Hukum Akad Ibḍhā‘ dalam Fikih Islam: Definisi, Perbedaan dengan Muḍārabah, Syarat Sah, Hak dan Kewajiban, Kerugian, serta Berakhirnya Akad

إِبْضَاع

Ibdhā‘ (إِبْضَاع)

التَّعْرِيفُ:

Definisi:

١ - الإِْبْضَاعُ مَصْدَرُ أَبْضَعَ، وَمِنْهُ الْبِضَاعَةُ. وَالْبِضَاعَةُ مِنْ مَعَانِيهَا الْقِطْعَةُ مِنَ الْمَال، أَوْ هِيَ طَائِفَةٌ مِنَ الْمَال تُبْعَثُ لِلتِّجَارَةِ. وَأَبْضَعَهُ الْبِضَاعَةَ: أَعْطَاهُ إِيَّاهَا. وَيُعَرِّفُ الْفُقَهَاءُ الإِْبْضَاعَ بِأَنَّهُ بَعْثُ الْمَال مَعَ مَنْ يَتَّجِرُ بِهِ تَبَرُّعًا، وَالرِّبْحُ كُلُّهُ لِرَبِّ الْمَال (١) . هَذَا وَالأَْصْل أَنْ يَكُونَ الإِْبْضَاعُ تَبَرُّعًا مِنَ الْعَامِل. وَاعْتَبَرَهُ الْمَالِكِيَّةُ إِبْضَاعًا وَلَوْ كَانَ بِأَجْرٍ.

1.      Ibdhā‘ (الإبضاع) merupakan bentuk mashdar dari kata abdha‘a (أَبْضَعَ). Dari kata tersebut juga berasal istilah bidhā‘ah (البضاعة).

Bidhā‘ah di antara maknanya adalah sepotong harta, atau sejumlah harta yang dikirim untuk diperdagangkan.

Adapun ungkapan أَبْضَعَهُ الْبِضَاعَةَ berarti ia memberikan harta dagangan tersebut kepadanya.

Para fuqaha mendefinisikan ibdā‘ sebagai menyerahkan harta kepada seseorang yang akan memperdagangkannya secara sukarela, sedangkan seluruh keuntungan menjadi milik pemilik harta.

Pada dasarnya, ibdā‘ dilakukan secara sukarela oleh pihak pengelola (pekerja). Namun, ulama Malikiyah menganggapnya sebagai ibdā‘ meskipun dilakukan dengan imbalan (upah).

وَيُطْلِقُ الْفُقَهَاءُ لَفْظَ الْبِضَاعَةِ عَلَى الْمَال الْمَبْعُوثِ لِلاِتِّجَارِ بِهِ، وَالإِْبْضَاعَ عَلَى الْعَقْدِ ذَاتِهِ، وَقَدْ يُطْلِقُونَ الْبِضَاعَةَ وَيُرِيدُونَ بِهَا الْعَقْدَ.

Para fuqaha menggunakan istilah bidhā‘ah untuk menyebut harta yang dikirim untuk diperdagangkan, sedangkan istilah ibdā‘ digunakan untuk menyebut akad itu sendiri. Namun, terkadang mereka menggunakan istilah bidhā‘ah dengan maksud akad tersebut.

الأَْلْفَاظُ ذَاتُ الصِّلَةِ:

Istilah-Istilah yang Berkaitan:

٢ - الْقِرَاضُ: وَيُسَمَّى عِنْدَ أَهْل الْعِرَاقِ الْمُضَارَبَةَ، وَهُوَ دَفْعُ الرَّجُل مَالَهُ إِلَى آخَرَ لِيَتَّجِرَ فِيهِ، عَلَى أَنْ يَكُونَ لِلْعَامِل جُزْءٌ شَائِعٌ مِنَ الرِّبْحِ. (١) فَالْقِرَاضُ شَرِكَةٌ فِي الرِّبْحِ بَيْنَ رَبِّ الْمَال وَالْعَامِل، بَيْنَمَا الإِْبْضَاعُ لاَ يَحْمِل صُورَةَ الْمُشَارَكَةِ، بَل صُورَةَ التَّبَرُّعِ مِنَ الْعَامِل فِي التِّجَارَةِ لِرَبِّ الْمَال دُونَ مُقَابِلٍ.

2 – Qirāḍ (القِراض): Di kalangan penduduk Irak, istilah ini disebut muḍārabah (المضاربة). Qirāḍ adalah penyerahan harta seseorang kepada orang lain untuk diperdagangkan, dengan ketentuan bahwa pihak yang mengelola harta memperoleh bagian tertentu yang telah disepakati dari keuntungan.

Dengan demikian, qirāḍ merupakan bentuk kerja sama dalam keuntungan antara pemilik modal dan pihak pengelola, sedangkan ibḍā‘ tidak mengandung bentuk kerja sama, tetapi merupakan bentuk kesukarelaan dari pihak pengelola untuk memperdagangkan harta milik pemilik modal tanpa imbalan.

الْقَرْضُ: وَهُوَ لُغَةً الْقَطْعُ. وَعَرَّفَهُ الْفُقَهَاءُ بِأَنَّهُ دَفْعُ الْمَال إِرْفَاقًا لِمَنْ يَنْتَفِعُ بِهِ وَيَرُدُّ بَدَلَهُ. وَهُوَ نَوْعٌ مِنَ السَّلَفِ، فَيَصِحُّ بِلَفْظِ قَرْضٍ وَسَلَفٍ (٢) .

Qarḍ (القَرْض):
Secara bahasa berarti memotong. Para fuqaha mendefinisikannya sebagai menyerahkan harta sebagai bentuk bantuan kepada orang yang memanfaatkannya, kemudian ia mengembalikan penggantinya. Qarḍ merupakan salah satu bentuk salaf (pinjaman), sehingga akad tersebut sah dengan menggunakan lafaz qarḍ maupun salaf.

الْوَكَالَةُ: وَهِيَ فِي اللُّغَةِ التَّفْوِيضُ. وَعَرَّفَهَا الْفُقَهَاءُ بِأَنَّهَا إِقَامَةُ الإِْنْسَانِ غَيْرَهُ مَقَامَ نَفْسِهِ فِيمَا يَقْبَل الإِْنَابَةَ. وَالْوَكَالَةُ عَامَّةٌ فِي كُل مَا تَصِحُّ النِّيَابَةُ فِيهِ، لَكِنَّ الإِْبْضَاعَ قَاصِرٌ عَلَى مَا يَدْفَعُهُ رَبُّ الْمَال لِلْعَامِل لِيَتَّجِرَ فِيهِ، فَهُوَ وَكِيلٌ فِي هَذَا فَقَطْ.

Wakālah (الوكالة):
Secara bahasa berarti pelimpahan atau penyerahan urusan. Para fuqaha mendefinisikannya sebagai menempatkan orang lain pada kedudukan dirinya sendiri dalam suatu perkara yang dapat diwakilkan.

Wakālah berlaku secara umum dalam segala perkara yang sah dilakukan melalui perwakilan. Adapun ibḍā‘ terbatas pada harta yang diserahkan oleh pemilik harta kepada pihak pengelola untuk diperdagangkan. Dengan demikian, pihak pengelola hanya berkedudukan sebagai wakil dalam perkara tersebut.

صِفَةُ الإِْبْضَاعِ (حُكْمُهُ التَّكْلِيفِيُّ) :

Sifat Ibdhā‘ (Hukum Taklifinya)

٣ - الإِْبْضَاعُ عَقْدٌ جَائِزٌ لأَِنَّهُ يَتِمُّ عَلَى وَجْهٍ لاَ غَرَرَ فِيهِ. وَإِذَا كَانَتِ الْمُضَارَبَةُ، مَعَ مَا فِيهَا مِنْ شُبْهَةِ غَرَرٍ، جَائِزَةً (٣) ، فَمِنْ بَابِ أَوْلَى أَنْ يَقَعَ الإِْبْضَاعُ جَائِزًا، سَوَاءٌ أَكَانَ عَقْدُهُ مُسْتَقِلًّا أَمْ تَابِعًا لِعَقْدِ الْمُضَارَبَةِ، كَأَنْ دَفَعَ الْعَامِل الْمَال بِضَاعَةً لِعَامِلٍ آخَرَ، فَهُوَ عَقْدٌ صَحِيحٌ؛ لأَِنَّ الإِْبْضَاعَ سَبِيلٌ لإِِنْمَاءِ الْمَال بِلاَ أَجْرٍ، وَهَذَا مِمَّا يَرْتَضِيهِ رَبُّ الْمَال.

3 – Ibdhā‘ merupakan akad yang jaiz (dibolehkan), karena akad ini dilaksanakan dengan cara yang tidak mengandung unsur gharar (ketidakjelasan atau spekulasi yang merugikan).

Apabila muḍārabah, meskipun di dalamnya terdapat unsur yang menyerupai gharar, tetap diperbolehkan, maka lebih utama lagi apabila ibdā‘ dinyatakan sebagai akad yang jaiz.

Hal tersebut berlaku baik akad ibdā‘ dilakukan secara mandiri maupun sebagai akad yang mengikuti akad muḍārabah. Contohnya, apabila pihak pengelola menyerahkan harta yang dipercayakan kepadanya sebagai bidhā‘ah kepada pengelola lain untuk diperdagangkan, maka akad tersebut merupakan akad yang sah.

Sebab, ibdā‘ merupakan sarana untuk mengembangkan harta tanpa imbalan, dan hal tersebut termasuk sesuatu yang diridai oleh pemilik harta.

حِكْمَةُ تَشْرِيعِهِ:

Hikmah Disyariatkannya

٤ - الإِْبْضَاعُ مِنْ عَادَةِ التُّجَّارِ، (١) وَالْحَاجَةُ قَدْ تَدْعُو إِلَيْهِ؛ لأَِنَّ رَبَّ الْمَال قَدْ لاَ يُحْسِنُ الْبَيْعَ وَالشِّرَاءَ، أَوْ لاَ يُمْكِنُهُ الْخُرُوجُ إِلَى السُّوقِ، وَقَدْ يَكُونُ لَهُ مَالٌ وَلاَ يُحْسِنُ التِّجَارَةَ فِيهِ، وَقَدْ يُحْسِنُ وَلاَ يَتَفَرَّغُ وَقَدْ لاَ تَلِيقُ بِهِ التِّجَارَةُ، لِكَوْنِهِ امْرَأَةً، أَوْ مِمَّنْ يَتَعَيَّرُ بِهَا، (٢) فَيُوَكِّل غَيْرَهُ. وَمَا الإِْبْضَاعُ إِلاَّ تَوْكِيلٌ بِلاَ جُعْلٍ، فَهُوَ حِينَئِذٍ سَبِيلٌ لِلْمَعْرُوفِ وَتَآلُفِ الْقُلُوبِ وَتَوْثِيقِ الرَّوَابِطِ، خُصُوصًا بَيْنَ التُّجَّارِ.

4 – Ibdā‘ merupakan salah satu kebiasaan para pedagang. Kebutuhan terkadang mendorong seseorang untuk melakukan ibdā‘, karena pemilik harta mungkin tidak pandai melakukan jual beli, atau tidak memungkinkan baginya untuk pergi ke pasar.

Terkadang seseorang memiliki harta, tetapi tidak pandai memperdagangkannya. Ada pula yang sebenarnya pandai berdagang, tetapi tidak memiliki waktu untuk berkonsentrasi mengelolanya. Bahkan, terkadang perdagangan tidak sesuai dengan keadaan dirinya, misalnya karena ia seorang perempuan, atau termasuk orang yang akan merasa malu jika melakukan pekerjaan tersebut, sehingga ia mewakilkan urusannya kepada orang lain.

Ibdā‘ pada hakikatnya hanyalah pemberian kuasa tanpa imbalan. Oleh karena itu, ibdā‘ menjadi salah satu sarana untuk berbuat kebajikan, mempererat hubungan antarmanusia, dan menguatkan ikatan, khususnya di antara para pedagang.

وَكَمَا أَنَّ عَقْدَ الإِْبْضَاعِ سَبِيلٌ لإِِنْمَاءِ مَال رَبِّ الْمَال، فَقَدْ يَكُونُ سَبِيلاً لإِِنْمَاءِ مَال الْعَامِل الْمُتَبَرِّعِ، وَذَلِكَ إِذَا دَخَل الْعَامِل مَعَ رَبِّ الْمَال بِالنِّصْفِ مَثَلاً، كَأَنْ يُقَدِّمَ رَبُّ الْمَال أَلْفًا وَالْعَامِل أَلْفًا، وَيَكُونَ الرِّبْحُ مُنَاصَفَةً بَيْنَهُمَا، فَالْمُشَارَكَةُ هُنَا تَزِيدُ فِي رَأْسِ الْمَال، وَبِالتَّالِي تَزِيدُ الأَْرْبَاحُ، وَفِي ذَلِكَ مَا فِيهِ مِنْ مَصْلَحَةِ الْعَامِل. فَيَكُونُ الْعَامِل هُنَا اسْتَخْدَمَ مَال رَبِّ الْمَال، وَهُوَ النِّصْفُ، وَرَدَّ لَهُ أَرْبَاحَهُ مُتَبَرِّعًا بِعَمَلِهِ، وَاسْتَفَادَ هُوَ مِنْ مُشَارَكَةِ مَال رَبِّ الْمَال فِي زِيَادَةِ رَأْسِ مَالِهِ، وَمِنْ ثَمَّ يَزِيدُ رِبْحُهُ.

Sebagaimana akad ibdā‘ menjadi sarana untuk mengembangkan harta milik pemilik modal, demikian pula akad tersebut dapat menjadi sarana untuk mengembangkan harta milik pihak pengelola yang secara sukarela menjalankan usaha.

Hal itu terjadi apabila pihak pengelola ikut menyertakan modalnya bersama pemilik modal dengan pembagian setengah, misalnya pemilik modal memberikan seribu, sedangkan pihak pengelola juga memberikan seribu, kemudian keuntungan dibagi secara sama rata di antara keduanya.

Dengan demikian, kerja sama tersebut menambah modal usaha, sehingga keuntungan yang diperoleh juga bertambah. Dalam hal ini terdapat kemaslahatan bagi pihak pengelola.

Dalam kondisi tersebut, pihak pengelola menggunakan setengah dari harta milik pemilik modal, kemudian menyerahkan keuntungan dari harta tersebut kepadanya secara sukarela sebagai imbalan atas usahanya. Pada saat yang sama, pihak pengelola memperoleh manfaat dari penggabungan harta milik pemilik modal dengan modalnya sendiri, sehingga modalnya bertambah dan pada akhirnya keuntungannya pun meningkat.

صِيغَةُ الإِْبْضَاعِ:

Sighat Ibdhā‘

٥ - أَجْمَعَ الْفُقَهَاءُ عَلَى اعْتِبَارِ الصِّيغَةِ، وَهِيَ الإِْيجَابُ وَالْقَبُول، رُكْنًا فِي كُل عَقْدٍ. وَتَفْصِيل الْكَلاَمِ فِي ذَلِكَ يُرْجَعُ إِلَيْهِ عِنْدَ الْكَلاَمِ عَلَى الْعَقْدِ.

5 – Para fuqaha sepakat bahwa sighat, yaitu ijab dan kabul, merupakan salah satu rukun dalam setiap akad. Adapun pembahasan secara terperinci mengenai hal tersebut dapat dirujuk pada pembahasan tentang akad.

وَأَمَّا مَا يَتَّصِل بِالإِْبْضَاعِ فَإِنَّ الصِّيغَةَ اللَّفْظِيَّةَ قَدْ تَكُونُ صَرِيحَةً بِلَفْظِ الإِْبْضَاعِ، أَوِ الْبِضَاعَةِ، وَقَدْ تَكُونُ غَيْرَ صَرِيحَةٍ، كَأَنْ يَقُول: خُذْ هَذَا الْمَال مُضَارَبَةً، عَلَى أَنْ يَكُونَ الرِّبْحُ كُلُّهُ لِي. وَهَذِهِ الصُّورَةُ مَحَل خِلاَفٍ بَيْنَ الْفُقَهَاءِ (١) . فَذَهَبَ الْحَنَابِلَةُ إِلَى أَنَّ هَذَا الْعَقْدَ لاَ يَصِحُّ، وَاعْتَبَرُوا ذَلِكَ مِنْ بَابِ التَّنَاقُضِ؛ لأَِنَّ قَوْلَهُ: " مُضَارَبَةً " يَقْتَضِي الشَّرِكَةَ فِي الرِّبْحِ، وَقَوْلَهُ: " الرِّبْحُ كُلُّهُ لِي " يَقْتَضِي عَدَمَهَا، فَتَنَاقَضَ قَوْلُهُ، فَفَسَدَتِ الْمُضَارَبَةُ، وَلأَِنَّهُ اشْتَرَطَ اخْتِصَاصَ أَحَدِهِمَا بِالرِّبْحِ، وَهَذَا شَرْطٌ يُنَاقِضُ الْعَقْدَ فَفَسَدَ، وَلأَِنَّ اللَّفْظَ الصَّرِيحَ فِي بَابِهِ لاَ يَكُونُ كِنَايَةً فِي غَيْرِهِ، فَالْمُضَارَبَةُ لاَ تَنْقَلِبُ إِبْضَاعًا وَلاَ قَرْضًا. وَعَلَى هَذَا اعْتَبَرُوا هَذَا الْعَقْدَ مُضَارَبَةً فَاسِدَةً. (٢)

Adapun yang berkaitan dengan ibdā‘, sighat secara verbal terkadang dinyatakan secara jelas (ṣarīḥ) dengan menggunakan lafaz ibdā‘ atau bidhā‘ah. Namun, terkadang sighat tersebut disampaikan secara tidak jelas (tidak ṣarīḥ), misalnya seseorang berkata:

“Ambillah harta ini sebagai muḍārabah, dengan ketentuan bahwa seluruh keuntungannya menjadi milikku.”

Bentuk akad seperti ini menjadi objek perbedaan pendapat di antara para fuqaha.

Ulama Hanabilah berpendapat bahwa akad tersebut tidak sah. Mereka menganggapnya sebagai bentuk pertentangan (tanāquḍ). Sebab, perkataannya, “sebagai muḍārabah”, mengandung konsekuensi adanya kerja sama dalam keuntungan, sedangkan perkataannya, “seluruh keuntungan menjadi milikku”, mengandung konsekuensi tidak adanya kerja sama dalam keuntungan.

Dengan demikian, perkataan tersebut saling bertentangan sehingga akad muḍārabah menjadi rusak.

Selain itu, ia telah menetapkan syarat bahwa salah satu pihak secara khusus mendapatkan seluruh keuntungan, sedangkan syarat seperti ini bertentangan dengan hakikat akad muḍārabah, sehingga akad tersebut menjadi rusak.

Mereka juga berpendapat bahwa lafaz yang secara tegas digunakan untuk suatu akad tidak dapat dianggap sebagai kinayah (ungkapan sindiran) untuk akad yang lain. Oleh karena itu, akad muḍārabah tidak dapat berubah menjadi ibdā‘ ataupun qarḍ (pinjaman).

Berdasarkan pendapat tersebut, mereka menganggap akad ini sebagai muḍārabah yang fasid (rusak/tidak sah).

وَذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ إِلَى أَنَّ هَذَا إِبْضَاعٌ صَحِيحٌ، لِوُجُودِ مَعْنَى الإِْبْضَاعِ هُنَا، فَانْصَرَفَ إِلَيْهِ، كَمَا لَوْ قَال: اتَّجِرْ بِهِ وَالرِّبْحُ كُلُّهُ لِي، وَذَلِكَ لأَِنَّ الْعِبْرَةَ فِي الْعُقُودِ لِمَعَانِيهَا.

Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa akad seperti ini merupakan ibdā‘ yang sah, karena di dalamnya terdapat makna ibdā‘ sehingga akad tersebut diarahkan kepada makna tersebut. Hal ini sebagaimana apabila seseorang berkata, “Perdagangkanlah harta ini, dan seluruh keuntungannya menjadi milikku.” Sebab, yang menjadi pertimbangan dalam akad adalah makna dan maksudnya.

وَالْمَالِكِيَّةُ أَجَازُوا اشْتِرَاطَ رِبْحِ الْقِرَاضِ كُلِّهِ لِرَبِّ الْمَال أَوْ لِلْعَامِل فِي مَشْهُورِ مَذْهَبِ مَالِكٍ، أَوْ لِغَيْرِهِمَا فِي الْمُدَوَّنَةِ؛ لأَِنَّهُ مِنْ بَابِ التَّبَرُّعِ، لَكِنَّهُمْ لاَ يَقُولُونَ كَمَا قَال الْحَنَفِيَّةُ: إِنَّ الْعَقْدَ بِهَذِهِ الصُّورَةِ إِبْضَاعٌ، بَل يَقُولُونَ: إِنَّ إِطْلاَقَ الْقِرَاضِ عَلَيْهِ مَجَازٌ (١) . وَمِنْ هُنَا يَتَبَيَّنُ أَنَّ الْمَالِكِيَّةَ رَأْيُهُمْ كَرَأْيِ الْحَنَفِيَّةِ وَإِنْ كَانُوا يُخَالِفُونَ فِي التَّسْمِيَةِ.

Adapun ulama Malikiyah membolehkan mensyaratkan seluruh keuntungan qirāḍ (muḍārabah) menjadi milik pemilik modal atau seluruhnya menjadi milik pihak pengelola, menurut pendapat yang masyhur dalam mazhab Imam Malik. Bahkan, dalam al-Mudawwanah, mereka membolehkan keuntungan tersebut diberikan kepada selain kedua belah pihak. Hal ini karena perbuatan tersebut termasuk tabarru‘ (pemberian secara sukarela).

Namun, mereka tidak berpendapat sebagaimana Hanafiyah bahwa akad dengan bentuk seperti ini disebut sebagai ibdā‘. Mereka justru mengatakan bahwa penggunaan istilah qirāḍ untuk akad tersebut merupakan penggunaan secara majazi (kiasan).

Dari sini dapat diketahui bahwa pendapat Malikiyah pada hakikatnya sama dengan pendapat Hanafiyah, meskipun keduanya berbeda dalam hal penamaan akad tersebut.

وَعَلَى هَذَا فَإِنَّ مَنِ اعْتَبَرَ مِثْل هَذَا الْعَقْدِ صَحِيحًا فَلاَ يَرَى أَنَّ الْعَامِل يَسْتَحِقُّ شَيْئًا بَل هُوَ مُتَبَرِّعٌ بِالْعَمَل. وَأَمَّا مَنِ اعْتَبَرَهُ فَاسِدًا فَيُوجِبُ لَهُ أَجْرَ الْمِثْل.

Berdasarkan hal tersebut, orang yang menganggap akad semacam ini sah tidak berpendapat bahwa pihak pengelola berhak mendapatkan sesuatu, melainkan ia dianggap melakukan pekerjaan secara sukarela (tabarru‘). Adapun orang yang menganggap akad tersebut fasid (rusak), maka ia mewajibkan diberikan upah yang sepadan (ujrat al-mithl) kepadanya.

وَبَعْضُ الشَّافِعِيَّةِ اعْتَبَرَ حَال الْعَامِل، فَإِنْ كَانَ يَجْهَل حُكْمَ الإِْبْضَاعِ وَأَنَّهُ لاَ يُوجِبُ لَهُ أَجْرًا وَلاَ جُزْءًا مِنَ الرِّبْحِ فَإِنَّهُمْ يَرَوْنَ أَنَّ لَهُ أَجْرَ الْمِثْل. وَيُنْسَبُ هَذَا الرَّأْيُ إِلَى ابْنِ عَبَّاسٍ. وَجَهْل مِثْل هَذَا الْحُكْمِ مِمَّا يُعْذَرُ بِهِ بَعْضُ النَّاسِ. (٢)

Sebagian ulama Syafi‘iyah mempertimbangkan keadaan pihak pengelola. Apabila ia tidak mengetahui hukum ibdā‘, yaitu bahwa akad tersebut tidak menyebabkan ia berhak mendapatkan upah ataupun bagian dari keuntungan, maka mereka berpendapat bahwa ia berhak mendapatkan upah yang sepadan (ujrat al-mithl).

Pendapat ini dinisbatkan kepada Ibnu Abbas. Ketidaktahuan terhadap hukum seperti ini termasuk ketidaktahuan yang dapat menjadi alasan yang dapat dimaklumi bagi sebagian orang.

مَا يَتَرَتَّبُ عَلَى الإِْبْضَاعِ بِلَفْظِ الْمُضَارَبَةِ:

Akibat Ibdā‘ dengan Menggunakan Lafaz Muḍārabah

٦ - يَذْكُرُ الْحَنَابِلَةُ أَنَّ رَبَّ الْمَال إِذَا قَال لِلْعَامِل: خُذْ هَذَا الْمَال مُضَارَبَةً وَلِي رِبْحُهُ كُلُّهُ، لَمْ يَصِحَّ مُضَارَبَةً. وَلاَ أُجْرَةَ لَهُ عَلَى الصَّحِيحِ لأَِنَّ الْعَامِل رَضِيَ بِالْعَمَل بِغَيْرِ عِوَضٍ فَأَشْبَهَ مَا لَوْ أَعَانَهُ فِي شَيْءٍ وَتَوَكَّل لَهُ بِغَيْرِ جُعْلٍ. (٣)

6 – Ulama Hanabilah menjelaskan bahwa apabila pemilik modal berkata kepada pihak pengelola:

“Ambillah harta ini sebagai muḍārabah, dan seluruh keuntungannya menjadi milikku.”

Maka akad tersebut tidak sah sebagai muḍārabah.

Menurut pendapat yang sahih, pihak pengelola tidak berhak mendapatkan upah, karena ia telah rela melakukan pekerjaan tanpa imbalan. Hal ini dianalogikan dengan keadaan seseorang yang membantu orang lain dalam suatu pekerjaan atau menjadi wakilnya tanpa meminta imbalan.

الإِْبْضَاعُ بِأَلْفَاظٍ أُخْرَى:

Ibdhā‘ dengan Lafaz-Lafaz Lain

٧ - يَتَحَقَّقُ الإِْبْضَاعُ بِعِبَارَاتٍ تَدُل عَلَيْهِ، وَلَوْ لَمْ يُصَرِّحْ بِلَفْظِ الإِْبْضَاعِ، مِنْهَا قَوْل رَبِّ الْمَال: خُذْ هَذَا الْمَال وَاتَّجِرْ فِيهِ، أَوْ تَصَرَّفَ فِيهِ، أَوْ خُذْهُ وَالرِّبْحُ كُلُّهُ لِي. فَذَهَبَ الشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ إِلَى أَنَّ الْعَقْدَ يَكُونُ إِبْضَاعًا؛ لأَِنَّ اللَّفْظَ فِي هَذِهِ الأَْحْوَال يَحْتَمِل الْقِرَاضَ وَالْقَرْضَ وَالإِْبْضَاعَ، وَقَدْ قُرِنَ بِهِ حُكْمُ الإِْبْضَاعِ، وَهُوَ أَنَّ الرِّبْحَ كُلَّهُ لِرَبِّ الْمَال، فَيَنْصَرِفُ إِلَى الإِْبْضَاعِ. (١) وَهُوَ مَا يُفْهَمُ مِنْ قَوَاعِدِ الْحَنَفِيَّةِ وَالْمَالِكِيَّةِ.

7 – Ibdā‘ dapat terwujud melalui ungkapan-ungkapan yang menunjukkan maknanya, meskipun tidak secara tegas menggunakan lafaz ibdā‘. Di antaranya adalah perkataan pemilik modal:

“Ambillah harta ini dan perdagangkanlah,”
atau “Kelolalah harta ini,”
atau “Ambillah harta ini, dan seluruh keuntungannya menjadi milikku.”

Ulama Syafi‘iyah dan Hanabilah berpendapat bahwa akad tersebut merupakan ibdā‘, karena lafaz yang digunakan dalam keadaan-keadaan tersebut dapat mengandung makna qirāḍ (muḍārabah), qarḍ (pinjaman), dan ibdā‘. Sementara itu, lafaz tersebut disertai dengan hukum ibdā‘, yaitu bahwa seluruh keuntungan menjadi milik pemilik modal, sehingga akad tersebut diarahkan kepada makna ibdā‘.

Pendapat ini juga merupakan hal yang dapat dipahami dari kaidah-kaidah yang digunakan oleh ulama Hanafiyah dan Malikiyah.

كَمَا يَتَحَقَّقُ فِي صُورَةِ مَا إِذَا دَفَعَ إِلَيْهِ أَلْفًا وَقَال: أَضِفْ إِلَيْهِ أَلْفًا مِنْ عِنْدِكَ، وَاتَّجِرْ فِيهِ، وَالرِّبْحُ بَيْنَنَا نِصْفَانِ، فَإِنَّهُ يَكُونُ إِبْضَاعًا عَلَى مَا سَبَقَ (ف ٤)

Ibdhā‘ juga dapat terwujud dalam bentuk ketika seseorang menyerahkan seribu kepada pihak lain, lalu berkata:

“Tambahkanlah seribu dari hartamu sendiri, kemudian perdagangkanlah keduanya, dan keuntungan kita bagi dua sama rata.”

Maka akad tersebut juga termasuk ibdā‘, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

اجْتِمَاعُ الإِْبْضَاعِ وَالْمُضَارَبَةِ:

Bergabungnya Ibdā‘ dan Muḍārabah

٨ - إِذَا دَفَعَ نِصْفَ الْمَال بِضَاعَةً وَنِصْفَهُ مُضَارَبَةً فَقَبَضَ الْمُضَارِبُ عَلَى ذَلِكَ فَهُوَ جَائِزٌ، وَالْمَال عَلَى مَا سَمَّيَا مِنَ الْمُضَارَبَةِ وَالإِْبْضَاعِ، وَالْخَسَارَةُ عَلَى رَبِّ الْمَال، وَنِصْفُ الرِّبْحِ لِرَبِّ الْمَال، وَنِصْفُهُ الآْخَرُ عَلَى مَا شَرَطَا؛ لأَِنَّ الشُّيُوعَ لاَ يَمْنَعُ مِنَ الْعَمَل فِي الْمَال مُضَارَبَةً وَبِضَاعَةً، وَجَازَتِ الْمُضَارَبَةُ وَالْبِضَاعَةُ.

8 – Apabila pemilik modal menyerahkan setengah dari hartanya sebagai bidhā‘ah (ibdā‘) dan setengah lainnya sebagai muḍārabah, lalu pihak muḍārib menerima ketentuan tersebut, maka hal itu diperbolehkan.

Harta tersebut diperlakukan sesuai dengan ketentuan yang telah mereka sepakati, yaitu sebagian sebagai muḍārabah dan sebagian sebagai ibdā‘. Adapun kerugian menjadi tanggungan pemilik modal, sedangkan setengah keuntungan menjadi milik pemilik modal, sementara setengah keuntungan lainnya dibagikan sesuai dengan kesepakatan yang telah mereka tentukan.

Hal ini karena bercampurnya kedua bentuk akad tersebut tidak menghalangi seseorang untuk mengelola harta melalui muḍārabah dan ibdā‘ sekaligus, dan kedua akad tersebut sama-sama diperbolehkan.

وَإِنَّمَا كَانَتِ الْخَسَارَةُ عَلَى رَبِّ الْمَال لأَِنَّهُ لاَ ضَمَانَ عَلَى الْمُبْضِعِ وَالْمُضَارِبِ فِي الْبِضَاعَةِ وَالْمُضَارَبَةِ، وَحِصَّةُ الْبِضَاعَةِ مِنَ الرِّبْحِ لِرَبِّ الْمَال خَاصَّةً لأَِنَّ الْمُبْضَعَ لاَ يَسْتَحِقُّ الرِّبْحَ. (٢)

Kerugian menjadi tanggungan pemilik modal, karena pihak yang menjalankan ibdā‘ maupun muḍārabah tidak berkewajiban menanggung kerugian dalam akad bidhā‘ah dan muḍārabah.

Adapun bagian keuntungan dari harta yang diserahkan sebagai bidhā‘ah secara khusus menjadi milik pemilik modal, karena pihak yang menjalankan ibdā‘ tidak berhak memperoleh bagian keuntungan.

شُرُوطُ الصِّحَّةِ:

Syarat-Syarat Sah

٩ - شُرُوطُ صِحَّةِ الإِْبْضَاعِ لاَ تَخْرُجُ فِي الْجُمْلَةِ عَمَّا اشْتُرِطَ فِي صِحَّةِ الْمُضَارَبَةِ مَا عَدَا الشُّرُوطَ الْمُتَعَلِّقَةَ بِالرِّبْحِ، وَلَكِنْ يُشْتَرَطُ فِي الْعَامِل أَنْ يَكُونَ مِنْ أَهْل التَّبَرُّعِ. (١)

9 – Syarat-syarat sahnya akad ibdā‘ secara umum tidak berbeda dari syarat-syarat yang ditetapkan untuk sahnya akad muḍārabah, kecuali syarat-syarat yang berkaitan dengan keuntungan.

Namun, disyaratkan bahwa pihak pengelola harus termasuk orang yang memiliki kecakapan untuk melakukan tabarru‘ (pemberian atau tindakan secara sukarela tanpa imbalan).

وَلِلتَّفْصِيل يُرْجَعُ إِلَى مُصْطَلَحِ (مُضَارَبَة) .

Untuk penjelasan secara lebih rinci, dapat merujuk pada istilah “Muḍārabah”.

مَنْ يَمْلِكُ إِبْضَاعَ الْمَال:

Pihak yang Berhak Melakukan Ibdā‘ terhadap Harta

١٠ - الَّذِي يَمْلِكُ إِبْضَاعَ الْمَال:

10 – Pihak yang memiliki kewenangan untuk melakukan ibdā‘ terhadap harta:

أ - الْمَالِكُ: لِلْمَالِكِ أَنْ يَدْفَعَ الْمَال لِلْعَامِل بِضَاعَةً، وَهَذِهِ هِيَ الصُّورَةُ الأَْصْلِيَّةُ لِلإِْبْضَاعِ.

A – Pemilik harta:
Pemilik harta berhak menyerahkan hartanya kepada pihak pengelola sebagai bidhā‘ah (ibdā‘). Inilah bentuk asli dan dasar dari akad ibdā‘.

ب - الْمُضَارِبُ: لِلْمُضَارِبِ (الْعَامِل) أَنْ يَدْفَعَ الْمَال بِضَاعَةً لآِخَرَ؛ لأَِنَّ الْمَقْصُودَ مِنْ عَقْدِ الْمُضَارَبَةِ الرِّبْحُ، وَالإِْبْضَاعُ طَرِيقٌ إِلَى ذَلِكَ، وَلأَِنَّهُ يَمْلِكُ الاِسْتِئْجَارَ، فَالإِْبْضَاعُ أَوْلَى؛ لأَِنَّ الاِسْتِئْجَارَ اسْتِعْمَالٌ فِي الْمَال بِعِوَضٍ، وَالإِْبْضَاعَ اسْتِعْمَالٌ فِيهِ بِغَيْرِ عِوَضٍ، فَكَانَ أَوْلَى.

B – Muḍārib (pihak pengelola):
Pihak muḍārib (pengelola) diperbolehkan menyerahkan harta tersebut kepada orang lain sebagai bidhā‘ah, karena tujuan utama akad muḍārabah adalah memperoleh keuntungan, sedangkan ibdā‘ merupakan salah satu sarana untuk mencapai tujuan tersebut.

Selain itu, muḍārib memiliki kewenangan untuk menyewakan harta tersebut, sehingga melakukan ibdā‘ lebih utama untuk diperbolehkan. Sebab, penyewaan merupakan penggunaan harta dengan imbalan, sedangkan ibdā‘ merupakan penggunaan harta tanpa imbalan. Dengan demikian, ibdā‘ lebih layak untuk diperbolehkan.

وَالإِْبْضَاعُ يَمْلِكُهُ الْمُضَارِبُ لأَِنَّهُ مِنْ تَوَابِعِ عَقْدِ الْمُضَارَبَةِ، فَلاَ يَحْتَاجُ إِلَى إِذْنٍ عِنْدَ الْبَعْضِ عَلَى مَا سَيَأْتِي. وَجَوَازُهُ لِلْمُضَارِبِ أَوْلَى مِنْ جَوَازِ التَّوْكِيل بِالْبَيْعِ وَالشِّرَاءِ وَالرَّهْنِ وَالاِرْتِهَانِ وَالإِْجَارَةِ وَالإِْيدَاعِ وَغَيْرِ ذَلِكَ. (٢)

Muḍārib juga memiliki kewenangan melakukan ibdā‘ karena hal tersebut merupakan bagian dari konsekuensi dan kelengkapan akad muḍārabah. Oleh sebab itu, menurut sebagian ulama, ibdā‘ tidak memerlukan izin khusus, sebagaimana akan dijelaskan kemudian.

Kebolehan muḍārib melakukan ibdā‘ bahkan lebih kuat daripada kebolehannya mewakilkan urusan jual beli, pembelian, penggadaian, menerima gadai, penyewaan, penitipan, dan berbagai tindakan lainnya.

ج - الشَّرِيكُ: لِلشَّرِيكِ أَنْ يُبْضِعَ مِنْ مَال الشَّرِكَةِ، عَلَى مَا صَرَّحَ بِهِ الْحَنَفِيَّةُ وَالْمَالِكِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ فِي الصَّحِيحِ عِنْدَهُمْ، وَالشَّافِعِيَّةُ، بِشَرْطِ إِذْنِ الشَّرِيكِ.

C – Syārik (Mitra dalam Syirkah):
Seorang syarīk (mitra) diperbolehkan melakukan ibdā‘ terhadap harta milik perusahaan atau harta bersama dalam syirkah, sebagaimana ditegaskan oleh ulama Hanafiyah, Malikiyah, dan Hanabilah menurut pendapat yang sahih dalam mazhab mereka.

Adapun menurut ulama Syafi‘iyah, hal tersebut diperbolehkan dengan syarat mendapat izin dari mitra syirkahnya.

الاِعْتِبَارُ الشَّرْعِيُّ لِلْمُبْضَعِ وَتَصَرُّفَاتِهِ:

Kedudukan Syariat bagi Mubḍi‘ dan Tindakan-Tindakannya

١١ - الْمُبْضَعُ أَمِينٌ فِيمَا يَقْبِضُهُ مِنْ رَبِّ الْمَال؛ لأَِنَّ عَقْدَ الإِْبْضَاعِ عَقْدُ أَمَانَةٍ، فَلاَ ضَمَانَ عَلَيْهِ إِلاَّ بِالإِْهْمَال أَوِ التَّعَدِّي. وَهُوَ وَكِيل رَبِّ الْمَال فِي مَالِهِ، يَنُوبُ عَنْهُ فِي تَصَرُّفَاتِهِ التِّجَارِيَّةِ مِنْ بَيْعٍ وَشِرَاءٍ مِمَّا فِيهِ إِنْمَاءٌ لِلْمَال، عَلَى مَا جَرَى بِهِ عُرْفُ التُّجَّارِ، دُونَ حَاجَةٍ إِلَى إِذْنٍ خَاصٍّ. لَكِنْ لَوْ أَبْضَعَهُ لآِخَرَ لِيَعْمَل فِيهِ عَلَى سَبِيل الإِْبْضَاعِ، فَهَذَا الصَّنِيعُ يَحْتَاجُ إِلَى إِذْنِ رَبِّ الْمَال قِيَاسًا عَلَى الْمُضَارَبَةِ.

11 – Mubḍi‘ (pihak yang menerima harta untuk diperdagangkan) merupakan orang yang dipercaya (amīn) atas harta yang diterimanya dari pemilik modal, karena akad ibdā‘ merupakan akad amanah. Oleh karena itu, ia tidak berkewajiban menanggung kerugian kecuali apabila terjadi kelalaian atau tindakan melampaui batas (ta‘addi).

Mubḍi‘ berkedudukan sebagai wakil pemilik modal dalam mengelola hartanya. Ia menggantikan pemilik modal dalam berbagai transaksi perdagangan, seperti jual beli, dan berbagai tindakan yang bertujuan mengembangkan harta, sesuai dengan kebiasaan yang berlaku di kalangan para pedagang, tanpa memerlukan izin khusus.

Namun, apabila ia menyerahkan harta tersebut kepada orang lain agar orang itu mengelolanya melalui akad ibdā‘, maka tindakan tersebut memerlukan izin dari pemilik modal, dengan dianalogikan kepada akad muḍārabah.

وَكَذَلِكَ يَحْتَاجُ إِلَى الإِْذْنِ مِنْ رَبِّ الْمَال مَا كَانَ خَارِجًا مِنَ الأَْعْمَال عَنْ عَادَةِ التُّجَّارِ، كَالإِْقْرَاضِ وَالتَّبَرُّعَاتِ وَالصَّدَقَاتِ وَالْهِبَاتِ مِنْ رَأْسِ الْمَال الْمُخَصَّصِ لأَِغْرَاضِ الإِْنْمَاءِ وَالتِّجَارَةِ.

Demikian pula, tindakan-tindakan yang berada di luar kebiasaan para pedagang memerlukan izin dari pemilik modal, seperti memberikan pinjaman, melakukan tabarru‘ (pemberian secara sukarela), bersedekah, dan memberikan hibah dari modal yang secara khusus disediakan untuk tujuan pengembangan harta dan perdagangan.

شِرَاءُ الْمُبْضَعِ الْمَال لِنَفْسِهِ:

Mubḍi‘ Membeli Barang Dagangan untuk Dirinya Sendiri

١٢ - إِذَا دَفَعَ رَبُّ الْمَال الْمَال لِلْعَامِل بِضَاعَةً، فَلَيْسَ لَهُ أَنْ يَتَّجِرَ فِيهِ لِنَفْسِهِ، شَأْنُهُ شَأْنُ الْمُقَارِضِ (الْمُضَارِبِ) ، فَإِنَّ الْمَال إِنَّمَا دُفِعَ لِلْعَامِل فِي الْمُضَارَبَةِ وَالإِْبْضَاعِ عَلَى طَلَبِ الْفَضْل فِيهِ، فَلَيْسَ لِلْمُضَارِبِ وَلاَ لِلْمُبْضَعِ أَنْ يَجْعَلاَ ذَلِكَ لأَِنْفُسِهِمَا دُونَ رَبِّ الْمَال. (١)

12 – Apabila pemilik modal menyerahkan hartanya kepada pihak pengelola sebagai bidhā‘ah, maka pihak pengelola tidak diperbolehkan memperdagangkan harta tersebut untuk kepentingan dirinya sendiri, sebagaimana halnya pihak yang menerima akad qirāḍ (muḍārabah).

Sebab, harta tersebut diserahkan kepada pihak pengelola dalam akad muḍārabah maupun ibdā‘ dengan tujuan mengembangkan dan memperoleh keuntungan dari harta tersebut. Oleh karena itu, muḍārib maupun mubḍi‘ tidak diperbolehkan menjadikan keuntungan atau pemanfaatan harta tersebut untuk kepentingan diri mereka sendiri tanpa melibatkan pemilik modal.

وَقَدْ نَصَّ الْمَالِكِيَّةُ عَلَى أَنَّ الْمُبْضَعَ (الْعَامِل) إِذَا ابْتَاعَ لِنَفْسِهِ، أَنَّ صَاحِبَ الْمَال مُخَيَّرٌ بَيْنَ أَنْ يَأْخُذَ مَا ابْتَاعَ لِنَفْسِهِ، أَوْ يُضَمِّنَهُ رَأْسَ الْمَال؛ لأَِنَّهُ إِنَّمَا دَفَعَ الْمَال عَلَى النِّيَابَةِ عَنْهُ وَابْتِيَاعِ مَا أَمَرَهُ بِهِ، فَكَانَ أَحَقَّ بِمَا ابْتَاعَهُ. وَهَذَا إِذَا ظَفِرَ بِالأَْمْرِ قَبْل بَيْعِ مَا ابْتَاعَهُ، فَإِنْ فَاتَ مَا ابْتَاعَهُ فَإِنَّ رِبْحَهُ لِرَبِّ الْمَال، وَخَسَارَتَهُ عَلَى الْمُبْضِعِ مَعَهُ. وَمِثْلُهُ مَذْهَبُ الشَّافِعِيَّةِ فِي تَعَدِّي الْمُبْضَعِ. (١) وَيُؤْخَذُ مِنْ مَذْهَبِ الْحَنَابِلَةِ أَنَّهُ إِنْ ظَهَرَ رِبْحٌ فَهُوَ لِرَبِّ الْمَال، وَإِنْ ظَهَرَتْ خَسَارَةٌ فَهِيَ عَلَى الْعَامِل لِتَعَدِّيهِ. وَقَوَاعِدُ الْحَنَفِيَّةِ لاَ تَأْبَى ذَلِكَ.

Ulama Malikiyah secara tegas menyatakan bahwa apabila mubḍi‘ (pihak pengelola) membeli barang untuk dirinya sendiri, maka pemilik modal diberi pilihan antara mengambil barang yang dibelinya untuk dirinya tersebut, atau memasukkan nilainya sebagai bagian dari modal, karena pemilik modal sebenarnya menyerahkan harta itu kepadanya untuk bertindak sebagai wakilnya dan membeli barang yang diperintahkan kepadanya. Oleh karena itu, pemilik modal lebih berhak terhadap barang yang telah dibelinya.

Hal ini berlaku apabila pemilik modal mengetahui tindakan tersebut sebelum barang yang dibeli itu dijual kembali. Jika barang yang dibeli tersebut telah terjual dan tidak dapat lagi dikembalikan, maka keuntungannya menjadi milik pemilik modal, sedangkan kerugiannya menjadi tanggungan mubḍi‘ bersama dengan pemilik modal, karena tindakan tersebut dilakukan di luar kewenangannya.

Pendapat yang serupa juga merupakan mazhab Syafi‘iyah dalam masalah tindakan mubḍi‘ yang melampaui batas kewenangannya (ta‘addī).

Dari mazhab Hanabilah dapat dipahami bahwa apabila dari transaksi tersebut muncul keuntungan, maka keuntungan itu menjadi milik pemilik modal. Namun, apabila terjadi kerugian, maka kerugian tersebut menjadi tanggungan pihak pengelola, karena ia telah melakukan tindakan yang melampaui kewenangannya.

Adapun kaidah-kaidah dalam mazhab Hanafiyah tidak bertentangan dengan pendapat tersebut.

تَلَفُ الْمَال أَوْ خَسَارَتُهُ:

Kerusakan atau Kerugian Harta

١٣ - عَقْدُ الإِْبْضَاعِ مِنْ عُقُودِ الأَْمَانَةِ كَمَا تَقَدَّمَ، فَلاَ ضَمَانَ عَلَى مَنْ فِي يَدِهِ الْمَال إِنْ تَلِفَ أَوْ خَسِرَ مِنْ غَيْرِ تَفْرِيطٍ وَلاَ تَعَدٍّ، فَيُسْمَعُ قَوْلُهُ فِيمَا يَدَّعِيهِ مِنْ هَلاَكٍ أَوْ خَسَارَةٍ. بَل قَالُوا: إِنَّهُ لاَ يَضْمَنُ حَتَّى وَلَوْ قَال رَبُّ الْمَال: وَعَلَيْكَ ضَمَانُهُ؛ لأَِنَّ الْعَقْدَ يَقْتَضِي كَوْنَهُ أَمَانَةً. وَالْمَرْوِيُّ عَنْ صَاحِبَيْ أَبِي حَنِيفَةَ فِي شَأْنِ الأَْجِيرِ الْمُشْتَرَكِ، أَنَّهُ لاَ يُقْبَل قَوْلُهُ فِي الْهَلاَكِ إِلاَّ إِذَا كَانَ هُنَاكَ قَرِينَةٌ تَدُل عَلَى صِدْقِهِ، كَالْحَرِيقِ الْغَالِبِ، وَاللِّصِّ الْكَاسِرِ، وَالْعَدُوِّ الْمُكَابِرِ، وَقَالاَ: إِنَّ ذَلِكَ هُوَ الاِسْتِحْسَانُ، لِتَغَيُّرِ أَحْوَال النَّاسِ، وَأَفْتَى بِذَلِكَ عُمَرُ وَعَلِيٌّ فِي شَأْنِ الصُّنَّاعِ. وَمِنَ الْمَعْلُومِ أَنَّ الْعَيْنَ فِي يَدِ الصُّنَّاعِ أَمَانَةٌ، وَكَذَلِكَ هِيَ فِي يَدِ الْمُبْضَعِ، فَلاَ يَبْعُدُ قِيَاسُهُ عَلَيْهِ. (٢)

13 – Akad ibdā‘ termasuk akad amanah, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Oleh karena itu, orang yang memegang harta tidak berkewajiban mengganti kerugian apabila harta tersebut rusak atau mengalami kerugian tanpa adanya kelalaian maupun tindakan melampaui batas (ta‘addī). Dengan demikian, perkataannya mengenai apa yang ia nyatakan sebagai kerusakan atau kerugian harta dapat diterima.

Bahkan, para ulama mengatakan bahwa ia tidak berkewajiban menanggung kerugian sekalipun pemilik modal mengatakan kepadanya, “Engkau wajib menjamin harta tersebut.” Sebab, konsekuensi akad tersebut adalah bahwa harta yang berada di tangannya merupakan amanah.

Adapun riwayat yang dinukil dari dua murid utama Imam Abu Hanifah (Abu Yusuf dan Muhammad) mengenai ajīr musytarak (pekerja yang menerima pekerjaan dari banyak orang) menyatakan bahwa pengakuannya mengenai kerusakan harta tidak diterima kecuali apabila terdapat indikasi yang menunjukkan kebenarannya.

Contohnya adalah adanya kebakaran besar yang sulit dihindari, pencuri yang melakukan pembobolan, atau serangan musuh yang kuat dan sulit dilawan.

Keduanya berpendapat bahwa ketentuan tersebut merupakan bentuk istiḥsān, karena kondisi masyarakat telah mengalami perubahan. Pendapat ini juga menjadi dasar fatwa yang diberikan oleh Umar dan Ali mengenai para pengrajin atau pekerja.

Telah diketahui bahwa barang yang berada di tangan para pengrajin merupakan amanah, demikian pula harta yang berada di tangan mubḍi‘ merupakan amanah. Oleh karena itu, tidaklah jauh kemungkinan untuk menganalogikan hukum mubḍi‘ dengan hukum para pengrajin tersebut.

اخْتِلاَفُ الْعَامِل وَرَبِّ الْمَال:

Perselisihan antara Pihak Pengelola dan Pemilik Modal

١٤ - إِذَا اخْتَلَفَ رَبُّ الْمَال وَالْعَامِل فَادَّعَى الْعَامِل أَنَّهُ أَخَذَ الْمَال مُضَارَبَةً، وَادَّعَى الْمَالِكُ أَنَّهُ بِضَاعَةٌ، قَال الْحَنَفِيَّةُ وَالْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ: الْقَوْل قَوْل الْمَالِكِ مَعَ يَمِينِهِ؛ لأَِنَّهُ مُنْكِرٌ. وَنَصَّ الْمَالِكِيَّةُ عَلَى أَنَّ عَلَيْهِ لِلْعَامِل أُجْرَةَ مِثْلِهِ، إِلاَّ أَنْ تَكُونَ أَكْثَرَ مِنْ نِصْفِ رِبْحِ الْقِرَاضِ، فَلاَ يُعْطَى أَكْثَرَ مِمَّا ادَّعَى. وَبَيَّنُوا أَنَّ فَائِدَةَ كَوْنِ الْقَوْل قَوْلَهُ عَدَمُ غَرَامَةِ الْجُزْءِ الَّذِي ادَّعَاهُ الْعَامِل.

14 – Apabila terjadi perselisihan antara pemilik modal dan pihak pengelola, lalu pihak pengelola mengaku bahwa ia menerima harta tersebut sebagai muḍārabah, sedangkan pemilik modal menyatakan bahwa harta tersebut diberikan sebagai bidhā‘ah (ibdā‘), maka ulama Hanafiyah, Malikiyah, dan Syafi‘iyah berpendapat bahwa perkataan pemilik modal yang disertai sumpahnya yang diterima, karena dialah pihak yang menyangkal (mengingkari klaim pihak pengelola).

Ulama Malikiyah secara tegas menyatakan bahwa pemilik modal tetap wajib memberikan kepada pihak pengelola upah yang sepadan (ujrat al-mithl), kecuali apabila jumlahnya lebih besar daripada setengah keuntungan qirāḍ (muḍārabah). Dalam keadaan demikian, ia tidak diberikan lebih dari jumlah yang telah diklaim oleh pihak pengelola.

Mereka menjelaskan bahwa manfaat dari menjadikan perkataan pemilik modal sebagai dasar hukum adalah bahwa pemilik modal tidak dibebani untuk membayar bagian keuntungan yang diklaim oleh pihak pengelola.

وَبَيَانُ ذَلِكَ أَنَّ رَبَّ الْمَال تَضَمَّنَتْ دَعْوَاهُ أَنَّ الْعَامِل تَبَرَّعَ لَهُ بِالْعَمَل، وَهُوَ يُنْكِرُ ذَلِكَ وَيَدَّعِي أَنَّهُ بِأُجْرَةِ مِثْلِهِ؛ لأَِنَّهُ لَيْسَ مُتَبَرِّعًا. (١)

Penjelasannya adalah bahwa dalam pernyataan pemilik modal terkandung klaim bahwa pihak pengelola telah melakukan pekerjaan untuknya secara sukarela, sedangkan pihak pengelola mengingkari hal tersebut dan mengklaim bahwa ia berhak mendapatkan upah yang sepadan (ujrat al-mithl), karena ia bukan orang yang melakukan pekerjaan secara sukarela.

وَإِنْ نَكَل رَبُّ الْمَال كَانَ الْقَوْل قَوْل الْعَامِل مَعَ يَمِينِهِ إِذَا كَانَ مِمَّا يُسْتَعْمَل مِثْلُهُ فِي الْقِرَاضِ.

Apabila pemilik modal menolak untuk bersumpah, maka perkataan pihak pengelola yang disertai sumpahnya yang diterima, apabila pekerjaan semacam itu memang lazim digunakan dalam akad qirāḍ (muḍārabah).

وَنُقِل عَنْ بَعْضِ الْقَرَوِيِّينَ: إِنْ كَانَ عُرْفُهُمْ أَنَّ لِلإِْبْضَاعِ أَجْرًا فَالأَْشْبَهُ أَنْ يَكُونَ الْقَوْل قَوْل الْعَامِل. (٢)

Diriwayatkan dari sebagian ulama Qarawiyyīn: apabila kebiasaan yang berlaku di kalangan mereka adalah bahwa ibdā‘ dilakukan dengan mendapatkan upah, maka yang lebih mendekati adalah perkataan pihak pengelola yang diterima.

وَعِنْدَ الْحَنَابِلَةِ احْتِمَالاَنِ: أَحَدُهُمَا أَنْ يَكُونَ الْقَوْل قَوْل الْعَامِل؛ لأَِنَّ عَمَلَهُ لَهُ، فَيَكُونُ الْقَوْل قَوْلَهُ فِيهِ.

Adapun menurut ulama Hanabilah, terdapat dua kemungkinan pendapat. Salah satunya adalah bahwa perkataan pihak pengelola yang diterima, karena pekerjaan tersebut menjadi haknya, sehingga perkataan pihak pengelola yang dijadikan dasar dalam persoalan tersebut.

وَالثَّانِي: أَنْ يَتَحَالَفَا، وَيَكُونَ لِلْعَامِل أَقَل الأَْمْرَيْنِ مِنْ نَصِيبِهِ مِنَ الرِّبْحِ أَوْ أُجْرَةِ مِثْلِهِ؛ لأَِنَّهُ لاَ يَدَّعِي أَكْثَرَ مِنْ نَصِيبِهِ مِنَ الرِّبْحِ، فَلاَ يَسْتَحِقُّ الزِّيَادَةَ عَلَيْهِ. وَإِنْ كَانَ الأَْقَل أَجْرَ مِثْلِهِ فَلَمْ يَثْبُتْ كَوْنُهُ قِرَاضًا، فَيَكُونُ لَهُ أَجْرُ مِثْلِهِ، وَالْبَاقِي لِرَبِّ الْمَال؛ لأَِنَّ نَمَاءَ مَالِهِ تَبَعٌ لَهُ. (٣)

Kedua: Keduanya saling bersumpah. Dalam hal ini, pihak pengelola mendapatkan jumlah yang lebih sedikit dari dua hal, yaitu antara bagian keuntungan yang menjadi haknya atau upah yang sepadan (ujrat al-mithl).

Sebab, pihak pengelola tidak mengklaim lebih banyak daripada bagian keuntungan yang menjadi haknya, sehingga ia tidak berhak mendapatkan tambahan melebihi bagian tersebut.

Apabila jumlah yang lebih sedikit adalah upah yang sepadan, sementara status akad sebagai qirāḍ (muḍārabah) tidak terbukti, maka pihak pengelola mendapatkan upah yang sepadan, sedangkan sisanya menjadi milik pemilik modal, karena pertumbuhan atau keuntungan yang dihasilkan dari hartanya merupakan hak yang mengikuti kepemilikan hartanya.

وَاعْتَبَرَ بَعْضُهُمْ هَذَا مِنْ تَعَارُضِ الْبَيِّنَتَيْنِ، فَقَال: إِنْ أَقَامَ كُل وَاحِدٍ مِنْهُمَا بَيِّنَةً بِدَعْوَاهُ تَعَارَضَا، وَقُسِّمَ بَيْنَهُمَا نِصْفَيْنِ.

Sebagian ulama menganggap persoalan ini sebagai pertentangan antara dua bukti (bayyinah). Mereka mengatakan: apabila masing-masing pihak mengajukan bukti untuk mendukung klaimnya, maka kedua bukti tersebut saling bertentangan, sehingga harta atau keuntungan dibagi menjadi dua bagian yang sama di antara keduanya.

وَالصَّحِيحُ عِنْدَهُمْ أَنَّهُ لَيْسَ مِنْ تَعَارُضِ الْبَيِّنَتَيْنِ، فَيَحْلِفُ كُلٌّ مِنْهُمَا عَلَى إِنْكَارِ مَا ادَّعَاهُ خَصْمُهُ، وَيَكُونُ لِلْعَامِل أَجْرُ عَمَلِهِ. (١)

Namun, pendapat yang sahih menurut mereka adalah bahwa persoalan ini bukan termasuk pertentangan antara dua bukti. Oleh karena itu, masing-masing pihak bersumpah untuk menyangkal klaim pihak lawannya, dan pihak pengelola berhak mendapatkan upah atas pekerjaannya.

وَلاَ يَتَأَتَّى عَكْسُ هَذِهِ الصُّورَةِ، بِأَنْ يَدَّعِيَ الْعَامِل الإِْبْضَاعَ وَرَبُّ الْمَال الْقِرَاضَ، لاِسْتِحَالَةِ ذَلِكَ عَادَةً، إِلاَّ أَنْ يَقْصِدَ مِنَّتَهُ عَلَى رَبِّهِ.

Adapun kebalikan dari kasus ini tidak mungkin terjadi secara kebiasaan, yaitu apabila pihak pengelola mengklaim bahwa harta tersebut diberikan kepadanya sebagai ibdā‘, sedangkan pemilik modal mengklaim bahwa harta tersebut diberikan sebagai qirāḍ (muḍārabah). Sebab, secara kebiasaan hal tersebut tidak mungkin terjadi, kecuali apabila pihak pengelola memang bermaksud memberikan suatu kebaikan atau kemurahan kepada pemilik modal.

١٥ - وَإِذَا ادَّعَى الْعَامِل الْقِرَاضَ، وَرَبُّ الْمَال الإِْبْضَاعَ بِأُجْرَةٍ مَعْلُومَةٍ - وَهُوَ مَا سَمَّاهُ الْمَالِكِيَّةُ إِبْضَاعًا، وَجَعَلَهُ غَيْرُهُمْ مِنْ قَبِيل الإِْجَارَةِ - فَالْقَوْل قَوْل الْعَامِل مَعَ يَمِينِهِ، وَيَأْخُذُ الْجُزْءَ؛ لأَِنَّ الاِخْتِلاَفَ هُنَا فِي الْجُزْءِ الْمَشْرُوطِ لِلْمُضَارِبِ مِنَ الرِّبْحِ، وَالْمُصَدَّقُ عِنْدَ الاِخْتِلاَفِ فِي هَذَا الْجُزْءِ الْمُضَارِبُ.

15 – Apabila pihak pengelola mengklaim bahwa akad tersebut adalah qirāḍ (muḍārabah), sedangkan pemilik modal menyatakan bahwa akad tersebut adalah ibdā‘ dengan upah yang telah ditentukan—yang oleh ulama Malikiyah disebut ibdā‘, sementara ulama selain mereka menggolongkannya sebagai akad ijarah (sewa-menyewa/upah)—maka perkataan pihak pengelola yang disertai sumpahnya yang diterima.

Pihak pengelola berhak mendapatkan bagian keuntungan yang telah disepakati, karena perselisihan dalam kasus ini berkaitan dengan bagian keuntungan yang disyaratkan untuk muḍārib. Apabila terjadi perselisihan mengenai kadar bagian tersebut, maka perkataan muḍārib yang dijadikan dasar.

وَلِهَذَا إِذَا كَانَتِ الأُْجْرَةُ مِثْل الْجُزْءِ الَّذِي ادَّعَاهُ فِي الْقِرَاضِ فَلاَ يَمِينَ؛ لأَِنَّهُمَا قَدِ اتَّفَقَا فِي الْمَعْنَى، وَلاَ يَضُرُّ اخْتِلاَفُهُمَا فِي اللَّفْظِ.

Oleh karena itu, apabila jumlah upah tersebut sama dengan bagian keuntungan yang diklaimnya dalam akad qirāḍ (muḍārabah), maka pihak pengelola tidak perlu bersumpah, karena pada hakikatnya keduanya telah sepakat dalam hal makna, dan perbedaan mereka dalam lafaz atau istilah tidak memberikan pengaruh.

وَلِضَبْطِ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ خَمْسَةُ شُرُوطٍ:

Untuk memperjelas dan membatasi persoalan ini menurut ulama Malikiyah, terdapat lima syarat:

الأَْوَّل: أَنْ تَكُونَ الْمُنَازَعَةُ بَعْدَ الْعَمَل الْمُوجِبِ لِلُزُومِ الْقِرَاضِ.

Pertama: Perselisihan tersebut terjadi setelah dilakukan pekerjaan yang menyebabkan akad qirāḍ menjadi mengikat.

الثَّانِي: أَنْ يَكُونَ مِثْلُهُ يَعْمَل فِي قِرَاضٍ، وَأَنْ يَكُونَ مِثْل الْمَال يُدْفَعُ قِرَاضًا.

Kedua: Pekerjaan semacam itu merupakan pekerjaan yang lazim dilakukan dalam akad qirāḍ, dan harta semacam itu juga lazim diserahkan melalui akad qirāḍ.

الثَّالِثُ: أَنْ يَكُونَ الْجُزْءُ الْمُدَّعَى اشْتِرَاطُهُ مِنْ رِبْحِ الْقِرَاضِ أَزْيَدَ مِنَ الأُْجْرَةِ الْمُدَّعَى الاِتِّفَاقُ عَلَيْهَا.

Ketiga: Bagian keuntungan yang diklaim telah disyaratkan dalam akad qirāḍ lebih besar daripada upah yang diklaim telah disepakati oleh kedua belah pihak.

الرَّابِعُ: أَنْ يُشْبِهَ أَنْ يُقَارِضَ بِمَا ادَّعَاهُ مِنْ نِصْفِ الرِّبْحِ مَثَلاً، كَأَنْ تَقُومَ قَرَائِنُ عَلَى أَنَّ مِثْلَهُ لاَ يَعْمَل إِلاَّ بِمِثْل هَذَا الْجُزْءِ مِنَ الرِّبْحِ.

Keempat: Pihak pengelola secara wajar memang dapat memperoleh akad qirāḍ dengan bagian keuntungan yang ia klaim, misalnya setengah dari keuntungan. Hal ini dapat diketahui berdasarkan indikasi atau keadaan yang menunjukkan bahwa orang yang memiliki kedudukan seperti dirinya biasanya tidak mau bekerja kecuali dengan bagian keuntungan sebesar itu.

الْخَامِسُ: أَلاَّ يُطَابِقَ الْعُرْفُ دَعْوَى رَبِّ الْمَال.

Kelima: Kebiasaan yang berlaku tidak sesuai dengan klaim pemilik modal.

١٦ - وَإِذَا ادَّعَى الْعَامِل الإِْبْضَاعَ بِأَجْرٍ، وَرَبُّ الْمَال الْقِرَاضَ بِجُزْءٍ مَعْلُومٍ مِنَ الرِّبْحِ، فَقَدْ نَصَّ الْمَالِكِيَّةُ عَلَى أَنَّهُ إِذَا قَال الْعَامِل: الْمَال بِيَدِي بِضَاعَةٌ بِأَجْرٍ، وَقَال رَبُّ الْمَال: هُوَ بِيَدِكَ قِرَاضٌ بِجُزْءٍ مَعْلُومٍ، فَإِنَّ الْقَوْل قَوْل الْعَامِل.

16 – Apabila pihak pengelola mengklaim bahwa akad tersebut adalah ibdā‘ dengan upah, sedangkan pemilik modal mengklaim bahwa akad tersebut adalah qirāḍ dengan bagian keuntungan tertentu, ulama Malikiyah secara tegas menyatakan bahwa apabila pihak pengelola berkata:

“Harta tersebut berada di tanganku sebagai bidhā‘ah dengan upah,”

sedangkan pemilik modal berkata:

“Harta tersebut berada di tanganmu sebagai qirāḍ dengan bagian keuntungan tertentu,”

maka perkataan pihak pengelola yang diterima.

وَتَجْرِي هُنَا الشُّرُوطُ الْمَذْكُورَةُ فِي الْمَسْأَلَةِ السَّابِقَةِ. (١)

Dalam persoalan ini, syarat-syarat yang telah disebutkan pada masalah sebelumnya juga berlaku.

١٧ - وَإِذَا ادَّعَى الْعَامِل الْقِرَاضَ وَرَبُّ الْمَال الإِْبْضَاعَ، وَطَلَبَ كُلٌّ مِنْهُمَا الرِّبْحَ لَهُ وَحْدَهُ، فَعِنْدَ الْحَنَابِلَةِ يَحْلِفُ كُلٌّ مِنْهُمَا عَلَى إِنْكَارِ مَا ادَّعَاهُ خَصْمُهُ؛ لأَِنَّ كُلًّا مِنْهُمَا مُنْكِرٌ مَا ادَّعَاهُ خَصْمُهُ عَلَيْهِ، وَالْقَوْل قَوْل الْمُنْكِرِ، وَلِلْعَامِل أَجْرُ عَمَلِهِ فَقَطْ، وَالْبَاقِي لِرَبِّ الْمَال؛ لأَِنَّ نَمَاءَ مَالِهِ تَابِعٌ لَهُ. (٢)

17 – Apabila pihak pengelola mengklaim bahwa akad tersebut adalah qirāḍ, sedangkan pemilik modal mengklaim bahwa akad tersebut adalah ibdā‘, dan masing-masing dari keduanya menuntut agar seluruh keuntungan menjadi miliknya sendiri, maka menurut ulama Hanabilah, masing-masing pihak bersumpah untuk menyangkal klaim pihak lawannya. Sebab, masing-masing merupakan pihak yang mengingkari apa yang diklaim oleh lawannya terhadap dirinya, sedangkan perkataan pihak yang mengingkari klaim lawannya yang dijadikan dasar.

Dalam hal ini, pihak pengelola hanya berhak mendapatkan upah atas pekerjaannya, sedangkan selebihnya menjadi milik pemilik modal, karena pertumbuhan atau keuntungan yang dihasilkan dari harta tersebut mengikuti kepemilikan pemilik modal.

وَعِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ، وَمُقْتَضَى كَلاَمِ الْمَالِكِيَّةِ عَلَى مَا ذَكَرُوهُ فِي الْقِرَاضِ - أَنَّ الْقَوْل قَوْل رَبِّ الْمَال بِيَمِينِهِ، وَالْبَيِّنَةُ بَيِّنَةُ الْعَامِل؛ لأَِنَّهُ يَدَّعِي عَلَيْهِ التَّمْلِيكَ، وَالْمَالِكُ يُنْكِرُهُ (٣) .

Adapun menurut ulama Hanafiyah, dan berdasarkan konsekuensi dari perkataan ulama Malikiyah dalam pembahasan qirāḍ yang telah disebutkan, perkataan pemilik modal yang disertai sumpahnya yang diterima, sedangkan bukti dari pihak pengelola yang diterima. Sebab, pihak pengelola mengklaim adanya pemindahan kepemilikan keuntungan kepadanya, sementara pemilik modal mengingkari klaim tersebut.

انْتِهَاءُ عَقْدِ الإِبْضَاعِ:

Berakhirnya Akad Ibdhā‘

١٨ - يَنْتَهِي عَقْدُ الإِْبْضَاعِ بِمَا يَنْتَهِي بِهِ عَقْدُ الْمُضَارَبَةِ فِي الْجُمْلَةِ، (١) وَيُمْكِنُ إِجْمَال أَسْبَابِ الاِنْتِهَاءِ بِالآْتِي:

18 – Akad ibdā‘ berakhir dengan sebab-sebab yang pada dasarnya sama dengan sebab-sebab berakhirnya akad muḍārabah. Secara ringkas, sebab-sebab berakhirnya akad tersebut adalah sebagai berikut:

أ - انْقِضَاءُ الْعَقْدِ الأَْصْلِيِّ أَوِ الْمَتْبُوعِ، فَإِذَا كَانَ الإِْبْضَاعُ لِمُدَّةٍ مُحَدَّدَةٍ فَيَنْتَهِي بِانْتِهَاءِ الْمُدَّةِ، وَإِنْ كَانَ تَابِعًا لِعَقْدٍ آخَرَ كَالْمُضَارَبَةِ فَإِنَّهُ يَنْتَهِي بِانْتِهَائِهَا.

A – Berakhirnya akad asal atau akad yang diikuti.

Apabila akad ibdā‘ dilakukan untuk jangka waktu tertentu, maka akad tersebut berakhir dengan berakhirnya jangka waktu tersebut.

Adapun apabila ibdā‘ merupakan akad yang mengikuti akad lain, seperti akad muḍārabah, maka akad ibdā‘ tersebut berakhir bersamaan dengan berakhirnya akad muḍārabah.

ب - الْفَسْخُ: سَوَاءٌ كَانَ بِعَزْل رَبِّ الْمَال لِلْعَامِل أَوْ عَزْل الْعَامِل نَفْسَهُ؛ لأَِنَّهُ عَقْدٌ غَيْرُ لاَزِمٍ مِنَ الْجَانِبَيْنِ.

B – Fasakh (Pembatalan Akad):
Akad ibdā‘ dapat berakhir melalui fasakh, baik karena pemilik modal memberhentikan pihak pengelola, maupun karena pihak pengelola mengundurkan diri dari akad tersebut. Hal ini karena ibdā‘ merupakan akad yang tidak mengikat kedua belah pihak.

ج - الاِنْفِسَاخُ: سَوَاءٌ كَانَ بِالْمَوْتِ، أَوْ زَوَال الأَْهْلِيَّةِ، أَوْ هَلاَكِ الْمَحَل.

C – Infisākh (Akad Batal dengan Sendirinya):
Akad ibdā‘ juga dapat berakhir melalui infisākh, baik disebabkan oleh kematian, hilangnya kecakapan hukum, maupun musnahnya objek akad.

Wallahu A’lam...

Baca juga:

Pengertian Ibrād dalam Fikih Islam: Hukum Menunda Salat Zuhur Saat CuacaPanas, Waktu Pelaksanaan, dan Ibrād pada Hewan Sembelihan

Kupas Tuntas Hukum Ibrā’: Pengertian, Istilah Terkait, Jenis dan Rukun,Syarat Para Pihak, Objek Pembebasan, Cakupan dan Pembatasannya, KetentuanBersyarat, Pencabutan, serta Akibat Hukum terhadap Utang, Hak, Gugatan, danPengakuan

Hukum Ibthun dan Ibthal dalam Fikih Islam: Pengertian, Perbedaan Ibtal dengan Fasakh, Ifsad dan Isqath serta Penerapannya dalam Ibadah dan Akad

إِبْضَاع

Ibdhā‘ (إِبْضَاع)

التَّعْرِيفُ:

Definisi:

١ - الإِْبْضَاعُ مَصْدَرُ أَبْضَعَ، وَمِنْهُ الْبِضَاعَةُ. وَالْبِضَاعَةُ مِنْ مَعَانِيهَا الْقِطْعَةُ مِنَ الْمَال، أَوْ هِيَ طَائِفَةٌ مِنَ الْمَال تُبْعَثُ لِلتِّجَارَةِ. وَأَبْضَعَهُ الْبِضَاعَةَ: أَعْطَاهُ إِيَّاهَا. وَيُعَرِّفُ الْفُقَهَاءُ الإِْبْضَاعَ بِأَنَّهُ بَعْثُ الْمَال مَعَ مَنْ يَتَّجِرُ بِهِ تَبَرُّعًا، وَالرِّبْحُ كُلُّهُ لِرَبِّ الْمَال (١) . هَذَا وَالأَْصْل أَنْ يَكُونَ الإِْبْضَاعُ تَبَرُّعًا مِنَ الْعَامِل. وَاعْتَبَرَهُ الْمَالِكِيَّةُ إِبْضَاعًا وَلَوْ كَانَ بِأَجْرٍ.

1.      Ibdhā‘ (الإبضاع) merupakan bentuk mashdar dari kata abdha‘a (أَبْضَعَ). Dari kata tersebut juga berasal istilah bidhā‘ah (البضاعة).

Bidhā‘ah di antara maknanya adalah sepotong harta, atau sejumlah harta yang dikirim untuk diperdagangkan.

Adapun ungkapan أَبْضَعَهُ الْبِضَاعَةَ berarti ia memberikan harta dagangan tersebut kepadanya.

Para fuqaha mendefinisikan ibdā‘ sebagai menyerahkan harta kepada seseorang yang akan memperdagangkannya secara sukarela, sedangkan seluruh keuntungan menjadi milik pemilik harta.

Pada dasarnya, ibdā‘ dilakukan secara sukarela oleh pihak pengelola (pekerja). Namun, ulama Malikiyah menganggapnya sebagai ibdā‘ meskipun dilakukan dengan imbalan (upah).

وَيُطْلِقُ الْفُقَهَاءُ لَفْظَ الْبِضَاعَةِ عَلَى الْمَال الْمَبْعُوثِ لِلاِتِّجَارِ بِهِ، وَالإِْبْضَاعَ عَلَى الْعَقْدِ ذَاتِهِ، وَقَدْ يُطْلِقُونَ الْبِضَاعَةَ وَيُرِيدُونَ بِهَا الْعَقْدَ.

Para fuqaha menggunakan istilah bidhā‘ah untuk menyebut harta yang dikirim untuk diperdagangkan, sedangkan istilah ibdā‘ digunakan untuk menyebut akad itu sendiri. Namun, terkadang mereka menggunakan istilah bidhā‘ah dengan maksud akad tersebut.

الأَْلْفَاظُ ذَاتُ الصِّلَةِ:

Istilah-Istilah yang Berkaitan:

٢ - الْقِرَاضُ: وَيُسَمَّى عِنْدَ أَهْل الْعِرَاقِ الْمُضَارَبَةَ، وَهُوَ دَفْعُ الرَّجُل مَالَهُ إِلَى آخَرَ لِيَتَّجِرَ فِيهِ، عَلَى أَنْ يَكُونَ لِلْعَامِل جُزْءٌ شَائِعٌ مِنَ الرِّبْحِ. (١) فَالْقِرَاضُ شَرِكَةٌ فِي الرِّبْحِ بَيْنَ رَبِّ الْمَال وَالْعَامِل، بَيْنَمَا الإِْبْضَاعُ لاَ يَحْمِل صُورَةَ الْمُشَارَكَةِ، بَل صُورَةَ التَّبَرُّعِ مِنَ الْعَامِل فِي التِّجَارَةِ لِرَبِّ الْمَال دُونَ مُقَابِلٍ.

2 – Qirāḍ (القِراض): Di kalangan penduduk Irak, istilah ini disebut muḍārabah (المضاربة). Qirāḍ adalah penyerahan harta seseorang kepada orang lain untuk diperdagangkan, dengan ketentuan bahwa pihak yang mengelola harta memperoleh bagian tertentu yang telah disepakati dari keuntungan.

Dengan demikian, qirāḍ merupakan bentuk kerja sama dalam keuntungan antara pemilik modal dan pihak pengelola, sedangkan ibḍā‘ tidak mengandung bentuk kerja sama, tetapi merupakan bentuk kesukarelaan dari pihak pengelola untuk memperdagangkan harta milik pemilik modal tanpa imbalan.

الْقَرْضُ: وَهُوَ لُغَةً الْقَطْعُ. وَعَرَّفَهُ الْفُقَهَاءُ بِأَنَّهُ دَفْعُ الْمَال إِرْفَاقًا لِمَنْ يَنْتَفِعُ بِهِ وَيَرُدُّ بَدَلَهُ. وَهُوَ نَوْعٌ مِنَ السَّلَفِ، فَيَصِحُّ بِلَفْظِ قَرْضٍ وَسَلَفٍ (٢) .

Qarḍ (القَرْض):
Secara bahasa berarti memotong. Para fuqaha mendefinisikannya sebagai menyerahkan harta sebagai bentuk bantuan kepada orang yang memanfaatkannya, kemudian ia mengembalikan penggantinya. Qarḍ merupakan salah satu bentuk salaf (pinjaman), sehingga akad tersebut sah dengan menggunakan lafaz qarḍ maupun salaf.

الْوَكَالَةُ: وَهِيَ فِي اللُّغَةِ التَّفْوِيضُ. وَعَرَّفَهَا الْفُقَهَاءُ بِأَنَّهَا إِقَامَةُ الإِْنْسَانِ غَيْرَهُ مَقَامَ نَفْسِهِ فِيمَا يَقْبَل الإِْنَابَةَ. وَالْوَكَالَةُ عَامَّةٌ فِي كُل مَا تَصِحُّ النِّيَابَةُ فِيهِ، لَكِنَّ الإِْبْضَاعَ قَاصِرٌ عَلَى مَا يَدْفَعُهُ رَبُّ الْمَال لِلْعَامِل لِيَتَّجِرَ فِيهِ، فَهُوَ وَكِيلٌ فِي هَذَا فَقَطْ.

Wakālah (الوكالة):
Secara bahasa berarti pelimpahan atau penyerahan urusan. Para fuqaha mendefinisikannya sebagai menempatkan orang lain pada kedudukan dirinya sendiri dalam suatu perkara yang dapat diwakilkan.

Wakālah berlaku secara umum dalam segala perkara yang sah dilakukan melalui perwakilan. Adapun ibḍā‘ terbatas pada harta yang diserahkan oleh pemilik harta kepada pihak pengelola untuk diperdagangkan. Dengan demikian, pihak pengelola hanya berkedudukan sebagai wakil dalam perkara tersebut.

صِفَةُ الإِْبْضَاعِ (حُكْمُهُ التَّكْلِيفِيُّ) :

Sifat Ibdhā‘ (Hukum Taklifinya)

٣ - الإِْبْضَاعُ عَقْدٌ جَائِزٌ لأَِنَّهُ يَتِمُّ عَلَى وَجْهٍ لاَ غَرَرَ فِيهِ. وَإِذَا كَانَتِ الْمُضَارَبَةُ، مَعَ مَا فِيهَا مِنْ شُبْهَةِ غَرَرٍ، جَائِزَةً (٣) ، فَمِنْ بَابِ أَوْلَى أَنْ يَقَعَ الإِْبْضَاعُ جَائِزًا، سَوَاءٌ أَكَانَ عَقْدُهُ مُسْتَقِلًّا أَمْ تَابِعًا لِعَقْدِ الْمُضَارَبَةِ، كَأَنْ دَفَعَ الْعَامِل الْمَال بِضَاعَةً لِعَامِلٍ آخَرَ، فَهُوَ عَقْدٌ صَحِيحٌ؛ لأَِنَّ الإِْبْضَاعَ سَبِيلٌ لإِِنْمَاءِ الْمَال بِلاَ أَجْرٍ، وَهَذَا مِمَّا يَرْتَضِيهِ رَبُّ الْمَال.

3 – Ibdhā‘ merupakan akad yang jaiz (dibolehkan), karena akad ini dilaksanakan dengan cara yang tidak mengandung unsur gharar (ketidakjelasan atau spekulasi yang merugikan).

Apabila muḍārabah, meskipun di dalamnya terdapat unsur yang menyerupai gharar, tetap diperbolehkan, maka lebih utama lagi apabila ibdā‘ dinyatakan sebagai akad yang jaiz.

Hal tersebut berlaku baik akad ibdā‘ dilakukan secara mandiri maupun sebagai akad yang mengikuti akad muḍārabah. Contohnya, apabila pihak pengelola menyerahkan harta yang dipercayakan kepadanya sebagai bidhā‘ah kepada pengelola lain untuk diperdagangkan, maka akad tersebut merupakan akad yang sah.

Sebab, ibdā‘ merupakan sarana untuk mengembangkan harta tanpa imbalan, dan hal tersebut termasuk sesuatu yang diridai oleh pemilik harta.

حِكْمَةُ تَشْرِيعِهِ:

Hikmah Disyariatkannya

٤ - الإِْبْضَاعُ مِنْ عَادَةِ التُّجَّارِ، (١) وَالْحَاجَةُ قَدْ تَدْعُو إِلَيْهِ؛ لأَِنَّ رَبَّ الْمَال قَدْ لاَ يُحْسِنُ الْبَيْعَ وَالشِّرَاءَ، أَوْ لاَ يُمْكِنُهُ الْخُرُوجُ إِلَى السُّوقِ، وَقَدْ يَكُونُ لَهُ مَالٌ وَلاَ يُحْسِنُ التِّجَارَةَ فِيهِ، وَقَدْ يُحْسِنُ وَلاَ يَتَفَرَّغُ وَقَدْ لاَ تَلِيقُ بِهِ التِّجَارَةُ، لِكَوْنِهِ امْرَأَةً، أَوْ مِمَّنْ يَتَعَيَّرُ بِهَا، (٢) فَيُوَكِّل غَيْرَهُ. وَمَا الإِْبْضَاعُ إِلاَّ تَوْكِيلٌ بِلاَ جُعْلٍ، فَهُوَ حِينَئِذٍ سَبِيلٌ لِلْمَعْرُوفِ وَتَآلُفِ الْقُلُوبِ وَتَوْثِيقِ الرَّوَابِطِ، خُصُوصًا بَيْنَ التُّجَّارِ.

4 – Ibdā‘ merupakan salah satu kebiasaan para pedagang. Kebutuhan terkadang mendorong seseorang untuk melakukan ibdā‘, karena pemilik harta mungkin tidak pandai melakukan jual beli, atau tidak memungkinkan baginya untuk pergi ke pasar.

Terkadang seseorang memiliki harta, tetapi tidak pandai memperdagangkannya. Ada pula yang sebenarnya pandai berdagang, tetapi tidak memiliki waktu untuk berkonsentrasi mengelolanya. Bahkan, terkadang perdagangan tidak sesuai dengan keadaan dirinya, misalnya karena ia seorang perempuan, atau termasuk orang yang akan merasa malu jika melakukan pekerjaan tersebut, sehingga ia mewakilkan urusannya kepada orang lain.

Ibdā‘ pada hakikatnya hanyalah pemberian kuasa tanpa imbalan. Oleh karena itu, ibdā‘ menjadi salah satu sarana untuk berbuat kebajikan, mempererat hubungan antarmanusia, dan menguatkan ikatan, khususnya di antara para pedagang.

وَكَمَا أَنَّ عَقْدَ الإِْبْضَاعِ سَبِيلٌ لإِِنْمَاءِ مَال رَبِّ الْمَال، فَقَدْ يَكُونُ سَبِيلاً لإِِنْمَاءِ مَال الْعَامِل الْمُتَبَرِّعِ، وَذَلِكَ إِذَا دَخَل الْعَامِل مَعَ رَبِّ الْمَال بِالنِّصْفِ مَثَلاً، كَأَنْ يُقَدِّمَ رَبُّ الْمَال أَلْفًا وَالْعَامِل أَلْفًا، وَيَكُونَ الرِّبْحُ مُنَاصَفَةً بَيْنَهُمَا، فَالْمُشَارَكَةُ هُنَا تَزِيدُ فِي رَأْسِ الْمَال، وَبِالتَّالِي تَزِيدُ الأَْرْبَاحُ، وَفِي ذَلِكَ مَا فِيهِ مِنْ مَصْلَحَةِ الْعَامِل. فَيَكُونُ الْعَامِل هُنَا اسْتَخْدَمَ مَال رَبِّ الْمَال، وَهُوَ النِّصْفُ، وَرَدَّ لَهُ أَرْبَاحَهُ مُتَبَرِّعًا بِعَمَلِهِ، وَاسْتَفَادَ هُوَ مِنْ مُشَارَكَةِ مَال رَبِّ الْمَال فِي زِيَادَةِ رَأْسِ مَالِهِ، وَمِنْ ثَمَّ يَزِيدُ رِبْحُهُ.

Sebagaimana akad ibdā‘ menjadi sarana untuk mengembangkan harta milik pemilik modal, demikian pula akad tersebut dapat menjadi sarana untuk mengembangkan harta milik pihak pengelola yang secara sukarela menjalankan usaha.

Hal itu terjadi apabila pihak pengelola ikut menyertakan modalnya bersama pemilik modal dengan pembagian setengah, misalnya pemilik modal memberikan seribu, sedangkan pihak pengelola juga memberikan seribu, kemudian keuntungan dibagi secara sama rata di antara keduanya.

Dengan demikian, kerja sama tersebut menambah modal usaha, sehingga keuntungan yang diperoleh juga bertambah. Dalam hal ini terdapat kemaslahatan bagi pihak pengelola.

Dalam kondisi tersebut, pihak pengelola menggunakan setengah dari harta milik pemilik modal, kemudian menyerahkan keuntungan dari harta tersebut kepadanya secara sukarela sebagai imbalan atas usahanya. Pada saat yang sama, pihak pengelola memperoleh manfaat dari penggabungan harta milik pemilik modal dengan modalnya sendiri, sehingga modalnya bertambah dan pada akhirnya keuntungannya pun meningkat.

صِيغَةُ الإِْبْضَاعِ:

Sighat Ibdhā‘

٥ - أَجْمَعَ الْفُقَهَاءُ عَلَى اعْتِبَارِ الصِّيغَةِ، وَهِيَ الإِْيجَابُ وَالْقَبُول، رُكْنًا فِي كُل عَقْدٍ. وَتَفْصِيل الْكَلاَمِ فِي ذَلِكَ يُرْجَعُ إِلَيْهِ عِنْدَ الْكَلاَمِ عَلَى الْعَقْدِ.

5 – Para fuqaha sepakat bahwa sighat, yaitu ijab dan kabul, merupakan salah satu rukun dalam setiap akad. Adapun pembahasan secara terperinci mengenai hal tersebut dapat dirujuk pada pembahasan tentang akad.

وَأَمَّا مَا يَتَّصِل بِالإِْبْضَاعِ فَإِنَّ الصِّيغَةَ اللَّفْظِيَّةَ قَدْ تَكُونُ صَرِيحَةً بِلَفْظِ الإِْبْضَاعِ، أَوِ الْبِضَاعَةِ، وَقَدْ تَكُونُ غَيْرَ صَرِيحَةٍ، كَأَنْ يَقُول: خُذْ هَذَا الْمَال مُضَارَبَةً، عَلَى أَنْ يَكُونَ الرِّبْحُ كُلُّهُ لِي. وَهَذِهِ الصُّورَةُ مَحَل خِلاَفٍ بَيْنَ الْفُقَهَاءِ (١) . فَذَهَبَ الْحَنَابِلَةُ إِلَى أَنَّ هَذَا الْعَقْدَ لاَ يَصِحُّ، وَاعْتَبَرُوا ذَلِكَ مِنْ بَابِ التَّنَاقُضِ؛ لأَِنَّ قَوْلَهُ: " مُضَارَبَةً " يَقْتَضِي الشَّرِكَةَ فِي الرِّبْحِ، وَقَوْلَهُ: " الرِّبْحُ كُلُّهُ لِي " يَقْتَضِي عَدَمَهَا، فَتَنَاقَضَ قَوْلُهُ، فَفَسَدَتِ الْمُضَارَبَةُ، وَلأَِنَّهُ اشْتَرَطَ اخْتِصَاصَ أَحَدِهِمَا بِالرِّبْحِ، وَهَذَا شَرْطٌ يُنَاقِضُ الْعَقْدَ فَفَسَدَ، وَلأَِنَّ اللَّفْظَ الصَّرِيحَ فِي بَابِهِ لاَ يَكُونُ كِنَايَةً فِي غَيْرِهِ، فَالْمُضَارَبَةُ لاَ تَنْقَلِبُ إِبْضَاعًا وَلاَ قَرْضًا. وَعَلَى هَذَا اعْتَبَرُوا هَذَا الْعَقْدَ مُضَارَبَةً فَاسِدَةً. (٢)

Adapun yang berkaitan dengan ibdā‘, sighat secara verbal terkadang dinyatakan secara jelas (ṣarīḥ) dengan menggunakan lafaz ibdā‘ atau bidhā‘ah. Namun, terkadang sighat tersebut disampaikan secara tidak jelas (tidak ṣarīḥ), misalnya seseorang berkata:

“Ambillah harta ini sebagai muḍārabah, dengan ketentuan bahwa seluruh keuntungannya menjadi milikku.”

Bentuk akad seperti ini menjadi objek perbedaan pendapat di antara para fuqaha.

Ulama Hanabilah berpendapat bahwa akad tersebut tidak sah. Mereka menganggapnya sebagai bentuk pertentangan (tanāquḍ). Sebab, perkataannya, “sebagai muḍārabah”, mengandung konsekuensi adanya kerja sama dalam keuntungan, sedangkan perkataannya, “seluruh keuntungan menjadi milikku”, mengandung konsekuensi tidak adanya kerja sama dalam keuntungan.

Dengan demikian, perkataan tersebut saling bertentangan sehingga akad muḍārabah menjadi rusak.

Selain itu, ia telah menetapkan syarat bahwa salah satu pihak secara khusus mendapatkan seluruh keuntungan, sedangkan syarat seperti ini bertentangan dengan hakikat akad muḍārabah, sehingga akad tersebut menjadi rusak.

Mereka juga berpendapat bahwa lafaz yang secara tegas digunakan untuk suatu akad tidak dapat dianggap sebagai kinayah (ungkapan sindiran) untuk akad yang lain. Oleh karena itu, akad muḍārabah tidak dapat berubah menjadi ibdā‘ ataupun qarḍ (pinjaman).

Berdasarkan pendapat tersebut, mereka menganggap akad ini sebagai muḍārabah yang fasid (rusak/tidak sah).

وَذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ إِلَى أَنَّ هَذَا إِبْضَاعٌ صَحِيحٌ، لِوُجُودِ مَعْنَى الإِْبْضَاعِ هُنَا، فَانْصَرَفَ إِلَيْهِ، كَمَا لَوْ قَال: اتَّجِرْ بِهِ وَالرِّبْحُ كُلُّهُ لِي، وَذَلِكَ لأَِنَّ الْعِبْرَةَ فِي الْعُقُودِ لِمَعَانِيهَا.

Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa akad seperti ini merupakan ibdā‘ yang sah, karena di dalamnya terdapat makna ibdā‘ sehingga akad tersebut diarahkan kepada makna tersebut. Hal ini sebagaimana apabila seseorang berkata, “Perdagangkanlah harta ini, dan seluruh keuntungannya menjadi milikku.” Sebab, yang menjadi pertimbangan dalam akad adalah makna dan maksudnya.

وَالْمَالِكِيَّةُ أَجَازُوا اشْتِرَاطَ رِبْحِ الْقِرَاضِ كُلِّهِ لِرَبِّ الْمَال أَوْ لِلْعَامِل فِي مَشْهُورِ مَذْهَبِ مَالِكٍ، أَوْ لِغَيْرِهِمَا فِي الْمُدَوَّنَةِ؛ لأَِنَّهُ مِنْ بَابِ التَّبَرُّعِ، لَكِنَّهُمْ لاَ يَقُولُونَ كَمَا قَال الْحَنَفِيَّةُ: إِنَّ الْعَقْدَ بِهَذِهِ الصُّورَةِ إِبْضَاعٌ، بَل يَقُولُونَ: إِنَّ إِطْلاَقَ الْقِرَاضِ عَلَيْهِ مَجَازٌ (١) . وَمِنْ هُنَا يَتَبَيَّنُ أَنَّ الْمَالِكِيَّةَ رَأْيُهُمْ كَرَأْيِ الْحَنَفِيَّةِ وَإِنْ كَانُوا يُخَالِفُونَ فِي التَّسْمِيَةِ.

Adapun ulama Malikiyah membolehkan mensyaratkan seluruh keuntungan qirāḍ (muḍārabah) menjadi milik pemilik modal atau seluruhnya menjadi milik pihak pengelola, menurut pendapat yang masyhur dalam mazhab Imam Malik. Bahkan, dalam al-Mudawwanah, mereka membolehkan keuntungan tersebut diberikan kepada selain kedua belah pihak. Hal ini karena perbuatan tersebut termasuk tabarru‘ (pemberian secara sukarela).

Namun, mereka tidak berpendapat sebagaimana Hanafiyah bahwa akad dengan bentuk seperti ini disebut sebagai ibdā‘. Mereka justru mengatakan bahwa penggunaan istilah qirāḍ untuk akad tersebut merupakan penggunaan secara majazi (kiasan).

Dari sini dapat diketahui bahwa pendapat Malikiyah pada hakikatnya sama dengan pendapat Hanafiyah, meskipun keduanya berbeda dalam hal penamaan akad tersebut.

وَعَلَى هَذَا فَإِنَّ مَنِ اعْتَبَرَ مِثْل هَذَا الْعَقْدِ صَحِيحًا فَلاَ يَرَى أَنَّ الْعَامِل يَسْتَحِقُّ شَيْئًا بَل هُوَ مُتَبَرِّعٌ بِالْعَمَل. وَأَمَّا مَنِ اعْتَبَرَهُ فَاسِدًا فَيُوجِبُ لَهُ أَجْرَ الْمِثْل.

Berdasarkan hal tersebut, orang yang menganggap akad semacam ini sah tidak berpendapat bahwa pihak pengelola berhak mendapatkan sesuatu, melainkan ia dianggap melakukan pekerjaan secara sukarela (tabarru‘). Adapun orang yang menganggap akad tersebut fasid (rusak), maka ia mewajibkan diberikan upah yang sepadan (ujrat al-mithl) kepadanya.

وَبَعْضُ الشَّافِعِيَّةِ اعْتَبَرَ حَال الْعَامِل، فَإِنْ كَانَ يَجْهَل حُكْمَ الإِْبْضَاعِ وَأَنَّهُ لاَ يُوجِبُ لَهُ أَجْرًا وَلاَ جُزْءًا مِنَ الرِّبْحِ فَإِنَّهُمْ يَرَوْنَ أَنَّ لَهُ أَجْرَ الْمِثْل. وَيُنْسَبُ هَذَا الرَّأْيُ إِلَى ابْنِ عَبَّاسٍ. وَجَهْل مِثْل هَذَا الْحُكْمِ مِمَّا يُعْذَرُ بِهِ بَعْضُ النَّاسِ. (٢)

Sebagian ulama Syafi‘iyah mempertimbangkan keadaan pihak pengelola. Apabila ia tidak mengetahui hukum ibdā‘, yaitu bahwa akad tersebut tidak menyebabkan ia berhak mendapatkan upah ataupun bagian dari keuntungan, maka mereka berpendapat bahwa ia berhak mendapatkan upah yang sepadan (ujrat al-mithl).

Pendapat ini dinisbatkan kepada Ibnu Abbas. Ketidaktahuan terhadap hukum seperti ini termasuk ketidaktahuan yang dapat menjadi alasan yang dapat dimaklumi bagi sebagian orang.

مَا يَتَرَتَّبُ عَلَى الإِْبْضَاعِ بِلَفْظِ الْمُضَارَبَةِ:

Akibat Ibdā‘ dengan Menggunakan Lafaz Muḍārabah

٦ - يَذْكُرُ الْحَنَابِلَةُ أَنَّ رَبَّ الْمَال إِذَا قَال لِلْعَامِل: خُذْ هَذَا الْمَال مُضَارَبَةً وَلِي رِبْحُهُ كُلُّهُ، لَمْ يَصِحَّ مُضَارَبَةً. وَلاَ أُجْرَةَ لَهُ عَلَى الصَّحِيحِ لأَِنَّ الْعَامِل رَضِيَ بِالْعَمَل بِغَيْرِ عِوَضٍ فَأَشْبَهَ مَا لَوْ أَعَانَهُ فِي شَيْءٍ وَتَوَكَّل لَهُ بِغَيْرِ جُعْلٍ. (٣)

6 – Ulama Hanabilah menjelaskan bahwa apabila pemilik modal berkata kepada pihak pengelola:

“Ambillah harta ini sebagai muḍārabah, dan seluruh keuntungannya menjadi milikku.”

Maka akad tersebut tidak sah sebagai muḍārabah.

Menurut pendapat yang sahih, pihak pengelola tidak berhak mendapatkan upah, karena ia telah rela melakukan pekerjaan tanpa imbalan. Hal ini dianalogikan dengan keadaan seseorang yang membantu orang lain dalam suatu pekerjaan atau menjadi wakilnya tanpa meminta imbalan.

الإِْبْضَاعُ بِأَلْفَاظٍ أُخْرَى:

Ibdhā‘ dengan Lafaz-Lafaz Lain

٧ - يَتَحَقَّقُ الإِْبْضَاعُ بِعِبَارَاتٍ تَدُل عَلَيْهِ، وَلَوْ لَمْ يُصَرِّحْ بِلَفْظِ الإِْبْضَاعِ، مِنْهَا قَوْل رَبِّ الْمَال: خُذْ هَذَا الْمَال وَاتَّجِرْ فِيهِ، أَوْ تَصَرَّفَ فِيهِ، أَوْ خُذْهُ وَالرِّبْحُ كُلُّهُ لِي. فَذَهَبَ الشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ إِلَى أَنَّ الْعَقْدَ يَكُونُ إِبْضَاعًا؛ لأَِنَّ اللَّفْظَ فِي هَذِهِ الأَْحْوَال يَحْتَمِل الْقِرَاضَ وَالْقَرْضَ وَالإِْبْضَاعَ، وَقَدْ قُرِنَ بِهِ حُكْمُ الإِْبْضَاعِ، وَهُوَ أَنَّ الرِّبْحَ كُلَّهُ لِرَبِّ الْمَال، فَيَنْصَرِفُ إِلَى الإِْبْضَاعِ. (١) وَهُوَ مَا يُفْهَمُ مِنْ قَوَاعِدِ الْحَنَفِيَّةِ وَالْمَالِكِيَّةِ.

7 – Ibdā‘ dapat terwujud melalui ungkapan-ungkapan yang menunjukkan maknanya, meskipun tidak secara tegas menggunakan lafaz ibdā‘. Di antaranya adalah perkataan pemilik modal:

“Ambillah harta ini dan perdagangkanlah,”
atau “Kelolalah harta ini,”
atau “Ambillah harta ini, dan seluruh keuntungannya menjadi milikku.”

Ulama Syafi‘iyah dan Hanabilah berpendapat bahwa akad tersebut merupakan ibdā‘, karena lafaz yang digunakan dalam keadaan-keadaan tersebut dapat mengandung makna qirāḍ (muḍārabah), qarḍ (pinjaman), dan ibdā‘. Sementara itu, lafaz tersebut disertai dengan hukum ibdā‘, yaitu bahwa seluruh keuntungan menjadi milik pemilik modal, sehingga akad tersebut diarahkan kepada makna ibdā‘.

Pendapat ini juga merupakan hal yang dapat dipahami dari kaidah-kaidah yang digunakan oleh ulama Hanafiyah dan Malikiyah.

كَمَا يَتَحَقَّقُ فِي صُورَةِ مَا إِذَا دَفَعَ إِلَيْهِ أَلْفًا وَقَال: أَضِفْ إِلَيْهِ أَلْفًا مِنْ عِنْدِكَ، وَاتَّجِرْ فِيهِ، وَالرِّبْحُ بَيْنَنَا نِصْفَانِ، فَإِنَّهُ يَكُونُ إِبْضَاعًا عَلَى مَا سَبَقَ (ف ٤)

Ibdhā‘ juga dapat terwujud dalam bentuk ketika seseorang menyerahkan seribu kepada pihak lain, lalu berkata:

“Tambahkanlah seribu dari hartamu sendiri, kemudian perdagangkanlah keduanya, dan keuntungan kita bagi dua sama rata.”

Maka akad tersebut juga termasuk ibdā‘, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

اجْتِمَاعُ الإِْبْضَاعِ وَالْمُضَارَبَةِ:

Bergabungnya Ibdā‘ dan Muḍārabah

٨ - إِذَا دَفَعَ نِصْفَ الْمَال بِضَاعَةً وَنِصْفَهُ مُضَارَبَةً فَقَبَضَ الْمُضَارِبُ عَلَى ذَلِكَ فَهُوَ جَائِزٌ، وَالْمَال عَلَى مَا سَمَّيَا مِنَ الْمُضَارَبَةِ وَالإِْبْضَاعِ، وَالْخَسَارَةُ عَلَى رَبِّ الْمَال، وَنِصْفُ الرِّبْحِ لِرَبِّ الْمَال، وَنِصْفُهُ الآْخَرُ عَلَى مَا شَرَطَا؛ لأَِنَّ الشُّيُوعَ لاَ يَمْنَعُ مِنَ الْعَمَل فِي الْمَال مُضَارَبَةً وَبِضَاعَةً، وَجَازَتِ الْمُضَارَبَةُ وَالْبِضَاعَةُ.

8 – Apabila pemilik modal menyerahkan setengah dari hartanya sebagai bidhā‘ah (ibdā‘) dan setengah lainnya sebagai muḍārabah, lalu pihak muḍārib menerima ketentuan tersebut, maka hal itu diperbolehkan.

Harta tersebut diperlakukan sesuai dengan ketentuan yang telah mereka sepakati, yaitu sebagian sebagai muḍārabah dan sebagian sebagai ibdā‘. Adapun kerugian menjadi tanggungan pemilik modal, sedangkan setengah keuntungan menjadi milik pemilik modal, sementara setengah keuntungan lainnya dibagikan sesuai dengan kesepakatan yang telah mereka tentukan.

Hal ini karena bercampurnya kedua bentuk akad tersebut tidak menghalangi seseorang untuk mengelola harta melalui muḍārabah dan ibdā‘ sekaligus, dan kedua akad tersebut sama-sama diperbolehkan.

وَإِنَّمَا كَانَتِ الْخَسَارَةُ عَلَى رَبِّ الْمَال لأَِنَّهُ لاَ ضَمَانَ عَلَى الْمُبْضِعِ وَالْمُضَارِبِ فِي الْبِضَاعَةِ وَالْمُضَارَبَةِ، وَحِصَّةُ الْبِضَاعَةِ مِنَ الرِّبْحِ لِرَبِّ الْمَال خَاصَّةً لأَِنَّ الْمُبْضَعَ لاَ يَسْتَحِقُّ الرِّبْحَ. (٢)

Kerugian menjadi tanggungan pemilik modal, karena pihak yang menjalankan ibdā‘ maupun muḍārabah tidak berkewajiban menanggung kerugian dalam akad bidhā‘ah dan muḍārabah.

Adapun bagian keuntungan dari harta yang diserahkan sebagai bidhā‘ah secara khusus menjadi milik pemilik modal, karena pihak yang menjalankan ibdā‘ tidak berhak memperoleh bagian keuntungan.

شُرُوطُ الصِّحَّةِ:

Syarat-Syarat Sah

٩ - شُرُوطُ صِحَّةِ الإِْبْضَاعِ لاَ تَخْرُجُ فِي الْجُمْلَةِ عَمَّا اشْتُرِطَ فِي صِحَّةِ الْمُضَارَبَةِ مَا عَدَا الشُّرُوطَ الْمُتَعَلِّقَةَ بِالرِّبْحِ، وَلَكِنْ يُشْتَرَطُ فِي الْعَامِل أَنْ يَكُونَ مِنْ أَهْل التَّبَرُّعِ. (١)

9 – Syarat-syarat sahnya akad ibdā‘ secara umum tidak berbeda dari syarat-syarat yang ditetapkan untuk sahnya akad muḍārabah, kecuali syarat-syarat yang berkaitan dengan keuntungan.

Namun, disyaratkan bahwa pihak pengelola harus termasuk orang yang memiliki kecakapan untuk melakukan tabarru‘ (pemberian atau tindakan secara sukarela tanpa imbalan).

وَلِلتَّفْصِيل يُرْجَعُ إِلَى مُصْطَلَحِ (مُضَارَبَة) .

Untuk penjelasan secara lebih rinci, dapat merujuk pada istilah “Muḍārabah”.

مَنْ يَمْلِكُ إِبْضَاعَ الْمَال:

Pihak yang Berhak Melakukan Ibdā‘ terhadap Harta

١٠ - الَّذِي يَمْلِكُ إِبْضَاعَ الْمَال:

10 – Pihak yang memiliki kewenangan untuk melakukan ibdā‘ terhadap harta:

أ - الْمَالِكُ: لِلْمَالِكِ أَنْ يَدْفَعَ الْمَال لِلْعَامِل بِضَاعَةً، وَهَذِهِ هِيَ الصُّورَةُ الأَْصْلِيَّةُ لِلإِْبْضَاعِ.

A – Pemilik harta:
Pemilik harta berhak menyerahkan hartanya kepada pihak pengelola sebagai bidhā‘ah (ibdā‘). Inilah bentuk asli dan dasar dari akad ibdā‘.

ب - الْمُضَارِبُ: لِلْمُضَارِبِ (الْعَامِل) أَنْ يَدْفَعَ الْمَال بِضَاعَةً لآِخَرَ؛ لأَِنَّ الْمَقْصُودَ مِنْ عَقْدِ الْمُضَارَبَةِ الرِّبْحُ، وَالإِْبْضَاعُ طَرِيقٌ إِلَى ذَلِكَ، وَلأَِنَّهُ يَمْلِكُ الاِسْتِئْجَارَ، فَالإِْبْضَاعُ أَوْلَى؛ لأَِنَّ الاِسْتِئْجَارَ اسْتِعْمَالٌ فِي الْمَال بِعِوَضٍ، وَالإِْبْضَاعَ اسْتِعْمَالٌ فِيهِ بِغَيْرِ عِوَضٍ، فَكَانَ أَوْلَى.

B – Muḍārib (pihak pengelola):
Pihak muḍārib (pengelola) diperbolehkan menyerahkan harta tersebut kepada orang lain sebagai bidhā‘ah, karena tujuan utama akad muḍārabah adalah memperoleh keuntungan, sedangkan ibdā‘ merupakan salah satu sarana untuk mencapai tujuan tersebut.

Selain itu, muḍārib memiliki kewenangan untuk menyewakan harta tersebut, sehingga melakukan ibdā‘ lebih utama untuk diperbolehkan. Sebab, penyewaan merupakan penggunaan harta dengan imbalan, sedangkan ibdā‘ merupakan penggunaan harta tanpa imbalan. Dengan demikian, ibdā‘ lebih layak untuk diperbolehkan.

وَالإِْبْضَاعُ يَمْلِكُهُ الْمُضَارِبُ لأَِنَّهُ مِنْ تَوَابِعِ عَقْدِ الْمُضَارَبَةِ، فَلاَ يَحْتَاجُ إِلَى إِذْنٍ عِنْدَ الْبَعْضِ عَلَى مَا سَيَأْتِي. وَجَوَازُهُ لِلْمُضَارِبِ أَوْلَى مِنْ جَوَازِ التَّوْكِيل بِالْبَيْعِ وَالشِّرَاءِ وَالرَّهْنِ وَالاِرْتِهَانِ وَالإِْجَارَةِ وَالإِْيدَاعِ وَغَيْرِ ذَلِكَ. (٢)

Muḍārib juga memiliki kewenangan melakukan ibdā‘ karena hal tersebut merupakan bagian dari konsekuensi dan kelengkapan akad muḍārabah. Oleh sebab itu, menurut sebagian ulama, ibdā‘ tidak memerlukan izin khusus, sebagaimana akan dijelaskan kemudian.

Kebolehan muḍārib melakukan ibdā‘ bahkan lebih kuat daripada kebolehannya mewakilkan urusan jual beli, pembelian, penggadaian, menerima gadai, penyewaan, penitipan, dan berbagai tindakan lainnya.

ج - الشَّرِيكُ: لِلشَّرِيكِ أَنْ يُبْضِعَ مِنْ مَال الشَّرِكَةِ، عَلَى مَا صَرَّحَ بِهِ الْحَنَفِيَّةُ وَالْمَالِكِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ فِي الصَّحِيحِ عِنْدَهُمْ، وَالشَّافِعِيَّةُ، بِشَرْطِ إِذْنِ الشَّرِيكِ.

C – Syārik (Mitra dalam Syirkah):
Seorang syarīk (mitra) diperbolehkan melakukan ibdā‘ terhadap harta milik perusahaan atau harta bersama dalam syirkah, sebagaimana ditegaskan oleh ulama Hanafiyah, Malikiyah, dan Hanabilah menurut pendapat yang sahih dalam mazhab mereka.

Adapun menurut ulama Syafi‘iyah, hal tersebut diperbolehkan dengan syarat mendapat izin dari mitra syirkahnya.

الاِعْتِبَارُ الشَّرْعِيُّ لِلْمُبْضَعِ وَتَصَرُّفَاتِهِ:

Kedudukan Syariat bagi Mubḍi‘ dan Tindakan-Tindakannya

١١ - الْمُبْضَعُ أَمِينٌ فِيمَا يَقْبِضُهُ مِنْ رَبِّ الْمَال؛ لأَِنَّ عَقْدَ الإِْبْضَاعِ عَقْدُ أَمَانَةٍ، فَلاَ ضَمَانَ عَلَيْهِ إِلاَّ بِالإِْهْمَال أَوِ التَّعَدِّي. وَهُوَ وَكِيل رَبِّ الْمَال فِي مَالِهِ، يَنُوبُ عَنْهُ فِي تَصَرُّفَاتِهِ التِّجَارِيَّةِ مِنْ بَيْعٍ وَشِرَاءٍ مِمَّا فِيهِ إِنْمَاءٌ لِلْمَال، عَلَى مَا جَرَى بِهِ عُرْفُ التُّجَّارِ، دُونَ حَاجَةٍ إِلَى إِذْنٍ خَاصٍّ. لَكِنْ لَوْ أَبْضَعَهُ لآِخَرَ لِيَعْمَل فِيهِ عَلَى سَبِيل الإِْبْضَاعِ، فَهَذَا الصَّنِيعُ يَحْتَاجُ إِلَى إِذْنِ رَبِّ الْمَال قِيَاسًا عَلَى الْمُضَارَبَةِ.

11 – Mubḍi‘ (pihak yang menerima harta untuk diperdagangkan) merupakan orang yang dipercaya (amīn) atas harta yang diterimanya dari pemilik modal, karena akad ibdā‘ merupakan akad amanah. Oleh karena itu, ia tidak berkewajiban menanggung kerugian kecuali apabila terjadi kelalaian atau tindakan melampaui batas (ta‘addi).

Mubḍi‘ berkedudukan sebagai wakil pemilik modal dalam mengelola hartanya. Ia menggantikan pemilik modal dalam berbagai transaksi perdagangan, seperti jual beli, dan berbagai tindakan yang bertujuan mengembangkan harta, sesuai dengan kebiasaan yang berlaku di kalangan para pedagang, tanpa memerlukan izin khusus.

Namun, apabila ia menyerahkan harta tersebut kepada orang lain agar orang itu mengelolanya melalui akad ibdā‘, maka tindakan tersebut memerlukan izin dari pemilik modal, dengan dianalogikan kepada akad muḍārabah.

وَكَذَلِكَ يَحْتَاجُ إِلَى الإِْذْنِ مِنْ رَبِّ الْمَال مَا كَانَ خَارِجًا مِنَ الأَْعْمَال عَنْ عَادَةِ التُّجَّارِ، كَالإِْقْرَاضِ وَالتَّبَرُّعَاتِ وَالصَّدَقَاتِ وَالْهِبَاتِ مِنْ رَأْسِ الْمَال الْمُخَصَّصِ لأَِغْرَاضِ الإِْنْمَاءِ وَالتِّجَارَةِ.

Demikian pula, tindakan-tindakan yang berada di luar kebiasaan para pedagang memerlukan izin dari pemilik modal, seperti memberikan pinjaman, melakukan tabarru‘ (pemberian secara sukarela), bersedekah, dan memberikan hibah dari modal yang secara khusus disediakan untuk tujuan pengembangan harta dan perdagangan.

شِرَاءُ الْمُبْضَعِ الْمَال لِنَفْسِهِ:

Mubḍi‘ Membeli Barang Dagangan untuk Dirinya Sendiri

١٢ - إِذَا دَفَعَ رَبُّ الْمَال الْمَال لِلْعَامِل بِضَاعَةً، فَلَيْسَ لَهُ أَنْ يَتَّجِرَ فِيهِ لِنَفْسِهِ، شَأْنُهُ شَأْنُ الْمُقَارِضِ (الْمُضَارِبِ) ، فَإِنَّ الْمَال إِنَّمَا دُفِعَ لِلْعَامِل فِي الْمُضَارَبَةِ وَالإِْبْضَاعِ عَلَى طَلَبِ الْفَضْل فِيهِ، فَلَيْسَ لِلْمُضَارِبِ وَلاَ لِلْمُبْضَعِ أَنْ يَجْعَلاَ ذَلِكَ لأَِنْفُسِهِمَا دُونَ رَبِّ الْمَال. (١)

12 – Apabila pemilik modal menyerahkan hartanya kepada pihak pengelola sebagai bidhā‘ah, maka pihak pengelola tidak diperbolehkan memperdagangkan harta tersebut untuk kepentingan dirinya sendiri, sebagaimana halnya pihak yang menerima akad qirāḍ (muḍārabah).

Sebab, harta tersebut diserahkan kepada pihak pengelola dalam akad muḍārabah maupun ibdā‘ dengan tujuan mengembangkan dan memperoleh keuntungan dari harta tersebut. Oleh karena itu, muḍārib maupun mubḍi‘ tidak diperbolehkan menjadikan keuntungan atau pemanfaatan harta tersebut untuk kepentingan diri mereka sendiri tanpa melibatkan pemilik modal.

وَقَدْ نَصَّ الْمَالِكِيَّةُ عَلَى أَنَّ الْمُبْضَعَ (الْعَامِل) إِذَا ابْتَاعَ لِنَفْسِهِ، أَنَّ صَاحِبَ الْمَال مُخَيَّرٌ بَيْنَ أَنْ يَأْخُذَ مَا ابْتَاعَ لِنَفْسِهِ، أَوْ يُضَمِّنَهُ رَأْسَ الْمَال؛ لأَِنَّهُ إِنَّمَا دَفَعَ الْمَال عَلَى النِّيَابَةِ عَنْهُ وَابْتِيَاعِ مَا أَمَرَهُ بِهِ، فَكَانَ أَحَقَّ بِمَا ابْتَاعَهُ. وَهَذَا إِذَا ظَفِرَ بِالأَْمْرِ قَبْل بَيْعِ مَا ابْتَاعَهُ، فَإِنْ فَاتَ مَا ابْتَاعَهُ فَإِنَّ رِبْحَهُ لِرَبِّ الْمَال، وَخَسَارَتَهُ عَلَى الْمُبْضِعِ مَعَهُ. وَمِثْلُهُ مَذْهَبُ الشَّافِعِيَّةِ فِي تَعَدِّي الْمُبْضَعِ. (١) وَيُؤْخَذُ مِنْ مَذْهَبِ الْحَنَابِلَةِ أَنَّهُ إِنْ ظَهَرَ رِبْحٌ فَهُوَ لِرَبِّ الْمَال، وَإِنْ ظَهَرَتْ خَسَارَةٌ فَهِيَ عَلَى الْعَامِل لِتَعَدِّيهِ. وَقَوَاعِدُ الْحَنَفِيَّةِ لاَ تَأْبَى ذَلِكَ.

Ulama Malikiyah secara tegas menyatakan bahwa apabila mubḍi‘ (pihak pengelola) membeli barang untuk dirinya sendiri, maka pemilik modal diberi pilihan antara mengambil barang yang dibelinya untuk dirinya tersebut, atau memasukkan nilainya sebagai bagian dari modal, karena pemilik modal sebenarnya menyerahkan harta itu kepadanya untuk bertindak sebagai wakilnya dan membeli barang yang diperintahkan kepadanya. Oleh karena itu, pemilik modal lebih berhak terhadap barang yang telah dibelinya.

Hal ini berlaku apabila pemilik modal mengetahui tindakan tersebut sebelum barang yang dibeli itu dijual kembali. Jika barang yang dibeli tersebut telah terjual dan tidak dapat lagi dikembalikan, maka keuntungannya menjadi milik pemilik modal, sedangkan kerugiannya menjadi tanggungan mubḍi‘ bersama dengan pemilik modal, karena tindakan tersebut dilakukan di luar kewenangannya.

Pendapat yang serupa juga merupakan mazhab Syafi‘iyah dalam masalah tindakan mubḍi‘ yang melampaui batas kewenangannya (ta‘addī).

Dari mazhab Hanabilah dapat dipahami bahwa apabila dari transaksi tersebut muncul keuntungan, maka keuntungan itu menjadi milik pemilik modal. Namun, apabila terjadi kerugian, maka kerugian tersebut menjadi tanggungan pihak pengelola, karena ia telah melakukan tindakan yang melampaui kewenangannya.

Adapun kaidah-kaidah dalam mazhab Hanafiyah tidak bertentangan dengan pendapat tersebut.

تَلَفُ الْمَال أَوْ خَسَارَتُهُ:

Kerusakan atau Kerugian Harta

١٣ - عَقْدُ الإِْبْضَاعِ مِنْ عُقُودِ الأَْمَانَةِ كَمَا تَقَدَّمَ، فَلاَ ضَمَانَ عَلَى مَنْ فِي يَدِهِ الْمَال إِنْ تَلِفَ أَوْ خَسِرَ مِنْ غَيْرِ تَفْرِيطٍ وَلاَ تَعَدٍّ، فَيُسْمَعُ قَوْلُهُ فِيمَا يَدَّعِيهِ مِنْ هَلاَكٍ أَوْ خَسَارَةٍ. بَل قَالُوا: إِنَّهُ لاَ يَضْمَنُ حَتَّى وَلَوْ قَال رَبُّ الْمَال: وَعَلَيْكَ ضَمَانُهُ؛ لأَِنَّ الْعَقْدَ يَقْتَضِي كَوْنَهُ أَمَانَةً. وَالْمَرْوِيُّ عَنْ صَاحِبَيْ أَبِي حَنِيفَةَ فِي شَأْنِ الأَْجِيرِ الْمُشْتَرَكِ، أَنَّهُ لاَ يُقْبَل قَوْلُهُ فِي الْهَلاَكِ إِلاَّ إِذَا كَانَ هُنَاكَ قَرِينَةٌ تَدُل عَلَى صِدْقِهِ، كَالْحَرِيقِ الْغَالِبِ، وَاللِّصِّ الْكَاسِرِ، وَالْعَدُوِّ الْمُكَابِرِ، وَقَالاَ: إِنَّ ذَلِكَ هُوَ الاِسْتِحْسَانُ، لِتَغَيُّرِ أَحْوَال النَّاسِ، وَأَفْتَى بِذَلِكَ عُمَرُ وَعَلِيٌّ فِي شَأْنِ الصُّنَّاعِ. وَمِنَ الْمَعْلُومِ أَنَّ الْعَيْنَ فِي يَدِ الصُّنَّاعِ أَمَانَةٌ، وَكَذَلِكَ هِيَ فِي يَدِ الْمُبْضَعِ، فَلاَ يَبْعُدُ قِيَاسُهُ عَلَيْهِ. (٢)

13 – Akad ibdā‘ termasuk akad amanah, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Oleh karena itu, orang yang memegang harta tidak berkewajiban mengganti kerugian apabila harta tersebut rusak atau mengalami kerugian tanpa adanya kelalaian maupun tindakan melampaui batas (ta‘addī). Dengan demikian, perkataannya mengenai apa yang ia nyatakan sebagai kerusakan atau kerugian harta dapat diterima.

Bahkan, para ulama mengatakan bahwa ia tidak berkewajiban menanggung kerugian sekalipun pemilik modal mengatakan kepadanya, “Engkau wajib menjamin harta tersebut.” Sebab, konsekuensi akad tersebut adalah bahwa harta yang berada di tangannya merupakan amanah.

Adapun riwayat yang dinukil dari dua murid utama Imam Abu Hanifah (Abu Yusuf dan Muhammad) mengenai ajīr musytarak (pekerja yang menerima pekerjaan dari banyak orang) menyatakan bahwa pengakuannya mengenai kerusakan harta tidak diterima kecuali apabila terdapat indikasi yang menunjukkan kebenarannya.

Contohnya adalah adanya kebakaran besar yang sulit dihindari, pencuri yang melakukan pembobolan, atau serangan musuh yang kuat dan sulit dilawan.

Keduanya berpendapat bahwa ketentuan tersebut merupakan bentuk istiḥsān, karena kondisi masyarakat telah mengalami perubahan. Pendapat ini juga menjadi dasar fatwa yang diberikan oleh Umar dan Ali mengenai para pengrajin atau pekerja.

Telah diketahui bahwa barang yang berada di tangan para pengrajin merupakan amanah, demikian pula harta yang berada di tangan mubḍi‘ merupakan amanah. Oleh karena itu, tidaklah jauh kemungkinan untuk menganalogikan hukum mubḍi‘ dengan hukum para pengrajin tersebut.

اخْتِلاَفُ الْعَامِل وَرَبِّ الْمَال:

Perselisihan antara Pihak Pengelola dan Pemilik Modal

١٤ - إِذَا اخْتَلَفَ رَبُّ الْمَال وَالْعَامِل فَادَّعَى الْعَامِل أَنَّهُ أَخَذَ الْمَال مُضَارَبَةً، وَادَّعَى الْمَالِكُ أَنَّهُ بِضَاعَةٌ، قَال الْحَنَفِيَّةُ وَالْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ: الْقَوْل قَوْل الْمَالِكِ مَعَ يَمِينِهِ؛ لأَِنَّهُ مُنْكِرٌ. وَنَصَّ الْمَالِكِيَّةُ عَلَى أَنَّ عَلَيْهِ لِلْعَامِل أُجْرَةَ مِثْلِهِ، إِلاَّ أَنْ تَكُونَ أَكْثَرَ مِنْ نِصْفِ رِبْحِ الْقِرَاضِ، فَلاَ يُعْطَى أَكْثَرَ مِمَّا ادَّعَى. وَبَيَّنُوا أَنَّ فَائِدَةَ كَوْنِ الْقَوْل قَوْلَهُ عَدَمُ غَرَامَةِ الْجُزْءِ الَّذِي ادَّعَاهُ الْعَامِل.

14 – Apabila terjadi perselisihan antara pemilik modal dan pihak pengelola, lalu pihak pengelola mengaku bahwa ia menerima harta tersebut sebagai muḍārabah, sedangkan pemilik modal menyatakan bahwa harta tersebut diberikan sebagai bidhā‘ah (ibdā‘), maka ulama Hanafiyah, Malikiyah, dan Syafi‘iyah berpendapat bahwa perkataan pemilik modal yang disertai sumpahnya yang diterima, karena dialah pihak yang menyangkal (mengingkari klaim pihak pengelola).

Ulama Malikiyah secara tegas menyatakan bahwa pemilik modal tetap wajib memberikan kepada pihak pengelola upah yang sepadan (ujrat al-mithl), kecuali apabila jumlahnya lebih besar daripada setengah keuntungan qirāḍ (muḍārabah). Dalam keadaan demikian, ia tidak diberikan lebih dari jumlah yang telah diklaim oleh pihak pengelola.

Mereka menjelaskan bahwa manfaat dari menjadikan perkataan pemilik modal sebagai dasar hukum adalah bahwa pemilik modal tidak dibebani untuk membayar bagian keuntungan yang diklaim oleh pihak pengelola.

وَبَيَانُ ذَلِكَ أَنَّ رَبَّ الْمَال تَضَمَّنَتْ دَعْوَاهُ أَنَّ الْعَامِل تَبَرَّعَ لَهُ بِالْعَمَل، وَهُوَ يُنْكِرُ ذَلِكَ وَيَدَّعِي أَنَّهُ بِأُجْرَةِ مِثْلِهِ؛ لأَِنَّهُ لَيْسَ مُتَبَرِّعًا. (١)

Penjelasannya adalah bahwa dalam pernyataan pemilik modal terkandung klaim bahwa pihak pengelola telah melakukan pekerjaan untuknya secara sukarela, sedangkan pihak pengelola mengingkari hal tersebut dan mengklaim bahwa ia berhak mendapatkan upah yang sepadan (ujrat al-mithl), karena ia bukan orang yang melakukan pekerjaan secara sukarela.

وَإِنْ نَكَل رَبُّ الْمَال كَانَ الْقَوْل قَوْل الْعَامِل مَعَ يَمِينِهِ إِذَا كَانَ مِمَّا يُسْتَعْمَل مِثْلُهُ فِي الْقِرَاضِ.

Apabila pemilik modal menolak untuk bersumpah, maka perkataan pihak pengelola yang disertai sumpahnya yang diterima, apabila pekerjaan semacam itu memang lazim digunakan dalam akad qirāḍ (muḍārabah).

وَنُقِل عَنْ بَعْضِ الْقَرَوِيِّينَ: إِنْ كَانَ عُرْفُهُمْ أَنَّ لِلإِْبْضَاعِ أَجْرًا فَالأَْشْبَهُ أَنْ يَكُونَ الْقَوْل قَوْل الْعَامِل. (٢)

Diriwayatkan dari sebagian ulama Qarawiyyīn: apabila kebiasaan yang berlaku di kalangan mereka adalah bahwa ibdā‘ dilakukan dengan mendapatkan upah, maka yang lebih mendekati adalah perkataan pihak pengelola yang diterima.

وَعِنْدَ الْحَنَابِلَةِ احْتِمَالاَنِ: أَحَدُهُمَا أَنْ يَكُونَ الْقَوْل قَوْل الْعَامِل؛ لأَِنَّ عَمَلَهُ لَهُ، فَيَكُونُ الْقَوْل قَوْلَهُ فِيهِ.

Adapun menurut ulama Hanabilah, terdapat dua kemungkinan pendapat. Salah satunya adalah bahwa perkataan pihak pengelola yang diterima, karena pekerjaan tersebut menjadi haknya, sehingga perkataan pihak pengelola yang dijadikan dasar dalam persoalan tersebut.

وَالثَّانِي: أَنْ يَتَحَالَفَا، وَيَكُونَ لِلْعَامِل أَقَل الأَْمْرَيْنِ مِنْ نَصِيبِهِ مِنَ الرِّبْحِ أَوْ أُجْرَةِ مِثْلِهِ؛ لأَِنَّهُ لاَ يَدَّعِي أَكْثَرَ مِنْ نَصِيبِهِ مِنَ الرِّبْحِ، فَلاَ يَسْتَحِقُّ الزِّيَادَةَ عَلَيْهِ. وَإِنْ كَانَ الأَْقَل أَجْرَ مِثْلِهِ فَلَمْ يَثْبُتْ كَوْنُهُ قِرَاضًا، فَيَكُونُ لَهُ أَجْرُ مِثْلِهِ، وَالْبَاقِي لِرَبِّ الْمَال؛ لأَِنَّ نَمَاءَ مَالِهِ تَبَعٌ لَهُ. (٣)

Kedua: Keduanya saling bersumpah. Dalam hal ini, pihak pengelola mendapatkan jumlah yang lebih sedikit dari dua hal, yaitu antara bagian keuntungan yang menjadi haknya atau upah yang sepadan (ujrat al-mithl).

Sebab, pihak pengelola tidak mengklaim lebih banyak daripada bagian keuntungan yang menjadi haknya, sehingga ia tidak berhak mendapatkan tambahan melebihi bagian tersebut.

Apabila jumlah yang lebih sedikit adalah upah yang sepadan, sementara status akad sebagai qirāḍ (muḍārabah) tidak terbukti, maka pihak pengelola mendapatkan upah yang sepadan, sedangkan sisanya menjadi milik pemilik modal, karena pertumbuhan atau keuntungan yang dihasilkan dari hartanya merupakan hak yang mengikuti kepemilikan hartanya.

وَاعْتَبَرَ بَعْضُهُمْ هَذَا مِنْ تَعَارُضِ الْبَيِّنَتَيْنِ، فَقَال: إِنْ أَقَامَ كُل وَاحِدٍ مِنْهُمَا بَيِّنَةً بِدَعْوَاهُ تَعَارَضَا، وَقُسِّمَ بَيْنَهُمَا نِصْفَيْنِ.

Sebagian ulama menganggap persoalan ini sebagai pertentangan antara dua bukti (bayyinah). Mereka mengatakan: apabila masing-masing pihak mengajukan bukti untuk mendukung klaimnya, maka kedua bukti tersebut saling bertentangan, sehingga harta atau keuntungan dibagi menjadi dua bagian yang sama di antara keduanya.

وَالصَّحِيحُ عِنْدَهُمْ أَنَّهُ لَيْسَ مِنْ تَعَارُضِ الْبَيِّنَتَيْنِ، فَيَحْلِفُ كُلٌّ مِنْهُمَا عَلَى إِنْكَارِ مَا ادَّعَاهُ خَصْمُهُ، وَيَكُونُ لِلْعَامِل أَجْرُ عَمَلِهِ. (١)

Namun, pendapat yang sahih menurut mereka adalah bahwa persoalan ini bukan termasuk pertentangan antara dua bukti. Oleh karena itu, masing-masing pihak bersumpah untuk menyangkal klaim pihak lawannya, dan pihak pengelola berhak mendapatkan upah atas pekerjaannya.

وَلاَ يَتَأَتَّى عَكْسُ هَذِهِ الصُّورَةِ، بِأَنْ يَدَّعِيَ الْعَامِل الإِْبْضَاعَ وَرَبُّ الْمَال الْقِرَاضَ، لاِسْتِحَالَةِ ذَلِكَ عَادَةً، إِلاَّ أَنْ يَقْصِدَ مِنَّتَهُ عَلَى رَبِّهِ.

Adapun kebalikan dari kasus ini tidak mungkin terjadi secara kebiasaan, yaitu apabila pihak pengelola mengklaim bahwa harta tersebut diberikan kepadanya sebagai ibdā‘, sedangkan pemilik modal mengklaim bahwa harta tersebut diberikan sebagai qirāḍ (muḍārabah). Sebab, secara kebiasaan hal tersebut tidak mungkin terjadi, kecuali apabila pihak pengelola memang bermaksud memberikan suatu kebaikan atau kemurahan kepada pemilik modal.

١٥ - وَإِذَا ادَّعَى الْعَامِل الْقِرَاضَ، وَرَبُّ الْمَال الإِْبْضَاعَ بِأُجْرَةٍ مَعْلُومَةٍ - وَهُوَ مَا سَمَّاهُ الْمَالِكِيَّةُ إِبْضَاعًا، وَجَعَلَهُ غَيْرُهُمْ مِنْ قَبِيل الإِْجَارَةِ - فَالْقَوْل قَوْل الْعَامِل مَعَ يَمِينِهِ، وَيَأْخُذُ الْجُزْءَ؛ لأَِنَّ الاِخْتِلاَفَ هُنَا فِي الْجُزْءِ الْمَشْرُوطِ لِلْمُضَارِبِ مِنَ الرِّبْحِ، وَالْمُصَدَّقُ عِنْدَ الاِخْتِلاَفِ فِي هَذَا الْجُزْءِ الْمُضَارِبُ.

15 – Apabila pihak pengelola mengklaim bahwa akad tersebut adalah qirāḍ (muḍārabah), sedangkan pemilik modal menyatakan bahwa akad tersebut adalah ibdā‘ dengan upah yang telah ditentukan—yang oleh ulama Malikiyah disebut ibdā‘, sementara ulama selain mereka menggolongkannya sebagai akad ijarah (sewa-menyewa/upah)—maka perkataan pihak pengelola yang disertai sumpahnya yang diterima.

Pihak pengelola berhak mendapatkan bagian keuntungan yang telah disepakati, karena perselisihan dalam kasus ini berkaitan dengan bagian keuntungan yang disyaratkan untuk muḍārib. Apabila terjadi perselisihan mengenai kadar bagian tersebut, maka perkataan muḍārib yang dijadikan dasar.

وَلِهَذَا إِذَا كَانَتِ الأُْجْرَةُ مِثْل الْجُزْءِ الَّذِي ادَّعَاهُ فِي الْقِرَاضِ فَلاَ يَمِينَ؛ لأَِنَّهُمَا قَدِ اتَّفَقَا فِي الْمَعْنَى، وَلاَ يَضُرُّ اخْتِلاَفُهُمَا فِي اللَّفْظِ.

Oleh karena itu, apabila jumlah upah tersebut sama dengan bagian keuntungan yang diklaimnya dalam akad qirāḍ (muḍārabah), maka pihak pengelola tidak perlu bersumpah, karena pada hakikatnya keduanya telah sepakat dalam hal makna, dan perbedaan mereka dalam lafaz atau istilah tidak memberikan pengaruh.

وَلِضَبْطِ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ خَمْسَةُ شُرُوطٍ:

Untuk memperjelas dan membatasi persoalan ini menurut ulama Malikiyah, terdapat lima syarat:

الأَْوَّل: أَنْ تَكُونَ الْمُنَازَعَةُ بَعْدَ الْعَمَل الْمُوجِبِ لِلُزُومِ الْقِرَاضِ.

Pertama: Perselisihan tersebut terjadi setelah dilakukan pekerjaan yang menyebabkan akad qirāḍ menjadi mengikat.

الثَّانِي: أَنْ يَكُونَ مِثْلُهُ يَعْمَل فِي قِرَاضٍ، وَأَنْ يَكُونَ مِثْل الْمَال يُدْفَعُ قِرَاضًا.

Kedua: Pekerjaan semacam itu merupakan pekerjaan yang lazim dilakukan dalam akad qirāḍ, dan harta semacam itu juga lazim diserahkan melalui akad qirāḍ.

الثَّالِثُ: أَنْ يَكُونَ الْجُزْءُ الْمُدَّعَى اشْتِرَاطُهُ مِنْ رِبْحِ الْقِرَاضِ أَزْيَدَ مِنَ الأُْجْرَةِ الْمُدَّعَى الاِتِّفَاقُ عَلَيْهَا.

Ketiga: Bagian keuntungan yang diklaim telah disyaratkan dalam akad qirāḍ lebih besar daripada upah yang diklaim telah disepakati oleh kedua belah pihak.

الرَّابِعُ: أَنْ يُشْبِهَ أَنْ يُقَارِضَ بِمَا ادَّعَاهُ مِنْ نِصْفِ الرِّبْحِ مَثَلاً، كَأَنْ تَقُومَ قَرَائِنُ عَلَى أَنَّ مِثْلَهُ لاَ يَعْمَل إِلاَّ بِمِثْل هَذَا الْجُزْءِ مِنَ الرِّبْحِ.

Keempat: Pihak pengelola secara wajar memang dapat memperoleh akad qirāḍ dengan bagian keuntungan yang ia klaim, misalnya setengah dari keuntungan. Hal ini dapat diketahui berdasarkan indikasi atau keadaan yang menunjukkan bahwa orang yang memiliki kedudukan seperti dirinya biasanya tidak mau bekerja kecuali dengan bagian keuntungan sebesar itu.

الْخَامِسُ: أَلاَّ يُطَابِقَ الْعُرْفُ دَعْوَى رَبِّ الْمَال.

Kelima: Kebiasaan yang berlaku tidak sesuai dengan klaim pemilik modal.

١٦ - وَإِذَا ادَّعَى الْعَامِل الإِْبْضَاعَ بِأَجْرٍ، وَرَبُّ الْمَال الْقِرَاضَ بِجُزْءٍ مَعْلُومٍ مِنَ الرِّبْحِ، فَقَدْ نَصَّ الْمَالِكِيَّةُ عَلَى أَنَّهُ إِذَا قَال الْعَامِل: الْمَال بِيَدِي بِضَاعَةٌ بِأَجْرٍ، وَقَال رَبُّ الْمَال: هُوَ بِيَدِكَ قِرَاضٌ بِجُزْءٍ مَعْلُومٍ، فَإِنَّ الْقَوْل قَوْل الْعَامِل.

16 – Apabila pihak pengelola mengklaim bahwa akad tersebut adalah ibdā‘ dengan upah, sedangkan pemilik modal mengklaim bahwa akad tersebut adalah qirāḍ dengan bagian keuntungan tertentu, ulama Malikiyah secara tegas menyatakan bahwa apabila pihak pengelola berkata:

“Harta tersebut berada di tanganku sebagai bidhā‘ah dengan upah,”

sedangkan pemilik modal berkata:

“Harta tersebut berada di tanganmu sebagai qirāḍ dengan bagian keuntungan tertentu,”

maka perkataan pihak pengelola yang diterima.

وَتَجْرِي هُنَا الشُّرُوطُ الْمَذْكُورَةُ فِي الْمَسْأَلَةِ السَّابِقَةِ. (١)

Dalam persoalan ini, syarat-syarat yang telah disebutkan pada masalah sebelumnya juga berlaku.

١٧ - وَإِذَا ادَّعَى الْعَامِل الْقِرَاضَ وَرَبُّ الْمَال الإِْبْضَاعَ، وَطَلَبَ كُلٌّ مِنْهُمَا الرِّبْحَ لَهُ وَحْدَهُ، فَعِنْدَ الْحَنَابِلَةِ يَحْلِفُ كُلٌّ مِنْهُمَا عَلَى إِنْكَارِ مَا ادَّعَاهُ خَصْمُهُ؛ لأَِنَّ كُلًّا مِنْهُمَا مُنْكِرٌ مَا ادَّعَاهُ خَصْمُهُ عَلَيْهِ، وَالْقَوْل قَوْل الْمُنْكِرِ، وَلِلْعَامِل أَجْرُ عَمَلِهِ فَقَطْ، وَالْبَاقِي لِرَبِّ الْمَال؛ لأَِنَّ نَمَاءَ مَالِهِ تَابِعٌ لَهُ. (٢)

17 – Apabila pihak pengelola mengklaim bahwa akad tersebut adalah qirāḍ, sedangkan pemilik modal mengklaim bahwa akad tersebut adalah ibdā‘, dan masing-masing dari keduanya menuntut agar seluruh keuntungan menjadi miliknya sendiri, maka menurut ulama Hanabilah, masing-masing pihak bersumpah untuk menyangkal klaim pihak lawannya. Sebab, masing-masing merupakan pihak yang mengingkari apa yang diklaim oleh lawannya terhadap dirinya, sedangkan perkataan pihak yang mengingkari klaim lawannya yang dijadikan dasar.

Dalam hal ini, pihak pengelola hanya berhak mendapatkan upah atas pekerjaannya, sedangkan selebihnya menjadi milik pemilik modal, karena pertumbuhan atau keuntungan yang dihasilkan dari harta tersebut mengikuti kepemilikan pemilik modal.

وَعِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ، وَمُقْتَضَى كَلاَمِ الْمَالِكِيَّةِ عَلَى مَا ذَكَرُوهُ فِي الْقِرَاضِ - أَنَّ الْقَوْل قَوْل رَبِّ الْمَال بِيَمِينِهِ، وَالْبَيِّنَةُ بَيِّنَةُ الْعَامِل؛ لأَِنَّهُ يَدَّعِي عَلَيْهِ التَّمْلِيكَ، وَالْمَالِكُ يُنْكِرُهُ (٣) .

Adapun menurut ulama Hanafiyah, dan berdasarkan konsekuensi dari perkataan ulama Malikiyah dalam pembahasan qirāḍ yang telah disebutkan, perkataan pemilik modal yang disertai sumpahnya yang diterima, sedangkan bukti dari pihak pengelola yang diterima. Sebab, pihak pengelola mengklaim adanya pemindahan kepemilikan keuntungan kepadanya, sementara pemilik modal mengingkari klaim tersebut.

انْتِهَاءُ عَقْدِ الإِبْضَاعِ:

Berakhirnya Akad Ibdhā‘

١٨ - يَنْتَهِي عَقْدُ الإِْبْضَاعِ بِمَا يَنْتَهِي بِهِ عَقْدُ الْمُضَارَبَةِ فِي الْجُمْلَةِ، (١) وَيُمْكِنُ إِجْمَال أَسْبَابِ الاِنْتِهَاءِ بِالآْتِي:

18 – Akad ibdā‘ berakhir dengan sebab-sebab yang pada dasarnya sama dengan sebab-sebab berakhirnya akad muḍārabah. Secara ringkas, sebab-sebab berakhirnya akad tersebut adalah sebagai berikut:

أ - انْقِضَاءُ الْعَقْدِ الأَْصْلِيِّ أَوِ الْمَتْبُوعِ، فَإِذَا كَانَ الإِْبْضَاعُ لِمُدَّةٍ مُحَدَّدَةٍ فَيَنْتَهِي بِانْتِهَاءِ الْمُدَّةِ، وَإِنْ كَانَ تَابِعًا لِعَقْدٍ آخَرَ كَالْمُضَارَبَةِ فَإِنَّهُ يَنْتَهِي بِانْتِهَائِهَا.

A – Berakhirnya akad asal atau akad yang diikuti.

Apabila akad ibdā‘ dilakukan untuk jangka waktu tertentu, maka akad tersebut berakhir dengan berakhirnya jangka waktu tersebut.

Adapun apabila ibdā‘ merupakan akad yang mengikuti akad lain, seperti akad muḍārabah, maka akad ibdā‘ tersebut berakhir bersamaan dengan berakhirnya akad muḍārabah.

ب - الْفَسْخُ: سَوَاءٌ كَانَ بِعَزْل رَبِّ الْمَال لِلْعَامِل أَوْ عَزْل الْعَامِل نَفْسَهُ؛ لأَِنَّهُ عَقْدٌ غَيْرُ لاَزِمٍ مِنَ الْجَانِبَيْنِ.

B – Fasakh (Pembatalan Akad):
Akad ibdā‘ dapat berakhir melalui fasakh, baik karena pemilik modal memberhentikan pihak pengelola, maupun karena pihak pengelola mengundurkan diri dari akad tersebut. Hal ini karena ibdā‘ merupakan akad yang tidak mengikat kedua belah pihak.

ج - الاِنْفِسَاخُ: سَوَاءٌ كَانَ بِالْمَوْتِ، أَوْ زَوَال الأَْهْلِيَّةِ، أَوْ هَلاَكِ الْمَحَل.

C – Infisākh (Akad Batal dengan Sendirinya):
Akad ibdā‘ juga dapat berakhir melalui infisākh, baik disebabkan oleh kematian, hilangnya kecakapan hukum, maupun musnahnya objek akad.

Wallahu A’lam...

Baca juga:

Pengertian Ibrād dalam Fikih Islam: Hukum Menunda Salat Zuhur Saat CuacaPanas, Waktu Pelaksanaan, dan Ibrād pada Hewan Sembelihan

Kupas Tuntas Hukum Ibrā’: Pengertian, Istilah Terkait, Jenis dan Rukun,Syarat Para Pihak, Objek Pembebasan, Cakupan dan Pembatasannya, KetentuanBersyarat, Pencabutan, serta Akibat Hukum terhadap Utang, Hak, Gugatan, danPengakuan

Hukum Ibthun dan Ibthal dalam Fikih Islam: Pengertian, Perbedaan Ibtal dengan Fasakh, Ifsad dan Isqath serta Penerapannya dalam Ibadah dan Akad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

Ihya 'Ulumiddin jilid 4 makna petuk

Download Kitab PDF : Ihya 'Ulumiddin jilid 4 makna petuk | Google Drive Download Kitab PDF : Ihya 'Ulum...