Pendalaman Al-Fatihah Bab 4: Makna, Qirā’āt, I‘rāb, Keutamaan Orang yang Memuji Allah dan 36 Pembahasan Penting. Bagian: 04

الثامنة- قوله تعالى : {الْحَمْدُ لِلَّهِ} أي مالكهم ، وكل من ملك شيئا فهو ربه ، فالرب : المالك.

وفي الصحاح : والرب اسم من أسماء الله تعالى ولا يقال في غيره إلا بالإضافة ، وقد قالوه في الجاهلية للملك قال الحارث بن حِلِّزة :

وهو الرب والشهيد على يوم  #الحيارين والبلاء بلاء

Masalah kedelapan:

Allah berfirman:

“Al-ḥamdu lillāh” berarti “Allah adalah pemilik mereka (semua makhluk)”.

Setiap orang yang memiliki sesuatu adalah rabb-nya, sehingga al-Rabb berarti pemilik yang sebenar-benarnya.

Dalam kitab-kitab sahih disebutkan:

“Al-Rabb” adalah salah satu nama Allah, dan tidak boleh digunakan untuk selain-Nya kecuali dengan tambahan keterangan (misalnya “pemilik sesuatu”).

Pada masa Jahiliyah pun, mereka pernah menggunakan kata rabb untuk raja atau penguasa. Sebagaimana yang dikatakan Al-Hārith bin Hillizah:

Dan dia adalah Rabb dan Saksi pada hari,

penuh kebingungan dan cobaan adalah cobaan.”

والرب : السيد : ومن قوله تعالى : {اذْكُرْنِي عِنْدَ رَبِّكَ} [يوسف : 42].

وفي الحديث : "أن تلد الأمة ربتها" أي سيدتها وقد بيناه في كتاب "التذكرة".

والرب : المصلح والمدبر والجابر والقائم.

Al-Rabb berarti Tuan atau Penguasa. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:

“Ingatlah aku di sisi Rabb-mu” [Yusuf : 42].

Dalam hadits disebutkan:

“Bahwa seorang budak perempuan melahirkan rabbataha (tuan atau majikannya).” — hal ini telah dijelaskan dalam kitab At-Tadhkirah.

Selain itu, Al-Rabb juga berarti:

  • Al-Muṣliḥ → yang memperbaiki,
  • Al-Mudabbir → yang mengatur dan mengurus,
  • Al-Jābir → yang menebus dan menyembuhkan,
  • Al-Qā’im → yang menegakkan dan memelihara.

قال الهروي وغيره : يقال لمن قام بإصلاح شيء وإتمامه : قد ربه يربه فهو رب له وراب ، ومنه سمي الربانيون لقيامهم بالكتب.

وفي الحديث : "هل لك من نعمة تربُّها عليه" أي تقوم بها وتصلحها. والرب : المعبود

ومنه قول الشاعر :

أربٌّ يبول الثعلبان برأسه # لقد ذل من بالت عليه الثعالب

Al-Harawi dan lain-lain berkata:\

Dikatakan tentang orang yang menegakkan atau memperbaiki sesuatu: “Qad rabbahu, yarabbuhu” — artinya ia menjadi rabb bagi hal itu, dan hal itu juga menjadi rāb baginya. Dari sini, orang-orang yang mendalami dan menegakkan kitab-kitab disebut al-Rabbāniyūn (orang yang rabbani).

Dalam hadits disebutkan:

“Apakah engkau memiliki nikmat yang tarrubuhā ‘alayhi?” — maksudnya: engkau menegakkan dan memperbaikinya.

Selain itu, al-Rabb juga berarti yang disembah (al-ma‘būd).

Contoh dari penyair Arab:

Seorang Arabb kencing dengan kepalanya,
sungguh ia telah direndahkan oleh para rubah yang memanjakan kepalanya

ويقال على التكثير : رباه ورببه وربته ، حكاه النحاس. وفي الصحاح : ورب فلان ولده يربه ربا ورببه وترببه بمعنىً ، أي رباه. والمربوب : المربى.

Dikatakan juga untuk makna menambah atau memperbanyak:

“rabbāh, rabbabahu, rabbatahu” — hal ini diriwayatkan oleh Al-Nahhās.

Dalam kitab-kitab sahih disebutkan:

“Wa-rabba fulān waladahū, yurabbuhu, rabbabahu, wa-tarrabbabahu” — semuanya memiliki arti sama, yaitu dia membesarkan atau memelihara anak itu.

Dan al-marbūb berarti yang dibesarkan atau yang dipelihara dengan baik.

التاسعة- قال بعض العلماء : إن هذا الاسم هو اسم الله الأعظم لكثرة دعوة الداعين به ، وتأمل ذلك في القرآن كما في آخر "آل عمران" وسورة "إبراهيم" وغيرهما ، ولما يشعر به هذا الوصف من الصلاة بين الرب والمربوب مع ما يتضمنه من العطف والرحمة والافتقار في كل حال.

Masalah kesembilan:

Beberapa ulama berkata:

Nama ini (Al-Rabb) adalah salah satu Asma Allah Al_A’dzam (Nama Allah yang Agung) karena sering dipanjatkan oleh para pemohon dalam doa.

Perhatikan hal ini dalam Al-Qur’an, misalnya pada akhir surah Āl ‘Imrān, surah Ibrāhīm, dan lain-lain.

Dan karena nama ini mengandung makna hubungan antara al-Rabb dan al-marbūb (yang dipelihara), serta mencakup kasih sayang, rahmat, dan kebutuhan yang terus-menerus dalam segala keadaan.

واختلف في اشتقاقه فقيل : إنه مشتق من التربية ، فالله سبحانه وتعالى مدبر لخلقه ومربيهم ومنه قوله تعالى : {وَرَبَائِبُكُمُ اللاَّتِي فِي حُجُورِكُمْ} [النساء : 23].

فسمى بنت الزوجة ربيبة لتربية الزوج لها.

فعلى أنه مدبر لخلقه ومربيهم يكون صفة فعل ، وعلى أن الرب بمعنى المالك والسيد يكون صفة ذات.

Telah terjadi perbedaan pendapat mengenai asal-usul kata rabb.

Dikatakan:

Kata ini berasal dari tarbiyah (pendidikan atau pemeliharaan), karena Allah سبحانه adalah al-Mudabbir (yang mengatur) dan al-Murabbī (yang memelihara) makhluk-Nya. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:

{وَرَبَائِبُكُمُ اللاَّتِي فِي حُجُورِكُمْ}

“Dan anak-anak tiri kalian yang ada dalam pangkuan kalian” [An-Nisā’ : 23].

Seorang anak perempuan dari istri disebut rabībah karena suami yang memeliharanya.

  • Jika dimaknai bahwa Allah adalah yang mengatur dan memelihara makhluk-Nya, maka rabb adalah sifat perbuatan (ṣifat fi‘l).
  • Jika dimaknai rabb sebagai pemilik dan penguasa, maka itu adalah sifat zat (ṣifat dhāt).

العاشرة- متى أدخلت الألف واللام على "رب" اختص الله تعالى به ، لأنها للعهد وإن حذفنا منه صار مشتركا بين الله وبين عباده ، فيقال : الله رب العباد وزيد رب الدار فالله سبحانه رب الأرباب يملك المالك والمملوك ، وهو خالق ذلك ورازقه وكل رب سواه غير خالق ولا رازق ، وكل مملوك فمُمَلَّك بعد أن لم يكن ، ومنتزع ذلك من يده وإنما يملك شيئا دون شيء وصفة الله تعالى مخالفة لهذه المعاني فهذا الفرق بين صفة الخالق والمخلوقين.

Masalah kesepuluh:

Ketika huruf alif-lām dimasukkan pada kata “Rabb” → menjadi ar-Rabb, itu khusus bagi Allah Ta‘ala, karena alif-lām menunjukkan kekhususan dan keagungan. Jika huruf itu dihilangkan, kata rabb bisa berlaku bagi Allah maupun hamba-Nya.

Misalnya:

  • Allāh rabbul-‘ibād → Allah adalah Rabb (Penguasa/Pemelihara) para hamba.
  • Zaid rabbud-dār → Zaid adalah pemilik rumah.

Maka Allah سبحانه adalah Rabb al-arbāb (Penguasa para penguasa), yang memiliki al-mālik (pemilik) dan memiliki al-mamlook (yang dimiliki). Dia adalah pencipta segala sesuatu dan Pemberi rezeki.

Sedangkan setiap penguasa selain Allah:

  • Bukan pencipta, bukan pemberi rezeki,
  • Apa yang dimilikinya hanyalah milik sementara yang bisa diambil atau hilang,
  • Segala makhluk yang dimiliki tetap awalnya tidak ada, dan menjadi dimiliki karena kehendak Allah.

Ini menunjukkan perbedaan antara sifat pencipta Allah dan sifat makhluk: Allah memiliki hakikat yang mutlak, sedangkan makhluk hanya memiliki kuasa terbatas.

الحادية عشرة- قوله تعالى : {الْعَالَمِينَ} اختلف أهل التأويل في "العالمين" اختلافا كثيراً ، فقال قتادة : العالمون جمع عالم وهو كل موجود سوى الله تعالى ولا واحد له من لفظه مثل رهط وقوم.

Masalah kesebelas:

Allah berfirman:

“Al-‘ālamīn” (العالمين).

Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang makna al-‘ālamīn.

Menurut Qatadah:

“Al-‘ālamīn” adalah jamak dari ‘ālam (alam), yang mencakup setiap yang ada selain Allah سبحانه. Tidak ada satu pun dari makhluk yang disebut ‘ālam secara tunggal, seperti halnya kata raht atau qawm.”

وقيل : أهل كل زمان عالم قاله الحسين بن الفضل ، لقوله تعالى : {أَتَأْتُونَ الذُّكْرَانَ مِنَ الْعَالَمِينَ} [الشعراء : 165] أي من الناس.

وقال العجاج :

فخِنْدِفٌ هامة هذا العأْلَمِ

Dikatakan:

Setiap ahli zaman adalah alam, seperti yang dikatakan oleh Al-Husain bin Al-Fadl, berdasarkan firman Allah Ta’ala:

{أَتَأْتُونَ الذُّكْرَانَ مِنَ الْعَالَمِينَ}

{Apakah kalian mendatangkan para lelaki dari seluruh alam?} [Asy-Syuarā’ : 165], yakni dari manusia.

Dan Al-'Ajjaj berkata: “Ini adalah kepala dari orang ini.”

 

وقال جرير بن الخَطَفي :

تَنَصَّفُه البرية وهو سامٍ # ويُضحي العالَمون له عيالا

Dan Jareer bin Al-Khatafi berkata:

Makhluk-makhluk di bumi membagi-bagikannya, padahal ia tinggi/tinggi derajatnya,

dan seluruh manusia menjadikannya sebagai korban/korban persembahan

وقال ابن عباس : العالمون الجن والإنس ، دليله قوله تعالى : {ليكون للعالمين نذيرا} [الفرقان : 1] ولم يكن نذيرا للبهائم.

Dan Ibn ‘Abbas berkata:

“Yang dimaksud dengan “al-‘ālamīn” (segala makhluk) adalah jin dan manusia, buktinya adalah firman Allah:

{ليكون للعالمين نذيرا}

{Supaya menjadi peringatan bagi seluruh makhluk} [Al-Furqan: 1].

Dan ini bukan peringatan bagi binatang.

وقال الفراء وأبو عبيدة : العالم عبارة عمن يعقل ، وهم أربعة أمم : الإنس والجن والملائكة والشياطين.

ولا يقال للبهائم : عالم ، لأن هذا الجمع إنما هو جمع من يعقل خاصة.

قال الأعشى :

ما إن سمعت بمثلهم في العالمينا

Dan Al-Farrā’ dan Abu ‘Ubaidah berkata:

Yang disebut “al-‘ālam” adalah orang-orang yang berakal, dan mereka terdiri dari empat umat: manusia, jin, malaikat, dan setan.

Dan tidak dikatakan untuk binatang: “al-‘ālam”, karena istilah ini memang khusus untuk makhluk yang berakal.

Al-A’syā berkata:

Sejak aku mendengar tentang yang seperti mereka di antara para makhluk…

وقال زيد بن أسلم : هم المرتزقون ، ونحوه قول أبي عمرو بن العلاء : هم الروحانيون.

وهو معنى قول ابن عباس أيضا : كل ذي روح دب على وجه الأرض.

Zaid bin Aslam berkata:

Mereka adalah makhluk yang berjiwa,

dan sejenisnya adalah pendapat Abu ‘Amr bin Al-‘Alā’:

Mereka adalah makhluk spiritual.”

Ini juga sejalan dengan perkataan Ibn ‘Abbas:

Setiap yang berjiwa merayap di muka bumi’."

وقال وهب بن منبه : إن لله عز وجل ثمانية عشر ألف عالم ، الدنيا عالم منها. وقال أبو سعيد الخدري : إن لله أربعين ألف عالم ، الدنيا من شرقها إلى غربها عالم واحد.

Wahb bin Munabbih berkata:

Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memiliki delapan belas ribu alam, dan dunia adalah salah satunya.’

Dan Abu Sa‘id Al-Khudri berkata:

Sesungguhnya Allah memiliki empat puluh ribu alam, dan dunia dari timur hingga barat hanyalah satu alam di antaranya.

وقال مقاتل : العالمون ثمانون ألف عالم ، أربعون ألف عالم في البر وأربعون ألف عالم في البحر.

Muqātil berkata:

“Al-‘ālamīn (seluruh alam) berjumlah delapan puluh ribu alam, empat puluh ribu alam berada di darat dan empat puluh ribu alam berada di laut.”

وروى الربيع بن أنس عن أبي العالية قال : الجن عالم والإنس عالم وسوى ذلك للأرض أربع زوايا في كل زاوية ألف وخمسمائة عالم خلقهم لعبادته.

Al-Rabī‘ bin Anas meriwayatkan dari Abu Al-‘Āliyah, ia berkata:

Jin adalah satu alam, manusia adalah satu alam, dan selain itu di bumi terdapat empat penjuru; di setiap penjuru ada seribu lima ratus alam yang Allah ciptakan untuk beribadah kepada-Nya.

قلت : والقول الأول أصح هذه الأقوال ، لأنه شامل لكل مخلوق وموجود دليله قوله تعالى : {قَالَ فِرْعَوْنُ وَمَا رَبُّ الْعَالَمِينَ. قَالَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا} [الشعراء : 23] ثم هو مأخوذ من العلم والعلامة لأنه يدل على موجده. كذا قال الزجاج قال : العالم كل ما خلقه الله في الدنيا والآخرة.

Saya berkata:

Pendapat pertama adalah yang paling benar di antara semua pendapat ini, karena ia mencakup setiap makhluk dan yang ada.

Buktinya adalah firman Allah:

{قَالَ فِرْعَوْنُ وَمَا رَبُّ الْعَالَمِينَ. قَالَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا}

{Firaun berkata: ‘Siapakah Tuhan al-‘ālamīn?’ Dia (Musa) berkata: ‘Tuhan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya’} [Asy-Syāra’: 23].

Istilah ini (al-‘ālam) diambil dari kata ‘ilmu’ dan ‘tanda’ karena menunjukkan keberadaan yang diciptakan.

Demikian kata Az-Zajjāj: “sAl-‘ālam adalah segala sesuatu yang diciptakan Allah di dunia dan akhirat.

وقال الخليل : العلم والعلامة والمعلم : ما دل على الشيء ، فالعالم دال على أن له خالقا ومدبرا وهذا واضح.

Dan Al-Khalil berkata:

Al-‘ilm (ilmu), al-‘alāmah (tanda), dan al-ma‘lam (penunjuk) adalah sesuatu yang menunjukkan kepada sesuatu yang lain.

Maka al-‘ālam (alam) menunjukkan bahwa ia memiliki Pencipta dan Pengatur, dan hal ini jelas.

وقد ذكر أن رجلا قال بين يدي الجنيد : الحمد لله فقال له : أتمها كما قال الله قل رب العالمين فقال الرجل : ومن العالمين حتى تذكر مع الحق ؟ قال : قل يا أخي ؟ فإن المحدث إذا قرن مع القديم لا يبقى له أثر.

Dan disebutkan bahwa ada seorang laki-laki berkata di hadapan Al-Junaid: ‘Alhamdulillah.’

Maka ia (Al-Junaid) berkata kepadanya: “Sempurnakanlah sebagaimana yang Allah firmankan: katakanlah “Rabb al-‘ālamīn”.”

Lalu laki-laki itu berkata: ‘Siapakah “al-‘ālamīn” sehingga disebutkan bersama Al-Haqq (Allah)?’

Ia menjawab: Katakanlah, wahai saudaraku! Sesungguhnya sesuatu yang baru (makhluk), jika disandingkan dengan Yang Maha Dahulu (Allah), maka tidak akan tersisa (tidak berarti) apa pun baginya.

الثانية عشرة- يجوز الرفع والنصب في "رب" فالنصب على المدح والرفع على القطع ، أي هو رب العالمين.

Masalah kedua belas:

Boleh membaca kata ‘Rabb’ dengan rafa‘ (dhammah) dan juga dengan nashab (fathah).

Adapun nashab (Rabba) itu sebagai bentuk pujian (al-madh), sedangkan rafa‘ (Rabbu) sebagai bentuk pemutusan (al-qaṭ‘), yaitu bermakna: ‘Dialah Tuhan seluruh alam.’

 

 

Baca juga:

Pendalaman Al-Fatihah Bab 4: Makna, Qirā’āt, I‘rāb,Keutamaan Orang yang Memuji Allah dan 36 Pembahasan Penting. Bagian: 03

Pendalaman Al-Fatihah Bab 4: Makna, Qirā’āt, I‘rāb, Keutamaan Orang yang Memuji Allah dan 36 Pembahasan Penting. Bagian: 05

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

Wara’ dalam Membeli Barang Syubhat: Menimbang Dugaan dan Ketenangan Hati

مسالة: لو نهب متاع مخصوص فصادف من ذلك النوع متاعا في يد إنسان وأراد أن يشتريه واحتمل أن لا يكون من المغصوب فإن كان ذلك الشخص ممن عرفه با...