مسألة:
فإن
قلت هذه الآيات والأخبار يتطرق إليها تأويلات فبين لنا كيفية اختلاف الظاهر
والباطن فإن الباطن إن كان مناقضا للظاهر ففيه إبطال الشرع وهو قول من قال إن
الحقيقة خلاف الشريعة وهو كفر لأن الشريعة عبارة عن الظاهر والحقيقة عبارة عن
الباطن وإن كان لا يناقضه ولا يخالفه فهو هو فيزول به الانقسام ولا يكون للشرع سر
لا يفشى بل يكون الخفي والجلي واحد فاعلم أن هذا السؤال يحرك خطبا عظيما وينجر إلى
علوم المكاشفة ويخرج عن مقصود علم المعاملة وهو غرض هذه الكتب فإن العقائد التي
ذكرناها من أعمال القلوب وقد تعبدنا بتلقينها بالقبول والتصديق بعقد القلب عليها
لا بأن يتوصل إلى أن ينكشف لنا حقائقها فإن ذلك لم يكلف به كافة الخلق ولولا أنه
من الأعمال لما أوردناه في هذا الكتاب ولولا أنه عمل ظاهر القلب لا عمل باطنه لما
أوردناه في الشطر الأول من الكتاب وإنما الكشف الحقيقي هو صفة سر القلب وباطنه
ولكن إذا انجر الكلام إلى تحريك خيال في مناقضة الظاهر للباطن فلا بد من كلام وجيز
في حله
فمن قال إن الحقيقة تخالف الشريعة أو الباطن
يناقض الظاهر فهو إلى الكفر أقرب منه إلى الإيمان بل الأسرار التي يختص بها
المقربون بدركها ولا يشاركهم الأكثرون في علمها ويمتنعون عن إفشائها إليهم ترجع
إلى خمسة أقسام
Masalah:
Jika engkau
berkata: Ayat-ayat dan hadis-hadis ini masih memungkinkan adanya berbagai
takwil, maka jelaskanlah kepada kami bagaimana perbedaan antara lahir dan
batin. Sebab apabila makna batin
bertentangan dengan makna lahir, maka itu berarti membatalkan syariat. Inilah
ucapan orang yang mengatakan bahwa hakikat berbeda dengan syariat, dan itu
adalah kekufuran. Karena syariat adalah sesuatu yang tampak lahiriah, sedangkan
hakikat adalah sesuatu yang batiniah.
Namun jika makna batin tidak
bertentangan dan tidak menyelisihi makna lahir, berarti keduanya sebenarnya
sama saja. Dengan demikian, pembagian lahir dan batin menjadi hilang, dan
syariat tidak lagi memiliki rahasia yang tersembunyi; sehingga yang samar dan
yang jelas menjadi satu.
Ketahuilah bahwa pertanyaan ini
menggerakkan pembahasan yang sangat besar dan menyeret kepada ilmu mukasyafah,
serta keluar dari tujuan ilmu muamalah yang menjadi maksud kitab ini.
Sesungguhnya akidah-akidah yang telah kami sebutkan termasuk amalan hati. Kita
diperintahkan untuk menerimanya dengan pembenaran dan keyakinan hati, bukan
dengan keharusan sampai tersingkap hakikat-hakikatnya secara sempurna. Karena
hal itu tidak diwajibkan atas seluruh manusia.
Kalau bukan karena akidah itu
termasuk amal, tentu kami tidak akan menyebutkannya dalam kitab ini. Dan kalau
bukan karena ia merupakan amal lahir hati, bukan amal batinnya yang terdalam,
tentu kami tidak akan meletakkannya pada bagian pertama kitab. Adapun hakikat
kasyaf yang sebenarnya adalah sifat rahasia hati dan batinnya.
Tetapi ketika pembahasan menyeret
kepada anggapan adanya pertentangan antara lahir dan batin, maka perlu
disampaikan jawaban singkat untuk menyelesaikannya.
Barang siapa mengatakan bahwa hakikat
bertentangan dengan syariat, atau batin bertentangan dengan lahir, maka ia
lebih dekat kepada kekufuran daripada kepada keimanan. Bahkan rahasia-rahasia
yang hanya dipahami oleh orang-orang yang dekat kepada Allah, yang tidak
diketahui kebanyakan manusia dan mereka enggan menyebarkannya kepada umum,
semuanya kembali kepada lima macam pembahasan.
Penjelasan
Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa
dalam Islam tidak boleh ada keyakinan bahwa “hakikat” membatalkan syariat.
Sebagian orang menyangka bahwa setelah mencapai tingkatan spiritual tertentu,
seseorang tidak lagi membutuhkan aturan syariat seperti salat, puasa, dan
hukum-hukum agama. Pemahaman seperti ini dianggap sangat berbahaya.
Menurut beliau:
- Syariat
adalah ajaran lahiriah Islam, seperti ibadah, hukum halal-haram, dan
akidah yang diajarkan Nabi ﷺ.
- Hakikat
adalah pemahaman batin, rasa keimanan, dan cahaya makrifat yang mendalam
di dalam hati.
Namun hakikat sejati tidak pernah
bertentangan dengan syariat. Justru semakin dalam seseorang memahami hakikat,
semakin kuat ia berpegang kepada syariat.
Contohnya:
- Orang yang benar-benar mengenal kebesaran Allah akan
semakin khusyuk salatnya.
- Orang yang memahami hakikat ikhlas akan semakin
berhati-hati dalam amalnya.
- Orang yang dekat kepada Allah tidak akan meninggalkan
syariat, tetapi semakin tunduk kepadanya.
Karena itu, perkataan:
“Saya sudah sampai pada hakikat
sehingga tidak perlu syariat”
adalah kesesatan.
Imam al-Ghazali juga menerangkan
bahwa tidak semua rahasia agama wajib diketahui semua orang. Ada ilmu yang
cukup diimani dan diamalkan, sementara hakikat terdalamnya hanya tersingkap
kepada hamba-hamba tertentu melalui kesungguhan ibadah, penyucian jiwa, dan
karunia Allah.
Tetapi rahasia tersebut tetap:
- tidak membatalkan Al-Qur’an,
- tidak menolak hadis,
- dan tidak menentang hukum syariat.
Kesimpulan
- Syariat dan hakikat tidak saling bertentangan.
- Hakikat yang benar justru menguatkan syariat.
- Menganggap batin membatalkan lahir adalah jalan menuju
kesesatan bahkan kekufuran.
- Tidak semua rahasia agama harus diketahui seluruh
manusia.
- Seorang mukmin cukup menerima, membenarkan, dan
mengamalkan ajaran agama sesuai tuntunan syariat.
- Semakin tinggi makrifat seseorang kepada Allah, semakin
besar pula ketaatan dan adabnya terhadap syariat Islam.
القسم
الأول أن يكون الشيء في نفسه دقيقا تكل أكثر الأفهام عن دركه فيختص بدركه الخواص
وعليهم أن لا يفشوه إلى غير أهله فيصير ذلك فتنة عليهم حيث تقصر أفهامهم عن الدرك
وإخفاء سر الروح وكف رسول الله صلى الله عليه و سلم عن بيانه // حديث كف رسول الله
صلى الله عليه و سلم عن بيان الروح أخرجه الشيخان من حديث ابن مسعود حين سأله
اليهود عن الروح قال فأمسك النبي صلى الله عليه و سلم فلم يرد عليهم شيئا الحديث
// من هذا القسم فإن حقيقته بما تكل الأفهام عن دركه وتقصر الأوهام عن تصور كنهه
Bagian pertama adalah sesuatu yang
pada hakikatnya sangat halus dan dalam, sehingga kebanyakan akal manusia lemah
untuk memahaminya. Maka pemahaman terhadapnya hanya dikhususkan bagi
orang-orang tertentu. Mereka wajib tidak menyebarkannya kepada selain ahlinya,
karena hal itu bisa menjadi fitnah bagi orang-orang yang pemahamannya tidak
mampu mencapainya.
Termasuk dalam bagian ini adalah
dirahasiakannya hakikat ruh, dan sikap Rasulullah ﷺ
yang tidak menjelaskan hakikat ruh secara rinci.”
// Hadis tentang Rasulullah ﷺ menahan diri dari menjelaskan ruh
diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dari Ibnu Mas‘ud رضي الله عنه. Ketika orang-orang Yahudi bertanya
tentang ruh, Nabi ﷺ diam dan tidak
langsung menjawab mereka. //
“Karena hakikat ruh termasuk perkara
yang akal manusia lemah untuk memahaminya, dan khayalan manusia tidak mampu
menggambarkan hakikat sebenarnya.”
Penjelasan
Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa
ada sebagian ilmu dan rahasia agama yang memang sangat tinggi dan halus. Tidak
semua manusia mampu memahaminya dengan benar.
Karena itu:
- sebagian ilmu hanya dipahami oleh orang-orang tertentu
yang diberi keluasan ilmu dan kejernihan hati,
- dan ilmu seperti itu tidak selalu layak disampaikan
kepada semua orang.
Sebab bila disampaikan kepada orang
yang belum siap:
- bisa menimbulkan kebingungan,
- salah paham,
- bahkan menjadi fitnah dalam agama.
Contoh yang disebutkan adalah
tentang hakikat ruh. Ketika orang Yahudi bertanya kepada Nabi ﷺ tentang ruh, beliau tidak menjelaskan
secara detail hakikatnya. Ini menunjukkan bahwa:
- ada perkara yang diketahui keberadaannya,
- tetapi hakikat terdalamnya tidak mampu dijangkau akal
manusia secara sempurna.
Sebagaimana firman Allah tentang
ruh:
“Dan tidaklah kalian diberi ilmu
kecuali sedikit.”
( QS. Al-Isra’: 85 )
Maksudnya bukan manusia tidak boleh
belajar, tetapi ada batas kemampuan akal manusia dalam memahami sebagian
rahasia ciptaan Allah.
Dalam kehidupan sehari-hari pun
manusia sering mengetahui sesuatu tanpa memahami hakikat terdalamnya secara
sempurna. Misalnya:
- manusia tahu ruh itu ada,
- tetapi tidak mengetahui bentuk, hakikat, dan bagaimana
hakikat sebenarnya.
Begitu pula banyak rahasia ketuhanan
dan alam gaib yang hanya diketahui Allah atau dibukakan sebagian kecil kepada
hamba pilihan-Nya.
Kesimpulan
- Ada ilmu dan rahasia agama yang sangat dalam sehingga
tidak semua orang mampu memahaminya.
- Orang berilmu harus bijak dalam menyampaikan ilmu
sesuai kemampuan pemahaman manusia.
- Menyampaikan ilmu yang terlalu tinggi kepada orang yang
belum siap bisa menimbulkan fitnah dan kebingungan.
- Hakikat ruh termasuk perkara gaib yang tidak dijelaskan
secara rinci kepada manusia.
- Akal manusia memiliki batas dalam memahami rahasia
ciptaan Allah.
- Sikap yang benar adalah beriman, tunduk, dan tidak
memaksakan akal melampaui batas yang tidak mampu dijangkaunya.
ولا تظنن أن ذلك لم يكن مكشوفا لرسول الله صلى
الله عليه و سلم فإن من لم يعرف الروح فكأنه لم يعرف نفسه ومن لم يعرف نفسه فكيف
يعرف ربه سبحانه ولا يبعد أن يكون ذلك مكشوفا لبعض الأولياء والعلماء وإن لم
يكونوا أنبياء ولكنهم يتأدبون بآداب الشرع فيسكتون عما سكت عنه بل في صفات الله عز
و جل من الخفايا ما تقصر أفهام الجماهير عن دركه ولم يذكر رسول الله صلى الله عليه
و سلم منها إلا الظواهر للأفهام من العلم والقدرة وغيرهما حتى فهمها الخلق بنوع
مناسبة توهموها إلى علمهم وقدرتهم إذ كان لهم من الأوصاف ما يسمى علما وقدرة
فيتوهمون ذلك بنوع مقايسة
ولو ذكر من صفاته ما ليس للخلق مما يناسبه بعض
المناسبة شيء لم يفهموه بل لذة الجماع إذا ذكرت للصبي أو العنين لم يفهمها إلا بمناسبة
إلى لذة المطعوم الذي يدركه ولا يكون ذلك فهما على التحقيق
Janganlah
engkau mengira bahwa perkara itu tidak tersingkap bagi Rasulullah ﷺ. Karena orang yang tidak mengenal ruh, seakan-akan ia tidak
mengenal dirinya sendiri. Dan orang yang tidak mengenal dirinya, bagaimana
mungkin ia mengenal Tuhannya سبحانه
وتعالى.
Tidak mustahil
pula perkara itu tersingkap bagi sebagian wali dan ulama, walaupun mereka bukan
nabi. Akan tetapi mereka beradab dengan
adab syariat, sehingga mereka diam terhadap perkara yang didiamkan oleh
syariat.
Bahkan dalam sifat-sifat Allah عز وجل terdapat rahasia-rahasia yang pemahaman
kebanyakan manusia tidak mampu menjangkaunya. Rasulullah ﷺ tidak menyebutkan kepada manusia kecuali sifat-sifat yang dapat
dipahami akal mereka secara lahir, seperti ilmu, kekuasaan, dan lainnya. Hal
itu agar manusia dapat memahaminya melalui semacam kesesuaian dengan
pengetahuan dan kemampuan yang ada pada diri mereka sendiri. Karena manusia
juga memiliki sesuatu yang disebut ilmu dan kemampuan, maka mereka memahami
makna itu melalui semacam perbandingan.
Seandainya disebutkan sifat-sifat
Allah yang sama sekali tidak ada sesuatu pun pada makhluk yang menyerupainya
walau sedikit, niscaya manusia tidak akan memahaminya.
Bahkan kenikmatan hubungan suami
istri apabila dijelaskan kepada anak kecil atau orang impoten, maka ia tidak
akan memahaminya kecuali dengan membandingkannya kepada kenikmatan makanan yang
sudah ia rasakan. Namun pemahaman seperti itu bukanlah pemahaman yang hakiki.
Penjelasan
Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa
Rasulullah ﷺ sebenarnya mengetahui banyak hakikat yang
sangat tinggi, termasuk rahasia ruh dan berbagai rahasia ketuhanan. Namun tidak
semua ilmu itu disampaikan secara terbuka kepada seluruh manusia.
Hal ini bukan karena Nabi ﷺ tidak tahu, tetapi karena:
- kemampuan manusia berbeda-beda,
- dan syariat mengajarkan agar ilmu disampaikan sesuai
kadar pemahaman manusia.
Beliau juga menjelaskan bahwa
sebagian wali dan ulama saleh mungkin diberi pemahaman tentang rahasia tertentu
oleh Allah. Namun mereka tetap menjaga adab syariat:
- tidak berbicara sembarangan,
- tidak membuka rahasia kepada orang yang belum siap,
- dan tidak mengatakan sesuatu yang bisa menimbulkan
kesalahpahaman.
Kemudian Imam al-Ghazali memberi
contoh tentang sifat-sifat Allah. Manusia memahami istilah seperti:
- Allah Maha Mengetahui,
- Allah Maha Kuasa,
karena manusia memiliki gambaran
tentang “mengetahui” dan “mampu” pada dirinya sendiri, walaupun tentu sifat
Allah tidak sama dengan makhluk.
Jika Allah menjelaskan hakikat
sifat-Nya secara penuh yang sama sekali di luar jangkauan pengalaman manusia,
maka manusia tidak akan mampu memahaminya.
Contoh sederhananya:
- anak kecil belum memahami kenikmatan hubungan suami
istri,
- maka jika dijelaskan, ia hanya bisa membayangkannya
dengan kenikmatan yang ia kenal, seperti makanan.
Tetapi gambaran itu belum
menggambarkan hakikat sebenarnya.
Begitu pula manusia ketika memahami
sebagian perkara gaib dan sifat Allah:
- pemahamannya masih terbatas,
- hanya sebatas pendekatan dan perumpamaan,
- bukan memahami hakikat sebenarnya secara sempurna.
Kesimpulan
- Rasulullah ﷺ
mengetahui banyak hakikat yang tidak seluruhnya disampaikan kepada umum.
- Sebagian wali dan ulama juga bisa diberi pemahaman
khusus oleh Allah, tetapi mereka tetap menjaga adab syariat.
- Tidak semua manusia mampu memahami rahasia ketuhanan
dan perkara gaib.
- Sifat-sifat Allah dijelaskan dengan cara yang dapat
dipahami manusia sesuai kemampuan akalnya.
- Pemahaman manusia terhadap hakikat Allah dan perkara
gaib sangat terbatas.
- Akal manusia sering hanya memahami sesuatu melalui
perbandingan dengan pengalaman yang sudah dikenal.
- Karena itu, seorang mukmin harus bersikap tawaduk dan
menyadari keterbatasan akalnya di hadapan ilmu Allah سبحانه وتعالى.
Wallahu A’lam...
Sumber:
Ihya’Ulumiddin
Maktabah Syamilah
Baca juga:
Rahasia Kedalaman Ilmu dalamIslam: Memahami Zahir dan Batin Syariat
Perbedaan dan Hubungan antara
Islam dan Iman dalam Perspektif Bahasa, Syariat, dan Hukum

Tidak ada komentar:
Posting Komentar