Dasar Terpenting Dalam Penalaran Manṭiq (Logika) - Isagoge (إيساغوجي)

التَّنَاقُضُ

هُوَ اخْتِلاَفُ القَضيَّتَيْن بِالإِيجابِ وَالسَّلْبِ بِحَيْثُ يَقْتَضِي لِذَاتِهِ أَنْ تَكُونَ إِحْدَاهُمَا صَادِقَةً وَالأُخْرَى كاذِبةٌ : كَقَوْلِنَا زَيْدٌ كَاتِبٌ ، زَيْدٌ لَيْسَ بِكَاتبٍ ، وَلاَ يَتَحَقَّقُ ذلِك إلاَّ بَعْدَ اتِّفَاقِهِمَا فِي المَوْضُوعِ وَالمَحْمُولِ والزمَانِ وَالمكانِ وَالإِضَافَةِ وَالقُّوَّةِ وِالْفِعْلِ وَالجُزْءِ وَالكُلِّ وَالشَّرطِ نَحوُ زَيْدٌ كَاتِبٌ ، زَيْدٌ لَيسَ بِكَاتِبٍ فَنَقيضُ المُوجَبَةَِ الْكُلِّيَّةِ إِنَّمَا هِيَ السَّالبَةُ الجُزْئِيَّةُ كَقَوْلِنَا كُلُّ إِنْسَانٍٍ حَيَوَانٌ ، وَبَعْضُ الإِنْسَانِ لَيْسَ بِحَيَوَانٍ ، وَنَقِيضُ السالِبَةِ الْكُلِّيَّةِ إِنَّمَا هِيَ المُوجَبَةُ الجُزْئيَّةُ كَقَوْلِنَا : لاَ شَيْءَ مِنَ الإِنْسَانِ بِحَيَوَانٍ ، وَبَعْضُ الإِنْسَانِ حَيَوَانٌ ، وَالمَحْصُورَتَانِ لاَ يَتَحقَّقُ التَّنْاقُضُ بَينَهُما إِلاَّ بَعْدَ اخْتلافِهِمَا فِي الكَمِّيَّةِ لأَنَّ الْكُلِّيَّتَيْن قدْ تَكْذِبَانِ كَقَوْلِنَا كُلُّ إِنْسَانٍ كَاتِبٌ ، وَلاَ شَيْءِ مِنَ الإنْسَانِ بِكَاتِبٍ ، وَالجُزئيَّتَيْنِ قَدْ تَصْدُقَانِ كَقَوْلِنا : بَعْضُ الإِنْسَانِ كَاتِبٌ ، وَبَعْضُ الإِنْسَانِ لَيْسَ بِكَاتِبٍ .

 

التناقض

(Kontradiksi)

 

Tanāquḍ (kontradiksi) adalah perbedaan antara dua qaḍiyyah (proposisi) dalam bentuk penetapan (ijab/positif) dan peniadaan (salb/negatif), sedemikian rupa sehingga secara dzatnya menuntut salah satunya benar dan yang lain pasti salah.

Contohnya:

  • Zaid adalah penulis
  • Zaid bukan penulis

Namun kontradiksi seperti itu tidak terwujud, kecuali setelah kedua proposisi itu sama dalam:

  1. موضوع (subjek) → hal yang dibicarakan sama
  2. محمول (predikat) → sifat yang dinisbatkan sama
  3. زمان (waktu) → waktunya sama
  4. مكان (tempat) → tempatnya sama
  5. إضافة (relasi/nisbah) → hubungannya sama
  6. قوة وفعل (potensi dan aktualitas) → sama-sama potensi atau sama-sama aktual
  7. جزء وكل (bagian dan keseluruhan) → sudut pandangnya sama
  8. شرط (syarat/kondisi) → syaratnya sama

Seperti ucapan:

  • Zaid adalah penulis
  • Zaid bukan penulis

(barulah ini benar-benar kontradiktif bila semua syarat tadi sama).

 

Lawan kontradiktif proposisi:

1) Naqīḍ Mujabah Kulliyyah

(lawan dari afirmatif universal)

Contoh:

  • Setiap manusia adalah hewan
  • Sebagian manusia bukan hewan

Yang kedua adalah naqīḍ (kontradiksi) bagi yang pertama.

 

2) Naqīḍ Salibah Kulliyyah

(lawan dari negatif universal)

Contoh:

  • Tidak satu pun manusia adalah hewan
  • Sebagian manusia adalah hewan

Yang kedua adalah kontradiksi dari yang pertama.

 

Dua proposisi terbatas (maḥṣūrah) tidak menjadi kontradiksi kecuali berbeda kuantitasnya

Karena:

Dua proposisi universal bisa sama-sama salah

Contoh:

  • Semua manusia penulis
  • Tidak satu pun manusia penulis

Dua-duanya bisa salah.

Karena bisa jadi:

  • sebagian menulis
  • sebagian tidak.

 

Dua proposisi partikular bisa sama-sama benar

Contoh:

  • Sebagian manusia penulis
  • Sebagian manusia bukan penulis

Dua-duanya bisa yang pertama.

 

Penjelasan sederhana

Pembahasan ini menjelaskan kapan dua pernyataan benar-benar bertentangan secara logis.

Contoh kontradiksi sejati:

Lampu ini menyala
Lampu ini tidak menyala

Pada waktu dan keadaan yang sama, salah satunya pasti benar, satunya pasti salah.

Tetapi bila berbeda keadaan, tidak kontradiksi:

Lampu ini menyala kemarin
Lampu ini tidak menyala hari ini

Ini bisa sama-sama benar karena waktunya berbeda.

 

Inti Kaidah

Agar kontradiksi sempurna, dua kalimat harus sama dalam segala sisi, kecuali satu menetapkan, satu meniadakan.

Dan hasilnya:
✅ satu pasti benar
✅ satu pasti salah

Tidak mungkin:

  • dua-duanya benar
  • dua-duanya salah

 

Kesimpulan

Imam Atsīr ad-Dīn al-Abharī menjelaskan bahwa tanāquḍ (kontradiksi) adalah pertentangan logis sempurna antara dua proposisi: satu menetapkan, satu menolak, pada objek dan keadaan yang sama, sehingga mustahil keduanya sama-sama benar atau sama-sama salah. Salah satu pasti benar, dan yang lain pasti salah. Ini adalah salah satu dasar terpenting dalam penalaran manṭiq.

 

Sumber: إيساغوجي

لأثير الدين المفضل بن عمر الأبهري ( 630 هـ )

 

Baca juga:

Kaidah Penting Dalam Proses Istidlāl (Menarik Kesimpulan) Dalam Ilmu Manṭiq - Isagoge (إيساغوجي)

Dasar Terpenting Dalam Penalaran Manṭiq (Logika) - Isagoge (إيساغوجي)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

Kebolehan Shalat Memakai Sandal dan Najis yang Dimaafkan

مسألة: الصلاة في النعلين جائزة وإن كان نزع النعلين سهلا وليست الرخصة في الخف لعسر النزع بل هذه النجاسة معفو عنها   Masalah: ...