Wara’ dalam Membeli Barang Syubhat: Menimbang Dugaan dan Ketenangan Hati

مسالة:

لو نهب متاع مخصوص فصادف من ذلك النوع متاعا في يد إنسان وأراد أن يشتريه واحتمل أن لا يكون من المغصوب فإن كان ذلك الشخص ممن عرفه بالصلاح جاز الشراء وكان تركه من الورع وإن كان الرجل مجهولا لا يعرف منه شيئا فإن كان يكثر نوع ذلك المتاع من غير المغصوب فله أن يشتري وإن كان لا يوجد ذلك المتاع في تلك البقعة الا نادرا وإنما كثر بسبب الغصب فليس بدل على الحل الا اليد وقد عارضته علامة خاصة من شكل المتاع ونوعه فالامتناع عن شرائه من الورع المهم ولكن الوجوب فيه نظر فإن العلامة متعارضة ولست أقدر على أن أحكم فيه بحكم إلا أردة إلى قلب المستفتي لينظر ما الأقوى في نفسه فإن كان الأقوى أنه مغصوب لزمه تركه وإلا حل له شراؤه وأكثر هذه الوقائع يلتبس الأمر فيها فهي من المتشابهات التي لا يعرفها كثير الناس فمن توقاها فقد استبرأ لعرضه ودينه ومن اقتحمها فقد حام حول الحمى وخاطر بنفسه

Masalah:

Apabila suatu barang tertentu dirampas (digasb atau dijarah), lalu seseorang menemukan barang sejenis berada di tangan orang lain dan ia ingin membelinya, sementara ada kemungkinan barang itu bukan hasil rampasan, maka hukumnya dirinci sebagai berikut:

Jika orang yang memegang barang itu dikenal sebagai orang saleh dan baik, maka boleh membeli barang tersebut. Adapun meninggalkannya termasuk sikap wara’.

Namun jika orang itu tidak dikenal keadaannya sama sekali, maka:

  • Jika barang semacam itu memang banyak terdapat selain dari hasil rampasan, maka ia boleh membelinya.
  • Tetapi jika barang itu jarang ditemukan di daerah tersebut, dan keberadaannya menjadi banyak justru karena adanya perampasan, maka satu-satunya tanda kehalalan hanyalah karena barang itu berada di tangannya. Sementara itu ada tanda khusus lain dari bentuk dan jenis barang yang menunjukkan kemungkinan barang tersebut hasil rampasan.

Dalam keadaan seperti ini, meninggalkan pembeliannya termasuk wara’ yang penting. Akan tetapi mengatakan haram secara pasti masih perlu dipertimbangkan, karena tanda-tandanya saling bertentangan.

Aku tidak mampu menetapkan hukum pasti dalam masalah seperti ini kecuali mengembalikannya kepada hati orang yang meminta fatwa. Hendaknya ia melihat mana yang lebih kuat dalam hatinya.

Jika yang lebih kuat dalam hatinya adalah dugaan bahwa barang itu hasil rampasan, maka wajib baginya meninggalkannya. Tetapi jika tidak demikian, maka halal baginya untuk membelinya.

Kebanyakan kejadian seperti ini memang samar dan bercampur, sehingga termasuk perkara syubhat yang tidak diketahui hukumnya oleh banyak orang.

Barang siapa menjaga diri darinya, maka ia telah menjaga kehormatan dan agamanya. Dan barang siapa menerjangnya, maka ia telah berada di sekitar wilayah terlarang dan mempertaruhkan dirinya sendiri.

Penjelasan

Pembahasan ini menerangkan tentang hukum membeli barang yang dicurigai berasal dari hasil kezaliman, rampasan, atau barang haram.

Penulis menjelaskan bahwa tidak semua kecurigaan otomatis menjadikan barang itu haram. Namun seorang Muslim juga tidak boleh ceroboh.

Karena itu, syariat melihat:

  • keadaan penjual,
  • keadaan barang,
  • kebiasaan masyarakat,
  • dan kecenderungan hati terhadap dugaan yang ada.

Inti Pembahasan

1. Jika Penjual Dikenal Saleh

Apabila orang yang menjual dikenal amanah dan baik agamanya, maka hukum asal transaksi adalah boleh.

Walaupun meninggalkan transaksi itu demi kehati-hatian tetap termasuk wara’.

2. Jika Penjual Tidak Dikenal

Maka dilihat keadaan barangnya:

a. Barang itu umum dan banyak dijual

Contohnya:

  • beras,
  • pakaian biasa,
  • sandal,
  • motor umum.

Maka boleh membeli karena kemungkinan halal masih besar.

b. Barang itu langka dan tersebar karena hasil rampasan

Misalnya:

  • barang bantuan yang dijarah,
  • barang gudang curian,
  • atau barang milik korban kerusuhan.

Maka kecurigaan menjadi lebih kuat.

Dalam keadaan seperti ini, meninggalkan transaksi lebih utama dan lebih selamat.

3. Hati Menjadi Pertimbangan

Karena tanda-tandanya bercampur:

  • ada tanda halal,
  • ada tanda haram,

maka penulis mengembalikannya kepada hati orang yang bertanya.

Jika hati lebih yakin bahwa barang itu haram atau hasil kezaliman, maka wajib meninggalkannya.

Contoh

1. Contoh Barang Bantuan Dijarah

Terjadi kerusuhan dan banyak barang bantuan hilang.

Kemudian seseorang menjual banyak kardus bantuan dengan harga murah.

  • Penjualnya tidak dikenal.
  • Barang itu sebelumnya sangat jarang dijual bebas.
  • Setelah penjarahan, barang itu tiba-tiba banyak beredar.

Maka membeli barang itu termasuk perkara syubhat yang kuat. Meninggalkannya lebih selamat.

2. Contoh HP Murah Tanpa Kejelasan

Seseorang menjual HP baru dengan harga sangat murah.

Ketika ditanya:

  • jawabannya tidak jelas,
  • dus dan surat hilang,
  • dan barang serupa sedang banyak hilang karena pencurian.

Maka hati biasanya condong kepada dugaan haram, sehingga wajib meninggalkannya.

3. Contoh Barang Umum di Pasar

Seseorang membeli beras dari pedagang yang tidak dikenal.

Karena:

  • beras memang umum dijual,
  • tidak ada tanda khusus hasil curian,
  • dan hukum asal muamalah adalah halal,

maka membeli beras tersebut diperbolehkan.

Kesimpulan

  • Tidak setiap barang yang dicurigai otomatis haram dibeli.
  • Keadaan penjual dan keadaan barang harus diperhatikan.
  • Jika tanda keharaman lebih kuat dalam hati, maka wajib meninggalkannya.
  • Jika tanda halal lebih kuat atau tidak ada dugaan kuat terhadap keharaman, maka boleh membelinya.
  • Perkara seperti ini termasuk wilayah syubhat yang membutuhkan wara’ dan kehati-hatian.
  • Orang yang menjaga diri dari perkara syubhat berarti telah menjaga agama dan kehormatannya.

Wallahu A’lam...

Sumber:

Ihya’Ulumiddin al-Ghazaly

Maktabah Syamilah

Baca juga:

Iman Bertambah dan Berkurang: Pengaruh Amal terhadap Kekuatan Keyakinan Hati

MenimbangKesaksian yang Bertentangan dalam Perkara Syubhat dan Wara’

Menelusuri Asal Harta: Batas Wara’ dan Larangan Berlebihan dalam Curiga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

Wara’ dalam Membeli Barang Syubhat: Menimbang Dugaan dan Ketenangan Hati

مسالة: لو نهب متاع مخصوص فصادف من ذلك النوع متاعا في يد إنسان وأراد أن يشتريه واحتمل أن لا يكون من المغصوب فإن كان ذلك الشخص ممن عرفه با...