Pendahuluan
Sejarah Islam pada masa Khulafaur Rasyidin menunjukkan bahwa umat Islam pada awalnya hidup dalam persatuan akidah yang kokoh. Perbedaan yang muncul di kalangan para sahabat lebih banyak berkaitan dengan persoalan cabang (furu' agama), bukan menyentuh pokok-pokok keimanan. Karena itu, perbedaan tersebut tidak sampai menimbulkan saling menyesatkan ataupun memutus hubungan persaudaraan.
Namun, keadaan mulai berubah setelah
muncul berbagai peristiwa politik pada akhir masa pemerintahan Khalifah Utsman
bin Affan رضي الله عنه dan berlanjut pada
masa Khalifah Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه.
Dalam bagian kitab ini, Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini menjelaskan
bagaimana dari berbagai peristiwa tersebut kemudian lahir kelompok-kelompok
yang menjadi awal munculnya firqah-firqah dalam sejarah Islam.
Sumber
Kitab:
At-Tabṣīr fī ad-Dīn wa Tamyīz
al-Firqah an-Nājiyah 'an al-Firaq al-Hālikīn
(التبصير في الدين وتمييز الفرقة الناجية عن الفرق
الهالكين)
Penulis:
Imam Abu al-Muzaffar Thahir bin
Muhammad al-Isfarayini (wafat 471 H)
Penulis
Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini
merupakan salah seorang ulama besar Ahlus Sunnah wal Jamaah dari mazhab Syafi'i
yang hidup pada abad ke-5 Hijriah. Beliau dikenal luas melalui karya At-Tabṣīr
fī ad-Dīn, sebuah kitab yang mengkaji sejarah munculnya berbagai kelompok
dalam Islam beserta penjelasan akidah menurut perspektif Ahlus Sunnah wal
Jamaah.
Tema
Perkembangan Perselisihan pada Masa
Khulafaur Rasyidin dan Munculnya Kelompok Khawarij serta Saba'iyah
Terjemahan
Perselisihan tidaklah berbahaya
kecuali apabila terjadi dalam pokok-pokok agama (ushuluddin).
Adapun pada masa para sahabat, tidak
terjadi perselisihan dalam perkara tersebut.
Perbedaan yang ada di antara mereka
hanyalah dalam masalah-masalah cabang agama, seperti persoalan ilmu faraidh
(pembagian warisan) dan persoalan-persoalan fikih lainnya.
Karena itu, tidak muncul
perselisihan yang menyebabkan saling memfasikkan atau saling berlepas diri.
Demikianlah keadaan umat Islam
berjalan dengan baik pada masa pemerintahan Abu Bakar, Umar, dan pada awal masa
pemerintahan Utsman رضي الله عنهم.
Kemudian timbul perselisihan
mengenai pemerintahan Utsman, sehingga sekelompok orang memberontak terhadap
beliau. Lalu terjadilah peristiwa yang kemudian dikenal dalam sejarah.
Setelah itu muncul perselisihan
mengenai kepemimpinan Ali رضي الله عنه,
juga mengenai para pihak yang terlibat dalam Perang Jamal, Perang Shiffin,
serta peristiwa tahkim (arbitrase) antara kedua belah pihak.
Dari rangkaian peristiwa tersebut
muncullah kelompok Khawarij pada masa pemerintahan Ali رضي الله عنه, sebagaimana akan kami jelaskan pada
pembahasan berikutnya, insya Allah Ta'ala.
Pada masa beliau juga muncul
kelompok Saba'iyah dari kalangan Rafidhah, yaitu mereka yang mengatakan bahwa
Ali adalah tuhan seluruh makhluk.
Karena keyakinan tersebut, Ali رضي الله عنه menghukum sebagian dari mereka dengan
membakar mereka.
Setelah itu kemudian muncul berbagai
kelompok Rafidhah lainnya, sebagaimana akan kami jelaskan lebih lanjut pada
pembahasan berikutnya, insya Allah Ta'ala.
Artikel Pengembangan
Pada bagian ini, Imam Al-Isfarayini
menjelaskan perbedaan mendasar antara ikhtilaf (perbedaan pendapat) yang
masih dapat diterima dengan perselisihan yang merusak akidah. Menurut
beliau, tidak setiap perbedaan merupakan penyimpangan. Perbedaan dalam
persoalan cabang agama telah terjadi sejak masa para sahabat, seperti dalam
beberapa persoalan fikih dan pembagian warisan. Akan tetapi, perbedaan tersebut
tetap berada dalam bingkai ukhuwah Islamiyah dan tidak menjadi alasan untuk
saling memvonis sesat atau keluar dari agama.
Beliau kemudian menunjukkan bahwa
perubahan mulai terjadi ketika muncul berbagai gejolak politik pada akhir
pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan رضي الله عنه.
Peristiwa terbunuhnya Utsman menjadi titik penting dalam sejarah Islam karena
sesudahnya muncul konflik yang lebih luas pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib
رضي الله عنه.
Imam Al-Isfarayini menyebut beberapa
peristiwa besar, yaitu Perang Jamal, Perang Shiffin, dan peristiwa
tahkim. Ketiga peristiwa tersebut memiliki pengaruh besar dalam
perkembangan sejarah umat Islam. Dari sudut pandang penulis, salah satu
dampaknya adalah lahirnya kelompok Khawarij, yaitu kelompok yang menolak hasil
tahkim dan kemudian mengembangkan pandangan-pandangan yang berbeda dari
mayoritas kaum muslimin. Penjelasan rinci mengenai ajaran mereka, menurut Imam
Al-Isfarayini, akan dibahas pada bab tersendiri.
Selain Khawarij, beliau juga
menyebut kemunculan kelompok Saba'iyah yang dinisbatkan kepada kalangan
Rafidhah. Dalam uraian kitab ini disebutkan bahwa kelompok tersebut berlebihan
dalam memuliakan Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه
hingga menisbatkan sifat ketuhanan kepada beliau. Imam Al-Isfarayini menyatakan
bahwa Ali menolak keyakinan tersebut dan menghukum sebagian pengikutnya. Uraian
ini disampaikan sebagai bagian dari perspektif penulis mengenai sejarah
kemunculan kelompok-kelompok yang dianggap menyimpang.
Melalui pemaparan ini, Imam
Al-Isfarayini ingin menunjukkan bahwa sejarah perpecahan umat berkembang secara
bertahap. Perselisihan yang semula bersifat politik kemudian, menurut
pandangannya, melahirkan berbagai aliran yang membawa konsekuensi pada
persoalan akidah. Oleh sebab itu, beliau menganggap penting mempelajari sejarah
munculnya kelompok-kelompok tersebut agar pembaca memahami latar belakang
pembahasan yang akan diuraikan pada bab-bab berikutnya.
Hikmah
- Tidak semua perbedaan pendapat merupakan penyimpangan;
perbedaan dalam masalah cabang agama telah dikenal sejak masa para
sahabat.
- Persatuan umat dapat tetap terjaga meskipun terdapat
perbedaan fikih selama semua pihak menghormati prinsip-prinsip agama.
- Perselisihan yang menyentuh pokok-pokok akidah memiliki
dampak yang lebih besar dibandingkan perbedaan dalam masalah cabang.
- Sejarah menunjukkan bahwa berbagai konflik dapat
menjadi latar belakang lahirnya kelompok-kelompok baru dengan pandangan
yang berbeda.
- Mempelajari sejarah umat Islam hendaknya dilakukan
secara ilmiah agar dapat memahami sebab munculnya berbagai peristiwa dan
pemikiran.
- Menjaga kemurnian akidah dan persaudaraan sesama muslim
merupakan dua tujuan penting yang terus ditekankan dalam karya Imam
Al-Isfarayini.
Penutup
Melalui pembahasan ini, Imam
Al-Isfarayini menjelaskan bahwa perbedaan pendapat pada masa para sahabat pada
awalnya masih berada dalam batas-batas yang tidak merusak persatuan umat.
Menurut beliau, perkembangan sejarah berikutnya menghadirkan berbagai konflik
yang kemudian melahirkan kelompok-kelompok dengan pandangan yang berbeda dalam
persoalan akidah. Uraian ini menjadi pengantar bagi pembahasan selanjutnya
dalam At-Tabṣīr fī ad-Dīn, di mana beliau akan mengulas secara lebih
rinci sejarah, pandangan, dan argumentasi berbagai kelompok yang muncul dalam
perjalanan sejarah Islam menurut perspektif Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Teks Arab :
الْخلاف لَا يكون خطرا إِلَّا إِذا كَانَ فِي أصُول
الدّين وَلم يكن اخْتِلَاف بَينهم فِي ذَلِك بل كَانَ اخْتِلَاف من يخْتَلف فِي
فروع الدّين مثل مسَائِل الْفَرَائِض فَلم يَقع خلاف يُوجب التفسيق والتبري
هَكَذَا جرى الْأَمر على السداد أَيَّام أبي بكر وَعمر وَصدر من زمَان عُثْمَان
ثمَّ اخْتلف فِي أَمر عُثْمَان وَخرج عَلَيْهِ قوم مِنْهُم فَكَانَ من أمره مَا
كَانَ
ثمَّ بعد ذَلِك حدث الِاخْتِلَاف فِي أَمر عَليّ وَفِي
حَال أَصْحَاب الْجمل وصفين وَفِي حَال الْحكمَيْنِ وَظهر من ذَلِك خلاف
الْخَوَارِج فِي أَيَّام عَليّ رضي الله عنه كَمَا سَنذكرُهُ فِيمَا بعد إِن شَاءَ
الله تَعَالَى
وَظهر فِي وقته أَيْضا خلاف السبأية من الروافض وهم
الَّذين قَالُوا إِن عليا إِلَه الْخلق حَتَّى أحرق عَليّ جمَاعَة مِنْهُم وَظهر
بعد ذَلِك سَائِر أَصْنَاف الروافض كَمَا نذكرهُ فِيمَا بعد إِن شَاءَ الله
تَعَالَى
Baca juga:
Perselisihan Tentang Kepemimpinan Setelah Wafat Nabi ﷺ:
Bagaimana Abu Bakar Menyatukan Umat Islam?
Mengapa Rasulullah ﷺ Dimakamkan di Madinah? Penjelasan Imam Al-Isfarayini tentang Perselisihan Kedua Setelah Wafat Nabi
Awal Munculnya Qadariyah dan Mu'tazilah: Penjelasan Imam
Al-Isfarayini tentang Sejarah Bid'ah dalam Islam
Pendahuluan
Sejarah Islam pada masa Khulafaur Rasyidin menunjukkan bahwa umat Islam pada awalnya hidup dalam persatuan akidah yang kokoh. Perbedaan yang muncul di kalangan para sahabat lebih banyak berkaitan dengan persoalan cabang (furu' agama), bukan menyentuh pokok-pokok keimanan. Karena itu, perbedaan tersebut tidak sampai menimbulkan saling menyesatkan ataupun memutus hubungan persaudaraan.
Namun, keadaan mulai berubah setelah
muncul berbagai peristiwa politik pada akhir masa pemerintahan Khalifah Utsman
bin Affan رضي الله عنه dan berlanjut pada
masa Khalifah Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه.
Dalam bagian kitab ini, Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini menjelaskan
bagaimana dari berbagai peristiwa tersebut kemudian lahir kelompok-kelompok
yang menjadi awal munculnya firqah-firqah dalam sejarah Islam.
Sumber
Kitab:
At-Tabṣīr fī ad-Dīn wa Tamyīz
al-Firqah an-Nājiyah 'an al-Firaq al-Hālikīn
(التبصير في الدين وتمييز الفرقة الناجية عن الفرق
الهالكين)
Penulis:
Imam Abu al-Muzaffar Thahir bin
Muhammad al-Isfarayini (wafat 471 H)
Penulis
Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini
merupakan salah seorang ulama besar Ahlus Sunnah wal Jamaah dari mazhab Syafi'i
yang hidup pada abad ke-5 Hijriah. Beliau dikenal luas melalui karya At-Tabṣīr
fī ad-Dīn, sebuah kitab yang mengkaji sejarah munculnya berbagai kelompok
dalam Islam beserta penjelasan akidah menurut perspektif Ahlus Sunnah wal
Jamaah.
Tema
Perkembangan Perselisihan pada Masa
Khulafaur Rasyidin dan Munculnya Kelompok Khawarij serta Saba'iyah
Terjemahan
Perselisihan tidaklah berbahaya
kecuali apabila terjadi dalam pokok-pokok agama (ushuluddin).
Adapun pada masa para sahabat, tidak
terjadi perselisihan dalam perkara tersebut.
Perbedaan yang ada di antara mereka
hanyalah dalam masalah-masalah cabang agama, seperti persoalan ilmu faraidh
(pembagian warisan) dan persoalan-persoalan fikih lainnya.
Karena itu, tidak muncul
perselisihan yang menyebabkan saling memfasikkan atau saling berlepas diri.
Demikianlah keadaan umat Islam
berjalan dengan baik pada masa pemerintahan Abu Bakar, Umar, dan pada awal masa
pemerintahan Utsman رضي الله عنهم.
Kemudian timbul perselisihan
mengenai pemerintahan Utsman, sehingga sekelompok orang memberontak terhadap
beliau. Lalu terjadilah peristiwa yang kemudian dikenal dalam sejarah.
Setelah itu muncul perselisihan
mengenai kepemimpinan Ali رضي الله عنه,
juga mengenai para pihak yang terlibat dalam Perang Jamal, Perang Shiffin,
serta peristiwa tahkim (arbitrase) antara kedua belah pihak.
Dari rangkaian peristiwa tersebut
muncullah kelompok Khawarij pada masa pemerintahan Ali رضي الله عنه, sebagaimana akan kami jelaskan pada
pembahasan berikutnya, insya Allah Ta'ala.
Pada masa beliau juga muncul
kelompok Saba'iyah dari kalangan Rafidhah, yaitu mereka yang mengatakan bahwa
Ali adalah tuhan seluruh makhluk.
Karena keyakinan tersebut, Ali رضي الله عنه menghukum sebagian dari mereka dengan
membakar mereka.
Setelah itu kemudian muncul berbagai
kelompok Rafidhah lainnya, sebagaimana akan kami jelaskan lebih lanjut pada
pembahasan berikutnya, insya Allah Ta'ala.
Artikel Pengembangan
Pada bagian ini, Imam Al-Isfarayini
menjelaskan perbedaan mendasar antara ikhtilaf (perbedaan pendapat) yang
masih dapat diterima dengan perselisihan yang merusak akidah. Menurut
beliau, tidak setiap perbedaan merupakan penyimpangan. Perbedaan dalam
persoalan cabang agama telah terjadi sejak masa para sahabat, seperti dalam
beberapa persoalan fikih dan pembagian warisan. Akan tetapi, perbedaan tersebut
tetap berada dalam bingkai ukhuwah Islamiyah dan tidak menjadi alasan untuk
saling memvonis sesat atau keluar dari agama.
Beliau kemudian menunjukkan bahwa
perubahan mulai terjadi ketika muncul berbagai gejolak politik pada akhir
pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan رضي الله عنه.
Peristiwa terbunuhnya Utsman menjadi titik penting dalam sejarah Islam karena
sesudahnya muncul konflik yang lebih luas pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib
رضي الله عنه.
Imam Al-Isfarayini menyebut beberapa
peristiwa besar, yaitu Perang Jamal, Perang Shiffin, dan peristiwa
tahkim. Ketiga peristiwa tersebut memiliki pengaruh besar dalam
perkembangan sejarah umat Islam. Dari sudut pandang penulis, salah satu
dampaknya adalah lahirnya kelompok Khawarij, yaitu kelompok yang menolak hasil
tahkim dan kemudian mengembangkan pandangan-pandangan yang berbeda dari
mayoritas kaum muslimin. Penjelasan rinci mengenai ajaran mereka, menurut Imam
Al-Isfarayini, akan dibahas pada bab tersendiri.
Selain Khawarij, beliau juga
menyebut kemunculan kelompok Saba'iyah yang dinisbatkan kepada kalangan
Rafidhah. Dalam uraian kitab ini disebutkan bahwa kelompok tersebut berlebihan
dalam memuliakan Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه
hingga menisbatkan sifat ketuhanan kepada beliau. Imam Al-Isfarayini menyatakan
bahwa Ali menolak keyakinan tersebut dan menghukum sebagian pengikutnya. Uraian
ini disampaikan sebagai bagian dari perspektif penulis mengenai sejarah
kemunculan kelompok-kelompok yang dianggap menyimpang.
Melalui pemaparan ini, Imam
Al-Isfarayini ingin menunjukkan bahwa sejarah perpecahan umat berkembang secara
bertahap. Perselisihan yang semula bersifat politik kemudian, menurut
pandangannya, melahirkan berbagai aliran yang membawa konsekuensi pada
persoalan akidah. Oleh sebab itu, beliau menganggap penting mempelajari sejarah
munculnya kelompok-kelompok tersebut agar pembaca memahami latar belakang
pembahasan yang akan diuraikan pada bab-bab berikutnya.
Hikmah
- Tidak semua perbedaan pendapat merupakan penyimpangan;
perbedaan dalam masalah cabang agama telah dikenal sejak masa para
sahabat.
- Persatuan umat dapat tetap terjaga meskipun terdapat
perbedaan fikih selama semua pihak menghormati prinsip-prinsip agama.
- Perselisihan yang menyentuh pokok-pokok akidah memiliki
dampak yang lebih besar dibandingkan perbedaan dalam masalah cabang.
- Sejarah menunjukkan bahwa berbagai konflik dapat
menjadi latar belakang lahirnya kelompok-kelompok baru dengan pandangan
yang berbeda.
- Mempelajari sejarah umat Islam hendaknya dilakukan
secara ilmiah agar dapat memahami sebab munculnya berbagai peristiwa dan
pemikiran.
- Menjaga kemurnian akidah dan persaudaraan sesama muslim
merupakan dua tujuan penting yang terus ditekankan dalam karya Imam
Al-Isfarayini.
Penutup
Melalui pembahasan ini, Imam
Al-Isfarayini menjelaskan bahwa perbedaan pendapat pada masa para sahabat pada
awalnya masih berada dalam batas-batas yang tidak merusak persatuan umat.
Menurut beliau, perkembangan sejarah berikutnya menghadirkan berbagai konflik
yang kemudian melahirkan kelompok-kelompok dengan pandangan yang berbeda dalam
persoalan akidah. Uraian ini menjadi pengantar bagi pembahasan selanjutnya
dalam At-Tabṣīr fī ad-Dīn, di mana beliau akan mengulas secara lebih
rinci sejarah, pandangan, dan argumentasi berbagai kelompok yang muncul dalam
perjalanan sejarah Islam menurut perspektif Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Teks Arab :
الْخلاف لَا يكون خطرا إِلَّا إِذا كَانَ فِي أصُول
الدّين وَلم يكن اخْتِلَاف بَينهم فِي ذَلِك بل كَانَ اخْتِلَاف من يخْتَلف فِي
فروع الدّين مثل مسَائِل الْفَرَائِض فَلم يَقع خلاف يُوجب التفسيق والتبري
هَكَذَا جرى الْأَمر على السداد أَيَّام أبي بكر وَعمر وَصدر من زمَان عُثْمَان
ثمَّ اخْتلف فِي أَمر عُثْمَان وَخرج عَلَيْهِ قوم مِنْهُم فَكَانَ من أمره مَا
كَانَ
ثمَّ بعد ذَلِك حدث الِاخْتِلَاف فِي أَمر عَليّ وَفِي
حَال أَصْحَاب الْجمل وصفين وَفِي حَال الْحكمَيْنِ وَظهر من ذَلِك خلاف
الْخَوَارِج فِي أَيَّام عَليّ رضي الله عنه كَمَا سَنذكرُهُ فِيمَا بعد إِن شَاءَ
الله تَعَالَى
وَظهر فِي وقته أَيْضا خلاف السبأية من الروافض وهم
الَّذين قَالُوا إِن عليا إِلَه الْخلق حَتَّى أحرق عَليّ جمَاعَة مِنْهُم وَظهر
بعد ذَلِك سَائِر أَصْنَاف الروافض كَمَا نذكرهُ فِيمَا بعد إِن شَاءَ الله
تَعَالَى
Baca juga:
Perselisihan Tentang Kepemimpinan Setelah Wafat Nabi ﷺ:
Bagaimana Abu Bakar Menyatukan Umat Islam?
Mengapa Rasulullah ﷺ Dimakamkan di Madinah? Penjelasan Imam Al-Isfarayini tentang Perselisihan Kedua Setelah Wafat Nabi
Awal Munculnya Qadariyah dan Mu'tazilah: Penjelasan Imam
Al-Isfarayini tentang Sejarah Bid'ah dalam Islam

Tidak ada komentar:
Posting Komentar