Keutamaan Mengunjungi Saudara Seiman: Terjemah Ihya Ulumuddin tentang Ukhuwah dan Tawadu’ (02/05/15)

Pendahuluan

Salah satu bentuk nyata dari ukhuwah Islamiyah adalah saling mengunjungi karena Allah. Kunjungan yang dilandasi keikhlasan mampu mempererat persaudaraan, menguatkan iman, serta menjadi sebab turunnya rahmat Allah. Namun, di balik kemuliaan tersebut, para ulama salaf juga mengajarkan pentingnya menjaga hati dari rasa bangga dan riya ketika dihormati atau dikunjungi banyak orang.

Dalam bagian Ihya' Ulumuddin ini, Imam Al-Ghazali menyampaikan beberapa atsar yang menggambarkan akhlak mulia para salaf. Mereka bukan hanya menghargai persaudaraan, tetapi juga memiliki sifat tawaduk yang luar biasa. Bahkan, mereka lebih sibuk mengoreksi diri sendiri daripada menerima pujian dari manusia.

Sumber

Kitab : Ihya' 'Ulumuddin (إحياء علوم الدين) Juz : 2

Pengarang : Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali (450–505 H), bergelar Hujjatul Islam, seorang ulama besar dalam bidang akhlak, tasawuf, fikih, dan pendidikan Islam.

Tema : Keutamaan saling mengunjungi karena Allah, pentingnya tawaduk, menjaga persaudaraan, dan besarnya pahala saling mencintai sesama muslim.

Teks Arab

ودخل رجل على داود الطائي فقال له : ما حاجتك ؟ فقال : زيارتك ، فقال : أما أنت فقد عملت خيرا حين زرت ، ولكن انظر ماذا ينزل بي أنا إذا قيل لي من أنت فتزار ؟ أمن الزهاد أنت ؟ لا والله ، أمن العباد أنت لا والله ، أمن الصالحين أنت ؟ لا والله .

ثم أقبل يوبخ نفسه ويقول : كنت في الشبيبة فاسقا ، فلما شخت صرت مرائيا ، والله للمرائي شر من الفاسق ، وقال عمر رضي الله عنه إذا أصاب أحدكم ودا من أخيه فليتمسك به  ، فقلما يصيب ذلك .

وقال مجاهد المتحابون في الله إذا التقوا فكشر بعضهم إلى بعض تتحات عنهم الخطايا كما يتحات ورق الشجر في الشتاء إذا يبس .

وقال الفضيل نظر الرجل إلى وجه أخيه على المودة والرحمة عبادة   .

Terjemahan Lengkap

Diriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki datang mengunjungi Dawud ath-Tha'i.

Beliau bertanya:

"Apa keperluanmu datang kemari?"

Orang itu menjawab:

"Aku datang hanya untuk mengunjungimu."

Dawud ath-Tha'i berkata:

"Kalau begitu engkau telah melakukan kebaikan karena telah berkunjung. Akan tetapi, coba pikirkan apa yang akan menimpaku apabila pada hari kiamat dikatakan kepadaku, 'Siapakah engkau sehingga orang-orang datang mengunjungimu? Apakah engkau termasuk orang-orang zuhud?' Demi Allah, bukan. 'Apakah engkau termasuk ahli ibadah?' Demi Allah, bukan. 'Apakah engkau termasuk orang-orang saleh?' Demi Allah, bukan."

Kemudian beliau mencela dirinya sendiri seraya berkata:

"Ketika muda aku seorang pendosa. Setelah tua aku justru menjadi seorang yang takut terjangkit riya. Demi Allah, orang yang riya lebih buruk daripada orang yang berbuat maksiat secara terang-terangan."

Umar bin al-Khattab radhiyallahu 'anhu berkata:

"Apabila salah seorang di antara kalian memperoleh kasih sayang yang tulus dari saudaranya, maka hendaklah ia mempertahankannya. Sebab, persahabatan seperti itu sangat jarang ditemukan."

Mujahid berkata:

"Dua orang yang saling mencintai karena Allah, apabila mereka bertemu lalu salah seorang tersenyum kepada yang lain, maka berguguranlah dosa-dosa mereka sebagaimana daun-daun berguguran dari pohon ketika musim kering."

Al-Fudhail berkata:

"Memandang wajah saudara seiman dengan penuh kasih sayang dan cinta merupakan suatu ibadah."

Penjelasan

Riwayat-riwayat ini menggambarkan dua akhlak yang berjalan beriringan, yaitu ukhuwah dan tawaduk.

Di satu sisi, Islam mendorong kaum muslimin untuk saling berkunjung, menjaga persahabatan, dan menampakkan kasih sayang kepada sesama. Di sisi lain, orang yang dikunjungi tidak boleh merasa dirinya mulia atau lebih baik daripada orang lain.

Dawud ath-Tha'i justru merasa takut apabila penghormatan manusia membuat hatinya dipenuhi rasa bangga. Inilah sifat para ulama salaf yang selalu mengutamakan keikhlasan daripada pujian manusia.

Artikel Pengembangan

Tawaduk Adalah Perhiasan Orang Saleh

Semakin tinggi ilmu dan kedudukan seseorang di sisi Allah, semakin besar pula rasa takutnya terhadap riya dan ujub.

Dawud ath-Tha'i tidak bangga karena dikunjungi banyak orang. Sebaliknya, beliau bertanya kepada dirinya sendiri apakah benar dirinya layak mendapatkan penghormatan tersebut.

Sikap seperti ini menunjukkan bahwa orang saleh selalu sibuk memperbaiki diri, bukan mencari pengakuan.

Persahabatan Sejati Sangat Berharga

Umar bin al-Khattab mengingatkan bahwa sahabat yang tulus merupakan nikmat yang langka.

Tidak semua orang yang dekat dengan kita benar-benar mencintai karena Allah. Ada yang mendekat karena kepentingan, keuntungan, atau kedudukan. Karena itu, apabila Allah menganugerahkan seorang sahabat yang selalu mengingatkan kepada kebaikan dan tetap setia dalam berbagai keadaan, maka persahabatan tersebut harus dijaga.

Senyum yang Bernilai Ibadah

Mujahid menggambarkan bahwa pertemuan dua orang yang saling mencintai karena Allah dapat menjadi sebab diampuninya dosa-dosa kecil mereka.

Senyuman yang tulus bukan sekadar ekspresi wajah, tetapi tanda kasih sayang yang memperkuat ukhuwah. Ketika hati bersih dari iri, dengki, dan permusuhan, hubungan antarsesama menjadi penuh keberkahan.

Menatap Saudara dengan Kasih Sayang

Al-Fudhail bin 'Iyadh mengajarkan bahwa memandang wajah saudara seiman dengan rasa cinta dan rahmat juga bernilai ibadah.

Hal ini menunjukkan bahwa Islam sangat menghargai hubungan sosial yang dilandasi keikhlasan. Bahkan perkara yang tampak sederhana seperti senyum, tatapan penuh kasih, dan kunjungan kepada saudara dapat menjadi amal yang bernilai di sisi Allah apabila diniatkan karena-Nya.

Penjelasan

Imam Al-Ghazali ingin menanamkan bahwa persaudaraan bukan hanya diwujudkan melalui bantuan materi, tetapi juga melalui perhatian, senyuman, penghormatan, dan doa. Semua itu menjadi amal ibadah apabila lahir dari hati yang ikhlas.

Pada saat yang sama, beliau mengingatkan agar setiap muslim menjaga dirinya dari riya, ujub, dan rasa bangga terhadap penghormatan manusia. Semakin besar penghormatan yang diterima, semakin besar pula kebutuhan untuk memperkuat keikhlasan.

Contoh

Seorang guru agama sering didatangi murid-muridnya untuk meminta nasihat. Ia menerima mereka dengan ramah, tetapi dalam hatinya ia terus berdoa agar Allah menjaga dirinya dari kesombongan dan menjadikan ilmunya bermanfaat. Ia tidak merasa lebih mulia daripada orang lain.

Contoh lainnya, dua sahabat bertemu setelah lama berpisah. Mereka saling tersenyum, berpelukan, dan mendoakan satu sama lain. Pertemuan itu dipenuhi rasa syukur kepada Allah, tanpa membicarakan keburukan orang lain ataupun membanggakan diri.

Kesimpulan

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa ukhuwah Islamiyah harus disertai dengan akhlak tawaduk. Mengunjungi saudara seiman, menjaga persahabatan, menampakkan kasih sayang, dan menyambut sesama dengan senyuman merupakan amalan yang dicintai Allah. Namun, semua itu harus dijaga dengan keikhlasan agar tidak berubah menjadi riya atau kebanggaan diri.

Hikmah

  • Mengunjungi saudara seiman karena Allah merupakan amal yang mulia.
  • Tawaduk adalah ciri utama orang-orang saleh.
  • Riya dapat merusak nilai amal meskipun amal tersebut tampak besar.
  • Persahabatan yang tulus adalah nikmat yang sangat berharga.
  • Senyuman kepada saudara seiman dapat menjadi sebab gugurnya dosa-dosa kecil.
  • Menatap saudara dengan kasih sayang termasuk bentuk ibadah.
  • Keikhlasan adalah ruh dalam setiap hubungan persaudaraan.

Penutup

Imam Al-Ghazali melalui kisah-kisah para ulama salaf mengajarkan bahwa kemuliaan ukhuwah tidak hanya terletak pada banyaknya teman, tetapi pada ketulusan hati dalam mencintai karena Allah. Persahabatan yang dipenuhi kasih sayang, senyum, perhatian, dan saling mengunjungi akan menjadi jalan menuju rahmat Allah. Sementara itu, sikap tawaduk menjaga hati agar tetap bersih dari riya dan kesombongan. Dengan memadukan ukhuwah yang tulus dan keikhlasan yang mendalam, seorang muslim akan memperoleh kebahagiaan di dunia sekaligus derajat yang tinggi di akhirat.

Baca Juga :

Amalan TerbaikMenurut Imam Al-Ghazali: Cinta karena Allah dalam Ihya Ulumuddin

Keutamaan Mencintai Orang Saleh Menurut Imam Al-Ghazali: Terjemah Ihya Ulumuddin Lengkap

Makna Persaudaraan karena Allah Menurut Imam Al-Ghazali: Terjemah Ihya Ulumuddin Lengkap

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

Keutamaan Mengunjungi Saudara Seiman: Terjemah Ihya Ulumuddin tentang Ukhuwah dan Tawadu’ (02/05/15)

Pendahuluan Salah satu bentuk nyata dari ukhuwah Islamiyah adalah saling mengunjungi karena Allah. Kunjungan yang dilandasi keikhlasan m...