Iman Bertambah dan Berkurang: Pengaruh Amal terhadap Kekuatan Keyakinan Hati

مسألة:

فإن قلت فقد اتفق السلف على أن الإيمان يزيد وينقص يزيد بالطاعة وينقص بالمعصية فإذا كان التصديق هو الإيمان فلا يتصور فيه زيادة ولا نقصان فأقول السلف هم الشهود العدول وما لأحد عن قولهم عدول فما ذكروه حق وإنما الشأن في فهمه وفيه دليل على أن العمل ليس من أجزاء الإيمان وأركان وجوده بل هو مزيد عليه يزيد به والزائد موجود والناقص موجود والشيء لا يزيد بذاته فلا يجوز أن يقال الإنسان يزيد برأسه بل يقال يزيد بلحيته وسمنه ولا يجوز أن يقال الصلاة تزيد بالركوع والسجود بل تزيد بالآداب والسنن فهذا تصريح بأن الإيمان له وجود ثم بعد الوجود يختلف حاله بالزيادة والنقصان

Masalah:

Jika engkau berkata: Para salaf telah sepakat bahwa iman itu bertambah dan berkurang; bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Jika iman itu adalah pembenaran (tasdiq), maka tidak tergambar adanya pertambahan dan pengurangan pada tasdiq tersebut.

Maka aku menjawab: Para salaf adalah saksi-saksi yang adil, dan tidak seorang pun boleh menyimpang dari ucapan mereka. Apa yang mereka sebutkan adalah benar. Yang menjadi persoalan hanyalah memahami maksudnya.

Dalam hal ini terdapat dalil bahwa amal bukanlah bagian dari unsur-unsur iman dan bukan pula rukun keberadaannya, tetapi amal merupakan sesuatu yang ditambahkan kepada iman sehingga iman bertambah dengannya. Sesuatu yang bertambah itu tetap ada, dan sesuatu yang berkurang pun tetap ada. Suatu benda tidak bertambah dengan zat dirinya sendiri. Karena itu tidak boleh dikatakan: “Manusia bertambah dengan kepalanya,” tetapi dikatakan: “Ia bertambah dengan janggutnya atau kegemukannya.” Demikian pula tidak boleh dikatakan: “Salat bertambah dengan rukuk dan sujud,” tetapi salat bertambah dengan adab-adab dan sunnah-sunnahnya.

Ini merupakan penegasan bahwa iman telah memiliki wujud, kemudian setelah wujud itu ada, keadaannya berbeda-beda dalam hal pertambahan dan pengurangan.

فإن قلت فالإشكال قائم في أن التصديق كيف يزيد وينقص وهو خصلة واحدة فأقول إذا تركنا المداهنة ولم نكترث بتشغيب من تشغب وكشفنا الغطاء ارتفع الإشكال فنقول الإيمان اسم مشترك يطلق من ثلاثة أوجه الأول أنه أنه يطلق للتصديق بالقلب على سبيل الاعتقاد والتقليد من غير كشف وانشراح صدر وهو إيمان العوام بل إيمان الخلق كلهم إلا الخواص وهذا الاعتقاد عقدة عن القلب تارة تشتد وتقوى وتارة تضعف وتسترخي كالعقدة على الخيط مثلا ولا تستبعد هذا واعتبره باليهودي وصلابته في عقيدته التي لا يمكن نزوعه عنها بتخويف وتحذير ولا بتخييل ووعظ ولا تحقيق وبرهان وكذلك النصراني والمبتدعة وفيهم من يمكن تشكيكه بأدنى كلام ويمكن استنزاله عن اعتقاده بأدنى استمالة أو تخويف مع أنه غير شاك في عقده كالأول ولكنهما متفاوتان في شدة التصميم

وهذا موجود في الاعتقاد الحق أيضا والعمل يؤثر في نماء هذا التصميم وزيادته كما يؤثر سقي الماء في نماء الأشجار ولذلك قال الله تعالى فزادتهم إيمانا وقال تعالى ليزدادوا إيمانا مع إيمانهم وقال صلى الله عليه و سلم فيما يروى في بعض الأخبار الإيمان يزيد وينقص

Jika engkau berkata: Permasalahan tetap ada, yaitu bagaimana pembenaran (tasdiq) bisa bertambah dan berkurang padahal ia hanyalah satu sifat?

Maka aku menjawab: Jika kita meninggalkan sikap berpura-pura dan tidak mempedulikan kegaduhan orang-orang yang suka membuat kerancuan, lalu kita singkap tabir persoalan ini, maka hilanglah kesulitannya.

Kami katakan: Iman adalah nama bersama yang digunakan dalam tiga makna.

Pertama, iman digunakan untuk pembenaran hati dalam bentuk keyakinan dan taklid tanpa penyingkapan hakikat dan kelapangan dada. Ini adalah iman orang awam, bahkan iman seluruh manusia selain golongan khusus.

Keyakinan ini merupakan ikatan pada hati; terkadang ia menguat dan mengeras, terkadang melemah dan mengendur, seperti ikatan pada seutas benang. Janganlah engkau menganggap hal ini mustahil. Perhatikanlah orang Yahudi dan kuatnya keyakinannya yang tidak mungkin dicabut darinya dengan ancaman, peringatan, khayalan, nasihat, maupun hujah dan bukti. Demikian pula orang Nasrani dan para ahli bid‘ah. Di antara mereka ada yang mudah diguncang keyakinannya hanya dengan sedikit ucapan, dan mudah dipalingkan dari keyakinannya hanya dengan sedikit bujukan atau ancaman, padahal ia tidak ragu terhadap keyakinannya sebagaimana orang pertama, hanya saja keduanya berbeda dalam kuatnya keteguhan hati.

Hal ini juga terdapat dalam keyakinan yang benar. Amal memengaruhi pertumbuhan keteguhan itu dan menambah kekuatannya, sebagaimana siraman air memengaruhi pertumbuhan pepohonan.

Karena itu Allah Ta‘ala berfirman:

فزادتهم إيمانا

 “Lalu ayat itu menambah iman mereka.”

Dan Allah Ta‘ala juga berfirman:

ليزدادوا إيمانا مع إيمانهم

 “Agar mereka bertambah imannya bersama iman yang telah ada pada mereka.”

Dan Nabi bersabda dalam sebagian riwayat:

الإيمان يزيد وينقص

“Iman itu bertambah dan berkurang.”

Inti Pembahasan:

Inti penjelasan dari pembahasan ini adalah bahwa iman pada dasarnya adalah tasdiq (pembenaran hati), tetapi kekuatan pembenaran itu tidak selalu sama pada setiap orang. Ada iman yang sangat kuat, ada yang lemah. Karena itulah para salaf mengatakan bahwa iman bisa bertambah dan berkurang.

Penulis menjelaskan bahwa bertambahnya iman bukan berarti “hakikat iman berubah menjadi dua atau tiga,” melainkan kekuatan, keteguhan, dan pengaruh iman dalam hati yang bertambah.

Penjelasan Sederhana

Seseorang mungkin sama-sama yakin bahwa Allah itu ada, tetapi tingkat keyakinannya berbeda:

  • Ada yang keyakinannya sangat kokoh sehingga tidak goyah walaupun diuji dengan ancaman, godaan, atau syubhat.
  • Ada pula yang mudah goyah hanya karena mendengar perkataan orang lain.

Keduanya sama-sama “percaya”, tetapi kualitas dan kekuatan iman mereka berbeda.

Amal saleh memperkuat keyakinan itu, sedangkan maksiat melemahkannya.

Contoh-contohnya

1. Contoh Pohon yang Disiram Air

Penulis memberi isyarat bahwa iman seperti pohon.

  • Pohon yang sering disiram → semakin kuat, hijau, dan berbuah.
  • Pohon yang tidak dirawat → melemah dan hampir mati.

Begitu pula iman:

  • Dzikir, salat, ilmu, Al-Qur’an → menyuburkan iman.
  • Maksiat, lalai, syahwat → melemahkan iman.

2. Contoh Dua Orang yang Sama-sama Percaya

Ada dua orang Muslim yang sama-sama yakin bahwa salat wajib.

Tetapi:

  • Orang pertama langsung salat ketika adzan, menjaga khusyuk, takut meninggalkan salat.
  • Orang kedua sering menunda, malas, bahkan kadang meninggalkan salat.

Keduanya masih memiliki iman, tetapi kekuatan iman mereka berbeda.

3. Contoh Keteguhan Keyakinan

Penulis mencontohkan orang Yahudi atau Nasrani yang sangat kuat memegang keyakinannya. Maksudnya bukan membenarkan keyakinan mereka, tetapi menunjukkan bahwa suatu keyakinan bisa sangat kuat tertanam dalam hati.

Demikian pula pada orang beriman:

  • Ada ulama dan orang saleh yang imannya sangat kokoh.
  • Ada orang yang mudah ragu ketika mendengar syubhat di internet atau ucapan orang lain.

 

4. Contoh Pengaruh Amal terhadap Iman

Seseorang yang rutin:

  • salat malam,
  • membaca Al-Qur’an,
  • menghadiri majelis ilmu,
  • menjaga pandangan,

akan merasakan hati lebih tenang dan yakin kepada Allah.

Sebaliknya, seseorang yang terus-menerus:

  • melihat maksiat,
  • meninggalkan salat,
  • tenggelam dalam dosa,

lama-lama hatinya menjadi keras dan iman melemah.

Karena itu para salaf mengatakan:

Iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.

Kesimpulan

Pembahasan ini ingin menjelaskan bahwa:

  • Iman memang berupa pembenaran hati.
  • Tetapi kekuatan pembenaran itu bisa bertambah dan berkurang.
  • Amal saleh menguatkan dan menyuburkan iman.
  • Maksiat melemahkan dan mengendurkan iman.
  • Karena itu manusia berbeda-beda tingkat imannya walaupun sama-sama beriman.

Wallahu A’lam...

Sumber:

Ihya’Ulumiddin al-Ghazaly

Maktabah Syamilah

 

Baca juga:

Rahasia Syariat dan Hakikat: Batas Akal Manusiadalam Memahami Rahasia Ilahi

Perbedaan dan Hubungan antara Islam dan Iman dalam Perspektif Bahasa,Syariat, dan Hukum

Makna Ucapan Salaf “Aku Mukmin Insya Allah”: Antara Tawaddu dan Rasa Takut kepada Allah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

BuraQ12: سلم التسهيل في ترجمة الفية ابن مالك [بالمعنى على فسانترين] الجزء الثاني- للشيخ الكياهي عبد الرحمن خضري الإندونيسي

BuraQ12: سلم التسهيل في ترجمة الفية ابن مالك [بالمعنى على ف... : Download Kitab PDF : سلم التسهيل في ترجمة الفية ابن مالك [بالمعنى على فسا...