عَمَّا قَالَه حَارِثَة فَكَأَنِّي أنظر إِلَى عرش

رَبِّي بارزا وَإِلَى أهل الْجنَّة يتزاورون
وكما قَالَ الْحسن وَذكر أَوْلِيَاء الله فِي الدُّنْيَا فَقَالَ صدقُوا بِهِ فَكَأَنَّمَا يرَوْنَ مَا وعدوا رَأْي الْعين
فَلَمَّا اتَّصل عقله بمشاهدة ذَلِك حن واشتاق فَلَمَّا حن واشتاق تعلق قلبه واشتغل فَلَمَّا اشْتغل بالشوق إِلَى جوَار ربه سلا عَن الدُّنْيَا فلهَا عَنْهَا ١١٠ فَمن تفكر فِي دَار الدُّنْيَا أَيْن هِيَ من جوَار ربه إِذْ يَقُول عز وجل ﴿لَعَلَّكُمْ تتفكرون فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَة﴾ قيل فِي التَّفْسِير تَفَكَّرُوا فيهمَا فَعَلمُوا أَن الدُّنْيَا دَار فنَاء وَأَن الْآخِرَة دَار جَزَاء وَبَقَاء فعقل نعت ربه لزوَال الدُّنْيَا وفنائها وَأَن كل مَا أَخذ مِنْهَا لغير الْقرْبَة إِلَى ربه فِي جواره نَاقص من دَرَجَات الْقرب وَكَمَال النَّعيم فِي جوَار ربه وَأَن فِيهِ الْحساب وَالسُّؤَال عَن نعيمها بِالْحَبْسِ عَن السَّبق فِي أَوَائِل الزمر إِلَى جوَار ربه ومولاه وَأَنَّهَا مشغلة لَهُ عَن الِاشْتِغَال بربه مَا دَامَ فِيهَا حَتَّى مَا يعدله من الْأنس بربه وحلاوة مُنَاجَاة سَيّده

فارتفع قلبه عَنْهَا وَتمنى أَن لَو اسْتغنى أَن يتَنَاوَل مِنْهَا شَيْئا فَلم يجد بدا من الْأَخْذ مِنْهَا مَا يقويه على طَاعَة ربه خوفًا أَن يمسك عَن الْقُوت فَيَنْقَطِع عَن عبَادَة ربه
فَكَانَ نصِيبه مِنْهَا الْقُوت من الْغذَاء وَلم يتَكَلَّف مَا جَازَ بلغَة الْقُوت من غذائه وَستر عَوْرَته وان تكلّف طلبه لم يتَكَلَّف إِلَّا للقربة إِلَى ربه فَإِن ابْتُلِيَ مِنْهَا بِمَا فَوق غذائه وَستر عَوْرَته من مثل مِيرَاث أَو غَيره فمبذول كُله لرَبه يفرح بِإِخْرَاجِهِ ويغتم أَن يمْكث عِنْده أقل من طرفه عين

Sumber;

الكتاب: ماهية العقل ومعناه واختلاف الناس فيه

المؤلف: الحارث بن أسد المحاسبي، أبو عبد الله (ت ٢٤٣هـ)

Baca juga:

Hakikat Akal Menurut Imam Al-Muhasibi (Bagian 9): Akal yang Membaca Tanda-Tanda Kebesaran Allah di Alam Semesta

Hakikat AkalMenurut Imam Al-Muhasibi (Bagian 7): Buah Kesempurnaan Akal dalam KehidupanSeorang Mukmin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

BuraQ12: Hakikat Akal Menurut Imam Al-Muhasibi (Bagian 8): Ketika Akal Memandang Surga dan Meremehkan Dunia

BuraQ12: Hakikat Akal Menurut Imam Al-Muhasibi (Bagian 8): ... : Pendahuluan Dalam pembahasan sebelumnya, Imam Al-Muhasibi menjelaskan b...