Pendahuluan
Sahabat memiliki pengaruh yang
sangat besar terhadap kehidupan seseorang. Banyak orang menjadi lebih baik
karena berada di lingkungan yang saleh, sementara tidak sedikit yang terjerumus
ke dalam keburukan akibat pergaulan yang salah. Karena itu, Islam memberikan
perhatian besar terhadap pemilihan teman dan sahabat.
Dalam bagian Ihya' Ulumuddin
ini, Imam Al-Ghazali mengutip beberapa riwayat tentang wahyu Allah kepada Nabi
Musa dan Nabi Dawud `alaihimas salam. Riwayat-riwayat tersebut mengajarkan
pentingnya memilih sahabat yang membantu seseorang mendekat kepada Allah,
sekaligus tetap berakhlak baik kepada seluruh manusia.
Sumber
Kitab : Ihya' 'Ulumuddin (إحياء
علوم الدين)b Juz : 2
Pengarang : Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali (450–505 H),
bergelar Hujjatul Islam, ulama besar dalam bidang akhlak, tasawuf,
fikih, dan penyucian jiwa.
Tema : Memilih sahabat saleh, menjaga lingkungan pergaulan, serta berinteraksi
dengan manusia menggunakan akhlak yang mulia.
Teks Arab
وروي في الأخبار السالفة إن الله عز وجل أوحى إلى موسى عليه
السلام .
يا ابن عمران كن يقظانا وارتد لنفسك إخوانا وكل خدن وصاحب
لا يوازرك على مسرتي فهو لك عدو وأوحى الله تعالى إلى داود عليه السلام فقال يا
داود ما لي أراك منتبذا وحيدا قال : إلهي قليت الخلق من أجلك فقال : يا داود كن
يقظانا وارتد لنفسك أخدانا وكل ، خدن لا يوافقك على مسرتي فلا تصاحبه ، فإنه لك
عدو يقسي قلبك ، ويباعدك مني .
وفي أخبار داود عليه السلام أنه قال : يا رب كيف لي أن
يحبني الناس كلهم وأسلم فيما بيني وبينك ؟ قال : خالق الناس بأخلاقهم وأحسن فيما
بيني وبينك .
وفي بعضها :خالق أهل الدنيا بأخلاق الدنيا ، وخالق أهل
الآخرة بأخلاق الآخرة .
Terjemahan Lengkap
Diriwayatkan
dalam kitab-kitab terdahulu bahwa Allah Azza wa Jalla mewahyukan kepada Nabi
Musa `alaihis salam:
"Wahai putra Imran, hendaklah
engkau selalu waspada dan pilihlah saudara-saudara yang baik untuk dirimu.
Setiap teman dekat dan sahabat yang tidak membantumu dalam meraih keridhaan-Ku,
maka ia adalah musuh bagimu."
Allah Ta'ala juga mewahyukan kepada
Nabi Dawud `alaihis salam:
"Wahai Dawud, mengapa Aku
melihatmu menyendiri?"
Dawud menjawab:
"Ya Tuhanku, aku menjauh dari
manusia demi mencari ridha-Mu."
Allah berfirman:
"Wahai Dawud, tetaplah waspada
dan carilah sahabat-sahabat yang baik. Setiap sahabat yang tidak sejalan
denganmu dalam mencari keridhaan-Ku, maka janganlah engkau menjadikannya teman
dekat. Sesungguhnya ia adalah musuh bagimu, karena ia akan mengeraskan hatimu
dan menjauhkanmu dari-Ku."
Dalam riwayat lain tentang Nabi
Dawud `alaihis salam disebutkan bahwa beliau berdoa:
"Ya Tuhanku, bagaimana agar
semua manusia mencintaiku, sementara hubunganku dengan-Mu tetap baik?"
Allah berfirman:
"Bergaullah dengan manusia
menggunakan akhlak yang baik, dan perbaikilah hubunganmu dengan-Ku."
Dalam riwayat lain disebutkan:
"Perlakukanlah penduduk dunia
dengan akhlak yang sesuai dalam urusan dunia mereka, dan perlakukanlah para
pencari akhirat dengan akhlak yang mengantarkan kepada kehidupan akhirat."
Penjelasan
Imam Al-Ghazali menekankan bahwa
seorang muslim memerlukan sahabat, tetapi bukan sembarang sahabat. Sahabat yang
sejati adalah mereka yang membantu kita semakin dekat kepada Allah,
mengingatkan ketika lalai, menguatkan ketika lemah, dan mendorong untuk tetap
istiqamah.
Sebaliknya, teman yang terus-menerus
mengajak kepada kelalaian, maksiat, atau menjauhkan dari ibadah, meskipun
tampak baik di mata manusia, pada hakikatnya menjadi sebab kerusakan hati.
Karena itu, Allah mengingatkan para nabi agar berhati-hati dalam memilih teman
dekat.
Namun demikian, Islam tidak
mengajarkan untuk memutus hubungan dengan masyarakat secara keseluruhan. Nabi
Dawud `alaihis salam justru diperintahkan agar tetap bergaul dengan manusia
menggunakan akhlak yang baik. Artinya, seorang muslim tetap ramah, santun,
jujur, dan penuh kasih sayang kepada semua orang, meskipun ia memilih sahabat
dekat yang benar-benar membantunya dalam ketaatan.
Artikel Pengembangan
Mengapa Lingkungan Sangat Berpengaruh?
Hati manusia mudah dipengaruhi oleh
kebiasaan orang-orang di sekitarnya. Percakapan, kebiasaan, dan nilai yang
sering dilihat setiap hari akan membentuk cara berpikir dan perilaku seseorang.
Karena itu, para ulama selalu
mengingatkan agar memilih lingkungan yang baik. Sahabat yang saleh akan:
- mengingatkan waktu salat,
- mengajak menghadiri majelis ilmu,
- menasihati ketika berbuat salah,
- serta memberi semangat untuk terus memperbaiki diri.
Sebaliknya, lingkungan yang buruk
dapat membuat kemaksiatan terasa biasa, ibadah terasa berat, dan hati perlahan
menjadi keras.
Akhlak
kepada Semua, Kedekatan kepada Orang Saleh
Riwayat tentang Nabi Dawud `alaihis
salam mengajarkan keseimbangan yang indah. Seorang muslim tidak boleh bersikap
kasar kepada masyarakat hanya karena mereka berbeda tingkat keimanannya. Ia
tetap berbuat baik, menghormati, menolong, dan bersikap adil kepada semua
orang.
Akan tetapi, ketika memilih teman
dekat yang akan memengaruhi hati dan kehidupan sehari-hari, Islam menganjurkan
agar memilih orang-orang yang membawa kepada keridhaan Allah.
Hubungan
dengan Allah Menjadi Dasar Hubungan dengan Manusia
Allah memerintahkan Nabi Dawud agar
memperbaiki hubungan dengan-Nya terlebih dahulu. Ketika hubungan seorang hamba
dengan Allah baik, akhlaknya kepada manusia pun akan menjadi baik. Ia tidak
berbuat baik karena ingin dipuji, tetapi karena mengharap ridha Allah.
Penjelasan
Pesan Imam Al-Ghazali dalam bagian
ini adalah menjaga keseimbangan antara husn al-mu'asyarah (bergaul
dengan akhlak yang baik kepada semua manusia) dan ḥusn al-ikhtiyār
(memilih sahabat yang baik). Seorang muslim tidak mengasingkan diri dari
masyarakat, tetapi juga tidak membiarkan dirinya dipengaruhi oleh lingkungan
yang menjauhkan dari Allah.
Contoh
Seorang pegawai bekerja bersama
rekan-rekan yang memiliki kebiasaan berbeda. Ia tetap bersikap sopan, jujur,
membantu pekerjaan mereka, dan menjaga hubungan profesional. Namun, untuk teman
dekat yang sering diajak berdiskusi dan menghabiskan waktu, ia memilih rekan
yang rajin salat, menjaga lisan, dan senang menghadiri kajian.
Contoh lain, seorang pelajar
berteman dengan semua teman sekelas tanpa membedakan status sosial. Akan
tetapi, ia lebih sering belajar dan berkumpul dengan teman-teman yang rajin
belajar, berakhlak baik, serta saling mengingatkan dalam ibadah sehingga
semangatnya terus terjaga.
Kesimpulan
Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa
memilih sahabat merupakan bagian dari menjaga agama dan hati. Sahabat yang baik
akan membawa seseorang semakin dekat kepada Allah, sedangkan teman yang buruk
dapat mengeraskan hati dan menjauhkan dari jalan kebenaran. Meskipun demikian,
seorang muslim tetap diperintahkan bergaul dengan seluruh manusia menggunakan
akhlak yang mulia, penuh kelembutan, dan keadilan.
Hikmah
- Sahabat yang baik adalah nikmat besar dari Allah.
- Pilihlah teman yang membantu meraih ridha Allah.
- Lingkungan sangat memengaruhi kualitas iman dan akhlak.
- Bergaullah dengan semua orang menggunakan akhlak yang
mulia.
- Hubungan yang baik dengan Allah akan melahirkan
hubungan yang baik dengan manusia.
- Menjaga hati lebih mudah dilakukan dalam lingkungan
yang saleh.
- Persahabatan yang benar menjadi bekal menuju
kebahagiaan dunia dan akhirat.
Penutup
Nasihat yang dinukil Imam Al-Ghazali
dari wahyu kepada Nabi Musa dan Nabi Dawud `alaihimas salam tetap relevan
sepanjang zaman. Di tengah banyaknya pengaruh dari lingkungan dan media sosial,
setiap muslim perlu bijak memilih sahabat yang mampu menguatkan iman dan
akhlaknya. Pada saat yang sama, ia tetap dituntut menampilkan kelembutan,
kejujuran, dan kasih sayang kepada seluruh manusia. Dengan demikian, hubungan
sosial menjadi jalan untuk mendekat kepada Allah, bukan sebaliknya menjauh
dari-Nya.
Baca Juga :
Keutamaan Ukhuwah
Islamiyah: Terjemah Ihya Ulumuddin tentang Persaudaraan karena Allah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar