LANDASAN SALAFUS-SHALIH, SAWADUL A’DZAM DAN PENTINGNYA BERMADZHAB


Risalah Ahlussunnah wal Jama'ah


إِذَا فَهِمْتَ مَا ذُكِرَ عَلِمْتَ أَنَّ الْحَقَّ مَعَ السَّلَفِيِّيْنَ الَّذِيْنَ كَانُوْا عَلَى خِطَّةِ السَّلَفِ الصَّالِحِ، فَإِنَّهُمْ اَلسَّوَادُ الْأَعْظَمُ، وَهُمْ اَلْمُوَافِقُوْنَ عُلَمَاءَ الْحَرَمَيْنِ الشَّرِيْفَيْنِ وَعُلَمَاءِ الْأَزْهَرِ الشَّرِيْفِ اَلَّذِيْنَ هُمْ قُدْوَةُ رَهْطِ أَهْلِ الْحَقِّ وَفِيْهِمْ عُلَمَاءُ لَا يُمْكِنُ اِسْتِقْصَاءُ جَمِيْعِهِمْ مِنْ اِنْتِشَارِهِمْ فِي الْأَقْطَارِ وَالْآفَاقَ كَمَا لَا يُمْكِنُ إِحْصَاءُ نُجُوْمِ السَّمَاءَ.

Jika engkau faham dengan apa yang diterangkan di atas (tentang madzhab Ahlus-sunnah wal Jamaah), maka engkau akan mengerti bahwa kebenaran yang haqiqi itu berpihak pada kalangan generasi terdahulu yang berpijak di atas landasan Salafus Shalih. (Salafus Shalih dan pengikutnya) itulah as-Sawadul A’dzam. Mereka menyepakati konsep-konsep agama yang ditetapkan oleh ulama-ulama Haramain asy-Syarifain (Makkah dan Madinah) dan ulama-ulama al-Azhar yang mulia, yang kesemuanya adalah menjadi panutan kelompok Ahlul Haq. Dan di sana banyak sekali ulama yang tidak mungkin dapat dihitung jumlahnya, karena mereka tersebar luas di berbagai daerah laksana bintang-bintang di langit yang tidak mungkin bisa di hitung.

وَقَدْ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {إِنَّ اللهَ تَعَالَى لَا يَجْمَعُ أُمَّتِيْ عَلَى ضَلَالَةٍ، وَيَدُ اللهِ عَلَى الْجَمَاعَةِ، مَنْ شَذَّ شَذَّ إِلَى النَّارِ} رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ. زَادَ ابْنُ مَاجَهْ: {فَإذَا وَقَعَ الإِخْتِلاَفُ فَعَلَيْكَ بِالسَّوَادِ الأَعْظَمِ} مَعَ الْحَقِّ وَأَهْلِهِ. وَفِي الْجَامِعِ الصَّغِيْرِ: {إِنَّ اللهَ تَعَالَى قَدْ أَجَارَ أُمَّتِيْ أَنْ تَجْتَمِعَ عَلَى ضَلَالَة}

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak akan menghimpun ummatku di atas kesesatan, dan pertolongan Allah di atas al-Jamaah. Barangsiapa yang menyendiri (memisahkan diri dari al-Jamaah), maka dia akan menyendiri dalam neraka”. (HR. at-Tirmidzi). Ibn Majah menambahkan (riwayat): “Maka jika terjadi perselisihan, berpegang teguhlah dengan as-Sawadul A’dzam yaitu al-haq dan ahlul haq”.
Di dalam kitab al-Jami’ ash-Shaghir disebutkan: “Sesungguhnya Allah menyelamatkan umatku dari bersepakat atas perbuatan sesat”.

PENTINGNYA BERMADZHAB

وَأَكْثَرُهُمْ أَهْلُ الْمَذَاهِبِ الْأَرْبَعَةِ، فَكَانَ الْإِمَامُ الْبُخَارِيُّ شَافِعِيًّا، أَخَذَ عَنِ الْحُمَيْدِيِّ وَالزَّعْفَرَانِيِّ وَالْكَرَابِيْسِيِّ. وَكَذَلِكَ ابْنُ خُزَيْمَةَ وَالنَّسَائِيُّ، وَكَانَ الْإِمَامُ الْجُنِيْدُ ثَوْرِيًّا، وَالشِّبْلِيُّ مَالِكِيًّا، وَالْمُحَاسِبِيُّ شَافِعِيًّا، وَالْجَرَيْرِيُّ حَنَفِيًّا، وَالْجِيْلَانِيُّ حَنْبَلِيًّا، وَالشَّاذِلِيُّ مَالِكِيًّا .فَالتَّقَيُّدُ بِمَذْهَبٍ مُعَيَّنٍ أَجْمَعُ لِلْحَقِيْقَةِ، وَأَقْرَبُ لِلتَّبَصُّرِ، وَأَدْعَى لِلتَّحْقِيْقِ، وَأَسْهَلُ تَنَاوُلًا. وَعَلَى هَذَا دَرَّجَ اَلْأَسْلَافُ الصَّالِحُوْنَ، وَالشُّيُوْخُ الْمَاضُوْنَ رِضْوَانُ اللهِ تَعَالَى عَلَيْهِمْ أَجْمَعِيْنَ.

Mayoritas dari mereka (generasi terdahulu) adalah pengikut madzhab yang empat. Imam Bukhari adalah bermadzhab Syafi’i. Beliau mengambil dari Imam Humaidi, az -Za’farani dan Karabisi. Demikian pula Imam Ibnu Khuzaimah dan Imam Nasa’i.
Imam Junaid adalah pengikut Imam Tsauri, Imam Syibli adalah pengikut madzhab Maliki, Imam Muhasibi adalah pengikut madzhab Syafi’i, Imam al-Jariry adalah penganut Imam Hanafi, Syaikh Abdul Qadir al-Jilani bermadzhab Hanbali dan Imam Abu al-Hasan asy-Syadzili pengikut madzhab Maliki. Maka berpegang teguh dengan mengikuti satu madzhab tertentu akan lebih dapat terfokus pada satu nilai kebenaran yang haqiqi, lebih dapat memahami secara mendalam, dan akan lebih mudah dalam menerapkan amalan. Inilah jalan yang telah di tempuh oleh Slafus Shalih dan para guru sedari dulu. Mudah-mudahan keridhaan Allah terlimpahcurahkan kepada mereka semua.

HIMBAUAN HADHRATUS-SYAIKH KIAI MUHAMMAD HASYIM ASY’ARI

فَنَحْنُ نَحُضُّ إِخْوَانَنَا عَوَامَّ الْمُسْلِمِيْنَ أَنْ يَتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَأَنْ لَا يَمُوْتُوْا إِلَّا وَهُمْ مُسْلِمُوْنَ، وَأَنْ يُصْلِحُوْا ذَاتَ الْبَيْنِ مِنْهُمْ، وَأَنْ يَصِلُو الْأَرْحَامَ، وَأَنْ يُحْسِنُوْا إِلَى الْجِيْرَانِ وَالْأَقَارِبِ وَالْإِخْوَانِ، وَأَنْ يَعْرِفُوْا حَقَّ الْأَكَابِرِ، وَأَنْ يَرْحَمُوْا الضُّعَفَاءَ وَالْأصَاغِرَ وَنَنْهَاهُمْ عَنِ التَّدَابُرِ وَالتَّبَاغُضِ وَالتَّقَاطُعِ وَالتَّحَاسُدِ وَالْإفْتِرَاقِ وَالتَّلَوُّنِ فِي الدِّيْنِ،

Kami menghimbau kepada saudara-saudara kami, orang-orang awam dari kalangan kaum Muslimin agar senantiasa bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa, dan senantiasa berharap agar tidak meninggalkan dunia yang fana ini kecuali sebagai orang Islam, mendamaikan orang yang berselisih diantara mereka, mempererat tali persaudaraan, berlaku baik terhadap semua tetangga, kerabat dan handai taulan, menunaikan hak-hak orang tua, kasih sayang terhadap orang-orang lemah dan kalangan orang kecil, berusaha mencegah mereka dari persaingan tidak sehat, saling benci, memutuskan hubungan, hasut-menghasut, perpecahan dan menciptakan warna baru dalam agama.

وَنَحُثُّهُمْ أَنْ يَكُوْنُوْا إِخْوَانًا، وَعَلَى الْخَيْرِ أَعْوَانًا، وَأَنْ يَعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا، وَأَنْ لَا يَتَفَرَّقُوْا، وَأَنْ يَتَّبِعُوا الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ وَمَا كَانَ عَلَيْهِ عُلَمَاءُ الْأُمَّةِ كَالْإِمَامِ أَبِيْ حَنِيْفَةَ وَمَالِكِ بْنِ أَنَسٍ وَالشَّافِعِيِّ وَأَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُمْ أَجْمَعِيْنَ، فَهُمْ اَلَّذِيْنَ قَدْ اِنْعَقَدَ الْإِجْمَاعُ عَلَى امْتِنَاعِ الْخُرُوْجِ عَنْ مَذَاهِبِهِمْ،

Dan kami menghimbau kepada mereka semua untuk menjadi bersaudara, tolong-menolong dalam kebaikan, berpegang teguh pada agama Allah dengan kokoh dan tidak bercerai berai. Hendaknya mereka tetap berpedoman pada al-Kitab dan as-Sunnah, dan apa saja yang menjadi tuntunan para ulama panutan ummat semisal Imam Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal radhiyallaahu Ta’ala ‘anhum. Karena ijma’ telah menetapkan larangan keluar dari madzhab-madzhab mereka.

وَأَنْ يُعْرِضُوْا عَمَّا أُحْدِثَ مِنَ الْجَمْعِيَّةِ الْمُخَالِفَةِ لِمَا عَلَيْهِ الْأَسْلَافُ الصَّالِحُوْنَ، فَقَدْ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {مَنْ شَذَّ شَذَّ إِلىَ النَّارِ}،

Hendaknya mereka juga berpaling dari segala bentuk organisasi-organisasi baru yang bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar yang telah dibangun oleh Salafus Shalih. Rasulallah shallallahu aliahi wasallam bersabda: “Barangsiapa memisahkan diri dari al-Jamaah maka ia akan terpisah di dalam neraka”.

وَأَنْ يَكُوْنُوْا مَعَ الْجَمَاعَةِ الَّتِيْ عَلَى طَرِيْقَةِ الْأَسْلَافِ الصَّالِحِيْنَ، فَقَدْ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {وَأَنَا آمُرُكُمْ بِخَمْسٍ أَمَرَنِيَ اللهُ بِهِنَّ: اَلسّمْعِ وَالطَاعَةِ وَالْجِهَادِ وَالْهِجْرَةِ وَالْجَمَاعَةِ، فَإِنَّ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ قِيْدَ شِبْرٍ، فَقَدْ خَلَعَ رِبْقَةَ الْإِسْلاَمِ مِنْ عُنُقِهِ}، وَقَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: {عَلَيْكُمْ بِالْجَماعَةِ، وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الْوَاحِدِ وَهُوَ مَعَ الْاِثْنَيْنِ أَبْعَدُ. وَمَنْ أَرَادَ بُحْبُوْبَةَ الْجَنّةِ فَلْيَلْزَمِ الْجَماعَةَ}.


Dan mereka hendaknya tetap bergabung bersama al-Jamaah yang telah ditempuh oleh Salafu Shalih. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Aku perintahkan kepada kalian untuk melaksanakan lima hal, yang lima hal itu telah diperintahkan oleh Allah kepadaku, yaitu; bersedia untuk mendengarkan, taat dan siap untuk berjihad, hijrah dan bergabung bersama al-Jama’ah. Karena sesungguhnya barangsiapa yang berpisah dari al-jamaah walau hanya sejengkal pun, maka sungguh ia telah melepaskan ikatan tali keislamannya dari lehernya”.
Dan Sayyidina Umar bin Khatthab radhiyallahu anh berkata: “Berpegangteguhlah kalian semua pada al-Jama’ah. Berhati-hatilah, jangan sekali-kali bercerai berai. Karena sesungguhnya setan akan menyertaimu jika seorang diri, dan akan menjauh jika dirimu berdua. Barangsiapa yang ingin mendapatkan keni’matan hidup di dalam surga, maka tetaplah bersama al-Jama’ah”.

(Risalah Ahlus Sunnah wal Jamaah)

Baca juga:


Risalah Ahlussunnah wal Jama'ah


إِذَا فَهِمْتَ مَا ذُكِرَ عَلِمْتَ أَنَّ الْحَقَّ مَعَ السَّلَفِيِّيْنَ الَّذِيْنَ كَانُوْا عَلَى خِطَّةِ السَّلَفِ الصَّالِحِ، فَإِنَّهُمْ اَلسَّوَادُ الْأَعْظَمُ، وَهُمْ اَلْمُوَافِقُوْنَ عُلَمَاءَ الْحَرَمَيْنِ الشَّرِيْفَيْنِ وَعُلَمَاءِ الْأَزْهَرِ الشَّرِيْفِ اَلَّذِيْنَ هُمْ قُدْوَةُ رَهْطِ أَهْلِ الْحَقِّ وَفِيْهِمْ عُلَمَاءُ لَا يُمْكِنُ اِسْتِقْصَاءُ جَمِيْعِهِمْ مِنْ اِنْتِشَارِهِمْ فِي الْأَقْطَارِ وَالْآفَاقَ كَمَا لَا يُمْكِنُ إِحْصَاءُ نُجُوْمِ السَّمَاءَ.

Jika engkau faham dengan apa yang diterangkan di atas (tentang madzhab Ahlus-sunnah wal Jamaah), maka engkau akan mengerti bahwa kebenaran yang haqiqi itu berpihak pada kalangan generasi terdahulu yang berpijak di atas landasan Salafus Shalih. (Salafus Shalih dan pengikutnya) itulah as-Sawadul A’dzam. Mereka menyepakati konsep-konsep agama yang ditetapkan oleh ulama-ulama Haramain asy-Syarifain (Makkah dan Madinah) dan ulama-ulama al-Azhar yang mulia, yang kesemuanya adalah menjadi panutan kelompok Ahlul Haq. Dan di sana banyak sekali ulama yang tidak mungkin dapat dihitung jumlahnya, karena mereka tersebar luas di berbagai daerah laksana bintang-bintang di langit yang tidak mungkin bisa di hitung.

وَقَدْ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {إِنَّ اللهَ تَعَالَى لَا يَجْمَعُ أُمَّتِيْ عَلَى ضَلَالَةٍ، وَيَدُ اللهِ عَلَى الْجَمَاعَةِ، مَنْ شَذَّ شَذَّ إِلَى النَّارِ} رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ. زَادَ ابْنُ مَاجَهْ: {فَإذَا وَقَعَ الإِخْتِلاَفُ فَعَلَيْكَ بِالسَّوَادِ الأَعْظَمِ} مَعَ الْحَقِّ وَأَهْلِهِ. وَفِي الْجَامِعِ الصَّغِيْرِ: {إِنَّ اللهَ تَعَالَى قَدْ أَجَارَ أُمَّتِيْ أَنْ تَجْتَمِعَ عَلَى ضَلَالَة}

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak akan menghimpun ummatku di atas kesesatan, dan pertolongan Allah di atas al-Jamaah. Barangsiapa yang menyendiri (memisahkan diri dari al-Jamaah), maka dia akan menyendiri dalam neraka”. (HR. at-Tirmidzi). Ibn Majah menambahkan (riwayat): “Maka jika terjadi perselisihan, berpegang teguhlah dengan as-Sawadul A’dzam yaitu al-haq dan ahlul haq”.
Di dalam kitab al-Jami’ ash-Shaghir disebutkan: “Sesungguhnya Allah menyelamatkan umatku dari bersepakat atas perbuatan sesat”.

PENTINGNYA BERMADZHAB

وَأَكْثَرُهُمْ أَهْلُ الْمَذَاهِبِ الْأَرْبَعَةِ، فَكَانَ الْإِمَامُ الْبُخَارِيُّ شَافِعِيًّا، أَخَذَ عَنِ الْحُمَيْدِيِّ وَالزَّعْفَرَانِيِّ وَالْكَرَابِيْسِيِّ. وَكَذَلِكَ ابْنُ خُزَيْمَةَ وَالنَّسَائِيُّ، وَكَانَ الْإِمَامُ الْجُنِيْدُ ثَوْرِيًّا، وَالشِّبْلِيُّ مَالِكِيًّا، وَالْمُحَاسِبِيُّ شَافِعِيًّا، وَالْجَرَيْرِيُّ حَنَفِيًّا، وَالْجِيْلَانِيُّ حَنْبَلِيًّا، وَالشَّاذِلِيُّ مَالِكِيًّا .فَالتَّقَيُّدُ بِمَذْهَبٍ مُعَيَّنٍ أَجْمَعُ لِلْحَقِيْقَةِ، وَأَقْرَبُ لِلتَّبَصُّرِ، وَأَدْعَى لِلتَّحْقِيْقِ، وَأَسْهَلُ تَنَاوُلًا. وَعَلَى هَذَا دَرَّجَ اَلْأَسْلَافُ الصَّالِحُوْنَ، وَالشُّيُوْخُ الْمَاضُوْنَ رِضْوَانُ اللهِ تَعَالَى عَلَيْهِمْ أَجْمَعِيْنَ.

Mayoritas dari mereka (generasi terdahulu) adalah pengikut madzhab yang empat. Imam Bukhari adalah bermadzhab Syafi’i. Beliau mengambil dari Imam Humaidi, az -Za’farani dan Karabisi. Demikian pula Imam Ibnu Khuzaimah dan Imam Nasa’i.
Imam Junaid adalah pengikut Imam Tsauri, Imam Syibli adalah pengikut madzhab Maliki, Imam Muhasibi adalah pengikut madzhab Syafi’i, Imam al-Jariry adalah penganut Imam Hanafi, Syaikh Abdul Qadir al-Jilani bermadzhab Hanbali dan Imam Abu al-Hasan asy-Syadzili pengikut madzhab Maliki. Maka berpegang teguh dengan mengikuti satu madzhab tertentu akan lebih dapat terfokus pada satu nilai kebenaran yang haqiqi, lebih dapat memahami secara mendalam, dan akan lebih mudah dalam menerapkan amalan. Inilah jalan yang telah di tempuh oleh Slafus Shalih dan para guru sedari dulu. Mudah-mudahan keridhaan Allah terlimpahcurahkan kepada mereka semua.

HIMBAUAN HADHRATUS-SYAIKH KIAI MUHAMMAD HASYIM ASY’ARI

فَنَحْنُ نَحُضُّ إِخْوَانَنَا عَوَامَّ الْمُسْلِمِيْنَ أَنْ يَتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَأَنْ لَا يَمُوْتُوْا إِلَّا وَهُمْ مُسْلِمُوْنَ، وَأَنْ يُصْلِحُوْا ذَاتَ الْبَيْنِ مِنْهُمْ، وَأَنْ يَصِلُو الْأَرْحَامَ، وَأَنْ يُحْسِنُوْا إِلَى الْجِيْرَانِ وَالْأَقَارِبِ وَالْإِخْوَانِ، وَأَنْ يَعْرِفُوْا حَقَّ الْأَكَابِرِ، وَأَنْ يَرْحَمُوْا الضُّعَفَاءَ وَالْأصَاغِرَ وَنَنْهَاهُمْ عَنِ التَّدَابُرِ وَالتَّبَاغُضِ وَالتَّقَاطُعِ وَالتَّحَاسُدِ وَالْإفْتِرَاقِ وَالتَّلَوُّنِ فِي الدِّيْنِ،

Kami menghimbau kepada saudara-saudara kami, orang-orang awam dari kalangan kaum Muslimin agar senantiasa bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa, dan senantiasa berharap agar tidak meninggalkan dunia yang fana ini kecuali sebagai orang Islam, mendamaikan orang yang berselisih diantara mereka, mempererat tali persaudaraan, berlaku baik terhadap semua tetangga, kerabat dan handai taulan, menunaikan hak-hak orang tua, kasih sayang terhadap orang-orang lemah dan kalangan orang kecil, berusaha mencegah mereka dari persaingan tidak sehat, saling benci, memutuskan hubungan, hasut-menghasut, perpecahan dan menciptakan warna baru dalam agama.

وَنَحُثُّهُمْ أَنْ يَكُوْنُوْا إِخْوَانًا، وَعَلَى الْخَيْرِ أَعْوَانًا، وَأَنْ يَعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا، وَأَنْ لَا يَتَفَرَّقُوْا، وَأَنْ يَتَّبِعُوا الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ وَمَا كَانَ عَلَيْهِ عُلَمَاءُ الْأُمَّةِ كَالْإِمَامِ أَبِيْ حَنِيْفَةَ وَمَالِكِ بْنِ أَنَسٍ وَالشَّافِعِيِّ وَأَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُمْ أَجْمَعِيْنَ، فَهُمْ اَلَّذِيْنَ قَدْ اِنْعَقَدَ الْإِجْمَاعُ عَلَى امْتِنَاعِ الْخُرُوْجِ عَنْ مَذَاهِبِهِمْ،

Dan kami menghimbau kepada mereka semua untuk menjadi bersaudara, tolong-menolong dalam kebaikan, berpegang teguh pada agama Allah dengan kokoh dan tidak bercerai berai. Hendaknya mereka tetap berpedoman pada al-Kitab dan as-Sunnah, dan apa saja yang menjadi tuntunan para ulama panutan ummat semisal Imam Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal radhiyallaahu Ta’ala ‘anhum. Karena ijma’ telah menetapkan larangan keluar dari madzhab-madzhab mereka.

وَأَنْ يُعْرِضُوْا عَمَّا أُحْدِثَ مِنَ الْجَمْعِيَّةِ الْمُخَالِفَةِ لِمَا عَلَيْهِ الْأَسْلَافُ الصَّالِحُوْنَ، فَقَدْ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {مَنْ شَذَّ شَذَّ إِلىَ النَّارِ}،

Hendaknya mereka juga berpaling dari segala bentuk organisasi-organisasi baru yang bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar yang telah dibangun oleh Salafus Shalih. Rasulallah shallallahu aliahi wasallam bersabda: “Barangsiapa memisahkan diri dari al-Jamaah maka ia akan terpisah di dalam neraka”.

وَأَنْ يَكُوْنُوْا مَعَ الْجَمَاعَةِ الَّتِيْ عَلَى طَرِيْقَةِ الْأَسْلَافِ الصَّالِحِيْنَ، فَقَدْ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {وَأَنَا آمُرُكُمْ بِخَمْسٍ أَمَرَنِيَ اللهُ بِهِنَّ: اَلسّمْعِ وَالطَاعَةِ وَالْجِهَادِ وَالْهِجْرَةِ وَالْجَمَاعَةِ، فَإِنَّ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ قِيْدَ شِبْرٍ، فَقَدْ خَلَعَ رِبْقَةَ الْإِسْلاَمِ مِنْ عُنُقِهِ}، وَقَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: {عَلَيْكُمْ بِالْجَماعَةِ، وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الْوَاحِدِ وَهُوَ مَعَ الْاِثْنَيْنِ أَبْعَدُ. وَمَنْ أَرَادَ بُحْبُوْبَةَ الْجَنّةِ فَلْيَلْزَمِ الْجَماعَةَ}.


Dan mereka hendaknya tetap bergabung bersama al-Jamaah yang telah ditempuh oleh Salafu Shalih. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Aku perintahkan kepada kalian untuk melaksanakan lima hal, yang lima hal itu telah diperintahkan oleh Allah kepadaku, yaitu; bersedia untuk mendengarkan, taat dan siap untuk berjihad, hijrah dan bergabung bersama al-Jama’ah. Karena sesungguhnya barangsiapa yang berpisah dari al-jamaah walau hanya sejengkal pun, maka sungguh ia telah melepaskan ikatan tali keislamannya dari lehernya”.
Dan Sayyidina Umar bin Khatthab radhiyallahu anh berkata: “Berpegangteguhlah kalian semua pada al-Jama’ah. Berhati-hatilah, jangan sekali-kali bercerai berai. Karena sesungguhnya setan akan menyertaimu jika seorang diri, dan akan menjauh jika dirimu berdua. Barangsiapa yang ingin mendapatkan keni’matan hidup di dalam surga, maka tetaplah bersama al-Jama’ah”.

(Risalah Ahlus Sunnah wal Jamaah)

Baca juga:

Pedoman Orang-orang Jawa (Indonesia) Sejak Awal Kemunculan Hingga Meluasnya Bid'ah Di Tanah Jawa Dan Macam-macam Ahli Bid'ah Zaman Ini


SEJAK DAHULU KALA MAYORITAS PENDUDUK JAWA (INDONESIA)
BERPEGANG TEGUH DENGAN AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH


(فَصْلٌ) فِيْ بَيَانِ تَمَسُّكِ أَهْلِ جَاوَى بِمَذْهَبِ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ، وَبَيَانِ ابْتِدَاءِ ظُهُوْرِ الْبِدَعِ وَانْتِشَارِهَا فِيْ أَرْضِ جَاوَى، وَبَيَانِ أَنْوَاعِ الْمُبْتَدِعِيْنَ فِيْ هَذَا الزَّمَانِ

Pasal Menjelaskan Tentang Pedoman Penduduk Jawa (Indonesia) Dengan Madzhab Ahlusunnah wal Jama’ah, dan Awal Kemunculan Bid’ah dan Meluasnya di tanah Jawa serta Macam-macam Ahli Bid’ah di zaman ini

قَدْ كَانَ مُسْلِمُوا الْأَقْطَارِ الْجَاوِيَةِ فِي الْأَزْمَانِ السَّالِفَةِ الْخَالِيَةِ مُتَّفِقِي الْآرَاءِ وَالْمَذْهَبِ وَمُتَّحِدِي الْمَأْخَذِ وَالْمَشْرَبِ، فَكُلُّهُمْ فِي الْفِقْهِ عَلَى الْمَذْهَبِ النَّفِيْسِ مَذْهَبِ الْإِمَامِ مُحَمَّدِ بْنِ إِدْرِيْسَ، وَفِيْ أُصُوْلِ الدِّيْنِ عَلَى مَذْهَبِ الْإِمَامِ أَبِي الْحَسَنِ الْأَشَعَرِيِّ، وَفِي التَّصَوُّفِ عَلَى مَذْهَبِ الْإِمَامِ الْغَزَالِيِّ وَالْإِمَامِ أَبِي الْحَسَنِ الشَّاذِلِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِيْنَ

Umat Islam (khususnya) yang tinggal di pulau Jawa sejak zaman dahulu telah bersatu padu dalam berpendapat dan bermadzhab, mereka bersepakat dan menyatu dalam pandangan keagamaannya; Di bidang fiqh, mereka berpegang teguh dengan madzhab Imam Muhammad bin Idris as-Syafi’i, di bidang ushuluddin berpegang teguh dengan madzhab imam Abu al-Hasan al-Asy’ari, dan di bidang tasawwuf berpegang teguh dengan madzhab imam Abu Hamid al-Ghazali dan imam Abu al-Hasan asy-Syadzili, semoga Allah meridhai mereka semua.

ثُمَّ إِنَّهُ حَدَثَ فِيْ عَامِ اَلْفٍ وَثَلَاثِمِائَةٍ وَثَلَاثِيْنَ أَحْزَابٌ مُتَنَوِّعَةٌ وَآرَاءٌ مُتَدَافِعَةٌ وَأَقْوَالٌ مُتَضَارِبَةٌ، وَرِجَالٌ مُتَجَاذِبَةٌ، فَمِنْهُمْ سَلَفِيُّوْنَ قَائِمُوْنَ عَلَى مَا عَلَيْهِ أَسْلَافُهُمْ مِنَ التَّمَذْهُبِ بِالْمَذْهَبِ الْمُعَيَّنِ وَالتَّمَسُّكِ بِالْكُتُبِ الْمُعْتَبَرَةِ الْمُتَدَاوِلَةِ، وَمَحَبَّةِ أَهْلِ الْبَيْتِ وَالْأَوْلِيَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ، وَالتَّبَرُّكِ بِهِمْ أَحْيَاءً وَأَمْوَاتًا، وَزِيَارَةِ الْقُبُوْرِ وَتَلْقِيْنِ الْمَيِّتِ وَالصَّدَقَةِ عَنْهُ وَاعْتِقَادِ الشَّفَاعَةِ وَنَفْعِ الدُّعَاءِ وَالتَّوَسُّلِ وَغَيْرِ ذَلِكَ.

Kemudian pada tahun 1330 H. muncullah berbagai kelompok yang bermacam-macam, pendapat yang saling bertentangan, isu yang bertebaran dan pertikaian di kalangan para pemimpin. Diantara mereka ada yang mengikuti golongan ulama’ salaf yang berpegang teguh atas apa yang telah diajarkan oleh para pendahulu mereka, yaitu bermadzhab dengan madzhab tertentu, berpegang teguh dengan kitab-kitab mu’tabar yang tersebar luas, cinta terhadap Ahlul Bait Nabi, para wali dan orang-orang shalih, bertabarruk dengan mereka baik ketika masih hidup atau setelah wafat, ziarah kubur, mentalqin mayit, bersedekah untuk mayit, meyakini syafa’at, bermanfa’atnya do’a bagi mayit, tawassul dan lain sebagainya.

وَمِنْهُمْ فِرْقَةٌ يَتَّبِعُوْنَ رَأْيَ مُحَمَّدْ عَبْدُهْ وَرَشِيدْ رِضَا، وَيَأْخُذُوْنَ مِنْ بِدْعَةِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْوَهَّابِ النَّجْدِيْ، وَأَحْمَدَ بْنِ تَيْمِيَّةَ وَتِلْمِيْذَيْهِ ابْنِ الْقَيِّمِ وَعَبْدِ الْهَادِيْ، فَحَرَّمُوْا مَا أَجْمَعَ الْمُسْلِمُوْنَ عَلَى نَدْبِهِ، وَهُوَ السَّفَرُ لِزِيَارَةِ قَبْرِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَخَالَفُوْهُمْ فِيْمَا ذُكِرَ وَغَيْرِهِ.
قَالَ ابْنُ تَيْمِيَّةَ فِيْ فَتَاوِيْهِ : وَإِذَا سَافَرَ لِاعْتِقَادِ أَنَّها أَيْ زِيَارَةَ قَبْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَاعَةٌ ، كَانَ ذَلِكَ مُحَرَّمًا بِإِجْمَاعِ الْمُسْلِمِيْنَ ، فَصَارَ التَّحْرِيْمُ مِنَ الْأَمْرِ الْمَقْطُوْعِ بِهِ .

Diantara mereka ada lagi kelompok yang mengikuti pemikiran Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Mereka mengikuti jejak kebid’ahan Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi, Ahmad bin Taimiyah serta kedua muridnya; Ibnul Qoyyim dan Abdul Hadi.
Mereka mengharamkan apa saja yang telah disepakati oleh kaum muslimin sebagai sebuah kesunnahan, yaitu pergi berziarah ke makam Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan mereka menentang kesepakatan kaum muslimin tersebut juga yang lainnya.
Ibnu Taimiyah menyatakan dalam Fatawa-nya: “Jika seseorang bepergian dengan berkeyakinan bahwasanya mengunjungi makam Nabi shallallahu alaihi wasallam sebagai sebuah bentuk ketaatan, maka perbuatan tersebut hukumnya haram berdasarkan kesepakatan orang-orang Islam. Maka keharaman tersebut termasuk perkara yang harus ditinggalkan”.

قَالَ الْعَلَّامَةُ الشَّيْخُ مُحَمَّدْ بَخِيتْ اَلْحَنَفِيُّ اَلْمُطِيْعِيُّ فِيْ رِسَالَتِهِ اَلْمُسَمَّاةِ تَطْهِيْرَ الْفُؤَادِ مِنْ دَنَسِ الْإِعْتِقَادِ : وَهَذَا الْفَرِيْقُ قَدْ اُبْتُلِيَ الْمُسْلِمُوْنَ بِكَثِيْرٍ مِنْهُمْ سَلَفًا وَخَلَفًا ، فَكَانُوْا وَصْمَةً وَثُلْمَةً فِي الْمُسْلِمِيْنَ وَعُضْوًا فَاسِدًا يَجِبُ قَطْعُهُ حَتَّى لَا يُعْدِى الْبَاقِيَ ، فَهُوَ كَالْمَجْذُوْمِ يَجِبُ الْفِرَارُ مِنْهُمْ ، فَإِنَّهُمْ فَرِيْقٌ يَلْعَبُوْنَ بِدِيْنِهِمْ يَذُمُّوْنَ الْعُلَمَاءَ سَلَفًا وَخَلَفًا.

Al-‘Allamah Syaikh Muhammad Bakhit al-Hanafi al-Muth’i menyatakan dalam kitabnya “Thathhir al-Fuad min Danas al-I’tiqad” (Pembersih Hati Dari Kotoran Keyakinan) bahwa: “Sungguh, tersebarnya kelompok ini menjadi cobaan berat bagi umat Islam, baik salaf maupun khalaf. Mereka menjadi virus dan duri dalam tubuh kaum muslimin yang hanya nerusak keutuhan Islam. Mereka laksana penyandang penyakit lepra yang mesti dijauhi, karena sesungguhnya mereka adalah kelompok yang mempermainkan agama mereka dan hanya bisa menghina para ulama, baik salaf maupun khalaf”. (Maka wajib menjauh dari mereka agar tidak tertular).

وَيَقُوْلُوْنَ : إِنَّهُمْ غَيْرُ مَعْصُوْمِيْنَ فَلَا يَنْبَغِيْ تَقْلِيْدُهُمْ ، لَا فَرْقَ فِيْ ذَلِكَ بَيْنَ الْأَحْيَاءِ وَالْأَمْوَاتِ يَطْعَنُوْنَ عَلَيْهِمْ وَيُلْقُوْنَ الشُّبَهَاتِ ، وَيَذُرُّوْنَهَا فِيْ عُيُوْنِ بَصَائِرِ الضُّعَفَاءِ ، لِتَعْمَى أَبْصَارُهُمْ عَنْ عُيُوْبِ هَؤُلَاءِ ، وَيَقْصِدُوْنَ بِذَلِكَ إِلْقَاءَ الْعَدَاوَةِ وَالْبَغْضَاءِ ، بِحُلُوْلِهِمْ اَلْجَوَّ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا ، يَقُوْلُوْنَ عَلَى اللهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ ، يَزْعُمُوْنً أَنَّهُمْ قَائِمُوْنَ بِالْأَمْرِ بِالْمَعْرُوْفِ وَالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ ، حَاضُّوْنَ النَّاسَ عَلَى اتِّبَاعِ الشَّرْعِ وَاجْتِنَابِ الْبِدَعِ ، وَاللهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُوْنَ .

Mereka menyatakan bahwa : “Para ulama bukanlah orang-orang yang ma’shum (yang terbebas dari dosa), maka tidaklah layak mengikuti mereka, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal”.
Mereka menyebarkan cara pandang ini pada orang-orang bodoh untuk membutakan pola berfikir sehingga tidak menyadari akan kebodohan mereka.
Tujuan mereka dengan propaganda ini adalah menanamkan rasa permusuhan dan kebencian. Dan dengan penguasaannya atas teknologi, mereka membuat kerusakan di muka bumi. Mereka menyebarkan kebohongan atas nama Allah, padahal mereka menyadari kebohongan tersebut. Mereka beranggapan bahwa dirinya menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, menghasut orang-orang dengan mengajak untuk mengikuti ajaran-ajaran syari’at dan menjauhi perbuatan bid’ah. Padahal Allah Maha Mengetahui, bahwa mereka berbohong.

(Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah)

Catatan;
Yang tergolong Ulama' Salaf yaitu : Anbiya', Shahabat, Tabi'in dan Tabi'it-tabi'in terutama imam mujtahid empat.
(Tuhfatul Murid hal. 125)

Baca juga:

SEJAK DAHULU KALA MAYORITAS PENDUDUK JAWA (INDONESIA)
BERPEGANG TEGUH DENGAN AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH


(فَصْلٌ) فِيْ بَيَانِ تَمَسُّكِ أَهْلِ جَاوَى بِمَذْهَبِ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ، وَبَيَانِ ابْتِدَاءِ ظُهُوْرِ الْبِدَعِ وَانْتِشَارِهَا فِيْ أَرْضِ جَاوَى، وَبَيَانِ أَنْوَاعِ الْمُبْتَدِعِيْنَ فِيْ هَذَا الزَّمَانِ

Pasal Menjelaskan Tentang Pedoman Penduduk Jawa (Indonesia) Dengan Madzhab Ahlusunnah wal Jama’ah, dan Awal Kemunculan Bid’ah dan Meluasnya di tanah Jawa serta Macam-macam Ahli Bid’ah di zaman ini

قَدْ كَانَ مُسْلِمُوا الْأَقْطَارِ الْجَاوِيَةِ فِي الْأَزْمَانِ السَّالِفَةِ الْخَالِيَةِ مُتَّفِقِي الْآرَاءِ وَالْمَذْهَبِ وَمُتَّحِدِي الْمَأْخَذِ وَالْمَشْرَبِ، فَكُلُّهُمْ فِي الْفِقْهِ عَلَى الْمَذْهَبِ النَّفِيْسِ مَذْهَبِ الْإِمَامِ مُحَمَّدِ بْنِ إِدْرِيْسَ، وَفِيْ أُصُوْلِ الدِّيْنِ عَلَى مَذْهَبِ الْإِمَامِ أَبِي الْحَسَنِ الْأَشَعَرِيِّ، وَفِي التَّصَوُّفِ عَلَى مَذْهَبِ الْإِمَامِ الْغَزَالِيِّ وَالْإِمَامِ أَبِي الْحَسَنِ الشَّاذِلِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِيْنَ

Umat Islam (khususnya) yang tinggal di pulau Jawa sejak zaman dahulu telah bersatu padu dalam berpendapat dan bermadzhab, mereka bersepakat dan menyatu dalam pandangan keagamaannya; Di bidang fiqh, mereka berpegang teguh dengan madzhab Imam Muhammad bin Idris as-Syafi’i, di bidang ushuluddin berpegang teguh dengan madzhab imam Abu al-Hasan al-Asy’ari, dan di bidang tasawwuf berpegang teguh dengan madzhab imam Abu Hamid al-Ghazali dan imam Abu al-Hasan asy-Syadzili, semoga Allah meridhai mereka semua.

ثُمَّ إِنَّهُ حَدَثَ فِيْ عَامِ اَلْفٍ وَثَلَاثِمِائَةٍ وَثَلَاثِيْنَ أَحْزَابٌ مُتَنَوِّعَةٌ وَآرَاءٌ مُتَدَافِعَةٌ وَأَقْوَالٌ مُتَضَارِبَةٌ، وَرِجَالٌ مُتَجَاذِبَةٌ، فَمِنْهُمْ سَلَفِيُّوْنَ قَائِمُوْنَ عَلَى مَا عَلَيْهِ أَسْلَافُهُمْ مِنَ التَّمَذْهُبِ بِالْمَذْهَبِ الْمُعَيَّنِ وَالتَّمَسُّكِ بِالْكُتُبِ الْمُعْتَبَرَةِ الْمُتَدَاوِلَةِ، وَمَحَبَّةِ أَهْلِ الْبَيْتِ وَالْأَوْلِيَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ، وَالتَّبَرُّكِ بِهِمْ أَحْيَاءً وَأَمْوَاتًا، وَزِيَارَةِ الْقُبُوْرِ وَتَلْقِيْنِ الْمَيِّتِ وَالصَّدَقَةِ عَنْهُ وَاعْتِقَادِ الشَّفَاعَةِ وَنَفْعِ الدُّعَاءِ وَالتَّوَسُّلِ وَغَيْرِ ذَلِكَ.

Kemudian pada tahun 1330 H. muncullah berbagai kelompok yang bermacam-macam, pendapat yang saling bertentangan, isu yang bertebaran dan pertikaian di kalangan para pemimpin. Diantara mereka ada yang mengikuti golongan ulama’ salaf yang berpegang teguh atas apa yang telah diajarkan oleh para pendahulu mereka, yaitu bermadzhab dengan madzhab tertentu, berpegang teguh dengan kitab-kitab mu’tabar yang tersebar luas, cinta terhadap Ahlul Bait Nabi, para wali dan orang-orang shalih, bertabarruk dengan mereka baik ketika masih hidup atau setelah wafat, ziarah kubur, mentalqin mayit, bersedekah untuk mayit, meyakini syafa’at, bermanfa’atnya do’a bagi mayit, tawassul dan lain sebagainya.

وَمِنْهُمْ فِرْقَةٌ يَتَّبِعُوْنَ رَأْيَ مُحَمَّدْ عَبْدُهْ وَرَشِيدْ رِضَا، وَيَأْخُذُوْنَ مِنْ بِدْعَةِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْوَهَّابِ النَّجْدِيْ، وَأَحْمَدَ بْنِ تَيْمِيَّةَ وَتِلْمِيْذَيْهِ ابْنِ الْقَيِّمِ وَعَبْدِ الْهَادِيْ، فَحَرَّمُوْا مَا أَجْمَعَ الْمُسْلِمُوْنَ عَلَى نَدْبِهِ، وَهُوَ السَّفَرُ لِزِيَارَةِ قَبْرِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَخَالَفُوْهُمْ فِيْمَا ذُكِرَ وَغَيْرِهِ.
قَالَ ابْنُ تَيْمِيَّةَ فِيْ فَتَاوِيْهِ : وَإِذَا سَافَرَ لِاعْتِقَادِ أَنَّها أَيْ زِيَارَةَ قَبْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَاعَةٌ ، كَانَ ذَلِكَ مُحَرَّمًا بِإِجْمَاعِ الْمُسْلِمِيْنَ ، فَصَارَ التَّحْرِيْمُ مِنَ الْأَمْرِ الْمَقْطُوْعِ بِهِ .

Diantara mereka ada lagi kelompok yang mengikuti pemikiran Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Mereka mengikuti jejak kebid’ahan Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi, Ahmad bin Taimiyah serta kedua muridnya; Ibnul Qoyyim dan Abdul Hadi.
Mereka mengharamkan apa saja yang telah disepakati oleh kaum muslimin sebagai sebuah kesunnahan, yaitu pergi berziarah ke makam Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan mereka menentang kesepakatan kaum muslimin tersebut juga yang lainnya.
Ibnu Taimiyah menyatakan dalam Fatawa-nya: “Jika seseorang bepergian dengan berkeyakinan bahwasanya mengunjungi makam Nabi shallallahu alaihi wasallam sebagai sebuah bentuk ketaatan, maka perbuatan tersebut hukumnya haram berdasarkan kesepakatan orang-orang Islam. Maka keharaman tersebut termasuk perkara yang harus ditinggalkan”.

قَالَ الْعَلَّامَةُ الشَّيْخُ مُحَمَّدْ بَخِيتْ اَلْحَنَفِيُّ اَلْمُطِيْعِيُّ فِيْ رِسَالَتِهِ اَلْمُسَمَّاةِ تَطْهِيْرَ الْفُؤَادِ مِنْ دَنَسِ الْإِعْتِقَادِ : وَهَذَا الْفَرِيْقُ قَدْ اُبْتُلِيَ الْمُسْلِمُوْنَ بِكَثِيْرٍ مِنْهُمْ سَلَفًا وَخَلَفًا ، فَكَانُوْا وَصْمَةً وَثُلْمَةً فِي الْمُسْلِمِيْنَ وَعُضْوًا فَاسِدًا يَجِبُ قَطْعُهُ حَتَّى لَا يُعْدِى الْبَاقِيَ ، فَهُوَ كَالْمَجْذُوْمِ يَجِبُ الْفِرَارُ مِنْهُمْ ، فَإِنَّهُمْ فَرِيْقٌ يَلْعَبُوْنَ بِدِيْنِهِمْ يَذُمُّوْنَ الْعُلَمَاءَ سَلَفًا وَخَلَفًا.

Al-‘Allamah Syaikh Muhammad Bakhit al-Hanafi al-Muth’i menyatakan dalam kitabnya “Thathhir al-Fuad min Danas al-I’tiqad” (Pembersih Hati Dari Kotoran Keyakinan) bahwa: “Sungguh, tersebarnya kelompok ini menjadi cobaan berat bagi umat Islam, baik salaf maupun khalaf. Mereka menjadi virus dan duri dalam tubuh kaum muslimin yang hanya nerusak keutuhan Islam. Mereka laksana penyandang penyakit lepra yang mesti dijauhi, karena sesungguhnya mereka adalah kelompok yang mempermainkan agama mereka dan hanya bisa menghina para ulama, baik salaf maupun khalaf”. (Maka wajib menjauh dari mereka agar tidak tertular).

وَيَقُوْلُوْنَ : إِنَّهُمْ غَيْرُ مَعْصُوْمِيْنَ فَلَا يَنْبَغِيْ تَقْلِيْدُهُمْ ، لَا فَرْقَ فِيْ ذَلِكَ بَيْنَ الْأَحْيَاءِ وَالْأَمْوَاتِ يَطْعَنُوْنَ عَلَيْهِمْ وَيُلْقُوْنَ الشُّبَهَاتِ ، وَيَذُرُّوْنَهَا فِيْ عُيُوْنِ بَصَائِرِ الضُّعَفَاءِ ، لِتَعْمَى أَبْصَارُهُمْ عَنْ عُيُوْبِ هَؤُلَاءِ ، وَيَقْصِدُوْنَ بِذَلِكَ إِلْقَاءَ الْعَدَاوَةِ وَالْبَغْضَاءِ ، بِحُلُوْلِهِمْ اَلْجَوَّ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا ، يَقُوْلُوْنَ عَلَى اللهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ ، يَزْعُمُوْنً أَنَّهُمْ قَائِمُوْنَ بِالْأَمْرِ بِالْمَعْرُوْفِ وَالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ ، حَاضُّوْنَ النَّاسَ عَلَى اتِّبَاعِ الشَّرْعِ وَاجْتِنَابِ الْبِدَعِ ، وَاللهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُوْنَ .

Mereka menyatakan bahwa : “Para ulama bukanlah orang-orang yang ma’shum (yang terbebas dari dosa), maka tidaklah layak mengikuti mereka, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal”.
Mereka menyebarkan cara pandang ini pada orang-orang bodoh untuk membutakan pola berfikir sehingga tidak menyadari akan kebodohan mereka.
Tujuan mereka dengan propaganda ini adalah menanamkan rasa permusuhan dan kebencian. Dan dengan penguasaannya atas teknologi, mereka membuat kerusakan di muka bumi. Mereka menyebarkan kebohongan atas nama Allah, padahal mereka menyadari kebohongan tersebut. Mereka beranggapan bahwa dirinya menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, menghasut orang-orang dengan mengajak untuk mengikuti ajaran-ajaran syari’at dan menjauhi perbuatan bid’ah. Padahal Allah Maha Mengetahui, bahwa mereka berbohong.

(Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah)

Catatan;
Yang tergolong Ulama' Salaf yaitu : Anbiya', Shahabat, Tabi'in dan Tabi'it-tabi'in terutama imam mujtahid empat.
(Tuhfatul Murid hal. 125)

Baca juga:

Perbedaan Antara Ahlussunnah Dan Lainnya Terletak Pada Masalah Aqidah, Bukan Masalah Fiqih


YANG MEMBEDAKAN APAKAH AHLUSSUNNAH WAL JAMA'AH ATAU BUKAN ADALAH MASALAH AQIDAH BUKAN MASALAH FIQIH


رَوَى أَبُوْ دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ وَابْنُ مَاجَهْ عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: اِفْتَرَقَتِ الْيَهُوْدُ عَلَى إحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرّقَتِ النَّصَارَى عَلَى اِثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، وَتَفَرّقَتِ أُمّتِيْ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلَّا وَاحِدَةٌ، قَالُوْا: وَمَنْ هُمْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: هُمْ اَلَّذِيْ أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيْ.

Imam Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah telah meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu anh;

Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Kaum Yahudi telah terpecah menjadi 71 golongan,

Kaum Nasrani terpecah menjadi 72 golongan.

Dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan.

Semua golongan tersebut masuk neraka kecuali hanya satu golongan saja."

Para sahabat bertanya:
"Siapakah mereka (golongan yang selamat) itu wahai Rasulallah?"

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab:
“Golongan yang selamat itu adalah kelompok yang komitmen dalam mengikutiku dan para sahabatku."

قَالَ الشِّهَابُ الْخَفَاجِيُّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى فِي نَسِيْمِ الرِّيَاضِ: وَالْفِرْقَةُ النَّاجِيَةُ هُمْ أَهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ.

Imam Syihab al-Khafaji rahimahullah berkata di dalam kitabnya; Nasim ar-Riyadh:

“Golongan yang selamat itu adalah kelompok Ahlussunnah wal Jama’ah."

وَفِيْ حَاشِيَةِ الشَّنْوَانِيِّ عَلَى مُخْتَصَرِ ابْنِ أَبِيْ جَمْرَةَ: هُمْ أَبُو الْحَسَنِ الْأَشْعَرِيُّ وَجَمَاعَتُهُ أَهْلُ السُّنَّةِ وَأَئِمَّةُ الْعُلَمَاء، لِأَنَّ اللهَ تَعَالَى جَعَلَهُمْ حُجَّةً عَلَى خَلْقِهِ، وَإِلَيْهِم تَفْزَعُ الْعَامَّةُ فِيْ دِيْنِهِمْ، وَهُمْ اَلْمَعْنِيُّوْنَ بِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {إِنَّ اللهَ لَا يَجْمَعُ أُمَّتِيْ عَلَى ضَلَالَةٍ}.

Dalam kitab Hasyiyah asy-Syanwani ‘ala Mukhtashar Ibn Abi Jamrah dinyatakan bahwa golongan yang selamat itu adalah mereka yang mengikuti manhaj Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari dan jama'ahnya yaitu Ahlussunnah dan aimmatul ‘ulama.

Karena Allah Ta’ala telah menjadikan mereka sebagai hujjah bagi makhluk-Nya. Dan kepada merekalah masyarakat memiliki kecondongan dalam mengembalikan berbagai permasalahan agama mereka.

Golongan inilah yang dikehendaki Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan sabda beliau:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan ummatku untuk sepakat dalam berbuat kesesatan."

قَالَ الْإمَامُ أَبُوْ مَنْصُوْرِ بْنُ طَاهِرٍ اَلتَّمِيْمِيُّ فِيْ شَرْحِ هَذَا الْحَديْثِ: قَدْ عَلِمَ أَصْحَابُ هَذِهِ الْمَقَالَاتِ أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يُرِدْ بِالْفِرَقِ الْمَذْمُوْمَةِ اَلْمُخْتَلِفِيْنَ فِيْ فُرُوْعِ الْفِقْهِ مِنْ أَبْوَابِ الْحَلَالِ وَالْحَرَامِ، وَإِنَّمَا قَصَدَ بِالذَّمِّ مَنْ خَالَفَ أَهْلَ الْحَقِّ فِيْ أُصُوْلِ التَّوْحِيْدِ، وَفِيْ تَقْدِيْرِ الْخَيْرِ وَالشَّرِّ، وَفِيْ شُرُوْطِ النُّبُوَّةِ وَالرِّسَالَةِ، وَفِيْ مُوَالَاةِ الصَّحَابَةِ وَمَا جَرَى مَجْرَى هَذِهِ الْأَبْوَابِ، لِأَنَّ الْمُخْتَلِفِيْنَ فِيْهَا قَدْ كَفَّرَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا بِخِلَافِ النَّوْعِ الْأَوَّلِ، فَإِنَّهُمْ اِخْتَلَفُوْا فِيْهِ مِنْ غَيْرِ تَكْفِيْرٍ وَلَا تَفْسِيْقٍ لِلْمُخَالِفِ فِيْهِ، فَيُرْجَعُ تَأْوِيْلُ الْحَدِيْثِ فِي افْتِرَاقِ الْأُمَّةِ إِلَى هَذَا النَّوْعِ مِنَ الْإِخْتِلَافِ.

Imam Abu Manshur bin Thahir at-Tamimi dalam menjelaskan hadits ini mengemukakan:
“Sungguh orang-orang yang memiliki maqalah ini mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak menghendaki golongan yang tercela itu adalah golongan yang berselisih dalam menyikapi masalah-masalah fiqh yang bersifat furu’ yang berkaitan dengan hukum halal dan haram.

Akan tetapi yang dimaksud beliau shalallahu alaihi wasallam dengan golongan yang tercela itu adalah golongan orang-orang yang menentang ahlul haq dalam masalah dasar-dasar tauhid, dalam masalah taqdir baik dan buruk, dalam memberikan batasan-batasan/syarat-syarat kenabian dan kerasulan, dalam masalah bagaimana mencintai para sahabat, dan hal apa saja yang berkaitan dengan masalah-masalah tersebut di atas.

Karena mereka yang berselisih dalam masalah-masalah ini telah saling mengkafirkan satu sama lainnya.

Berbeda dengan perselisihan yang terjadi pada golongan pertama.

Mereka berbeda pendapat dalam masalah-masalah fiqh tanpa mengkafirkan yang lain dan tanpa menfasiq-kan golongan lain yang berbeda pendapat.

Oleh karena itulah penakwilan hadits tentang perpcahan ummat tersebut, yang benar adalah disandarkan pada perbedaan-perbedaan pendapat semacam ini ( yaitu perbedaan aqidah, bukan perbedaan furu’iyyah dalam fiqh).”

(Risalah Ahlussunnah wal Jama'ah)
Semoga bermanfaat.


YANG MEMBEDAKAN APAKAH AHLUSSUNNAH WAL JAMA'AH ATAU BUKAN ADALAH MASALAH AQIDAH BUKAN MASALAH FIQIH


رَوَى أَبُوْ دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ وَابْنُ مَاجَهْ عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: اِفْتَرَقَتِ الْيَهُوْدُ عَلَى إحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرّقَتِ النَّصَارَى عَلَى اِثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، وَتَفَرّقَتِ أُمّتِيْ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلَّا وَاحِدَةٌ، قَالُوْا: وَمَنْ هُمْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: هُمْ اَلَّذِيْ أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيْ.

Imam Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah telah meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu anh;

Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Kaum Yahudi telah terpecah menjadi 71 golongan,

Kaum Nasrani terpecah menjadi 72 golongan.

Dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan.

Semua golongan tersebut masuk neraka kecuali hanya satu golongan saja."

Para sahabat bertanya:
"Siapakah mereka (golongan yang selamat) itu wahai Rasulallah?"

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab:
“Golongan yang selamat itu adalah kelompok yang komitmen dalam mengikutiku dan para sahabatku."

قَالَ الشِّهَابُ الْخَفَاجِيُّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى فِي نَسِيْمِ الرِّيَاضِ: وَالْفِرْقَةُ النَّاجِيَةُ هُمْ أَهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ.

Imam Syihab al-Khafaji rahimahullah berkata di dalam kitabnya; Nasim ar-Riyadh:

“Golongan yang selamat itu adalah kelompok Ahlussunnah wal Jama’ah."

وَفِيْ حَاشِيَةِ الشَّنْوَانِيِّ عَلَى مُخْتَصَرِ ابْنِ أَبِيْ جَمْرَةَ: هُمْ أَبُو الْحَسَنِ الْأَشْعَرِيُّ وَجَمَاعَتُهُ أَهْلُ السُّنَّةِ وَأَئِمَّةُ الْعُلَمَاء، لِأَنَّ اللهَ تَعَالَى جَعَلَهُمْ حُجَّةً عَلَى خَلْقِهِ، وَإِلَيْهِم تَفْزَعُ الْعَامَّةُ فِيْ دِيْنِهِمْ، وَهُمْ اَلْمَعْنِيُّوْنَ بِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {إِنَّ اللهَ لَا يَجْمَعُ أُمَّتِيْ عَلَى ضَلَالَةٍ}.

Dalam kitab Hasyiyah asy-Syanwani ‘ala Mukhtashar Ibn Abi Jamrah dinyatakan bahwa golongan yang selamat itu adalah mereka yang mengikuti manhaj Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari dan jama'ahnya yaitu Ahlussunnah dan aimmatul ‘ulama.

Karena Allah Ta’ala telah menjadikan mereka sebagai hujjah bagi makhluk-Nya. Dan kepada merekalah masyarakat memiliki kecondongan dalam mengembalikan berbagai permasalahan agama mereka.

Golongan inilah yang dikehendaki Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan sabda beliau:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan ummatku untuk sepakat dalam berbuat kesesatan."

قَالَ الْإمَامُ أَبُوْ مَنْصُوْرِ بْنُ طَاهِرٍ اَلتَّمِيْمِيُّ فِيْ شَرْحِ هَذَا الْحَديْثِ: قَدْ عَلِمَ أَصْحَابُ هَذِهِ الْمَقَالَاتِ أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يُرِدْ بِالْفِرَقِ الْمَذْمُوْمَةِ اَلْمُخْتَلِفِيْنَ فِيْ فُرُوْعِ الْفِقْهِ مِنْ أَبْوَابِ الْحَلَالِ وَالْحَرَامِ، وَإِنَّمَا قَصَدَ بِالذَّمِّ مَنْ خَالَفَ أَهْلَ الْحَقِّ فِيْ أُصُوْلِ التَّوْحِيْدِ، وَفِيْ تَقْدِيْرِ الْخَيْرِ وَالشَّرِّ، وَفِيْ شُرُوْطِ النُّبُوَّةِ وَالرِّسَالَةِ، وَفِيْ مُوَالَاةِ الصَّحَابَةِ وَمَا جَرَى مَجْرَى هَذِهِ الْأَبْوَابِ، لِأَنَّ الْمُخْتَلِفِيْنَ فِيْهَا قَدْ كَفَّرَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا بِخِلَافِ النَّوْعِ الْأَوَّلِ، فَإِنَّهُمْ اِخْتَلَفُوْا فِيْهِ مِنْ غَيْرِ تَكْفِيْرٍ وَلَا تَفْسِيْقٍ لِلْمُخَالِفِ فِيْهِ، فَيُرْجَعُ تَأْوِيْلُ الْحَدِيْثِ فِي افْتِرَاقِ الْأُمَّةِ إِلَى هَذَا النَّوْعِ مِنَ الْإِخْتِلَافِ.

Imam Abu Manshur bin Thahir at-Tamimi dalam menjelaskan hadits ini mengemukakan:
“Sungguh orang-orang yang memiliki maqalah ini mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak menghendaki golongan yang tercela itu adalah golongan yang berselisih dalam menyikapi masalah-masalah fiqh yang bersifat furu’ yang berkaitan dengan hukum halal dan haram.

Akan tetapi yang dimaksud beliau shalallahu alaihi wasallam dengan golongan yang tercela itu adalah golongan orang-orang yang menentang ahlul haq dalam masalah dasar-dasar tauhid, dalam masalah taqdir baik dan buruk, dalam memberikan batasan-batasan/syarat-syarat kenabian dan kerasulan, dalam masalah bagaimana mencintai para sahabat, dan hal apa saja yang berkaitan dengan masalah-masalah tersebut di atas.

Karena mereka yang berselisih dalam masalah-masalah ini telah saling mengkafirkan satu sama lainnya.

Berbeda dengan perselisihan yang terjadi pada golongan pertama.

Mereka berbeda pendapat dalam masalah-masalah fiqh tanpa mengkafirkan yang lain dan tanpa menfasiq-kan golongan lain yang berbeda pendapat.

Oleh karena itulah penakwilan hadits tentang perpcahan ummat tersebut, yang benar adalah disandarkan pada perbedaan-perbedaan pendapat semacam ini ( yaitu perbedaan aqidah, bukan perbedaan furu’iyyah dalam fiqh).”

(Risalah Ahlussunnah wal Jama'ah)
Semoga bermanfaat.

CIKAL BAKAL 72 GOLONGAN UMMAT MUHAMMAD SAW. YANG SESAT


CIKAL BAKAL 72 GOLONGAN UMMAT MUHAMMAD SAW. YANG SESAT

1) Al-Haruriyyah
Ialah pemahaman kaum Khawarij yang mempunyai pemahaman sesat dalam perkara: Mengkafirkan Sayyidina  Ali bin Abi Thalib karena mau berdamai dengan Muawiyyah bin Abu Sufyan.
Mengkafirkan Ustman bin Affan karena dianggap membikin pelanggaran-pelanggaran selama pemerintahannya.
Mengkafirkan orang-orang yang ikut dalam perang Jamal (unta), yaitu ummu mu’minin Aisyah, Tholhah, Zubair bin Al-Awwam, Ali bin Abi Tholib, Abdullah bin Zubair dan segenap tentara yang terlibat dalam pertempuran.
Mengkafirkan orang-orang yang terlibat dalam upaya perundingan damai antara Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyyah bin Abi Sufyan. Juga mengkafirkan semua pihak yang terlibat dalam perundingan damai antara Al-Hasan bin Ali bin Abu Tholib dengan Muawiyyah bin Abu Sofyan sepeninggal Ali bin Abi Thalib. Mreka mengkafirkan semua orang pula yang ridha dan membenarkan dua upaya perdamaian di atas atau salah satunya.
Memberontak kepada pemerintahan muslimin yang berbuat dzalim karena pemerintahan tersebut dianggap kafir dengan perbuatan dzalimnya.,
Mengkafirkan orang Islam yang berbuat dosa apapun.

2) Al-Qodariyyah
Ialah pemahaman sesat yang mengingkari rukun iman yang ke enam, yaitu takdir Allah Ta'ala. Mereka mengatakan bahwa perbutan manusia ini adalah murni semata-mata dari perbuatan manusia sendiri dan tidak ada hubungannya dengan kehendak dan takdir Allah.

3) Al-Jahmiyyah
Ialah pemahaman sesat yang menginginkan adanya sifat-sifat kemuliaan bagi Allah dan mengingkari nama-nama kemuliaan bagi- Nya.

4) Al-Murji'ah
Ialah peahaman sesat yang mengingkari hubungan antara iman dengan amal, dalam artian iman itu tidak bertambah dengan amalan shalih dn tidak pula berkurang dengan kemaksiatan sehingga imannya Nabi sama dengan imannya penjahat sekalipun.

5) Ar-Rafidhah / Syi'ah
Ialah gerakan pemahaman sesat yang diwariskan oleh Abdullah bin Saba', seorang Yahudi yang pura-pura masuk Islam dan berupaya menyegarkan pemahamannya yang kafir yaitu bahwa sayyidina Ali dan anak keturunannya adalah tuhan atau mempunyai sifat-sifat ketuhanan. Rafidhah mengkafirkan Abu Bakar dan Umar bin Khattab dan mengkafirkan pula segenap shahabat Nabi salallahu 'alaihi wa sallam kecuali beberapa orang saja. (Minhajus Sunnah Ibnu Taimiyah).

6) Al-Jabariyyah
Ialah pemahaman sesat yang meyakini bawa semua apa yang terjadi adalah perbuatan Allah dan tidak ada perbuatan makhluk sama sekali. Manusia tidak mempunyai kehendak sama sekali karena yang ada hanya kehendak Allah. Sehingga semua perbuatan mansuia adalah ketaatan semata kepada kehendak Allah, dan tidak ada perbuatan ma’siat. Orang berzina tidaklah dianggap maksiat karena perbuatan zina itu adalah perbuatan Allah dan kehendak-Nya. Semua manusia dianggap sama tidak ada muslim dan kafir, karena semuanya tidak mempunyai usaha (ikhtiar) dan tidak pula mempunyai kehendak apapun. (Talbis Iblis hal.22)

7) Al Mu'tazilah
Di samping enam aliran sesat yang kemudian bercabang menjadi berpuluh-puluh aliran sesat lainnya, juga ada aliran sesat yang besar pula, yaitu mu'tazilah. Aliran ini mengkeramatkan akal sehingga akal adalah sumber kebenaran yang lebih tinggi kedudukannya dari Al-Qur'an dan Al- Hadits. Dari pengkeramatan akal ini timbullah kesesatan mereka yang meliputi:
Mengingkari adanya sifat-sifat mulia bagi Allah.
Orang Islam yang berbuat dosa tidak dinamakan muslim dan tidak dinamakan kafir, tetapi ia adalah fasiq. Akan tetapi bila ia tidak sempat bertaubat dari dosanya dan mati dalam keadaan demikian berarti kekal di neraka sebagaimana orang kafir. Orang yang telah masuk neraka tidak mungkin lagi masuk surga, sebagaimana orang yang masuk surga tidak mungkin lagi masuk neraka.
Menyerukan pemberontakan kepada pemerintah Islam yang berbuat dzalim dan pemberontakan itu dalam rangka amar ma'ruf nahi munkar.
Mengingkari adanya takdir Allah pada perbuatan hambanya.
Al-Qur'an itu adalah makhluk Allah sebagaimana pula sifat-sifat Allah lainnya adalah makhluk.
Mengingkari berita Al-Qur'an dan Al- hadits yang menyerukan bahwa wajah Allah itu dapat dilihat oleh kaum Mu’minin di surga nanti. (Al-Farqu binal Firaq, Abdul Qahir Al-Isfaraini hal 114-115).

8) Al Bathiniyyah
Disamping mu'tazilah, ada juga aliran lain yang bernama bathiniyyah yang sering disebut orang thariqat sufiyyah. Mereka ini membagi syariat Islam dalam dua bagian, yaitu syariat batin dan syariat dhahir. Orang yang menganut aliran ini mempercayai bahwa para wali keramat itu syariatnya syariat batin sehingga tingkah lakunya tidak bisa diamati dengan patokan syariat dzahir. Karena syariat batin itu sama sekali berbeda dengan syariat dhahir, maka yang haram di syariat dhahir bisa jadi halal dan bahkan suci dalam syariat batin. Orang-orang awam harus terikat dengan syariat dzahir. Jadi kalau orang awam berzina harus dicela dan dinilai telah berbuat maksiat, karena memang demikianlah syariat dzahir itu meilainya. Tapi kalau wali keramat berbuat mesum di diskotik atau di hotel tidak boleh dicela. Mereka para wali itu tidak lagi terikat dengan syariat dzahir, tetapi terikat dengan syariat bathin, yaitu syariat spesial milik para wali, jadi kalau ada orang yang mau mencoba mengkritik wali keramat itu dan mencelanya, maka ia harus setingkat mereka atau lebih tinggi. Syariat dzahir itu diturunkan kepada Nabi Muhammad salallahu 'alaihi wa sallam, sedangkan syariat batin diturunkan kepada para wali keramat, melalui mimpi atau wangsit (ilham) atau lewat wahyu yang dibawa oleh para malaikat. (Talbis Iblis 162:169).

Dari aliran-aliran sempalan di atas terpecahlah sekian banyak aliran sesat yang ujungnya pasti membatalkan syariat Allah dan mengakkan syariat hawa nafsu serta kekafiran. (Al-Farqu bainal Firaq, Abdul Qahir bin Muhammad Al-Baghdadi Al- Isfaraini hal 281-312). Padahal masing-masing aliran yang bersumber dari 8 kelompok sempalan itu tentunya mempunyai pengikut dari umat Islam. Demikianlah iblis dan anak buahnya memecah belah umat Islam melaui bid'ah, sehingga umat Islam terpecah belah menjadi beratus bahkan beribu-ribu aliran sesat yang telah menyempal dari Islam, walaupun mereka tetap meyakini keislamannya.

Baca jugan:

CIKAL BAKAL 72 GOLONGAN UMMAT MUHAMMAD SAW. YANG SESAT

1) Al-Haruriyyah
Ialah pemahaman kaum Khawarij yang mempunyai pemahaman sesat dalam perkara: Mengkafirkan Sayyidina  Ali bin Abi Thalib karena mau berdamai dengan Muawiyyah bin Abu Sufyan.
Mengkafirkan Ustman bin Affan karena dianggap membikin pelanggaran-pelanggaran selama pemerintahannya.
Mengkafirkan orang-orang yang ikut dalam perang Jamal (unta), yaitu ummu mu’minin Aisyah, Tholhah, Zubair bin Al-Awwam, Ali bin Abi Tholib, Abdullah bin Zubair dan segenap tentara yang terlibat dalam pertempuran.
Mengkafirkan orang-orang yang terlibat dalam upaya perundingan damai antara Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyyah bin Abi Sufyan. Juga mengkafirkan semua pihak yang terlibat dalam perundingan damai antara Al-Hasan bin Ali bin Abu Tholib dengan Muawiyyah bin Abu Sofyan sepeninggal Ali bin Abi Thalib. Mreka mengkafirkan semua orang pula yang ridha dan membenarkan dua upaya perdamaian di atas atau salah satunya.
Memberontak kepada pemerintahan muslimin yang berbuat dzalim karena pemerintahan tersebut dianggap kafir dengan perbuatan dzalimnya.,
Mengkafirkan orang Islam yang berbuat dosa apapun.

2) Al-Qodariyyah
Ialah pemahaman sesat yang mengingkari rukun iman yang ke enam, yaitu takdir Allah Ta'ala. Mereka mengatakan bahwa perbutan manusia ini adalah murni semata-mata dari perbuatan manusia sendiri dan tidak ada hubungannya dengan kehendak dan takdir Allah.

3) Al-Jahmiyyah
Ialah pemahaman sesat yang menginginkan adanya sifat-sifat kemuliaan bagi Allah dan mengingkari nama-nama kemuliaan bagi- Nya.

4) Al-Murji'ah
Ialah peahaman sesat yang mengingkari hubungan antara iman dengan amal, dalam artian iman itu tidak bertambah dengan amalan shalih dn tidak pula berkurang dengan kemaksiatan sehingga imannya Nabi sama dengan imannya penjahat sekalipun.

5) Ar-Rafidhah / Syi'ah
Ialah gerakan pemahaman sesat yang diwariskan oleh Abdullah bin Saba', seorang Yahudi yang pura-pura masuk Islam dan berupaya menyegarkan pemahamannya yang kafir yaitu bahwa sayyidina Ali dan anak keturunannya adalah tuhan atau mempunyai sifat-sifat ketuhanan. Rafidhah mengkafirkan Abu Bakar dan Umar bin Khattab dan mengkafirkan pula segenap shahabat Nabi salallahu 'alaihi wa sallam kecuali beberapa orang saja. (Minhajus Sunnah Ibnu Taimiyah).

6) Al-Jabariyyah
Ialah pemahaman sesat yang meyakini bawa semua apa yang terjadi adalah perbuatan Allah dan tidak ada perbuatan makhluk sama sekali. Manusia tidak mempunyai kehendak sama sekali karena yang ada hanya kehendak Allah. Sehingga semua perbuatan mansuia adalah ketaatan semata kepada kehendak Allah, dan tidak ada perbuatan ma’siat. Orang berzina tidaklah dianggap maksiat karena perbuatan zina itu adalah perbuatan Allah dan kehendak-Nya. Semua manusia dianggap sama tidak ada muslim dan kafir, karena semuanya tidak mempunyai usaha (ikhtiar) dan tidak pula mempunyai kehendak apapun. (Talbis Iblis hal.22)

7) Al Mu'tazilah
Di samping enam aliran sesat yang kemudian bercabang menjadi berpuluh-puluh aliran sesat lainnya, juga ada aliran sesat yang besar pula, yaitu mu'tazilah. Aliran ini mengkeramatkan akal sehingga akal adalah sumber kebenaran yang lebih tinggi kedudukannya dari Al-Qur'an dan Al- Hadits. Dari pengkeramatan akal ini timbullah kesesatan mereka yang meliputi:
Mengingkari adanya sifat-sifat mulia bagi Allah.
Orang Islam yang berbuat dosa tidak dinamakan muslim dan tidak dinamakan kafir, tetapi ia adalah fasiq. Akan tetapi bila ia tidak sempat bertaubat dari dosanya dan mati dalam keadaan demikian berarti kekal di neraka sebagaimana orang kafir. Orang yang telah masuk neraka tidak mungkin lagi masuk surga, sebagaimana orang yang masuk surga tidak mungkin lagi masuk neraka.
Menyerukan pemberontakan kepada pemerintah Islam yang berbuat dzalim dan pemberontakan itu dalam rangka amar ma'ruf nahi munkar.
Mengingkari adanya takdir Allah pada perbuatan hambanya.
Al-Qur'an itu adalah makhluk Allah sebagaimana pula sifat-sifat Allah lainnya adalah makhluk.
Mengingkari berita Al-Qur'an dan Al- hadits yang menyerukan bahwa wajah Allah itu dapat dilihat oleh kaum Mu’minin di surga nanti. (Al-Farqu binal Firaq, Abdul Qahir Al-Isfaraini hal 114-115).

8) Al Bathiniyyah
Disamping mu'tazilah, ada juga aliran lain yang bernama bathiniyyah yang sering disebut orang thariqat sufiyyah. Mereka ini membagi syariat Islam dalam dua bagian, yaitu syariat batin dan syariat dhahir. Orang yang menganut aliran ini mempercayai bahwa para wali keramat itu syariatnya syariat batin sehingga tingkah lakunya tidak bisa diamati dengan patokan syariat dzahir. Karena syariat batin itu sama sekali berbeda dengan syariat dhahir, maka yang haram di syariat dhahir bisa jadi halal dan bahkan suci dalam syariat batin. Orang-orang awam harus terikat dengan syariat dzahir. Jadi kalau orang awam berzina harus dicela dan dinilai telah berbuat maksiat, karena memang demikianlah syariat dzahir itu meilainya. Tapi kalau wali keramat berbuat mesum di diskotik atau di hotel tidak boleh dicela. Mereka para wali itu tidak lagi terikat dengan syariat dzahir, tetapi terikat dengan syariat bathin, yaitu syariat spesial milik para wali, jadi kalau ada orang yang mau mencoba mengkritik wali keramat itu dan mencelanya, maka ia harus setingkat mereka atau lebih tinggi. Syariat dzahir itu diturunkan kepada Nabi Muhammad salallahu 'alaihi wa sallam, sedangkan syariat batin diturunkan kepada para wali keramat, melalui mimpi atau wangsit (ilham) atau lewat wahyu yang dibawa oleh para malaikat. (Talbis Iblis 162:169).

Dari aliran-aliran sempalan di atas terpecahlah sekian banyak aliran sesat yang ujungnya pasti membatalkan syariat Allah dan mengakkan syariat hawa nafsu serta kekafiran. (Al-Farqu bainal Firaq, Abdul Qahir bin Muhammad Al-Baghdadi Al- Isfaraini hal 281-312). Padahal masing-masing aliran yang bersumber dari 8 kelompok sempalan itu tentunya mempunyai pengikut dari umat Islam. Demikianlah iblis dan anak buahnya memecah belah umat Islam melaui bid'ah, sehingga umat Islam terpecah belah menjadi beratus bahkan beribu-ribu aliran sesat yang telah menyempal dari Islam, walaupun mereka tetap meyakini keislamannya.

Baca jugan:

MENGAPA ORANG-ORANG BODOH LARI DARI ILMU (Agama) DAN AHLI ILMU


Adabud-Dun_ya wad-Din
.
.
.
(نفرة الجهال من العلم وأهله)

(Larinya orang-orang bodoh dari ilmu (agama) dan ahli ilmu)

وَرُبَّمَا مَنَعَ ذَا السَّفَاهَةِ مِنْ طَلَبِ الْعِلْمِ أَنْ يُصَوِّرَ فِي نَفْسِهِ حِرْفَةَ أَهْلِهِ وَتَضَايُقَ الْأُمُورِ مَعَ الِاشْتِغَالِ بِهِ حَتَّى يَسِمَهُمْ بِالْإِدْبَارِ وَيَتَوَسَّمَهُمْ بِالْحِرْمَانِ، فَإِنْ رَأَى مَحْبَرَةً تَطَيَّرَ مِنْهَا وَإِنْ رَأَى كِتَابًا أَعْرَضَ عَنْهُ، وَإِنْ رَأَى مُتَحَلِّيًا بِالْعِلْمِ هَرَبَ مِنْهُ كَأَنَّهُ لَمْ يَرَ عَالِمًا مُقْبِلًا وَجَاهِلًا مُدْبِرًا.

Terkadang yang mencegah orang dungu untuk mencari ilmu adalah bayangannya terhadap ahli ilmu, ia membayangkan bahwa ahli ilmu itu miskin serba kekurangan dan segala urusannya menjadi sulit karena sibuk dengan ilmu, hingga ia memvonis ahli ilmu adalah orang yang tertinggal, dan melebeli ahli ilmu sebagai orang yang terhalang dari mendapatkan harta dunia, maka jika orang dungu melihat bak tinta, ia akan lari terbirit-birit, jika melihat kitab, ia akan berpaling darinya, dan jika melihat orang yang menjelaskan ilmu, ia akan lari tunggang langgang darinya seakan-akan ia tidak pernah melihat orang alim yang maju dan orang bodoh yang tertinggal.

وَلَقَدْ رَأَيْت مِنْ هَذِهِ الطَّبَقَةِ جَمَاعَةً ذَوِي مَنَازِلِ، وَأَحْوَالٍ كُنْت أُخْفِي عَنْهُمْ مَا يَصْحَبُنِي مِنْ مَحْبَرَةٍ وَكِتَابٍ لِئَلَّا أَكُونَ عِنْدَهُمْ مُسْتَثْقَلًا، وَإِنْ كَانَ الْبُعْدُ عَنْهُمْ مُؤْنِسًا وَمُصْلِحًا، وَالْقُرْبُ مِنْهُمْ مُوحِشًا وَمُفْسِدًا.

Sungguh aku melihat tingkatkan ini ada pada sekelompok orang yang berkedudukan tinggi dan terkemuka yang aku sembunyikan dari mereka apa yang menemaniku yaitu bak tinta dan kitab, agar aku tidak menjadi orang yang menyusahkan bagi mereka walaupun jauh dari mereka adalah lebih baik dan lebih damai, dan dekat dengan mereka justru meresahkan dan merusakkan.

فَقَدْ قَالَ بَزَرْجَمْهَرَ: الْجَهْلُ فِي الْقَلْبِ كَالنَّزِّ فِي الْأَرْضِ، يُفْسِدُ مَا حَوْلَهُ. لَكِنْ اتَّبَعْتُ فِيهِمْ الْحَدِيثَ الْمَرْوِيَّ عَنْ أَبِي الْأَشْعَثِ عَنْ أَبِي عُثْمَانَ عَنْ ثَوْبَانَ عَنْ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - أَنَّهُ قَالَ: «خَالِطُوا النَّاسَ بِأَخْلَاقِهِمْ وَخَالِفُوهُمْ فِي أَعْمَالِهِمْ» . وَلِذَلِكَ قَالَ بَعْضُ الْبُلَغَاءِ: رُبَّ جَهْلٍ وُقِيَتْ بِهِ عُلَمَاءُ، وَسَفَهٍ حُمِيَتْ بِهِ حُلَمَاءُ.

Syaikh Bazarjamhar berkata : "Kebodohan dalam hati laksana racun yang menyerap kedalam tanah, ia akan merusak apa saja yang ada di sekelilingnya".
Namun dalam hal ini aku lebih mengikuti hadits yang diriwayatkan dari Abil-Asy'at dari Abi Utsman dari Tsauban dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda : "Pergaulilah orang-orang karena akhlak mereka dan jauhilah mereka dalam hal perbuatan buruknya".
Oleh karena itu sebagian ahli balaghah berkata : "Sangat banyak 'ulama' yang berjaga-jaga dengan kebodohan dan sangat banyak orang yang murah hati berjaga-jaga dengan kedunguan".

وَهَذِهِ الطَّبَقَةُ مِمَّنْ لَا يُرْجَى لَهَا صَلَاحٌ، وَلَا يُؤْمَلُ لَهَا فَلَاحٌ. لِأَنَّ مَنْ اعْتَقَدَ أَنَّ الْعِلْمَ شَيْنٌ، وَأَنَّ تَرْكَهُ زَيْنٌ، وَأَنَّ لِلْجَهْلِ إقْبَالًا مُجْدِيًا، وَلِلْعِلْمِ إدْبَارًا مُكْدِيًا، كَانَ ضَلَالُهُ مُسْتَحْكِمًا وَرَشَادُهُ مُسْتَعْبَدَا، وَكَانَ هُوَ الْخَامِسُ الْهَالِكُ الَّذِي قَالَ فِيهِ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -: «اُغْدُ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا أَوْ مُسْتَمِعًا أَوْ مُحِبًّا وَلَا تَكُنْ الْخَامِسَ فَتَهْلِكَ» . وَقَدْ رَوَاهُ خَالِدٌ الْحَذَّاءُ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ عَنْ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - مُسْنَدًا وَلَيْسَ لِمَنْ هَذِهِ حَالُهُ: فِي الْعَذْلِ نَفْعٌ وَلَا فِي الْإِصْلَاحِ مَطْمَعٌ.

Tingkatan ini termasuk tingkatan yang tidak bisa diharapkan kebaikannya dan tidak dapat di nanti-nantikan keberuntungannya. Karena barangsiapa yang beri'tikad bahwa ilmu merupakan aib, meninggalkannya merupakan keindahan, kebodohan membawa kesejahteraan dan ilmu mengakibatkan kesesatan, maka kesesatan orang tersebut menjadi kuat, jauh dari petunjuk dan termasuk orang yang kelima yakni termasuk orang yang celaka yang dikatakan oleh sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anh : "Jadilah engkau orang alim, pelajar, pendengar atau pecinta, janganlah engkau menjadi orang yang kelima, karena engkau akan celaka".

Diriwayatkan oleh Khalid al-Hadzdza' dari Abdurrahman bin Abi Bakrah dari Nabi shallallahu alaihi wasallam secara musnad, "Berlaku adil pada orang yang berwatak seperti ini tidak ada manfaatnya dan orang seperti ini tidak bisa diharapkan kebaikannya".

وَقَدْ قِيلَ لِبَزَرْجَمْهَرَ: مَا لَكُمْ لَا تُعَاتِبُونَ الْجُهَّالَ؟ فَقَالَ: إنَّا لَا نُكَلِّفُ الْعُمْيَ أَنْ يُبْصِرُوا، وَلَا الصُّمَّ أَنْ يَسْمَعُوا.

Bazarjamhar pernah ditanya : Mangapa engkau tidak sedikit saja memarahi orang bodoh?
Beliau menjawab : "Aku tidak mau memaksa orang buta agar melihat dan tidak mau memaksa orang tuli agar mendengar".

Adabud-Dun_ya wad-Din
.
.
.
(نفرة الجهال من العلم وأهله)

(Larinya orang-orang bodoh dari ilmu (agama) dan ahli ilmu)

وَرُبَّمَا مَنَعَ ذَا السَّفَاهَةِ مِنْ طَلَبِ الْعِلْمِ أَنْ يُصَوِّرَ فِي نَفْسِهِ حِرْفَةَ أَهْلِهِ وَتَضَايُقَ الْأُمُورِ مَعَ الِاشْتِغَالِ بِهِ حَتَّى يَسِمَهُمْ بِالْإِدْبَارِ وَيَتَوَسَّمَهُمْ بِالْحِرْمَانِ، فَإِنْ رَأَى مَحْبَرَةً تَطَيَّرَ مِنْهَا وَإِنْ رَأَى كِتَابًا أَعْرَضَ عَنْهُ، وَإِنْ رَأَى مُتَحَلِّيًا بِالْعِلْمِ هَرَبَ مِنْهُ كَأَنَّهُ لَمْ يَرَ عَالِمًا مُقْبِلًا وَجَاهِلًا مُدْبِرًا.

Terkadang yang mencegah orang dungu untuk mencari ilmu adalah bayangannya terhadap ahli ilmu, ia membayangkan bahwa ahli ilmu itu miskin serba kekurangan dan segala urusannya menjadi sulit karena sibuk dengan ilmu, hingga ia memvonis ahli ilmu adalah orang yang tertinggal, dan melebeli ahli ilmu sebagai orang yang terhalang dari mendapatkan harta dunia, maka jika orang dungu melihat bak tinta, ia akan lari terbirit-birit, jika melihat kitab, ia akan berpaling darinya, dan jika melihat orang yang menjelaskan ilmu, ia akan lari tunggang langgang darinya seakan-akan ia tidak pernah melihat orang alim yang maju dan orang bodoh yang tertinggal.

وَلَقَدْ رَأَيْت مِنْ هَذِهِ الطَّبَقَةِ جَمَاعَةً ذَوِي مَنَازِلِ، وَأَحْوَالٍ كُنْت أُخْفِي عَنْهُمْ مَا يَصْحَبُنِي مِنْ مَحْبَرَةٍ وَكِتَابٍ لِئَلَّا أَكُونَ عِنْدَهُمْ مُسْتَثْقَلًا، وَإِنْ كَانَ الْبُعْدُ عَنْهُمْ مُؤْنِسًا وَمُصْلِحًا، وَالْقُرْبُ مِنْهُمْ مُوحِشًا وَمُفْسِدًا.

Sungguh aku melihat tingkatkan ini ada pada sekelompok orang yang berkedudukan tinggi dan terkemuka yang aku sembunyikan dari mereka apa yang menemaniku yaitu bak tinta dan kitab, agar aku tidak menjadi orang yang menyusahkan bagi mereka walaupun jauh dari mereka adalah lebih baik dan lebih damai, dan dekat dengan mereka justru meresahkan dan merusakkan.

فَقَدْ قَالَ بَزَرْجَمْهَرَ: الْجَهْلُ فِي الْقَلْبِ كَالنَّزِّ فِي الْأَرْضِ، يُفْسِدُ مَا حَوْلَهُ. لَكِنْ اتَّبَعْتُ فِيهِمْ الْحَدِيثَ الْمَرْوِيَّ عَنْ أَبِي الْأَشْعَثِ عَنْ أَبِي عُثْمَانَ عَنْ ثَوْبَانَ عَنْ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - أَنَّهُ قَالَ: «خَالِطُوا النَّاسَ بِأَخْلَاقِهِمْ وَخَالِفُوهُمْ فِي أَعْمَالِهِمْ» . وَلِذَلِكَ قَالَ بَعْضُ الْبُلَغَاءِ: رُبَّ جَهْلٍ وُقِيَتْ بِهِ عُلَمَاءُ، وَسَفَهٍ حُمِيَتْ بِهِ حُلَمَاءُ.

Syaikh Bazarjamhar berkata : "Kebodohan dalam hati laksana racun yang menyerap kedalam tanah, ia akan merusak apa saja yang ada di sekelilingnya".
Namun dalam hal ini aku lebih mengikuti hadits yang diriwayatkan dari Abil-Asy'at dari Abi Utsman dari Tsauban dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda : "Pergaulilah orang-orang karena akhlak mereka dan jauhilah mereka dalam hal perbuatan buruknya".
Oleh karena itu sebagian ahli balaghah berkata : "Sangat banyak 'ulama' yang berjaga-jaga dengan kebodohan dan sangat banyak orang yang murah hati berjaga-jaga dengan kedunguan".

وَهَذِهِ الطَّبَقَةُ مِمَّنْ لَا يُرْجَى لَهَا صَلَاحٌ، وَلَا يُؤْمَلُ لَهَا فَلَاحٌ. لِأَنَّ مَنْ اعْتَقَدَ أَنَّ الْعِلْمَ شَيْنٌ، وَأَنَّ تَرْكَهُ زَيْنٌ، وَأَنَّ لِلْجَهْلِ إقْبَالًا مُجْدِيًا، وَلِلْعِلْمِ إدْبَارًا مُكْدِيًا، كَانَ ضَلَالُهُ مُسْتَحْكِمًا وَرَشَادُهُ مُسْتَعْبَدَا، وَكَانَ هُوَ الْخَامِسُ الْهَالِكُ الَّذِي قَالَ فِيهِ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -: «اُغْدُ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا أَوْ مُسْتَمِعًا أَوْ مُحِبًّا وَلَا تَكُنْ الْخَامِسَ فَتَهْلِكَ» . وَقَدْ رَوَاهُ خَالِدٌ الْحَذَّاءُ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ عَنْ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - مُسْنَدًا وَلَيْسَ لِمَنْ هَذِهِ حَالُهُ: فِي الْعَذْلِ نَفْعٌ وَلَا فِي الْإِصْلَاحِ مَطْمَعٌ.

Tingkatan ini termasuk tingkatan yang tidak bisa diharapkan kebaikannya dan tidak dapat di nanti-nantikan keberuntungannya. Karena barangsiapa yang beri'tikad bahwa ilmu merupakan aib, meninggalkannya merupakan keindahan, kebodohan membawa kesejahteraan dan ilmu mengakibatkan kesesatan, maka kesesatan orang tersebut menjadi kuat, jauh dari petunjuk dan termasuk orang yang kelima yakni termasuk orang yang celaka yang dikatakan oleh sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anh : "Jadilah engkau orang alim, pelajar, pendengar atau pecinta, janganlah engkau menjadi orang yang kelima, karena engkau akan celaka".

Diriwayatkan oleh Khalid al-Hadzdza' dari Abdurrahman bin Abi Bakrah dari Nabi shallallahu alaihi wasallam secara musnad, "Berlaku adil pada orang yang berwatak seperti ini tidak ada manfaatnya dan orang seperti ini tidak bisa diharapkan kebaikannya".

وَقَدْ قِيلَ لِبَزَرْجَمْهَرَ: مَا لَكُمْ لَا تُعَاتِبُونَ الْجُهَّالَ؟ فَقَالَ: إنَّا لَا نُكَلِّفُ الْعُمْيَ أَنْ يُبْصِرُوا، وَلَا الصُّمَّ أَنْ يَسْمَعُوا.

Bazarjamhar pernah ditanya : Mangapa engkau tidak sedikit saja memarahi orang bodoh?
Beliau menjawab : "Aku tidak mau memaksa orang buta agar melihat dan tidak mau memaksa orang tuli agar mendengar".

Ilmu Tidak Akan Bermanfaat Ksecuali Dengan Menjaga Dirinya


Adabud-Dun_ya-wad-Din
.
.
.

(ما يتعلق بعلم الدين من العلوم)
وَقَدْ يَتَعَلَّقُ بِالدِّينِ عُلُومٌ ، قدْ بَيَّنَ الشَّافِعِيُّ فَضِيلَةَ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهَا فَقَالَ : مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ عَظُمَتْ قِيمَتُهُ ، وَمَنْ تَعَلَّمَ الْفِقْهَ نَبُلَ مِقْدَارُهُ ، وَمَنْ كَتَبَ الْحَدِيثَ قَوِيَتْ حُجَّتُهُ، وَمَنْ تَعَلَّمَ الْحِسَابَ جَزَلَ رَأْيُهُ ، وَمَنْ تَعَلَّمَ الْعَرَبِيَّةَ رَقَّ طَبْعُهُ، وَمَنْ لَمْ يَصُنْ نَفْسَهُ لَمْ يَنْفَعْهُ عملهُ.

Sesungguhnya ilmu berhubungan dengan Agama. Imam Syafi'i rahimahullah telah menjelaskan keutamaan tiap-tiap ilmu, beliau berkata : Barangsiapa belajar ilmu Al-Qur'an, maka tinggilah kehormatannya, barangsiapa belajar ilmu fiqih, maka luhurlah derajatnya, barangsiapa belajar ilmu hadits, maka kuatlah hujjahnya, barangsiapa belajar ilmu hisab, maka kuatlah pendapatnya, dan barangsiapa belajar ilmu tata bahasa, maka lembutlah wataknya, namun barangsiapa yang tidak menjaga dirinya, maka ilmunya tidak akan bermanfaat baginya.

وَلَعَمْرِي إنَّ صِيَانَةَ النَّفْسِ أَصْلُ الْفَضَائِلِ؛ لِأَنَّ مَنْ أَهْمَلَ صِيَانَةَ نَفْسِهِ ثِقَةً بِمَا مَنَحَهُ الْعِلْمُ مِنْ فَضِيلَتِهِ، وَتَوَكُّلًا عَلَى مَا يَلْزَمُ النَّاسَ مِنْ صِيَانَتِهِ، سَلَوْهُ فَضِيلَةَ عِلْمِهِ وَوَسَمُوهُ بِقَبِيحِ تَبَذُّلِهِ، فَلَمْ يَفِ مَا أَعْطَاهُ الْعِلْمُ بِمَا سَلَبَهُ التَّبَذُّلُ؛ لِأَنَّ الْقَبِيحَ أَنَمُّ مِنْ الْجَمِيلِ وَالرَّذِيلَةُ أَشْهَرُ مِنْ الْفَضِيلَةِ؛ لِأَنَّ النَّاسَ لِمَا فِي طَبَائِعِهِمْ مِنْ الْبِغْضَةِ وَالْحَسَدِ وَنِزَاعِ الْمُنَافَسَةِ تَنْصَرِفُ عُيُونُهُمْ عَنْ الْمَحَاسِنِ إلَى الْمَسَاوِئِ، فَلَا يُنْصِفُونَ مُحْسِنًا وَلَا يُحَابُونَ مُسِيئًا لَا سِيَّمَا مَنْ كَانَ بِالْعِلْمِ مَوْسُومًا وَإِلَيْهِ مَنْسُوبًا، فَإِنَّ زَلَّتَهُ لَا تُقَالُ وَهَفْوَتَهُ لَا تُعْذَرُ إمَّا لِقُبْحِ أَثَرِهَا وَاغْتِرَارِ كَثِيرٍ مِنْ النَّاسِ بِهَا.

Aku bersumpah demi hidupku. Sungguh, menjaga diri adalah kunci segala keutamaan, karena barangsiapa tidak menjaga dirinya karena yakin dengan keutamaan yang diberikan oleh ilmu kepadanya, dan pasrah atas apa yang diwajibkan kepadanya yaitu menjaga ilmu, maka orang-orang akan menghilangkan keutamaan ilmunya dan menyetempelnya sebagai orang yang jelek karena tidak punya rasa malu, sehingga apa yang diberikan oleh ilmu tidak cukup baginya lantaran telah dihilangkan oleh tidak adanya rasa malu, karena kejelekan lebih tersohor daripada kebaikan dan perkara rendah lebih mashur daripada keutamaan, sebab manusia dengan watak dasarnya yang pembenci, pendengki dan saling unggul-unggulan akan memalingkan pandangannya dari kebaikan kepada kejelekan, mereka tidak pernah bersikap adil pada orang yang berbuat baik dan tidak memberi ampun pada orang yang berbuat jelek apalagi pada orang yang dikenal dan dianggap berilmu, maka kesalahan dan kekeliruannya tidak terampuni. Demikian itu adakalanya karena buruknya pengaruh kesalahannya dan tertipunya orang banyak olehnya.

وَقَدْ قِيلَ فِي مَنْثُورِ الْحِكَمِ: إنَّ زَلَّةَ الْعَالِمِ كَالسَّفِينَةِ تَغْرَقُ وَيَغْرَقُ مَعَهَا خَلْقٌ كَثِيرٌ، وَقِيلَ لِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ - عَلَيْهِ السَّلَامُ - مَنْ أَشَدُّ النَّاسِ فِتْنَةً؟ قَالَ: زَلَّةُ الْعَالِمِ إذَا زَلَّ زَلَّ بِزَلَّتِهِ عَالَمٌ كَثِيرٌ. فَهَذَا وَجْهٌ.

وَإِمَّا لِأَنَّ الْجُهَّالَ بِذَمِّهِ أَغْرَى، وَعَلَى تَنَقُّصِهِ أَحْرَى؛ لِيَسْلُبُوهُ فَضِيلَةَ التَّقَدُّمِ وَيَمْنَعُوهُ مُبَايِنَةَ التَّخْصِيصِ عِنَادًا لِمَا جَهِلُوهُ وَمَقْتًا لِمَا بَايَنُوهُ؛ لِأَنَّ الْجَاهِلَ يَرَى الْعِلْمَ تَكَلُّفًا وَلَوْمًا، كَمَا أَنَّ الْعَالِمَ يَرَى الْجَهْلَ تَخَلُّفًا وَذَمًّا.

Disebutkan dalam kitab Mantsur al-Hikam : "Kesalahan orang alim laksana perahu tenggelam yang menenggelamkan orang banyak".

Nabi Isa bin Maryam alaihissalam pernah ditanya : Siapakah orang yang paling besar fitnahnya?
Beliau menjawab : "Yaitu orang alim yang melakukan kesalahan, karena kesalahannya menyebabkan banyak orang alim menjadi binasa". Ini adalah salah satu alasan.

Dan yang lain adakalanya karena orang-orang bodoh gemar mencela dan suka meremehkan guna menghilangkan keutamaan ilmu yang membuat orang berilmu lebih maju, dan mencegah keistimewaan ilmu yang membedakannya dari mereka. Mereka keras kepala dengan kebodohannya dan benci pada apa yang membuat mereka berbeda. Mengapa demikian? Karena orang bodoh memandang ilmu sebagai beban yang menyusahkan dan penyebab tercelanya seseorang, seperti halnya orang alim memandang kebodohan dapat menyebabkan seseorang menjadi tertinggal dan tercela.

(Adabud Dun_ya wad Din)

Adabud-Dun_ya-wad-Din
.
.
.

(ما يتعلق بعلم الدين من العلوم)
وَقَدْ يَتَعَلَّقُ بِالدِّينِ عُلُومٌ ، قدْ بَيَّنَ الشَّافِعِيُّ فَضِيلَةَ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهَا فَقَالَ : مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ عَظُمَتْ قِيمَتُهُ ، وَمَنْ تَعَلَّمَ الْفِقْهَ نَبُلَ مِقْدَارُهُ ، وَمَنْ كَتَبَ الْحَدِيثَ قَوِيَتْ حُجَّتُهُ، وَمَنْ تَعَلَّمَ الْحِسَابَ جَزَلَ رَأْيُهُ ، وَمَنْ تَعَلَّمَ الْعَرَبِيَّةَ رَقَّ طَبْعُهُ، وَمَنْ لَمْ يَصُنْ نَفْسَهُ لَمْ يَنْفَعْهُ عملهُ.

Sesungguhnya ilmu berhubungan dengan Agama. Imam Syafi'i rahimahullah telah menjelaskan keutamaan tiap-tiap ilmu, beliau berkata : Barangsiapa belajar ilmu Al-Qur'an, maka tinggilah kehormatannya, barangsiapa belajar ilmu fiqih, maka luhurlah derajatnya, barangsiapa belajar ilmu hadits, maka kuatlah hujjahnya, barangsiapa belajar ilmu hisab, maka kuatlah pendapatnya, dan barangsiapa belajar ilmu tata bahasa, maka lembutlah wataknya, namun barangsiapa yang tidak menjaga dirinya, maka ilmunya tidak akan bermanfaat baginya.

وَلَعَمْرِي إنَّ صِيَانَةَ النَّفْسِ أَصْلُ الْفَضَائِلِ؛ لِأَنَّ مَنْ أَهْمَلَ صِيَانَةَ نَفْسِهِ ثِقَةً بِمَا مَنَحَهُ الْعِلْمُ مِنْ فَضِيلَتِهِ، وَتَوَكُّلًا عَلَى مَا يَلْزَمُ النَّاسَ مِنْ صِيَانَتِهِ، سَلَوْهُ فَضِيلَةَ عِلْمِهِ وَوَسَمُوهُ بِقَبِيحِ تَبَذُّلِهِ، فَلَمْ يَفِ مَا أَعْطَاهُ الْعِلْمُ بِمَا سَلَبَهُ التَّبَذُّلُ؛ لِأَنَّ الْقَبِيحَ أَنَمُّ مِنْ الْجَمِيلِ وَالرَّذِيلَةُ أَشْهَرُ مِنْ الْفَضِيلَةِ؛ لِأَنَّ النَّاسَ لِمَا فِي طَبَائِعِهِمْ مِنْ الْبِغْضَةِ وَالْحَسَدِ وَنِزَاعِ الْمُنَافَسَةِ تَنْصَرِفُ عُيُونُهُمْ عَنْ الْمَحَاسِنِ إلَى الْمَسَاوِئِ، فَلَا يُنْصِفُونَ مُحْسِنًا وَلَا يُحَابُونَ مُسِيئًا لَا سِيَّمَا مَنْ كَانَ بِالْعِلْمِ مَوْسُومًا وَإِلَيْهِ مَنْسُوبًا، فَإِنَّ زَلَّتَهُ لَا تُقَالُ وَهَفْوَتَهُ لَا تُعْذَرُ إمَّا لِقُبْحِ أَثَرِهَا وَاغْتِرَارِ كَثِيرٍ مِنْ النَّاسِ بِهَا.

Aku bersumpah demi hidupku. Sungguh, menjaga diri adalah kunci segala keutamaan, karena barangsiapa tidak menjaga dirinya karena yakin dengan keutamaan yang diberikan oleh ilmu kepadanya, dan pasrah atas apa yang diwajibkan kepadanya yaitu menjaga ilmu, maka orang-orang akan menghilangkan keutamaan ilmunya dan menyetempelnya sebagai orang yang jelek karena tidak punya rasa malu, sehingga apa yang diberikan oleh ilmu tidak cukup baginya lantaran telah dihilangkan oleh tidak adanya rasa malu, karena kejelekan lebih tersohor daripada kebaikan dan perkara rendah lebih mashur daripada keutamaan, sebab manusia dengan watak dasarnya yang pembenci, pendengki dan saling unggul-unggulan akan memalingkan pandangannya dari kebaikan kepada kejelekan, mereka tidak pernah bersikap adil pada orang yang berbuat baik dan tidak memberi ampun pada orang yang berbuat jelek apalagi pada orang yang dikenal dan dianggap berilmu, maka kesalahan dan kekeliruannya tidak terampuni. Demikian itu adakalanya karena buruknya pengaruh kesalahannya dan tertipunya orang banyak olehnya.

وَقَدْ قِيلَ فِي مَنْثُورِ الْحِكَمِ: إنَّ زَلَّةَ الْعَالِمِ كَالسَّفِينَةِ تَغْرَقُ وَيَغْرَقُ مَعَهَا خَلْقٌ كَثِيرٌ، وَقِيلَ لِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ - عَلَيْهِ السَّلَامُ - مَنْ أَشَدُّ النَّاسِ فِتْنَةً؟ قَالَ: زَلَّةُ الْعَالِمِ إذَا زَلَّ زَلَّ بِزَلَّتِهِ عَالَمٌ كَثِيرٌ. فَهَذَا وَجْهٌ.

وَإِمَّا لِأَنَّ الْجُهَّالَ بِذَمِّهِ أَغْرَى، وَعَلَى تَنَقُّصِهِ أَحْرَى؛ لِيَسْلُبُوهُ فَضِيلَةَ التَّقَدُّمِ وَيَمْنَعُوهُ مُبَايِنَةَ التَّخْصِيصِ عِنَادًا لِمَا جَهِلُوهُ وَمَقْتًا لِمَا بَايَنُوهُ؛ لِأَنَّ الْجَاهِلَ يَرَى الْعِلْمَ تَكَلُّفًا وَلَوْمًا، كَمَا أَنَّ الْعَالِمَ يَرَى الْجَهْلَ تَخَلُّفًا وَذَمًّا.

Disebutkan dalam kitab Mantsur al-Hikam : "Kesalahan orang alim laksana perahu tenggelam yang menenggelamkan orang banyak".

Nabi Isa bin Maryam alaihissalam pernah ditanya : Siapakah orang yang paling besar fitnahnya?
Beliau menjawab : "Yaitu orang alim yang melakukan kesalahan, karena kesalahannya menyebabkan banyak orang alim menjadi binasa". Ini adalah salah satu alasan.

Dan yang lain adakalanya karena orang-orang bodoh gemar mencela dan suka meremehkan guna menghilangkan keutamaan ilmu yang membuat orang berilmu lebih maju, dan mencegah keistimewaan ilmu yang membedakannya dari mereka. Mereka keras kepala dengan kebodohannya dan benci pada apa yang membuat mereka berbeda. Mengapa demikian? Karena orang bodoh memandang ilmu sebagai beban yang menyusahkan dan penyebab tercelanya seseorang, seperti halnya orang alim memandang kebodohan dapat menyebabkan seseorang menjadi tertinggal dan tercela.

(Adabud Dun_ya wad Din)

Pentingnya Beragama


Adabud Dun_ya wad Din
.
.
.
(الدين ينظم المجتمع)
وَرُبَّمَا مَالَ بَعْضُ الْمُتَهَاوِنِينَ بِالدِّينِ إلَى الْعُلُومِ الْعَقْلِيَّةِ وَرَأَى أَنَّهَا أَحَقُّ بِالْفَضِيلَةِ، وَأَوْلَى بِالتَّقْدِمَةِ اسْتِثْقَالًا لِمَا تَضَمَّنَهُ الدِّينُ مِنْ التَّكْلِيفِ، وَاسْتِرْذَالًا لِمَا جَاءَ بِهِ الشَّرْعُ مِنْ التَّعَبُّدِ وَالتَّوْقِيفِ.

وَالْكَلَامُ مَعَ مِثْلِ هَذَا فِي أَصْلٍ، لَا يَتَّسِعُ لَهُ هَذَا الْفَصْلُ.
وَلَنْ تَرَى ذَلِكَ فِيمَنْ سَلِمَتْ فِطْنَتُهُ، وَصَحَّتْ رَوِيَّتُهُ ، لأنَّ الْعَقْلَ يَمْنَعُ مِنْ أَنْ يَكُونَ الْإِنْسَانُ هَمَلًا أَوْ سُدًى، يعْتَمِدُونَ عَلَى آرَائِهِمْ الْمُخْتَلِفَةِ وَيَنْقَادُونَ لِأَهْوَائِهِمْ الْمُتَشَعِّبَةِ.
لِمَا تُؤَوَّلُ إلَيْهِ أُمُورُهُمْ مِنْ الِاخْتِلَافِ وَالتَّنَازُعِ، وَيُفْضِي إلَيْهِ أَحْوَالُهُمْ مِنْ التَّبَايُنِ وَالتَّقَاطُعِ. فَلَمْ يَسْتَغْنُوا عَنْ دِينٍ يَتَأَلَّفُونَ بِهِ وَيَتَّفِقُونَ عَلَيْهِ. ثُمَّ الْعَقْلُ مُوجِبٌ لَهُ أَوْ مَانِعٌ.

وَلَوْ تَصَوَّرَ هَذَا الْمُخْتَلُّ التَّصَوُّرَ أَنَّ الدِّينَ ضَرُورَةٌ فِي الْعَقْلِ، وَأَنَّ الْعَقْلَ فِي الدِّينِ أَصْلٌ، لَقَصَّرَ عَنْ التَّقْصِيرِ، وَأَذْعَنَ لِلْحَقِّ وَلَكِنْ أَهْمَلَ نَفْسَهُ فَضَلَّ وَأَضَلَّ.

Terkadang sebagian orang yang sembrono dengan Agama condong pada ilmu akal, ia percaya bahwa ilmu akal lebih berhak untuk diutamakan dan lebih utama untuk dikedepankan, karena ia menganggap berat terhadap Taklif (beban) yang terkandung dalam Agama dan menganggap rendah terhadap ajaran Syara' yang berupa menghambakan diri dan tunduk patuh pada aturannya.

Pembahasan mengenai orang sembrono semacam ini asalnya tidak dimuat dalam fasal ini, dan engkau tidak akan pernah melihat kecondongan tersebut ada pada orang yang selamat kecerdasannya dan benar cara berpikirnya, karena akal menolak keberadaan manusia yang lepas kendali, liar, berpedoman pada pendapatannya sendiri yang berseberangan dan menuruti hawa nafsunya yang bercabang-cabang.

Penolakan itu terjadi karena semua urusan mereka kembali pada perbedaan, pertentangan, perselisihan dan perpecahan, maka mereka tidak pernah cukup (hanya dengan mengandalkan akal) tanpa Agama yang menjadi pemersatu, dan mendalaminya hingga akal mewajibkan untuk beragama serta patuh padanya.

Jika orang yang tidak normal semacam ini benar-benar mengerti bahwa Agama adalah kebutuhan pasti menurut pandangan akalnya, dan akal adalah modal utama bagi Agama, niscaya ia tidak akan sembrono, dan akan patuh padanya.

Akan tetapi ia lebih mengumbar hawa nafsunya hingga sesat dan menyesatkan.


(Adabud Dun_ya wad Din)

Adabud Dun_ya wad Din
.
.
.
(الدين ينظم المجتمع)
وَرُبَّمَا مَالَ بَعْضُ الْمُتَهَاوِنِينَ بِالدِّينِ إلَى الْعُلُومِ الْعَقْلِيَّةِ وَرَأَى أَنَّهَا أَحَقُّ بِالْفَضِيلَةِ، وَأَوْلَى بِالتَّقْدِمَةِ اسْتِثْقَالًا لِمَا تَضَمَّنَهُ الدِّينُ مِنْ التَّكْلِيفِ، وَاسْتِرْذَالًا لِمَا جَاءَ بِهِ الشَّرْعُ مِنْ التَّعَبُّدِ وَالتَّوْقِيفِ.

وَالْكَلَامُ مَعَ مِثْلِ هَذَا فِي أَصْلٍ، لَا يَتَّسِعُ لَهُ هَذَا الْفَصْلُ.
وَلَنْ تَرَى ذَلِكَ فِيمَنْ سَلِمَتْ فِطْنَتُهُ، وَصَحَّتْ رَوِيَّتُهُ ، لأنَّ الْعَقْلَ يَمْنَعُ مِنْ أَنْ يَكُونَ الْإِنْسَانُ هَمَلًا أَوْ سُدًى، يعْتَمِدُونَ عَلَى آرَائِهِمْ الْمُخْتَلِفَةِ وَيَنْقَادُونَ لِأَهْوَائِهِمْ الْمُتَشَعِّبَةِ.
لِمَا تُؤَوَّلُ إلَيْهِ أُمُورُهُمْ مِنْ الِاخْتِلَافِ وَالتَّنَازُعِ، وَيُفْضِي إلَيْهِ أَحْوَالُهُمْ مِنْ التَّبَايُنِ وَالتَّقَاطُعِ. فَلَمْ يَسْتَغْنُوا عَنْ دِينٍ يَتَأَلَّفُونَ بِهِ وَيَتَّفِقُونَ عَلَيْهِ. ثُمَّ الْعَقْلُ مُوجِبٌ لَهُ أَوْ مَانِعٌ.

وَلَوْ تَصَوَّرَ هَذَا الْمُخْتَلُّ التَّصَوُّرَ أَنَّ الدِّينَ ضَرُورَةٌ فِي الْعَقْلِ، وَأَنَّ الْعَقْلَ فِي الدِّينِ أَصْلٌ، لَقَصَّرَ عَنْ التَّقْصِيرِ، وَأَذْعَنَ لِلْحَقِّ وَلَكِنْ أَهْمَلَ نَفْسَهُ فَضَلَّ وَأَضَلَّ.

Terkadang sebagian orang yang sembrono dengan Agama condong pada ilmu akal, ia percaya bahwa ilmu akal lebih berhak untuk diutamakan dan lebih utama untuk dikedepankan, karena ia menganggap berat terhadap Taklif (beban) yang terkandung dalam Agama dan menganggap rendah terhadap ajaran Syara' yang berupa menghambakan diri dan tunduk patuh pada aturannya.

Pembahasan mengenai orang sembrono semacam ini asalnya tidak dimuat dalam fasal ini, dan engkau tidak akan pernah melihat kecondongan tersebut ada pada orang yang selamat kecerdasannya dan benar cara berpikirnya, karena akal menolak keberadaan manusia yang lepas kendali, liar, berpedoman pada pendapatannya sendiri yang berseberangan dan menuruti hawa nafsunya yang bercabang-cabang.

Penolakan itu terjadi karena semua urusan mereka kembali pada perbedaan, pertentangan, perselisihan dan perpecahan, maka mereka tidak pernah cukup (hanya dengan mengandalkan akal) tanpa Agama yang menjadi pemersatu, dan mendalaminya hingga akal mewajibkan untuk beragama serta patuh padanya.

Jika orang yang tidak normal semacam ini benar-benar mengerti bahwa Agama adalah kebutuhan pasti menurut pandangan akalnya, dan akal adalah modal utama bagi Agama, niscaya ia tidak akan sembrono, dan akan patuh padanya.

Akan tetapi ia lebih mengumbar hawa nafsunya hingga sesat dan menyesatkan.


(Adabud Dun_ya wad Din)

Kitab Mujarab

Ihya 'Ulumiddin jilid 4 makna petuk

Download Kitab PDF : Ihya 'Ulumiddin jilid 4 makna petuk | Google Drive Download Kitab PDF : Ihya 'Ulum...