Pendahuluan
Salah satu bentuk nyata dari ukhuwah
Islamiyah adalah saling mengunjungi karena Allah. Kunjungan yang dilandasi
keikhlasan mampu mempererat persaudaraan, menguatkan iman, serta menjadi sebab
turunnya rahmat Allah. Namun, di balik kemuliaan tersebut, para ulama salaf
juga mengajarkan pentingnya menjaga hati dari rasa bangga dan riya ketika
dihormati atau dikunjungi banyak orang.
Dalam bagian Ihya' Ulumuddin
ini, Imam Al-Ghazali menyampaikan beberapa atsar yang menggambarkan akhlak
mulia para salaf. Mereka bukan hanya menghargai persaudaraan, tetapi juga
memiliki sifat tawaduk yang luar biasa. Bahkan, mereka lebih sibuk mengoreksi
diri sendiri daripada menerima pujian dari manusia.
Sumber
Kitab : Ihya' 'Ulumuddin (إحياء
علوم الدين) Juz : 2
Pengarang : Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali (450–505 H),
bergelar Hujjatul Islam, seorang ulama besar dalam bidang akhlak,
tasawuf, fikih, dan pendidikan Islam.
Tema : Keutamaan saling mengunjungi karena Allah, pentingnya
tawaduk, menjaga persaudaraan, dan besarnya pahala saling mencintai sesama
muslim.
Teks Arab
ودخل رجل على داود الطائي فقال له : ما حاجتك ؟ فقال :
زيارتك ، فقال : أما أنت فقد عملت خيرا حين زرت ، ولكن انظر ماذا ينزل بي أنا إذا
قيل لي من أنت فتزار ؟ أمن الزهاد أنت ؟ لا والله ، أمن العباد أنت لا والله ، أمن
الصالحين أنت ؟ لا والله .
ثم أقبل يوبخ نفسه ويقول : كنت في الشبيبة فاسقا ، فلما شخت
صرت مرائيا ، والله للمرائي شر من الفاسق ، وقال عمر رضي الله عنه إذا أصاب أحدكم
ودا من أخيه فليتمسك به ، فقلما يصيب ذلك .
وقال مجاهد المتحابون في الله إذا التقوا فكشر بعضهم إلى
بعض تتحات عنهم الخطايا كما يتحات ورق الشجر في الشتاء إذا يبس .
وقال الفضيل نظر الرجل إلى وجه أخيه على المودة والرحمة
عبادة .
Terjemahan Lengkap
Diriwayatkan bahwa ada seorang
laki-laki datang mengunjungi Dawud ath-Tha'i.
Beliau bertanya:
"Apa keperluanmu datang
kemari?"
Orang itu menjawab:
"Aku datang hanya untuk
mengunjungimu."
Dawud ath-Tha'i berkata:
"Kalau begitu engkau telah
melakukan kebaikan karena telah berkunjung. Akan tetapi, coba pikirkan apa yang
akan menimpaku apabila pada hari kiamat dikatakan kepadaku, 'Siapakah engkau
sehingga orang-orang datang mengunjungimu? Apakah engkau termasuk orang-orang
zuhud?' Demi Allah, bukan. 'Apakah engkau termasuk ahli ibadah?' Demi Allah,
bukan. 'Apakah engkau termasuk orang-orang saleh?' Demi Allah, bukan."
Kemudian beliau mencela dirinya
sendiri seraya berkata:
"Ketika muda aku seorang
pendosa. Setelah tua aku justru menjadi seorang yang takut terjangkit riya.
Demi Allah, orang yang riya lebih buruk daripada orang yang berbuat maksiat
secara terang-terangan."
Umar bin al-Khattab radhiyallahu
'anhu berkata:
"Apabila salah seorang di
antara kalian memperoleh kasih sayang yang tulus dari saudaranya, maka
hendaklah ia mempertahankannya. Sebab, persahabatan seperti itu sangat jarang
ditemukan."
Mujahid berkata:
"Dua orang yang saling
mencintai karena Allah, apabila mereka bertemu lalu salah seorang tersenyum
kepada yang lain, maka berguguranlah dosa-dosa mereka sebagaimana daun-daun
berguguran dari pohon ketika musim kering."
Al-Fudhail berkata:
"Memandang wajah saudara seiman
dengan penuh kasih sayang dan cinta merupakan suatu ibadah."
Penjelasan
Riwayat-riwayat ini menggambarkan
dua akhlak yang berjalan beriringan, yaitu ukhuwah dan tawaduk.
Di satu sisi, Islam mendorong kaum
muslimin untuk saling berkunjung, menjaga persahabatan, dan menampakkan kasih
sayang kepada sesama. Di sisi lain, orang yang dikunjungi tidak boleh merasa
dirinya mulia atau lebih baik daripada orang lain.
Dawud ath-Tha'i justru merasa takut
apabila penghormatan manusia membuat hatinya dipenuhi rasa bangga. Inilah sifat
para ulama salaf yang selalu mengutamakan keikhlasan daripada pujian manusia.
Artikel Pengembangan
Tawaduk Adalah Perhiasan Orang Saleh
Semakin tinggi ilmu dan kedudukan seseorang
di sisi Allah, semakin besar pula rasa takutnya terhadap riya dan ujub.
Dawud ath-Tha'i tidak bangga karena
dikunjungi banyak orang. Sebaliknya, beliau bertanya kepada dirinya sendiri
apakah benar dirinya layak mendapatkan penghormatan tersebut.
Sikap seperti ini menunjukkan bahwa
orang saleh selalu sibuk memperbaiki diri, bukan mencari pengakuan.
Persahabatan
Sejati Sangat Berharga
Umar bin al-Khattab mengingatkan
bahwa sahabat yang tulus merupakan nikmat yang langka.
Tidak semua orang yang dekat dengan
kita benar-benar mencintai karena Allah. Ada yang mendekat karena kepentingan,
keuntungan, atau kedudukan. Karena itu, apabila Allah menganugerahkan seorang
sahabat yang selalu mengingatkan kepada kebaikan dan tetap setia dalam berbagai
keadaan, maka persahabatan tersebut harus dijaga.
Senyum
yang Bernilai Ibadah
Mujahid menggambarkan bahwa
pertemuan dua orang yang saling mencintai karena Allah dapat menjadi sebab
diampuninya dosa-dosa kecil mereka.
Senyuman yang tulus bukan sekadar
ekspresi wajah, tetapi tanda kasih sayang yang memperkuat ukhuwah. Ketika hati
bersih dari iri, dengki, dan permusuhan, hubungan antarsesama menjadi penuh
keberkahan.
Menatap
Saudara dengan Kasih Sayang
Al-Fudhail bin 'Iyadh mengajarkan
bahwa memandang wajah saudara seiman dengan rasa cinta dan rahmat juga bernilai
ibadah.
Hal ini menunjukkan bahwa Islam
sangat menghargai hubungan sosial yang dilandasi keikhlasan. Bahkan perkara
yang tampak sederhana seperti senyum, tatapan penuh kasih, dan kunjungan kepada
saudara dapat menjadi amal yang bernilai di sisi Allah apabila diniatkan
karena-Nya.
Penjelasan
Imam Al-Ghazali ingin menanamkan
bahwa persaudaraan bukan hanya diwujudkan melalui bantuan materi, tetapi juga
melalui perhatian, senyuman, penghormatan, dan doa. Semua itu menjadi amal
ibadah apabila lahir dari hati yang ikhlas.
Pada saat yang sama, beliau
mengingatkan agar setiap muslim menjaga dirinya dari riya, ujub, dan rasa
bangga terhadap penghormatan manusia. Semakin besar penghormatan yang diterima,
semakin besar pula kebutuhan untuk memperkuat keikhlasan.
Contoh
Seorang guru agama sering didatangi
murid-muridnya untuk meminta nasihat. Ia menerima mereka dengan ramah, tetapi
dalam hatinya ia terus berdoa agar Allah menjaga dirinya dari kesombongan dan
menjadikan ilmunya bermanfaat. Ia tidak merasa lebih mulia daripada orang lain.
Contoh lainnya, dua sahabat bertemu
setelah lama berpisah. Mereka saling tersenyum, berpelukan, dan mendoakan satu
sama lain. Pertemuan itu dipenuhi rasa syukur kepada Allah, tanpa membicarakan
keburukan orang lain ataupun membanggakan diri.
Kesimpulan
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa
ukhuwah Islamiyah harus disertai dengan akhlak tawaduk. Mengunjungi saudara
seiman, menjaga persahabatan, menampakkan kasih sayang, dan menyambut sesama
dengan senyuman merupakan amalan yang dicintai Allah. Namun, semua itu harus
dijaga dengan keikhlasan agar tidak berubah menjadi riya atau kebanggaan diri.
Hikmah
- Mengunjungi saudara seiman karena Allah merupakan amal
yang mulia.
- Tawaduk adalah ciri utama orang-orang saleh.
- Riya dapat merusak nilai amal meskipun amal tersebut
tampak besar.
- Persahabatan yang tulus adalah nikmat yang sangat
berharga.
- Senyuman kepada saudara seiman dapat menjadi sebab
gugurnya dosa-dosa kecil.
- Menatap saudara dengan kasih sayang termasuk bentuk
ibadah.
- Keikhlasan adalah ruh dalam setiap hubungan
persaudaraan.
Penutup
Imam Al-Ghazali melalui kisah-kisah
para ulama salaf mengajarkan bahwa kemuliaan ukhuwah tidak hanya terletak pada
banyaknya teman, tetapi pada ketulusan hati dalam mencintai karena Allah.
Persahabatan yang dipenuhi kasih sayang, senyum, perhatian, dan saling
mengunjungi akan menjadi jalan menuju rahmat Allah. Sementara itu, sikap
tawaduk menjaga hati agar tetap bersih dari riya dan kesombongan. Dengan
memadukan ukhuwah yang tulus dan keikhlasan yang mendalam, seorang muslim akan
memperoleh kebahagiaan di dunia sekaligus derajat yang tinggi di akhirat.
Baca Juga :
Amalan TerbaikMenurut Imam Al-Ghazali: Cinta karena Allah dalam Ihya Ulumuddin
Keutamaan Mencintai Orang Saleh Menurut Imam Al-Ghazali: Terjemah Ihya Ulumuddin Lengkap
Makna Persaudaraan
karena Allah Menurut Imam Al-Ghazali: Terjemah Ihya Ulumuddin Lengkap

Tidak ada komentar:
Posting Komentar