Kesepakatan Ulama’ Tentang Kewajiban Niyat Ketika Takbiratul Ihram

الحادية والعشرون- واتفقت الأمة على وجوب النية عند تكبيرة الإحرام إلا شيئا روي عن بعض أصحابنا يأتي الكلام عليه في آية الطهارة ، وحقيقتها قصد التقرب إلى الآمر بفعل ما أمر به على الوجه المطلوب منه. قال ابن العربي : والأصل في كل نية أن يكون عقدها مع التلبس بالفعل المنوي بها ، أو قبل ذلك بشرط استصحابها ، فإن تقدمت النية وطرأت غفلة فوقع التلبس بالعبادة في تلك الحالة لم يعتد بها ، كما لا يعتد بالنية إذا وقعت بعد التلبس بالفعل ، وقد رخص في تقديمها في الصوم لعظم الحرج في اقترانها بأوله.

Pembahasan kedua puluh satu:

Umat Islam telah sepakat (ijma’) tentang wajibnya niat ketika takbiratul ihram, kecuali ada sedikit riwayat dari sebagian ulama kami yang akan dibahas pada ayat tentang thaharah (bersuci).

Hakikat niat adalah: bermaksud mendekatkan diri kepada Allah Yang Memerintah dengan melakukan perintah-Nya sesuai cara yang dituntut syariat.

Ibn al-Arabi berkata:

“Dasar dalam setiap niat adalah bahwa niat itu harus dilakukan bersamaan dengan dimulainya perbuatan yang diniatkan, atau dilakukan sebelumnya dengan syarat tetap terus mengingat (menjaga) niat tersebut.”

“Jika niat dilakukan lebih dahulu, kemudian seseorang lupa (lalai), lalu ia masuk ke dalam ibadah dalam keadaan lalai tersebut, maka niat itu tidak dianggap.”

“Sebagaimana juga tidak sah niat yang muncul setelah seseorang sudah memulai perbuatan ibadah.”

“Namun, dikecualikan dalam ibadah puasa, karena syariat memberi keringanan untuk mendahulukan niat sebelum waktu mulai puasa, karena sulitnya menggabungkan niat tepat di awal waktu.”

قال ابن العربي : وقال لنا أبو الحسن القروي بثغر عسقلان : سمعت إمام الحرمين يقول : يحضر الإنسان عند التلبس بالصلاة النية ، ويجرد النظر في الصانع وحدوث العالم والنبوات حتى ينتهي نظره إلى نية الصلاة ، قال : ولا يحتاج ذلك إلى زمان طويل ، وإنما يكون ذلك في أوحى لحظة ، لأن تعليم الجمل يفتقر إلى الزمان الطويل ، وتذكارها يكون في لحظة ، ومن تمام النية أن تكون مستصحبة على الصلاة كلها ، إلا أن ذلك لما كان أمرا يتعذر عليه سمح الشرع في عزوب النية في أثنائها.

سمعت شيخنا أبا بكر الفهري بالمسجد الأقصى يقول قال محمد بن سحنون : رأيت أبي سحنونا ربما يكمل الصلاة فيعيدها ، فقلت له ما هذا ؟ فقال : عزبت نيتي في أثنائها فلأجل ذلك أعدتها.

Ibn al-Arabi berkata:

Abu al-Hasan al-Qurawi di wilayah Asqalan berkata kepada kami: Aku mendengar Imam al-Haramayn al-Juwayni berkata:

Seseorang ketika mulai shalat harus menghadirkan niat, dan merenungkan tentang Sang Pencipta, tentang kejadian alam, dan tentang kenabian, hingga akhirnya pikirannya sampai kepada niat shalat.

Beliau berkata:

“Hal itu tidak membutuhkan waktu yang lama, cukup dalam waktu yang sangat singkat, karena memahami kalimat-kalimat membutuhkan waktu lama, sedangkan mengingatnya bisa terjadi dalam sekejap.”

“Kesempurnaan niat adalah bahwa niat itu terus menyertai seluruh shalat, tetapi karena hal itu sulit dilakukan, maka syariat memberi keringanan ketika niat itu bisa hilang di tengah shalat.”

Ibn al-Arabi juga berkata:

Aku mendengar guru kami Abu Bakr al-Fihri di Masjid al-Aqsha berkata: Muhammad ibn Sahnun berkata: Aku pernah melihat ayahku Sahnun ibn Said menyelesaikan shalat, lalu mengulanginya. Aku bertanya: ‘Mengapa engkau melakukan itu?’ Beliau menjawab: Niatku terputus di tengah shalat, maka karena itu aku mengulanginya.”

قلت : فهذه جملة من أحكام الصلاة ، وسائر أحكامها يأتي بيانها في مواضعها من هذا الكتاب بحول الله تعالى ، فيأتي ذكر الركوع وصلاة الجماعة والقبلة والمبادرة إلى الأوقات ، وبعض صلاة الخوف في هذه السورة ، ويأتي ذكر قصر الصلاة وصلاة الخوف ، في "النساء" والأوقات في "هود وسبحان والروم" وصلاة الليل في "المزمل" وسجود التلاوة في "الأعراف" وسجود الشكر في "ص" كل في موضعه إن شاء الله تعالى.

Aku (penulis) berkata:

“Inilah sekumpulan hukum-hukum shalat. Adapun hukum-hukum shalat yang lainnya akan dijelaskan pada tempat-tempatnya dalam kitab ini, insya Allah Ta‘ala.”

Beliau menjelaskan bahwa akan dibahas pada bagian lain:

  • rukuk, shalat berjamaah, arah kiblat, dan bersegera menunaikan waktu shalat, serta sebagian shalat khauf akan dibahas dalam surah ini.
  • shalat qashar dan shalat khauf akan dibahas dalam surah An-Nisa’.
  • waktu-waktu shalat akan dibahas dalam surah Hud.
  • shalat malam (qiyamul lail) akan dibahas dalam surah Al-Muzammil.
  • sujud tilawah akan dibahas dalam surah Al-A’raf.
  • sujud syukur akan dibahas dalam surah Shad.

Setiap pembahasan akan diletakkan pada tempatnya masing-masing dalam kitab ini, insya Allah.

Maksudnya:

Penulis ingin menyampaikan bahwa:

  1. Hukum-hukum shalat sangat luas dan tidak dibahas sekaligus dalam satu tempat.
    → Setiap bagian shalat dibahas di surah atau bab yang berbeda.
  2. Al-Qur’an dan fiqih saling terhubung secara tematik.
    → Misalnya:
    • shalat malam dibahas di Al-Muzzammil
    • qashar di An-Nisa
    • waktu shalat di beberapa surah berbeda
  3. Metode penulisan kitab ini sistematis, yaitu:
    → setiap hukum akan dijelaskan sesuai konteks ayat atau babnya.

Kesimpulan:

  • Hukum-hukum shalat tidak dibahas sekaligus, tetapi tersebar dalam berbagai bab dan surah.
  • Setiap jenis shalat atau hukumnya memiliki dalil dan tempat pembahasan masing-masing.
  • Ini menunjukkan bahwa fikih shalat sangat luas dan terperinci, sehingga perlu dipelajari secara bertahap dan terstruktur.

 

Baca juga:

Pendapat Ulama’ Tentang Salamdalam Shalat : Perbedaan Pendapat Tentang Takbiratul Ihram

 Perbedaan PendapatTentang Duduk Tasyahud Akhir dan Bacaan-bacaannya

Pernyataan Tentang Rezeki, Penjelasan makna {يُنْفِقُونَ} Dan Perbedaan pendapat tentang maksud “nafkah” dalam ayat ini

الحادية والعشرون- واتفقت الأمة على وجوب النية عند تكبيرة الإحرام إلا شيئا روي عن بعض أصحابنا يأتي الكلام عليه في آية الطهارة ، وحقيقتها قصد التقرب إلى الآمر بفعل ما أمر به على الوجه المطلوب منه. قال ابن العربي : والأصل في كل نية أن يكون عقدها مع التلبس بالفعل المنوي بها ، أو قبل ذلك بشرط استصحابها ، فإن تقدمت النية وطرأت غفلة فوقع التلبس بالعبادة في تلك الحالة لم يعتد بها ، كما لا يعتد بالنية إذا وقعت بعد التلبس بالفعل ، وقد رخص في تقديمها في الصوم لعظم الحرج في اقترانها بأوله.

Pembahasan kedua puluh satu:

Umat Islam telah sepakat (ijma’) tentang wajibnya niat ketika takbiratul ihram, kecuali ada sedikit riwayat dari sebagian ulama kami yang akan dibahas pada ayat tentang thaharah (bersuci).

Hakikat niat adalah: bermaksud mendekatkan diri kepada Allah Yang Memerintah dengan melakukan perintah-Nya sesuai cara yang dituntut syariat.

Ibn al-Arabi berkata:

“Dasar dalam setiap niat adalah bahwa niat itu harus dilakukan bersamaan dengan dimulainya perbuatan yang diniatkan, atau dilakukan sebelumnya dengan syarat tetap terus mengingat (menjaga) niat tersebut.”

“Jika niat dilakukan lebih dahulu, kemudian seseorang lupa (lalai), lalu ia masuk ke dalam ibadah dalam keadaan lalai tersebut, maka niat itu tidak dianggap.”

“Sebagaimana juga tidak sah niat yang muncul setelah seseorang sudah memulai perbuatan ibadah.”

“Namun, dikecualikan dalam ibadah puasa, karena syariat memberi keringanan untuk mendahulukan niat sebelum waktu mulai puasa, karena sulitnya menggabungkan niat tepat di awal waktu.”

قال ابن العربي : وقال لنا أبو الحسن القروي بثغر عسقلان : سمعت إمام الحرمين يقول : يحضر الإنسان عند التلبس بالصلاة النية ، ويجرد النظر في الصانع وحدوث العالم والنبوات حتى ينتهي نظره إلى نية الصلاة ، قال : ولا يحتاج ذلك إلى زمان طويل ، وإنما يكون ذلك في أوحى لحظة ، لأن تعليم الجمل يفتقر إلى الزمان الطويل ، وتذكارها يكون في لحظة ، ومن تمام النية أن تكون مستصحبة على الصلاة كلها ، إلا أن ذلك لما كان أمرا يتعذر عليه سمح الشرع في عزوب النية في أثنائها.

سمعت شيخنا أبا بكر الفهري بالمسجد الأقصى يقول قال محمد بن سحنون : رأيت أبي سحنونا ربما يكمل الصلاة فيعيدها ، فقلت له ما هذا ؟ فقال : عزبت نيتي في أثنائها فلأجل ذلك أعدتها.

Ibn al-Arabi berkata:

Abu al-Hasan al-Qurawi di wilayah Asqalan berkata kepada kami: Aku mendengar Imam al-Haramayn al-Juwayni berkata:

Seseorang ketika mulai shalat harus menghadirkan niat, dan merenungkan tentang Sang Pencipta, tentang kejadian alam, dan tentang kenabian, hingga akhirnya pikirannya sampai kepada niat shalat.

Beliau berkata:

“Hal itu tidak membutuhkan waktu yang lama, cukup dalam waktu yang sangat singkat, karena memahami kalimat-kalimat membutuhkan waktu lama, sedangkan mengingatnya bisa terjadi dalam sekejap.”

“Kesempurnaan niat adalah bahwa niat itu terus menyertai seluruh shalat, tetapi karena hal itu sulit dilakukan, maka syariat memberi keringanan ketika niat itu bisa hilang di tengah shalat.”

Ibn al-Arabi juga berkata:

Aku mendengar guru kami Abu Bakr al-Fihri di Masjid al-Aqsha berkata: Muhammad ibn Sahnun berkata: Aku pernah melihat ayahku Sahnun ibn Said menyelesaikan shalat, lalu mengulanginya. Aku bertanya: ‘Mengapa engkau melakukan itu?’ Beliau menjawab: Niatku terputus di tengah shalat, maka karena itu aku mengulanginya.”

قلت : فهذه جملة من أحكام الصلاة ، وسائر أحكامها يأتي بيانها في مواضعها من هذا الكتاب بحول الله تعالى ، فيأتي ذكر الركوع وصلاة الجماعة والقبلة والمبادرة إلى الأوقات ، وبعض صلاة الخوف في هذه السورة ، ويأتي ذكر قصر الصلاة وصلاة الخوف ، في "النساء" والأوقات في "هود وسبحان والروم" وصلاة الليل في "المزمل" وسجود التلاوة في "الأعراف" وسجود الشكر في "ص" كل في موضعه إن شاء الله تعالى.

Aku (penulis) berkata:

“Inilah sekumpulan hukum-hukum shalat. Adapun hukum-hukum shalat yang lainnya akan dijelaskan pada tempat-tempatnya dalam kitab ini, insya Allah Ta‘ala.”

Beliau menjelaskan bahwa akan dibahas pada bagian lain:

  • rukuk, shalat berjamaah, arah kiblat, dan bersegera menunaikan waktu shalat, serta sebagian shalat khauf akan dibahas dalam surah ini.
  • shalat qashar dan shalat khauf akan dibahas dalam surah An-Nisa’.
  • waktu-waktu shalat akan dibahas dalam surah Hud.
  • shalat malam (qiyamul lail) akan dibahas dalam surah Al-Muzammil.
  • sujud tilawah akan dibahas dalam surah Al-A’raf.
  • sujud syukur akan dibahas dalam surah Shad.

Setiap pembahasan akan diletakkan pada tempatnya masing-masing dalam kitab ini, insya Allah.

Maksudnya:

Penulis ingin menyampaikan bahwa:

  1. Hukum-hukum shalat sangat luas dan tidak dibahas sekaligus dalam satu tempat.
    → Setiap bagian shalat dibahas di surah atau bab yang berbeda.
  2. Al-Qur’an dan fiqih saling terhubung secara tematik.
    → Misalnya:
    • shalat malam dibahas di Al-Muzzammil
    • qashar di An-Nisa
    • waktu shalat di beberapa surah berbeda
  3. Metode penulisan kitab ini sistematis, yaitu:
    → setiap hukum akan dijelaskan sesuai konteks ayat atau babnya.

Kesimpulan:

  • Hukum-hukum shalat tidak dibahas sekaligus, tetapi tersebar dalam berbagai bab dan surah.
  • Setiap jenis shalat atau hukumnya memiliki dalil dan tempat pembahasan masing-masing.
  • Ini menunjukkan bahwa fikih shalat sangat luas dan terperinci, sehingga perlu dipelajari secara bertahap dan terstruktur.

 

Baca juga:

Pendapat Ulama’ Tentang Salamdalam Shalat : Perbedaan Pendapat Tentang Takbiratul Ihram

 Perbedaan PendapatTentang Duduk Tasyahud Akhir dan Bacaan-bacaannya

Pernyataan Tentang Rezeki, Penjelasan makna {يُنْفِقُونَ} Dan Perbedaan pendapat tentang maksud “nafkah” dalam ayat ini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

Bantahan Imam Al-Ghazali terhadap Keyakinan Filsuf tentang Keazalian Alam dalam Tahafut al-Falasifah

Pendahuluan Setelah menyelesaikan bagian mukadimah dan menjelaskan metodologi penulisannya, Imam Al-Ghazali memasuki pembahasan pertama ...

Interstisial : Kotak Cahaya :