فصل
وفعل
الحال: مرفوع ما لم يدخل عليه ناصب أو جازم
Adapun fi‘il الحال (kata kerja
masa kini / mudhāri‘), hukumnya marfū‘ (terangkat), selama tidak dimasuki nāṣib
(yang menashabkan) atau jāzim (yang menjazmkan).
Secara nahwu:
fi‘il mudhāri‘ asalnya marfū‘, kecuali bila
masuk:
- ناصب →
menjadikannya manshūb
- جازم →
menjadikannya majzūm
Contoh:
- يكتبُ →
marfū‘
- لن يكتبَ →
manshūb
- لم يكتبْ →
majzūm
Lalu makna isyarat:
فالناصب
رؤية العبد لفعله
Maka “nāṣib” itu adalah ketika seorang hamba melihat amalnya (menganggap
amal itu berasal dari dirinya).
Ini penyakit halus:
- merasa: aku banyak ibadah,
- aku ahli ilmu,
- aku yang berbuat baik,
- aku penyebab hidayah orang.
Ini disebut رؤية العمل (melihat
amal diri).
Akibatnya:
ikhlas rusak, muncul ‘ujub.
Padahal hakikatnya:
taufik datang dari Allah.
Jadi nāṣib = ego yang masuk ke dalam amal.
والجازم
فترته عن سلوكه
Dan “jāzim” itu adalah futūr (kemalasan / kelesuan ruhani) dalam perjalanan
suluknya.
فترة /
فتور = turun semangat:
- malas ibadah,
- zikir berat,
- hati dingin,
- menunda taubat,
- berhenti berjalan menuju Allah.
Ini “memotong” gerak ruhani sebagaimana jazm
memotong harakat.
فإذا
سلم العبد من الملاحظة والفتور
Jika seorang hamba selamat dari mulāḥaẓah dan futūr...
الملاحظة
Di sini maksudnya:
mengamati amal diri sendiri dengan rasa memiliki.
Yakni:
- sibuk melihat kebaikan diri,
- menghitung amal,
- kagum pada ibadah sendiri.
Ini hijab.
الفتور
= lemah langkah / berhenti berjalan.
Jadi yang harus selamat dari dua hal:
- bangga pada amal,
- malas dalam perjalanan.
ارتفع
قدره عند العزيز الغفور
Maka terangkatlah derajatnya di sisi al-‘Azīz (Yang Mahaperkasa) lagi
al-Ghafūr (Yang Maha Pengampun).
Karena:
- amalnya ikhlas,
- langkahnya istiqamah.
Maka Allah angkat maqamnya.
(إليه يصعد الكلم الطيب
والعمل الصالح يرفعه)
“Kepada-Nyalah naik kalimat yang baik, dan amal saleh mengangkatnya.”
Ayat ini sangat pas:
yang naik adalah:
- dzikir,
- tauhid,
- doa,
- amal saleh yang murni.
Naiknya bukan dengan banyaknya amal, tapi
kemurnian amal.
Maksud
keseluruhan
Padanan penulis:
|
Nahwu |
Ruhani |
|
Fi‘il الحال
marfū‘ |
amal saat ini bisa mengangkat derajat |
|
Nāṣab |
melihat amal diri (ego / ‘ujub) |
|
Jāzim |
futūr / lemah semangat |
|
Marfū‘ |
diangkat maqamnya oleh Allah |
Inti
fasal
Pesan utamanya:
Amal seorang hamba akan terus mengangkatnya
selama ia tidak melihat amal itu sebagai miliknya dan tidak malas dalam
berjalan menuju Allah.
Ringkasnya:
Yang merusak amal ada dua: merasa sudah beramal,
dan berhenti beramal.
Atau dengan bahasa ruhani:
Jangan melihat amalmu—lihat karunia Allah di
balik amalmu.
Dan jangan berhenti berjalan—meski langkahmu kecil.
Sumber:
الكتاب: نحو القلوب
المؤلف: الامام عبد الكريم بن هوزان بن عبد الملك
القشيرى (المتوفى: 465 ه)
Baca
juga:
Cara
Manusia Memandang Waktu Dalam Perjalanan Menuju Allah – Gramatika Qalbu - نحو القلوب
Tauhid Af‘al (Menyaksikan Bahwa Semua Kejadian Berada Di Bawah Perbuatan Allah) Dan Penghambaan Total – Gramatika Qalbu - نحو القلوب

Tidak ada komentar:
Posting Komentar