Pendahuluan
Banyak orang mengira bahwa amal
terbaik hanyalah ibadah yang tampak, seperti salat, puasa, sedekah, dan zakat.
Semua ibadah tersebut memang memiliki kedudukan yang agung. Namun, Imam
Al-Ghazali menjelaskan bahwa ada amalan hati yang menjadi ruh bagi seluruh
ibadah, yaitu mencintai karena Allah dan membenci karena Allah.
Dalam bagian ini, Imam Al-Ghazali
mengutip riwayat tentang dialog Allah dengan Nabi Musa `alaihis salam serta beberapa
atsar dari para sahabat dan ulama salaf. Semua riwayat tersebut mengarah pada
satu pelajaran penting, yaitu bahwa hubungan seorang mukmin dengan sesama
manusia yang didasari keimanan merupakan bagian dari ibadah yang paling utama.
Sumber
Kitab : Ihya' 'Ulumuddin (إحياء
علوم الدين) Juz : 2
Pengarang : Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali (450–505 H), yang
dikenal dengan gelar Hujjatul Islam, ulama besar dalam bidang akhlak,
tasawuf, fikih, dan penyucian jiwa.
Tema : Keutamaan cinta karena Allah, loyalitas kepada orang-orang
saleh, serta hubungan antara amal lahir dan amal hati dalam Islam.
Teks Arab
ويروى أن الله تعالى أوحى إلى موسى عليه السلام هل عملت لي
عملا قط ؟ فقال : إلهي إني صليت لك ، وصمت وتصدقت وزكيت فقال : إن الصلاة لك برهان
، والصوم جنة ، والصدقة ظل والزكاة نور ، فأي عمل عملت لي قال يا موسى ؟ : إلهي
دلني على عمل هو لك ، قال : موسى هل واليت لي وليا قط وهل عاديت في عدوا قط فعلم
موسى أن أفضل الأعمال الحب في الله والبغض في الله .
وقال ابن مسعود رضي الله عنه لو أن رجلا قام بين الركن
والمقام يعبد الله سبعين سنة لبعثه الله يوم القيامة مع من يحب .
وقال الحسن رضي الله عنه مصارمة الفاسق قربان إلى الله وقال
رجل لمحمد بن واسع : إني لأحبك في الله فقال أحبك ما الذي أحببتني له ، ثم حول
وجهه وقال : اللهم أني أعوذ بك أن أحب فيك وأنت لي مبغض .
Terjemahan Lengkap
Diriwayatkan bahwa Allah Ta'ala
mewahyukan kepada Nabi Musa `alaihis salam:
"Apakah engkau pernah melakukan
suatu amal semata-mata untuk-Ku?"
Musa menjawab:
"Wahai Tuhanku, aku telah
melaksanakan salat untuk-Mu, berpuasa, bersedekah, dan menunaikan zakat."
Allah berfirman:
"Salat menjadi bukti
keimananmu, puasa menjadi perisai bagimu, sedekah menjadi naunganmu, dan zakat
menjadi cahaya bagimu. Tetapi, amal apakah yang benar-benar engkau lakukan
khusus untuk-Ku?"
Musa berkata:
"Wahai Tuhanku, tunjukkanlah
kepadaku amal yang benar-benar untuk-Mu."
Allah berfirman:
"Wahai Musa, apakah engkau
pernah mencintai seorang wali-Ku karena Aku? Dan apakah engkau pernah membenci
musuh-Ku karena Aku?"
Maka Nabi Musa memahami bahwa amalan
yang paling utama adalah mencintai karena Allah dan membenci karena Allah.
Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu
'anhu berkata:
"Seandainya seseorang berdiri
beribadah di antara Hajar Aswad dan Maqam Ibrahim selama tujuh puluh tahun,
niscaya pada hari kiamat Allah akan membangkitkannya bersama orang yang ia
cintai."
Al-Hasan al-Bashri berkata:
"Memutus hubungan kedekatan
dengan orang yang terus-menerus berbuat fasik merupakan salah satu bentuk
pendekatan diri kepada Allah."
Seseorang berkata kepada Muhammad
bin Wasi':
"Sesungguhnya aku mencintaimu
karena Allah."
Beliau menjawab:
"Semoga Allah mencintaimu
karena alasan engkau mencintaiku."
Kemudian beliau memalingkan wajahnya
seraya berdoa:
"Ya Allah, aku berlindung
kepada-Mu dari keadaan ketika seseorang mencintaiku karena-Mu, sementara Engkau
justru membenciku."
Penjelasan
Dalam dialog dengan Nabi Musa
`alaihis salam, Allah tidak meremehkan salat, puasa, zakat, maupun sedekah.
Sebaliknya, Allah menjelaskan manfaat masing-masing ibadah tersebut. Namun,
Allah ingin menunjukkan bahwa seluruh ibadah lahir harus disempurnakan dengan
amal hati berupa loyalitas kepada orang-orang yang dicintai Allah serta
kebencian terhadap kekufuran dan kemaksiatan karena Allah.
Imam Al-Ghazali menempatkan riwayat
ini dalam pembahasan ukhuwah karena persaudaraan yang dibangun atas dasar iman
merupakan salah satu bentuk nyata dari cinta kepada Allah.
Artikel Pengembangan
Mengapa Cinta karena Allah Disebut Amalan Terbaik?
Salat, puasa, zakat, dan sedekah
merupakan ibadah yang manfaatnya kembali kepada pelakunya. Namun, cinta karena
Allah melahirkan dampak yang lebih luas.
Ketika seseorang mencintai
orang-orang saleh karena Allah, ia akan:
- terdorong mengikuti akhlak mereka,
- senang menghadiri majelis ilmu,
- gemar membantu sesama,
- menjaga persaudaraan,
- serta menjauhi segala sesuatu yang dibenci Allah.
Dengan demikian, cinta karena Allah
menjadi sumber lahirnya banyak amal saleh lainnya.
Bersama
Orang yang Dicintai
Ucapan Abdullah bin Mas'ud
mengingatkan bahwa kecintaan seseorang akan menentukan siapa yang menjadi teman
seperjalanannya di akhirat.
Namun, sebagaimana telah dijelaskan
oleh para ulama, cinta tersebut harus dibuktikan melalui usaha meneladani orang
yang dicintai. Mengaku mencintai orang saleh tanpa mengikuti jalan hidup mereka
bukanlah cinta yang sempurna.
Makna
Menjauhi Orang Fasik
Perkataan Al-Hasan al-Bashri tidak
berarti memutus seluruh hubungan sosial atau berlaku kasar kepada pelaku
maksiat.
Maksudnya adalah tidak menjadikan
mereka sebagai teman akrab yang dapat memengaruhi agama dan akhlak. Seorang
muslim tetap wajib berlaku adil, santun, dan mendoakan hidayah bagi siapa pun.
Tawaduk
Muhammad bin Wasi'
Doa Muhammad bin Wasi' menunjukkan
kerendahan hati seorang ulama.
Beliau tidak merasa bangga ketika
dicintai orang lain karena Allah. Justru beliau khawatir apabila dirinya belum
layak di sisi Allah. Sikap seperti ini merupakan teladan bahwa seorang mukmin
hendaknya selalu memperbaiki diri dan tidak merasa aman dari kekurangan.
Penjelasan
Imam Al-Ghazali ingin menanamkan
bahwa amal hati sama pentingnya dengan amal anggota badan. Keikhlasan dalam
mencintai orang-orang yang taat kepada Allah akan memperkuat seluruh amal
ibadah. Sebaliknya, kesombongan dan kecintaan kepada kebatilan dapat merusak
amal yang tampak banyak.
Contoh
Seorang muslim mencintai seorang
guru yang saleh. Kecintaan itu tidak berhenti pada rasa kagum, tetapi
mendorongnya meneladani akhlak sang guru, memperbaiki salatnya, menjaga lisan,
dan memperbanyak membaca Al-Qur'an.
Contoh lain, seseorang tetap berbuat
baik kepada teman yang sering melakukan maksiat, tetapi ia tidak ikut dalam
pergaulan yang buruk dan terus mengajaknya kepada kebaikan. Ia menjaga
keseimbangan antara kasih sayang dan keteguhan terhadap prinsip agama.
Kesimpulan
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa
mencintai karena Allah merupakan salah satu amalan hati yang paling utama.
Ibadah lahir seperti salat, puasa, zakat, dan sedekah harus disempurnakan
dengan kecintaan kepada orang-orang saleh serta keberpihakan kepada kebenaran.
Dengan demikian, seluruh amal menjadi lebih bernilai di sisi Allah.
Hikmah
- Amal hati merupakan pelengkap bagi seluruh ibadah
lahir.
- Mencintai orang-orang saleh karena Allah termasuk
amalan yang paling utama.
- Kecintaan yang benar akan melahirkan keinginan untuk
meneladani orang yang dicintai.
- Pilihlah teman yang menguatkan iman dan akhlak.
- Tawaduk merupakan sifat para ulama dan orang-orang
saleh.
- Menjauhi pengaruh buruk adalah bentuk menjaga agama.
- Hubungan sosial yang dibangun atas dasar iman menjadi
jalan menuju ridha Allah.
Penutup
Nasihat yang dikumpulkan Imam
Al-Ghazali dalam bagian ini mengingatkan bahwa kualitas seorang mukmin tidak
hanya diukur dari banyaknya ibadah yang tampak, tetapi juga dari keadaan
hatinya. Ketika hati dipenuhi cinta kepada Allah, ia akan mencintai orang-orang
yang taat, meneladani akhlak mereka, menjaga persaudaraan, dan menjauhi segala
yang menghalangi ridha-Nya. Inilah cinta yang melahirkan amal, memperindah
akhlak, dan menjadi sebab seseorang dikumpulkan bersama orang-orang saleh di
akhirat kelak.
Baca Juga :
Keutamaan Mencintai Orang Saleh Menurut Imam Al-Ghazali: Terjemah Ihya Ulumuddin Lengkap
Keutamaan UkhuwahIslamiyah: Terjemah Ihya Ulumuddin tentang Persaudaraan karena Allah
Keutamaan
Mengunjungi Saudara Seiman: Terjemah Ihya Ulumuddin tentang Ukhuwah dan Tawaduk

Tidak ada komentar:
Posting Komentar