إِبْدَال
Ibdāl
التَّعْرِيفُ:
Definisi:
١ - الإِْبْدَال لُغَةً: جَعْل شَيْءٍ
مَكَانَ شَيْءٍ آخَرَ، وَالاِسْتِبْدَال مِثْلُهُ، فَلاَ فَرْقَ عِنْدَ أَهْل
اللُّغَةِ بَيْنَ اللَّفْظَيْنِ فِي الْمَعْنَى (١) . وَكَذَلِكَ الأَْمْرُ عِنْدَ
الْفُقَهَاءِ، فَهُمْ يَسْتَعْمِلُونَ اللَّفْظَيْنِ أَحَدَهُمَا مَكَانَ الآْخَرِ
(٢) .
1. Ibdāl secara bahasa berarti menjadikan sesuatu
sebagai pengganti bagi sesuatu yang lain. Istibdāl memiliki makna
yang sama. Oleh karena itu, menurut para ahli bahasa, tidak ada perbedaan
makna antara kedua istilah tersebut.
Demikian pula halnya menurut para
fuqaha. Mereka menggunakan kedua istilah tersebut secara bergantian,
yakni menggunakan salah satunya untuk menggantikan istilah yang lainnya.
الْحُكْمُ الإِْجْمَالِيُّ:
Hukum Secara Umum
٢ - الإِْبْدَال أَوِ الاِسْتِبْدَال
نَوْعٌ مِنَ التَّصَرُّفَاتِ، الأَْصْل فِيهِ الْجَوَازُ إِذَا كَانَ صَادِرًا
مِمَّنْ هُوَ أَهْلٌ لِلتَّصَرُّفِ، فِيمَا يَجُوزُ لَهُ التَّصَرُّفُ فِيهِ،
إِلاَّ فِيمَا يُخَالِفُ الشَّرْعَ. (٣)
2. Ibdāl atau istibdāl merupakan salah satu
bentuk tindakan hukum (transaksi). Hukum asalnya adalah boleh,
apabila tindakan tersebut dilakukan oleh orang yang memiliki kecakapan untuk
melakukan tindakan hukum, terhadap sesuatu yang memang dibolehkan baginya
untuk ditasharufkan, kecuali apabila tindakan tersebut bertentangan
dengan syariat.
وَقَدْ
يَطْرَأُ عَلَى هَذَا الْحُكْمِ مَا يَجْعَل الْفُقَهَاءَ يَخْتَلِفُونَ فِيهِ
بَيْنَ الْجَوَازِ وَالْمَنْعِ وَالْوُجُوبِ.
Hukum tersebut terkadang mengalami keadaan tertentu yang menyebabkan para
fuqaha berbeda pendapat tentangnya, antara boleh, tidak boleh, dan
wajib.
وَمِنْ
ذَلِكَ مَثَلاً اخْتِلاَفُهُمْ فِيمَا يَتَعَلَّقُ بِهِ حَقٌّ شَرْعِيٌّ،
كَالزَّكَاةِ وَالْكَفَّارَةِ، فَجُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ غَالِبًا مَا يَمْنَعُونَ
إِبْدَال الْوَاجِبِ إِخْرَاجُهُ فِيهِمَا بِالْقِيمَةِ؛ لأَِنَّ الْحَقَّ لِلَّهِ
تَعَالَى، وَقَدْ عَلَّقَهُ عَلَى مَا نَصَّ عَلَيْهِ، فَلاَ يَجُوزُ نَقْل ذَلِكَ
إِلَى غَيْرِهِ، بَيْنَمَا يُجِيزُ الْحَنَفِيَّةُ إِبْدَال الْوَاجِبِ
إِخْرَاجُهُ فِيهَا بِالْقِيمَةِ، لِتَعَلُّقِ الْوُجُوبِ عِنْدَهُمْ بِمَعْنَى
الْمَال، وَهُوَ الْمَالِيَّةُ وَالْقِيمَةُ (١) .
Di antara contohnya adalah perbedaan pendapat mereka mengenai sesuatu yang
berkaitan dengan hak syariat, seperti zakat dan
kafarat. Mayoritas fuqaha pada umumnya melarang mengganti
sesuatu yang wajib dikeluarkan dalam zakat dan kafarat dengan nilai harganya,
karena hak tersebut merupakan hak Allah Ta‘ala, dan Dia telah menetapkannya
berdasarkan sesuatu yang telah disebutkan dalam syariat. Oleh karena itu, tidak
boleh memindahkan kewajiban tersebut kepada sesuatu yang lain.
Sementara itu, ulama Hanafiyah membolehkan mengganti sesuatu yang
wajib dikeluarkan dalam zakat dan kafarat dengan nilai harganya,
karena menurut mereka, kewajiban tersebut berkaitan dengan hakikat
harta, yaitu sifat bernilai harta dan nilai harganya.
٣ -
وَفِي عُقُودِ الْمُعَاوَضَاتِ، كَالْبَيْعِ، اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي حُكْمِ
إِبْدَال الأَْثْمَانِ فَالْحَنَفِيَّةُ يُجِيزُونَ إِبْدَال الأَْثْمَانِ قَبْل
الْقَبْضِ؛ لأَِنَّهَا لاَ تَتَعَيَّنُ بِالتَّعْيِينِ، وَلأَِنَّ الْعَقْدَ لاَ
يَنْفَسِخُ بِهَلاَكِهَا، بِدَلِيل مَا رَوَاهُ ابْنُ عُمَرَ قَال: كُنَّا نَبِيعُ
الإِْبِل بِالْبَقِيعِ بِالدَّرَاهِمِ، فَنَأْخُذُ بَدَل الدَّرَاهِمِ
الدَّنَانِيرَ، وَنَبِيعُهَا بِالدَّنَانِيرِ فَنَأْخُذُ بَدَلَهَا الدَّرَاهِمَ،
فَسَأَلْنَا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ، فَقَال:
لاَ بَأْسَ إِذَا تَفَرَّقْتُمَا وَلَيْسَ بَيْنَكُمَا شَيْءٌ (٢) وَالْمُرَادُ
مِنَ الْحَدِيثِ الْعَيْنُ لاَ الدَّيْنُ، بَيْنَمَا يَقُول الشَّافِعِيُّ وَزُفَرُ
مِنَ الْحَنَفِيَّةِ: إِنْ كَانَ الثَّمَنُ مُتَعَيِّنًا، نَقْدًا أَوْ غَيْرَهُ،
فَلاَ يَجُوزُ التَّصَرُّفُ فِيهِ قَبْل الْقَبْضِ، وَإِنْ كَانَ فِي الذِّمَّةِ
جَازَ إِبْدَالُهُ قَبْل الْقَبْضِ. وَاسْتَدَلُّوا بِالْحَدِيثِ السَّابِقِ
أَيْضًا عَلَى أَنَّ إِبْدَال الثَّمَنِ غَيْرُ مُتَعَيِّنٍ بَل هُوَ فِي
الذِّمَّةِ. وَقَرِيبٌ مِنْ هَذَا رَأْيُ الْحَنَابِلَةِ وَالْمَالِكِيَّةِ.
3. Dalam akad-akad pertukaran (mu‘āwaḍāt),
seperti jual beli, para fuqaha berbeda pendapat mengenai hukum
mengganti alat pembayaran atau harga (tsaman).
Ulama Hanafiyah membolehkan mengganti harga sebelum
dilakukan serah terima, karena menurut mereka, harga tersebut tidak
menjadi tertentu hanya dengan penentuan, dan karena akad tidak
menjadi batal akibat musnahnya harga tersebut. Dalilnya adalah hadis
yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar, ia berkata:
“Kami dahulu menjual unta di Al-Baqī‘ dengan dirham, kemudian kami menerima
pengganti dirham tersebut berupa dinar. Kami juga menjualnya dengan dinar, lalu
kami menerima penggantinya berupa dirham. Kemudian kami bertanya kepada Nabi ﷺ tentang hal tersebut. Beliau bersabda:
‘Tidak mengapa, apabila kalian berdua berpisah dan tidak ada sesuatu pun yang
masih tersisa di antara kalian berdua.’”
Yang dimaksud dalam hadis tersebut adalah barang atau uang tertentu
(‘ain), bukan utang (dain).
Sementara itu, Imam Syafi‘i dan Zufar dari kalangan Hanafiyah
berpendapat: apabila harga telah ditentukan secara spesifik,
baik berupa uang tunai maupun selainnya, maka tidak boleh melakukan
tasharruf terhadapnya sebelum serah terima. Namun, apabila harga
tersebut masih menjadi tanggungan (utang dalam dzimmah), maka boleh
menggantinya sebelum serah terima.
Mereka juga berdalil dengan hadis sebelumnya bahwa harga yang tidak
ditentukan secara spesifik bukanlah sesuatu yang melekat pada barang tertentu,
melainkan merupakan kewajiban yang berada dalam tanggungan (dzimmah).
Pendapat yang mendekati pandangan ini adalah pendapat ulama
Hanabilah dan Malikiyah.
أَمَّا
الْمَبِيعُ فَعِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ لاَ يَجُوزُ إِبْدَال الْمَبِيعِ الْمَنْقُول
قَبْل قَبْضِهِ. وَفِي الْعَقَارِ خِلاَفٌ.
Adapun barang yang diperjualbelikan (mabī‘), menurut ulama Hanafiyah,
tidak boleh mengganti barang yang dapat dipindahkan sebelum
barang tersebut diterima. Adapun mengenai barang tidak bergerak (properti),
terdapat perbedaan pendapat.
وَعِنْدَ
الشَّافِعِيَّةِ لاَ يَجُوزُ إِبْدَال الْمَبِيعِ وَالثَّمَنِ الْمُعَيَّنِ قَبْل
الْقَبْضِ.
Menurut ulama Syafi‘iyah, tidak boleh mengganti
barang yang diperjualbelikan maupun harga yang telah ditentukan secara spesifik
sebelum dilakukan serah terima.
وَعِنْدَ
الْحَنَابِلَةِ يَجُوزُ التَّصَرُّفُ فِي الْمَبِيعِ قَبْل الْقَبْضِ لِمَا لاَ
يَحْتَاجُ إِلَى قَبْضٍ، أَمَّا مَا يَحْتَاجُ إِلَى قَبْضٍ فَلاَ يَجُوزُ
إِبْدَالُهُ قَبْل الْقَبْضِ.
Menurut ulama Hanabilah, boleh melakukan tasharruf terhadap
barang yang diperjualbelikan sebelum serah terima apabila barang tersebut tidak
memerlukan serah terima sebagai syarat untuk dapat ditasharrufkan.
Adapun sesuatu yang memerlukan serah terima, maka tidak boleh
menggantinya sebelum serah terima.
وَالْمَالِكِيَّةُ
يُجِيزُونَ التَّصَرُّفَ فِي الْبَيْعِ قَبْل الْقَبْضِ، إِلاَّ طَعَامَ
الْمُعَاوَضَةِ.
Sedangkan ulama Malikiyah membolehkan melakukan tasharruf
dalam jual beli sebelum serah terima, kecuali makanan yang menjadi
objek pertukaran.
وَكُل
مَا مَرَّ إِنَّمَا هُوَ فِي غَيْرِ الصَّرْفِ وَالسَّلَمِ وَفِي غَيْرِ
الرِّبَوِيَّاتِ، فَإِنَّهُ لاَ يَجُوزُ فِيهَا الإِْبْدَال. (١)
Semua pembahasan yang telah disebutkan di atas berlaku bukan dalam
akad ṣarf dan salam, serta bukan pula dalam transaksi barang-barang ribawi,
karena dalam transaksi-transaksi tersebut tidak diperbolehkan melakukan
ibdāl (penggantian).
وَقَدْ
يَكُونُ الإِْبْدَال وَاجِبًا، كَمَا إِذَا تَعَيَّبَتِ الدَّابَّةُ، أَوْ بَانَتْ
مُسْتَحَقَّةً، فِي إِجَارَةِ الذِّمَّةِ، فَلاَ تَنْفَسِخُ الإِْجَارَةُ، بَل
يَلْزَمُ الْمُؤَجِّرَ إِبْدَالُهَا. (٢)
Ibdāl terkadang juga menjadi wajib, seperti apabila hewan
yang disewakan mengalami cacat, atau ternyata hewan tersebut
terbukti merupakan milik orang lain yang berhak atasnya, dalam akad ijarah
atas tanggungan (ijārah al-dzimmah). Dalam keadaan demikian, akad
ijarah tidak menjadi batal, tetapi pihak yang
menyewakan wajib mengganti hewan tersebut.
وَقَدْ
يَكُونُ لِلإِْبْدَال أَحْوَالٌ وَشُرُوطٌ خَاصَّةٌ، كَمَا فِي الْوَقْفِ. (٣)
Ibdāl terkadang memiliki ketentuan dan syarat-syarat khusus,
sebagaimana yang berlaku dalam masalah wakaf.
وَهُوَ
أَحَدُ الشُّرُوطِ الْعَشَرَةِ الَّتِي اعْتَادَ الْوَاقِفُونَ ذِكْرَهَا فِي
حُجَجِ أَوْقَافِهِمْ. وَيَقْرِنُونَ الإِْبْدَال بِالاِسْتِبْدَال، مِمَّا جَعَل
الْمُوَثِّقِينَ يُفَرِّقُونَ بَيْنَهُمَا، فَيُطْلِقُونَ الإِْبْدَال عَلَى جَعْل
عَيْنٍ مَكَانَ أُخْرَى، وَالاِسْتِبْدَال عَلَى بَيْعِ عَيْنِ الْوَقْفِ
بِالنَّقْدِ.
Ibdāl merupakan salah satu dari sepuluh syarat yang biasa
dicantumkan oleh para pewakaf dalam dokumen-dokumen wakaf mereka.
Mereka biasanya menyandingkan istilah ibdāl dengan istibdāl,
sehingga para ahli dokumentasi hukum membedakan antara keduanya.
Mereka menggunakan istilah ibdāl untuk maksud menempatkan
suatu benda sebagai pengganti benda yang lain, sedangkan istibdāl
digunakan untuk maksud menjual benda wakaf dengan uang.
مَوَاطِنُ الْبَحْثِ:
Tempat-Tempat Pembahasan
٤ - تَأْتِي أَحْكَامُ الإِْبْدَال
وَالاِسْتِبْدَال عِنْدَ الْفُقَهَاءِ فِي مَسَائِل مُتَعَدِّدَةِ الْمَوَاطِنِ
مُفَصَّلَةٍ فِيهَا أَحْكَامُ كُل مَسْأَلَةٍ، جَوَازًا أَوْ مَنْعًا أَوْ
إِيجَابًا، وَمِنْ ذَلِكَ الزَّكَاةُ وَالأُْضْحِيَّةُ وَالْكَفَّارَةُ
وَالْبَيْعُ وَالشُّفْعَةُ وَالإِْجَارَةُ وَالْوَقْفُ وَغَيْرُ ذَلِكَ.
4. Hukum-hukum ibdāl dan istibdāl dibahas oleh para
fuqaha dalam berbagai permasalahan dan pada banyak bab fikih. Dalam setiap
permasalahan tersebut dijelaskan hukum-hukumnya secara terperinci, baik berupa kebolehan,
larangan, maupun kewajiban.
Di antara pembahasan tersebut adalah
zakat, kurban, kafarat, jual beli, syuf‘ah, ijarah, wakaf, dan berbagai
permasalahan lainnya.
Wallahu A’lam...
Baca juga:
إِبْدَال
Ibdāl
التَّعْرِيفُ:
Definisi:
١ - الإِْبْدَال لُغَةً: جَعْل شَيْءٍ
مَكَانَ شَيْءٍ آخَرَ، وَالاِسْتِبْدَال مِثْلُهُ، فَلاَ فَرْقَ عِنْدَ أَهْل
اللُّغَةِ بَيْنَ اللَّفْظَيْنِ فِي الْمَعْنَى (١) . وَكَذَلِكَ الأَْمْرُ عِنْدَ
الْفُقَهَاءِ، فَهُمْ يَسْتَعْمِلُونَ اللَّفْظَيْنِ أَحَدَهُمَا مَكَانَ الآْخَرِ
(٢) .
1. Ibdāl secara bahasa berarti menjadikan sesuatu
sebagai pengganti bagi sesuatu yang lain. Istibdāl memiliki makna
yang sama. Oleh karena itu, menurut para ahli bahasa, tidak ada perbedaan
makna antara kedua istilah tersebut.
Demikian pula halnya menurut para
fuqaha. Mereka menggunakan kedua istilah tersebut secara bergantian,
yakni menggunakan salah satunya untuk menggantikan istilah yang lainnya.
الْحُكْمُ الإِْجْمَالِيُّ:
Hukum Secara Umum
٢ - الإِْبْدَال أَوِ الاِسْتِبْدَال
نَوْعٌ مِنَ التَّصَرُّفَاتِ، الأَْصْل فِيهِ الْجَوَازُ إِذَا كَانَ صَادِرًا
مِمَّنْ هُوَ أَهْلٌ لِلتَّصَرُّفِ، فِيمَا يَجُوزُ لَهُ التَّصَرُّفُ فِيهِ،
إِلاَّ فِيمَا يُخَالِفُ الشَّرْعَ. (٣)
2. Ibdāl atau istibdāl merupakan salah satu
bentuk tindakan hukum (transaksi). Hukum asalnya adalah boleh,
apabila tindakan tersebut dilakukan oleh orang yang memiliki kecakapan untuk
melakukan tindakan hukum, terhadap sesuatu yang memang dibolehkan baginya
untuk ditasharufkan, kecuali apabila tindakan tersebut bertentangan
dengan syariat.
وَقَدْ
يَطْرَأُ عَلَى هَذَا الْحُكْمِ مَا يَجْعَل الْفُقَهَاءَ يَخْتَلِفُونَ فِيهِ
بَيْنَ الْجَوَازِ وَالْمَنْعِ وَالْوُجُوبِ.
Hukum tersebut terkadang mengalami keadaan tertentu yang menyebabkan para
fuqaha berbeda pendapat tentangnya, antara boleh, tidak boleh, dan
wajib.
وَمِنْ
ذَلِكَ مَثَلاً اخْتِلاَفُهُمْ فِيمَا يَتَعَلَّقُ بِهِ حَقٌّ شَرْعِيٌّ،
كَالزَّكَاةِ وَالْكَفَّارَةِ، فَجُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ غَالِبًا مَا يَمْنَعُونَ
إِبْدَال الْوَاجِبِ إِخْرَاجُهُ فِيهِمَا بِالْقِيمَةِ؛ لأَِنَّ الْحَقَّ لِلَّهِ
تَعَالَى، وَقَدْ عَلَّقَهُ عَلَى مَا نَصَّ عَلَيْهِ، فَلاَ يَجُوزُ نَقْل ذَلِكَ
إِلَى غَيْرِهِ، بَيْنَمَا يُجِيزُ الْحَنَفِيَّةُ إِبْدَال الْوَاجِبِ
إِخْرَاجُهُ فِيهَا بِالْقِيمَةِ، لِتَعَلُّقِ الْوُجُوبِ عِنْدَهُمْ بِمَعْنَى
الْمَال، وَهُوَ الْمَالِيَّةُ وَالْقِيمَةُ (١) .
Di antara contohnya adalah perbedaan pendapat mereka mengenai sesuatu yang
berkaitan dengan hak syariat, seperti zakat dan
kafarat. Mayoritas fuqaha pada umumnya melarang mengganti
sesuatu yang wajib dikeluarkan dalam zakat dan kafarat dengan nilai harganya,
karena hak tersebut merupakan hak Allah Ta‘ala, dan Dia telah menetapkannya
berdasarkan sesuatu yang telah disebutkan dalam syariat. Oleh karena itu, tidak
boleh memindahkan kewajiban tersebut kepada sesuatu yang lain.
Sementara itu, ulama Hanafiyah membolehkan mengganti sesuatu yang
wajib dikeluarkan dalam zakat dan kafarat dengan nilai harganya,
karena menurut mereka, kewajiban tersebut berkaitan dengan hakikat
harta, yaitu sifat bernilai harta dan nilai harganya.
٣ -
وَفِي عُقُودِ الْمُعَاوَضَاتِ، كَالْبَيْعِ، اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي حُكْمِ
إِبْدَال الأَْثْمَانِ فَالْحَنَفِيَّةُ يُجِيزُونَ إِبْدَال الأَْثْمَانِ قَبْل
الْقَبْضِ؛ لأَِنَّهَا لاَ تَتَعَيَّنُ بِالتَّعْيِينِ، وَلأَِنَّ الْعَقْدَ لاَ
يَنْفَسِخُ بِهَلاَكِهَا، بِدَلِيل مَا رَوَاهُ ابْنُ عُمَرَ قَال: كُنَّا نَبِيعُ
الإِْبِل بِالْبَقِيعِ بِالدَّرَاهِمِ، فَنَأْخُذُ بَدَل الدَّرَاهِمِ
الدَّنَانِيرَ، وَنَبِيعُهَا بِالدَّنَانِيرِ فَنَأْخُذُ بَدَلَهَا الدَّرَاهِمَ،
فَسَأَلْنَا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ، فَقَال:
لاَ بَأْسَ إِذَا تَفَرَّقْتُمَا وَلَيْسَ بَيْنَكُمَا شَيْءٌ (٢) وَالْمُرَادُ
مِنَ الْحَدِيثِ الْعَيْنُ لاَ الدَّيْنُ، بَيْنَمَا يَقُول الشَّافِعِيُّ وَزُفَرُ
مِنَ الْحَنَفِيَّةِ: إِنْ كَانَ الثَّمَنُ مُتَعَيِّنًا، نَقْدًا أَوْ غَيْرَهُ،
فَلاَ يَجُوزُ التَّصَرُّفُ فِيهِ قَبْل الْقَبْضِ، وَإِنْ كَانَ فِي الذِّمَّةِ
جَازَ إِبْدَالُهُ قَبْل الْقَبْضِ. وَاسْتَدَلُّوا بِالْحَدِيثِ السَّابِقِ
أَيْضًا عَلَى أَنَّ إِبْدَال الثَّمَنِ غَيْرُ مُتَعَيِّنٍ بَل هُوَ فِي
الذِّمَّةِ. وَقَرِيبٌ مِنْ هَذَا رَأْيُ الْحَنَابِلَةِ وَالْمَالِكِيَّةِ.
3. Dalam akad-akad pertukaran (mu‘āwaḍāt),
seperti jual beli, para fuqaha berbeda pendapat mengenai hukum
mengganti alat pembayaran atau harga (tsaman).
Ulama Hanafiyah membolehkan mengganti harga sebelum
dilakukan serah terima, karena menurut mereka, harga tersebut tidak
menjadi tertentu hanya dengan penentuan, dan karena akad tidak
menjadi batal akibat musnahnya harga tersebut. Dalilnya adalah hadis
yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar, ia berkata:
“Kami dahulu menjual unta di Al-Baqī‘ dengan dirham, kemudian kami menerima
pengganti dirham tersebut berupa dinar. Kami juga menjualnya dengan dinar, lalu
kami menerima penggantinya berupa dirham. Kemudian kami bertanya kepada Nabi ﷺ tentang hal tersebut. Beliau bersabda:
‘Tidak mengapa, apabila kalian berdua berpisah dan tidak ada sesuatu pun yang
masih tersisa di antara kalian berdua.’”
Yang dimaksud dalam hadis tersebut adalah barang atau uang tertentu
(‘ain), bukan utang (dain).
Sementara itu, Imam Syafi‘i dan Zufar dari kalangan Hanafiyah
berpendapat: apabila harga telah ditentukan secara spesifik,
baik berupa uang tunai maupun selainnya, maka tidak boleh melakukan
tasharruf terhadapnya sebelum serah terima. Namun, apabila harga
tersebut masih menjadi tanggungan (utang dalam dzimmah), maka boleh
menggantinya sebelum serah terima.
Mereka juga berdalil dengan hadis sebelumnya bahwa harga yang tidak
ditentukan secara spesifik bukanlah sesuatu yang melekat pada barang tertentu,
melainkan merupakan kewajiban yang berada dalam tanggungan (dzimmah).
Pendapat yang mendekati pandangan ini adalah pendapat ulama
Hanabilah dan Malikiyah.
أَمَّا
الْمَبِيعُ فَعِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ لاَ يَجُوزُ إِبْدَال الْمَبِيعِ الْمَنْقُول
قَبْل قَبْضِهِ. وَفِي الْعَقَارِ خِلاَفٌ.
Adapun barang yang diperjualbelikan (mabī‘), menurut ulama Hanafiyah,
tidak boleh mengganti barang yang dapat dipindahkan sebelum
barang tersebut diterima. Adapun mengenai barang tidak bergerak (properti),
terdapat perbedaan pendapat.
وَعِنْدَ
الشَّافِعِيَّةِ لاَ يَجُوزُ إِبْدَال الْمَبِيعِ وَالثَّمَنِ الْمُعَيَّنِ قَبْل
الْقَبْضِ.
Menurut ulama Syafi‘iyah, tidak boleh mengganti
barang yang diperjualbelikan maupun harga yang telah ditentukan secara spesifik
sebelum dilakukan serah terima.
وَعِنْدَ
الْحَنَابِلَةِ يَجُوزُ التَّصَرُّفُ فِي الْمَبِيعِ قَبْل الْقَبْضِ لِمَا لاَ
يَحْتَاجُ إِلَى قَبْضٍ، أَمَّا مَا يَحْتَاجُ إِلَى قَبْضٍ فَلاَ يَجُوزُ
إِبْدَالُهُ قَبْل الْقَبْضِ.
Menurut ulama Hanabilah, boleh melakukan tasharruf terhadap
barang yang diperjualbelikan sebelum serah terima apabila barang tersebut tidak
memerlukan serah terima sebagai syarat untuk dapat ditasharrufkan.
Adapun sesuatu yang memerlukan serah terima, maka tidak boleh
menggantinya sebelum serah terima.
وَالْمَالِكِيَّةُ
يُجِيزُونَ التَّصَرُّفَ فِي الْبَيْعِ قَبْل الْقَبْضِ، إِلاَّ طَعَامَ
الْمُعَاوَضَةِ.
Sedangkan ulama Malikiyah membolehkan melakukan tasharruf
dalam jual beli sebelum serah terima, kecuali makanan yang menjadi
objek pertukaran.
وَكُل
مَا مَرَّ إِنَّمَا هُوَ فِي غَيْرِ الصَّرْفِ وَالسَّلَمِ وَفِي غَيْرِ
الرِّبَوِيَّاتِ، فَإِنَّهُ لاَ يَجُوزُ فِيهَا الإِْبْدَال. (١)
Semua pembahasan yang telah disebutkan di atas berlaku bukan dalam
akad ṣarf dan salam, serta bukan pula dalam transaksi barang-barang ribawi,
karena dalam transaksi-transaksi tersebut tidak diperbolehkan melakukan
ibdāl (penggantian).
وَقَدْ
يَكُونُ الإِْبْدَال وَاجِبًا، كَمَا إِذَا تَعَيَّبَتِ الدَّابَّةُ، أَوْ بَانَتْ
مُسْتَحَقَّةً، فِي إِجَارَةِ الذِّمَّةِ، فَلاَ تَنْفَسِخُ الإِْجَارَةُ، بَل
يَلْزَمُ الْمُؤَجِّرَ إِبْدَالُهَا. (٢)
Ibdāl terkadang juga menjadi wajib, seperti apabila hewan
yang disewakan mengalami cacat, atau ternyata hewan tersebut
terbukti merupakan milik orang lain yang berhak atasnya, dalam akad ijarah
atas tanggungan (ijārah al-dzimmah). Dalam keadaan demikian, akad
ijarah tidak menjadi batal, tetapi pihak yang
menyewakan wajib mengganti hewan tersebut.
وَقَدْ
يَكُونُ لِلإِْبْدَال أَحْوَالٌ وَشُرُوطٌ خَاصَّةٌ، كَمَا فِي الْوَقْفِ. (٣)
Ibdāl terkadang memiliki ketentuan dan syarat-syarat khusus,
sebagaimana yang berlaku dalam masalah wakaf.
وَهُوَ
أَحَدُ الشُّرُوطِ الْعَشَرَةِ الَّتِي اعْتَادَ الْوَاقِفُونَ ذِكْرَهَا فِي
حُجَجِ أَوْقَافِهِمْ. وَيَقْرِنُونَ الإِْبْدَال بِالاِسْتِبْدَال، مِمَّا جَعَل
الْمُوَثِّقِينَ يُفَرِّقُونَ بَيْنَهُمَا، فَيُطْلِقُونَ الإِْبْدَال عَلَى جَعْل
عَيْنٍ مَكَانَ أُخْرَى، وَالاِسْتِبْدَال عَلَى بَيْعِ عَيْنِ الْوَقْفِ
بِالنَّقْدِ.
Ibdāl merupakan salah satu dari sepuluh syarat yang biasa
dicantumkan oleh para pewakaf dalam dokumen-dokumen wakaf mereka.
Mereka biasanya menyandingkan istilah ibdāl dengan istibdāl,
sehingga para ahli dokumentasi hukum membedakan antara keduanya.
Mereka menggunakan istilah ibdāl untuk maksud menempatkan
suatu benda sebagai pengganti benda yang lain, sedangkan istibdāl
digunakan untuk maksud menjual benda wakaf dengan uang.
مَوَاطِنُ الْبَحْثِ:
Tempat-Tempat Pembahasan
٤ - تَأْتِي أَحْكَامُ الإِْبْدَال
وَالاِسْتِبْدَال عِنْدَ الْفُقَهَاءِ فِي مَسَائِل مُتَعَدِّدَةِ الْمَوَاطِنِ
مُفَصَّلَةٍ فِيهَا أَحْكَامُ كُل مَسْأَلَةٍ، جَوَازًا أَوْ مَنْعًا أَوْ
إِيجَابًا، وَمِنْ ذَلِكَ الزَّكَاةُ وَالأُْضْحِيَّةُ وَالْكَفَّارَةُ
وَالْبَيْعُ وَالشُّفْعَةُ وَالإِْجَارَةُ وَالْوَقْفُ وَغَيْرُ ذَلِكَ.
4. Hukum-hukum ibdāl dan istibdāl dibahas oleh para
fuqaha dalam berbagai permasalahan dan pada banyak bab fikih. Dalam setiap
permasalahan tersebut dijelaskan hukum-hukumnya secara terperinci, baik berupa kebolehan,
larangan, maupun kewajiban.
Di antara pembahasan tersebut adalah
zakat, kurban, kafarat, jual beli, syuf‘ah, ijarah, wakaf, dan berbagai
permasalahan lainnya.
Wallahu A’lam...
Baca juga:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar