Pendahuluan
Pada pembahasan pertama mengenai
keazalian alam, Imam Al-Ghazali tidak langsung memberikan bantahan. Beliau
terlebih dahulu menyampaikan argumen yang menurut para filsuf paling kuat
dan paling meyakinkan. Sikap ini menunjukkan kejujuran ilmiah Al-Ghazali;
ia tidak memilih argumen lawan yang lemah, tetapi justru menghadirkan dalil
yang dianggap paling kokoh sebelum membongkar kelemahannya.
Dalam bagian ini, Al-Ghazali
mengawali dengan argumen utama filsuf bahwa sesuatu yang baru (ḥādits) tidak
mungkin muncul dari sebab yang telah ada sejak azali tanpa adanya perubahan
pada sebab tersebut. Argumen inilah yang menjadi fondasi keyakinan mereka
bahwa alam semesta tidak mungkin memiliki permulaan dalam waktu.
Sumber Rujukan
Kitab: Tahāfut al-Falāsifah (تهافت
الفلاسفة)
Pembahasan: Masalah Pertama – Bantahan terhadap Pendapat tentang
Keazalian Alam
Penulis
Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad
al-Ghazali ath-Thusi (450–505 H / 1058–1111 M)
Terjemahan Lengkap
Memilih Argumen Mereka yang Paling Kuat Menyentuh Akal
Pemaparan
Dalil-Dalil Mereka
Seandainya aku menjelaskan seluruh
dalil yang dinukil dari mereka beserta seluruh bantahan yang pernah diajukan
terhadapnya, niscaya pembahasan persoalan ini akan memenuhi banyak lembaran.
Namun tidak ada manfaat dalam
pembahasan yang terlalu panjang.
Karena itu, kami akan meninggalkan
dalil-dalil mereka yang hanya berupa klaim sepihak atau khayalan yang lemah,
yang mudah dipatahkan oleh siapa pun yang mau berpikir.
Kami hanya akan menyampaikan dalil-dalil
yang benar-benar mempunyai pengaruh terhadap akal dan layak dipertimbangkan
oleh para pemikir yang mendalam.
Sebab, membuat orang yang lemah
menjadi ragu hanya dengan kekeliruan yang sederhana adalah sesuatu yang mudah.
Adapun jenis argumen yang akan kami
bahas ada tiga.
Argumen
Pertama: Mustahil Sesuatu yang Baru Muncul dari Yang Azali Secara Langsung
Mereka berkata:
Mustahil sesuatu yang baru (ḥādits)
muncul dari sesuatu yang azali secara mutlak.
Sebab, apabila kita mengandaikan Zat
Yang Azali telah ada, sementara alam belum muncul dari-Nya, maka tidak
munculnya alam hanya dapat dijelaskan karena belum ada sesuatu yang menguatkan
(memberi preferensi) terjadinya alam.
Pada saat itu, keberadaan alam
hanyalah kemungkinan murni.
Kemudian apabila setelah itu alam
menjadi ada, maka keadaannya tidak lepas dari dua kemungkinan:
Pertama, muncul suatu faktor yang
menguatkan terjadinya alam.
Kedua, tidak muncul faktor apa pun.
Apabila tidak ada faktor baru yang
muncul, maka keadaan alam tetap berupa kemungkinan murni sebagaimana
sebelumnya, sehingga tidak ada alasan mengapa alam tiba-tiba menjadi ada.
Sebaliknya, apabila memang muncul
suatu faktor baru yang menguatkan keberadaan alam, maka muncul pertanyaan:
Siapakah yang menyebabkan munculnya
faktor baru tersebut?
Mengapa faktor itu muncul sekarang
dan tidak muncul sebelumnya?
Pertanyaan yang sama akan terus
berlaku terhadap faktor tersebut.
Singkatnya, apabila seluruh keadaan
Zat Yang Azali selalu sama dan tidak berubah, maka hanya ada dua kemungkinan:
- tidak ada sesuatu pun yang muncul dari-Nya sama sekali;
atau
- segala sesuatu telah ada sejak kekal bersama-Nya.
Adapun membedakan antara keadaan
ketika alam belum ada dengan keadaan ketika alam mulai ada, padahal tidak
terjadi perubahan apa pun pada Zat Yang Azali, menurut mereka adalah sesuatu
yang mustahil.
Artikel Pengembangan
Mengapa Al-Ghazali Memilih Argumen Terkuat?
Al-Ghazali sengaja mengawali
bantahannya dengan argumen yang paling kuat menurut lawan. Hal ini menunjukkan
bahwa kritik ilmiah harus diarahkan kepada inti persoalan, bukan kepada
pendapat yang mudah dipatahkan.
Metode seperti ini menjadikan Tahafut
al-Falasifah memiliki bobot akademik yang tinggi. Pembaca terlebih dahulu
memahami kekuatan argumentasi filsuf sebelum mengikuti bantahan yang akan
disampaikan pada bagian-bagian berikutnya.
Inti Argumen Para Filsuf
Pokok argumen mereka sebenarnya
sederhana.
Menurut para filsuf, sesuatu yang
baru memerlukan penyebab yang membuatnya berbeda dari keadaan sebelumnya.
Jika Allah bersifat azali dan tidak
mengalami perubahan sedikit pun, lalu alam sebelumnya tidak ada tetapi kemudian
menjadi ada, maka mereka bertanya:
Apa yang berubah sehingga penciptaan
terjadi pada saat tertentu?
Pertanyaan inilah yang menjadi dasar
keyakinan mereka bahwa alam harus selalu ada bersama sebab pertamanya.
Konsep "Murajjih" atau Faktor Penentu
Dalam argumentasi di atas muncul
istilah yang sangat penting dalam ilmu kalam, yaitu murajjih, yakni
sesuatu yang menjadikan salah satu dari dua kemungkinan lebih layak terjadi.
Selama alam hanya mungkin ada atau
mungkin tidak ada, diperlukan suatu penentu mengapa salah satu kemungkinan itu
akhirnya terwujud.
Para filsuf berpendapat bahwa
apabila penentu itu baru muncul, maka penentu tersebut juga membutuhkan
penjelasan lain. Dari sinilah muncul rangkaian pertanyaan yang menurut mereka
tidak akan pernah selesai.
Dasar Bantahan yang Akan Dibangun Al-Ghazali
Al-Ghazali belum memberikan jawaban
pada bagian ini. Beliau baru memaparkan logika lawan secara lengkap.
Pada pembahasan berikutnya, beliau
akan menguji apakah benar penciptaan pada waktu tertentu selalu menuntut
perubahan pada Zat Allah, ataukah terdapat penjelasan lain yang dapat diterima
secara rasional tanpa harus menerima keazalian alam.
Dengan demikian, struktur kitab ini
menunjukkan urutan yang sangat sistematis: memaparkan dalil, memahami
logikanya, lalu mengajukan bantahan secara bertahap.
Pelajaran tentang Metodologi Ilmiah
Bagian ini mengajarkan pentingnya
kejujuran intelektual. Seseorang yang ingin mengkritik suatu teori hendaknya
terlebih dahulu menyajikan teori tersebut dalam bentuk terbaiknya. Kritik yang
dibangun di atas pemahaman yang utuh akan lebih adil dan lebih kuat daripada
kritik terhadap gambaran yang disederhanakan.
Pendekatan semacam ini tetap menjadi
salah satu standar dalam tradisi akademik hingga masa kini.
Hikmah
- Kritik yang kuat harus dimulai dengan memahami argumen
lawan secara benar.
- Kejujuran ilmiah menuntut penyajian pendapat lawan
dalam bentuk yang paling kuat, bukan yang paling lemah.
- Persoalan metafisika memerlukan penalaran yang mendalam
dan tidak cukup dijawab dengan dugaan.
- Sebuah kesimpulan harus diuji berdasarkan konsistensi
logikanya.
- Dialog ilmiah yang sehat mengutamakan analisis
argumentasi daripada serangan terhadap tokoh atau kelompok.
- Metode Al-Ghazali menunjukkan pentingnya berpikir
sistematis sebelum menarik kesimpulan.
Penutup
Pada bagian awal pembahasan pertama Tahafut
al-Falasifah, Imam Al-Ghazali memperlihatkan integritas ilmiahnya dengan
memilih argumen yang paling kuat dari para filsuf mengenai keazalian alam.
Menurut mereka, mustahil sesuatu yang baru muncul dari sebab yang azali tanpa
adanya perubahan atau faktor penentu yang baru. Al-Ghazali belum membantah
argumen tersebut pada tahap ini, tetapi terlebih dahulu menguraikannya secara
utuh agar pembaca memahami dasar pemikiran lawannya. Pendekatan ini menjadi
contoh penting bahwa pencarian kebenaran dimulai dengan memahami secara adil sebelum
memberikan penilaian dan kritik.
Teks Arab :
اختيار أشد أدلتهم وقعًا في النفس
إيراد أدلتهم. لو ذهبت أصف ما نقل عنهم في معرض الأدلة
وذكر في الاعتراض عليه لسودت في هذه المسألة أوراقًا، ولكن لا خير في التطويل.
فلنحذف من أدلتهم ما يجري مجرى التحكم أو التخيل الضعيف الذي يهون على كل ناظر
حله. ولنقتصر على إيراد ما له وقع في النفس، مما لا يجوز أن ينهض مشككًا لفحول
النظار، فإن تشكيك الضعفاء بأدنى خبال ممكن.
وهذا الفن من الأدلة ثلاثة:
الأول يستحيل حدوث حادث من قديم مطلقًا قولهم يستحيل
صدور حادث من قديم مطلقًا، لأنا إذا فرضنا القديم ولم يصدر منه العالم مثلًا فإنما
لم يصدر لأنه لم يكن للوجود مرجح بل كان وجود العالم ممكنًا إمكانًا صرفًا، فإذا
حدث بعد ذلك لم يخل إما أن تجدد مرجح أو لم يتجدد، فإن لم يتجدد مرجح بقي العالم
على الإمكان الصرف كما قبل ذلك، وإن تجدد مرجح فمن محدث ذلك المرجح؟ ولم حدث الآن
ولم يحدث من قبل؟ والسؤال في حدوث المرجح قائم. وبالجملة فأحوال القديم إذا كانت
متشابهة فإما أن لا يوجد عنه شيء قط وإما أن يوجد على الدوام، فأما أن يتميز حال
الترك عن حال الشروع فهو محال.
Baca juga:
Bantahan Imam Al-Ghazali terhadap Keyakinan Filsuf tentang KeazalianAlam dalam Tahafut al-Falasifah
Mengapa Alam Tidak Diciptakan Lebih Awal? Argumen Filsuf tentang
Kehendak Allah dalam Tahafut al-Falasifah
Pendahuluan
Pada pembahasan pertama mengenai
keazalian alam, Imam Al-Ghazali tidak langsung memberikan bantahan. Beliau
terlebih dahulu menyampaikan argumen yang menurut para filsuf paling kuat
dan paling meyakinkan. Sikap ini menunjukkan kejujuran ilmiah Al-Ghazali;
ia tidak memilih argumen lawan yang lemah, tetapi justru menghadirkan dalil
yang dianggap paling kokoh sebelum membongkar kelemahannya.
Dalam bagian ini, Al-Ghazali
mengawali dengan argumen utama filsuf bahwa sesuatu yang baru (ḥādits) tidak
mungkin muncul dari sebab yang telah ada sejak azali tanpa adanya perubahan
pada sebab tersebut. Argumen inilah yang menjadi fondasi keyakinan mereka
bahwa alam semesta tidak mungkin memiliki permulaan dalam waktu.
Sumber Rujukan
Kitab: Tahāfut al-Falāsifah (تهافت
الفلاسفة)
Pembahasan: Masalah Pertama – Bantahan terhadap Pendapat tentang
Keazalian Alam
Penulis
Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad
al-Ghazali ath-Thusi (450–505 H / 1058–1111 M)
Terjemahan Lengkap
Memilih Argumen Mereka yang Paling Kuat Menyentuh Akal
Pemaparan
Dalil-Dalil Mereka
Seandainya aku menjelaskan seluruh
dalil yang dinukil dari mereka beserta seluruh bantahan yang pernah diajukan
terhadapnya, niscaya pembahasan persoalan ini akan memenuhi banyak lembaran.
Namun tidak ada manfaat dalam
pembahasan yang terlalu panjang.
Karena itu, kami akan meninggalkan
dalil-dalil mereka yang hanya berupa klaim sepihak atau khayalan yang lemah,
yang mudah dipatahkan oleh siapa pun yang mau berpikir.
Kami hanya akan menyampaikan dalil-dalil
yang benar-benar mempunyai pengaruh terhadap akal dan layak dipertimbangkan
oleh para pemikir yang mendalam.
Sebab, membuat orang yang lemah
menjadi ragu hanya dengan kekeliruan yang sederhana adalah sesuatu yang mudah.
Adapun jenis argumen yang akan kami
bahas ada tiga.
Argumen
Pertama: Mustahil Sesuatu yang Baru Muncul dari Yang Azali Secara Langsung
Mereka berkata:
Mustahil sesuatu yang baru (ḥādits)
muncul dari sesuatu yang azali secara mutlak.
Sebab, apabila kita mengandaikan Zat
Yang Azali telah ada, sementara alam belum muncul dari-Nya, maka tidak
munculnya alam hanya dapat dijelaskan karena belum ada sesuatu yang menguatkan
(memberi preferensi) terjadinya alam.
Pada saat itu, keberadaan alam
hanyalah kemungkinan murni.
Kemudian apabila setelah itu alam
menjadi ada, maka keadaannya tidak lepas dari dua kemungkinan:
Pertama, muncul suatu faktor yang
menguatkan terjadinya alam.
Kedua, tidak muncul faktor apa pun.
Apabila tidak ada faktor baru yang
muncul, maka keadaan alam tetap berupa kemungkinan murni sebagaimana
sebelumnya, sehingga tidak ada alasan mengapa alam tiba-tiba menjadi ada.
Sebaliknya, apabila memang muncul
suatu faktor baru yang menguatkan keberadaan alam, maka muncul pertanyaan:
Siapakah yang menyebabkan munculnya
faktor baru tersebut?
Mengapa faktor itu muncul sekarang
dan tidak muncul sebelumnya?
Pertanyaan yang sama akan terus
berlaku terhadap faktor tersebut.
Singkatnya, apabila seluruh keadaan
Zat Yang Azali selalu sama dan tidak berubah, maka hanya ada dua kemungkinan:
- tidak ada sesuatu pun yang muncul dari-Nya sama sekali;
atau
- segala sesuatu telah ada sejak kekal bersama-Nya.
Adapun membedakan antara keadaan
ketika alam belum ada dengan keadaan ketika alam mulai ada, padahal tidak
terjadi perubahan apa pun pada Zat Yang Azali, menurut mereka adalah sesuatu
yang mustahil.
Artikel Pengembangan
Mengapa Al-Ghazali Memilih Argumen Terkuat?
Al-Ghazali sengaja mengawali
bantahannya dengan argumen yang paling kuat menurut lawan. Hal ini menunjukkan
bahwa kritik ilmiah harus diarahkan kepada inti persoalan, bukan kepada
pendapat yang mudah dipatahkan.
Metode seperti ini menjadikan Tahafut
al-Falasifah memiliki bobot akademik yang tinggi. Pembaca terlebih dahulu
memahami kekuatan argumentasi filsuf sebelum mengikuti bantahan yang akan
disampaikan pada bagian-bagian berikutnya.
Inti Argumen Para Filsuf
Pokok argumen mereka sebenarnya
sederhana.
Menurut para filsuf, sesuatu yang
baru memerlukan penyebab yang membuatnya berbeda dari keadaan sebelumnya.
Jika Allah bersifat azali dan tidak
mengalami perubahan sedikit pun, lalu alam sebelumnya tidak ada tetapi kemudian
menjadi ada, maka mereka bertanya:
Apa yang berubah sehingga penciptaan
terjadi pada saat tertentu?
Pertanyaan inilah yang menjadi dasar
keyakinan mereka bahwa alam harus selalu ada bersama sebab pertamanya.
Konsep "Murajjih" atau Faktor Penentu
Dalam argumentasi di atas muncul
istilah yang sangat penting dalam ilmu kalam, yaitu murajjih, yakni
sesuatu yang menjadikan salah satu dari dua kemungkinan lebih layak terjadi.
Selama alam hanya mungkin ada atau
mungkin tidak ada, diperlukan suatu penentu mengapa salah satu kemungkinan itu
akhirnya terwujud.
Para filsuf berpendapat bahwa
apabila penentu itu baru muncul, maka penentu tersebut juga membutuhkan
penjelasan lain. Dari sinilah muncul rangkaian pertanyaan yang menurut mereka
tidak akan pernah selesai.
Dasar Bantahan yang Akan Dibangun Al-Ghazali
Al-Ghazali belum memberikan jawaban
pada bagian ini. Beliau baru memaparkan logika lawan secara lengkap.
Pada pembahasan berikutnya, beliau
akan menguji apakah benar penciptaan pada waktu tertentu selalu menuntut
perubahan pada Zat Allah, ataukah terdapat penjelasan lain yang dapat diterima
secara rasional tanpa harus menerima keazalian alam.
Dengan demikian, struktur kitab ini
menunjukkan urutan yang sangat sistematis: memaparkan dalil, memahami
logikanya, lalu mengajukan bantahan secara bertahap.
Pelajaran tentang Metodologi Ilmiah
Bagian ini mengajarkan pentingnya
kejujuran intelektual. Seseorang yang ingin mengkritik suatu teori hendaknya
terlebih dahulu menyajikan teori tersebut dalam bentuk terbaiknya. Kritik yang
dibangun di atas pemahaman yang utuh akan lebih adil dan lebih kuat daripada
kritik terhadap gambaran yang disederhanakan.
Pendekatan semacam ini tetap menjadi
salah satu standar dalam tradisi akademik hingga masa kini.
Hikmah
- Kritik yang kuat harus dimulai dengan memahami argumen
lawan secara benar.
- Kejujuran ilmiah menuntut penyajian pendapat lawan
dalam bentuk yang paling kuat, bukan yang paling lemah.
- Persoalan metafisika memerlukan penalaran yang mendalam
dan tidak cukup dijawab dengan dugaan.
- Sebuah kesimpulan harus diuji berdasarkan konsistensi
logikanya.
- Dialog ilmiah yang sehat mengutamakan analisis
argumentasi daripada serangan terhadap tokoh atau kelompok.
- Metode Al-Ghazali menunjukkan pentingnya berpikir
sistematis sebelum menarik kesimpulan.
Penutup
Pada bagian awal pembahasan pertama Tahafut
al-Falasifah, Imam Al-Ghazali memperlihatkan integritas ilmiahnya dengan
memilih argumen yang paling kuat dari para filsuf mengenai keazalian alam.
Menurut mereka, mustahil sesuatu yang baru muncul dari sebab yang azali tanpa
adanya perubahan atau faktor penentu yang baru. Al-Ghazali belum membantah
argumen tersebut pada tahap ini, tetapi terlebih dahulu menguraikannya secara
utuh agar pembaca memahami dasar pemikiran lawannya. Pendekatan ini menjadi
contoh penting bahwa pencarian kebenaran dimulai dengan memahami secara adil sebelum
memberikan penilaian dan kritik.
Teks Arab :
اختيار أشد أدلتهم وقعًا في النفس
إيراد أدلتهم. لو ذهبت أصف ما نقل عنهم في معرض الأدلة
وذكر في الاعتراض عليه لسودت في هذه المسألة أوراقًا، ولكن لا خير في التطويل.
فلنحذف من أدلتهم ما يجري مجرى التحكم أو التخيل الضعيف الذي يهون على كل ناظر
حله. ولنقتصر على إيراد ما له وقع في النفس، مما لا يجوز أن ينهض مشككًا لفحول
النظار، فإن تشكيك الضعفاء بأدنى خبال ممكن.
وهذا الفن من الأدلة ثلاثة:
الأول يستحيل حدوث حادث من قديم مطلقًا قولهم يستحيل
صدور حادث من قديم مطلقًا، لأنا إذا فرضنا القديم ولم يصدر منه العالم مثلًا فإنما
لم يصدر لأنه لم يكن للوجود مرجح بل كان وجود العالم ممكنًا إمكانًا صرفًا، فإذا
حدث بعد ذلك لم يخل إما أن تجدد مرجح أو لم يتجدد، فإن لم يتجدد مرجح بقي العالم
على الإمكان الصرف كما قبل ذلك، وإن تجدد مرجح فمن محدث ذلك المرجح؟ ولم حدث الآن
ولم يحدث من قبل؟ والسؤال في حدوث المرجح قائم. وبالجملة فأحوال القديم إذا كانت
متشابهة فإما أن لا يوجد عنه شيء قط وإما أن يوجد على الدوام، فأما أن يتميز حال
الترك عن حال الشروع فهو محال.
Baca juga:
Bantahan Imam Al-Ghazali terhadap Keyakinan Filsuf tentang KeazalianAlam dalam Tahafut al-Falasifah
Mengapa Alam Tidak Diciptakan Lebih Awal? Argumen Filsuf tentang
Kehendak Allah dalam Tahafut al-Falasifah
