Pendalaman Al-Fatihah Bab 4: Makna, Qirā’āt, I‘rāb, Keutamaan Orang yang Memuji Allah dan 36 Pembahasan Penting. Bagian: 05

الثالثة عشرة - قوله تعالى : {الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ}

وصف نفسه تعالى بعد {رَبِّ الْعَالَمِينَ} بأنه {الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} لأنه لما كان في اتصافه بـ "رب العالمين" ترهيب قرنه بـ "الرحمن الرحيم" لما تضمن من الترغيب ، ليجمع في صفاته بين الرهبة منه والرغبة إليه ، فيكون أعون على طاعته وأمنع كما قال : {نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الأَلِيمُ} [الحجر : 49 ، 50].

وقال : {غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ} [غافر : 3].

Masalah ketiga belas:

Firman Allah: ‘Ar-Rahmān Ar-Rahīm’.

Allah سبحانه وتعالى menyifati diri-Nya setelah ‘Rabb al-‘ālamīn’ dengan ‘Ar-Rahmān Ar-Rahīm’, karena ketika dalam sifat ‘Rabb al-‘ālamīn’ terdapat unsur rasa takut (tarhīb), maka Dia menyandingkannya dengan ‘Ar-Rahmān Ar-Rahīm’ yang mengandung dorongan harapan (targhīb).

Agar terkumpul dalam sifat-sifat-Nya antara rasa takut kepada-Nya dan harapan kepada-Nya, sehingga hal itu lebih membantu dalam ketaatan dan lebih menahan (dari maksiat).

Sebagaimana firman-Nya:

{نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الأَلِيمُ}

“Beritakanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa azab-Ku adalah azab yang sangat pedih” [Al-Hijr: 49–50].

Dan firman-Nya:

{غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ}

Yang mengampuni dosa, menerima tobat, sangat keras hukuman-Nya, lagi memiliki karunia yang luas [Ghafir: 3].

وفي صحيح مسلم عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : "لو يعلم المؤمن ما عند الله من العقوبة ما طمع بجنته أحد ، ولو يعلم الكافر ما عند الله من الرحمة ما قنط من جنته أحد" .

وقد تقدم ما في هذين الاسمين من المعاني فلا معنى لإعادته.

Dan dalam Shahih Muslim, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda:

“Seandainya seorang mukmin mengetahui apa yang ada di sisi Allah berupa siksa, niscaya tidak ada seorang pun yang berharap masuk surga-Nya.

Dan seandainya seorang kafir mengetahui apa yang ada di sisi Allah berupa rahmat, niscaya tidak ada seorang pun yang berputus asa dari surga-Nya.”

Hadits ini menjelaskan keseimbangan antara rasa takut (khauf) dan harapan (raja’) kepada Allah:

  • Bagian pertama:
    Jika orang beriman benar-benar mengetahui betapa dahsyatnya azab Allah, maka ia akan sangat takut, bahkan merasa tidak pantas berharap masuk surga.
    👉 Ini mendorong sikap tidak meremehkan dosa dan selalu waspada.
  • Bagian kedua:
    Jika orang kafir mengetahui betapa luasnya rahmat Allah, maka ia tidak akan putus asa dari rahmat-Nya.
    👉 Ini menunjukkan bahwa rahmat Allah sangat luas, sehingga tidak boleh berputus asa.

وقد تقدم ما في هذين الاسمين من المعاني فلا معنى لإعادته.

Dan telah disebutkan sebelumnya makna yang terkandung dalam dua nama (Ar-Rahman dan Ar-Rahim), sehingga tidak perlu diulangi lagi penjelasannya.”

الرابعة عشرة- قوله تعالى :

{مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ} قرأ محمد بن السَّمَيقع بنصب مالك ، وفيه أربع لغات : مالك ومَلِك ومَلْك - مخففة من مَلِك - ومَليك.

قال الشاعر :

وأيام لنا غر طوال  #عصينا الملك فيها أن ندينا

Masalah keempat belas:

Firman Allah Ta‘ala:
{Māliki Yawmid-Dīn} (Yang menguasai hari pembalasan).

Muhammad bin as-Samaīqa‘ membaca (lafaz) ‘mālika’ dengan nashab.

Dan pada kata ini terdapat empat bentuk bahasa (qirā’ah/variasi):

مالك ومَلِك ومَلْك ومَليك
Mālik’, ‘Malik’, ‘Malk’ (ringan dari Malik), dan ‘Malīk.

Seorang penyair berkata:

Dan hari-hari bagi kami penuh kemuliaan dan panjang, kami pernah durhaka kepada raja di dalamnya tanpa tunduk

وقال آخر :

فاقنع بما قسم المليك فإنما # قسم الخلائق بيننا علامها

الخلائق : الطبائع التي جبل الإنسان عليها.

Dan penyair lain berkata:

Maka ridhalah dengan apa yang telah dibagikan oleh al-Malīk (Allah),
karena sesungguhnya Dia-lah yang membagi tabiat (keadaan) manusia di antara kita dengan ilmu-Nya

Al-khalā’iq: yaitu tabiat-tabiat (sifat dasar) yang manusia diciptakan di atasnya.

وروي عن نافع إشباع الكسرة في "مَلِكِ" فيقرأ "ملكي" على لغة من يشبع الحركات وهي لغة للعرب ذكرها المهدوي وغيره.

Dan diriwayatkan dari Nāfi‘ bahwa ia memanjangkan (meng-isybā‘) harakat kasrah pada kata ‘Malik’, sehingga dibaca ‘malikī’ (ملكي).

Itu berdasarkan bahasa (dialek) orang Arab yang memanjangkan harakat, dan ini merupakan salah satu bahasa Arab yang disebutkan oleh al-Mahdawī dan lainnya.

الخامسة عشرة- اختلف العلماء أيما أبلغ : ملك أو مالك ؟ والقراءتان مرويتان عن النبي صلى الله عليه وسلم وأبي بكر وعمر.

ذكرهما الترمذي فقيل : "ملك" أعم وأبلغ من "مالك" إذ كل ملك مالك وليس كل مالك ملكا ولأن الملك نافذ على المالك في ملكه حتى لا يتصرف إلا عن تدبير الملك قال أبو عبيدة والمبرد.

Masalah kelima belas

Para ulama berbeda pendapat, mana yang lebih kuat maknanya: Malik ملك(Raja) atau Mālik مالك(Pemilik)?
Padahal kedua bacaan tersebut diriwayatkan dari Nabi , juga dari Abu Bakar dan Umar.

Keduanya disebutkan oleh at-Tirmidzi. Maka dikatakan: ‘Malik’ lebih umum dan lebih kuat daripada ‘Mālik’, karena setiap raja pasti memiliki (مالك), tetapi tidak setiap pemilik adalah raja. Dan karena kekuasaan raja berlaku atas para pemilik dalam kepemilikan mereka, sehingga mereka tidak bisa bertindak kecuali dengan pengaturan raja.

Pendapat ini dikemukakan oleh Abu ‘Ubaidah dan al-Mubarrad.

وقيل : "مالك" أبلغ لأنه يكون مالكا للناس وغيرهم فالمالك أبلغ تصرفا وأعظم إذ إليه إجراء قوانين الشرع ، ثم عنده زيادة التملك.

Dan ada yang berpendapat: ‘Mālik’ "مالك" (Pemilik) lebih kuat maknanya, karena ia menjadi pemilik bagi manusia dan selain mereka.

Maka "مالك"lebih luas dalam pengaturan (tasharruf) dan lebih agung, karena kepada-Nyalah pelaksanaan hukum-hukum syariat, dan padanya terdapat tambahan makna kepemilikan.

وقال أبو علي : حكى أبو بكر بن السراج عن بعض من اختار القراءة بـ "مالك" أن الله سبحانه قد وصف نفسه بأنه مالك كل شيء بقول : {رَبِّ الْعَالَمِينَ} فلا فائدة في قراءة من قرأ "مالك" لأنها تكرار.

Abu ‘Alī berkata: Abu Bakr bin as-Sarrāj meriwayatkan dari sebagian orang yang memilih bacaan "مالك" bahwa Allah سبحانه telah mensifati diri-Nya sebagai Pemilik segala sesuatu melalui firman-Nya: {رَبِّ الْعَالَمِينَ} (Tuhan seluruh alam).

Maka tidak ada faedah dalam bacaan ‘Mālik’ menurut orang yang membacanya, karena dianggap sebagai pengulangan.

قال أبو علي : ولا حجة في هذا لأن في التنزيل أشياء على هذه الصورة تقدم العام ثم ذكر الخاص كقوله : {هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ} فالخالق يعم.

Abu ‘Alī berkata:

“Tidak ada hujjah (alasan kuat) dalam pendapat itu, karena dalam Al-Qur’an terdapat hal-hal seperti ini, yaitu disebutkan yang umum terlebih dahulu, kemudian diikuti dengan yang khusus. Seperti firman-Nya:

{هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ}

{Dia-lah Allah, Yang Maha Pencipta, Yang Mengadakan, Yang Membentuk}.

Maka kata ‘Al-Khāliq’ (Pencipta) sudah mencakup semuanya (secara umum).”

وذكر المصور لما فيه من التنبيه على الصنعة ووجود الحكمة وكما قال تعالى : {وَبِالآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ} بعد قوله : {الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ} والغيب يعم الآخرة وغيرها ولكن ذكرها لعظمها والتنبيه على وجوب اعتقادها والرد على الكفرة الجاحدين لها وكما قال : {الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} فذكر {الرَّحْمَنِ} الذي هو عام وذكر {الرَّحِيمِ} بعده لتخصيص المؤمنين به في قوله : {وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيماً} .

Dan disebutkan al-Muṣawwirالمصور” (Yang Membentuk) karena di dalamnya terdapat isyarat terhadap keindahan ciptaan dan adanya hikmah.

Sebagaimana firman Allah:

{وَبِالآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ}

{Dan terhadap akhirat mereka meyakini}\

setelah firman-Nya:

{الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ}

{orang-orang yang beriman kepada yang gaib}.

Padahal ‘yang gaib’ mencakup akhirat dan selainnya, namun akhirat disebutkan secara khusus karena agungnya, untuk menegaskan kewajiban meyakininya, dan sebagai bantahan terhadap orang-orang kafir yang mengingkarinya.

Demikian pula firman-Nya: {Ar-Rahmān Ar-Rahīm}, disebutkan Ar-Rahmān yang bersifat umum, lalu disebutkan Ar-Rahīm setelahnya untuk mengkhususkan orang-orang beriman dengannya, sebagaimana dalam firman-Nya:

{وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيماً}

{Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang beriman}.”

وقال أبو حاتم : إن مالكا أبلغ في مدح الخالق من "ملك" و"ملك" أبلغ في مدح المخلوقين من مالك ، والفرق بينهما أن المالك من المخلوقين قد يكون غير ملك ، وإذا كان الله تعالى مالكا كان ملكا ،

Abu Ḥātim berkata:

“Sesungguhnya ‘Mālik’مالك” lebih kuat (lebih sempurna) dalam memuji Allah (Sang Pencipta) dibandingkan ‘Malik’"ملك".

Sedangkan ‘Malik’ "ملك" lebih kuat dalam memuji makhluk dibandingkan ‘Mālik’ مالك”.

Perbedaan antara keduanya adalah:

Seorang pemilik (mālik) “مالك” dari kalangan makhluk bisa saja bukan seorang raja (malik) "ملك" Namun jika Allah Ta‘ala disebut sebagai Mālik مالك”, maka Dia juga pasti "ملك" (Raja).”

واختار هذا القول القاضي أبو بكر بن العربي وذكر ثلاثة أوجه :

الأول : أنك تضيفه إلى الخاص والعام فتقول : مالك الدار والأرض والثوب كما تقول : مالك الملوك

الثاني : أنه يطلق على مالك القليل والكثير وإذا تأملت هذين القولين وجدتهما واحدا.

والثالث : أنك تقول : مالك الملك ولا تقول : ملك الملك.

Dan pendapat ini dipilih oleh al-Qāḍī Abū Bakr Ibn al-‘Arabī, dan ia menyebutkan tiga alasan:

  1. Bahwa kata Mālik مالكbisa disandarkan kepada yang khusus maupun yang umum.

Maka engkau bisa mengatakan: pemilik rumah, tanah, dan pakaian, sebagaimana engkau juga bisa mengatakan: pemilik para raja.

  1. Bahwa kata Mālik مالكdigunakan untuk kepemilikan yang sedikit maupun yang banyak.

Jika kamu perhatikan dua alasan ini, maka sebenarnya keduanya kembali pada satu makna.

  1. Bahwa engkau bisa mengatakan: Mālik al-Mulk مالك الملك(Pemilik kerajaan), dan tidak dikatakan: Malik al-Mulk ملك الملك(Raja dari kerajaan).

قال ابن الحصار : إنما كان ذلك لأن المراد من "مالك" الدلالة على الملك - بكسر الميم - وهو لا يتضمن "الملك" - بضم الميم - و"ملك" يتضمن الأمرين جميعا فهو أولى بالمبالغة.

Ibn al-Ḥaṣṣār berkata:

“Sesungguhnya hal itu demikian karena yang dimaksud dari ‘Mālik’ "مالك" adalah menunjukkan al-milk (kepemilikan – dengan kasrah pada mīm), dan itu tidak mencakup al-mulk (kekuasaan/kerajaan – dengan dhammah pada mīm).

Sedangkan ‘Malik’ mencakup kedua makna tersebut sekaligus, sehingga ia lebih utama dalam menunjukkan makna yang lebih kuat (lebih dalam/lebih sempurna).”

ويتضمن أيضا الكمال ولذلك استحق الملك على من دونه ، ألا ترى إلى قوله تعالى : {إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ} [البقرة : 247] ولهذا قال عليه السلام : "الإمامة في قريش" وقريش أفضل قبائل العرب والعرب أفضل من العجم وأشرف.

Dan lafaz ‘Malik’ juga mengandung makna kesempurnaan, sehingga karena itu ia berhak memiliki kekuasaan (kerajaan) atas orang-orang di bawahnya.

Tidakkah engkau perhatikan firman Allah Ta‘ala:

{إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ}

Sesungguhnya Allah telah memilihnya atas kalian dan menambahkan kepadanya kelebihan alam ilmu dan fisik (QS. Al-Baqarah: 247).

Oleh karena itu Nabi bersabda:

Kepemimpinan (imamah) itu berada pada Quraisy.’ Dan Quraisy adalah kabilah Arab yang paling utama, dan bangsa Arab lebih utama daripada ‘ajam (non-Arab) serta lebih mulia.”

ويتضمن الاقتدار والاختيار ، وذلك أمر ضروري في الملك ، إن لم يكن قادرا مختارا نافذا حكمه وأمره ، قهره عدوه وغلبه غيره وازدرته رعيته ،

ويتضمن البطش والأمر والنهي والوعد والوعيد ، ألا ترى إلى قول سليمان عليه السلام : {مَا لِيَ لا أَرَى الْهُدْهُدَ أَمْ كَانَ مِنَ الْغَائِبِينَ لأُعَذِّبَنَّهُ عَذَاباً شَدِيداً أ} [النمل : 20 ، 21] إلى غير ذلك من الأمور العجيبة والمعاني الشريفة التي لا توجد في المالك.

Dan (lafaz ‘malik’) "ملك" juga mengandung makna kemampuan (kekuasaan) dan kehendak (pilihan), dan itu merupakan hal yang sangat diperlukan dalam kerajaan.

Jika seorang raja tidak memiliki kemampuan dan kehendak yang membuat hukum serta perintahnya berlaku, niscaya ia akan ditundukkan oleh musuhnya, dikalahkan oleh selainnya, dan diremehkan oleh rakyatnya.

Ia juga mencakup makna ketegasan (kekuatan), perintah dan larangan, janji dan ancaman. Tidakkah engkau perhatikan perkataan Nabi Sulaiman as.:

{مَا لِيَ لا أَرَى الْهُدْهُدَ أَمْ كَانَ مِنَ الْغَائِبِينَ لأُعَذِّبَنَّهُ عَذَاباً شَدِيداً أ}

Mengapa aku tidak melihat burung hudhud, apakah ia termasuk yang tidak hadir? Sungguh aku akan mengazabnya dengan azab yang keras… (QS. An-Naml: 20–21).

Dan selain itu masih banyak perkara menakjubkan dan makna-makna mulia yang tidak terdapat pada (lafaz ‘maalik’) "مالك".

قلت : وقد احتج بعضهم على أن مالكا أبلغ لأن فيه زيادة حرف فلقارئه عشر حسنات زيادة عمن قرأ ملك.

قلت : هذا نظر إلى الصيغة لا إلى المعنى ، وقد ثبتت القراءة بملك وفيه من المعنى ما ليس في مالك على ما بينا والله أعلم.

Aku berkata:

“Sebagian ulama berargumentasi bahwa ‘Maalik’ lebih kuat (lebih utama), karena di dalamnya terdapat tambahan huruf, sehingga orang yang membacanya mendapat sepuluh kebaikan lebih banyak dibandingkan orang yang membaca ‘Malik’.”

Aku berkata:

Ini adalah pandangan yang melihat pada bentuk lafaz (susunan kata), bukan pada maknanya.

Padahal telah tetap (sah) bacaan ‘Malik’, dan di dalamnya terdapat makna yang tidak terdapat pada ‘Maalik’, sebagaimana telah kami jelaskan. والله أعلم.”

Baca juga:

Pendalaman Al-Fatihah Bab 4: Makna, Qirā’āt, I‘rāb, Keutamaan Orang yang Memuji Allah dan 36 Pembahasan Penting. Bagian: 06

Pendalaman Al-Fatihah Bab 4: Makna, Qirā’āt, I‘rāb,Keutamaan Orang yang Memuji Allah dan 36 Pembahasan Penting. Bagian: 04

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

Pendalaman Al-Fatihah Bab 4: Makna, Qirā’āt, I‘rāb, Keutamaan Orang yang Memuji Allah dan 36 Pembahasan Penting. Bagian: 05

الثالثة عشرة - قوله تعالى : {الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} وصف نفسه تعالى بعد {رَبِّ الْعَالَمِينَ} بأنه {الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} لأنه لما كان...