Pendahuluan
Setelah menyelesaikan pembahasan
mengenai klasifikasi tujuh puluh tiga golongan, Imam Abu al-Muzaffar
al-Isfarayini memulai bab ketiga yang secara khusus membahas kelompok Rafidhah.
Pada bagian awal bab ini, beliau menjelaskan bahwa Rafidhah terbagi menjadi
tiga kelompok besar, yaitu Zaidiyah, Imamiyah, dan Kaisaniyah.
Pembahasan pertama diawali dengan Zaidiyah,
yang menurut Imam Al-Isfarayini terbagi menjadi tiga cabang, yaitu Jarudiyah,
Sulaimaniyah, dan Abtariyah. Bagian ini menguraikan pandangan
kelompok Jarudiyah mengenai imamah, sikap mereka terhadap para sahabat, serta
keyakinan sebagian pengikutnya tentang tokoh yang mereka yakini sebagai Imam
Mahdi.
Sumber
Kitab:
At-Tabṣīr fī ad-Dīn wa Tamyīz
al-Firqah an-Nājiyah 'an al-Firaq al-Hālikīn
(التبصير في الدين وتمييز الفرقة الناجية عن الفرق
الهالكين)
Penulis:
Imam Abu al-Muzaffar Thahir bin
Muhammad al-Isfarayini (wafat 471 H)
Tentang Penulis
Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini
merupakan ulama besar mazhab Syafi'i abad ke-5 Hijriah yang dikenal sebagai
pakar akidah dan ilmu firqah. Dalam kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn, beliau
menguraikan sejarah serta keyakinan berbagai kelompok dalam Islam berdasarkan
perspektif Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Tema
Kelompok Jarudiyah dalam Zaidiyah:
Pandangan tentang Imamah dan Imam yang Dinantikan
Terjemahan Lengkap
Bab
Ketiga: Penjelasan Rinci Mengenai Ajaran Rafidhah dan Kritik terhadap Mereka
Ketahuilah bahwa kelompok Rafidhah
terbagi menjadi tiga kelompok besar, yaitu:
- Zaidiyah.
- Imamiyah.
- Kaisaniyah.
Zaidiyah
Adapun kelompok Zaidiyah,
maka mereka terbagi menjadi tiga golongan:
- Jarudiyah.
- Sulaimaniyah.
- Abtariyah.
Jarudiyah
Adapun Jarudiyah adalah para
pengikut Abu al-Jarud.
Menurut keyakinannya, Nabi Muhammad ﷺ telah menetapkan kepemimpinan (imamah) Ali
melalui penyifatan (isyarat sifat), bukan dengan penyebutan nama secara
langsung.
Ia juga berpendapat bahwa seluruh
sahabat telah kafir karena meninggalkan baiat kepada Ali dan menyelisihi
penunjukan tersebut.
Menurutnya pula, imam setelah Ali
adalah Hasan bin Ali, kemudian Husain bin Ali. Setelah keduanya,
jabatan imam ditentukan melalui musyawarah di kalangan keturunan Hasan dan
Husain. Siapa saja dari keturunan mereka yang bangkit mengangkat pedang,
menyeru kepada agamanya, serta memiliki ilmu dan sifat wara', maka dialah imam.
Sebagian pengikut Jarudiyah
beranggapan bahwa imam yang dinantikan adalah Muhammad bin Abdullah bin
Hasan bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Mereka mengatakan bahwa beliau tidak
meninggal dunia dan tidak pula terbunuh.
Sebagian yang lain berpendapat bahwa
imam yang dinantikan adalah Muhammad bin al-Qasim, tokoh dari Thaliqan.
Mereka juga meyakini bahwa ia tidak meninggal dan tidak terbunuh.
Kelompok lainnya lagi beranggapan
bahwa imam yang dinantikan adalah Yahya bin Umar, yang terbunuh di
Kufah. Mereka tidak mempercayai bahwa ia benar-benar telah terbunuh.
Artikel Pengembangan
Pada awal pembahasan tentang
Rafidhah, Imam Al-Isfarayini membagi kelompok ini menjadi tiga rumpun besar,
yaitu Zaidiyah, Imamiyah, dan Kaisaniyah. Pembagian ini
merupakan salah satu klasifikasi yang banyak ditemukan dalam literatur ilmu
firqah klasik Ahlus Sunnah.
Kelompok pertama yang dibahas adalah
Jarudiyah, salah satu cabang Zaidiyah yang dinisbatkan kepada Abu
al-Jarud Ziyad bin al-Mundzir. Menurut uraian Imam Al-Isfarayini, ciri
utama kelompok ini adalah keyakinan bahwa Nabi Muhammad ﷺ telah memberikan petunjuk mengenai kepemimpinan Ali melalui
sifat-sifat tertentu, bukan dengan penyebutan nama secara eksplisit.
Berdasarkan pandangan tersebut, mereka menilai para sahabat yang tidak membaiat
Ali segera setelah wafatnya Nabi telah melakukan kesalahan besar. Penilaian ini
merupakan bagian dari pandangan yang dikritik oleh penulis dalam kerangka
teologi Ahlus Sunnah.
Imam Al-Isfarayini juga menjelaskan
konsep imamah menurut Jarudiyah. Setelah Ali, kepemimpinan menurut mereka
berpindah kepada Hasan, kemudian Husain. Sesudah itu, imam tidak harus
ditentukan melalui penunjukan khusus, melainkan dapat berasal dari keturunan
Hasan atau Husain yang memenuhi syarat, seperti berilmu, bertakwa, serta berani
bangkit memperjuangkan kepemimpinannya.
Bagian berikutnya membahas keyakinan
sebagian pengikut Jarudiyah mengenai imam yang dinantikan (al-imam
al-muntazhar). Imam Al-Isfarayini menyebut adanya beberapa pendapat di
antara mereka. Ada yang meyakini bahwa tokoh tersebut adalah Muhammad bin
Abdullah an-Nafs az-Zakiyyah, ada yang meyakini Muhammad bin al-Qasim,
dan ada pula yang meyakini Yahya bin Umar. Menurut penulis,
masing-masing kelompok beranggapan bahwa tokoh yang mereka yakini belum wafat
atau belum benar-benar terbunuh dan kelak akan kembali.
Dari sisi sejarah pemikiran Islam,
uraian ini menunjukkan bahwa bahkan dalam satu kelompok besar seperti Zaidiyah
terdapat perbedaan pandangan mengenai konsep kepemimpinan dan figur yang
dianggap sebagai imam yang akan datang. Hal ini menggambarkan kompleksitas
perkembangan pemikiran politik dan teologi pada masa-masa awal Islam.
Perlu dipahami bahwa seluruh uraian
pada bagian ini disampaikan oleh Imam Al-Isfarayini dari perspektif Ahlus
Sunnah wal Jamaah. Oleh karena itu, pembaca perlu membedakan antara penyampaian
pandangan suatu kelompok sebagaimana dikutip dalam literatur klasik dengan
penilaian akademik yang lebih luas terhadap sejarah perkembangan berbagai
mazhab dalam Islam.
Hikmah
- Sejarah Islam memperlihatkan bahwa persoalan
kepemimpinan menjadi salah satu sebab munculnya berbagai aliran pemikiran.
- Mengenal sejarah berbagai kelompok membantu memahami
perkembangan ilmu kalam dan sejarah politik Islam.
- Perbedaan keyakinan tentang imamah melahirkan beragam
cabang dalam satu kelompok yang sama.
- Membaca kitab-kitab klasik perlu disertai pemahaman
terhadap konteks sejarah, tujuan penulisan, dan sudut pandang penulis.
- Kajian sejarah hendaknya menjadi sarana memperluas
wawasan serta memperkuat sikap ilmiah dan adil dalam memahami perbedaan.
Penutup
Pada bagian awal Bab Ketiga ini,
Imam Al-Isfarayini memulai pembahasan mengenai Rafidhah dengan menguraikan
kelompok Jarudiyah sebagai salah satu cabang Zaidiyah. Beliau menjelaskan
pandangan mereka mengenai imamah, sikap terhadap para sahabat, serta keyakinan
sebagian pengikutnya tentang imam yang dinantikan. Pembahasan ini menjadi
landasan untuk memahami cabang-cabang Zaidiyah lainnya sebelum kitab
melanjutkan uraian mengenai Imamiyah dan Kaisaniyah pada bagian-bagian
berikutnya.
Teks Arab :
الْبَاب الثَّالِث فِي تَفْصِيل مقالات الروافض وَبَيَان
فضائحهم
أعلم أَن الروافض يجمعهُمْ ثَلَاث فرق الزيدية والإمامية
والكيسانية الزيدية
فَأَما الزيدية مِنْهُم فَثَلَاث فرق الجارودية
والسليمانية والأبترية
الجارودية
فَأَما الجارودية فهم أَتبَاع أبي الْجَارُود وَكَانَ
مذْهبه أَن النَّبِي ﷺ نَص على
إِمَامه عَليّ بِالصّفةِ لَا بالإسم وَكَانَ من مذْهبه
أَن الصَّحَابَة كفرُوا كلهم بتركهم بيعَة عَليّ ومخالفتهم النَّص الْوَارِد
عَلَيْهِ وَكَانَ يَقُول إِن الإِمَام بعده الْحسن بن عَليّ ثمَّ بعده الْحُسَيْن
بن عَليّ وَيكون بعدهمَا الْإِمَامَة شُورَى فِي أولادهما فَمن خرج من أَولا دهما
شاهرا سَيْفه دَاعيا إِلَى دينه وَكَانَ عَالما ورعا فَهُوَ الإِمَام
وَزعم قوم من الجارودية أَن الإِمَام المنتظر مُحَمَّد
بن عبد الله بن الْحسن بن الْحسن بن عَليّ بن أبي طَالب وَيَقُولُونَ أَنه لم يمت
وَلم يقتل
وَزعم قوم مِنْهُم أَن المنتظر مُحَمَّد بن الْقَاسِم
صَاحب الطالقان وَأَنه لم يمت وَلم يقتل
وَزعم قوم مِنْهُم أَن المنتظر يحيى بن عمر الَّذِي قتل
بِالْكُوفَةِ وهم لَا يصدقون بقتْله
Baca juga:
Kelompok Sulaimaniyah dalam Zaidiyah Menurut Imam
Al-Isfarayini: Pandangan tentang Imamah dan Sikap terhadap Para Sahabat
Pendahuluan
Setelah menyelesaikan pembahasan
mengenai klasifikasi tujuh puluh tiga golongan, Imam Abu al-Muzaffar
al-Isfarayini memulai bab ketiga yang secara khusus membahas kelompok Rafidhah.
Pada bagian awal bab ini, beliau menjelaskan bahwa Rafidhah terbagi menjadi
tiga kelompok besar, yaitu Zaidiyah, Imamiyah, dan Kaisaniyah.
Pembahasan pertama diawali dengan Zaidiyah,
yang menurut Imam Al-Isfarayini terbagi menjadi tiga cabang, yaitu Jarudiyah,
Sulaimaniyah, dan Abtariyah. Bagian ini menguraikan pandangan
kelompok Jarudiyah mengenai imamah, sikap mereka terhadap para sahabat, serta
keyakinan sebagian pengikutnya tentang tokoh yang mereka yakini sebagai Imam
Mahdi.
Sumber
Kitab:
At-Tabṣīr fī ad-Dīn wa Tamyīz
al-Firqah an-Nājiyah 'an al-Firaq al-Hālikīn
(التبصير في الدين وتمييز الفرقة الناجية عن الفرق
الهالكين)
Penulis:
Imam Abu al-Muzaffar Thahir bin
Muhammad al-Isfarayini (wafat 471 H)
Tentang Penulis
Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini
merupakan ulama besar mazhab Syafi'i abad ke-5 Hijriah yang dikenal sebagai
pakar akidah dan ilmu firqah. Dalam kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn, beliau
menguraikan sejarah serta keyakinan berbagai kelompok dalam Islam berdasarkan
perspektif Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Tema
Kelompok Jarudiyah dalam Zaidiyah:
Pandangan tentang Imamah dan Imam yang Dinantikan
Terjemahan Lengkap
Bab
Ketiga: Penjelasan Rinci Mengenai Ajaran Rafidhah dan Kritik terhadap Mereka
Ketahuilah bahwa kelompok Rafidhah
terbagi menjadi tiga kelompok besar, yaitu:
- Zaidiyah.
- Imamiyah.
- Kaisaniyah.
Zaidiyah
Adapun kelompok Zaidiyah,
maka mereka terbagi menjadi tiga golongan:
- Jarudiyah.
- Sulaimaniyah.
- Abtariyah.
Jarudiyah
Adapun Jarudiyah adalah para
pengikut Abu al-Jarud.
Menurut keyakinannya, Nabi Muhammad ﷺ telah menetapkan kepemimpinan (imamah) Ali
melalui penyifatan (isyarat sifat), bukan dengan penyebutan nama secara
langsung.
Ia juga berpendapat bahwa seluruh
sahabat telah kafir karena meninggalkan baiat kepada Ali dan menyelisihi
penunjukan tersebut.
Menurutnya pula, imam setelah Ali
adalah Hasan bin Ali, kemudian Husain bin Ali. Setelah keduanya,
jabatan imam ditentukan melalui musyawarah di kalangan keturunan Hasan dan
Husain. Siapa saja dari keturunan mereka yang bangkit mengangkat pedang,
menyeru kepada agamanya, serta memiliki ilmu dan sifat wara', maka dialah imam.
Sebagian pengikut Jarudiyah
beranggapan bahwa imam yang dinantikan adalah Muhammad bin Abdullah bin
Hasan bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Mereka mengatakan bahwa beliau tidak
meninggal dunia dan tidak pula terbunuh.
Sebagian yang lain berpendapat bahwa
imam yang dinantikan adalah Muhammad bin al-Qasim, tokoh dari Thaliqan.
Mereka juga meyakini bahwa ia tidak meninggal dan tidak terbunuh.
Kelompok lainnya lagi beranggapan
bahwa imam yang dinantikan adalah Yahya bin Umar, yang terbunuh di
Kufah. Mereka tidak mempercayai bahwa ia benar-benar telah terbunuh.
Artikel Pengembangan
Pada awal pembahasan tentang
Rafidhah, Imam Al-Isfarayini membagi kelompok ini menjadi tiga rumpun besar,
yaitu Zaidiyah, Imamiyah, dan Kaisaniyah. Pembagian ini
merupakan salah satu klasifikasi yang banyak ditemukan dalam literatur ilmu
firqah klasik Ahlus Sunnah.
Kelompok pertama yang dibahas adalah
Jarudiyah, salah satu cabang Zaidiyah yang dinisbatkan kepada Abu
al-Jarud Ziyad bin al-Mundzir. Menurut uraian Imam Al-Isfarayini, ciri
utama kelompok ini adalah keyakinan bahwa Nabi Muhammad ﷺ telah memberikan petunjuk mengenai kepemimpinan Ali melalui
sifat-sifat tertentu, bukan dengan penyebutan nama secara eksplisit.
Berdasarkan pandangan tersebut, mereka menilai para sahabat yang tidak membaiat
Ali segera setelah wafatnya Nabi telah melakukan kesalahan besar. Penilaian ini
merupakan bagian dari pandangan yang dikritik oleh penulis dalam kerangka
teologi Ahlus Sunnah.
Imam Al-Isfarayini juga menjelaskan
konsep imamah menurut Jarudiyah. Setelah Ali, kepemimpinan menurut mereka
berpindah kepada Hasan, kemudian Husain. Sesudah itu, imam tidak harus
ditentukan melalui penunjukan khusus, melainkan dapat berasal dari keturunan
Hasan atau Husain yang memenuhi syarat, seperti berilmu, bertakwa, serta berani
bangkit memperjuangkan kepemimpinannya.
Bagian berikutnya membahas keyakinan
sebagian pengikut Jarudiyah mengenai imam yang dinantikan (al-imam
al-muntazhar). Imam Al-Isfarayini menyebut adanya beberapa pendapat di
antara mereka. Ada yang meyakini bahwa tokoh tersebut adalah Muhammad bin
Abdullah an-Nafs az-Zakiyyah, ada yang meyakini Muhammad bin al-Qasim,
dan ada pula yang meyakini Yahya bin Umar. Menurut penulis,
masing-masing kelompok beranggapan bahwa tokoh yang mereka yakini belum wafat
atau belum benar-benar terbunuh dan kelak akan kembali.
Dari sisi sejarah pemikiran Islam,
uraian ini menunjukkan bahwa bahkan dalam satu kelompok besar seperti Zaidiyah
terdapat perbedaan pandangan mengenai konsep kepemimpinan dan figur yang
dianggap sebagai imam yang akan datang. Hal ini menggambarkan kompleksitas
perkembangan pemikiran politik dan teologi pada masa-masa awal Islam.
Perlu dipahami bahwa seluruh uraian
pada bagian ini disampaikan oleh Imam Al-Isfarayini dari perspektif Ahlus
Sunnah wal Jamaah. Oleh karena itu, pembaca perlu membedakan antara penyampaian
pandangan suatu kelompok sebagaimana dikutip dalam literatur klasik dengan
penilaian akademik yang lebih luas terhadap sejarah perkembangan berbagai
mazhab dalam Islam.
Hikmah
- Sejarah Islam memperlihatkan bahwa persoalan
kepemimpinan menjadi salah satu sebab munculnya berbagai aliran pemikiran.
- Mengenal sejarah berbagai kelompok membantu memahami
perkembangan ilmu kalam dan sejarah politik Islam.
- Perbedaan keyakinan tentang imamah melahirkan beragam
cabang dalam satu kelompok yang sama.
- Membaca kitab-kitab klasik perlu disertai pemahaman
terhadap konteks sejarah, tujuan penulisan, dan sudut pandang penulis.
- Kajian sejarah hendaknya menjadi sarana memperluas
wawasan serta memperkuat sikap ilmiah dan adil dalam memahami perbedaan.
Penutup
Pada bagian awal Bab Ketiga ini,
Imam Al-Isfarayini memulai pembahasan mengenai Rafidhah dengan menguraikan
kelompok Jarudiyah sebagai salah satu cabang Zaidiyah. Beliau menjelaskan
pandangan mereka mengenai imamah, sikap terhadap para sahabat, serta keyakinan
sebagian pengikutnya tentang imam yang dinantikan. Pembahasan ini menjadi
landasan untuk memahami cabang-cabang Zaidiyah lainnya sebelum kitab
melanjutkan uraian mengenai Imamiyah dan Kaisaniyah pada bagian-bagian
berikutnya.
Teks Arab :
الْبَاب الثَّالِث فِي تَفْصِيل مقالات الروافض وَبَيَان
فضائحهم
أعلم أَن الروافض يجمعهُمْ ثَلَاث فرق الزيدية والإمامية
والكيسانية الزيدية
فَأَما الزيدية مِنْهُم فَثَلَاث فرق الجارودية
والسليمانية والأبترية
الجارودية
فَأَما الجارودية فهم أَتبَاع أبي الْجَارُود وَكَانَ
مذْهبه أَن النَّبِي ﷺ نَص على
إِمَامه عَليّ بِالصّفةِ لَا بالإسم وَكَانَ من مذْهبه
أَن الصَّحَابَة كفرُوا كلهم بتركهم بيعَة عَليّ ومخالفتهم النَّص الْوَارِد
عَلَيْهِ وَكَانَ يَقُول إِن الإِمَام بعده الْحسن بن عَليّ ثمَّ بعده الْحُسَيْن
بن عَليّ وَيكون بعدهمَا الْإِمَامَة شُورَى فِي أولادهما فَمن خرج من أَولا دهما
شاهرا سَيْفه دَاعيا إِلَى دينه وَكَانَ عَالما ورعا فَهُوَ الإِمَام
وَزعم قوم من الجارودية أَن الإِمَام المنتظر مُحَمَّد
بن عبد الله بن الْحسن بن الْحسن بن عَليّ بن أبي طَالب وَيَقُولُونَ أَنه لم يمت
وَلم يقتل
وَزعم قوم مِنْهُم أَن المنتظر مُحَمَّد بن الْقَاسِم
صَاحب الطالقان وَأَنه لم يمت وَلم يقتل
وَزعم قوم مِنْهُم أَن المنتظر يحيى بن عمر الَّذِي قتل
بِالْكُوفَةِ وهم لَا يصدقون بقتْله
Baca juga:
Kelompok Sulaimaniyah dalam Zaidiyah Menurut Imam
Al-Isfarayini: Pandangan tentang Imamah dan Sikap terhadap Para Sahabat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar