Pendahuluan
Setelah membantah klaim para filsuf
bahwa kemustahilan penciptaan alam pada waktu tertentu diketahui secara
aksiomatis oleh akal, Imam Al-Ghazali melanjutkan bantahannya dengan
menggunakan metode ilzām (mengikat lawan dengan konsekuensi logis
pendapat mereka sendiri).
Pada bagian ini, beliau mengajukan
persoalan yang menurutnya juga dapat diklaim sebagai sesuatu yang
"mustahil menurut akal", yaitu apabila alam dianggap tidak memiliki
permulaan. Sebab, jika alam benar-benar azali, maka jumlah putaran benda-benda
langit selama masa lampau menjadi tak terhingga, namun pada saat yang
sama masih dapat dibandingkan satu sama lain dengan pecahan seperti setengah,
sepertiga belas, atau seperenam. Melalui contoh ini, Al-Ghazali ingin
menunjukkan bahwa para filsuf tidak konsisten ketika hanya menerima sebagian
paradoks dan menolak paradoks lainnya.
Sumber :
Kitab: Tahāfut al-Falāsifah (تهافت
الفلاسفة)
Pembahasan: Masalah Pertama – Bantahan terhadap Pendapat tentang
Keazalian Alam
Penulis
Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad
al-Ghazali ath-Thusi (450–505 H / 1058–1111 M)
Terjemahan Lengkap
Putaran
Langit yang Tidak Berhingga Tetap Memiliki Bagian-Bagian
Kami berkata:
Apa alasan kalian menolak
lawan-lawan kalian apabila mereka mengatakan:
"Keazalian alam adalah
mustahil, karena konsekuensinya ialah adanya jumlah putaran langit yang tidak
mempunyai batas dan tidak dapat dihitung satu per satu.
Padahal jumlah tersebut masih
memiliki seperenam, seperempat, dan setengah."
Sebagai contoh:
Langit Matahari berputar sekali
setiap satu tahun.
Sedangkan langit Saturnus berputar
sekali setiap tiga puluh tahun.
Dengan demikian jumlah putaran
Saturnus hanyalah sepertiga puluh dari jumlah putaran Matahari.
Demikian pula langit Jupiter yang
berputar sekali setiap dua belas tahun.
Jumlah putarannya adalah seperdua
belas dari jumlah putaran Matahari.
Sebagaimana jumlah putaran Saturnus
tidak mempunyai batas, demikian pula jumlah putaran Matahari juga tidak
mempunyai batas, padahal yang satu hanya merupakan sebagian dari yang lain.
Demikian pula langit bintang-bintang
tetap yang berputar sekali setiap tiga puluh enam ribu tahun.
Jumlah putarannya tetap tidak
mempunyai batas, sebagaimana jumlah gerakan harian Matahari dari timur ke barat
yang terjadi sekali setiap siang dan malam juga tidak mempunyai batas.
Apabila ada seseorang berkata:
"Semua ini jelas mustahil
menurut akal."
Lalu dengan alasan apa kalian dapat
menolak ucapannya?
Bahkan apabila ada yang bertanya:
"Apakah jumlah putaran yang
tidak berhingga itu bilangan genap atau ganjil?
Ataukah sekaligus genap dan ganjil?
Ataukah bukan genap dan bukan
ganjil?"
Jika kalian menjawab:
"Sekaligus genap dan
ganjil."
Atau:
"Bukan genap dan bukan
ganjil."
Maka kebatilan jawaban itu diketahui
secara pasti oleh akal.
Namun jika kalian menjawab:
"Genap."
Maka bilangan genap akan berubah
menjadi ganjil hanya dengan ditambah satu.
Bagaimana mungkin sesuatu yang tidak
berhingga masih kekurangan satu?
Sebaliknya, jika kalian menjawab:
"Ganjil."
Maka bilangan ganjil akan menjadi
genap apabila ditambah satu.
Lalu bagaimana mungkin sesuatu yang
tidak berhingga masih memerlukan tambahan satu?
Dengan demikian kalian akan terpaksa
mengatakan bahwa jumlah tersebut bukan genap dan bukan ganjil.
Artikel Pengembangan
Argumen
tentang Bilangan Tak Berhingga
Pada bagian ini, Al-Ghazali
mengajukan persoalan yang berkaitan dengan konsep tak berhingga (infinity).
Menurut beliau, apabila alam tidak
memiliki awal, maka jumlah seluruh putaran benda langit sejak masa lampau juga
tidak mempunyai awal.
Masalahnya, jumlah yang tidak
berhingga itu masih dapat dibandingkan satu sama lain.
Misalnya:
- Matahari berputar setiap 1 tahun.
- Jupiter setiap 12 tahun.
- Saturnus setiap 30 tahun.
Akibatnya, muncul himpunan tak
berhingga yang tampaknya tetap memiliki perbandingan matematis tertentu.
Paradoks
Bilangan Genap dan Ganjil
Al-Ghazali kemudian mengembangkan
argumen menjadi sebuah paradoks.
Beliau bertanya:
Apakah jumlah putaran yang tak
berhingga itu genap atau ganjil?
Apa pun jawabannya akan memunculkan
kesulitan logis.
Jika dikatakan genap, penambahan
satu akan mengubahnya menjadi ganjil.
Jika dikatakan ganjil, penambahan
satu menjadikannya genap.
Namun bagaimana mungkin sesuatu yang
tidak berhingga masih dapat "ditambah satu"?
Melalui pertanyaan ini, Al-Ghazali
ingin menunjukkan adanya persoalan konseptual apabila konsep ketakberhinggaan
diterapkan pada rangkaian peristiwa yang telah berlalu tanpa permulaan.
Metode
Ilzām Kembali Digunakan
Perlu dicatat bahwa Al-Ghazali tidak
langsung menyatakan bahwa paradoks ini merupakan bukti mutlak atas penciptaan
alam.
Beliau menggunakan metode ilzām,
yaitu memperlihatkan bahwa jika para filsuf menganggap suatu kontradiksi cukup
untuk menolak pendapat lawan, maka mereka juga harus mampu menjawab kontradiksi
yang muncul dari teori mereka sendiri.
Dengan demikian, standar pembuktian
harus diterapkan secara konsisten.
Perspektif
Filsafat dan Matematika
Dalam konteks sejarah pemikiran,
pembahasan ini muncul jauh sebelum berkembangnya teori matematika modern
mengenai himpunan tak berhingga.
Karena itu, argumen Al-Ghazali harus
dipahami dalam kerangka filsafat dan logika pada zamannya, yaitu sebagai kritik
terhadap gagasan adanya rangkaian kejadian masa lalu yang tidak memiliki awal.
Beliau sedang menguji konsistensi
logis pandangan para filsuf, bukan membahas teori matematika modern tentang
ketakberhinggaan.
Nilai
Metodologis
Bagian ini menunjukkan bahwa
Al-Ghazali tidak hanya menguasai ilmu kalam, tetapi juga menggunakan
argumentasi matematis dan logis dalam perdebatan.
Beliau berusaha memperlihatkan bahwa
setiap teori metafisika harus diuji hingga konsekuensi-konsekuensi akhirnya.
Apabila konsekuensi tersebut
melahirkan paradoks yang belum terpecahkan, maka teori tersebut belum layak
dianggap sebagai kebenaran yang pasti.
Hikmah
- Konsistensi logika merupakan syarat utama dalam
membangun sebuah teori.
- Imam Al-Ghazali mengajarkan pentingnya menguji
konsekuensi dari setiap pendapat, bukan hanya menerima premisnya.
- Konsep ketakberhinggaan telah menjadi bahan diskusi
para ulama dan filsuf sejak berabad-abad yang lalu.
- Perdebatan ilmiah yang sehat menuntut keberanian untuk
mengevaluasi teori sendiri sebagaimana mengevaluasi teori orang lain.
- Metode ilzām membantu mengungkap kelemahan suatu
argumen melalui konsekuensinya sendiri.
- Kebenaran tidak cukup didasarkan pada rasa yakin,
tetapi harus ditopang oleh argumentasi yang konsisten.
Penutup
Dalam bagian ini, Imam Al-Ghazali
kembali menggunakan metode ilzām untuk mengkritik pandangan para filsuf
tentang keazalian alam. Beliau mengajukan persoalan mengenai jumlah putaran
langit yang tak berhingga namun tetap dapat dibandingkan sebagai setengah,
sepertiga belas, atau seperdua belas dari jumlah putaran benda langit lainnya.
Beliau juga mengangkat paradoks bilangan genap dan ganjil pada jumlah yang
tidak berhingga untuk menunjukkan bahwa teori keazalian alam pun menghadapi
kesulitan logis. Dengan demikian, Al-Ghazali menegaskan bahwa apabila para
filsuf menuntut pembuktian rasional terhadap lawannya, maka teori mereka
sendiri juga harus mampu menjawab seluruh konsekuensi logis yang
ditimbulkannya.
Teks Arab :
دورات الفلك إن كان لا نهاية لأعدادها، لا يكون لها
أقسام
فنقول: بم تنكرون على خصومكم إذ قالوا: قدم العالم محال
لأنه يؤدي إلى إثبات دورات للفلك لا نهاية لأعدادها ولا حصر لآحادها، مع أن لها
سدسًا وربعًا ونصفًا، فإن فلك الشمس يدور في سنة وفلك زحل في ثلاثين سنة، فتكون
أدوار زحل ثلث عشر أدوار الشمس، وأدوار المشتري نصف سدس أدوار الشمس، فإنه يدور في
اثني عشر سنة. ثم كما أنه لا نهاية لأعداد دورات زحل لا نهاية لأعداد دورات الشمس
مع أنه ثلث عشره، بل لا نهاية لأدوار فلك الكواكب الذي يدور في ستة وثلاثين ألف
سنة مرة واحدة، كما لا نهاية للحركة المشرقية التي للشمس في اليوم والليلة مرة.
فلو قال قائل: هذا مما يعلم استحالته ضرورة، فبماذا تنفصلون عن قوله؟ بل لو قال
قائل: أعداد هذه الدورات شفع أو وتر، أو شفع ووتر جميعًا، أو لا شفع ولا وتر.
ولا تكون شفع أو وتر فإن قلتم: شفع ووتر جميعًا، أو لا
شفع ولا وتر، فيعلم بطلانه ضرورةً. وإن قلتم: شفع، فالشفع يصير وترًا بواحد، فكيف
أعوز ما لانهاية له واحد؟ وإن قلتم: وتر، فالوتر يصير بواحد شفعًا، فكيف أعوز ذلك
الواحد الذي به يصير شفعًا؟ فيلزمكم القول بأنه ليس بشفع ولا وتر.
Baca juga:
Imam Al-Ghazali Menantang Filsuf: Dari Mana Bukti Bahwa Kehendak AzaliMustahil Menciptakan Alam?
Imam Al-Ghazali Menjawab Filsuf: Apakah Bilangan Tak Berhingga
Benar-Benar Tidak Bisa Disebut Genap atau Ganjil?
Pendahuluan
Setelah membantah klaim para filsuf
bahwa kemustahilan penciptaan alam pada waktu tertentu diketahui secara
aksiomatis oleh akal, Imam Al-Ghazali melanjutkan bantahannya dengan
menggunakan metode ilzām (mengikat lawan dengan konsekuensi logis
pendapat mereka sendiri).
Pada bagian ini, beliau mengajukan
persoalan yang menurutnya juga dapat diklaim sebagai sesuatu yang
"mustahil menurut akal", yaitu apabila alam dianggap tidak memiliki
permulaan. Sebab, jika alam benar-benar azali, maka jumlah putaran benda-benda
langit selama masa lampau menjadi tak terhingga, namun pada saat yang
sama masih dapat dibandingkan satu sama lain dengan pecahan seperti setengah,
sepertiga belas, atau seperenam. Melalui contoh ini, Al-Ghazali ingin
menunjukkan bahwa para filsuf tidak konsisten ketika hanya menerima sebagian
paradoks dan menolak paradoks lainnya.
Sumber :
Kitab: Tahāfut al-Falāsifah (تهافت
الفلاسفة)
Pembahasan: Masalah Pertama – Bantahan terhadap Pendapat tentang
Keazalian Alam
Penulis
Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad
al-Ghazali ath-Thusi (450–505 H / 1058–1111 M)
Terjemahan Lengkap
Putaran
Langit yang Tidak Berhingga Tetap Memiliki Bagian-Bagian
Kami berkata:
Apa alasan kalian menolak
lawan-lawan kalian apabila mereka mengatakan:
"Keazalian alam adalah
mustahil, karena konsekuensinya ialah adanya jumlah putaran langit yang tidak
mempunyai batas dan tidak dapat dihitung satu per satu.
Padahal jumlah tersebut masih
memiliki seperenam, seperempat, dan setengah."
Sebagai contoh:
Langit Matahari berputar sekali
setiap satu tahun.
Sedangkan langit Saturnus berputar
sekali setiap tiga puluh tahun.
Dengan demikian jumlah putaran
Saturnus hanyalah sepertiga puluh dari jumlah putaran Matahari.
Demikian pula langit Jupiter yang
berputar sekali setiap dua belas tahun.
Jumlah putarannya adalah seperdua
belas dari jumlah putaran Matahari.
Sebagaimana jumlah putaran Saturnus
tidak mempunyai batas, demikian pula jumlah putaran Matahari juga tidak
mempunyai batas, padahal yang satu hanya merupakan sebagian dari yang lain.
Demikian pula langit bintang-bintang
tetap yang berputar sekali setiap tiga puluh enam ribu tahun.
Jumlah putarannya tetap tidak
mempunyai batas, sebagaimana jumlah gerakan harian Matahari dari timur ke barat
yang terjadi sekali setiap siang dan malam juga tidak mempunyai batas.
Apabila ada seseorang berkata:
"Semua ini jelas mustahil
menurut akal."
Lalu dengan alasan apa kalian dapat
menolak ucapannya?
Bahkan apabila ada yang bertanya:
"Apakah jumlah putaran yang
tidak berhingga itu bilangan genap atau ganjil?
Ataukah sekaligus genap dan ganjil?
Ataukah bukan genap dan bukan
ganjil?"
Jika kalian menjawab:
"Sekaligus genap dan
ganjil."
Atau:
"Bukan genap dan bukan
ganjil."
Maka kebatilan jawaban itu diketahui
secara pasti oleh akal.
Namun jika kalian menjawab:
"Genap."
Maka bilangan genap akan berubah
menjadi ganjil hanya dengan ditambah satu.
Bagaimana mungkin sesuatu yang tidak
berhingga masih kekurangan satu?
Sebaliknya, jika kalian menjawab:
"Ganjil."
Maka bilangan ganjil akan menjadi
genap apabila ditambah satu.
Lalu bagaimana mungkin sesuatu yang
tidak berhingga masih memerlukan tambahan satu?
Dengan demikian kalian akan terpaksa
mengatakan bahwa jumlah tersebut bukan genap dan bukan ganjil.
Artikel Pengembangan
Argumen
tentang Bilangan Tak Berhingga
Pada bagian ini, Al-Ghazali
mengajukan persoalan yang berkaitan dengan konsep tak berhingga (infinity).
Menurut beliau, apabila alam tidak
memiliki awal, maka jumlah seluruh putaran benda langit sejak masa lampau juga
tidak mempunyai awal.
Masalahnya, jumlah yang tidak
berhingga itu masih dapat dibandingkan satu sama lain.
Misalnya:
- Matahari berputar setiap 1 tahun.
- Jupiter setiap 12 tahun.
- Saturnus setiap 30 tahun.
Akibatnya, muncul himpunan tak
berhingga yang tampaknya tetap memiliki perbandingan matematis tertentu.
Paradoks
Bilangan Genap dan Ganjil
Al-Ghazali kemudian mengembangkan
argumen menjadi sebuah paradoks.
Beliau bertanya:
Apakah jumlah putaran yang tak
berhingga itu genap atau ganjil?
Apa pun jawabannya akan memunculkan
kesulitan logis.
Jika dikatakan genap, penambahan
satu akan mengubahnya menjadi ganjil.
Jika dikatakan ganjil, penambahan
satu menjadikannya genap.
Namun bagaimana mungkin sesuatu yang
tidak berhingga masih dapat "ditambah satu"?
Melalui pertanyaan ini, Al-Ghazali
ingin menunjukkan adanya persoalan konseptual apabila konsep ketakberhinggaan
diterapkan pada rangkaian peristiwa yang telah berlalu tanpa permulaan.
Metode
Ilzām Kembali Digunakan
Perlu dicatat bahwa Al-Ghazali tidak
langsung menyatakan bahwa paradoks ini merupakan bukti mutlak atas penciptaan
alam.
Beliau menggunakan metode ilzām,
yaitu memperlihatkan bahwa jika para filsuf menganggap suatu kontradiksi cukup
untuk menolak pendapat lawan, maka mereka juga harus mampu menjawab kontradiksi
yang muncul dari teori mereka sendiri.
Dengan demikian, standar pembuktian
harus diterapkan secara konsisten.
Perspektif
Filsafat dan Matematika
Dalam konteks sejarah pemikiran,
pembahasan ini muncul jauh sebelum berkembangnya teori matematika modern
mengenai himpunan tak berhingga.
Karena itu, argumen Al-Ghazali harus
dipahami dalam kerangka filsafat dan logika pada zamannya, yaitu sebagai kritik
terhadap gagasan adanya rangkaian kejadian masa lalu yang tidak memiliki awal.
Beliau sedang menguji konsistensi
logis pandangan para filsuf, bukan membahas teori matematika modern tentang
ketakberhinggaan.
Nilai
Metodologis
Bagian ini menunjukkan bahwa
Al-Ghazali tidak hanya menguasai ilmu kalam, tetapi juga menggunakan
argumentasi matematis dan logis dalam perdebatan.
Beliau berusaha memperlihatkan bahwa
setiap teori metafisika harus diuji hingga konsekuensi-konsekuensi akhirnya.
Apabila konsekuensi tersebut
melahirkan paradoks yang belum terpecahkan, maka teori tersebut belum layak
dianggap sebagai kebenaran yang pasti.
Hikmah
- Konsistensi logika merupakan syarat utama dalam
membangun sebuah teori.
- Imam Al-Ghazali mengajarkan pentingnya menguji
konsekuensi dari setiap pendapat, bukan hanya menerima premisnya.
- Konsep ketakberhinggaan telah menjadi bahan diskusi
para ulama dan filsuf sejak berabad-abad yang lalu.
- Perdebatan ilmiah yang sehat menuntut keberanian untuk
mengevaluasi teori sendiri sebagaimana mengevaluasi teori orang lain.
- Metode ilzām membantu mengungkap kelemahan suatu
argumen melalui konsekuensinya sendiri.
- Kebenaran tidak cukup didasarkan pada rasa yakin,
tetapi harus ditopang oleh argumentasi yang konsisten.
Penutup
Dalam bagian ini, Imam Al-Ghazali
kembali menggunakan metode ilzām untuk mengkritik pandangan para filsuf
tentang keazalian alam. Beliau mengajukan persoalan mengenai jumlah putaran
langit yang tak berhingga namun tetap dapat dibandingkan sebagai setengah,
sepertiga belas, atau seperdua belas dari jumlah putaran benda langit lainnya.
Beliau juga mengangkat paradoks bilangan genap dan ganjil pada jumlah yang
tidak berhingga untuk menunjukkan bahwa teori keazalian alam pun menghadapi
kesulitan logis. Dengan demikian, Al-Ghazali menegaskan bahwa apabila para
filsuf menuntut pembuktian rasional terhadap lawannya, maka teori mereka
sendiri juga harus mampu menjawab seluruh konsekuensi logis yang
ditimbulkannya.
Teks Arab :
دورات الفلك إن كان لا نهاية لأعدادها، لا يكون لها
أقسام
فنقول: بم تنكرون على خصومكم إذ قالوا: قدم العالم محال
لأنه يؤدي إلى إثبات دورات للفلك لا نهاية لأعدادها ولا حصر لآحادها، مع أن لها
سدسًا وربعًا ونصفًا، فإن فلك الشمس يدور في سنة وفلك زحل في ثلاثين سنة، فتكون
أدوار زحل ثلث عشر أدوار الشمس، وأدوار المشتري نصف سدس أدوار الشمس، فإنه يدور في
اثني عشر سنة. ثم كما أنه لا نهاية لأعداد دورات زحل لا نهاية لأعداد دورات الشمس
مع أنه ثلث عشره، بل لا نهاية لأدوار فلك الكواكب الذي يدور في ستة وثلاثين ألف
سنة مرة واحدة، كما لا نهاية للحركة المشرقية التي للشمس في اليوم والليلة مرة.
فلو قال قائل: هذا مما يعلم استحالته ضرورة، فبماذا تنفصلون عن قوله؟ بل لو قال
قائل: أعداد هذه الدورات شفع أو وتر، أو شفع ووتر جميعًا، أو لا شفع ولا وتر.
ولا تكون شفع أو وتر فإن قلتم: شفع ووتر جميعًا، أو لا
شفع ولا وتر، فيعلم بطلانه ضرورةً. وإن قلتم: شفع، فالشفع يصير وترًا بواحد، فكيف
أعوز ما لانهاية له واحد؟ وإن قلتم: وتر، فالوتر يصير بواحد شفعًا، فكيف أعوز ذلك
الواحد الذي به يصير شفعًا؟ فيلزمكم القول بأنه ليس بشفع ولا وتر.
Baca juga:
Imam Al-Ghazali Menantang Filsuf: Dari Mana Bukti Bahwa Kehendak AzaliMustahil Menciptakan Alam?
Imam Al-Ghazali Menjawab Filsuf: Apakah Bilangan Tak Berhingga
Benar-Benar Tidak Bisa Disebut Genap atau Ganjil?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar