إِبْرَاد
Ibrād
(إِبْرَاد)
التَّعْرِيفُ:
Definisi:
١ - مِنْ مَعَانِي
الإِْبْرَادِ فِي اللُّغَةِ: الدُّخُول فِي الْبَرْدِ، وَالدُّخُول فِي آخِرِ
النَّهَارِ. (١)
1. Di antara makna ibrād (الإبراد)
secara bahasa adalah memasuki waktu dingin dan memasuki
akhir siang.
وَعِنْدَ الْفُقَهَاءِ هُوَ:
تَأْخِيرُ الظُّهْرِ إِلَى وَقْتِ الْبَرْدِ. (٢) وَقَدْ يُطْلَقُ الإِْبْرَادُ
وَيُرَادُ مِنْهُ إِمْهَال الذَّبِيحَةِ حَتَّى تَبْرُدَ قَبْل سَلْخِهَا.
Adapun menurut istilah para fuqaha, ibrād adalah menunda
salat Zuhur hingga masuk waktu yang lebih sejuk.
Istilah ibrād terkadang juga digunakan dengan makna membiarkan
hewan sembelihan hingga menjadi dingin sebelum dikuliti.
وَيَبْدَأُ الإِْبْرَادُ
بِالظُّهْرِ بِانْكِسَارِ حِدَّةِ الْحَرِّ، وَبِحُصُول فَيْءٍ (ظِلٍّ) يَمْشِي
فِيهِ الْمُصَلِّي.
Ibrād untuk salat Zuhur dimulai
ketika teriknya panas telah berkurang dan telah terdapat bayangan
yang dapat digunakan oleh orang yang salat untuk berjalan di dalamnya.
وَفِي مِقْدَارِهِ خِلاَفٌ
بَيْنَ الْفُقَهَاءِ يُذْكَرُ فِي أَوْقَاتِ الصَّلاَةِ. (٣)
Adapun mengenai kadarnya,
terdapat perbedaan pendapat di antara para fuqaha. Pembahasannya akan
disebutkan dalam bab waktu-waktu salat.
الْحُكْمُ
الإِْجْمَالِيُّ:
Hukum Secara Umum
٢ - الإِْبْرَادُ رُخْصَةٌ،
وَهُوَ مُسْتَحَبٌّ فِي صَلاَةِ الظُّهْرِ فِي شِدَّةِ الْحَرِّ صَيْفًا فِي
الْبِلاَدِ الْحَارَّةِ لِمُرِيدِ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ بِاتِّفَاقٍ؛ (٤)
لِقَوْل الرَّسُول صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبْرِدُوا بِالصَّلاَةِ،
فَإِنَّ شِدَّةَ الْحَرِّ مِنْ فَيْحِ جَهَنَّمَ. (٥) فَإِذَا تَخَلَّفَ أَحَدُ
الْقُيُودِ السَّابِقَةِ فَفِي اسْتِحْبَابِ الإِْبْرَادِ خِلاَفٌ وَتَفْصِيلٌ. (١)
Hukum
Secara Umum
2 – Ibrād (mengakhirkan salat Zuhur
hingga waktu yang lebih sejuk) merupakan suatu rukhsah (keringanan). Ibrād disunahkan dalam salat Zuhur ketika cuaca sangat
panas pada musim panas di negeri-negeri yang panas, bagi orang yang hendak
melaksanakan salat berjamaah di masjid, berdasarkan kesepakatan para
fuqaha.
Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah
ﷺ:
“Tundalah salat hingga waktu yang
lebih sejuk, karena panas yang sangat terik berasal dari hembusan panas
Jahannam.”
Apabila salah satu dari ketentuan-ketentuan
yang telah disebutkan sebelumnya tidak terpenuhi, maka mengenai kesunahan
melakukan ibrād terdapat perbedaan pendapat dan perincian di kalangan para
fuqaha.
مَوَاطِنُ الْبَحْثِ:
Tempat-Tempat Pembahasan
٣ - الإِْبْرَادُ بِالظُّهْرِ،
وَبِأَذَانِهِ، وَبِالْجُمُعَةِ، يُذْكَرُ فِي الصَّلاَةِ (أَوْقَاتِهَا) .
3 – Ibrād pada
salat Zuhur, ibrād dalam azannya, dan ibrād pada salat Jumat, dibahas dalam pembahasan salat, khususnya mengenai
waktu-waktunya.
وَإِبْرَادُ
الذَّبِيحَةِ قَبْل السَّلْخِ يُذْكَرُ فِي الذَّبَائِحِ (٢) .
Adapun membiarkan hewan
sembelihan menjadi dingin sebelum dikuliti, dibahas dalam pembahasan sembelihan
(adz-Dzabā’ih).
Wallahu A’lam...
Baca juga:
Hukum Akad Ibḍhā‘ dalam Fikih Islam: Definisi, Perbedaan dengan Muḍārabah,
Syarat Sah, Hak dan Kewajiban, Kerugian, serta Berakhirnya Akad
إِبْرَاد
Ibrād
(إِبْرَاد)
التَّعْرِيفُ:
Definisi:
١ - مِنْ مَعَانِي
الإِْبْرَادِ فِي اللُّغَةِ: الدُّخُول فِي الْبَرْدِ، وَالدُّخُول فِي آخِرِ
النَّهَارِ. (١)
1. Di antara makna ibrād (الإبراد)
secara bahasa adalah memasuki waktu dingin dan memasuki
akhir siang.
وَعِنْدَ الْفُقَهَاءِ هُوَ:
تَأْخِيرُ الظُّهْرِ إِلَى وَقْتِ الْبَرْدِ. (٢) وَقَدْ يُطْلَقُ الإِْبْرَادُ
وَيُرَادُ مِنْهُ إِمْهَال الذَّبِيحَةِ حَتَّى تَبْرُدَ قَبْل سَلْخِهَا.
Adapun menurut istilah para fuqaha, ibrād adalah menunda
salat Zuhur hingga masuk waktu yang lebih sejuk.
Istilah ibrād terkadang juga digunakan dengan makna membiarkan
hewan sembelihan hingga menjadi dingin sebelum dikuliti.
وَيَبْدَأُ الإِْبْرَادُ
بِالظُّهْرِ بِانْكِسَارِ حِدَّةِ الْحَرِّ، وَبِحُصُول فَيْءٍ (ظِلٍّ) يَمْشِي
فِيهِ الْمُصَلِّي.
Ibrād untuk salat Zuhur dimulai
ketika teriknya panas telah berkurang dan telah terdapat bayangan
yang dapat digunakan oleh orang yang salat untuk berjalan di dalamnya.
وَفِي مِقْدَارِهِ خِلاَفٌ
بَيْنَ الْفُقَهَاءِ يُذْكَرُ فِي أَوْقَاتِ الصَّلاَةِ. (٣)
Adapun mengenai kadarnya,
terdapat perbedaan pendapat di antara para fuqaha. Pembahasannya akan
disebutkan dalam bab waktu-waktu salat.
الْحُكْمُ
الإِْجْمَالِيُّ:
Hukum Secara Umum
٢ - الإِْبْرَادُ رُخْصَةٌ،
وَهُوَ مُسْتَحَبٌّ فِي صَلاَةِ الظُّهْرِ فِي شِدَّةِ الْحَرِّ صَيْفًا فِي
الْبِلاَدِ الْحَارَّةِ لِمُرِيدِ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ بِاتِّفَاقٍ؛ (٤)
لِقَوْل الرَّسُول صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبْرِدُوا بِالصَّلاَةِ،
فَإِنَّ شِدَّةَ الْحَرِّ مِنْ فَيْحِ جَهَنَّمَ. (٥) فَإِذَا تَخَلَّفَ أَحَدُ
الْقُيُودِ السَّابِقَةِ فَفِي اسْتِحْبَابِ الإِْبْرَادِ خِلاَفٌ وَتَفْصِيلٌ. (١)
Hukum
Secara Umum
2 – Ibrād (mengakhirkan salat Zuhur
hingga waktu yang lebih sejuk) merupakan suatu rukhsah (keringanan). Ibrād disunahkan dalam salat Zuhur ketika cuaca sangat
panas pada musim panas di negeri-negeri yang panas, bagi orang yang hendak
melaksanakan salat berjamaah di masjid, berdasarkan kesepakatan para
fuqaha.
Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah
ﷺ:
“Tundalah salat hingga waktu yang
lebih sejuk, karena panas yang sangat terik berasal dari hembusan panas
Jahannam.”
Apabila salah satu dari ketentuan-ketentuan
yang telah disebutkan sebelumnya tidak terpenuhi, maka mengenai kesunahan
melakukan ibrād terdapat perbedaan pendapat dan perincian di kalangan para
fuqaha.
مَوَاطِنُ الْبَحْثِ:
Tempat-Tempat Pembahasan
٣ - الإِْبْرَادُ بِالظُّهْرِ،
وَبِأَذَانِهِ، وَبِالْجُمُعَةِ، يُذْكَرُ فِي الصَّلاَةِ (أَوْقَاتِهَا) .
3 – Ibrād pada
salat Zuhur, ibrād dalam azannya, dan ibrād pada salat Jumat, dibahas dalam pembahasan salat, khususnya mengenai
waktu-waktunya.
وَإِبْرَادُ
الذَّبِيحَةِ قَبْل السَّلْخِ يُذْكَرُ فِي الذَّبَائِحِ (٢) .
Adapun membiarkan hewan
sembelihan menjadi dingin sebelum dikuliti, dibahas dalam pembahasan sembelihan
(adz-Dzabā’ih).
Wallahu A’lam...
Baca juga:
Hukum Akad Ibḍhā‘ dalam Fikih Islam: Definisi, Perbedaan dengan Muḍārabah,
Syarat Sah, Hak dan Kewajiban, Kerugian, serta Berakhirnya Akad

Tidak ada komentar:
Posting Komentar