Pendahuluan
Dalam rangkaian wasiat para raja
keturunan Qahtan bin Hud, terdapat sebuah nasihat berharga dari Arib bin Zuhair
bin Ayman bin Al-Humaysa' bin Himyar. Wasiat ini bukan hanya berisi petunjuk
tentang cara memimpin kerajaan, tetapi juga memuat prinsip-prinsip dasar yang
menurutnya menjadi sumber kemuliaan, kewibawaan, kekuatan, dan keberlangsungan
kekuasaan.
Arib bin Zuhair hidup dalam tradisi
kepemimpinan yang diwariskan secara turun-temurun sejak Nabi Hud, Qahtan,
Ya'rub, Yasyjub, Saba', Himyar, hingga para penguasa sesudahnya. Karena itu,
nasihat yang ia sampaikan kepada anak-anaknya merupakan rangkuman pengalaman
panjang para leluhur yang telah membangun dan mempertahankan kerajaan selama
beberapa generasi.
Dalam wasiatnya, Arib menjelaskan
enam fondasi utama yang menjadi rahasia kejayaan seorang pemimpin dan sebuah
negara. Keenam prinsip tersebut masih relevan hingga saat ini, baik dalam dunia
pemerintahan, organisasi, bisnis, maupun kehidupan sosial.
Arib bin Zuhair dan Warisan Kepemimpinan Keturunan Himyar
Menurut riwayat, Arib bin Zuhair
memiliki empat orang putra, yaitu Ash-Shabah, Junadah, Abrahah, dan Qathan.
Menjelang akhir kehidupannya, ia mengumpulkan mereka untuk menyampaikan
pesan-pesan penting yang harus dijaga setelah dirinya wafat.
Arib memahami bahwa sebuah kerajaan
tidak akan bertahan hanya dengan kekuatan militer atau kekayaan semata. Ada
nilai-nilai tertentu yang harus menjadi fondasi kehidupan masyarakat dan
pemerintahan.
Karena itulah ia merumuskan enam
unsur yang menurut pengalamannya selalu menyertai kemuliaan dan kekuasaan.
Rahasia Pertama: Kemuliaan Tidak Terpisah dari Kedermawanan
Prinsip pertama yang disampaikan
Arib adalah bahwa kemuliaan selalu berjalan bersama sifat dermawan.
Menurutnya, seseorang tidak akan
memperoleh kedudukan yang terhormat apabila ia dikenal sebagai orang yang pelit
dan enggan memberi manfaat kepada orang lain.
Kedermawanan tidak selalu berarti
memberikan harta dalam jumlah besar. Memberikan bantuan, dukungan, perhatian,
ilmu, dan kesempatan kepada orang lain juga merupakan bentuk kedermawanan.
Dalam masyarakat mana pun, orang
yang suka memberi akan lebih dihormati daripada orang yang hanya memikirkan
dirinya sendiri.
Karena itu, Arib menegaskan bahwa
kemuliaan dan kedermawanan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.
Rahasia Kedua: Kekuatan Bergantung pada Dukungan dan
Persatuan
Arib kemudian menjelaskan bahwa
kehormatan dan kekuatan seseorang sangat bergantung pada jumlah pendukung yang
dimilikinya.
Menurutnya, seseorang tidak akan
memiliki kekuatan yang nyata apabila ia tidak mempunyai kelompok yang
mendukungnya. Dan seseorang tidak akan memiliki kelompok pendukung jika ia
tidak menjaga hubungan baik dengan keluarga, kerabat, dan masyarakatnya.
Prinsip ini menunjukkan bahwa
kekuatan sosial jauh lebih penting daripada kekuatan individu.
Dalam dunia modern, keberhasilan
seorang pemimpin juga sangat bergantung pada kemampuannya membangun jaringan,
kerja sama, dan kepercayaan masyarakat.
Rahasia Ketiga: Keberanian Lahir dari Jasa dan Kebaikan
Menurut Arib, keberanian dan
kewibawaan tidak muncul begitu saja.
Ia menjelaskan bahwa keberanian
sejati lahir dari banyaknya jasa dan kebaikan yang diberikan kepada orang lain.
Orang yang banyak membantu sesama
akan memperoleh dukungan ketika menghadapi kesulitan. Sebaliknya, orang yang
hanya mengambil keuntungan tanpa pernah memberi manfaat kepada orang lain akan
kesulitan mendapatkan bantuan saat membutuhkannya.
Karena itu, Arib mengajarkan bahwa
kebaikan yang dilakukan hari ini merupakan investasi sosial yang akan kembali
kepada pelakunya pada masa depan.
Rahasia Keempat: Ketaatan Rakyat Lahir dari Keadilan
Salah satu nasihat terpenting dalam
wasiat Arib adalah tentang keadilan.
Ia mengatakan bahwa ketaatan rakyat
selalu berjalan bersama keadilan. Tidak ada rakyat yang benar-benar setia
kepada pemimpin yang zalim dalam jangka panjang.
Keadilan menciptakan rasa aman,
kepercayaan, dan penghormatan. Ketika masyarakat merasa diperlakukan secara
adil, mereka akan mendukung pemimpinnya dengan sukarela.
Sebaliknya, ketidakadilan menjadi
sumber konflik, pemberontakan, dan perpecahan.
Pelajaran ini telah terbukti
sepanjang sejarah. Banyak kerajaan besar runtuh bukan karena serangan musuh
dari luar, tetapi karena hilangnya keadilan di dalam negeri.
Rahasia Kelima: Kerajaan Dibangun dengan Membina Manusia
Arib juga menegaskan bahwa kekuasaan
tidak dapat berdiri tanpa kemampuan membina dan mengembangkan manusia.
Ia menyatakan bahwa tidak ada
kerajaan bagi orang yang tidak mampu membangun hubungan dengan orang-orang di
sekitarnya.
Seorang pemimpin harus mampu
menemukan orang-orang berbakat, mendidik mereka, mempercayai mereka, dan
memberi mereka kesempatan untuk berkembang.
Kerajaan yang kuat tidak dibangun
oleh satu orang, melainkan oleh banyak orang yang bekerja sama dalam mencapai
tujuan yang sama.
Karena itu, membina manusia
merupakan salah satu tugas utama seorang pemimpin.
Rahasia Keenam: Kepemimpinan Memerlukan Amanah
Setelah menjelaskan lima prinsip
sebelumnya, Arib menutup nasihatnya dengan menunjuk putranya, Qathan bin Arib,
sebagai penerus kerajaan.
Ia meminta seluruh saudaranya untuk
menaati Qathan dan menjaga persatuan keluarga.
Bagi Arib, keberhasilan sebuah
pemerintahan sangat bergantung pada kemampuan menjaga kesinambungan
kepemimpinan.
Tanpa adanya penerus yang amanah dan
dihormati, kerajaan akan mudah terpecah dan kehilangan arah.
Karena itu, ia menegaskan bahwa
kepemimpinan bukan sekadar hak, melainkan amanah yang harus dijaga dengan penuh
tanggung jawab.
Pesan Arib kepada Qathan
Dalam syair wasiatnya, Arib
mengingatkan Qathan agar mengikuti jejak para leluhur.
Ia menjelaskan bahwa para
pendahulunya berhasil membangun kerajaan karena memegang teguh nilai-nilai yang
diwariskan dari generasi ke generasi.
Menurutnya, seorang penerus tidak
boleh memutus mata rantai kebijaksanaan tersebut.
Ia mengibaratkan tradisi yang baik
sebagai akar pohon yang kuat. Cabang tidak akan tumbuh hijau dan menghasilkan
buah apabila akar yang menopangnya rusak.
Perumpamaan ini menunjukkan
pentingnya menjaga nilai-nilai yang telah terbukti membawa keberhasilan.
Qathan dan Pentingnya Menguji Calon Pemimpin
Riwayat menyebutkan bahwa setelah
menjadi raja, Qathan bin Arib melakukan langkah yang menarik.
Ia menyerahkan sebagian urusan
kerajaan kepada putranya, Al-Ghauts, ketika dirinya masih hidup.
Tujuannya bukan untuk melepaskan
tanggung jawab, melainkan untuk menguji kemampuan putranya dalam memimpin.
Qathan ingin melihat bagaimana
Al-Ghauts memperlakukan rakyat, bagaimana rakyat mematuhinya, dan bagaimana ia
mengelola pemerintahan.
Langkah ini menunjukkan bahwa
regenerasi kepemimpinan yang baik memerlukan proses pembelajaran dan
pengawasan, bukan sekadar penunjukan berdasarkan garis keturunan.
Pentingnya Menjaga Saudara dan Kerabat
Dalam nasihatnya kepada Al-Ghauts,
Qathan juga menekankan pentingnya menjaga hubungan dengan saudara dan keluarga
besar.
Ia meminta putranya memperlakukan
saudara-saudaranya sebagaimana dirinya telah memperlakukan Al-Ghauts.
Menurutnya, seorang pemimpin harus
memberikan nasihat, perhatian, dan kasih sayang kepada keluarganya.
Ia bahkan menggunakan perumpamaan
yang sangat indah:
"Tidak ada kenyamanan tanpa
jari-jari, dan tidak ada lengan tanpa bahu."
Perumpamaan ini menunjukkan bahwa
setiap anggota keluarga memiliki peranan penting dalam menjaga kekuatan dan
kestabilan sebuah komunitas.
Warisan Kepemimpinan yang Terus Berlanjut
Riwayat menyebutkan bahwa Al-Ghauts
bin Qathan berhasil menjaga seluruh wasiat ayahnya.
Ia memerintah dalam waktu yang lama
dan dikenal sebagai salah satu raja terbaik pada masanya.
Al-Ghauts tetap berpegang pada
tradisi para leluhurnya serta mempertahankan sistem pemerintahan yang telah
diwariskan sejak generasi-generasi sebelumnya.
Setelah dirinya wafat, kekuasaan
diteruskan oleh putranya, Wa'il bin Al-Ghauts, yang juga mengikuti jejak ayah
dan leluhurnya dalam menjaga stabilitas kerajaan.
Hal ini menunjukkan bahwa
keberhasilan sebuah peradaban tidak hanya ditentukan oleh satu pemimpin besar,
tetapi oleh kemampuan setiap generasi menjaga dan meneruskan nilai-nilai yang
baik.
Pelajaran Berharga dari Wasiat Arib bin Zuhair
Wasiat Arib bin Zuhair memberikan
banyak pelajaran yang relevan bagi kehidupan modern.
1.
Kemuliaan Berasal dari Kedermawanan
Orang yang suka memberi manfaat
kepada sesama akan memperoleh penghormatan yang lebih besar.
2.
Kekuatan Memerlukan Dukungan Sosial
Tidak ada pemimpin yang berhasil
tanpa dukungan keluarga, sahabat, dan masyarakat.
3.
Kebaikan Akan Melahirkan Loyalitas
Jasa dan bantuan yang diberikan
kepada orang lain akan kembali dalam bentuk dukungan dan kepercayaan.
4.
Keadilan Adalah Dasar Ketaatan
Rakyat lebih mudah mematuhi pemimpin
yang berlaku adil daripada pemimpin yang mengandalkan kekuatan semata.
5.
Manusia Adalah Aset Terbesar
Membangun manusia jauh lebih penting
daripada sekadar membangun kekayaan atau kekuatan fisik.
6.
Regenerasi Kepemimpinan Harus Dipersiapkan
Pemimpin yang bijaksana selalu
menyiapkan penerus sebelum dirinya meninggalkan tanggung jawab.
Penutup
Wasiat Arib bin Zuhair merupakan
salah satu warisan kebijaksanaan yang sangat berharga dalam tradisi
kepemimpinan Arab kuno. Melalui enam prinsip yang ia ajarkan, kita dapat
memahami bahwa kejayaan sebuah kerajaan tidak dibangun oleh kekuatan semata,
tetapi oleh kedermawanan, persatuan, jasa, keadilan, pembinaan manusia, dan
keberlanjutan kepemimpinan.
Meskipun disampaikan berabad-abad
yang lalu, nilai-nilai tersebut tetap relevan hingga saat ini. Dalam keluarga,
organisasi, bisnis, maupun pemerintahan, prinsip-prinsip yang diajarkan Arib
bin Zuhair masih menjadi fondasi penting bagi keberhasilan dan keberlangsungan
sebuah kepemimpinan.
Referensi:
وصية عريب بن زهير
وحدّثني علي بن محمد، عن جده الدعبل بن علي، أن عريب
بن زهير بن أيمن بن الهميسع بن حمير وصى بنيه وهم أربعة نفر؛ الصباح وجنادة وأبرهة
وقطن بنو عريب بن زهير فقال لهم: يا بني، إني وجدت الشرف والسؤدد والعز والنجدة
والطاعة والملك يدل على ستة أشياء. إني وجدت السؤدد لا يزايل الكرم، ولا يسود من
لا كرم له. وإني وجدت العز مع العدد حيثما كان، ولا عز لمن لا عدد له، ولا عدد لمن
لا عشيرة له، وإني وجدت النجدة في الأيادي، ولا نجدة لمن لا أيادي له، وإني وجدت
الطاعة مع العدل، ولا طاعة لمن لا عدل له، وإني وجدت الملك في اصطناع الرجال، ولا
ملك لمن لا يصطنع الرجال، يا بني، احفظوا وصيتي واثبتوا عليها، واعملوا بها، ولا
تعصوا أخاكم قطنًا فإنه خليفتي فيكم بعد الله وولي الملك بعدي دون أي أحد. وأنشأ
يقول: «من البسيط»
مضتْ لأسلافنا فيمنْ مضى سُنَنٌ ... ساسُوا بها لَهمُ
مُلكًا فما وَهنُوا
فَسُسْتُ بعدهُمُ المُلكَ الذي مَلكُوا ... وأنتَ
سائسُ ذاكَ المُلكَ يا قَطَنُ
لم أعدُ سِيرتهُمْ يومًا وأنتَ لهمْ ... لا تعدُ عن
سيرتي ما أورقَ الفَننُ
بالأصلِ تُمرعُ لا بالفَرعِ مونقةٌ ... وكيفَ يخضرُّ
لولا أصلُهُ الغُصنُ
ذَرِ التغافُل عن نيلٍ تجُودُ بهِ ... إن التغافلَ
غيٌّ والهُدى فِطَنُ
قال علي بن محمد: قال الدعبل بن علي: فيقال إن قطن بن
عريب ولي الملك بعد أبيه، وسار في الناس بسيرته وسيرة أسلافه، وقلد الملك في حياته
ابنه الغوث بن قطن بن عريب، وقال له: يا بني إني لم أقلدك الملك ارتفاعًا عنه ولا
رغبة في أجل منه، إلا أني أردت أن أقف على سيرك بالناس وسياستك للملك بينهم، وأن
أعلم كيف طاعتهم لك كيلا أخرج من الدنيا ولي غصة في ذلك من أمرك وأمر الناس. يا
بني، أوصيك بإخوتك أن تفعل لهم ما فعلته لك، وأن تبذل لهم نصيحتك، وتخفض لهم
جناحك. وأسألك أن تفعل للعشيرة ما سألتك أن تفعله لهم ولإخوتك، فما الراحة إلا
بالأصابع، وما الساعد إلا بالعضُد.
وأنشأ يقول: «من البسيط»
وصَّيتُ غوثًا بما وصَّى أوائلُهُ ... وللوصيَّة
إمهالٌ وإمكاثُ
قلَّدتُه المُلكَ لما أن رأيتُ به ... خصائلًا نحوها
للمُلك إحثاثُ
ورَّثتهُ سُننًا قد كنتُ وارِثها ... وللملوكِ مواريثٌ
وورَّاثُ
قد يُنعشُ المُلكَ ذُو الرأي الأصيلِ كما ... يحييْ
زراعتهُ بالرأيِ حراثُ
كُلُّ امرئٍ والذي كانتْ عليهِ لهُ ... اباؤُهُ
ولكُلٍّ منهُ ميراثُ
والشَّريُ شريٌ ولو أبصرته عسلًا ... والأريُ أريٌ ولو
غَالتهُ أحداثُ
وفي الزّواعب خطِّيٌ وذُو خورٍ ... وفي القواضبِ
مِذكارٌ ومِئناثُ
وفي السحاب صبير هويُهُ دلسٌ ... ومطبقٌ مسبِلٌ
بالجُودِ لثاثُ
قال علي بن محمد: قال الدعبل بن علي: فيقال إن الغوث
بن قطن ولي الملك في حياة أبيه، وبعد وفاته دهرًا طويلًا، فكان من أحسن الملوك
سيرًا، وأثبتهم على سنن آبائه وأجداده، وكذلك كان ابنه وائل بن الغوث بن قطن بن
عريب حين ولي الملك بعده.
Sumber :
ـ[وصايا الملوك وأبناء الملوك من ولد قحطان بن هود]ـ
المؤلف: دعبل بن علي الخزاعي الشاعر المشهور (المتوفى:
٢٤٦هـ)
رواية: علي محمد بن دعبل الخزاعي
Baca juga:
Wasiat Al-Ghauts
bin Qathan: Kerajaan Ibarat Rumah yang Harus Dijaga dan Dirawat
Wasiat Zuhair bin Ayman: Pentingnya Keluarga,Keadilan, dan Rahasia Warisan Kepemimpinan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar