Pendahuluan
Bagaimana seharusnya seorang muslim
bersikap terhadap pelaku maksiat? Apakah selalu harus dijauhi, atau justru
dirangkul dengan penuh kasih sayang?
Pertanyaan ini telah dibahas secara
mendalam oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin. Beliau menjelaskan
bahwa para ulama salaf memiliki perbedaan cara dalam menyikapi pelaku dosa yang
hanya merugikan dirinya sendiri. Namun, mereka sepakat untuk bersikap tegas
terhadap kezaliman, bid'ah yang menyesatkan, dan kemaksiatan yang membawa
mudarat kepada orang lain.
Melalui pembahasan ini, Imam
Al-Ghazali juga mengingatkan agar seorang muslim mampu membedakan antara kasih
sayang yang lahir dari keikhlasan dengan sikap lunak yang sebenarnya merupakan mudahanah,
yaitu mengorbankan prinsip agama demi menjaga kepentingan dunia.
Sumber
Kitab: Ihya' 'Ulumuddin (إحياء
علوم الدين)
Pengarang : Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali (450–505 H),
bergelar Hujjatul Islam, ulama besar dalam bidang fikih, tasawuf,
akhlak, dan pendidikan jiwa.
Tema : Perbedaan sikap ulama salaf terhadap pelaku maksiat, bahaya
mudahanah, dan pentingnya keikhlasan dalam mencintai serta membenci karena
Allah.
Teks Arab
وطرق السلف قد اختلفت في إظهار
البغض مع أهل المعاصي وكلهم اتفقوا على
إظهار البغض للظلمة والمبتدعة وكل من عصى الله
بمعصية متعدية منه إلى غيره ، فأما من عصى الله في نفسه ، فمنهم من نظر
بعين الرحمة إلى العصاة كلهم ومنهم من شدد الإنكار واختار المهاجرة .
فقد كان أحمد بن حنبل يهجر الأكابر
في أدنى كلمة حتى هجر يحيى بن معين لقوله : إني لا أسأل أحدا شيئا ولو حمل السلطان
إلي شيئا لأخذته .
وهجر الحارث المحاسبي في تصنيفه في
الرد على المعتزلة ، وقال : إنك لا بد تورد أولا شبهتهم وتحمل الناس على التفكر
فيها ثم ترد عليهم وهجر أبا ثور في تأويله قوله صلى الله عليه وسلم : " إن
الله خلق آدم على صورته .
" وهذا أمر يختلف باختلاف
النية وتختلف النية باختلاف الحال ، فإن كان الغالب على القلب النظر إلى اضطرار
الخلق وعجزهم وأنهم مسخرون لما قدروا له أورث هذا تساهلا في المعاداة والبغض وله
وجه ولكن قد تلتبس به المداهنة فأكثر البواعث على الإغضاء عن المعاصي المداهنة
ومراعاة القلوب والخوف من وحشتها ونفارها وقد يلبس الشيطان ذلك على الغبي الأحمق
بأنه ينظر بعين الرحمة ومحك ذلك أن ينظر إليه بعين الرحمة إن جنى على خاص حقه ،
ويقول إنه قد سخر له والقدر لا ينفع منه الحذر وكيف لا يفعله وقد كتب عليه فمثل
هذا قد تصح له نية في الإغماض عن الجناية على حق الله وإن كان يغتاظ عند الجناية
على حقه ويترحم عند الجناية على حق الله فهذا مداهن مغرور بمكيدة من مكايد الشيطان
فليتنبه له .
Terjemahan Lengkap
Jalan yang ditempuh para ulama salaf
dalam menampakkan kebencian kepada pelaku maksiat berbeda-beda.
Namun, mereka semua sepakat untuk
menunjukkan kebencian kepada para penguasa yang zalim, para pelaku bid'ah, dan
setiap orang yang bermaksiat kepada Allah dengan kemaksiatan yang dampaknya
merugikan orang lain.
Adapun orang yang bermaksiat hanya
terhadap dirinya sendiri, maka di antara para ulama ada yang memandang seluruh
pelaku maksiat dengan mata kasih sayang.
Sebagian yang lain memilih bersikap
tegas, mengingkari, bahkan menjauhi mereka.
Imam Ahmad bin Hanbal pernah memutus
hubungan dengan beberapa tokoh hanya karena satu ucapan.
Beliau pernah menjauhi Yahya bin
Ma'in karena ucapannya:
"Aku tidak pernah meminta
sesuatu kepada siapa pun. Namun, jika penguasa memberiku sesuatu, tentu aku
akan menerimanya."
Beliau juga menjauhi Al-Harits
Al-Muhasibi karena menulis bantahan terhadap kelompok Mu'tazilah.
Imam Ahmad berkata:
"Engkau pasti harus terlebih
dahulu menyebutkan syubhat mereka sehingga membuat manusia memikirkannya, baru
kemudian membantahnya."
Beliau juga menjauhi Abu Tsaur
karena menafsirkan sabda Nabi ﷺ:
"Sesungguhnya Allah menciptakan
Adam menurut bentuk-Nya."
Semua itu berbeda-beda sesuai dengan
niat, sedangkan niat sendiri berubah sesuai dengan keadaan.
Apabila yang lebih dominan dalam
hati seseorang adalah memandang bahwa manusia terpaksa, lemah, dan berada di
bawah ketentuan Allah, maka hal itu dapat membuatnya lebih lunak dalam memusuhi
dan membenci pelaku maksiat.
Sikap seperti ini memiliki sisi
kebaikan.
Akan tetapi, sikap tersebut dapat
bercampur dengan mudahanah.
Sesungguhnya penyebab terbesar seseorang
mengabaikan kemaksiatan adalah mudahanah, menjaga perasaan manusia, takut
mereka menjauh, atau takut kehilangan kedekatan dengan mereka.
Setan sering memperdaya orang yang
bodoh dengan membisikkan bahwa ia sedang memandang pelaku maksiat dengan penuh
kasih sayang.
Ukuran untuk membedakannya adalah
sebagai berikut.
Apabila seseorang mampu bersikap
penuh kasih ketika hak pribadinya dilanggar karena ia meyakini bahwa semua itu
telah ditakdirkan Allah, maka mungkin benar ia memiliki niat yang baik ketika
memaafkan pelanggaran terhadap hak Allah.
Namun, apabila ia sangat marah
ketika hak pribadinya dilanggar, tetapi bersikap lunak ketika hukum-hukum Allah
dilanggar, maka sesungguhnya ia adalah orang yang melakukan mudahanah dan telah
tertipu oleh salah satu tipu daya setan.
Karena itu, hendaklah ia
berhati-hati terhadap keadaan tersebut.
Penjelasan
Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa
perbedaan metode para ulama salaf bukanlah pertentangan dalam prinsip,
melainkan perbedaan dalam memilih cara yang paling bermanfaat.
Semua sepakat bahwa kezaliman,
penyimpangan yang menyesatkan, dan kemaksiatan yang merugikan masyarakat harus
dihadapi dengan tegas.
Adapun terhadap pelaku dosa yang
dampaknya hanya mengenai dirinya sendiri, terdapat ruang ijtihad. Ada yang
lebih mengutamakan kasih sayang agar pelaku dosa mau bertaubat, sementara yang
lain memilih menjauh sebagai bentuk pendidikan dan penegasan sikap.
Yang paling penting adalah menjaga
keikhlasan dan menghindari motivasi duniawi.
Artikel Pengembangan
Perbedaan Pendekatan Bukan Berarti Perbedaan Akidah
Imam Ahmad bin Hanbal dikenal sangat
tegas dalam menjaga kemurnian ajaran Islam. Beliau memilih menjauhi sebagian
tokoh karena khawatir ucapan atau tulisan mereka membuka pintu kesalahpahaman
di tengah masyarakat.
Sementara itu, ulama lain terkadang
memilih berdialog atau menulis bantahan dengan pendekatan yang berbeda.
Perbedaan ini menunjukkan keluasan
metode dakwah dalam Islam, selama tujuannya tetap menjaga agama.
Bahaya Mudahanah
Imam Al-Ghazali membedakan antara mudarah
dan mudahanah.
Mudarah adalah kelembutan yang dibenarkan syariat untuk menarik
hati manusia menuju kebaikan.
Adapun mudahanah adalah
mengorbankan prinsip agama demi memperoleh keuntungan, menjaga popularitas,
atau menghindari penolakan.
Inilah yang diperingatkan keras oleh
Imam Al-Ghazali.
Ujian Keikhlasan
Salah satu ukuran keikhlasan adalah
bagaimana seseorang bereaksi terhadap pelanggaran.
Jika ia mudah marah ketika
kepentingan pribadinya diganggu, tetapi diam ketika hukum Allah dilanggar,
berarti ada yang perlu diperbaiki dalam niatnya.
Sebaliknya, orang yang mampu
memaafkan penghinaan terhadap dirinya, tetapi tetap menjaga kehormatan agama
dengan penuh hikmah, menunjukkan kedewasaan iman.
Kasih Sayang yang Benar
Islam tidak melarang bersikap lembut
kepada pelaku dosa.
Namun, kasih sayang yang benar
selalu bertujuan mengajak kepada taubat, bukan membiarkan kemaksiatan terus
berlangsung.
Kasih sayang yang menghapus batas
antara yang benar dan yang salah justru menjadi jalan masuk tipu daya setan.
Penjelasan
Melalui pembahasan ini, Imam
Al-Ghazali mengajak setiap muslim untuk selalu memeriksa niat sebelum bersikap.
Ketegasan tidak boleh lahir dari kebencian pribadi, sedangkan kelembutan tidak
boleh berubah menjadi kompromi terhadap kemaksiatan. Keseimbangan antara kasih
sayang, ketegasan, dan keikhlasan merupakan inti akhlak yang diajarkan para
ulama salaf.
Contoh
Seorang guru tetap menyayangi murid
yang melakukan pelanggaran disiplin. Ia tidak mempermalukannya di depan umum,
tetapi tetap memberikan sanksi yang mendidik agar murid tersebut menyadari
kesalahannya. Sikap ini merupakan contoh kasih sayang yang tidak menghilangkan
ketegasan.
Contoh lain, seseorang berani
membela kehormatan dirinya ketika dihina, tetapi memilih diam saat melihat
praktik korupsi atau penipuan karena takut kehilangan hubungan dengan
pelakunya. Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa sikap seperti ini perlu
diwaspadai agar tidak berubah menjadi mudahanah yang mengabaikan nilai-nilai
agama.
Kesimpulan
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa
para ulama salaf berbeda dalam metode menyikapi pelaku maksiat yang dosanya
terbatas pada dirinya sendiri. Namun, mereka sepakat bersikap tegas terhadap
kezaliman dan kemaksiatan yang merugikan orang lain. Yang terpenting bukan
sekadar memilih sikap keras atau lembut, melainkan memastikan bahwa semuanya
dilakukan dengan niat yang ikhlas karena Allah, bukan demi kepentingan pribadi
atau tekanan lingkungan.
Hikmah
- Para ulama salaf memiliki metode berbeda dalam
berdakwah, tetapi tujuan mereka sama, yaitu menjaga agama.
- Kezaliman dan kemaksiatan yang merugikan orang lain
harus dihadapi dengan tegas.
- Kasih sayang kepada pelaku dosa tidak boleh berubah
menjadi pembenaran terhadap kemaksiatan.
- Mudahanah merupakan bahaya yang dapat merusak
keikhlasan dalam beragama.
- Seorang mukmin hendaknya lebih mudah memaafkan
kesalahan terhadap dirinya daripada meremehkan pelanggaran terhadap
syariat.
- Ketegasan dan kelembutan harus sama-sama dilandasi
hikmah.
- Introspeksi niat merupakan kunci dalam setiap bentuk
amar makruf nahi mungkar.
Penutup
Nasihat Imam Al-Ghazali ini
mengajarkan bahwa akhlak seorang muslim harus selalu berada di antara kasih
sayang dan ketegasan. Keduanya bukanlah sikap yang saling bertentangan,
melainkan saling melengkapi ketika diarahkan oleh ilmu dan keikhlasan. Dengan
menjaga hati dari mudahanah, menegakkan keadilan tanpa kehilangan belas kasih,
serta selalu mengutamakan ridha Allah di atas kepentingan pribadi, seorang
mukmin akan mampu menjalankan amar makruf nahi mungkar dengan cara yang
bijaksana dan penuh hikmah.
Baca Juga :
Apakah Wajib
Memboikot Pelaku Maksiat? Penjelasan Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin (02/05/40)
Pendahuluan
Bagaimana seharusnya seorang muslim
bersikap terhadap pelaku maksiat? Apakah selalu harus dijauhi, atau justru
dirangkul dengan penuh kasih sayang?
Pertanyaan ini telah dibahas secara
mendalam oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin. Beliau menjelaskan
bahwa para ulama salaf memiliki perbedaan cara dalam menyikapi pelaku dosa yang
hanya merugikan dirinya sendiri. Namun, mereka sepakat untuk bersikap tegas
terhadap kezaliman, bid'ah yang menyesatkan, dan kemaksiatan yang membawa
mudarat kepada orang lain.
Melalui pembahasan ini, Imam
Al-Ghazali juga mengingatkan agar seorang muslim mampu membedakan antara kasih
sayang yang lahir dari keikhlasan dengan sikap lunak yang sebenarnya merupakan mudahanah,
yaitu mengorbankan prinsip agama demi menjaga kepentingan dunia.
Sumber
Kitab: Ihya' 'Ulumuddin (إحياء
علوم الدين)
Pengarang : Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali (450–505 H),
bergelar Hujjatul Islam, ulama besar dalam bidang fikih, tasawuf,
akhlak, dan pendidikan jiwa.
Tema : Perbedaan sikap ulama salaf terhadap pelaku maksiat, bahaya
mudahanah, dan pentingnya keikhlasan dalam mencintai serta membenci karena
Allah.
Teks Arab
وطرق السلف قد اختلفت في إظهار
البغض مع أهل المعاصي وكلهم اتفقوا على
إظهار البغض للظلمة والمبتدعة وكل من عصى الله
بمعصية متعدية منه إلى غيره ، فأما من عصى الله في نفسه ، فمنهم من نظر
بعين الرحمة إلى العصاة كلهم ومنهم من شدد الإنكار واختار المهاجرة .
فقد كان أحمد بن حنبل يهجر الأكابر
في أدنى كلمة حتى هجر يحيى بن معين لقوله : إني لا أسأل أحدا شيئا ولو حمل السلطان
إلي شيئا لأخذته .
وهجر الحارث المحاسبي في تصنيفه في
الرد على المعتزلة ، وقال : إنك لا بد تورد أولا شبهتهم وتحمل الناس على التفكر
فيها ثم ترد عليهم وهجر أبا ثور في تأويله قوله صلى الله عليه وسلم : " إن
الله خلق آدم على صورته .
" وهذا أمر يختلف باختلاف
النية وتختلف النية باختلاف الحال ، فإن كان الغالب على القلب النظر إلى اضطرار
الخلق وعجزهم وأنهم مسخرون لما قدروا له أورث هذا تساهلا في المعاداة والبغض وله
وجه ولكن قد تلتبس به المداهنة فأكثر البواعث على الإغضاء عن المعاصي المداهنة
ومراعاة القلوب والخوف من وحشتها ونفارها وقد يلبس الشيطان ذلك على الغبي الأحمق
بأنه ينظر بعين الرحمة ومحك ذلك أن ينظر إليه بعين الرحمة إن جنى على خاص حقه ،
ويقول إنه قد سخر له والقدر لا ينفع منه الحذر وكيف لا يفعله وقد كتب عليه فمثل
هذا قد تصح له نية في الإغماض عن الجناية على حق الله وإن كان يغتاظ عند الجناية
على حقه ويترحم عند الجناية على حق الله فهذا مداهن مغرور بمكيدة من مكايد الشيطان
فليتنبه له .
Terjemahan Lengkap
Jalan yang ditempuh para ulama salaf
dalam menampakkan kebencian kepada pelaku maksiat berbeda-beda.
Namun, mereka semua sepakat untuk
menunjukkan kebencian kepada para penguasa yang zalim, para pelaku bid'ah, dan
setiap orang yang bermaksiat kepada Allah dengan kemaksiatan yang dampaknya
merugikan orang lain.
Adapun orang yang bermaksiat hanya
terhadap dirinya sendiri, maka di antara para ulama ada yang memandang seluruh
pelaku maksiat dengan mata kasih sayang.
Sebagian yang lain memilih bersikap
tegas, mengingkari, bahkan menjauhi mereka.
Imam Ahmad bin Hanbal pernah memutus
hubungan dengan beberapa tokoh hanya karena satu ucapan.
Beliau pernah menjauhi Yahya bin
Ma'in karena ucapannya:
"Aku tidak pernah meminta
sesuatu kepada siapa pun. Namun, jika penguasa memberiku sesuatu, tentu aku
akan menerimanya."
Beliau juga menjauhi Al-Harits
Al-Muhasibi karena menulis bantahan terhadap kelompok Mu'tazilah.
Imam Ahmad berkata:
"Engkau pasti harus terlebih
dahulu menyebutkan syubhat mereka sehingga membuat manusia memikirkannya, baru
kemudian membantahnya."
Beliau juga menjauhi Abu Tsaur
karena menafsirkan sabda Nabi ﷺ:
"Sesungguhnya Allah menciptakan
Adam menurut bentuk-Nya."
Semua itu berbeda-beda sesuai dengan
niat, sedangkan niat sendiri berubah sesuai dengan keadaan.
Apabila yang lebih dominan dalam
hati seseorang adalah memandang bahwa manusia terpaksa, lemah, dan berada di
bawah ketentuan Allah, maka hal itu dapat membuatnya lebih lunak dalam memusuhi
dan membenci pelaku maksiat.
Sikap seperti ini memiliki sisi
kebaikan.
Akan tetapi, sikap tersebut dapat
bercampur dengan mudahanah.
Sesungguhnya penyebab terbesar seseorang
mengabaikan kemaksiatan adalah mudahanah, menjaga perasaan manusia, takut
mereka menjauh, atau takut kehilangan kedekatan dengan mereka.
Setan sering memperdaya orang yang
bodoh dengan membisikkan bahwa ia sedang memandang pelaku maksiat dengan penuh
kasih sayang.
Ukuran untuk membedakannya adalah
sebagai berikut.
Apabila seseorang mampu bersikap
penuh kasih ketika hak pribadinya dilanggar karena ia meyakini bahwa semua itu
telah ditakdirkan Allah, maka mungkin benar ia memiliki niat yang baik ketika
memaafkan pelanggaran terhadap hak Allah.
Namun, apabila ia sangat marah
ketika hak pribadinya dilanggar, tetapi bersikap lunak ketika hukum-hukum Allah
dilanggar, maka sesungguhnya ia adalah orang yang melakukan mudahanah dan telah
tertipu oleh salah satu tipu daya setan.
Karena itu, hendaklah ia
berhati-hati terhadap keadaan tersebut.
Penjelasan
Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa
perbedaan metode para ulama salaf bukanlah pertentangan dalam prinsip,
melainkan perbedaan dalam memilih cara yang paling bermanfaat.
Semua sepakat bahwa kezaliman,
penyimpangan yang menyesatkan, dan kemaksiatan yang merugikan masyarakat harus
dihadapi dengan tegas.
Adapun terhadap pelaku dosa yang
dampaknya hanya mengenai dirinya sendiri, terdapat ruang ijtihad. Ada yang
lebih mengutamakan kasih sayang agar pelaku dosa mau bertaubat, sementara yang
lain memilih menjauh sebagai bentuk pendidikan dan penegasan sikap.
Yang paling penting adalah menjaga
keikhlasan dan menghindari motivasi duniawi.
Artikel Pengembangan
Perbedaan Pendekatan Bukan Berarti Perbedaan Akidah
Imam Ahmad bin Hanbal dikenal sangat
tegas dalam menjaga kemurnian ajaran Islam. Beliau memilih menjauhi sebagian
tokoh karena khawatir ucapan atau tulisan mereka membuka pintu kesalahpahaman
di tengah masyarakat.
Sementara itu, ulama lain terkadang
memilih berdialog atau menulis bantahan dengan pendekatan yang berbeda.
Perbedaan ini menunjukkan keluasan
metode dakwah dalam Islam, selama tujuannya tetap menjaga agama.
Bahaya Mudahanah
Imam Al-Ghazali membedakan antara mudarah
dan mudahanah.
Mudarah adalah kelembutan yang dibenarkan syariat untuk menarik
hati manusia menuju kebaikan.
Adapun mudahanah adalah
mengorbankan prinsip agama demi memperoleh keuntungan, menjaga popularitas,
atau menghindari penolakan.
Inilah yang diperingatkan keras oleh
Imam Al-Ghazali.
Ujian Keikhlasan
Salah satu ukuran keikhlasan adalah
bagaimana seseorang bereaksi terhadap pelanggaran.
Jika ia mudah marah ketika
kepentingan pribadinya diganggu, tetapi diam ketika hukum Allah dilanggar,
berarti ada yang perlu diperbaiki dalam niatnya.
Sebaliknya, orang yang mampu
memaafkan penghinaan terhadap dirinya, tetapi tetap menjaga kehormatan agama
dengan penuh hikmah, menunjukkan kedewasaan iman.
Kasih Sayang yang Benar
Islam tidak melarang bersikap lembut
kepada pelaku dosa.
Namun, kasih sayang yang benar
selalu bertujuan mengajak kepada taubat, bukan membiarkan kemaksiatan terus
berlangsung.
Kasih sayang yang menghapus batas
antara yang benar dan yang salah justru menjadi jalan masuk tipu daya setan.
Penjelasan
Melalui pembahasan ini, Imam
Al-Ghazali mengajak setiap muslim untuk selalu memeriksa niat sebelum bersikap.
Ketegasan tidak boleh lahir dari kebencian pribadi, sedangkan kelembutan tidak
boleh berubah menjadi kompromi terhadap kemaksiatan. Keseimbangan antara kasih
sayang, ketegasan, dan keikhlasan merupakan inti akhlak yang diajarkan para
ulama salaf.
Contoh
Seorang guru tetap menyayangi murid
yang melakukan pelanggaran disiplin. Ia tidak mempermalukannya di depan umum,
tetapi tetap memberikan sanksi yang mendidik agar murid tersebut menyadari
kesalahannya. Sikap ini merupakan contoh kasih sayang yang tidak menghilangkan
ketegasan.
Contoh lain, seseorang berani
membela kehormatan dirinya ketika dihina, tetapi memilih diam saat melihat
praktik korupsi atau penipuan karena takut kehilangan hubungan dengan
pelakunya. Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa sikap seperti ini perlu
diwaspadai agar tidak berubah menjadi mudahanah yang mengabaikan nilai-nilai
agama.
Kesimpulan
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa
para ulama salaf berbeda dalam metode menyikapi pelaku maksiat yang dosanya
terbatas pada dirinya sendiri. Namun, mereka sepakat bersikap tegas terhadap
kezaliman dan kemaksiatan yang merugikan orang lain. Yang terpenting bukan
sekadar memilih sikap keras atau lembut, melainkan memastikan bahwa semuanya
dilakukan dengan niat yang ikhlas karena Allah, bukan demi kepentingan pribadi
atau tekanan lingkungan.
Hikmah
- Para ulama salaf memiliki metode berbeda dalam
berdakwah, tetapi tujuan mereka sama, yaitu menjaga agama.
- Kezaliman dan kemaksiatan yang merugikan orang lain
harus dihadapi dengan tegas.
- Kasih sayang kepada pelaku dosa tidak boleh berubah
menjadi pembenaran terhadap kemaksiatan.
- Mudahanah merupakan bahaya yang dapat merusak
keikhlasan dalam beragama.
- Seorang mukmin hendaknya lebih mudah memaafkan
kesalahan terhadap dirinya daripada meremehkan pelanggaran terhadap
syariat.
- Ketegasan dan kelembutan harus sama-sama dilandasi
hikmah.
- Introspeksi niat merupakan kunci dalam setiap bentuk
amar makruf nahi mungkar.
Penutup
Nasihat Imam Al-Ghazali ini
mengajarkan bahwa akhlak seorang muslim harus selalu berada di antara kasih
sayang dan ketegasan. Keduanya bukanlah sikap yang saling bertentangan,
melainkan saling melengkapi ketika diarahkan oleh ilmu dan keikhlasan. Dengan
menjaga hati dari mudahanah, menegakkan keadilan tanpa kehilangan belas kasih,
serta selalu mengutamakan ridha Allah di atas kepentingan pribadi, seorang
mukmin akan mampu menjalankan amar makruf nahi mungkar dengan cara yang
bijaksana dan penuh hikmah.
Baca Juga :
Apakah Wajib
Memboikot Pelaku Maksiat? Penjelasan Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin (02/05/40)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar